Cerpen M Waladul Abror
Hari-hari
melintas dengan mata pisau yang tak terlihat bagi Arga. Pemuda yang tengah
meniti ilmu di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia itu berjalan di antara mimpi
dan kenyataan yang sering kali saling berseberangan. Seusai meninggalkan bangku
SMA di Ponorogo, ia memilih memikul dua beban sekaligus: kuliah dan bekerja. Di
rumahnya, ayah mengadu nasib sebagai kuli harian, sementara ibu menakar harapan
lewat jajanan yang dijual dari beranda rumah.
Maka,
selepas kuliah Arga kerap menitipkan lelah pada pekerjaan apa saja yang datang.
Pernah ia mengangkat tumpukan material bangunan hingga telapak tangannya
mengeras dan peluh membasahi punggungnya. Namun, ia tak pernah mengeluhkan
keadaan. Baginya, setiap rupiah yang terkumpul adalah serpihan harapan yang
harus dijaga agar tidak tercerai-berai.
Senja turun
perlahan ketika langkahnya hendak menuju rumah Iwan, sahabat yang telah
menemaninya sejak masa SMP. Iwan adalah sepotong cahaya di antara hari-hari
yang kusam—selalu riang, selalu memiliki cerita yang mampu mengusir penat. Bersamanya, Arga sering menghabiskan sore di warung kopi
sederhana, membiarkan waktu larut dalam percakapan tentang hidup yang kadang
ramah, kadang pula terasa begitu asing.
Sebelum
berangkat, pandangannya tertahan pada sebuah telepon genggam yang terbaring
sunyi di dekat kursi ruang tamu. Secangkir kopi hangat masih mengepulkan aroma
yang bercampur dengan lengang sore. Di antara uap yang perlahan memudar, Arga
memandang benda itu cukup lama, seolah ada kabar yang sedang menunggu untuk
mengetuk hidupnya.
Tanpa
banyak pertimbangan, Arga meraih telepon genggam yang terbaring sunyi di
dekatnya. Jemarinya menyusuri layar, membiarkan deretan status WhatsApp berlalu
seperti bayang-bayang yang melintas di tepi jalan. Hingga akhirnya,
pandangannya tertambat pada sebuah kabar yang menyala lebih terang daripada
yang lain, seseorang berhasil membawa pulang uang dalam jumlah
besar hanya dalam hitungan waktu yang singkat.
Kabar itu
menjelma benih yang jatuh ke dalam tanah pikirannya. Mula-mula kecil dan nyaris
tak berarti, tetapi perlahan tumbuh, menjalar ke segala arah, memenuhi ruang
benaknya yang selama ini sesak oleh kebutuhan. Di tengah perjuangan yang tak
pernah benar-benar usai, cerita itu terasa seperti setitik cahaya yang muncul
di ujung lorong panjang.
Angan-angannya
pun mulai berlayar jauh. Ia melihat sebuah laptop baru berdiri di atas meja
belajarnya, melihat senyum kedua orang tuanya yang tak lagi dibebani
kegelisahan, dan melihat dirinya berjalan tanpa dihantui hitungan biaya yang
terus mengejar dari belakang. Bayangan-bayangan itu datang silih berganti,
mengisi kepalanya seperti awan yang semakin menebal menjelang hujan.
Tak lama
kemudian, langkahnya membawa menuju lemari tua di sudut kamar. Dari sana, ia
mengeluarkan tabungan yang selama bertahun-tahun dijaga dengan kesabaran yang
tak sedikit. Tangannya bergetar ketika membuka celengan itu. Bunyi kepingan dan
lembaran uang yang terkumpul dari peluh serta lelah bertahun-tahun terdengar
lirih di telinganya. Sesungguhnya, uang itu adalah jalan menuju motor yang
selama ini hanya hidup dalam mimpinya. Namun, harapan yang baru saja tumbuh
menjelma ombak yang lebih besar. Ia datang menghantam keraguan, mengikis
kewaspadaan sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanyalah keberanian yang
dibalut rasa penasaran.
Dengan
tangan sedikit gemetar, Arga memindahkan seluruh uang tabungannya ke dalam
saldo permainan itu. Tak ada lagi yang tersisa selain harapan dan keyakinan
bahwa keberuntungan akan berpihak kepadanya. Dada Arga yang dipenuhi debar tak
menentu saat siap memainkan
permainan. Sentuhan pertama, angka-angka itu bergerak naik. Sentuhan kedua
naik begitu dahsyat.Sejenak, dunia terasa lebih ramah kepadanya. Angka-angka
yang berlipat ganda itu menjelma harapan yang menari-nari di pelupuk matanya.
Ia seperti melihat masa depan yang selama ini berdiri jauh di seberang sana
perlahan mendekat. Senyum yang lama tersimpan akhirnya merekah di wajahnya.
Waktu pun
berlalu tanpa suara. Sore merayap pelan di balik jendela, sementara Arga masih tenggelam
dalam kegembiraan yang memabukkan. Dalam riuh angan yang memenuhi kepalanya, ia
nyaris lupa bahwa ada seorang sahabat yang menunggu kedatangannya di ujung
senja. Iwan, yang namanya perlahan tenggelam di antara gemerlap harapan yang
baru saja menyala.
Karena
kegembiraan yang meluap-luap di dadanya, Arga segera melangkahkan kaki menuju
rumah Iwan. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajahnya sepanjang perjalanan.
Sore itu, ia bahkan mengajak sahabatnya menikmati secangkir kopi di warung
langganan mereka. Menurutnya, kemenangan yang baru diraih adalah rezeki yang
menyambut pada waktu yang tepat, seolah langit berbaik hati setelah sekian lama
membiarkannya bertengkar dengan kesulitan. Namun, Arga tidak
memikirkan bahwa kemenangannya hanyalah pintu pertama menuju jalan buruk yang
kelak menyeret hidupnya ke arah tidak jelas.
Sesampainya
di warung, aroma kopi yang mengepul menyambut kedatangan mereka. Iwan yang
heran melihat sikap sahabatnya itu lantas tersenyum dan bertanya. “Tumben, Gaa.
Kamu yang traktir aku?”
Arga
terkekeh pelan sebelum menjawab, “Iya, Wan. Tadi ada sedikit rezeki.”
“Alhamdulillah,
Gaa,” sahut Iwan tulus. Mendengar kabar itu, hatinya ikut merasa senang. Baginya,
Arga adalah sosok yang pantas memperoleh kebahagiaan. Sejak dulu, ia mengenal
Arga sebagai pribadi yang baik hati, ringan tangan membantu sesama, serta tidak
pernah menyerah meskipun hidup berkali-kali mengujinya dengan kesulitan.
Malam
berlalu, meninggalkan jejak-jejak harapan yang masih menyala dalam benak Arga. Keesokan harinya,
godaan itu datang kembali seperti seseorang yang sedang mengejar bayangan
cahaya di kejauhan. Arga kembali mencoba peruntungan. Setelah Arga membawa
lebih banyak rupiah daripada sebelumnya,
kemenangan sebelumnya sudah bertumbuh jadi keyakinan yang perlahan mengaburkan
kehati-hatiannya.
Di dalam
kepalanya, mimpi-mimpi mulai tumbuh semakin tinggi. Ia membayangkan motor
impian yang selama ini hanya mampu dipandangi dari balik kaca dealer. Ia
membayangkan kedua orang tuanya tersenyum bangga saat ia mengajak mereka
berjalan-jalan. Arga membayangkan di benak pikirannya tiap hari tanpa kecemasan, kekurangan,
dan beban biaya kuliah yang terus dipikul. Tanpa disadari,
bayang-bayang itu telah mengakar seperti besi yang sudah berkarat. Semakin ia
menatap mimpi-mimpi itu, semakin jauh ia tersesat dan kewaspadaan yang selama
ia jaga.
Pertama, keberuntungan datang seperti
mendapatkan berlian. Angka-angka di layar bergerak melampaui batas, membawa penuh
harapan yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada Arga. Senyum tipis
mengembang di bibirnya. Untuk sesaat, ia merasa langit sedang membuka jalan
bagi mimpi-mimpinya. Namun, keberuntungan ternyata hanya singgah sebentar. Perlahan, angka-angka
itu berbalik arah. Sedikit demi sedikit, apa yang tadi bertambah mulai menyusut
tanpa ampun. Arga menatap layar dengan napas tertahan. Di dalam dirinya, sebuah
suara terus berbisik bahwa kehilangan itu hanyalah persinggahan sebelum
kemenangan yang lebih besar datang menghampiri. Maka ia kembali
melangkah ke jalan yang sama.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dan setiap
langkah membawanya semakin jauh dari apa yang ingin ia pertahankan. Keringat mulai merembes
dari telapak tangannya. Di atas meja, secangkir kopi yang tadi menghangatkan
sore perlahan kehilangan uapnya. Kehangatan itu menghilang sedikit demi
sedikit, sebagaimana harapan yang mulai luruh dari dalam dirinya. Namun Arga
tak menyadarinya, pandangannya telah terpenjara oleh cahaya layar yang
berkedip-kedip di hadapannya.
Ia terus
mengejar apa yang telah pergi. Terus mengulurkan tangan kepada bayang-bayang yang
semakin menjauh. Terus berharap pada kemungkinan yang tak pernah
benar-benar ada. Angka demi angka lenyap seperti dedaunan kering yang
diterbangkan angin. Tak ada yang tersisa untuk digenggam. Tak ada yang kembali
meski telah dipanggil berkali-kali.
Di dalam
dadanya, kegelisahan tumbuh seperti malam yang perlahan menelan cahaya senja.
Napasnya memberat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ada ketakutan yang
mulai mengetuk, tetapi ia menolak membuka pintu untuknya. Hingga akhirnya, layar
itu menampilkan satu kenyataan yang dingin dan tak terbantahkan Rp0,00.
Seketika
dunia di sekelilingnya terasa membisu, waktu seolah berhenti mengalir, udara terasa
menggantung. Arga hanya menatap layar itu dengan mata yang kosong.
Cahaya dari telepon genggam memantul di wajahnya yang pelan-pelan kehilangan
warna. Arga seperti seseorang yang
terbangun dari mimpi panjang, lalu mendapati seluruh kenyataan telah berubah menjadi hampa.
Tabungan
yang dikumpulkan dari tahun ke tahun sudah lenyap tak tersisa. Peluh yang
pernah jatuh di bawah terik matahari.Tenaga yang pernah diperas hingga tubuhnya
nyaris tumbang. Harapan-harapan kecil yang selama ini disimpannya untuk
masa depan, semuanya tenggelam dalam satu malam yang tak pernah ia bayangkan. Motor impian itu kini hanya tinggal bayangan yang memudar
di kejauhan. Keinginan untuk meringankan beban kedua orang tuanya luruh seperti
daun tua yang jatuh sebelum sempat menyentuh musim yang dinanti. Perlahan, telepon
genggam itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Bunyinya memecah
kesunyian, lalu kembali ditelan oleh sepi yang lebih dalam.
Arga
menyandarkan tubuhnya ke kursi.Langit senja di luar jendela telah lama berubah
menjadi gelap, tetapi malam yang sesungguhnya justru baru saja tumbuh di dalam
dirinya. Pandangannya beralih ke arah lemari tua di sudut kamar. Tempat itu
pernah menyimpan mimpi-mimpinya, menyimpan hasil kerja keras yang ia kumpulkan
sedikit demi sedikit dengan kesabaran yang panjang. Kini, yang tersisa hanyalah
ruang kosong. Dan di dalam ruang kosong itu, penyesalan duduk seorang diri,
menemaninya dalam sunyi yang tak lagi memiliki jawaban.
Air mata
mulai menggenang di pelupuk mata Arga. Dalam diam, ia melihat kembali
potongan-potongan hidup yang pernah dilaluinya. Terik matahari yang membakar
kulit saat bekerja. Peluh yang jatuh tanpa sempat dihitung. Rasa lelah yang
selama ini dipendam rapat-rapat di balik senyum dan keteguhan. Serta harapan
yang disusunnya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang sedang menata batu
demi batu untuk membangun sebuah jembatan menuju masa depan.Kini, semuanya
terasa runtuh dalam satu hari.
"Kenapa
ini?" bisiknya lirih.
Pertanyaan
itu melayang begitu saja di ruang kamar yang lengang. Tak ada jawaban.Yang
terdengar hanyalah suara kipas angin yang berputar pelan, mengaduk kesunyian
yang menggantung di udara. Malam
terasa begitu panjang. Arga melihat lantai tanpa tujuan, seakan ia mencari
sesuatu yang telah hilang dan tak mungkin ditemukannya lagi.
Pengalaman
pertama ini, ia merasa asing seperti di
negara orang. Ia malu kepada dirinya yang telah merelakan perjuangan dengan
sia-sia, malu kepada kedua orang tuanya yang senantiasa mengajarkan
rezeki yang baik lahir dari kesabaran dan kerja keras. Namun penyesalan selalu
datang setelah segalanya terjadi. Ia tahu, air mata tidak akan mengembalikan
apa yang telah hilang. Ratapan tidak akan memutar waktu ke belakang.
Perlahan,
Arga menundukkan kepala. Barulah ia sadar bahwa kemenangan yang semula sempat
membuatnya bersorak bahagia, justru umpan yang menyeret menuju jurang yang tak
pernah ia lihat sebelumnya.
Hari-hari
berikutnya berlalu dengan langkah yang berat. Arga berusaha
menenangkan pikirannya, meski penyesalan masih menetap di dadanya seperti tamu
yang enggan pulang. Hingga pada suatu sore, ia memberanikan diri berjalan
menuju rumah Iwan. Sesungguhnya, ada kegelisahan yang terus mengiringi
langkahnya. Ia ingin meminta bantuan.Namun lidahnya terasa kelu hanya untuk
membayangkannya.Tahun lalu, hubungan mereka sempat terusik oleh persoalan uang
dalam sebuah acara tujuh belasan. Meski masalah itu telah lama selesai,
kenangannya masih tertinggal di sudut hati Arga seperti noda yang sulit
dihapus.
Ketika
sampai di depan rumah sahabatnya itu, Arga menarik napas
panjang."Alhamdulillah, Iwan ada di rumah," gumamnya dalam hati.
Di emperan rumah yang
sederhana, Iwan tampak duduk santai. Asap rokok melayang tipis di udara senja,
bercampur dengan aroma kopi yang mengepul dari cangkir di tangannya.Melihat
kedatangan Arga, wajahnya langsung berbinar."Sini, Gaa. Duduk. Kita
ngobrol dulu. Nanti aku buatkan kopi. "Keramahan itu masih sama seperti dulu. Sehangat senja yang
perlahan turun di halaman rumah.
"Iya,
Wan," jawab Arga pelan.Ia duduk, meski kegelisahan di dadanya belum juga
reda. Keinginan untuk meminjam uang masih tertahan di
tenggorokan, seolah ada sesuatu yang mengikat kata-kata itu agar tidak keluar.
Tak lama
kemudian, Iwan kembali dengan secangkir kopi hangat."Nih, Gaa.
Kopimu."Cangkir itu diletakkan perlahan di atas meja.
"Makasih,
Wan," jawab Arga.Uap kopi naik perlahan ke udara, membawa aroma yang
biasanya mampu menenangkan pikirannya. Namun sore itu, kegelisahan di dalam
dadanya jauh lebih pekat daripada aroma kopi yang memenuhi teras rumah.
Di tengah
percakapan yang belum sempat mengalir jauh, pandangan Arga tertuju pada seorang
lelaki yang berjalan cepat dari arah barat.Itu ayah Iwan. Langkahnya panjang
dan tergesa. Wajahnya memerah seperti
langit senja yang terbakar matahari. Kerutan di dahinya menumpuk rapat, sementara
sorot matanya menyala oleh amarah yang sulit disembunyikan.Iwan segera berdiri.
"Pak,
kenapa?" tanyanya.
Namun
lelaki itu terus berjalan tanpa menjawab. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.Ia hanya
melintas seperti badai yang sedang menahan dirinya agar tidak pecah sebelum
sampai ke tujuan.
Beberapa
saat kemudian, dari arah belakang rumah terdengar suara bentakan yang memecah
kesunyian sore. Nada suaranya keras, penuh kemarahan, penuh kekecewaan. Arga
menangkap beberapa potong kalimat yang menyebut tentang utang dan kesulitan
hidup. Ia terdiam. Tangannya yang memegang cangkir perlahan melemah. Dadanya
terasa semakin sesak. Suara itu seperti cermin yang memantulkan keadaan dirinya
sendiri. Meski belum mengucapkan apa
pun kepada Iwan, ia merasa seakan sedang melihat bayangan masa depannya berdiri
di hadapan mata.
Sore
perlahan berubah menjadi senja. Dan di balik aroma kopi yang mulai mendingin, Arga hanya
mampu menunduk, membiarkan kegelisahan tumbuh semakin dalam di dalam dadanya.
Arga
berusaha mengusir kegelisahan yang sejak tadi menggelayuti pikirannya. Ia mulai
melempar beberapa candaan ringan kepada Iwan, mencoba mencairkan suasana yang
sempat terasa kaku. Di balik senyum yang dipaksakannya itu, ia diam-diam
menyusun keberanian yang sejak tadi tercekat di tenggorokan.Percakapan mengalir
perlahan seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Tawa sesekali terdengar
di antara mereka, meski di dalam hati Arga, kegelisahan masih duduk dengan
tenang dan enggan pergi.Ketika dirasa waktunya telah tiba, Arga menarik napas
panjang.
"Wan,
aku boleh pinjam uangmu dua ratus ribu rupiah?" tanyanya pelan.
Iwan
menatap sahabatnya itu sejenak, lalu menjawab tanpa banyak
pertimbangan."Boleh, Gaa. Tapi buat apa memangnya?"
Mendengar
jawaban itu, beban yang sejak tadi menekan dadanya terasa sedikit terangkat.
Namun pada saat yang sama, sebuah kebohongan perlahan lahir dari rasa takut
yang belum sanggup ia kalahkan."Buat beli kipas angin, Wan. Kipas di kamar
rusak kemarin."
"Oh,
begitu." Iwan mengangguk pelan."Ya sudah, tidak apa-apa."
Seketika
Arga mengucapkan terima kasih dengan senyum yang tampak lebih ringan daripada
sebelumnya."Terima kasih, Wan."
Sebetulnyadari
hatiada sesuatu yang terasa menusuk, Arga menyadari perkataan yang baru saja
keluar bukanlah kebenaran tetapi kebohongan, namun ia terpaksa ada rasa takut
dibenaknya jika diceritakan kisah yang sebenarnya, sahabatnya itu akan
memandangnya berbeda. Ia takut dinilai ceroboh, takut kehilangan kepercayaan
yang selama ini dijaga dengan baik.
Senja terus
merambat menuju malam. Kopi di dalam cangkir tinggal menyisakan ampas dan aroma
yang mulai memudar. Arga menghabiskannya dalam beberapa tegukan terakhir,
seakan ingin menelan sekaligus kegelisahan yang sejak tadi mengendap di dalam
dada.
Tak lama
kemudian, ia berdiri dan berpamitan. Iwan mengantarnya hingga ke depan halaman,
sebagaimana kebiasaannya setiap kali ada tamu yang pulang. Di sepanjang
perjalanan menuju rumah, langkah Arga terasa lebih berat daripada biasanya. Langit
di atas kepalanya perlahan menggelap. Angin sore berembus pelan, membawa
kesunyian yang membuatnya semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.Ia
mengingat kembali semua yang telah terjadi.
Harapan
yang sempat membuat terlena, kemenangan yang ternyata hanya fatamorgana, simpanan yang lenyap menjadi cacing bersama
mimpi yang indah. Dan sekarang sudah berbohong kepada sahabat yang selama ini
selalu memperlakukannya dengan tulus.
Penyesalan
kembali mengetuk pintu hatinya. Namun kali ini, di balik penyesalan itu tumbuh
sebuah kesadaran yang perlahan menjadi terang. Arga mulai sadar tidak ada jalan
pintas yang mampu menggantikan nilai perjuangan, uang yang datang terlalu mudah
sering pergi dengan cara yang lebih mengecewakan. Sedangkan rezeki didapat dari
kerja keras, meski lambat dan menguras tenaga tubuh, selalu membawa ketenangan
yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.
Sejak
itu, Arga berjanji tidak akan lagi
mengejar bayang-bayang keberuntungan yang menyesatkan. Ia tidak akan mudah
menyerahkan masa depannya kepada harapan-harapan semu yang menawarkan mimpi
sesaat. Arga memilih kembali jalan yang pernah menguatkannya, yang penuh peluh,
jalan yang penuh lelah. Namun, juga jalan
yang mengajarkannya kesabaran, kejujuran, dan harga sebuah perjuangan. Di bawah
langit yang mulai tenggelam ke dalam malam, Arga terus melangkah pulang. Dan
untuk kali ini setelah sekian lama penuh masalah, ia berjalan menuju dirinya
yang sebenarnya dan bertaubat.
_______
Penulis
M Waladul
Abror, lahir di ponorogo, 11
desember 2003. Hobi menggambar & menulis. mahasiswa semester 4 Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia kuliah di STKIP PGRI Ponorogo.
Kirim naskah
ke
redaksingewiyak@gmail.com


.jpg)
