Cerpen Aryasuta
"Bangun! Sampai kapan kau mau tidur? Penjahat tengik!"
Teriakan itu menghantam kesadarannya. Matanya mengerjap melawan silaunya matahari yang menyeruak di antara celah awan kelabu. Perlahan, siluet di hadapannya berubah menjadi sosok pria bertubuh kekar dengan seragam militer lusuh dan ekspresi benci yang tak bisa disembunyikan.
Untung mendapati dirinya terikat di sebuah tiang pancang. Tiang itu berdiri tegak di tengah tanah lapang yang tandus. Debu-debu halus beterbangan tertiup angin, menggores tenggorokannya setiap kali dia mencoba bernapas. Keadaan ini terasa asing, tapi di sudut terdalam memorinya, ada sesuatu yang familiar.
Sekeliling Untung dipenuhi pria-pria berseragam dengan sorot mata yang sama – kebencian murni. Beberapa warga sipil dengan pakaian compang-camping berdiri agak jauh, mengawasi dengan campuran takut dan puas. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti pikirannya yang semrawut.
"Mengapa aku berada di sini?" bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak dan asing.
"Cepat! Ucapkan kata terakhirmu, keparat!"
Hantaman keras mendarat di pipi kanannya, membuatnya terhuyung dalam jerat ikatan. Anehnya, rasa sakit itu tidak seberapa. Tubuhnya seolah terbiasa dengan kekerasan yang lebih hebat selama pendidikan militer. Yang lebih mengusiknya adalah kebingungan yang merayapi setiap sudut kesadarannya.
Kepalanya berputar memindai keadaan sekitar. Sebuah barisan prajurit dengan senapan siap. Wajah-wajah tanpa belas kasihan. Tanah lapang yang gersang dengan beberapa tenda pengungsian di kejauhan. Semua ini terasa seperti potongan film yang tidak berurutan.
Belum sempat dia mengatur napasnya, sebuah tendangan keras menghantam perutnya. Cairan berbau amis menyembur dari mulutnya. Tidak ada sisa makanan, hanya air liur bercampur darah. Memori samar menyergap—sudah berapa lama dia tidak makan?
Nyeri mulai menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya. Untung semakin bingung. Dua hantaman saja sudah membuat tubuhnya nyeri luar biasa. Bagaimana mungkin? Dia adalah seorang jenderal bintang empat dengan tubuh terlatih yang seharusnya tahan banting.
Dengan napas terengah, Untung menunduk, mengamati tubuhnya sendiri. Apa yang dilihat membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuhnya kurus kering, hanya tulang berbalut kulit. Rusuknya menonjol jelas di balik kain compang-camping yang dia kenakan. Tidak ada jejak otot yang selama ini menjadi kebanggaannya.
"Ini... bukan tubuhku," bisiknya tertahan.
Tiga tembakan memecah keheningan. Prajurit-prajurit di sekitarnya menguji senjata, memastikan bahwa tidak akan ada yang kesalahan saat eksekusi dimulai. Suara tembakan menggetarkan udara, mengirimkan burung-burung gagak hitam beterbangan dari pohon-pohon kering di kejauhan.
"Sudah, langsung bunuh saja!"
"Ayolah, dia seorang bajingan! Buat apa terus menunda?"
"Hei, biarkan aku yang membunuhnya!"
"Cih, akhirnya dia akan mati. Ini akan jadi awal yang baik bagi semuanya."
Teriakan-teriakan itu kini terdengar jelas. Untung mulai sadar. Dia sedang menghadapi eksekusi mati. Dia, seorang jenderal bintang empat dengan deretan medali kehormatan, akan dieksekusi seperti penjahat.
Dengan panik, Untung berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Serat tali yang kasar mengoyak kulitnya yang rapuh, tapi dia tak peduli. Bertahan hidup adalah satu-satunya yang ada di pikirannya saat ini.
Usahanya dibalas dengan serangkaian pukulan dan tendangan. Satu pukulan mendarat di pipi kanan, dua di pipi kiri. Sebuah tendangan menghantam rusuknya, membuatnya tercekat. Gagang senapan dihantamkan ke kedua kakinya, mengirimkan gelombang rasa sakit yang luar biasa. Beberapa orang bahkan mulai melemparinya dengan batu.
"Apa yang kalian lakukan?" Untung berteriak dengan kekuatannya yang tersisa. "Aku ini jenderal! Aku atasan kalian! Kalian semua sudah gila! "
Sejenak, keheningan menyergap. Kemudian, tawa keras membahana di udara. Bukan tawa gembira, melainkan tawa penuh ejekan dan kebencian. Mereka menertawakannya seolah dia baru saja melontarkan lelucon paling konyol di dunia.
Dalam keadaan setengah sadar, kilasan memori menyeruak. Dirinya yang selalu berseragam lengkap dengan medali berkilauan. Tubuhnya yang tegap dan kokoh. Tatapan matanya yang ditakuti semua orang. Kekuasaannya yang absolut untuk menghukum siapa saja yang tidak disukainya.
Kini, dia hanyalah seonggok daging kurus yang menunggu kematian, tanpa kehormatan, tanpa martabat.
"Ayah, kasihan orang itu. Kenapa dia diikat seperti hewan ternak?"
Suara lembut itu menarik perhatian Untung. Seorang gadis cilik dengan gaun merah muda dan hiasan bunga di rambutnya berdiri tak jauh dari sana, menggenggam tangan seorang pria paruh baya. Wajah polosnya memancarkan keheranan dan simpati.
Sesuatu bergejolak dalam dada Untung. Gadis kecil itu mengingatkannya pada Bunga, putri kesayangannya. Bunga yang selalu mengenakan gaun merah dengan hiasan bunga-bunga kecil. Bunga yang selalu menyambutnya dengan pelukan hangat setiap kali dia pulang dari tugas.
"Bunga..." bisiknya lirih.
Tekad untuk bertahan hidup semakin kuat. Apa pun yang terjadi, dia tidak boleh membiarkan putri kecilnya kehilangan ayah. Dia harus lolos dari situasi ini, bagaimanapun caranya.
Dengan gerakan terlatih, Untung akhirnya berhasil melepaskan satu tangannya dari ikatan. Dia menggenggam tali yang tersisa, berpura-pura masih terikat sempurna. Dalam hati, dia menghitung. Satu kali putaran lagi, tangannya akan bebas sepenuhnya. Setelah itu, dia akan merebut pisau dari prajurit di depannya dan membebaskan kakinya.
Dengan gerakan kilat, Untung memutar tangannya dan melemparkan tali ke leher prajurit terdekat. Dia mencekik prajurit itu sambil berteriak mengancam yang lainnya. Dalam sekejap, pisau yang dia incar sudah berada di tangannya.
"Mundur atau kubunuh dia!" teriak Untung, suaranya serak namun penuh otoritas.
Sebuah tembakan peluru karet menghantam bagian belakang kepalanya. Untung terjatuh, kesadarannya perlahan memudar. Suara-suara di sekitarnya semakin jauh, digantikan dengan dengungan konstan di telinganya.
Dalam kegelapan yang menyelimutinya, sebuah siluet muncul. Perlahan, sosok itu semakin jelas. Mayjen Sutoyo, salah seorang prajurit bawahannya yang pernah dia hukum mati karena tidak mematuhi perintahnya.
Sutoyo tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Untung dengan sorot mata penuh luka, kemudian membawanya ke sebuah rumah sederhana. Di sana, Untung melihat sebuah keluarga kecil—seorang wanita cantik dengan tiga anak yang masih kecil. Mereka duduk mengelilingi meja makan yang kosong, menunggu kepala keluarga yang tidak akan pernah kembali.
"Apa yang terjadi pada mereka?" Untung bertanya lirih.
"Mereka kelaparan selama berminggu-minggu setelah kau menghukum mati ayah mereka," jawab Sutoyo, suaranya dingin namun penuh luka. "Anak tertua mereka kini harus bekerja di tambang untuk memberi makan adik-adiknya."
Untung merasa sesak. Sebelum dia sempat berkata apa-apa, sosok Sutoyo digantikan oleh Mas Haryono, seorang pria yang pernah dia siksa hingga mati karena mencuri sepotong roti dari dapur markas.
Haryono membawanya ke sebuah gubuk reyot di pinggiran kota. Di dalamnya, Untung melihat sekelompok orang—tua, muda, bahkan anak-anak—dengan tubuh kurus kering dan mata cekung. Mereka duduk melingkar, berbagi sebuah kentang rebus yang tidak cukup untuk satu orang dewasa.
"Mereka keluargaku," kata Haryono pelan. "Dulu, aku mencuri untuk memberi mereka makan. Kini, mereka tidak punya siapa-siapa lagi."
Air mata mulai mengalir di pipi Untung. Satu demi satu, mereka datang. Wajah-wajah yang dulu tidak pernah dia anggap penting. Nama-nama yang dulu hanya sekadar catatan dalam daftar eksekusi. Nyawa-nyawa yang telah dia renggut atas nama keadilan dan ketertiban.
Ada 78.500 orang yang melewatinya, nyawa yang telah dia "matikan" selama kariernya sebagai jenderal. Masing-masing dengan cerita yang berbeda, tapi berakhir dengan cara yang sama—di tangan Sang Jagal berseragam militer.
Keluarga yang menanti di rumah. Mulut-mulut yang harus diberi makan. Seorang anak yang merindukan pelukan ayahnya. Istri hamil yang menunggu suaminya memberi nama untuk calon bayinya. Seorang ibu tua yang kehilangan satu-satunya penopang hidup.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Untung menangis bukan untuk dirinya sendiri atau keluarganya, melainkan untuk orang lain. Untuk nyawa-nyawa yang telah dia renggut tanpa belas kasihan. Untuk keluarga-keluarga yang telah dia hancurkan tanpa rasa bersalah.
"Maafkan aku." Dia terisak. "Maafkan aku..."
Kesadarannya kembali perlahan. Untung mendapati dirinya masih terikat di tiang eksekusi. Tapi kini, ada sesuatu yang berbeda. Dia telah melihat kebenaran. Dia telah mengakui kesalahannya.
Hidupnya yang selama ini berjalan tanpa belas kasihan adalah sebuah kesialan. Keadilannya yang subjektif dan absolut hanya membawa kematian dan tragedi bagi orang lain. Kematiannya mungkin tidak akan cukup untuk menebus semua dosa yang telah dia lakukan. Namun setidaknya, dia kini tahu bahwa dia memang pantas menerimanya.
"Kau sudah sadar?" teriak seorang prajurit di depannya. "Mari kita lanjutkan!"
Untung menatap prajurit itu dengan mata yang kini penuh ketenangan. "Tolong," ujarnya lirih. "Beri aku sedikit waktu untuk berpesan kepada keluargaku. Mungkin mereka tidak akan mengenaliku, tetapi aku ingin mereka tahu bahwa aku menyayangi mereka. Mereka adalah istriku, Siska Sudarwasih, dan anakku, Bunga Ria."
Prajurit itu menatapnya dengan mata membelalak. "Sekarang kau mengakui keluarga jenderal kami? Popor ini bikin kamu gila!?"
Untung tertegun. "Apa? Apakah dia... jenderal yang baik? Apa dia tidak semena-mena? Apa dia menyayangi semuanya?"
"Sinting!" teriak prajurit itu. "Kalau tidak karena jenderal, kami sudah membunuhmu sebelum kau sempat diberi tiang pancang."
Sesuatu terasa retak dalam diri Untung. Apakah mungkin...? Apakah jiwanya telah bertukar dengan seseorang? Apakah kini dia berada dalam tubuh seorang penjahat, sementara jiwanya yang asli masih hidup sebagai jenderal?
Ironis. Sang Jagal kini menjadi korban, sementara seorang penjahat entah bagaimana mendapatkan kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya.
"Baiklah kalau begitu," kata Untung pelan. "Silakan."
Prajurit itu menyelesaikan siksaan terakhirnya dengan pukulan keras di rahang bawah Untung. Dia merasakan tulang rahangnya patah, membuatnya tidak bisa berbicara lagi. Namun dia tidak peduli. Toh, dia akan segera mati.
Dalam keheningan terakhirnya, Untung teringat pada ibunya. Bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Jika keluarganya saja sudah digantikan dengan yang lebih baik, mungkin ibunya juga kini memiliki anak yang lebih baik. Sekali saja, dia ingin menangis di pangkuan ibunya sambil menikmati usapan lembut di kepalanya.
"Semoga Ibu terus hidup dan bahagia dengan anaknya," bisiknya dalam hati. "Terima kasih sudah melahirkanku, Ibu."
Suara tembakan dan rasa sakit yang amat sangat adalah hal terakhir yang Untung rasakan sebelum kegelapan abadi menelannya. Namun sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, dia melihat sebuah cahaya terang di kejauhan.
Di tengah cahaya itu, ibunya berdiri dengan senyum lembut dan tangan terulur. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Untung merasa damai.
______
Penulis
Aryasuta, karyawan swasta di Kota Kediri, kembali menyelami dunia kepenulisan setelah sekian lama tersesat dalam rapat tanpa akhir dan spreadsheet yang misterius. Pernah menerbitkan buku saat kuliah dan menulis untuk beberapa media, ia sempat berhenti menulis demi mengejar hal-hal yang katanya "lebih realistis"—hingga sadar bahwa realitas butuh sedikit bumbu fiksi. Kini, dengan semangat baru, ia berkomitmen menulis satu plot setiap hari, meski beberapa di antaranya hanya tercatat di notes ponsel sebelum tidur. Instagram : @tulisajaduluya