Esai Uwais Qorni
Lebih dari 40 ribu jumlah pesantren yang beroperasi secara resmi di Indonesia. Itu dapat dijumpai datanya di internet. Adapun pesantren sendiri adalah lembaga pendidikan tradisional yang berbasis keagamaan. Fokus kajiannya adalah kitab kuning atau buku-buku berbahasa Arab Fushah yang ditulis oleh ulama. Sebagian pesantren ada yang sudah beradaptasi dengan zaman sehingga tidak sedikit ditemui di dalamnya pengetahuan umum dipelajari.
Seperti wadah pada umumnya, di sana dapat dijumpai orang-orangnya siapa saja. Orang-orang pesantren mempunyai julukannya masing-masing. Santri sebagai murid. santriwati, santriyat, dan banat julukan murid perempuan pesantren. Sebagai pendidiknya dinamai ustaz, ustazah jika perempuan, bapak guru, ibu guru, ulama julukan orang-orang yang berilmu secara umum, kiai untuk pemilik pesantren, bu nyai julukan istri kiai, syekh sebagai guru sepuh. Bahkan ada yang sampai ke anak-turunannya dinamai juga yaitu gus adalah anak laki-lakinya kyai, neng adalah anak perempuannya kiai. Gus dan neng sebatas julukan saja. Apakah keduanya berperan sebagai pendidik di pesantren? Itu tergantung orangnya.
Tapi tiap daerah punya penyebutan yang beraneka ragam. Sebatas julukan, itu sebenarnya ada penyebutan yang global. Yaitu ulama, kiai, dan santri. Itu saja. Paling aman, baiknya sebutan itu cuma guru dan murid.
Sebagai wadah, pesantren juga ada detailing di dalamnya seperti apa. Pesantren biasanya punya masjid dan beberapa aula yang dijadikan santri untuk mengaji dan belajar. Tidak punya masjid? Setidaknya pesantren punya musala untuk salat berjamaah dan wirid.
Ciri khas orang-orang pesantren adalah pakaiannya yang biasanya memakai sarung, baju koko, dan peci. Sebagian ada yang mewajibkan pakai jubah dan sorban. Untuk yang banat biasanya memakai setelan panjang tanpa hiasan yang mencolok. Ditambah ada pesantren yang mewajibkan banatnya untuk memakai cadar. Itu tergantung pengurus di dalamnya.
Adapun kegiatan santri sama seperti pendidikan pada umumnya. Perbedaannya terletak pada peraturan, pakaian, dan kurikulumnya. Kurikulum pesantren jelas berbeda dengan kurikulum pendidikan umum. Di sana ada istilahnya ngaji, pengajian, sorogan, bandongan. Ngaji itu kiai membacakan kitab kuning di hadapan santri. Pengajian itu ceramah kiai di hadapan santri. Sorogan itu santri membacakan kitab kuning di hadapan kiai untuk dinilai dan diberi kritik-saran. Sedangkan bandongan sama seperti ngaji. Cuma penamaannya yang berbeda.
Sebagian pesantren ada yang mengikuti kurikulum pemerintah. Pendidikan formal ada di sana. Mulai dari PAUD sampai kuliah. Sama seperti di awal tadi, tiap pesantren tergantung siapa yang mengurusi. Mau tradisional murni atau yang ada pendidikan formalnya, itu tergantung siapa-siapa di dalamnya.
Kiai tidak sendirian di dalam memanajemen pesantren. Pengurus-pengurus juga ikut andil di dalam kemajuan atau kemunduran pesantren. Pesantren dibangun bukan sebatas biar kiainya banyak santrinya, bukan pula biar santrinya punya kiai yang famous. Tidak. Kemajuan akan menjadi fokus utama pesantren jika di sana ilmu pengetahuan dan pendiskusian dikedepankan. Kemunduran akan tampak jika pesantren cuman haus pujian.
Pesantren bagus harapannya mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Bukan yang hanya fokus ilmu agama saja. Ilmu agama penting, tapi jika tidak ada diskusi atas ilmu umum yang terjadi selanjutnya adalah fanatik buta. Politik tidak diajarkan kepada para santri, misalnya. Santri hanya dipaksa patuh terhadap keinginan pesantren, kiai, dan para pengurus untuk memilih siapa. Ujung-ujungnya pesantren menjadi alat politik penguasa.
Santri, Politik, Kefanatikan
Seperti yang saya tulis di atas, jumlah pesantren di Indonesia sangat banyak. Itu baru lembaganya saja yang dihitung. Belum dengan muridnya, gurunya, orang-orang di dalamnya, bahkan masyarakatnya. Perbedaan pesantren dengan pendidikan umum adalah ini. Kultur pesantren sangat gampang berbaur dengan masyarakat setempat. Akibatnya adalah masyarakat setempat bisa juga dibilang sebagai masyarakat pesantren.
Pengalaman saya sebagai orang desa, masyarakat Indonesia bisa dibilang terlalu hormat kepada tokoh. Menokohkan seseorang gampang ditemui di mana-mana. Begitu pula dengan tokoh yang bersangkutan. Sebagian dari mereka malah ada yang gila hormat. Tidak peduli mana yang bermasalah dan mana yang lebih bermasalah. Keduanya sama-sama gila. Gila hormat-menghormati.
Sebagian besar juga ada yang menjadi penjilat. Kekhawatiran saya perihal ini. Politikus sowan atau berkunjung kepada kiai hanya demi menggaet nama besar pesantren/kiai saja. Sebab apa? Di sana banyak pengikutnya. Di sana banyak alumninya. Di sana banyak santrinya. Tidak mustahil kefanatikan santri kepada kiainya bisa disalahgunakan politikus tadi untuk memperoleh suara-suara mereka saat pencoblosan.
Kefanatikan tersebut disebabkan daya nalarnya mati. Seolah-olah jika kiai sudah merestui politikus tersebut, maka dia pasti orang yang benar dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat dan umum. Belum lagi dengan mitos yang beredar, jika santri tidak sama dengan kiainya dalam masalah apa pun, maka ilmunya tidak bermanfaat. Santri tersebut kualat.
Mau kualat atau tidak kualat, aneh banget jika perihal memilih tokoh politik saja harus mengikuti kiai terlebih dahulu. Maksudnya, apakah tidak diperbolehkan bagi santri untuk mengkaji siapa-siapa calon pemimpinnya itu? Apakah santri harus bodoh dan tidak boleh berkembang di dalam berpikirnya itu? Sebab itulah saya sebutkan, kemajuan atau mundurnya pesantren di antara sebabnya adalah betul atau tidaknya pengasuh dan pengurus di dalam mengelola pesantren itu.
Pesantren yang bagus lebih mengedepankan ilmu pengetahuan dan diskusi yang sehat. Tidak lain untuk memajukan adabnya. Bukan adab terlebih dahulu, melainkan bagaimana nanti sekiranya pengetahuan tersebut yang membuahkan adab yang positif. Bagi saya, memang pengetahuan itu yang lebih penting. Adab bisa dibuat-buat, tapi berilmu tidak bisa dibuat-buat.
Lantas, apa hubungannya politikus dengan para kiai? Kenapa mereka dadakan menjadi santri dan mengunjungi pesantren-pesantren saat mulai mendekati masa-masa pemilu? Kaitannya adalah dominan masyarakat kita masyarakat pesantren. Memang tidak semuanya demikian. Namun secara kultural seperti itu kenyataannya.
Mau dikata orang kota banyak yang pintar politik, tapi orang-orang desa juga punya jatah memilih pemimpin. Demikian tidak menutup kemungkinan bahwa pesantren yang salah mendidik santrinya akan salah juga telah mendoktrin santri-santrinya untuk patuh dan sama dengan siapa yang dipilih kiainya.
Pesantren di Indonesia banyak. Itu bisa menjadi alat politik para politikus yang licik. Sekian.
Pajaran, 21 Oktober 2026
_______
Penulis
Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com









