View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Thursday, June 11, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Bulan Bung Karno: Kenapa Pancasila Saat Ini Menjadi Isapan Jempol Belaka?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



Kita Tidak Kekurangan Penghafal Pancasila

 

Setiap bulan Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Bulan Bung Karno. Seminar kebangsaan digelar, diskusi tentang Pancasila diselenggarakan, kutipan-kutipan Bung Karno kembali memenuhi media sosial, dan berbagai pihak berlomba-lomba menunjukkan kecintaannya kepada Pancasila. Namun di tengah kemeriahan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan secara jujur: mengapa semakin sering Pancasila dibicarakan, semakin sulit pula menemukan wujudnya dalam kehidupan sehari-hari? Jangan-jangan masalah terbesar bangsa ini bukan karena rakyatnya tidak hafal Pancasila, tapi karena terlalu banyak orang yang hafal Pancasila dan merasa tidak perlu mengamalkannya.

 

Faktanya, hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal Pancasila. Anak-anak sekolah menghafalnya sejak usia dini. Mahasiswa mempelajarinya di bangku kuliah. Pegawai mengikuti berbagai pelatihan tentang nilai-nilai kebangsaan. Bahkan, banyak orang mampu menjelaskan makna setiap sila dengan cukup baik. Namun persoalannya bukan terletak pada pengetahuan. Persoalannya terletak pada perilaku. Sebab, sebuah bangsa tidak akan menjadi lebih baik hanya karena rakyatnya hafal nilai-nilai yang baik. Sebuah bangsa menjadi lebih baik ketika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita hidup di negara yang kaya akan teori tentang Pancasila, tetapi sering kali miskin dalam praktik Pancasila.

 

Pancasila Hebat di Pidato, Lemah di Perilaku

 

Jika kita mau jujur, banyak persoalan bangsa ini justru menunjukkan betapa lebarnya jarak antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi kebohongan, penipuan, dan korupsi masih menjadi masalah yang terus berulang. Sila kedua berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi penghinaan, perundungan, fitnah, dan ujaran kebencian semakin mudah ditemukan, terutama di media sosial. Sila ketiga berbicara tentang persatuan Indonesia, tetapi masyarakat semakin mudah terpecah hanya karena perbedaan pilihan politik, organisasi, atau kelompok tertentu. Sila keempat mengajarkan musyawarah dan kebijaksanaan, tetapi ruang publik sering kali berubah menjadi arena saling menyerang, di mana setiap orang merasa paling benar dan enggan mendengarkan pendapat orang lain. Sementara sila kelima berbicara tentang keadilan sosial, tetapi masih banyak orang yang lebih sibuk memperjuangkan kepentingan pribadi daripada memikirkan kepentingan bersama.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah bangsa ini bukan kekurangan teori, melainkan kekurangan keteladanan. Kita terlalu sering berbicara tentang nilai-nilai luhur, tetapi terlalu jarang menunjukkan nilai-nilai luhur itu dalam tindakan nyata. Akibatnya, Pancasila terdengar sangat indah ketika dibacakan dalam upacara, tetapi menghilang ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi, jabatan, kekuasaan, atau keuntungan sesaat.

 

Jangan Jadikan Pancasila sebagai Dekorasi Nasional

 

Salah satu kesalahan terbesar yang mungkin sedang terjadi adalah menjadikan Pancasila sekadar simbol. Pancasila cuma dipasang di dinding sekolah, kantor pemerintahan, ruang rapat, dan berbagai tempat lainnya. Pancasila dibacakan dalam upacara dan dijadikan materi ujian. Namun dalam banyak kasus, Pancasila berhenti sebagai tulisan yang menghiasi ruangan tanpa benar-benar menjadi pedoman hidup. Kita seolah-olah puas ketika melihat lambang Garuda terpajang di tembok, tetapi tidak terlalu peduli apakah nilai-nilai yang dibawanya benar-benar hidup di tengah masyarakat.

 

Padahal Bung Karno tidak merumuskan Pancasila untuk dijadikan pajangan. Pancasila lahir sebagai dasar bagi perilaku berbangsa dan bernegara. Pancasila dirancang untuk menjadi kompas moral yang membimbing arah perjalanan Indonesia. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita lebih sibuk menjaga simbol-simbolnya daripada menjaga nilai-nilainya. Kita lebih mudah marah ketika lambang negara dihina daripada marah ketika nilai-nilai Pancasila dilanggar dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pancasila Tidak Butuh Pembela, Pancasila Butuh Pelaksana

 

Sudah saatnya bangsa ini berhenti berpikir bahwa solusi dari setiap masalah kebangsaan adalah menambah seminar, sosialisasi, atau pelatihan tentang Pancasila. Bangsa ini tidak kekurangan seminar tentang Pancasila. Yang kurang adalah teladan tentang Pancasila. Anak-anak tidak belajar kejujuran dari poster yang ditempel di dinding sekolah. Mereka belajar kejujuran dari orangtua, guru, dan pemimpin yang jujur. Masyarakat tidak belajar keadilan dari slogan-slogan yang indah. Mereka belajar keadilan ketika melihat hukum ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu. Persatuan tidak lahir dari spanduk-spanduk bertuliskan "NKRI Harga Mati". Persatuan lahir ketika masyarakat mampu menghormati perbedaan dan tetap bekerja sama meskipun memiliki pandangan yang berbeda.

 

Oleh karena itu, solusi untuk menghidupkan kembali Pancasila sesungguhnya sangat sederhana meskipun tidak mudah. Mulailah dari diri sendiri. Jadikan kejujuran sebagai kebiasaan. Hargai orang lain meskipun berbeda pendapat. Utamakan musyawarah daripada permusuhan. Pedulilah terhadap lingkungan sekitar. Jangan menuntut orang lain menjalankan Pancasila jika kita sendiri belum berusaha menjalankannya. Pancasila tidak akan hidup karena diperdebatkan. Pancasila akan hidup ketika dipraktekkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jika Bung Karno Masih Hidup Hari Ini


Jika Bung Karno masih hidup dan melihat kondisi bangsa saat ini, mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak seminar Pancasila yang telah diselenggarakan. Mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak orang yang hafal lima sila. Mungkin pertanyaan yang beliau ajukan jauh lebih sederhana dan jauh lebih menohok: "Apakah Pancasila sudah hidup dalam perilaku rakyat Indonesia?"

 

Pertanyaan itu seharusnya membuat kita merenung. Sebab ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa sering diucapkan, tetapi seberapa nyata Pancasila terlihat dalam kehidupan masyarakat. Jika Pancasila hanya hidup dalam buku, pidato, dan upacara, tetapi mati dalam perilaku sehari-hari, maka yang sedang kita rayakan setiap Bulan Bung Karno bukanlah kejayaan Pancasila. Yang sedang kita rayakan adalah kebiasaan bangsa ini memuji sesuatu yang belum sungguh-sungguh dijalankannya. Dan itulah alasan mengapa sebagian orang mulai bertanya : apakah Pancasila masih menjadi pedoman hidup bangsa ini, atau perlahan-lahan telah berubah menjadi isapan jempol belaka?

 

______

 

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA. 

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Esai Uwais Korni | Dan Memberontaklah!

Esai Uwais Korni



Saya ingin menjalani kehidupan yang enak-enaknya saja. Saya saat mikir, mikirnya itu realistis. To the point saya ingin apa kemudian ambil jalan termudahnya. Risiko dan ketidaknyamanan pasti ada. Tapi, saya terus mengusahakan bagaimana sekiranya dampak yang bermanfaat lebih banyak dibandingkan resikonya itu. Saya pikir siapa pun itu enggan mengharapkan kehidupan yang dipenuhi kesusahan dalam segi apa pun. Mereka yang memilih jalan sengsara dengan sengaja adalah orang-orang gila. Hidup sederhana adalah pilihan. Sangat berseberangan dengan kehidupan yang hedon maupun yang superirit.

Jelas ini bukan maksud saya menjadi pemalas. Kemalasan saya itu terstruktur. Jika saya bergerak karena keterpaksaan, bagi saya lebih baik bermalas-malasan di depan HP atau baca buku daripada ngeladenin omongan orang-orang yang tak sejalan dengan tujuan saya. Mau dibilang saya antisosial, terserah penilainya. Mau dibilang sombong juga terserah penilainya. Pribadi saya datar.

Seperti pada umumnya, setiap orang akan merasa penilaiannya paling bijak sendiri di dalam menghendaki sesuatu dan mengatur-atur kehidupan orang lain. Itu sudah wajarnya menjadi manusia yang penuh ekspektasi atas jalan tempuh kehidupan orang lain dan mudah berprasangka buruk. Maklumi saja atas hal tersebut sebab manusia adalah makhluk yang egois dan penuh instrik.

Manusia tampak keegoisan dan kerakusannya saat ia punya kekuasaan, harta melimpah, ilmu banyak yang disalahgunakan, dan umur tua. Jika manusia nirempati memiliki satu saja dari keempat ini, maka kasihan orang-orang di sekitarnya itu. Soalnya manusia modelan kayak gini merasa dirinya selayaknya orang tua yang seenaknya menyetting kehidupan anak-anaknya, merasa dirinya selayaknya raja yang berhak memperbudak siapa-siapa, merasa dirinya selayaknya guru yang orang lain dipaksa untuk mengikutinya dan berada di belakang langkahnya itu.

Bertambah kesetanannya itu jika ia bodoh dan tidak merasa kalau dirinya bodoh. Dinasihati tak mau. Menasihati orang selalu. Matanya membelalak menusuk-nusuk hati. Kupingnya disumbat ego dengan sengaja. Berusaha menjadi baik tidak pernah dicoba. Ia menjelma wabah bagi siapa pun di sampingnya. Nalar sudah mati. Ilusi kebenaran mendominasi.

Saya pribadi sudah melepas diri dari segala bentuk keegoisan yang merugikan orang lain. Keegoisan saya yaitu saya cuman ingin menulis saja. Barangkali saya menutup diri merupakan bentuk keegoisan yang disengaja itu. Namun konsekuensi tetap saya pertimbangkan. Saya menerima segala bentuk penolakan.

Satu bentuk keegoisan saya yang lain adalah bisa-bisanya saya tidak patuh di lingkungan di mana kepatuhan adalah suatu hal yang dianggap sakral. Gelar "ustaz" saya, saya copot paksa meskipun tetap saja saya masih menggendong gelar "gus" itu. Ih, sungguh suatu hal yang diada-adakan. Kegiatan keagamaan yang jamaah, saya milih-milih. Jika saya ingin, saya lakukan. Jika orang lain yang ingin saya melakukannya, saya pertimbangkan dulu secara matang. Sering kali saya bersembunyi dari semua itu. Takut-takut saya disuruh jadi imam, misalnya, akhirnya saya telat dan memilih jadi makmum saja. Takut-takut saya disuruh mengajar lagi, misalnya, akhirnya saya jadi kekanak-kanakan karakteristiknya saja.

Keegoisan saya tidak bisa dinego. Saya mau apa, ya sudah biarin saja saya melakukannya dengan senang hati. Lagi pula apa sih yang saya impikan itu? Tak lain sebatas ingin meraih kedamaian hidup di dunia dan di akhirat. Dengan finansial yang matang, bertempat tinggal di remang-remang, tak mentereng dikecup tangan saya oleh penghormatan semu. Penghormatan yang bukan disebabkan ilmunya melainkan jelas disebabkan kasta yang mengakar di desa-desa.

Hal ini menjadi dasar saya saat menjadi egois yang produktif. Saat menulis saya menyaksikan kok aturan menulis banyak sekali. Hampir saya mematuhi semua aturan itu. Jika saya patuhi semua itu, hilanglah keegoisan saya. Ruh hidup saya adalah keegoisan. Jika saya tidak egois dan melempem ikut-ikut suruhannya penulis ini dan penulis itu. Maka, sungguh sulit sekali bagi saya untuk menggapai mimpi. Satu contoh jika putra sulung ibu hanya mengiyakan semua yang diinginkan ibu, kemudian apa yang dicita-citakannya tak pernah diusahakannya, maka penyesalan itu akan selalu menetap di dada. Saya dilarang sama ibu untuk menjadi penulis karena menjadi penulis tidak menguntungkan secara keuangan. Tapi, apakah saya berhenti menulis? Tidak. Saya akan "lawan!".

Dalam kepenulisan ini saya melawan bukan hanya kepada ibu. Bahkan kepada semua apa pun itu yang menyesakkan dada dalam konteks kepenulisan, saya akan "lawan!". Misalnya penulis harus memberikan "amanah" di dalam tulisan-tulisannya. Penulis harus mengikuti aturan ini-itu saat menulis. Penulis sebaiknya saat menulis perlu mempertimbangkan paragraf pertama sampai beberapa paragraf berikutnya itu urut. Pembuka dulu baru isi. Setelah isi adalah penutupnya. Dan, itu harus berurutan. Tidak. Saya akan "lawan!".

Artinya "lawan" ya tidak terpaku. Seperti di paragraf-paragraf awal. Saya pribadi yang datar. Suka-suka saya mau menulis apa. Suka-suka saya apakah tulisannya taik atau baik. Suka-suka saya kapan mulainya kapan berhentinya. Capek ya saya akan berhenti. Lagian sudah susah-susah mikir, kenapa dilanjut ke susah-susah nulis? Stoplah. Ubah ke mudah-mudah nulis. Dan memberontaklah!

______

Penulis

Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, June 7, 2026

Cerpen Sapta Arif | Bertamu ke Rumah Budi

Cerpen Sapta Arif

 


Rambut Imam Safitra masai, keringat basah di dahi dan pelipisnya. Berulang kali ia membasuh keringat dan melirik ke pintu rumah sahabatnya yang tak kunjung keluar. Apes benar nasibnya pagi ini, sedan Corolla tua tahun 90-an yang ia namai dengan Simbah mogok kehabisan bensin. Terpaksa ia memesan ojek online, meninggalkan mobil tua itu di sudut pintu gerbang kampus.

Pagi sebelum Imam Safitra sampai di rumah sahabatnya, ia berdiri seorang diri di depan gerbang kampus. Pandang matanya yang silau oleh pancaran matahari pagi melihat sekeliling. Berulangkali ia berpapasan dengan mahasiswa yang asik menikmati hari Minggu. Hampir Imam Safitra nekat meminjam uang pada salah mahasiswa. Namun urung, mengingat utangnya yang sudah menggunung. Dari balik warung bubur ayam seberang gerbang kampus, ojek pesanannya datang. Imam Safitra terkejut mendapati Agus, mahasiswa yang dekat dengannya, tersenyum dari balik helm INK berkaca pelangi.


“Silakan Pak Imam,” ucap Agus tersenyum.


Sependek ingatan Imam Safitra, ia masih punya utang pada Agus. Entah satu atau dua juta. Karena begitu banyak mahasiswa yang ia mintai utang, hingga Imam Safitra tidak ingat secara detail masing-masing nominalnya. Imam Safitra merasa sebal, sepanjang perjalanan ia didiamkan oleh mahasiswanya itu. Berbeda dengan pengojek online kebanyakan yang berbasa-basi dengan penumpangnya, Agus nampak dongkol juga karena utangnya tak kunjung dibayar.


Kini mereka teronggok di teras rumah Budi. Menunggu teman dosennya keluar seperti menunggu ajal. Imam Safitra tidak mungkin berkata pada mahasiswanya kalau ongkos ojek online akan ia bayar nanti. Kantong dompetnya kering, menyisakan tiga lembar lima ribuan. Imam Safitra meminta agar Agus mau menunggu karena akan memesannya lagi untuk mengantar balik ke kampus.


Sejak semalam, Imam Safitra resah oleh berbagai hal. Mobil Imam Safitra dipinjam Ustadz Wafa untuk mengantar istrinya periksa ke dokter kandungan. Imam Safitra masih berutang uang pada imam masjid di kompleks perumahannya itu. Jika bukan karena utang yang belum dibayar, tak mungkin Imam Safitra serahkan mobil tuanya.


Hujan deras tumpah merata ke sudut-sudut kota. Istri Imam Safitra mendadak diserang diare akibat makan mie gacoan level enam. Terlebih, cuaca dingin yang menusuk memperparah keadaan. Istrinya merengek minta diantar periksa ke dokter. Dengan wajah bodoh dan sudut mata kanan berkedut, Imam Safitra menjawab: Simbah sedang dipinjam Ustadz Wafa.


Tanpa menjawab, sambil memegang perut yang perih serasa dipelintir oleh makhluk tak kasat mata, istrinya meninggalkan Imam Safitra melongo di teras rumah. Ia memesan taksi online dan menolak diantar oleh suaminya. Hingga jam 10 malam, istrinya tak kunjung pulang. Setengah jam kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Sayup-sayup Imam Safitra mendengar istrinya mengucapkan terima kasih.


Imam Safitra paham betul suara lelaki yang mengantar istrinya itu. Ia bergeming pura-pura tidur di sofa ruang tamu. Ketika pintu ruang tamu dibuka karena sengaja tidak dikunci, istrinya berlalu begitu saja masuk ke kamar. Meninggalkan seonggok manusia tak berdaya yang tercerabut harga dirinya.


Imam Safitra satu dari sekian banyak kepala rumah tangga yang tergabung dalam komunitas ikatan suami takut istri. Gajinya sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta di kota P memang kalah dengan istrinya yang menjadi teller Bank BRI. Namun, sebenarnya itu tak jadi soal. Sebelum masalah pinjamanan online meledak di tahun pertama pernikahan mereka dan nyaris membuat istrinya menggugat cerai.


Imam Safitra gemar mengadu nasib ke arena judi online hingga menguras habis rekening istrinya sampai hampir 30 juta. Tidak sampai di situ, beberapa kali ia nekat meminjam uang di layanan pinjaman online. Tak mampu bayar hingga lewat tenggat dan menabung bunga hingga utangnya meledak sampai nominal 80 juta.


Waktu itu, istrinya ketus mengatai dirinya brengsek dan laki-laki mokondo! (Pembaca yang budiman, Mokondo singkatan dari, maaf, modal kontol doang!)


“Eh Kang, sudah dari tadi Kang?” tiba-tiba lelaki berkaos lusuh dan bercelana pendek keluar.


“Oh engga Bud, baru juga sepuluh menit,” Imam Safitra melirik wajah Agus yang masam.


“Ayo, masuk Kang. Saya buatkan kopi,”


“Ngga usah Bud, di sini saja. Sambil ngerokok.” ucap Imam Safitra lalu membakar rokok. Ia menoleh pada Agus yang masih nangkring di motor. “Duduklah dulu, Gus. Sambil merokok,”


Agus menyambut baik, ia turun dari motor, duduk, lalu mencomot sebatang rokok dari bungkusnya.


“Oalah, kamu tho Gus,” ucap Budi.
Agus balas tersenyum sambil mengangguk.


Tidak lama kemudian, Budi datang meletakkan nampan dengan tiga cangkir kopi panas. Disautnya bungkus rokok Imam Safitra. “Diminum kopinya. Lama sekali, kau tak pernah main ke sini lagi, Kang.” ucap Budi setelah mengembuskan asap rokok.


Imam Safitra menerawang ke langit pagi yang menyilaukan. Ia menyipitkan mata, meraba sesuatu yang berkarat di ingatannya. “Iya, lama sekali ya… Kamu terlalu sibuk juga, Bud. Kalau keluar kota, ajak-ajaklah sahabatmu ini. Jelek-jelek gini aku bisa nyupir, Bud,”


“Kau yang terlalu sibuk, Kang. Urusan kampus banyak kau pegang. Apa kau tak dengar, teman-teman dosen sampai kasih julukan Lord Luhut-nya kampus?” ucap Budi berseloroh.


Budi menyeruput kopinya, “lagi pula, apa mau Kang Imam nerima uang receh hasil ngamen dariku?” ucap Budi sambil terkekeh getir.


“Kalau recehnya dolar, siapa yang nolak, Bud. Iya kan Gus,” mereka tertawa.


Budi memang dikenal sering keluar kota. Selain menjadi dosen, ia juga kerap diundang menjadi pembicara di berbagai daerah. Belum lagi, Budi juga menjadi asesor akreditasi untuk berbagai program studi bahasa. Sesuai dengan fokus keilmuannya. Ngamen yang dimaksud Budi ya ini, mencari pendapatan di luar gaji sebagai dosen.


Lama mereka saling diam merenung dalam pikiran masing-masing. Si Agus tidak berharap banyak. Cukup biaya ojek online dibayar, baginya sudah cukup. Di pikirannya sudah hampir mustahil dosennya ini membayar utang yang sudah kelewat setahun. Sedangkan di pikiran Imam Safitra masih sama. Ia berupaya mencari topik dan momen yang tepat untuk meminjam uang lagi pada Budi. Meski Imam Safitra pun sadar, utangnya pada Budi beberapa waktu lalu belum lunas.


Beberapa kali Budi melirik pada Imam Safitra. Batinnya khawatir betul jika lelaki ini mau utang lagi.


“Begini Bud,” suara Imam Safitra melirih dan terdengar serak layaknya suara dari gua yang kering.


Budi menoleh. Agus pun demikian.


Tidak lama berselang, mobil Honda Jazz berwarna putih datang. Berhenti di halaman rumah Budi. Gegas ia berdiri dan berjalan tergesa. Dari dalam mobil, istri Budi keluar menenteng dua plastik besar belanjaan. Ia berlalu lewat pintu samping rumah, sambil melirik sinis pada tamu suaminya.


“Istri Pak Budi, agak galak Gus,” bisik Imam Safitra seolah ingin mencairkan suasana. Bukan menenangkan, batin Agus justru semakin pesimis ongkos ojeknya akan dibayar. Ia sudah curiga dari awal, kedatangan dosennya ini ingin pinjam uang.


Lumayan lama Budi di dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara benda dibanting keras. “Masa mau pinjam lagi?” ucapan itu jelas terdengar. Imam Safitra melirik pada Agus yang tertunduk pasrah. Agus paham, ini pertanda buruk baginya.


Budi muncul dengan wajah kusut saat Imam Safitra meloloskan batang rokok keduanya. Tetapi, Budi seperti berusaha tetap tersenyum ramah. “Gimana Kang, tadi?”


Jeda sejenak. Imam Safitra membakar rokok, lalu mengisap dalam-dalam. Asap dihempas dengan lenguhan halus, tapi terdengar berat. Imam Safitra menoleh pada Agus yang wajahnya terlihat jengah.


“Ngga jadi, Bud. Kayaknya, saya mau undur diri juga. Ayo, Gus dihabiskan dulu kopinya.”


Sepanjang perjalanan ke kampus, batin Agus merasa amat dongkol. Bukan karena perlakuan Budi, apalagi istrinya. Melainkan, seseorang yang duduk di boncengannya.


Sesampainya di depan gerbang kampus, mereka terdiam sejenak. Agak kikuk kali ini Agus akan menagih ongkos ojeknya. Wajah Imam Safitra terlihat lesu. Dengan suara lemah dan terdengar memelas, ia berkata: Gus, bolehlah pinjam seratus? Saya janji, akan kuganti minggu depan beserta sisa utangku. Oh ya, dan ongkos ojeknya juga.


Ponorogo, April 2025


______

 

Penulis

 

Sapta Arif, mengampu mata kuliah Apresiasi Prosa di STKIP PGRI Ponorogo. Peserta Residensi Literatutur Gresik yang diselenggarakan oleh Yayasan Gang Sebelah bekerja sama dengan Kemendikbud RI. Kenali lebih hangat melalui IG:@saptaarif.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Rully Ferdiansyah

Puisi Rully Ferdiansyah\




Kisah Ibukota


waktu saya lahir, pak presiden sedang berencana

memindahkan ibukota dan para investor mendadak kabur.


saat itu ibukota yang lama terancam tenggelam

dan sistem drainase air hujannya tidak sempurna.


“bahaya juga ini hujan,” pak presiden berkata, “sementara

duit negara kurang buat bangun yang baru, dari swasta juga nihil.”

pada situasi memalukan itu satu ide pun dieksekusi.

bantuan keuangan bos mafia berdatangan dari berbagai penjuru,

narasi “kemajuan” dan “tak membebani negara” bermunculan pula,

dan pak presiden melihat semua itu asyik adanya.


keluar dari situasi memalukan pak presiden memberi imbalan

dan kampung nelayan kami mendadak hilang.

daerah perairan tempat mencari ikan dipasang pagar bambu.

semuanya milik perusahaan.



Rajungan Kecil


saya dibesarkan oleh rajungan kecil yang bercak putih dan

kurus walau kadang menyebalkan

karena berbau amis. ia mengajari saya

menjadi penyabar sehingga saya tahu

bahwa sumber keberhasilan hidup adalah kerelaan;

bahwa bekerja mengupas rajungan berawal dari kecakapan;

bahwa semua itu dilakukan demi saya;

bahwa penghasilan ibuku dipakai untuk uang saku

di sekolah;

bahwa ibu saya tak pernah menikmati penghasilannya;

bahwa rajungan yang dikupas ibu saya

disukai konsumen di amerika serikat;

bahwa selain rajungan;

ibu saya juga punya banyak teman lainnya di

tempat kerja;

bahwa kakaknya yang baru bercerai, dengan status

single mother, ikut bekerja di tempat rajungan;

bahwa saya menyelesaikan seluruh pendidikan dasar,

dari uang rajungan;

bahwa sekarang tempat itu sudah tak ada lagi.


rajungan kecilku yang bertubuh ramping kini marah

membawaku ke sebuah peristiwa yang membuat

rajungan menghilang dari desaku.

keluarga kami diminta penyidik untuk melepas

tanah yang sudah puluhan tahun kami tempati,

di mana tanah kami dibilang bermasalah dan semua

warga mengalami hal yang sama,

ketika kami ngotot mempertahankan tanah, ibu saya

ditangkap lima puluh polisi pada malam hari.

desa sekonyong terisolasi.

segala penghidupan desa hancur dalam kuasa otoritas.

ketika akhirnya rahasia terkuak, ada perusahaan yang menginginkan

tanah kami yang

diberi kuasa negara

berwenang menguasai atas nama proyek nasional.



Salahkan Hujan


sudah jam delapan pagi

dan jalan menuju kebunnya masih berlumpur

ia bersiul melagukan lagu masa kecilnya

semata demi sepi tak cepat mati.


pagi adalah rutinitas kerja membawa bencana.

matahari telah diganti awan mendung.

penebangan meluas di puncak gunung.

hutan alam didesak tanaman sawit.

ia lihat pohon raksasa ditebangi di taman nasional.

ia mendesah menggelengkan kepala dari

gubuk peristirahatannya.

selamat pagi, para penghuni hutan. apakah di tengah

penggundulan ini

kalian masih punya rumah?


raungan harimau dari kejauhan menjawab,

malah berkata:

penggundulan merusak tatanan

dan kalian akan kehilangan juga.

kamu dan bapak menteri di ibukota

sama-sama tanggungjawab.


untuk penggundulan yang merusak, ia ikhlas

menjadi korban perizinan; ia ikhlas melupakan kerugiannya.

malam merayap, longsor dan banjir akhirnya tiba.

di pelataran rumah ia lihat keluarganya tertimbun lumpur.



Kerbau Joni


ada banyak joni di provinsi tak berhukum ini

dan salah seorang joni menghadiahi saya seekor kerbau

yang joni temukan di pinggir sungai.


kerbau itu saya ikat di halaman belakang rumah.

tanduknya sangat menyeramkan walau di sekelilingnya penuh

dengan ayam yang kerap naik di atas punggungnya.

setiap orang yang lewat di depannya

akan dipanggilnya dengan nama-nama atau

iming-iming joni.


kepada tukang mebel yang baru selesai membuat kusen

dan tampak lelah, kerbau saya

berseru, “mendekatlah padaku, hai joni yang bervisi jauh

dan segudang ilmu perkayuan, aku akan melindungimu

dan mewujudkan semua vismu akan kedaulatan.”


kepada ibu yang letih lesu dan langkahnya gontai,

kerbau saya berkata, “mendekatlah padaku,

hai ibu yang membesarkan joni, kau akan beroleh

kebanggaan. maka air matamu akan larut oleh

keperkasaanku.”


malam ini seekor anjing gunung duduk diam di sebelah kerbau.

mungkin ia sedang mengagumi bayang-bayang bulan atau

sedang merenungi nasib seorang joni yang

terancam pidana, lantaran terbukti memakai ijazah palsu,

waktu menjadi kepala negara.

mungkin ia sedang waswas. “nasib dinastimu, lho mas!”



Pacar Baru


tidak mudah menyadarkanmu dalam hubungan ini.

bahkan saat bercinta pun belum tentu kau ada.


maka aku pergi menemuimu di

sebuah pesan tersembunyi, yang

terlihat oleh mata cemburu.

kau memandangku dengan gentar

mungkin kau mengira aku akan menanyakan

nafkahku.

atau kau menduga aku akan

mengancammu: “bukan kau yang

menafkahi, melainkan aku yang

bekerja, untuk anak-anak!”


pelan-pelan aku menndekat,

mendekati takutmu: “ini kartu keluarga,

bukan kartu bantuan sosial. di kartu ini, cinta kita adalah

kesetiaan pengabdian tanpa syarat, mendampingi pasangan

kapan pun.”

kau berikan sepucuk surat untuk padaku;

kubaca cermat tulisanmu terkait posisimu yang

memberi talak padaku.


siapa pacar gelapmu? jawabmu adalah

wanita yang lebih mapan

ketika lelaki menganggur.



Teman Petinggi


saya duduk di depan jendela

ditemani teman yang sedang mencalonkan diri

sebagai bupati:

di seberang jendela terdapat pemandangan

hijau perbukitan.


“aku ingin membuka lahan di sini, kakak,” kata

teman saya, “para sponsor meminta konsesi begitu saya terpilih.”


saya ambil beberapa ranting kayu di

halaman rumah dan ia segera beranjak menuruni

sebatang jalan yang ujungnya tak kelihatan.


ia mengamati sawah-sawah warga,

tengok sana tengok sini.

diam-diam muncullah saya dari

balik pohon besar,

mau memotret teman saya itu.


saya hapus jepretan foto saya.

“sembunyi di mana teman wartawan kita,

kakak?”

saya kehilangan narasi saat teman saya

tiba-tiba memeluk saya dari belakang.


(Serang, Banten, 2025)


______

Penulis


Rully Ferdiansyah lahir di Serang-Banten, 30 Agustus 1985. Dia sudah menghasilkan dua novel. Pernah dipercaya menjadi pengurus komite sastra di Dewan Kesenian Banten selama periode 2017-2018. Alamatnya: Kampung Sumur Bor, RT07/RW03, Susukan, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. E-mail ke: Glinseng00@gmail.com


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Drama Satu Babak Anton Chekhov | Agresif Seperti Beruang

Anton Chekhov



Tokoh di dalam drama

YELENA IVANOVNA POPOV (seorang janda pemilik perkebunan berlesung pipi)

GRIGORY STEPANITCH SMIRNOV (usianya separuh baya dan pemilik tanah)

LUKAS (pelayan laki-laki tua NYONYA POPOV)

 

Latarnya berada di ruang tamu rumah NYONYA POPOV.

 

NYONYA POPOV (tampak berkabung sambil menyeka air mata saat menatap sebuah foto) ditemani LUKAS.

 

LUKAS: Jangan begini terus, madam... Nanti kelelahan! Pelayan dan juru masak pergi mencari buah. Mereka yang bernapas dapat menikmati hidup, bahkan kucing sekalipun tahu caranya berbahagia dengan menyusup ke halaman lalu menangkap burung. Tapi Madam mengurung diri di rumah ini dan seolah-olah berada di biara. Ya, benar, kalau dihitung-hitung sebenarnya Madam belum keluar rumah selama satu tahun penuh.

 

NYONYA POPOV: Dan aku tak akan pernah meninggalkannya —Kenapa aku harus keluar? Hidupku sudah berakhir. Suamiku terbaring di kuburnya dan aku mengurung diri di antara dinding persegi empat ini. Kami sudah mati.

 

LUKAS: Mulai lagi! Aku tidak tega mendengarnya! Nikolai Michailovitch sudah meninggal dan itu sudah takdir. Tuhan sudah memberinya kedamaian abadi. Madam berduka karenanya dan seharusnya sudah cukup. Sudah saatnya berhenti. Orang tidak bisa selamanya menangis dan mengenakan pakaian berkabung! Istriku meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku pun berduka dan menangisinya selama sebulan penuh, tapi tiga puluh hari itu sudah cukup. Tapi jika aku selalu merasa sedih sepanjang hidupku, itu lebih berharga daripada nilai wanita tua itu. [Mendesah] Madam sudah melupakan tetangga sekitar, tidak keluar dan tidak menerima siapa pun. Menurutku, kita itu seperti laba-laba kalau enggan menatap sinar matahari. Tikus-tikus telah melahap pakaianku.... Ini bukan berarti Madam tidak memiliki orang-orang baik di sekitarmu: distrik ini dipenuhi bangsawan.... Resimen militer ada di Riblov, dan banyak tentara yang enak dipandang serta segar seperti buah plum! Setiap hari Jumat ada pesta dan band musiknya bermain setiap hari…. Alamak! Madam sayang, kau itu masih muda, cantik, mekar seperti mawar—yang kau butuhkan hanyalah menikmati hidup…. Kecantikan akan memudar karena sepuluh tahun kemudian kau tidak akan secantik burung merak yang akan menarik hati petugas militer itu, tapi kalau murung seperti ini sepertinya tidak akan terjadi.

 

NYONYA POPOV [dengan tegas]: Tolong jangan membahas itu lagi! Kau kan tahu, sejak kematian Michailovitch, hidupku tidak ada artinya. Aku memang terlihat hidup, tapi sebenarnya tidak! Aku bersumpah untuk tidak memandang dunia luar dan akan terus berduka…. Paham? Semoga bayangannya dapat melihat betapa aku sangat mencintainya! Tentu, kau sudah tahu semuanya: ia memang sering kasar dan tidak adil terhadapku…. dan kadangkala tidak jujur; tapi aku akan setia sampai akhir hayat dan menunjukkan rasa cintaku kepadanya. Di sudut kuburan lain itu ia akan melihatku sama seperti dulu, sebelum ia wafat….

 

LUKAS: Daripada membicarakan hal itu, lebih baik kau pergi jalan-jalan di kebun atau meminta Tobby atau si Giant menyiapkan delman untuk mengunjungi tetangga-tetanggamu?

 

NYONYA POPOV: Aduh! [tersedu sedan]

 

LUKAS: Madam! Ada apa, Madam, sayang? Yesus bersamamu!

 

NYONYA POPOV: Ia menyukai Tobby! Ia selalu mengantar suamiku ke Kortchagins atau Vlassovs. Ia pengemudi yang andal! Betapa tangguhnya ia mengayuh pedati dengan sekuat tenaga! Kau ingat? Tobby, Toby! Katakan kepada mereka agar memberinya segalon gandum tambahan hari ini.

 

LUKAS: Baik, madam.

 

[bel berdering keras]

 

NYONYA POPOV: Siapa? Katakan padanya bahwa aku tidak ada di rumah.

 

LUKAS: Baik, madam. [ia keluar]

 

NYONYA POPOV [menatap foto]: Kau akan melihat, Nikolas, bagaimana aku bisa mencintai dan memaafkan…. Cintaku akan mati ketika jantungku berhenti berdetak [ia tersenyum sambil meneteskan air mata]. Memangnya kau tidak malu? Aku sudah menjadi istri yang baik dan tulus. Aku sudah mengunci diri dan akan setia hingga ke liang lahat, sedangkan kau … memangnya kau tidak malu, pipi tembam? Kamu membohongiku, membuat keributan, dan meninggalkanku selama berminggu-minggu....

 

[LUKAS masuk dan tampak bingung.]

 

LUKAS: Madam, ada orang yang ingin berjumpa denganmu.

 

NYONYA POPOV: Memangnya kau tidak memberi tahu padanya bahwa sejak kematian suamiku aku tidak menerima tamu?

 

LUKA: Sudah, tapi ia tetap keukeuh. Ia bilang ada hal yang mendesak.

 

NYONYA POPOV: Aku tidak mau menerima siapa pun!

 

LUKA: Aku sudah memberitahunya begitu, tapi … ia memang setan betul. Ia bersumpah akan memaksa masuk ke ruangan … sekarang ia berada di ruang makan.

 

NYONYA POPOV [dengan perasaan kesal]: Oh, baiklah. Suruh ia masuk. Kurang ajar sekali!

 

[LUKA keluar.]

 

NYONYA POPOV: Betapa menjengkelkan orang-orang semacam ini! Apa yang mereka inginkan dariku? Mengapa mereka harus mengusik kedamaianku? [menghela napas]. Sepertinya aku harus benar-benar pergi ke biara… [Merenung] Ya, biara...

 

[SMIRVOV masuk dan LUKAS mengikutinya.)

 

SMIRNOV [selagi masuk, ia berkata kepada LUKA]: Dasar bodoh, jangan banyak cakap kau! Kampret! [Melihat NYONYA POPOV, dengan bermartabat] Madam, perkenalkan, nama saya Grigory Stepanitch Smirnov, pemilik tanah dan pensiunan letnan artileri. Saya terpaksa menyusahkan Anda karena masalah ini sangat penting.

 

NYONYA POPOV [tanpa mengulurkan tangannya] Apa yang kau inginkan?

 

SMIRNOV: Almarhum suami Anda, yang saya kenal baik, berutang seribu dua ratus rubel dan ia melakukannya sebanyak dua kali. Karena besok saya harus membayar bunga ke bank tanah, saya harus meminta Anda mengembalikan uang itu hari ini juga.

 

NYONYA POPOV: Seribu dua ratus! Memangnya suamiku berutang apa?

 

SMIRNOV: Ia membeli gandum daripadaku.

 

NYONYA POPOV [menghela napas, berkata kepada LUKA]: Jangan lupa, Luka, suruh mereka memberi Toby satu galon gandum tambahan [LUKA keluar. Berkata kepada SMIRNOV] Jika Nikolay Mihailitch berutang uang kepadamu, tentu saja saya akan membayarnya, tapi maaf—hari ini saya tidak punya uang tunai. Lusa staf saya akan kembali dari kota, dan saya akan memberitahukannya untuk membayar utang, tapi untuk saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa.... Lagi pula, hari ini tepat tujuh bulan sejak suamiku meninggal. Kondisi pikiran saya tidak karuan. Saya tidak perlu mengurus keuangan.

 

SMIRNOV: Sama. Kondisi pikiran saya juga tidak karuan, dan jika tidak bisa membayar bunga, saya bisa mati. Mereka akan mengambil tanahku.

 

NYONYA POPOV: Kau akan menerima uangnya lusa.

 

SMIRNOV: Saya butuh hari ini, bukan lusa.

 

NYONYA POPOV: Maaf. Hari ini saya tidak bisa membayar.

 

SMIRNOV: Saya tidak bisa menunggu hingga lusa.

 

NYONYA POPOV: Tapi apa yang bisa saya lakukan jika tidak ada uang?

 

SMIRNOV: Anda tidak bisa membayar?

 

NYONYA POPOV: Iya.

 

SMIRNOV: Waduh! Apa ini beneran?

 

NYONYA POPOV: Iya.

 

SMIRNOV: Beneran? Benar-benar tidak ada?

 

NYONYA POPOV: Tentu.

 

SMIRNOV: Saya sangat berterima kasih kepada Anda. Saya akan mencatatnya [mengangkat bahu]. Dan saya diharapkan tetap tenang! Saya baru saja bertemu petugas cukai di jalan, dan ia bertanya, “Kenapa kamu marah, Grigory Stepanitch?” Aku berkata pada diri sendiri, bagaimana aku bisa menahan amarah? Saya sangat membutuhkan uang. Kemarin pagi saya berangkat lebih awal. Saya berkeliling menemui semua orang yang berutang kepada saya, dan tidak seorang pun yang membayar! Saya lelah seperti anjing. Entahlah, di mana aku bermalam—di kedai minuman orang Yahudi yang kumuh, di samping tong vodka.... Akhirnya aku tiba di sini, jauhnya lebih dari lima puluh mil dari rumah, berharap mendapatkan bayaran dari uangku, tapi yang kudapatkan adalah diminta untuk tenang! Bagaimana bisa aku mengendalikan emosi?

 

NYONYA POPOV: Saya yakin. Saya sudah mengatakan bahwa manajer saya akan kembali dari kota. Setelah itu, kau akan mendapatkan uangmu kembali.

 

SMIRNOV: Saya ke sini bukan untuk mendatangi manajer. Memangnya saya peduli apa dengan manajer Anda?

 

NYONYA POPOV: Maaf, Pak, saya tidak terbiasa dengan ekspresi dan nada yang aneh seperti itu. Saya tidak akan mendengarkanmu [buru-buru keluar].

 

SMIRNOV: Sumpah atas jiwaku! Pikiran yang tak karuan! … Sudah tujuh bulan sejak suaminya meninggal.... Tapi apakah saya harus membayar bunganya atau tidak? Saya ingin bertanya kepada Anda apakah saya harus membayar bunga atau tidak? Yang jelas, suami Anda sudah meninggal, pikiran Anda tidak karuan, dan segala tetek-bengek lainnya. Manajer saya pergi ke suatu tempat—iblislah yang membawanya! Terus saya harus bagaimana? Terbang dengan balon untuk menjauhi para kreditor saya? Atau lari lalu menghantamkan tengkorakku ke dinding? Saya pergi ke Gruzdyov bukan untuk pulang ke rumah, melainkan untuk menagih. Yaroshevitch bersembunyi. Dengan Kuritsin aku bertengkar hebat dan hampir melemparkannya keluar jendela. Mazutov mendapat serangan empedu, dan yang ini punya pikiran! Tak seorang pun dari mereka membayarku! Dan semua itu karena saya terlalu baik kepada mereka—karena saya dianggap bakmi, kain lap, dan wanita tua! Aku terlalu lembut terhadap mereka. Tapi tunggu sebentar! Saya akan menunjukkan kepada Anda apa yang bisa saya lakukan. Saya tidak akan membiarkan mereka membodohiku. Catat itu! Saya akan tinggal dan bertahan di sini sampai dia membayar. Huh! Hari ini memang menjengkelkan! Saya sangat marah sampai-sampai tubuhku bergetar dan saya sulit bernapas.... Huh! Tunggu dulu, aku beneran sakit! [Teriak] Halo!

 

[LUKAS masuk.]

 

LUKAS: Apa yang Anda inginkan?

 

SMIRNOV: Saya butuh minuman kvass atau air putih.

 

[LUKAS keluar.]

 

SMIRNOV. Ya, masuk akal! Seorang laki-laki sangat membutuhkan uang—kalau tidak dapat, ya tidak ada cara lain selain gantung diri—dan istrinya tidak mau membayar karena, jika Anda berkenan, ia tidak mampu mengurus keuangan! … Logika pengguna rok yang khas! Itu sebabnya aku tidak pernah suka dan ogah banget berbicara dengan perempuan. Aku lebih suka duduk di atas tong mesiu daripada berbicara dengan seorang perempuan! Huh! Aku seperti daging ayam—makhluk feminin itu sudah membuatku sangat marah! Aku hanya perlu melihat makhluk puitis seperti itu di kejauhan hingga kakiku mulai bergerak-gerak karena marah. Aku ingin berteriak, “Tolong!”

 

[LUKAS masuk dan membawakannya air.]

 

LUKAS: Majikan saya sedang tidak enak badan dan tidak mau menerima tamu.

 

SMIRNOV: Enyahlah!

 

[LUKAS keluar.]

 

SMIRNOV: Tidak sehat dan tidak ingin bertemu! Bagus sekali, Anda tidak perlu.... Saya akan tetap di sini dan duduk sampai Anda membayar saya. Jika Anda sakit selama seminggu, saya akan tinggal di sini selama seminggu. Jika Anda sakit selama setahun, saya akan menunggu selama satu tahun.... Saya harus mendapatkan hakku, wahai perempuan terhormat! Anda tidak akan menyentuhku dengan duka dan lesung pipi Anda. Kita semua tahu tentang lesung pipi itu! [Berteriak ke luar jendela] Semyon! Masukkan kudanya. Kita tidak boleh langsung pergi. Saya tinggal di sini. Suruh mereka memberi pakan gandum di kandang. Kau membiarkan kuda pelacak kiri mengambil alih kendali lagi. Itu tidak sopan! [Meniru] Ba—ba—baiklah. Saya akan menunjukkan kepada Anda apakah semuanya baik-baik saja! [menjauhi jendela]. Cara pengamata yang buruk! Panasnya sudah tak tertahankan lagi; tidak ada yang mau membayar. Saya mengalami malam yang buruk, dan sekarang perempuan yang berduka ini memenuhi pikiranku! … Aku sakit kepala… Haruskah aku minum vodka? Sepertinya begitu. [Berteriak] Hai yang di dalam sana!

 

[LUKAS masuk.]

 

LUKAS: Ada apa?

 

SMIRNOV. Bawakan aku segelas vodka. [LUKA keluar]. Aduh! [duduk dan memeriksa diri]. Harus saya katakan kalau saya terlihat mencolok! Dipenuhi debu, sepatu bot berlumpur, buluk, tidak disisir, dan topi jeramiku tercantol di pinggang! Perempuan itu mengira kalau saya perampok, menurut saya [menguap]…. Itu tidak sopan sudah masuk ke ruang tamu dengan penampilan seperti ini—tapi kan itu bisa dimaklumi. Saya bukan pengunjung—saya seorang kreditur dan tidak ada peraturan yang mengatur kreditur.

sds

[Masuklah LUKAS.]

 

LUKAS [memberi SMIRNOV vodka]: Jangan sungkan, pak.

 

SMIRNOV [dengan marah]: Apa?

 

LUKAS: Tidak apa-apa. Sa-sa-saya hanya….

 

SMIRNOV: Kau bicara sama siapa? Diam!

 

LUKAS: [berbicara kepada audiens] Nah, inilah sebuah penderitaan! Angin buruk membawanya. [keluar].

 

SMIRNOV: Ah, saya murka! Rasa-rasanya ingin menghancurkan dunia ini menjadi debu…. Aku merasa sangat murka…. [Teriak] Halo!

 

[NYONYA POPOV datang dengan menunduk].

 

NYONYA POPOV: Pak, dalam kesendirian ini, saya sudah tidak terbiasa dengan suara manusia dan tidak tahan mendengar teriakan. Saya mohon dengan sangat agar tidak mengganggu kedamaian saya.

 

SMIRNOV: Kembalikan uangnya dan saya akan pergi.

 

NYONYA POPOV: Saya sudah mengatakan dalam bahasa Rusia yang sederhana bahwa saat ini saya tidak punya uang. Tunggu sampai lusa.

 

SMIRNOV: Saya juga mendapat kehormatan untuk memberi tahu Anda, dalam bahasa Rusia yang sederhana, bahwa saya membutuhkan uang itu hari ini, bukan lusa. Jika Anda tidak membayarkannya, bisa-bisa saya gantung diri besok.

 

NYONYA POPOV: Tapi kalau saya tidak punya uang bagaimana? Aneh!

 

SMIRNOV: Terus Anda tidak mau membayar?

 

NYONYA POPOV: Ya mau bagaimana lagi...

 

SMIRNOV: Kalau begitu, saya akan tinggal di sini dan terus tinggal di sini sampai saya mendapatkan uang itu [duduk]. Anda akan membayarkannya lusa! Bagus! Saya akan duduk di sini sampai lusa. Saya akan duduk di sini seperti ini… [melompat]. Saya ingin bertanya kepada Anda apakah saya harus membayar bunga saya besok atau tidak? Memangnya saya bercanda?

 

NYONYA POPOV: Pak, saya mohon jangan teriak! Tidak sabar betul.

 

SMIRNOV: Saya tidak meminta Anda untuk bersabar. Saya ingin bertanya apakah saya harus membayar bunga saya besok atau tidak?

NYONYA POPOV: Sepertinya Anda tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap seorang perempuan.

SMIRNOV: Tentu saja punya.

NYONYA POPOV: Tidak! Anda orang yang kasar dan tidak sopan. Orang baik tidak berbicara seperti itu kepada wanita.

SMIRNOV: Oh, luar biasa! Memangnya saya harus menggunakan bahasa apa? Bahasa Prancis atau apa? [Menjadi marah dan berbicara dengan cadel] Madame, je vous prie, betapa bahagianya saya karena Anda tidak membayar utang. Ah, maaf sudah merepotkanmu! Hari ini indah, bukan? Dan duka ini betapa cocoknya untuk Anda! [membuat tanda salib].

NYONYA POPOV: Tidak lucu dan kasar!

SMIRNOV [meniru NYONYA POPOV]: Kasar dan bodoh! Saya tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan perempuan! Madam, dibandingkan jumlah burung pipit yang Anda lihat, sepanjang hidup ini saya sudah sering melihat banyak perempuan. Saya sudah pernah bertarung tiga kali untuk memperebutkan perempuan. Saya pernah meninggalkan dua belas perempuan dan sembilan kali saya ditinggalkan. Ya! Ada suatu masa ketika saya berpura-pura bodoh—saat itu saya dipenuhi rasa sentimen dan sayang, bersikap sopan, semua membungkuk dan mencakar.... Saya mencintai sekaligus menderita, mendesah pada bulan, dipenuh sensasi juga kegembiraan.... Cinta saya penuh gairah, sekaligus kalut, dan membuat saya bingung!—berceloteh seperti burung murai tentang hak-hak perempuan, menghabiskan separuh kekayaan untuk gairah yang lembut; tapi sekarang—tidak, terima kasih! Anda tidak akan bisa mendekati saya. Saya sudah cukup. Mata hitam, mata penuh cinta, bibir merah tua, lesung pipi, bersinar seperti bulan, bisikan, napas malu-malu—saya tidak akan memberikan uang sepeser pun untuk semua itu, Madam! Tentu saja, semua perempuan, tua dan muda, tidak termasuk dalam kelompok yang ada saat ini, mereka terpengaruh, suka berbasa-basi, suka bergosip, pendendam, pembohong sampai ke sumsum tulangnya, berbuat sepele, picik, tidak kenal belas kasihan; logika mereka paling menjijikkan, dan mengenai jawatan ini [menampar dahi dirinya sendiri]— maaf atas keterusterangan saya—seekor burung gereja dapat memberikan poin kepada filsuf mana pun yang mengenakan rok dalam! Kita melihat makhluk puitis, semuanya dalam balutan kain muslin: makhluk halus, dewi, sejuta pesona. Tapi jika kita mengintip ke dalam jiwanya, ia adalah buaya pada umumnya! [memegang sandaran kursi; kursinya retak dan pecah]. Namun, yang paling menjijikkan adalah buaya ini; entah kenapa, membayangkan bahwa chef-d’œuvre-nya, monopoli, dan hak istimewanya hanyalah hasrat yang rapuh! Tapi, sialnya, bawalah saya, Anda boleh menggantungku di paku ini, dengan kepala tertunduk, jika seorang wanita mampu mencintai siapa pun kecuali seekor anjing manja! Dalam cinta, yang bisa ia lakukan hanyalah terus merengek. Sementara seorang laki-laki menderita dan berkorban, semua cintanya diekspresikan dengan mengikuti roknya dan berusaha memeluk laki-laki itu erat-erat. Anda bernasib sial menjadi seorang perempuan, sehingga Anda mengetahui sifat wanita dari pengalaman Anda sendiri. Katakan sejujurnya, pernahkah Anda melihat wanita yang tulus, jujur, dan teguh? Tentu saja belum! Tak ada seorang pun yang jujur, kecuali seorang perempuan yang benar-benar merasa demikian. Lebih mudah menemukan kucing bertanduk atau burung berkik putih daripada perempuan yang diterus dipenuhi cinta!

NYONYA POPOV: Izinkan saya bertanya. Menurutmu, siapakah yang sejati dan konstan dalam cinta? Tentu saja bukan laki-laki!

SMIRNOV: Ya. Tentu saja laki-laki.

NYONYA POPOV: Laki-laki! [tertawa]. Laki-laki itu sejati dan setia dalam cinta! Harus saya akui bahwa itu adalah hal baru. [Meradang] Apa hakmu untuk berkata seperti itu? Laki-laki itu sejati dan setia dalam cinta! Jika itu yang terjadi, aku akan memberitahumu bahwa dari semua laki-laki yang kukenal, atau yang pernah kukenal, yang terbaik adalah mendiang suamiku.... Aku mencintainya dengan sepenuh hati, dengan segenap keberadaanku, yang tidak dapat dicintai oleh siapa pun kecuali seorang perempuan muda yang berpikiran spiritual; aku memberinya masa mudaku, hidupku, kebahagiaanku, dan kekayaanku. Ia adalah napas atas keberadaanku, berhala yang kusembah seperti orang kafir, dan—tapi di setiap langkahnya orang-orang kelas atas itu menipuku dengan cara yang paling tidak tahu malu! Setelah kematiannya, saya menemukan surat cinta yang memenuhi laci mejanya, dan ketika ia masih hidup—sangat sedih untuk mengingatnya!—ia meninggalkan saya sendirian selama berminggu-minggu. Di depan mataku ia bercinta dengan wanita lain dan menipuku, menyia-nyiakan uangku, mengejek perasaanku.... Dan terlepas dari semua itu, aku mencintainya dan setia padanya.... Tidak hanya itu, aku masih mencintainya dan setia kepadanya. Aku telah mengubur diriku di dalam kamar untuk selamanya, dan aku tidak akan menanggalkan duka ini selama hidupku.

 

SMIRNOV [tertawa menghina]. Duka! Saya tidak mengerti mengapa Anda menerima saya. Sepertinya saya tidak paham mengapa Anda mengenakan pakaian serba hitam dan mengurung diri di kamar! Menurutku begitu! Ini sangat misterius sekaligus romantis! Jika ada letnan muda atau penyair yang belum berpengalaman melewati tanah Anda ini, ia akan menengok ke jendela dan berpikir, “Di sinilah hidup Tamara yang misterius; saking cintanya kepada suaminya, ia mengurung diri di ruang ini.” Saya tahu semua trik seperti itu.

 

NYONYA POPOV [wajahnya memerah padam]: Apa? Beraninya kau berkata seperti itu padaku!

 

SMIRNOV: Anda telah mengubur diri hidup-hidup, tetapi Anda tidak lupa membubuhkan bedak di wajah!

 

NYONYA POPOV: Lancang sekali kau berkata seperti itu padaku!

 

SMIRNOV: Tolong jangan membentak saya—saya bukan pembantu Anda! Biarkan saya bicara blak-blakan. Saya bukan perempuan dan saya terbiasa mengatakan apa yang saya piker itu jelas. Jadi, tolong jangan teriak.

 

NYONYA POPOV: Kok malah saya? Yang teriak itu kau. Pergilah!

SMIRNOV: Saya akan pergi kalau hutang saya dibayar.

NYONYA POPOV: Aku tidak akan memberimu uang.

SMIRNOV: Harus. Anda harus membayarnya!

NONYA POPOV: Meskipun kau kesal, aku tidak akan memberimu sepeser pun! Sebaiknya pergi dari sini baik-baik.

SMIRNOV: Saya tidak bernapsu untuk menikahimu atau berhubungan denganmu. Tolong jangan berisik [duduk]. Saya tidak menyukainya.

NYONYA POPOV [terengah-engah dan marah]: Kenapa kau duduk?

SMIRVON: Tentu saja.

NYONYA POPOV: Aku minta kau enyah dari sini.

SMIRNOV: Bayar hutangnya! [Berbicara kepada penonton] Saya sangat marah!

NYONYA POPOV: Saya tidak mau meladeni orang bejat seperti Anda. Minggat sana! [jeda]. Kau tidak mau pergi?

SMIRNOV: Iya.

NYONYA POPOV: Tidak?

SMIRNOV: Iya.

NYONYA POPOV: Okelah kalau begitu [bel berdering].

[LUKA masuk]

 

NYONYA POPOV: Lukas, usir orang ini.

 

LUKAS [mendekati SMIRNOV]: Pak, pergilah. Kan Madam sudah meminta. Tidak ada gunanya berada di sini—

SMIRNOV [melompat]: Diam! Memangnya kau bicara dengan siapa? Mau jadi daging cincang kau!

LUKAS [sembari memegang dadanya]: Ya Allah! [menjatuhkan diri ke kursi] Oh, sakit-sakit. Sakit sekali. Saya sesak!

NYONYA POPOV: Mana Dascha? Dasha! [teriak] Dasha! Palageya! Dasha! [membunyikan bel]

LUKAS: Ah! Mereka memetik stroberi. Tak ada orang lain di rumah ini. Saya sakit! Air!

NYONYA POPOV: Enyahlah dari sini.

SMIRNOV: Tolong ya sopan sedikit!

NYONYA POPOV [mengepalkan tangan dan menghentakkan kaki]: Dasar kasar! Beruang bengis! Pengganggu! Monster!

SMIRNOV: Apa? Anda bilang apa?

NYONYA POPOV: Aku bilang kau itu beruang—monster!!

SMIRNOV [mendekati NYONYA POPOV]: Maaf. Apa hak Anda menghina saya?

NYONYA POPOV: Iya. Aku memang menghinamu. Memangnya kenapa? Memangnya kau pikir aku takut padamu?

SMIRNOV: Dan apakah karena Anda adalah makhluk puitis, Anda berhak menghina orang lain dan terbebas dari hukum? Memangnya iya? Saya menantang Anda!

 

LUKAS: Ya, Tuhan. Ya, Rob! Air!

 

SMIRNOV: Sediakan bedil!

 

NYONYA POPOV: Kalau tinjumu kuat dan bisa melolong seperti banteng, memangnya aku takut padamu? Pengganggu!

 

SMIRNOV: Saya menantang Anda! Tak ada seorang pun yang boleh menghina saya. Bahkan seorang perempuan sekalipun. Dasar makhluk lemah!

 

NYONYA POPOV [mencemooh]: Dasar beruang! Beruang! Beruang!

 

SMIRNOV: Sudah waktunya untuk meninggalkan prasangka bahwa hanya laki-laki yang harus menanggung akibat penghinaan. Jika harus ada kesetaraan, biarlah terjadi. Persetan semuanya! Saya menantang Anda!

 

NYONYA POPOV: Kau mau duel? Siapa takut!

 

SMIRNOV: Ayo sekarang juga!

 

NYONYA POPOV: Ayo sekarang juga! Suamiku punya bedil.... Aku akan segera mengambilnya [keluar, lalu buru-buru kembali]… Betapa senangnya aku bisa menembakkan peluru ke kepalamu yang kurang ajar itu! Sial kau! [keluar].

 

SMIRNOV: Saya akan menembaknya seperti ayam! Saya bukan bocah, juga bukan anak anjing sentimentil—feminin lemah dan tidak ada artinya bagi saya.

 

LUKAS: Tuan yang baik [berlutut], mohon ampun, kasihanilah orang tua ini! Pergilah! Anda membuat saya takut setengah mati dan sekarang Anda akan bertarung!

 

SMIRNOV [tidak mengindahkan]: Bertarung! Itu adalah kesetaraan dan emansipasi! Duel membuat kedua jenis kelamin setara! Saya akan menembaknya berdasarkan prinsip. Tapi perempuan memang luar biasa! [Meniru NYONYA POPOV] “Sialan kau! Menembak kepalamu yang kurang ajar itu!” ... Perempuan yang luar biasa! Pipinya merona, matanya berbinar.... Dia menerima tantangan itu! Terhormat betul. Saya belum pernah melihat orang seperti dia dalam hidup saya! ...

 

LUKAS: Tuan yang baik, pergilah! Saya akan mengingat dan mendoakan Anda!

 

SMIRNOV: Dia bukan seperti perempuan pada umumnya! Saya suka itu! Seorang perempuan sejati! Tidak sentimental, tapi seperti api, bubuk mesiu, dan kembang api! Saya menyesal akan membunuhnya.

 

LUKA [menangis]: Tuan yang baik, pergilah!

 

SMIRNOV: Saya sangat menyukainya. Benar-benar menyukainya! Meski punya lesung pipi, saya menyukainya! Saya bahkan akan memaafkan hutangnya dan semua amarah saya sirna.... Perempuan yang luar biasa!

 

[NYONYA POPOV masuk dengan membawa dua bedil.]

 

NYONYA POPOV: Ini bedilnya…. Tapi sebelum kita mulai duel, tunjukkan padaku cara menembak… Selama hidup, aku tidak pernah memegang bedil.

 

LUKAS: Ya, Gusti, selamatkan dan maafkan kami! Saya akan pergi mencari tukang kebun dan kusir. Kenapa masalah ini menimpa kami? [keluar].

 

SMIRNOV [memeriksa bedil]: Soalnya, ada beberapa jenis bedil.... Ada bedil khusus duel, pola Mortimer, dengan kapsul.... Tapi milik Anda adalah buatan Smith & Wesson, aksi tripel dengan ekstraktor.... Ini bedil yang bagus. Kira-kira harganya sembilan puluh rubel.... Anda harus memegangnya seperti ini. [Berbicara kepada penonton] Matanya luar biasa! Mata apa! Perempuan yang menggairahkan!

 

NYONYA POPOV: Begini?

 

SMIRNOV: Iya, seperti itu…. Lalu Anda angkat kokangnya… membidiknya seperti ini.... Miringkan kepala Anda sedikit ke belakang! … Rentangkan lengan Anda sepanjang-panjangnya—itu saja.... Lalu tekan benda kecil itu dengan jari ini—cukup. Aturannya adalah jangan terlalu bersemangat, tetapi membidik dengan tenang. Kendalikan tangan Anda dan jangan gemetar.

 

NYONYA POPOV: Baiklah. Tidak nyaman duel di dalam ruangan; ayo kita pergi ke taman.

 

SMIRNOV: Ayo. Sebelum duel, saya akan menembak ke udara sebagai aba-aba peringatan.

 

NYONYA POPOV: Ini duel terakhir! Kenapa?

 

SMIRNOV: Karena … karena … itu urusan saya.

 

NYONYA POPOV: Kau menembak, kan? Loh, loh! Tidak, tuan, jangan menggeliang-geliut! Ikuti aku. Aku tidak akan puas sampai berhasil menembak kepalamu—kepala yang sangat kubenci itu! Kau menembak, kan?

 

SMIRNOV: Tentu saja.

 

NYONYA: Bohong. Kenapa kau berhenti melawan?

 

SMIRNOV: Karena … karena … aku menyukaimu.

 

NYONYA POPOV [dengan tawa jahat]: Dia menyukaiku! Berani-beraninya ia mengatakan bahwa ia menyukaiku! [Menunjuk ke pintu] Kamu pergi!

 

SMIRNOV [diam dan meletakkan bedilnya, mengambil topinya lalu pergi; ia berhenti di dekat pintu. Mereka saling memandang dan diam selama setengah menit, lalu berjalan dengan ragu menuju MADAME POPOV]. Apakah kau masih marah? Aku juga sangat marah, tapi tahukah kamu—bagaimana aku harus mengatakannya? Faktanya, kau tahu—bisa dikatakan seperti ini. [Teriak] Ya, bukan salahku kalau aku menyukaimu! [Mencengkeram bagian belakang kursi; kursinya retak dan pecah] Sial, betapa rapuhnya furnitur yang kau punya! Aku menyukaimu. Paham? Aku—sedikit lagi jatuh cinta.

 

NYONYA POPOV: Enyahlah. Aku benci kau!

 

SMIRNOV: Wah, luar biasa perempuan ini! Aku tidak pernah melihat perempuan seperti dia. Aku tersesat! Aku sudah selesai! Aku seperti tikus yang terperangkap!

 

NYONYA POPOV: Enyahlah atau aku tembak.

 

SMIRNOV: Tembak saja! Kau tak dapat membayangkan betapa nikmatnya mati di depan mata yang indah itu—tertembak oleh bedil yang dipegang oleh tangan kecil yang lembut itu! … Aku sudah gila! Pikirkan dan putuskan segera, karena jika aku pergi dari sini, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Putuskan! … Aku berasal dari keluarga baik-baik, aku laki-laki terhormat, dan memiliki sepuluh ribu rubel dalam setahun… Aku mampu menembak koin setengah sen yang dilempar ke udara… Aku memiliki kuda kelas satu. … Maukah kau menjadi istriku?

 

NYONYA POPOV: [marah, mengacungkan bedil]. Duel! Ayo bertarung!

 

SMIRNOV: Aku sudah gila. Aku tidak mengerti. [Berteriak] Hai! Air!

 

MADAME POPOV [berteriak]: Aku menantangmu!

 

SMIRNOV: Aku sudah gila. Aku seperti remaja yang jatuh cinta—seperti orang bodoh! [Merebut tangan NYONYA POPOV; NYONYA POPOV menjerit kesakitan] Aku cinta kau! [Berlutut] Aku mencintaimu seperti aku belum pernah mencintai! Aku sudah mencampakkan dua belas perempuan, sembilan sudah mencampakkanku, tapi aku tidak pernah mencintai satu pun di antara mereka seperti aku mencintaimu.... Aku menjadi cengeng; seluruh tubuhku terasa lemas. Aku menjadi bubur! Di sini aku berlutut seperti orang bodoh dan mengulurkan tanganku kepadamu! … Sayang sekali, memalukan! Aku belum jatuh cinta selama lima tahun belakangan ini. Aku bersumpah tidak akan melakukan kesalahan, karena aku benar-benar terpesona padamu! Aku mengulurkan tanganku padamu. Ya atau tidak? Apakah kamu tidak akan memilikinya? Baiklah, tidak perlu! [bangkit dan segera pergi ke pintu]

 

NYONYA POPOV: Berhenti!

 

SMIRNOV [Berhenti]: Bagaimana?

 

NYONYA POPOV. Tidak—pergilah! Tapi tetaplah di sini—tidak, pergi, enyahlah! Aku membencimu! Oh, tidak—jangan pergi! Oh, andai kau tahu betapa marahnya aku! [Melempar bedil revolver ke atas meja] Jariku mati rasa karena benda mengerikan itu. [Merobek saputangannya dengan marah] Kenapa kau masih berdiri di sana? Pergilah!

 

SMIRNOV: Selamat tinggal!

 

NYONYA POPOV: Ya, ya, pergilah! [Teriak.] Mau ke mana kau? Tinggallah—tapi kau boleh pergi. Oh, betapa murkanya perasaanku! Jangan mendekat padaku! Jauh-jauhlah!

 

SMIRNOV [Mendekati NYONYA POPOV]: Aku kesal sendiri! Aku jatuh cinta seperti remaja. Aku berlutut—aku merasa kedinginan.... [Kasar] Aku mencintaimu! Sepertinya aku jatuh cinta padamu! Besok aku harus membayar bungaku. Pembuatan jerami sudah dimulai, dan sekarang kaulah yang mengatasi semuanya.... [Meletakkan lengannya di pinggang NYONYA POPOV] Masalah ini aku tidak akan pernah memaafkan diriku!

 

NYONYA POPOV: Pergilah. Singkirkan tanganmu! Aku benci kau! Aku menan—menantangmu! [Ciuman panjang.]

 

[LUKAS masuk dengan membawa kapak, tukang kebun dengan garunya, kusir dengan garpunya, dan buruh dengan galahnya.]

 

LUKAS [melihat pasangan itu saling memeluk.] Ya, Gusti!

 

[Jeda.]

 

MADAME POPOV [menundukkan mata]. Luka, beri tahu mereka untuk tidak memberi Toby gandum hari ini.

 

TIRAI.

 

______

Penulis


Anton Pavlovich Chekhov adalah penulis drama dan cerpen Rusia. Drama di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari versi Inggris oleh Constance Garnett, dari buku Five Comic One-Act Plays karya Anton Chekhov.