View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Postingan Terbaru

Friday, January 16, 2026

Dakwah | Seputar Isrā’-Mi‘rāj

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar



Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian yang tidak dapat dijangkau oleh nalar akal manusia yang sangat terbatas. Peristiwa ini menempuh jarak yang amat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Jarak antara Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Palestina kurang lebih 1.000 kilometer. Sementara perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntahā, melewati tujuh lapis langit, berada pada jarak yang tidak terbayangkan oleh perhitungan manusia.


Ilmu astronomi modern baru mampu mengukur jarak antara bumi dan matahari, yakni sekitar 149.578.000 kilometer. Itupun seluruh benda langit tersebut masih berada di bawah langit pertama. Oleh karena itu, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj hanya dapat diterima dengan pendekatan iman yang kokoh. Apabila Allah Swt. menghendaki sesuatu, maka tidak berlaku hukum alam bagi-Nya. Semua menjadi mudah dan tunduk kepada kehendak-Nya.


Menurut para sejarawan, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 sejak Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, sekitar tahun 621 Masehi. Setahun setelah peristiwa tersebut, Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah.


Isrā’ secara bahasa berarti memperjalankan. Secara istilah tarikh, Isrā’ adalah diperjalankannya Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari suatu tempat ke tempat yang lain, yaitu dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.


Peristiwa Isrā’ ini diabadikan oleh Allah Ta‘ālā dalam Al-Qur’an Surah Al-Isrā’ ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Artinya:
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."


Mi‘rāj secara bahasa berarti naik atau tangga untuk naik. Secara istilah, Mi‘rāj adalah naiknya Nabi Muhammad ﷺ ke langit, menembus tujuh lapis langit hingga sampai ke Sidratul Muntahā di kawasan pusat kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap lapisan langit dijaga oleh para malaikat, dan jarak antar-lapisan tersebut berada di luar jangkauan perhitungan manusia.


Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruh dan jasad. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan ruh saja. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad ﷺ diisrā’ dan dimi‘rājkan dengan ruh dan jasad sekaligus, dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi.


Pendapat jumhur ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1, khususnya pada dua kata kunci penting, yaitu سُبْحَانَ dan بِعَبْدِهِ. Kata سُبْحَانَ menunjukkan peristiwa yang sangat agung dan luar biasa. Jika peristiwa tersebut hanya berupa mimpi atau perjalanan ruh semata, maka tidaklah layak diawali dengan pengagungan sebesar itu.


Adapun kata بِعَبْدِهِ menunjukkan satu kesatuan antara ruh dan jasad. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ‘abd selalu merujuk pada manusia secara utuh, bukan ruh semata. Di antaranya:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

Artinya:

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 10)


Dan firman Allah Swt.:


وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا


Artinya:

“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya, hampir saja mereka berdesak-desakan mengerumuninya.” (QS. Al-Jinn: 19)


Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa istilah ‘abd mencakup ruh dan jasad secara utuh. Oleh karena itu, pendapat jumhur ulama bahwa Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh dan jasad adalah pendapat yang paling kuat dan didukung oleh dalil Al-Qur’an, hadis, serta kajian tafsir dan sirah.


Peristiwa Mi‘rāj dijelaskan dalam banyak hadis, baik yang sahih, hasan, maupun yang lemah. Hadis yang paling sahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:


أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ...

(Hadis panjang)

Artinya:
"Aku didatangkan seekor Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Aku menungganginya hingga sampai ke Baitul Maqdis, lalu aku menambatkannya pada tempat para nabi biasa menambatkan kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke Masjid Baitul Maqdis dan melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya…"


Inti dari peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu. Pada awalnya, Allah Swt. mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad ﷺ berulang kali kembali menghadap Allah Swt. untuk meminta keringanan, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu.


Namun demikian, Allah Swt. memberikan jaminan bahwa shalat lima waktu tersebut tetap bernilai pahala lima puluh waktu. Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.


Dengan demikian, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa akidah yang harus diyakini dengan keimanan yang teguh. Peristiwa ini terjadi dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, dan menjadi dasar diwajibkannya shalat lima waktu sebagai tiang agama Islam.

Semoga kajian ini bermanfaat dan menambah keteguhan iman kita.


Bārakallāhu fīkum.


Sumber Bacaan

  1. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3, hlm. 1.611 dan seterusnya.

  2. Tafsir Fathul Qadīr, Asy-Syaukani, Jilid 3, hlm. 285 dan seterusnya.

  3. Tafsir Kementerian Agama RI.

  4. Nūrul Yaqīn, Muhammad Hudari Bik, hlm. 69 dan seterusnya.

  5. Kapita Selekta Pengetahuan Agama Islam, Departemen Agama RI, dan sumber lainnya.



______

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Thursday, January 15, 2026

Esai Heru Anwari | Bertemu Sinta

Esai Heru Anwari



Perjalanan saya dari Miami menuju Doha memakan waktu 13 jam di atas pesawat. Biasanya saya habiskan untuk menyaksikan film, menulis, atau membaca. Perjalanan kali ini berbeda. Tiba-tiba saya bertemu dengan Sinta, wanita muda berumur 22 tahun. Personal yang friendly (mudah bergaul), ia menceritakan perjalanannya ke India untuk mengikuti kelas meditasi.


Ia menceritakan tentang bagaimana sulitnya mengatur kesehatan mental yang ia hadapi dalam berbagai persoalan. Saat saya katakan usianya masih muda, seolah ia tak menerimanya. “What do you mean young people?” tegasnya.


Saya katakan kepada Sinta bahwa kebanyakan anak muda mendapati persoalan cinta di usia 22 tahun. Tapi, tidak semua juga begitu. Salah satunya ya Sinta ini. Justru di usia mudanya, ia malah mencari ketenangan, bahkan antarbenua. Obrolan kami seperti saling terkoneksi. Saya tertarik dengan pernyataan Sinta bahwa ia akan mengunjungi India hanya untuk mengikuti kegiatan meditasi (berzikir jika di Islam; uzlah jika istilah sufistik), menjauh dari hiruk-pikuk dunia yang ramai.


Sinta terdaftar dengan kelompok atau organisasi meditasi di Virginia, Amerika. Lalu pada kesempatan akhir tahun ini, ia mengikuti trip meditation dengan jalan yoga sampai ke India. Kita tahu bahwa India merupakan negara yang sudah mewarisi meditasi sebagai ritual pembersihan jiwa dan jalan spiritual sejak ribuan tahun lalu. Bukti arkeologis seperti segel kuno dari Peradaban Lembah Sungai Indus (sekitar 3300-1900 SM) menunjukkan figur manusia dalam posisi meditasi. Ini membuktikan bahwa praktik pencarian kejernihan jiwa ini sudah ada jauh sebelum catatan sejarah modern dimulai.


Istilah "yoga" pertama kali muncul dalam kitab Rig Veda, salah satu teks tertua di dunia. Kemudian, dalam kitab Upanishad (sekitar 800-500 SM), meditasi mulai dijelaskan secara mendalam sebagai metode untuk memahami diri dalam (Atman) dan hubungannya dengan alam semesta (Brahman).


Saat mendengar yoga di India, saya tahu ini menarik untuk menjadi topik pembicaraan kami di atas pesawat. Sinta menjelaskan bahwa ia sangat struggle dengan kesehatan mentalnya karena ia berprofesi sebagai Holistic Financial Planner. Sangat penting untuk menjaga pikiran tetap jernih tanpa harus terdistraksi persoalan-persoalan kecil yang mengganggu pikirannya.


Saya mengingat bagaimana dan apa yang saya kerjakan di usia 22 tahun; sepertinya saya sudah memiliki anak, saya sudah memulai bisnis, dan saya sudah kontrak bersama sponsor perusahaan yang menjamin kehidupan bersepeda saya untuk keliling Indonesia. Pasti juga sudah banyak masalah; masalah bisnis, keluarga, dan sebagainya. Bagaimana saya menghadapinya? Mungkin saya diuntungkan memeluk agama, memiliki ritual yang dijaga seperti salat, tahajud, tahlil (mengirim doa), bahkan berselawat mengharap syafaat dari Nabi Muhammad saw. agar terus diberikan jalan keluar dan kedamaian. Pastinya ada guru (kiai sebagai orang yang dituakan).


Tapi, kita simak apa sebenarnya yang dicari Sinta. 


Sinta kesulitan mendaftarkan diri masuk ke dalam organisasi/klub yoga di Virginia hingga mentornya menyarankan untuk menempuh perjalanan ke India agar mendapatkan pengalaman meditasi spiritual. Sinta mengatakan bahwa ia sudah menempuh berbagai cara untuk mengatasi kesehatan mentalnya--atau bahasa kerennya mental health. Ia berkonsultasi ke dokter, menempuh jalur medicine (obat-obatan), hingga meditasi yoga. Sinta tak malu menceritakan bahwa ia banyak merokok dan minum sebagai pencarian jalan keluar persoalannya.


Saya teringat pada teori piramida pencarian manusia dari Ary Ginanjar Agustian (ESQ). Beliau menyebut fenomena ini sebagai jebakan "Pencarian Kebahagiaan Semu". Ada yang dirindukan dalam diri manusia yang terus-menerus dicari. Manusia secara alami bergerak mencari tiga hal, namun sering kali terjebak pada kulitnya saja:


1. Kekayaan (physical): Banyak orang mengira harta adalah ujung perjalanan. Tapi setelah kaya, banyak yang tetap merasa lelah, cemas, kebingungan, hampa, bahkan takut kehilangan harta tersebut.


2. Ketenaran (emotional): Banyak orang mencari pengakuan dan pujian. Namun, ketenaran justru sering mendatangkan tekanan mental karena harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.


3. Kebahagiaan (psychological): Orang mencari kesenangan lewat hiburan atau pencapaian. Tapi kebahagiaan ini sifatnya sementara (temporary); ia sangat bergantung pada kondisi luar yang rapuh.


Saya ceritakan juga kisah Nabi Adam a.s. dan Ibunda Hawa yang turun ke bumi—kisah tentang kerinduan. Bagaimana mereka "terlempar" dari rumah aslinya (surga) lalu turun ke dunia, dan sisa hidup mereka di bumi digunakan untuk mencari jalan kembali ke kedamaian tersebut. Saya katakan kalau kita semua manusia adalah dari surga, lalu ke bumi untuk kembali menemukan kedamaian (rida Allah), ya surga itu sendiri. Sontak pertanyaan aneh kembali muncul, “Apakah kamu percaya surga?” Panjang sekali jika harus saya ceritakan di tulisan ini. Lalu sampai kepada Sinta pun berkata “Makes sense,” (masuk akal).


Ya, sebenarnya manusia merupakan makhluk cahaya. Karena turun atau terlahir di bumi, lalu banyak mengonsumsi dan tumbuh dari bahan baku yang ada di bumi (tanah), maka manusia kesulitan untuk kembali menyatu kepada cahaya. Dan semua perjalanan manusia merindukan itu: kembali bersinar, bersatu dengan Cahaya, menebar kebaikan.


Mbah Nun berkata: “Jika kita melakukan kebaikan, dan orang lain berterima kasih atas kebaikan kita, kita telah berhasil mencahayai.”


Diskusi kami terus berlanjut semakin seru, sampai kepada pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia beragama dan apa fungsinya. Saya jelaskan mengenai pandangan pribadi saya: salat untuk menjernihkan pikiran setiap hari. Ada jeda-jeda waktunya untuk memahami kembali rute tujuan perjalanan.


Ada gelas air putih di meja kursi pesawat, saya ibaratkan air itu keruh berwarna cokelat; kita tidak bisa melihat mana atau apa di dalamnya secara jelas. Itu yang terjadi jika distraksi di pikiran sedang kacau. Bingung mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Namun, jika kita melakukan meditasi atau salat tahajud (istilah Islam bangun malam hari), kita melakukan proses pengendapan. Esok kita akan mampu melihat sesuatu yang baru secara jelas. Mungkin sesuatu itu sudah ada, namun sebelumnya tidak terlihat jelas. Dan salat berfungsi untuk menjaga kejernihan tersebut setiap saat.


Lagi-lagi Sinta berkata: “Makes sense” (masuk akal). Saya katakan di usia Sinta yang muda, ia sangat hebat mau peduli pada kesehatan mental. Perjalanan ini bukan liburan atau main, justru penting bagi bisnisnya. Ia mengatakan bahwa dirinya seorang business owner. Ia harus mampu mengontrol pikirannya sendiri.


Saya mampu melihat sebegitu penting dan sulitnya orang lain mencari kedamaian dalam hidupnya. Begitu pun yang saya alami. Walaupun sering mendirikan salat, tapi saya masih sangat susah mendapat ketenangan-ketenangan tersebut jika tidak kuat mengamalkan agar iman terus kokoh.


“Menurutmu Amerika seperti apa?” Sinta kembali bertanya kepada saya. Sebelum saya menjawab, ia melanjutkan kalimatnya, “Evil semua” (semua jahat). 


Sinta sangat berani mengatakan itu.


“Kamu American (asli kelahiran AS), saya tidak berani mengatakan hal buruk terhadap Amerika walau aslinya seperti itu,” jawab saya. 


Memang, Sinta merupakan generasi kedua yang lahir dan besar di Amerika. Ia pun menyadari bahwa di sana panas gersang (hampa dari tujuan hidup, kebingungan). Orang-orang sudah banyak mencari jalan lain. Berhenti sejenak dari kesibukan atau rutinitas bukan suatu kemunduran, justru itu peningkatan yang baik dibanding kebutaan yang terus-menerus. Manusia harus ada jarak untuk melihat realitas yang terjadi. Cermin itu bisa terlihat jelas saat proses pengendapan (meditasi) usai berhenti dari keterjebakan, lalu bertanya arah tujuan pada diri sendiri. Tren di Barat menunjukkan hal yang anomali (kebiasaan yang berbeda). Gen Z di Amerika banyak lari ke astrologi, tarot, bahkan spiritual seperti yoga. Contoh nyatanya adalah Sinta ini.


Mas Sabrang menjelaskan di podcast YouTube-nya mengenai pola yang terjadi di alam semesta. Manusia selalu mencari, selalu merasa kurang. Ketika terasa terlalu dikekang oleh peraturan, manusia akan mencari kebebasan. Saat manusia merasa terlalu bebas, maka akan mencari peraturan. lama-lama akan kebingungan. Dalam society, manusia mencari rule. Saat di luar tidak ditemukan, manusia akan mencari ke dalam. Informasi esoteris (rahasia langit) yang memberi kepastian kepada manusia. Yang menutupi lingkaran yang tidak diketahui, maka konsep Tuhanlah yang menutupi lingkaran sehingga kita merasa stabil.


Begitu pentingnya dimensi spiritual bagi manusia. Tidak hanya olahraga, tapi perlu sekali olah jiwa. Tidak hanya makan untuk tubuh, tapi juga makanan rohani. Tidak hanya ada bumi, ada juga langit dalam tubuh manusia.


Sinta kembali bertanya, “Apa kamu happy?”


Apa yang dimaksud happy? Apakah bahagia itu tertawa dan berdendang menyanyi, berjoget? Bisa jadi orang yang sengaja banyak berdendang dan mendengarkan lagu, bahkan menggerak-gerakkan tubuhnya, justru sangat ragu terhadap kebahagiaannya. sehingga membuat ia mencari tools agar bahagia atau terlihat bahagia. Diam merenung berpikir tentang apa yang terjadi bukanlah suatu kondisi tidak bahagia. Justru itu proses management problem dalam diri agar hidup tetap berjalan dengan baik. 


Saya teringat pesan Mbah Nun kepada saudara Helmi Mustofa sebagai orang yang dekat dengan beliau--pesan kepada jemaah "Maiyah" mengenai management problem dalam diri. Sesuatu menjadi sesuatu dalam diri karena kita memberi tiga hal: space (ruang), time (waktu), energy (tenaga).  


Jika kebencian kita memberi ruang, memberi waktu, memberi energi, kebencian itu akan membara menjadi sesuatu yang berbahaya. Begitu juga kesedihan. Sedih tidak apa-apa lima menit, misalnya, cukup. Demikian dengan kesenangan. Senang jangan lama-lama, cukup 10 menit, misalnya. Selebihnya sudah kembali bekerja-mencipta, tidak euforia berlebihan.


Sebenarnya bahagia menurut Islam ada pada Surah Ar-Ra'd ayat 28:


"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram."


Artinya, bahagia itu adalah ketika hati "pulang" kepada penciptanya. Seperti ponsel yang diisi daya baterainya, jiwa yang ingat Tuhan akan merasa penuh dan tenang.


Esai ini akan saya tutup dengan puisi Maulana Jalaluddin Rumi:


Ku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno

Tiada tanda apa saja di dalam-Nya

Nuju ke pegunungan Herat ku melangkah

Dan ke Kandahar ku memandang

Dia tak di dataran tinggi

Tak pula di dataran rendah

Ku pergi ke puncak gunung Kaf yang menakjubkan

Yang ada cuma tenpat tinggal burung Anqa

Kutanya pula Bu Ali Sina, tiada jawaban, sama saja

Ku pergi ke Kakbah di Mekkah

Dia tak di sana

Lalu kejenguk dalam hatiku sendiri

Di situ kulihat diri-Nya

Di situ, tak di tempat lain


Doha, Qatar, 1 Januari 2026


_______


Penulis


Heru Anwari, BMX Freestyler Indonesia. Berkeliling ke berbagai negara bersama sepeda. Instagram: @heruanwari heruanwaribmx.com


redaksingewiyak@gmail.com


Tuesday, January 13, 2026

Proses Kreatif | Buku: Masa Lalu, Masa Depan

Oleh Encep Abdullah



Bagi seorang penulis, setiap pergantian tahun biasanya punya resolusi. Resolusi ini semacam catatan, harapan, bahkan tuntutan yang harus dicapai. Target saya sejak dulu mungkin tidak berubah: menghasilkan minimal satu buku per tahun. Tahun lalu, di akhir tahun saya paksakan menerbitkan buku novel remaja yang sudah lama mengendap di laptop. Buku tersebut saya bagikan saja PDF-nya di laman NGEWIYAK. Judulnya Sepotong Cinta. Sekadar bacaan hiburan ringan saja. 


Sebenarnya saya punya stok tulisan banyak, terutama puisi dan esai. Untuk puisi bisa dijadikan 2 buku dan esai 1 buku. Cerpen hanya satu biji. Memang agak payah dalam menulis cerpen ini. Entah kenapa. Motivasi untuk memaksakan menulisnya sudah tak sebergelora dan seberdebum—meminjam istilah Wan Anwar—seperti dulu. Selain puisi bahasa Indonesia, saya juga punya stok puisi bahasa Jawa Banten. Sepertinya belum terlalu memenuhi untuk disatukan menjadi buku. Masih butuh beberapa puisi lagi. 


Sebenarnya ke depan saya lebih tertarik membuat buku puisi atau cerpen berbahasa Jawa Banten. Saya belum punya. Mungkin ini yang akan menjadi PR saya. Namun, sebelum kepikiran itu, saya lebih dulu kepikiran untuk membukukan puisi-puisi Bahasa Jawa Banten yang dimuat di NGEWIYAK.com sejak 2021. Agak sayang kalau berdebu di sana. Khawatir NGEWIYAK sudah tak beroperasi lagi atau data-datanya hilang atau di-hack. Kalau dikumpulkan, lumayan banyak. Pasti para penulisnya senang karya mereka dibukukan. Cuma, waktunya belum saya siapkan untuk merekap ulang semua karya itu. Saat ini masih sibuk merapikan buku dakwah Setetes Embun karya Bapak saya, Ust. Drs. Abu Bakar. Kerjaan ini cukup melelahkan. Bayangkan, catatan Bapak saya itu sejak 2017 dan sudah menumpuk di laptop saya. Kisaran ada 2.000 halaman A4—sebenarnya bisa dirampingkan karena banyak tulisan yang bertema sama, bahkan salin-tempel dari catatan-catatan tahun sebelumnya. Saya bilang kepada Bapak, kayaknya saya cukupkan saja untuk diarsipkan, kecuali Bapak menulis tema yang berbeda.


Pada 2019 buku Bapak pernah saya rangkum jadi satu jilid buku—sekadar dumi. Itu pun banyak yang belum rapi, ayat-ayatnya banyak yang terbalik susunannya. Belakang ini, Bapak bilang bahwa tulisan-tulisan tersebut lebih baik dibukukan saja sebagai kenang-kenangan hidup Bapak. Saat Bapak bilang begitu, saya jadi agak sedih, seolah-olah Bapak mau pergi. Padahal alhamdulillah Beliau masih sehat walafiat, segar bugar. Semoga Allah memperpanjang usia beliau dan hidupnya berkah. Amin. Saya juga memberi saran kepada Bapak untuk menuliskan kisah hidupnya atau semacam autobiografi. Tapi, Bapak menjawab bahwa beliau bukan pujangga seperti Buya Hamka yang bisa luwes bercerita. Hidup Bapak saya sangat misterius, banyak hal yang belum terungkap akan pemikiran orisinal yang hendak disampaikan kepada umat. Mungkin dengan menulis autobiografi, Bapak bisa mengungkapkan hal-hal yang belum pernah disampaikan kepada orang lain. Saya bilang bahwa barangkali saya wawancara sedikit-demi sedikit saja hidup Bapak. Saya yakin ini akan sangat bermanfaat untuk dibaca, khususnya untuk anak-cucunya. 


Mengapa saya berpikiran semacam itu? Belakang ini, tepatnya dua bulan terakhir, saya tiba-tiba gandrung memesan buku-buku bekas. Bahkan ada buku H.B. Jassin yang dicetak pada tahun 1950. Buku tersebut masih bisa dibaca dengan baik walaupun tampak usang. Pikiran saya tentu tak hanya sedang memegang buku, melainkan juga merasa sedang memegang sebuah sejarah hidup seseorang, masa lalu, dan kadang saya berimajinasi sedang berada di tahun-tahun itu. Wah, padahal H.B. Jassin sudah tiada. Tapi, saya masih bisa pegang bukunya 70 tahun kemudian setelah buku itu dilahirkan. Sampai saya berkhayal, apakah 70 tahun yang akan datang buku cetakan pertama saya masih ada yang baca? Mungkin begitu ya rasanya usia panjang itu. Meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang tertuang dalam buku. Maka, saya jadi termotivasi lagi untuk membaca ulang dan merapikan ulang tulisan-tulisan Bapak itu. Setidaknya Bapak bangga punya karya, bahkan akan dibedah pada Ramadan nanti di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pontang. Saya jadi lebih semangat lagi menyusun ulang tulisan Bapak. Ini menjadi momentum penting dalam hidup Bapak punya label baru: penulis. 


Kembali kepada resolusi. Mungkin sudah terlalu banyak resolusi yang sudah tercapai sehingga saya tidak terlalu menggebu-gebu dalam dunia literasi ini. Saat ini ingin mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya dan ingin punya perpustakaan pribadi yang besar. Bulan lalu, saya sudah habis-habisan beli buku. Selama hidup, baru kali ini saya beli buku 150 buku dalam sebulan, tentu dengan harga yang beragam. Pengeluaran ini lebih banyak dari pembelian mana pun yang sudah-sudah. Bahkan harus membuat rak buku baru, itu pun masih kurang. Tapi, saya tidak pernah merasa menyesal. Bahkan istri saya selalu mendukung—walaupun kebutuhan dapur harus diutamakan terlebih dahulu, kadang beli buku-buku tertentu masih sembunyi-sembunyi. 


Apakah semua buku yang saya beli itu dibaca? Tidak juga. Sebagiannya sebagai koleksi, sebagiannya dibaca para siswa saya di sekolah, bahkan dibawa pulang dan sering tak kembali. Apakah ada rasa penyesalan? Ada, kalau buku-buku yang dipinjam itu langka, atau harganya cukup mahal, atau buku kesayangan saya. Tapi, apa mau dikata, mereka juga perlu baca buku-buku itu. Agar mengurangi risiko hilang tak kembali itu, saya suruh mereka beli sendiri saja, beli online. Beli buku bekas, tapi orisinal dan murah. Anak-anak malah menyuruh saya yang membelikan mereka buku. Duit mereka saya yang pegang. Saya tidak mau. Kalau tidak membeli sendiri, mereka tidak punya pengalaman bagaimana cara membeli buku. Saya juga tidak tahu apakah setelah mereka belajar bersama saya, mereka jadi candu membaca. Kalau sudah candu, tidak mungkin pinjam kepada saya terus-menerus. Maka, mengajarkan mereka bagaimana cara dan membiasakan beli buku online juga sangat perlu agar mereka terbiasa membeli sendiri.


Ah, bicara buku tak akan pernah ada habisnya. Resolusi saya entah sampai kapan pun agar bersinggungan dengan dunia tersebut. Saya berusaha untuk beresolusi menjadi yang lain, misalnya menjadi power ranger begitu atau spiderman, atau presiden, kok kayaknya berat. Untuk pindah haluan, saya perlu beradaptasi kembali. Harus memberikan luka yang baru pada tubuh, pikiran, dan jiwa sampai saya benar-benar akrab dengan cerita hidup yang baru. Belasan tahun di dunia literasi, mungkin borok-boroknya sudah saya kenali, tahu obatnya apa. Saya sudah kenal dengan tubuh, pikiran, dan jiwa saya dari pengalaman-pengalaman itu. Bila, saya tinggalkan, rasanya mubazir. Saya harus tetap berada dalam track ini apa pun situasi dan kondisinya.


Tuhan tidak menyuruh kita pindah haluan dalam sekejap—apalagi tidak dipikirkan matang-matang— melainkan melakukan apa yang kita sukai dan kita cintai secara tulus dan istikamah walau kita melakukannya selangkah demi selangkah. Dalam buku Atomic Habits, James Clear menjelaskan bahwa kalau bisa manusia berkembang setiap hari, minimal naik ”1%” kebaikan sehingga dalam 1 tahun kita bisa mendapatkan energi kebaikan ”365%”, lalu menuju 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya. Seperti halnya ”Setetes Embun” karya Bapak saya yang ditulis sejak 8 tahun lalu itu yang setetes demi setetes kata ditulis setiap hari, lalu menjadi ribuan halaman.


Pontang 13 Januari 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 



redaksingewiyak@gmail.com



Sunday, January 11, 2026

Cerpen Yuditeha | Semua Penulis Pemakan Bangkai

Cerpen Yuditeha



Kekasih lelaki itu mati karena terpeleset saat bercinta. Itu fakta. Polisi bahkan menulisnya dalam laporan dengan ketikan kaku dan datar: Korban terpeleset dalam aktivitas seksual dan mengalami benturan fatal. Tak ada puisi dalam laporan polisi. Tak ada ruang untuk ironi. Hanya kalimat-kalimat yang bersih, kering, dan nyaris menghina realitas.


Lelaki itu duduk di meja kerjanya, menatap laptop yang menyala. Kursor berkedip, menunggu kelanjutan novel yang tak kunjung selesai. Novel yang ia tulis selama dua tahun, yang katanya akan menjadi mahakarya, yang katanya akan mengguncang dunia sastra. Tapi kini, semua terasa konyol. Ia tak bisa melanjutkan satu kalimat pun. Setiap kali ia mencoba menulis, ia melihat kekasihnya di lantai kamar, tubuhnya telanjang, kepala miring dengan darah tipis mengalir dari pelipis.


Malam itu, sesuatu bergerak di ambang pintu. Sebuah bayangan pendek, gemuk, berkaki empat. Moncongnya menyentuh lantai. Hidungnya mengendus-endus, mencari sesuatu. Seekor babi. Ia duduk di ambang pintu seperti tamu yang datang tanpa diundang. Matanya kecil, gelap, penuh rahasia. Lalu ia berjalan ke dalam, mendekati meja, mengendus kertas-kertas yang berserakan, menjilat tepian naskah.


Sementara lelaki itu, jari-jarinya membeku di atas keyboard. Di luar, hujan mulai turun. Hujan selalu datang di saat yang buruk, seolah langit pun gemar bersikap berlebihan. Kalau saja dunia ini adalah novel, ia pasti akan mengutuk penulisnya yang terlalu malas mencari metafora lain.


Babi itu tidak pergi. Ia mengorek-ngorek sampah dapur, menggigit kertas-kertas revisi, dan tidur di ranjang, Kadang-kadang ia mengubur moncongnya dalam tumpukan naskah, mengendus dengan rakus seakan mencium sesuatu yang busuk. Mungkin naskah itu memang busuk. Mungkin yang busuk adalah dirinya sendiri.


Tiap malam, lelaki itu bangun dan menemukan babi itu di sana. Duduk di dekat pintu, diam, tapi memperhatikan. Tidak bersuara. Hanya napasnya yang terdengar, pelan dan teratur. Napas seekor babi terdengar lebih hidup dibanding dirinya sendiri.


Ia mencoba menulis lagi. Kata-kata keluar seperti darah dari luka. Lebih liar. Lebih tajam. Lebih kotor. Seakan ada sesuatu yang menggiringnya ke arah yang lebih gelap. Ia tidak tahu apakah itu babi atau dirinya sendiri.


Dulu, ia selalu percaya bahwa menulis adalah ritual sakral. Ia bahkan pernah memberi ceramah di seminar kecil tentang “integritas dalam berkarya.” Omong kosong. Sekarang ia sadar menulis hanyalah soal bertahan hidup, soal merangkai kata sebelum kata-kata itu membunuhnya lebih dulu. Babi itu menatapnya, seakan mengerti bahwa kebohongan yang paling sering diucapkan adalah kebohongan pada diri sendiri. Di luar, hujan semakin deras.


Beberapa malam kemudian, ia mulai mencium bau itu. Bau anyir yang tidak datang dari babi, bukan pula dari sisa makanan di dapur. Bau yang lebih dalam, menusuk, lebih melekat pada dinding-dinding apartemen, seperti dosa yang tidak akan pernah terhapus.


Ia mencari sumbernya. Ia membongkar lemari, mengangkat sofa, bahkan membuka lantai kayu yang mulai berdebu. Tapi bau itu tetap ada. Bau yang tidak bisa dihapus dengan pewangi ruangan atau doa-doa pendek yang dulu diajarkan ibunya.


Suatu malam, ia menemukannya. Di bawah meja kerja, di antara tumpukan kertas yang sudah menguning, ada sesuatu yang nyaris menyerupai wajah. Tidak jelas apakah itu sisa kekasihnya, sisa dirinya sendiri, atau hanya imajinasi yang mulai membusuk. Babi itu datang mendekat, mengendus pelan, lalu berbaring di sana, di samping sisa itu, seakan menunggunya melakukan hal yang sama.


Lelaki itu duduk. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap layar laptop yang kini kembali menyala tanpa perintahnya. Kursor berkedip. Lalu, tanpa sadar, tangannya mulai mengetik. Kata-kata mengalir seperti sungai yang meluap, liar, tanpa kendali. Ia menulis tanpa peduli lagi pada alur, pada makna, pada estetika. Tulisannya yang dulu selalu patuh kepada ketentuan itu tapi orang-orang tidak pernah suka. Ia ingat semuanya, ingat kekacauan hidupnya, ingat kegagalan tulisannya. Ia tak ingin terbelenggu lagi hingga ia menulis seperti seseorang yang mengabarkan terakhir tentang dirinya sebelum semuanya runtuh. Dan babi itu tetap di sana, diam, menyaksikan.


Pagi itu, naskahnya hilang. Laptopnya hilang. Buku-bukunya hilang. Apartemennya pun kosong, seperti baru ditinggali seorang gelandangan yang terlalu rapi. Ia tertawa. Ia menangis. Ia tertawa lagi.


Hanya ada satu hal yang tersisa, babi itu. Duduk di tengah ruangan. Moncongnya basah. Bibirnya merah. Ia mengunyah sesuatu, mungkin kertas. Atau sesuatu yang lebih lunak? Lebih lentur. Tapi lebih bernyawa. Babi itu perlahan kembali mendekati meja, menatap layar laptop, menyentuhnya dengan moncongnya, mencoba menggigit tombol-tombolnya dengan perlahan, seolah ia sedang mencoba menulis sesuatu yang sangat penting, meski hanya muncul huruf-huruf acak. Ia tidak berbicara. Babi itu hanya membuat suara-suara tidak jelas, seperti desahan dari kedalaman sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, semacam bisikan dari kegelapan.


Lelaki itu bergeming. Napasnya tercekat. Dinding apartemen penuh coretan kata-kata yang tampaknya ia tulis sendiri dalam keadaan setengah sadar. Huruf-huruf yang menari seperti arwah penasaran. Seperti tangan-tangan dari masa lalu yang tak rela dilupakan. Kata-kata itu berantakan. Tidak ada alur dan struktur. Tidak ada ejaan yang benar. Hanya kejujuran mentah yang menyengat. Ada kalimat-kalimat aneh yang ia bahkan tidak mengingat kapan menulisnya:


Setiap kalimat adalah racun, dan kita meminumnya pelan-pelan. Semua kata yang bagus pernah mati. Luka adalah kalimat yang belum pernah ada di buku mana pun. Cinta hanya bisa dimakan setelah dimuntahkan. Bibir tahu lebih banyak dari kata-kata yang diludahkan. Semua penulis pemakan bangkai. Kata-kata adalah kunci. Sayang, kunci itu tidak ada lubangnya. Selesaikan ceritamu, dan lihatlah dirinya terkulai di lantai.


Semuanya terasa seperti ujung dari kisah. Di luar, langit menggantung berat, seperti tak benar-benar ingin runtuh tapi juga tak sanggup menahan beban sendiri. Di dalam, serpihan-serpihan kecil berserak di lantai, sesuatu yang pernah utuh. Tak jelas asalnya, seakan telah ada di sana sejak sebelum apa pun dimulai.


Lelaki itu mendengar sesuatu, denting, desah, atau hanya gema dari pikirannya sendiri. Mungkin tak ada suara. Mungkin seluruh dunia telah berhenti berbunyi. Ia ingin melakukan apa pun yang bisa memutus sambungan antara ingatan dan kesadaran. Lelaki itu membaca tulisan di layar. Tulisan yang tidak diingatnya pernah diketik. Kalimat-kalimat yang tidak bisa ia akui lahir dari tangannya.


Ia tidak mati karena terpeleset. Ia mati karena aku memaksanya menjadi tokoh dalam naskah yang belum selesai. Aku memaksa tubuhnya mengikuti cerita yang belum kutulis.


Babi itu menatap layar. Ia mendekat laptop, lalu menekan satu tombol. Layar menjadi kosong. Di luar, hujan akhirnya reda dengan keheningan untuk menulis ulang segalanya. Ia mengerti sesuatu pada detik itu, bukan babi yang memakan bangkai. Ia-lah bangkainya. Setiap trauma, setiap tubuh yang pernah mencintainya, setiap kematian yang ia rangkai menjadi adegan, semuanya ia kunyah demi kalimat yang tampak jenius. Ia menulis dari sisa-sisa yang tidak ditanam dengan layak, menghirup bau busuknya, lalu menjadikannya prosa. Tidak ada penulis yang bersih. Tidak ada yang suci saat mengais luka untuk jadi estetika. Mereka hanya memilih bangkai mana yang paling empuk untuk digigit.


Dan babi itu, dengan moncong merah dan mata yang tenang, seperti sedang mengajarinya satu kebenaran terakhir, setiap cerita dimulai dari daging yang membusuk. Setiap kalimat adalah sisa tubuh yang pernah hidup. Pada akhirnya, babi bukan ancaman, ia hanyalah cermin. Karena semua penulis adalah pemakan bangkai, dan yang membusuk paling cepat adalah hati mereka sendiri.


______


Penulis


Yuditeha, tinggal di Karanganyar



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, January 10, 2026

Resensi Kabut | Terpikat Burung

Oleh Kabut



Para pembaca majalah Intisari akrab dengan satu nama: Slamet Soeseno. Ia memberi halaman-halaman mengasyikkan mengenai flora dan fauna. Jenis tulisannya menerangkan dan mengisahkan. Para pembaca gampang paham mengenai beragam tanaman dan binatang yang ada di Nusantara. Jadi, rubrik Slamet Soeseno termasuk unggulan dalam Intisari.


Tulisannya dapat dibaca murid, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan lain-lain. Pokoknya tulisan-tulisan Slamet Soeseno menghibur dan mencerahkan. Bagi yang kesulitan belajar biologi dapat terbantu bila rutin membaca majalah Intisari. Apakah seharusnya pelajaran di sekolah mengikuti gaya Slamet Soeseno? Kita membayangkan murid-murid pasti senang untuk berilmu.


Pada setiap tulisan, dipasang beberapa gambar atau foto. Artinya, yang membaca makin terpikat. Dulu, para pembaca memuliakan apa-apa yang tersaji di lembaran kertas, belum perlu tangan mengetik di mesin pencarian. Pada masa lalu, Slamet Soeseno adalah pengajar dan pengisah yang mumpuni, yang membuat publik melek flora dan fauna.


Apakah rubrik di majalah Intisari itu cukup? Slamet Soeseno terus mengalirkan pengetahuannya melalui penulisan buku-buku untuk anak dan remaja. Temanya tetap flora-fauna atau kealaman-lingkungan hidup. Novelnya yang apik pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Novel yang menggembirakan bagi anak dan remaja yang menghindari buku-buku pelajaran yang membosankan. Novelnya yang terkenal dan sering cetak ulang berjudul Bertualang di Pulau Panggang.


Kini, kita mengenang dan menghormati segala warisannya dengan membaca buku yang berjudul Burung Cenderawasih yang Mempesona. Buku yang tipis, terbitan Pustaka Jaya, 1986. Dulu, buku menjadi koleksi perpustakaan di SMP Kristen 3 Margoyudan, Surakarta. Di lembaran-lembaran yang tersisa, novel itu jarang dipinjam oleh murid. Terjadi empat kali peminjaman, dari 1987-1995. Akhirnya, buku itu “terbuang” ke pasar buku bekas. Kita beruntung mendapatkannya dengan sedikit duit. Novel yang bermutu ketimbang kita tergoda melihat tayangan-tayangan sembarangan di internet. Yang kita pelajari adalah burung. Slamet Soeseno mengajarkannya melalui cerita.


Ingat, yang terbaca bukan cerita-fantasi. Pengarang memberi cerita-berilmu sekaligus mengajak para pembacanya mengagumi khazanah alam di Nusantara, terutama di Papua. Di halaman-halaman cerita, pembaca ikut merasa menginjakkan kaki di Papua. Pengalaman pembaca berada di tempat yang jauh dari Jawa. Tempat yang sering diwartakan dengan pergolakan besar: politik, pertambangan, alam, adat, dan lain-lain. 


Slamet Soeseno bercerita dalam suasana Orde Baru. Kita ingat kebijakan penguasa atas Papua masa lalu. Penyebutan yang berlaku adalah Irian Jaya. Konon, kesuksesan pembangunan nasional tidak sampai di sana. Pemerataan pembangunan adalah omong kosong bila melihat kenyataan-kenyataan di sana.


Kita mulai menikmati cerita, yang menghindari dari sorotan politis dan sulit menghindari nalar-imajinasi pembangunanisme. Slamet Soeseno bercerita: “Pada liburan tahun ini, beberapa orang murid SMP Teladan Jayapura berkemah di Cagar Alam Pegunungan Cyclops. Selain ingin menikmati udara sejuk pegunungan, mereka juga ingin melihat burung cenderawasih di lingkungan hidupnya yang asli.” Apakah ada lingkungan yang tidak asli? Jawabannya adalah kebun binatang. Dulu, anak-anak TK dan SD mengenali dan mengagumi beberapa binatang di kebun binatang. Piknik yang indah dan menyenangkan. 


Pembaca pun tergoda untuk bisa sampai ke Papua. Pemenuhan keinginan melihat alam yang indah, melihat burung yang istimewa. Pada masa lalu, orang butuh dana besar untuk bisa menikmati anugerah Tuhan di Papua. Kodrat yang sulit berubah. Semua mahal akibat “gagalnya” pembangunan nasional.


Keajaiban itu tampak mata. Yang membaca merasa iri gara-gara tidak melihat secara langsung, cuma membaca kata-kata: “Salah seekor di antara cenderawasih yang mereka lihat itu ada yang sedang menggelar semua bulunya. Agaknya burung itu ingin memamerkan seluruh bulu hiasnya yang indah mempesona. Bulunya yang pendek dibuka selebar-lebarnya dan digetar-getarkan, sedang bulunya yang panjang dan halus seperti renda sutera dibelai dengan paruhnya. Kemudian, bulu panjangnya itu dinaikkan lalu dibentangkan ke semua arah, sehingga melayang-layang di udara.” 


Di lembaran buku, gambar yang dicetak cuma berwarna hitam dan putih. Pembaca kecewa. Dulu, mencetak gambar yang berwarna dalam buku memerlukan ongkos yang besar. Kita tetap mengikuti pengalaman para tokoh yang melihat secara langsung. Ada yang berusaha mendokumentasi dengan memotret. Maka, foto-foto burung cenderawasih menjadi koleksi yang “mahal”. 


Apakah yang terpikat hanya penduduk setempat atau orang-orang di Indonesia. Sejak lama, orang-orang Eropa sangat mengaguminya, memberinya nama dalam bahasa asing. Mereka sangat memuji dan mengakui eloknya burung cenderawasih. Bagaimana anak-anak yang diajari burung-burung? Apakah mereka akan memberi perhatian besar kepada burung cenderawasih yang disajikan secara terbatas di buku pelajaran? Mereka dapat mencari informasi lanjutan di koran, majalah, atau televisi. Anak-anak yang membaca novel gubahan Slamet Soeseno tentu beruntung. 


Para tokoh yang diceritakan dalam novel didampingi guru dan pegawai di cagar alam. Murid-murid yang berlimpah pengetahuan dan pengalaman. Buku itu mungkin sempat memicu murid-murid di Jawa mengangankan piknik yang diadakan di sekolah mendingan tujuannya adalah Irian Jaya, tidak selalu Jakarta atau Bali. 


Pengetahuan yang unik tentang sarang burung. Pembaca merasa ikut melihat meski tokohnya menggunakan teropong: “… Sarang itu terbuat dari ranting tanaman kering yang kecil, kulit pohon, daun, yang diperkuat di sana sini dengan potongan cabang yang lebih besar. Dinding bagian dalamnya dilapisi rumput dan daun kering yang lebih halus. Sarang itu berbentuk cawan sebesar satu kobokan yang ditaruh di tempat percabangan dahan pohon gempol.” 


Pada akhirnya, novel itu mengajak orang tak sekadar mengagumi alam. Yang disampaikan Slamet Soeseno adalah penelitian ilmiah mengenai cenderawasih dan lingkungannya. Anehnya, para peneliti yang tangguh seringnya peneliti asing, bukan peneliti Indonesia. Yang paling paham cenderawasih justru orang-orang yang menekuninya dan mengajarkannya di pelbagai universitas di dunia.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, January 8, 2026

Esai Heru Anwari | Belajar dari Buaya Amerika

Esai Heru Anwari



Suatu hari saya berkunjung ke Everglades Alligator Farm, tepatnya pada 29 Desember 2025. Di sana, saya banyak belajar dari aligator Florida.


Everglades Alligator Farm yang terletak di dekat Taman Nasional Everglades merupakan penangkaran buaya terbesar dan tertua di Florida Selatan. Tempat ini menawarkan tur perahu rawa (airboat), pertunjukan satwa liar, dan berbagai demonstrasi.


Di sela pertunjukan saat memberikan makan aligator di tengah penangkaran, ada mungkin sebanyak 250 aligator seperti di alam bebas. Ada sedikit perbedaan terkait aligator dan crocodile/buaya. Meskipun terlihat mirip, aligator dan buaya berasal dari keluarga yang berbeda dalam ordo Crocodylia. Perbedaan keduanya cukup mudah dikenali jika kita memerhatikan detail fisik dan perilakunya. Buaya Amerika dan Kuba bisa kita temui di kebun ini. Moncongnya terlihat tipis atau runcing, juga bentuk tubuh dan warnanya berbeda. Sifat buaya lebih agresif, sedangkan aligator pemalu.


Namun, yang menarik bagi saya adalah mengenai informasi bahwa buaya mampu bertahan hidup satu tahun hanya dengan memakan dua ekor ayam atau beberapa ikan kecil, memproses makanan cukup lama. Aligator dan buaya dewasa yang sehat sanggup bertahan hidup tanpa makan selama satu tahun, bahkan dalam beberapa kasus ekstrem dilaporkan bisa lebih dari itu. Dilansir dari berbagai informasi bahwa buaya sudah hidup sejak ratusan juta tahun lalu, yang sangat mungkin mereka berdampingan dengan dinosaurus. Mereka berhasil selamat dari peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun yang lalu, kemungkinan besar karena kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa terhadap lingkungan air dan darat yang membuatnya terus bertahan sampai saat ini.


Secara sekilas buaya terlihat bermalas-malasan, hanya tidur, berenang, berjemur. Memang ia seharusnya begitu, memproses makanan dengan sangat lambat dan lama. Tidak seperti manusia yang menghabiskan sekitar 90% energi makanan hanya untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat, buaya mendapatkan panas dari matahari. Hal ini membuat metabolismenya sangat lambat dan hemat energi.


Buaya menyimpan cadangan energi yang sangat besar di bagian ekor dalam bentuk lemak. Saat makanan langka, tubuh mereka akan "memakan" cadangan lemak ini secara perlahan. Memiliki "Power Saver". Saat tidak ada makanan, mereka akan menurunkan detak jantung dan aktivitas tubuh hingga titik minimal.


Fenomena makhluk di alam semesta seperti ini jika kita cermati dan diambil hikmahnya, akan sangat banyak ilmu yang bisa kita ambil untuk kehidupan di tengah kecepatan dan supersibuk dewasa ini. Tidakkah ingat bahwa anak Nabi Adam belajar kepada burung gagak untuk mendapatkan ilmu cara menguburkan manusia.


Tuhan berkomunikasi melalui alam selalu berbicara kepada kita, namun kita tak mampu menangkapnya dengan jelas. Suara tidak melulu melalui telinga. Lakon teatrikal drama dipahami dengan gerakan menyiratkan cerita yang menyentuh. Kita mampu melihat atau mengetahui seseorang hanya dengan mendengar suaranya, tanpa mata. Begitu istilah dimensi komunikasi dengan kelembutan atau kedetailan.


Hidup manusia dewasa ini seperti sudah diatur dengan pola-pola materialistis. Hidup harus seperti ini, harus seperti itu, umur segini harus punya ini, harus punya itu. Nanti harus begini dan begitu. Katakanlah pola yang terjadi kebanyakan yang terjadi di masyarakat saat ini. Memasuki usia 25–30 tahun harus sudah memiliki pekerjaan tetap, harus sudah menikah, memiliki keluarga, mendapatkan gaji, cicilan perabotan, rumah, kendaraan, dan sebagainya. Jika saja manusia keluar dari pola kebanyakan yang terjadi, maka akan terlihat aneh bahkan berbeda, bisa dianggap tidak waras.


Dinarasikan seperti ketakutan jika sudah melampaui usia 40 tahun belum menikah atau bahkan belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaan juga diidentikkan dengan adanya jam kerja pukul 07.00 s.d. 17.00, dengan sistem absensi dan gaji 30 hari menunggu lamanya.


Apakah buaya mengatakan seperti itu? Buaya mengatakan, “Hei, nikmatilah hidup ini! Makanlah secukupnya! Bahagialah, kita sudah hidup ratusan juta tahun!”


Saya teringat kepada suatu pemikiran Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama, sastrawan, dan filsuf besar asal Indonesia. Beliau sering menggunakan perumpamaan "tamu di meja makan" atau "dunia sebagai hidangan", sama persis seperti pemikiran sufi besar Imam Al-Ghazali yang mengajarkan bahwa dunia adalah tempat singgah sementara untuk mengumpulkan bekal perjalanan berikutnya.


Jika manusia diumpamakan seorang tamu yang berada di meja makan, maka kita makan secukupnya saja. Karena dunia bagai meja makan dengan sangat banyak menu hidangan makanan dengan berbagai rasa. Jika mungkin manusia kerakusan, tidak akan ada waktu untuk menikmati perjalanan singgahnya di dunia.


Manusia jika hidup sudah sadar bahwa alam semesta menyediakan segalanya, sudah memiliki atap untuk berteduh, sudah ada makanan untuk hidup, kenapa takut lagi hidup dengan tergesa atau terus takutkan masa depan, berperang dalam kegelisahan dan perlombaan. Pemilik rumah sudah memberi takaran yang tidak akan tertukar bagi dia yang bertamu. Sopir dan pilot akan membawa penumpang dengan selamat, mengapa masih takut pada kehidupan yang sudah dijamin? Bekerja dan beribadah (pengabdian) berimbang dan menjadi keindahan dalam kehidupan. Mereka yang sudah merasa cukup akan menikmati pemandangan.


Pada buku Montaigne tertulis pada salah satu bab esainya: 


Dan orang kaya yang gelisah, kekurangan, dan terlalu sibuk tampaknya lebih celaka bagiku daripada orang yang benar-benar miskin. "Kemiskinan dalam kekayaan adalah bentuk kekurangan yang paling menyakitkan" (Lucius Annaeus Seneca).


Semua manusia pasti takut dan khawatir karena itu bagian dalam perasaan dimensi kehidupan manusia. Jika kita yakin bahwa semua sudah diatur oleh Sang Pemegang Skenario, sekalipun keluarga, anak, dan istri, alangkah baik jika mewariskan sikap berhenti dari sifat kehausan yang berkepanjangan. "Kelaparan" mental jauh lebih berbahaya daripada kelaparan fisikal. Mana yang akan diwariskan?


Kapan dimulai kehidupan bahagianya? Jika sudah menyadari bahwa warna apa yang pantas digunakan, dan bermain sesuai warna sabuk yang dimiliki. Menikmati bukan berarti berhenti, tapi sudah menikmati menjadi irama. Bersyukur atas apa yang sudah ditetapkan dan semua terus berproses tanpa tergesa-gesa.


Konsep kekayaan jika merujuk kepada Asmaul Husna Al-Ghany artinya 'Maha Kaya' atau 'Maha Tidak Membutuhkan' (cukup). Maka sangat jelas manusia yang sudah merasa cukup dan menikmati itu yang disebut kaya. Jika masih terus kurang maka bisa disebut masih miskin. Bagaimana tidak dikatakan paling kaya jika semua alam semesta dicipta untuk ia, manusia yang bersyukur.


Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta (ghina al-'aradh), melainkan kekayaan jiwa atau rasa cukup dalam hati (ghina an-nafs). Cukup.


Saya ceritakan kisah saya 34 tahun tidak bekerja seperti manusia kebanyakan; pergi ke kantor dan menggunakan seragam. Selama 20 tahun berkarier saya digaji semestinya karyawan mendapat jaminan kehidupan, Jamsostek, bahkan tiket kepergian dinas, tanpa memakai seragam. Seragamnya kaos polos, sepatu kasual, layaknya seperti bermain bersama sepeda. Sepeda menjadi meja kantor dan alat bekerja. Terlihat aneh dan tidak masuk akal. Namun, perjalanan dinasnya bisa sampai keliling di berbagai benua dengan hotel bintang 5, disambut dan diservis seperti artis papan atas.


Bagaimana dengan konsep ini? Apa harus takut dan khawatir jika yang tidak diinginkan saja bisa kita dapatkan? Yang tidak terbayangkan saja bisa terjadi begitu saja, seperti sudah digariskan. Ini mematahkan konsep bekerja harus keras dan sebagainya. Saya konsisten dan keras pada pendirian saya terus di olahraga BMX, menjadi idealis. Memang ideal bagi saya karena sudah memakan waktu ribuan jam terus-menerus di dunia BMX ini.


Memang benar yang bersungguh-sungguh akan pantas mendapatkan ganjaran dari apa yang ia kerjakan. Tapi tidak dalam kekurangan dan kerakusan. Sungguh-sungguh dengan sifat saleh, siddiq, jujur, sungguh. Jalan itu yang akan membawa kepada penemuan warna sabuk atau fadhal-nya. Fadhal atau fadhilah, keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan. Akhirnya ia menjadi dirinya. jadi, tidak harus saya harus seperti orang lain. Ditambah bersyukur maka keindahan tercapai sebagai puncak kehidupan manusia.


Kita bisa saksikan juga pada kisah kehidupan para seniman, mereka para pencipta keindahan, mereka para pejalan keindahan. Seniman pelukis, desainer, musisi, dsb. Mereka menjadi dirinya semestinya.


Begitu pelajaran yang saya dapatkan di Miami, Florida, Amerika yang saya lihat dari perjalanan kisah aligator/buaya. Bisa saja Allah menginginkan saya menjadi manusia yang berjalan dengan sepedanya sampai ia kelak mati dan menikmati banyak pemandangan saat proses kehidupan berlangsung (cukup dengan makan dua ekor ayam satu tahun seperti buaya) sifat cukupnya. Kuncinya ada pada saya rida mensyukurinya, ibu (keluarga) rida kepada jalan itu, dan pasti Allah rida pada jalan ini. Apa lagi yang dicari jika rida Allah sudah dituju? Bukankah itu titik terakhir dari perjalanan?


Keluar dari mengikuti pola yang dicipta manusia. Karena manusia banyak sekali mencipta distraksi pola-pola kehidupan, sampai saya lupa bahwa ada Sang Pencipta pola sesungguhnya. Banyak sekali makhluk Allah bisa hidup karena keahlian mereka, katakan membengkel, bertani, memijat, menulis, dsb. Apa susahnya buat Allah mencipta satu manusia untuk bisa hidup karena ahli BMX.


Saya cerita untuk menceritakan perjalanan pencarian diri pribadi, tapi bisa saja menjawab semua keraguan atau pertanyaan manusia dan keluar dari pola-pola manusia saat ini. Dan, saatnya generasi baru menemukan keahliannya.


Jika pesan dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bagi para generasi selanjutnya adalah: “Kalau kamu ikan, jangan ikut lomba terbang. Kita dicipta berbeda.”


Dan di dunia ini banyak sekali jika kita mau belajar, tokoh besar hidupnya selesai bahkan berkelimpahan hanya dari mereka menemukan di mana posisi hidupnya. Robert Nesta Marley, musisi (Reggae), dikenal sebagai ikon musik dunia asal Jamaika yang membawa pesan perdamaian. Bruce Lee (Lee Jun-fan), bela diri (martial artist), pendiri Jeet Kune Do dan aktor film laga yang merevolusi cara pandang dunia terhadap bela diri. Cristiano Ronaldo (dos Santos Aveiro), pemain sepak bola, salah satu pemain terbaik sepanjang masa dengan rekor gol terbanyak di dunia. Khabib Abdulmanapovich Nurmagomedov, petarung MMA (mixed martial arts), beliau spesialis gulat dan sambo. Ia pensiun sebagai Juara Kelas Ringan UFC yang tak terkalahkan.


Ungkapan Mamah yang paling kuingat, 


“Emang Aa mah geus aya jangji ti Allah, tah urusan Mamah jeung anak ti sapeda. Jadi jelma mah ulah mak-mak (rakus), syukuri baé éta, Allah geus méré kaahlian éta. Mamah mah sifat ngadoakeun.


Miami, Florida Selasa, 30 Desember 2025


_________


Penulis 


Heru Anwari, BMX Freestyler Indonesia. Berkeliling ke berbagai negara bersama sepeda. Instagram: @heruanwari heruanwaribmx.com


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Saturday, January 3, 2026

Lapak Buku | Kepada Puisi, Aku Bertanya | Hendri

 


Judul: Kepada Puisi, Aku Bertanya

Penulis: Hendri

Penerbit: #Komentar

Terbit: Januari 2026

Tebal: vi + 93 hlm.

QRCBN: 62-157-1217-676

Harga : Rp60.000


Kepada Puisi, Aku Bertanya adalah kumpulan puisi lirih karya Hendri yang merangkai kisah cinta, rindu, jarak, dan doa dalam bahasa yang intim dan reflektif. Buku ini menghadirkan suara seorang penyair yang menjadikan puisi sebagai ruang bertanya, mengadu, sekaligus bertahan dari luka dan kehilangan. Si “aku” berkali-kali menyapa perempuan yang dicintainya (hadir sebagai imaji, kenangan, dan harapan)  dalam latar jarak geografis, perantauan, dan waktu yang tak kunjung berpihak. Cinta dihadirkan bukan sekadar romantika, tetapi juga pergulatan batin, trauma, kesetiaan, dan spiritualitas. Puisi-puisi dalam buku ini bergerak dari kerinduan personal hingga perenungan eksistensial, memadukan metafora alam, kota, dan doa. Sebuah buku yang merekam kesunyian, menunggu jawaban, dan keyakinan bahwa kata-kata mampu menjaga cinta tetap hidup.



Kontak:


087771480255 (Penerbit)

082210231226 (Penulis)


Resensi Kabut | Berlebihan

Oleh Kabut




Cerita anak menganjurkan kebaikan-kebaikan. Kita mudah bermufakat meski menganggap cara dan kadar pengajaran kebaikan dalam cerita tidak perlu “berlebihan”. Mengapa kita menuduh “berlebihan” bila khatam puluhan atau ratusan buku cerita anak di Indonesia? Yang kita urusi sebenarnya adalah para pengarang yang menulis cerita anak. Sejak awal abad XX, pengarang-pengarang memiliki patokan dalam menggubah cerita anak, yang mengandung pengajaran kebaikan-pengajaran kebaikan saat menggunakan latar rumah, kampung, sekolah, dan lain-lain. Di situ, pengarang menempatkan para tokoh, yang nanti menjadi contoh atau panutan bahwa kebaikan-kebaikan itu terwujud.


Pada masa setelah Perang Dunia II, industri buku cerita anak mirip “pesta kebaikan” yang digunakan memajukan Indonesia. Buku-buku yang dinikmati anak-anak diusahakan membuat mereka menjadi pribadi unggul: pintar, sopan, beriman, dan lain-lain. Jadi, terbitnya ribuan buku cerita anak di Indonesia memang dipastikan menyebarkan pesan-pesan baik, bukan mengajak para pembaca menjadi nakal, jahat, atau bodoh.


Yang kita maksud “berlebihan” adalah cerita-cerita yang dibuat para pengarang sering menjauh dari kenyataan. Cerita-cerita itu menampilkan para tokoh yang karakternya sudah dibakukan untuk memunculkan pertentangan agar pengajaran kebaikan yang lekas sampai kepada pembaca. Tokoh-tokoh yang memihak kebaikan dihadirkan dalam “drama”, yang kadang sulit “masuk akal” atau cocok dalam lakon hidup keseharian. Pokoknya, kebaikan adalah yang utama dan “menguasai” cerita.


Kita sudahi dulu masalah pengajaran kebaikan yang “keterlaluan” dalam sejarah dan perkembangan industri cerita anak di Indonesia. Di tangan kita, ada buku tipis yang berjudul Mengejar Bintang gubahan Darto Singo. Buku terbitan Sarana Jaya, 1979. Tampilan buku yang tidak memikat pembaca. Sampulnya tampak jelek. Gambar bocah mengenakan pakaian sebagai murid. Di sana, ada Monas yang berhiaskan bintang. Anehnya, kita melihat gambar tanaman warna-warni, yang membuat sampul itu makin tidak keruan.


Siapa yang masih ingat Anggun C Sasmi? Kita sengaja mengajukan nama artis asal Indonesia, yang sudah kondang di dunia. Yang dipikirkan sebenarnya bukan Anggun C Sasmi tapi pengarang cerita anak. Anggun C Sasmi itu punya bapak yang rajin menulis cerita anak. Bapaknya bernama Darto Singo. Kita ingatkan bahwa buku yang kita buka halaman-halamannya tidak ada kaitannya dengan Anggun C Sasmi.


Kita berurusan cerita saja. Pada suatu hari, tokoh bernama Anto sedih setelah dimarahi ibu. Penyebabnya adalah mandi di kali bersama teman-teman. Ibu tidak suka Anto mengotori tubuhnya di sungai dan mencari masalah saat bermain. Maka, Anto membuat perlawanan saat diajak bicara bapaknya: “Rasanya, ibu tidak menyayangiku, Yah! Setidaknya, kalah kalau dibandingkan induk ayam itu. Induk ayam amat menyayangi anaknya.” Mereka berada di sekitaran pohon nangka dan pisang. Di situ, ada ayam-ayam yang mencari makan. 


Bapak kaget mendengar pernyataan Anto. Ia mengerti itu bukan kedurhakaan. Anto belum mengerti maksud ibu yang marah. Anto belum berhitung kesalahan dan akibat. Akhirnya, bapak memilih sabar sambil memberi penjelasan-penjelasan agar Anto paham hubungan ibu dan anak. Berhasil. Anto perlahan sadar. Pada peristiwa sederhana, Anto mendapat pengajaran yang baik dan santun dari bapaknya.  


Pengajaran berlanjut saat malam. Keluarga dalam peristiwa makan. Anto mendapat sindiran adiknya mengenai mencuci piring setelah makan. Semula, Anto ingin menolak. Adiknya, yang bernama Anti, menjelaskan: bila Anto mau mencuci piring, ia akan melakukan tugas membereskan tempat tidur ibu. Anto malah berujar: “Rasanya lebih senang mencangkul di sawah daripada mencuci piring.” Kita mengerti itu sikap anak lelaki, yang membedakan jenis-jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin dan gengsi.


Bapak turut campur dengan berkata: “Mencuci piring itu bukan pekerjaan perempuan saja, To! Ayah pernah melihat di kota-kota besar, tukang cuci piring restoran justru laki-laki.” Anto belum mau terima dengan cara bapaknya agar ia tetap mencuci piring. Padahal, bapaknya memberikan penjelasan lanjutan: “Karena laki-laki lebih gesit, cepat, dan cekatan.” Malam itu Anto mendapat lagi pengajaran yang baik. Para pembaca ikut mengangguk sebagai tanda setuju bahwa anak memang memiliki tugas-tugas di rumah, selain wajib sopan dan patuh kepada ibu.


Beberapa halaman terbaca, kita menemukan pengajaran hal-hal yang baik melalui turutan orang dewasa sambil menunggu tanggapan dari anak-anak. Yang diinginkan adalah anak-anak menjadi baik melalui perkataan dan tindakan. Darto Singo berhasil dalam menjadikan cerita sebagai upaya membentuk pribadi-pribadi yang “baik dan benar”.


Di pergaulan, Anto bergabung dengan teman-teman yang menyenangkan tapi kadang “menyesatkan”. Pada suatu hari, mereka ingin mengadakan pesta makan. Namun, usaha mencari buah tidak semuanya berhasil. Yang bikin masalah adalah mendapatkan pepaya. Anak-anak itu berdebat. Anto tampil sebagai anak yang baik saat memberi peringatan: “Asal jangan mencuri. Mencuri itu dosa. Salah! Walaupun mencuri pepaya. Mula-mula memang pepaya yang kita curi. Lama-kelamaan kita akan mencuri kelapa, lalu mencuri ayam, lalu kambing, lalu kita dipenjara.” 


Yang disampaikan Anto manjur. Perkumpulan anak belajar tentang kebaikan dan kejahatan. Mereka tidak mau menjadi jahat, yang nanti masuk penjara. Para tokoh dalam cerita dapat menjadi rujukan bagi para pembaca yang ingin menjadi baik. Artinya, buku cerita itu sumber belajar. Namun, pembaca mungkin merasakan keanehan. Banyak hal dimulai dari peristiwa dan dinilai dengan perkataan. Simpulan cepat dibuat, yang selalu memihak kebaikan.


Pada suatu hari, Anto dan teman-teman bersepakat belajar bemain musik dan menyanyi. Mereka senang tapi terjebak perdebatan. Darto Singo mengajak pembaca turut dalam perbedaan pendapat: “Mula-mula Parmin ragu-ragu. Memalukan, katanya. Karena ngamen dan mengemis itu sama saja. Tapi, Anto membantah pikirannya itu. Mereka akan memperoleh uang sedikit dengan ngamen, menyanyi keliling kota. Tapi itu tidak sama dengan hasil mengemis. Mengemis hanya menadahkan tangan pada siapa yang kasihan atau ikhlas memberi. Tapi, ngamen sama artinya menjual suara, menjual lagu dan musik untuk pemberian yang mereka terima.” Perdebatan itu membuat mereka berpikir serius sambil mencari pendapat yang benar dan kuat.


Di rumah dan bermain bersama teman-teman, pengajaran kebaikan selalu bermunculan. Di sekolah, Anto juga belajar kebaikan-kebaikan melalui pelbagai masalah. Sekolah justru menjadi tempat yang mengharuskan pemahaman atas kebaikan-kebaikan. Murid-murid dianjurkan belajar yang rajin agar pintas sekaligus membentuk pribadinya secara “sempurna”. Padahal, selama di sekolah, mereka pun merayakan kemalasan dan kenakalan. Namun, mereka memang mendapat kondisi yang mengharuskan belajar kebaikan-kebaikan selain kecerdasan.


Darto Singo melalui cerita berjudul Mengejar Bintang sudah punya patokan-patokan agar para pembaca lekas menerima pengajaran-pengajaran, sejak halaman pertama. Kita kadang meledek bahwa penulis cerita anak telah “memperalat” cerita untuk mengumbar pengajaran, yang risikonya cerita menjadi hambar. Cerita yang semestinya dinikmati dengan beragam sikap justru dijadikan “pengganti” atau “sekutu” dari buku-buku pelajaran dan kumpulan nasihat orangtua. Maka, anak-anak Indonesia yang menbaca cerita jarang yang mahir merenung dan berani kritis. Para pembaca telanjur dianggap penerima pengajaran-pengajaran tanpa perlu membantah. Artinya, anak yang mau membaca cerita diharapkan mewujudkan kebaikan-kebaikan.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, January 1, 2026

Esai Uwais Qorni | Solilokui dan Ruang Nyaman Penulis

Esai Uwais Qorni




Saya sering overthinking sama bahan tulisan. Coret-coretannya ada. Penataan bahasannya juga ada. Tapi yang menyebabkan saya kepikiran adalah rasa tidak puas terhadap tulisan sendiri dan keinginan mempunyai tulisan yang sempurna. Baru nulis satu paragraf malah diedit. Begitu selesai diedit tapi editannya masih jelek malah saya hapus semuanya itu. Bagi saya ini merupakan kebiasaan buruk yang gak buruk-buruk amat. Tidak buruknya adalah fokus tulisan saya tertata. Namun sisi buruknya adalah tekanan mental.

Saya baca kembali draf dari tulisan ini beneran amburadul. Antarparagraf gak nyambung. Semakin banyak paragrafnya malah ngelantur. Sebagai penulisnya sendiri, saya gregetan dan gigit bibir sebab ketidakjelasan yang saya tuliskan itu benar-benar membuat pembacanya tidak nyaman. Jauh lebih tidak nyaman dibandingkan saat sedang menuliskannya.

Saya mau mengatur ketidaknyamanan ini dan merangkai beberapa ilmu kepenulisan tersebut biar nyaman dan tidak nyamannya itu imbang. Soalnya saya menulis draf itu dengan cara ilmu anggaplah dari Si Polan yang mengatakan biar nyaman kepenulisannya dan tidak tersendat-sendat di tengah jalan maka nulis aja dulu senyaman mungkin meskipun tanpa aturan, meskipun jelek banget. Masalahnya adalah kalau menulisnya seperti itu sebaiknya buat diary saja, dan bukan untuk dipublikasikan. Jika tulisan hanya dipahami seorang maka buat apa disebarluaskan?

Sebab ini muncullah ide untuk mempertemukan dan memadukan antara “nulis nyaman tapi jelek banget” dengan “nulis bagus tapi kena mental”. Yaitu saya sekarang nyoret-nyoretnya singkat-singkat saja. Jelek banget gak masalah. Soalnya habis itu saya edit menjadi satu paragraf yang sempurna. Dieditnya itu per paragraf, bukan per satu tulisan tuntas. Jadi dibaca tiap paragrafnya itu saling bersambung. Urusan tak nyaman batin sudah tidak terlalu lagi soalnya dilampiaskan pada kertas yang diisi coretan tangan yang jelek itu.

Sehabis itu masih ada lagi overthinking-nya saya terhadap kepenulisan, yaitu masalah mood atau perasaan. Dipikir-pikir penulis gak bakal nulis kalau niatnya saja belum ada atau dia sedang gak ada ketertarikan untuk menulis, atau malas nulis. Ibaratnya, kegiatan menulis itu seperti ngobrol sama teman. Kalau temannya gak asik, ngobrolnya gak asik. Nah, kalau mood-nya gak mendukung, tergerak menulisnya pun mustahil muncul. Jadi perlu tahu perasaan diri sendiri apakah sudah nyaman untuk menulis atau belum. Dan itu tidak perlu dipaksakan. Menulis tidak perlu dipaksakan. Sama seperti orang yang sedih tidak perlu dipaksa untuk bercerita.

Seharusnya ini berlaku pada ketentuan jumlah paragraf. Misalnya tulisan tuntas di paragraf ke-5, maka harusnya itu sudah cukup. Yang saya jelaskan di paragraf sebelumnya yaitu gak usah dipaksa orang sedih dipaksa bercerita. Sesenggukan jadinya. Tapi bagaimana lagi. Standar media biasanya menuntut kurang lebihnya 15 paragraf. Seperti itu yang disampaikan Kang Encep Abdullah. Alhasil esai ini yang jumlah awalnya cuman 7 paragraf saya paksakan untuk berjumlah sekitar 15 paragraf. Semoga saja dimasukkan ke NGEWIYAK.

Sekalian saya menceritakan singkat apa-apa yang berada di draf ini sebelum saya merevisinya seperti sekarang, kenapa draf itu singkat, dan apa yang mendorong saya untuk cepat-cepat mencatatnya? Sebenarnya bahasannya cuma tiga, yaitu yang pertama seperti yang saya tuliskan tadi. Yang pertama adalah menulis senyaman mungkin tapi jelek atau menulis sebagus mungkin tapi tak nyaman. Yang kedua adalah fokus merupakan pecut yang menyetir tulisan kita sampai ke finish. Yang terakhir adalah berimajinasi. Bertahap dan santai saja saya akan bahas satu-satu.

Lanjut bahasan kedua yaitu tentang fokus. Bisa dibilang ini adalah perdananya saya latihan fokus. Saya orangnya suka memikirkan bagaimana hasilnya tulisan padahal nulisnya saja masih kaku. Belum juga memulai menulis tapi pikirannya sudah ke mana-mana. Akhirnya bukan enak menulisnya melainkan merasa bersalah jika menyaksikan hasil tulisan yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Menuntaskan tulisan mentah merupakan seni yang perlu saya latih. Saat menulis memang penulisnya itu banyak pikiran. Yang dituangkan ke dalam tulisan adalah ide, gagasan, bahkan sesekali perasaan. Menulis itu bukan sekadar naruh garis atau bulat-bulatan di kertas. Menulis adalah buah dari pemikiran dan perasaan. Maka tidak salah jika menjadi satu kenyamanan saat overthinking yaitu membuang semua unek-unek di kepala ke dalam kertas, meskipun isinya itu sampah atau bahkan makian. Alasannya sesimpel pengibaratan sedang mules dan mustahil kita menunda-nunda untuk buang taek. Otak juga kadang sakit perut, dan di antara bentuk penyembuhan adalah dengan menulis seenaknya.

Syukur saya bertambah saat pengetahuan menulis dan pelajaran lain menjadi algoritma tontonan saya. Saya catat semua itu dan saya terapkan di dalam kepenulisan ini. Sia-sia jika saya dapat ilmu gratis tapi saya membiarkannya hilang diterjang kelupaan. Alhamdulillah yang awalnya saya kurang fokus menulis jadinya fokus menulis lagi. Fokus nulisnya nyicil-nyicil tak masalah. Asalkan niat untuk diselesaikan. Sudah berapa hari sejak draf mentah saya share di grup tapi belum juga tuntas di hari ini? Itu bukanlah kesalahan. Ibaratnya berhutang, saat pegang uang tidaklah diharuskan bayar sekarang. Dicicil-cicil juga tak ada urusan. Asalkan mau bayar.

Enak rasanya mencuri ilmu lewat buku, lewat YouTube, lewat koran-koran atau pemberitaan di sosial media. Jangan hanya dibaca, eloknya digunakan di dalam dunia nyata. Apa yang saya dapatkan kemarin itu saya simpan di dalam coretan singkat. Kemudian jadi draf panjang. Lepas itu pengamalan pelan-pelan yaitu dengan cara menargetkan “tak nyaman batin tak apa-apa asalkan tulisannya diedit per paragraf pakai gaya penyampaian yang baru” dan gak banyak-banyak drama kepenulisan lagi. Kalau gak nyaman menulis, berhenti. Kalau nyaman menulis, mulai lagi. Maka fokus menulis saya di sini sudah mulai membaik dibandingkan bertahun-tahun yang lalu.

Tapi ada yang belum saya fokuskan betul-betul. Sebagian cita-cita gampang direalisasikan dan cepat waktunya. Yang lain gak datang dengan instan. Pantas jika ada perencanaan jangka pendek dan perencanaan jangka panjang. Sekarang alhamdulillah fokus saya tumbuh itu di perencanaan jangka pendeknya. Yaitu nyaman menulis seperti ini merupakan tujuan jangka pendek saya. Dan untuk saya pribadi hal semacam ini dapat dijadikan kebanggaan tersendiri. Lebih daripada cukupnya adalah saya menulis biar gak stres. Kemudian yang perlu saya bikin strateginya yaitu perencanaan jangka panjang kepenulisan saya ini demi apa, genre tulisannya dominan ke apa, dan kepada siapa?

Bukan artinya saya merasa lebih pintar dari siapapun, tapi untuk mencari teman diskusi masalah buku di kampung halaman saya itu susah betul. Jalan desa penanganannya lambat. Untuk mendapatkan uang lebih harus ke luar kota dulu, atau setidaknya kerjanya di luar desa. Dibilang pelosok memang betul. Tapi gak terlalu desa juga sebab masih dijumpai wifi di sana. Ini hanya pemikiran saya, bahwa gak ada protes di satu kawasan terhadap kebobrokan sistem perdanya itu tanda bobroknya pengetahuan. Kalau memang pintar berani ngomong. Kritik dan bukan diam saja. Diam saja sangat dimungkinkan disibukkan dengan pekerjaannya atau disebabkan menerima saja sama kenyataan pahit itu.

Dulu sekali fokus saya menulis puisi yang isinya kritik dan kekecewaan saya sama kebodohan terstruktur ini. Saya menulisnya pakai bahasa kiasan yang tidak mudah dipahami orang awam. Saya perhitungkan lagi langkah saya tersebut, sudah tepat atau salahkah yang saya perbuat itu? Apa itu akan menyinggung orang-orang dan membuatnya membenci saya atau malah bisa menggiring orang-orang yang dulunya gak tertarik sama perbukuan sekarang jadi suka sama buku? Dipikir-pikir mendalam memang paling berpengaruh itu langsung tindakan bukan sekadar bacotan lewat tulisan.

Coba pikir, apa pengaruhnya buku yang gak dibaca? Apa pengaruhnya nasihat yang gak dipahami? Itu semua omong kosong. Dengan begitu tergerak keinginan untuk menyederhanakan bahasa. Saya ingin menyampaikan kepada pembaca sekalian lewat esai yang semoga saja mudah dipahami. Tidak berbelit-belit lagi oleh majas yang gak jelas maknanya apa. Tapi, apa saya benar-benar ingin fokus menjadi penulis buku yang isinya sekumpulan esai daging? Ah, saya dibuat overthinking sebab ini.

Artinya saya perlu berbenah. Saya harus mencari tahu fokus kepenulisan saya genre apa. Jalan tengahnya bagaimana kalau seperti ini. Jika saya ingin menulis satu esai, maka selesaikan esai itu. Jika saya ingin menulis satu puisi, maka selesaikan puisi itu. Hidup jangan dibikin ruwet, apalagi cuma masalah kepenulisan. Jadi WNI saja ruwetnya bukan main. Kalau sebatas nulis, dibikin santai aja.

Bahasan ketiga dan ini yang terakhir yaitu berimajinasilah saat menulis. Jangan takut berkhayal saat sedang nulis. Ngomong sendiri juga gak apa-apa. Itu jadi nilai plus buat kepenulisanmu.

Dulu saya malu nengok catatan saya di kertas. Tulisan tangan saya buruk. Gak bisa dibaca siapapun. Bahkan saya sendiri sering lupa atas apa yang saya tuliskan itu. Jadinya saya nulis catatan itu sebagai pemicu untuk menulis draf di HP. 

Waktu itu kegagalan menulis saya banyak disebabkan oleh alasan “gak bagus tulisan tangannya sama dengan gak bagus isi tulisannya”. Tiap kali nulis dihambat oleh perasaan kecewa sama tulisan tangan sendiri. Kok jelek gitu, pikir saya. Akhirnya baru juga mulai langsung terhenti oleh perasaan malu. Untuk sekarang alhamdulillah tidak lagi. Dengan berimajinasi, saya gampang nulisnya. Sejelek apa pun tulisan tangan saya, saya coba untuk ngebayangin dokter lagi nulis resep obat di kertas. Tulisannya jelek. Tulisannya dokter memang jelek. Dan siapa yang gak tahu itu?

Dengan berimajinasi, saya gampang nulis drafnya. Saya bayangin perbincangan di hati itu berpindah derojatan dari yang awalnya tidak ada menjadi ada. Seperti berbicara dengan diri sendiri, menulis seharusnya senyaman itu. Saya tidak perlu memusingkan apa pun. Saya ingin bercerita lewat menulis, dan tak ada yang mengganggu waktu menulis saya kecuali pikiran sendiri. Jika saya mampu berpikiran buruk yang menyebabkan saya gak bisa nulis nyaman, lantas kenapa saya gak mampu berpikiran baik sehingga nulisnya saya bisa nyaman? Gitu.

_________

Penulis, 


Uwais Qorni, penulis yang gemar menulis puisi dan alumnus Klinik Menulis #5.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Saturday, December 27, 2025

Resensi Kabut | Tanpa Tokoh Anak

Oleh Kabut 



Judul buku yang mengingatkan bacaan dari masa lalu. Apa yang diimajinasikan anak bila membaca buku berjudul Nun Jauh Di Sana? Judul yang masih terpengaruh bahasa dan sastra Melayu. Kata-kata yang tidak hanya terdapat dalam sastra. Biasanya kata-kata itu digunakan dalam lagu. Di hadapan anak, judul buku itu mungkin sudah “menganggu” untuk kemauan mendapat cerita yang mengesankan.

Cerita digubah Arti D Wijaya. Buku kecil dan tipis diterbitkan Gaya Favorit Press, 1979. Apakah buku itu masih ada yang mengenangnya pada masa sekarang. Di arus kesusastraan anak, nama pengarang itu kurang mendapat perhatian dan tepuk tangan. Ia mungkin rajin menggubah cerita. Namun, para penikmat sastra anak kurang terpikat atau tidak ada kemauan memoncerkannya.

Padahal, buku itu mendapat stempel “Seri Anak Dunia”. Diksi yang digunakan “dunia”, bukan “nasional”. Apa yang dimaksud penerbit dengan pembuatan stempel? 

Kita tidak mengenal pengarangnya, tidak ada data diri dimuat dalam buku. Kita mendingan mengutip keterangan panjang dari penerbit: “Seri penerbitan ini akan memperkenalkan sastra anak-anak dunia (termasuk Indonesia) kepada anak-anak/remaja pembacanya dan memberikan kepada mereka citra buku sebagai sarana memperoleh kebahagiaan masa anak-anak/remaja.” Bacalah bahwa Indonesia ditulis dalam kurung, diinginkan pantas setara sastra anak di dunia. 

Kita mengutip paragraf kedua: “Seri ini akan terdiri dari karya asli Indonesia maupun terjemahan dengan pilihan yang memungkinkan anak-anak/remaja memperoleh dasar apresiasi yang baik terhadap kesusastraan dunia secara keseluruhan dan orientasi yang luas terhadap ragam kehidupan.” Orangtua atau anak/remaja yang mau membaca buku sudah dipusingkan oleh satu paragraf yang sangat serius. Yang diinginkan adalah “memperoleh dasar apresiasi.” Kita ingat, apresiasi sering terpilih ketimbang orang membaca istilah kritik, ulasan, atau pertimbangan. Namun, apresiasi akhirnya klise. 

Penerbit yang punya misi besar dan mulia. Beberapa buku diterbitkan berstempel Seri Anak Dunia. Pada masa lalu, apakah buku-buku itu mendapat banyak pembaca dan berdampak besar? Kita ingin bukti tapi esai-esai atau makalah dalam seminar mengenai sastra anak masa 1970-an sangat jarang bermunculan. 

Kita membuka lembaran-lembaran buku. Sejak awal, tokoh-tokoh yang dikenalkan berusia dewasa. Mengapa bukan tokoh berusia anak? Tokoh utamanya Hadi, sudah lulus dari SPG. Jadi usianya dewasa, melewati masa remaja. Tokoh-tokoh yang lain pun dewasa: bapak, ibu, teman, paman, bibi, dan lain-lain. Apa yang membuat penerbit menetapkan itu buku cerita untuk anak dan remaja? Kita sedang dapat saran yang penting dari penerbit bahwa cerita anak tidak mutlak tokoh utamanya adalah anak.

Hadi mengalami hari-hari yang bimbang. Ia bercita-cita menjadi guru. Bapak dan ibu berbeda pendapat. Ibunya ingin Hadi menjadi carik di desa. Sejak halaman pertama, para pembaca yang masih anak dan remaja memasuki masalah-masalah kaum dewasa mengenai pekerjaan, keluarga, desa, dan lain-lain. Apakah anak dan remaja tertarik melanjutkan membaca cerita setelah 12 halaman? 

Cerita yang kurang “tepat” dengan dunia (imajinasi) anak-anak. Hadi meminta pertimbangan mengenai keputusannya ingin mengabdi menjadi guru di desa terpencil, yang berada di Pacitan. Ada yang membuatnya ragu. Namun, ada yang menasihati bahwa keputusannya itu mulia. Halaman-halaman yang berisi pertemuan dan percakapan mengenai pekerjaan menjadi guru. Yang ikut diobrolkan adalah geografi, kesepian, hiburan, dan lain-lain. Buku yang sebenarnya bisa dianggap sebagai bacaan dewasa. 

Nasihat yang diberikan memberi penguatan atas keputusan mau ditempatkan di desa terpencil: “Ingat, di luar pulau Jawa, masih banyak sekali tempat-tempat bertugas yang sangat jauh letaknya dari kota. Misalnya di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Bukannya hanya berhari-hari, melainkan berminggu-minggu orang harus bepergian dari suatu kota untuk mencapai tempat-tempat yang terpencil di pedalaman. Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang mau bekerja di sana atas dasar rasa pengabdian terhadap tugasnya. Karena itu Hadi mantapkanlah hatimu untuk menerima pengangkatan sebagai guru di desa Watusari.” 

Anak-anak yang membacanya ikut membayangkan sosok Hadi. Pembayangan selanjutnya adalah desa yang terpencil. Apakah itu membuat anak-anak ikut tergoda bercita-cita menjadi guru? Pada masa Orde Baru, Indonesia membutuhkan banyak guru. Yang rumit adalah tidak meratanya guru di pelbagai pulau. Orang-orang yang mau menjadi guru selalu dianjurkan untuk pengabdian, tidak usah berpikir kaya.

Latar cerita adalah Ponorogo, Madiun, dan Pacitan. Yang membaca cerita gubahan arti agak mengerti tempat-tempat di Jawa. Di situ, masih ada desa terpencil. Guru-guru tetap diperlukan untuk mewujudkan misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan sedang dijadikan tema besar dalam rezim Soeharto. Guru-guru yang mau mengajar di tempat terpencil adalah “pelita”. Pekerjaan yang berat yang selalu diatasnamakan demi kepentingan negara dan masa depan anak-anak yang kelak dapat mengubah nasib desanya.

Hadi ikhlas dan bersemangat menjadi guru. Akhirnya, ia tiba di Watusari. Ia bangga menjadi guru meski tidak dijanjikan kaya. Yang diceritakan Arti: “Pak Kepala Sekolah berbicara di depan anak-anak, untuk memperkenalkan mereka kepada Pak Guru Hadi. Dikatakan bahwa Pak Hadi akan mengajar di kelas 4. Diserukannya agar murid-murid lebih giat dan lebih tekun belajar. Hari Hadi berdebar-debar. Ya, hari ini ia benar-benar sudah harus memulai tugasnya sebagai guru. Kini, murid-muridnya sudah ada di depannya. Ikut mendidik mereka itulah kini tanggung jawab yang terletak di atas pundaknya. Menjadi kewajibannyalah untuk ikut serta mempersiapkan hari depan mereka. Mulai sekarang, ia dipanggil Pak Guru.” 

Pada halaman-halaman menjelang terakhir, tokoh-tokoh yang bersuara dalam cerita tetap kaum dewasa. Penyebutan murid-murid SD atau anak-anak hanya menjadi pelengkap. Pengarang tidak ada kepentingan menampilkan tokoh anak, yang ikut mempengaruhi biografi dan pekerjaan Hadi. Pembaca mulai berani membuat pernyataan buku itu kurang cocok dijadikan bacaan untuk anak. Bagaimana dengan stempel yang dibuat penerbit bahwa buku itu memenuhi kriteria “Seri Anak Dunia” bila ceritanya kurang bermutu? 

Di akhir cerita, Hadi meraih keberhasilan-keberhasilan. Yang rampung membaca buku berpikiran bahwa buku itu “propaganda” agar anak-anak dan kaum remaja bercita-cita menjadi guru, pekerjaan yang mulia dalam memajukan Indonesia. Buku cerita yang lumrah sulit bersaing dengan cerita anak terjemahan dari pelbagai negara yang telanjur diakui sebagai sastra anak dunia.


________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Saturday, December 20, 2025

Resensi Kabut | Lupus dan Masa Lalu

Oleh Kabut



Orang-orang yang hidup pada masa Orde Baru mendapat hiburan yang bermutu bila membaca majalah Hai. Majalah terbitan Gramedia itu memberi beragam hiburan. Para pembaca terhibur gara-gara musik, film, cerita, dan lain-lain. Maka, ingatan penting hiburan tercipta dalam majalah Hai adalah cerita yang bertokoh Lupus. Cerita itu ditulis oleh Hilman. 


Yang membuat orang gandrung dan fanatik Hai mungkin pemuatan Lupus. Di situ, para pembaca boleh tertawa sambil terbahak-bahak atau berguling-guling. Pembaca yang ganas mungkin maki-makin mendapatkan lucu yang kurang ajar. Kaum remaja atau muda masa lalu menjadi jamaah Lupus. Jamaah yang ramai cerita. Di hadapan cerita, mereka memiliki dunia. Hidup mereka tidak sepi dan menjenuhkan. Artinya, Lupus adalah berkah untuk Indonesia. Yang membaca terhindar dari frustrasi memikirkan Indonesia yang dikuasai oleh Soeharto.


Apakah cerita dapat mengubah nasib? Cerita melindungi pembaca dari keburukan-keburukan politik? Kita mungkin berlebihan menganggap Lupus terlalu penting untuk Indonesia. Ingatlah, cerita itu memang digemari ribuan orang tapi tidak boleh mengalahkan GBHN dan teks-teks pidato Soeharto. Kita berharap ada yang membahas Lupus dan Orde Baru. Maksudnya, kita ingin mengenang masa lalu dengan ceria, bukan kecewa dan menyesal. 


Lupus masih terkenang sampai sekarang. Kolektor buku-buku Lupus masih bisa dijumpai di seantero Indonesia. Dulu, yang membaca masih remaja. Kini, mereka sudah tua. Yang pasti, mereka tetap memiliki Indonesia gara-gara Lupus. 


Apakah Lupus cuma untuk kaum remaja? Berbahagialah anak-anak yang ikut terhibur oleh Lupus. Pada masa Orde Baru, masa yang penuh kebusukan, anak-anak diajak menikmati cerita Lupus saat masih kecil. Maka, terbitlah buku-buku Lupus kecil walau tak setenar Lupus yang mula-mula bertumbuh dalam majalah Hai.


Bagaimana dampak Lupus bagi anak-anak yang sedang mendapat doktrin-doktrin rezim Orde Baru? Mereka kadang nakal, guyonan, ngawur, bijak, dan konyol. Anggap saja Lupus pernah menjadi panutan anak-anak yang tidak mau bercita-cita menjadi presiden, menteri, gubernur, dan bupati. Anak-anak yang ingin gembira saja tanpa harus pamer impian terbesar Indonesia. Mereka tidak butuh gelar, piagam penghargaan, atau kelak menghuni taman makam pahlawan. Lupus yang membuat mereka masih betah hidup saat Indonesia penuh dusta dan berantakan.


Sekarang, yang masih bisa terbaca adalah buku berjudul Lupus Kecil: Khitanan Masal garapan Hilman dan Boim. Buku kecil diterbitkan oleh Gramedia, 1992. Gambar di sampul sudah lucu. Bocah yang mengenakan sarung. Di tangannya, ada sapu. Ia tampak berjalan tidak normal. Para pembaca paham bocah itu sedang dalam proses penyembuhan gara-gara khitan. Konon, khitan menandakan ia berani dan beranjak menjadi remaja. Judul buku pun mengingatkan lantunan Iwan Fals: “sunatan masal”. Hiburan yang mujarab. Satu buku berisi sepuluh cerita. Lupus yang membuat tertawa menunda kiamat.


Cerita untuk anak tapi mengandung kritik kepada para ibu. Dua pengarang memang mbeling. Kita menyimak pantun yang diucapkan saat ibu-ibu berkumpul dan merayakan gosip: Kalau ibu pergi ke Pasar Minggu/ jangan lupa kirimi saya pepaya/ Ibu-ibu tak usah ragu/ kalau saya ini manis bila bergaya. Ada ibu yang membalas: Jalan-jalan ke Kebun Raya/ Beli karcis satu buat berdua/ Saya ini tak perlu bergaya/ sudah banyak orang yang suka. Pantun itu jenaka. Padahal, yang diceritakan adalah para ibu, yang mengaku memberi pengasuhan terbaik kepada anak-anak. Ibu-ibu yang ingin gembira, tidak mau kalah dengan anak-anak. Yang lucu tidak hanya Lupus. Kaum ibu pun lucu.


Ibu-ibu tidak hanya tertawa. Mereka baik dan bijak. Perkumpulan itu ingin mewujudkan rencana indah: “Mereka merencanakan akan mengadakan sunatan masal. Rencana para ibu, semua anak kompleks dan kampung sekitar kompleks, khususnya tak mampu dan belum disunat, harus ikut. Bagi anak-anak yang sudah sunat, tapi hasil sunatannya kurang artistik, alias lewat dukun yang kurang ahli, boleh ikut lagi.” Kita membayangkan para pembaca tertawa selama sepuluh menit. Selanjutnya, minta segelas air agar tidak batuk-batuk. 


Gagasan dan perbuatan yang baik diganggu oleh Lupus. Ia berusaha merusak bakti sosial. Apakah ia memiliki alasan yang kuat berkaitan sunatan masal. Dua pengarang yang sengaja mengajak para pembaca main-main dalam mengartikan ibu, anak, dan bapak. Para pembaca diajak memahami anak yang bengal. Situasi masyarakat pun dipaparkan. Artinya, buku yang seru dan lucu dapat menjadi rujukan bagi anak-anak mengerti individu, keluarga, dan masyarakat. Namun, anak-anak pada masa Orde Baru mendapatkan semua itu melalui buku pelajaran dan Penataran P-4.


Acara yang baik terselenggara: “Dan kira-kira jam sepuluh lewat banyak, acara sunatan masal itu selesai. Ngerinya cuma sebentar. Anak-anak yang telah disunat nggak ada lagi yang sedih, termasuk Lupus. Semuanya ceria. Paling tidak, saat itu mereka masih ceria. Mereka duduk berbaris, seraya memeluk bingkisan masing-masing. Kemudian difoto bersama. Kalau Lupus sibuk memegangi sarungnya tinggi-tinggi agar tak jatuh ke bekas sunatnya.”


Kita mengutip sedikit saja dari buku yang ditulis Hilman dan Boim. Ingatan kita tentang buku (anak) dan Orde Baru memang sering bias. Dulu, pemerintah gencar mengadakan bacaan anak melalui Inpres. Namun, buku-buku yang mereka adakan sering tidak bermutu. Yang membaca cerita-cerita Lupus menemukan dunia yang menyenangkan sambil belajar pelbagai hal. Yang membuat kita bingung, buku-buku Lupus sangat sulit selaras dengan pamrih-pamrih pemerintah. Maka, beruntunglah orang-orang yang pernah membaca Lupus. Mereka tidak terlalu mendapat dikte pemerintah, masih mungkin membuat perlawanan dan pembebasan dengan tawa.


________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com