Oleh Kabut
Kenangan kita banyak yang bersumber masa sekolah atau masa di SD? Pada saat masih kecil dan bertumbuh remaja, biografi kita sangat ditentukan oleh sekolah. Ribuan hari digunakan untuk belajar di sekolah. Kita sebenarnya lelah tapi bingung dalam membuat perlawanan. Pemerintah berpikiran sekolah membuat kita pintar, yang nantinya bisa berguna untuk Indonesia. Keluarga pun berharapan yang sekolah kelak mampu mendapat pekerjaan yang gajinya besar ditambah kehormatan.
Sejak dulu, belajar di sekolah itu sangat penting dan wajib. Anak-anak yang tidak berada di sekolah dianggap masalah negara dan keluarga. Masyarakat prihatin bila mengetahui ada anak-anak atau para remaja yang tidak mengenakan seragam untuk belajar di sekolah. Hidup yang terkutuk dengan belajar dan mengesahkan kuasa sekolah selama bertahun-tahun.
Adakah kegembiraan atau kebahagiaan selama di sekolah? Kita pernah mengalami, juru pernah gembira tapi tidak melupakan segala penderitaan. Gembira itu bergaul dan bermain bareng teman-teman. Apada yang membuat kita menderita? Masuk pagi itu derita yang berulang. Mata masih mengantuk dan tubuh yang malas dipaksa harus berada di sekolah setelah matahari terbit. Derita yang lain adalah berada di depan tulis. Murid yang diharuskan menjawab walau tidak tahu apa-apa. Nilai ulangan yang jelek menimbulkan malu. Kenyataan tidak naik kelas adalah derita yang terbesar. Artinya, sekolah menjadi tempat penuh penderitaan. Apakah kita ingin menyangkalnya setelah berumur tua?
Kita tidak boleh melupakan adanya beberapa kebahagiaan. Ada yang teringat. Ada yang terlupa. Sekolah memberi kebahagiaan, yang membuat belajar tidak melulu pusing dan beban berat. Apa-apa yang membuat bahagia? Kita bisa membuat daftar pendek atau panjang. Bagaimana caranya memastikan bahwa sekolah boleh tetap ada asal banyak membahagiakan?
Bantuan untuk membuka ingatan berupa buku cerita anak yang berjudul Dunia Penuh Tawa yang ditulis Soekanto SA. Judulnya bagus tapi gambar di kulit muka (depan) jelek. Pihak penerbit membuat kesalahan besar! Sampul depan justru menimbulkan kesan jelek. Pilihan gambar dan pewarnaan yang membuat anak-anak berhak melewatkannya atau tidak membacanya. Mengapa buku bermuka buruk itu lolos dalam proyek Inpres, yang akibatnya dicetak ribuan dan disimpan di banyak perpustakaan di seantero Indonesia?
Semula, orang mengimajinasikan tawa bersumber judul. Akhirnya, sedih melihat gambar empat murid yang disajikan secara sembarangan. Siapa yang membuat gambar. Yang pasti ia adalah perupa dan ilustrator terkenal: Sri Widodo. Apakah kesalahan juga dilakukan oleh penata letak?
Kita tinggalkan masalah gambar di sampul depan. Percayalah bahwa cerita yang ditulis Soekanto SA itu bermutu. Sejak masa 1950-an, ia sudah rajin menulis cerita-cerita sekaligus berperan dalam terbitan majalah. Pada masa Orde Baru, ia makin rajin menulis cerita, yang terbit di majalah-majalah. Pada misi yang besar, buku-bukunya terbit, yang turut meramaikan pesta buku anak di Indonesia menggunakan anggaran pemerintah.
Yang diceritakan adalah murid yang bernama Klino. Ia dikenal sebagai anak yang usil, nakal, lucu, dan lain-lain. Di sekolah, ia sering membuat ulang yang berakibat mendapat hukuman. Apakah anak itu kapok dan bertobat? Yang terjadi, setiap hari di sekolah, ia membuat keributan. Anak yang tidak masuk daftar pintar tapi tidak pantas dibilang bodoh. Yang jelas ia murid kelas lima, yang membuat kelasnya bergejolak. Kelas yang mencipta beragam kebahagiaan dan penderitaan. Pengarang tidak menyusun daftar. Namun, Soekanto SA mengundang pembaca memihak tawa setiap mengikuti ulah Klino dan teman-teman. Sekolah berarti tempat terbaik untuk tertawa.
Kita menyimak omongan guru kepada Klino setelah terjadi gegeran di kelas: “Jadi, engkau, Klino, mengaku? Engkau yang mengikatkan rambut kawan-kawanmu tadi? Lalu, mengapa? Coba katakana kepadaku, mengapa hal itu kau lakukan? Mengapa kau mengganggu anak-anak perempuan? Mengapa bukan kawanmu yang sebaya, kawanmu yang laki-laki? Mengapa bukan Suardi, kawanmu yang besar badannya itu? Kau takut? Tidakkah kau takut bahwa suatu waktu engkau akan dibalas orang lain yang tidak kausangka? Kau tahu Klino, kalau engkau baik, semua orang di dunia ini tentu baik kepadamu. Mengerti?” Klino berulang mendapat khotbah dan hukuman. Ia merasa menderita dan malu? Apakah ia justru bahagia dengan segala usilnya? Yang terpenting, teman-temannya tertawa bila ada dirinya yang suka membuat ulah-ulah mengejutkan. Jadi, pengarang salah membuat judul, semestinya “Sekolah Penuh Tawa”.
Di rumah, Klino tetap bikin masalah. Bapak dan ibunya menyadari bila Klino tidak suka belajar atau mengerjakan PR. Yang diinginkannya adalah bermain dan senang-senang. Bapak dan ibu khawatir nilai-nilainya di sekolah jelek. Bagaimana dapat naik kelas? Klino mengerti bapak dan ibunya berharap dirinya pintar. Padahal, ia sulit pintar tapi bukannya bodoh. Kita yang membaca boleh mengandaikan menjadi Klino. Belajar di sekolah dan rumah itu membosankan. Belajar yang mengganggu bermain dan kesenangan-kesenangan lain. Kita berharap tak usah ada kewajiban belajar di dunia.
Klino mendapat banyak kalimat bapak saat hari penerimaan rapor: “Kau tahu buktinya, bukan? Engkau terlalu memandang enteng pelajaran. Terlalu banyak mendahulukan tontonan dan bersenang-senang daripada pelajaran. Tidak menurut kata orang tua. Kau tahu betapa susah payah orang tuamu menyekolahkan engkau supaya kau kelak menjadi anak pandai. Anak yang berbahagia karena pada hari dewasanya telah mempunyai senjata untuk mempertahankan hidup. Kau belum mengerti betapa kecewaku, kecewa ibumu. Sudahlah…” Kita iba melihat nasib Klino, anak yang bermasalah di tatapan guru dan orang tua. Dulu, kita pun seperti Klino. Semua gara-gara kewajiban memahami banyak mata pelajaran, yang dinilai dan menentukan naik kelas. Apakah akhirnya Klino menyerah? Ia tetap saja merayakan hidup dengan segala ulah, yang membuat teman-temannya tertawa ketimbang sedih sampai kiamat atau menangis yang menghasilkan sungai dan laut.
Yang terjadi, Klino berhasil naik kelas enam. Ia bertambah usia. Apakah bertambah ilmu? Klino malah bertambah “akal” dan “khayal” agar teman-temannya tidak merasa mendapat siksaaan selama belajar di sekolah. Tugas mulia Klino adalah menghibur dengan beragam cara. Murid yang bukan pintar tapi memastikan sekolah tidak menjadi penjara atau kuburan.
Beruntunglah sekolah itu memiliki Klino. Sosok yang menentukan pasang-surut kebahagiaan di sekolah, terutama kelas 6. Pembaca mengakui bahwa Klino adalah manusia terpilih: “Sudah beberapa hari, suasana kelas agak lengang. Mengapa gerangan? Bangku kedua pada barisan di pinggir kiri kosong. Klino tidak tampak. Seolah-olah Klino adalah pusah kegembiaraan kelas, maka kini menjadi lengang.” Murid-murid tidak tahan dalam lengang. Maka, mereka menuju rumah sakit, menebus kangen dan ingin menghibur Klino. Peristiwa yang membuat pembaca ikut terharu.
Sekolah tanpa kehadiran Klino bisa bubar. Pembaca berani menganggap jika Soekanto menggubah cerita humor. Cerita yang menghibur anak-anak. Buku yang sangat cocok menjadi koleksi di perpustakaan untuk bergantian dibaca murid-murid. Bacalah novel itu ketimbang buku-buku pelajaran!
Bab terbaik dalam cerita adalah pidato Klino dalam acara perpisahan kelulusan. Klino yang tidak masuk golongan pintar berhasil lulus. Ia dipilih memberi pidato penting di hari-hari terakhir sebelum meninggalkan SD. Kita ikut mendengar dan menyaksikan: “Maka dari itu, dengan ini, atas nama kawan-kawan, kami mohon supaya bapak-bapak dan ibu-ibu guru dan terutama bapak kepala sekolah, sudilah melebur dosa kami. Mohon doa restu pula agar supaya kami tetap menjadi anak nakal. Oh, maaf, keliru, anak yang pandai dan bertanggung jawab serta selalu membayar uang sekolah tepat pada waktunya. Tidak pula menggunakan uang itu untuk pergi ke bioskop….”
Buku itu mencantumkan “tamat” di halaman 72. Kita membaca tanpa lama dan tak berhenti tertawa meski buku sudah ditutup. Soekanto SA berhasil membuat cerita anak yang penuh tawa. Cerita sering berlangsung di sekolah. Cerita yang mengurangi beban berat dan kutukan bagi kita yang mengenang pernah menjadi murid di SD. Buku boleh cetak ulang pada abad XXI saat lakon sekolah sudah sangat berubah.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com









