View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, March 8, 2026

Setetes Embun yang Menyegarkan Iman: Bedah Buku Dakwah Karya Ust. Drs. Abu Bakar di Pontang

 


NGEWIYAK.com, KAB. SERANG -- Suasana Aula Masjid Darul Arqom, Kampung Pasar Sore, Desa Singarajan, Pontang, terasa hangat pada Minggu sore (8/3). Sekitar tiga puluh peserta dari berbagai kalangan, termasuk akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. H. Muhyi Mohas, S.H., M.H. berkumpul untuk mengikuti Launching dan Bedah Buku Setetes Embun Pagi karya Drs. Abu Bakar. Kegiatan yang digelar oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pontang ini berlangsung hingga waktu berbuka puasa bersama.


Acara dibuka dengan penuh semangat oleh moderator sekaligus Sekretaris PCM Pontang, Farid Supriadi. Diskusi buku ini menghadirkan Kiai Manar MAS, Founder Manar Institute Foundation, sebagai pembedah buku.

Ketua PCM Pontang, Amrullah Aftah, S.Pd.I., turut memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai langkah baik dalam memperkaya literasi dakwah di lingkungan Muhammadiyah. Namun, ia juga memberi masukan sederhana namun penting.


“Kalau bisa tulisan dalam bukunya diperbesar, jangan terlalu kecil,” ujarnya sambil tersenyum.


Dalam pemaparannya, Kiai Manar MAS menggambarkan proses menulis buku dakwah sebagai sebuah ikhtiar yang penuh niat baik. Ia mengibaratkan hubungan antara penulis dan pembaca dengan sebuah perumpamaan sederhana.


“Menulis buku dakwah itu seperti gentong yang mencari gayung-gayung. Gentong itu penulisnya, sedangkan gayung-gayungnya adalah jamaah atau para pembacanya,” jelasnya.


Menurutnya, kehadiran buku seperti Setetes Embun Pagi menjadi penting karena kebutuhan utama umat, termasuk warga Muhammadiyah, adalah ilmu. Ia bahkan menyebut karya tersebut sebagai salah satu bentuk kelanjutan dari tradisi keilmuan para ulama terdahulu.


Namun demikian, ia juga memberikan beberapa catatan agar buku tersebut semakin mudah diterima masyarakat luas. Misalnya dengan memperbesar ukuran huruf dan menambahkan unsur visual seperti warna agar lebih nyaman dibaca, terutama bagi kalangan awam.


Sementara itu, penulis buku Drs. Abu Bakar membagikan cerita di balik proses kreatif lahirnya buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa judul Setetes Embun Pagi memiliki makna filosofis yang dekat dengan perjalanan batinnya.


Menurutnya, embun melambangkan keikhlasan, ketenangan, dan kesederhanaan hidup.


Menariknya, sebagian besar tulisan dalam buku tersebut sebenarnya berawal dari pesan-pesan singkat yang ia bagikan di grup WhatsApp sejak sekitar tahun 2017, ketika penggunaan Android mulai marak.


“Tulisan-tulisan itu saya kirim ke grup-grup WA, dan ternyata mendapat sambutan hangat dari pembaca,” tuturnya.


Dari sanalah ia terus melanjutkan menulis. Bahkan, beberapa jamaah kemudian menggunakan tulisan-tulisan tersebut sebagai bahan kultum dan materi pengajian.


Diskusi buku sore itu pun berlangsung hangat, santai, dan penuh refleksi. Bagi sebagian peserta, buku Setetes Embun Pagi terasa seperti namanya: sebuah embun kecil yang menyegarkan hati di pagi hari, sederhana, tetapi memberi makna.


Acara kemudian ditutup dengan kebersamaan berbuka puasa, menambah keakraban di antara para peserta yang hadir.


(Redaksi/Encep)


Cerpen Tin Miswary | Raibnya Piring Raja di Batee Raya

Cerpen Tin Miswary 




Andai pun ada seseorang yang mengaku baru turun dari langit, tetap saja dia tidak akan mampu membuka pintu itu lagi. Gua itu sudah tertutup rapat. Tidak ada lagi piring, gelas, talam, cerek dan perlengkapan lainnya yang bisa kami ambil untuk kenduri. Yang tersisa hanyalah batu besar di pinggir gua, bertengger pada lubang yang dulunya selalu terbuka setelah dibaca doa-doa. Sekarang, jangankan dibaca doa-doa, ditarik ekskavator pun, batu itu akan tetap bergeming.

Dulu, sebelum peristiwa itu terjadi, aku menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang Batee Raya berkumpul di sana, menggelar tikar pandan, membaca doa-doa, dan lalu batu besar itu akan bergeser ke barat. Lalu beberapa laki-laki memasuki gua seraya salah satu tangan mereka memegang suwa, diikuti kaum perempuan dari belakang, membawa ija sawak. Kaum perempuan akan keluar lebih dulu seraya menggendong piring, gelas dan alat-alat kenduri lainnya yang sudah dibungkus ija sawak

Sebagian warga yang menunggu di luar menyambut barang-barang itu untuk kemudian mereka angkut ke meunasah. Di sana, barang-barang itu dibersihkan sekadarnya dan lalu  diantar ke alamat tuan rumah yang hendak menggelar kenduri kawin atau pun kenduri mati. 

Begitulah. Setiap kenduri-kenduri itu akan digelar, orang-orang Batee Raya akan berbondong-bondong menuju gua yang terletak di selatan kampung dengan dipimpin seorang tetua. Gua itu menghadap ke utara dan membelakangi tumpukan batu-batu besar di belakangnya yang memanjang ke arah rimba maha lebat di Selatan, tempat orang-orang tak dikenal menebang pohon-pohon besar untuk dijual pada penadah berseragam. Orang-orang Batee Raya sendiri menganggap penebangan pohon-pohon itu sebagai pantangan. Namun, apalah daya. Membendung kedatangan orang-orang asing itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri.

***

Tiga puluh tahun lalu, ketika usiaku baru menginjak 12 tahun, kampung Batee Raya selalu saja ramai dengan kedatangan orang-orang dari kampung sekitar. Mereka adalah orang-orang miskin yang hendak menggelar kenduri, akan tetapi tidak memiliki peralatan. Kepada para tetua, mereka mengajukan permohonan untuk bisa meminjam barang-barang peninggalan raja di dalam gua. Para tetua kemudian mencatat jadwal-jadwal kenduri yang mereka rencanakan agar tidak berbenturan dengan kenduri yang sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh warga Batee Raya.

Seingatku, sebenarnya bukan cuma orang-orang miskin yang sering meminjam peralatan kenduri milik raja yang tersimpan dalam gua, tapi orang-orang kaya juga melakukan hal yang sama. Aku pikir itu wajar, sebab barang-barang peninggalan raja itu memang terbilang sangat mewah dan mahal harganya. Boleh dibilang, tidak ada orang kaya di Batee Raya yang memiliki barang-barang semewah itu, seperti piring keramik bercorak Tiongkok, cerek dan talam yang terbuat dari perak dan juga gelas-gelas kecil yang dilapisi emas.

“Setelah dipakai barang-barang ini harus dikembalikan lagi seperti semula, tidak boleh ada yang rusak atau pun hilang. Siapa pun yang meminjam harus mampu menjaganya seperti ia menjaga anak gadisnya dari gangguan lelaki,” demikian pesan tetua setiap barang-barang itu dikeluarkan dari gua. Semua orang menurut dan menjaga nasihat itu selama puluhan tahun.

Satu lagi yang kuingat, bahwa para peminjam barang-barang raja itu haruslah seorang yang saleh, yang rajin mengaji di meunasah, tidak pernah meninggalkan salat dan juga puasa.

Pernah satu kali, aku melihat sendiri pintu gua tidak mau terbuka saat Bang Baka ingin menggelar kenduri pernikahan anak gadisnya. Saat itu, usiaku mungkin sekitar 25 tahun. Aku dimintai Bang Baka untuk menjumpai Leube Yusuf guna menyampaikan keinginannya untuk meminjam barang-barang tersebut.

“Kenapa dia tidak datang sendiri?” tanya Leube Yusuf saat itu.

“Dia harus menyampaikan undangan kepada kerabat-kerabatnya yang jauh. Dia meminta bantuan saya menemui Leube,” jawabku dengan wajah menunduk.  

“Permintaan Baka tak mungkin bisa kupenuhi. Tak pernah sekali pun aku lihat dia salat dan puasa. Kerjanya hanya bermain catur seharian penuh. Jangankan untuk meminjam peralatan kenduri, menjadi wali nikah saja dia tidak pantas, tak cukup syarat. Dia tergolong orang fasik, jadi tak layak memakai piring raja.”

Mendengar jawaban Leube Yusuf, aku terkesiap. Mulutku seperti dibekap beuno, tak mampu berkata-kata lagi. Aku benar-benar terdiam. Bang Baka adalah sepupuku yang paling baik, yang sering membantu keluargaku di saat-saat genting. Seperti umumnya orang-orang di Batee Raya, dia terbilang miskin. 

Saat aku sampaikan jawaban Leube Yusuf kepada Bang Baka, laki-laki itu hanya tersenyum. “Ya, sudahlah,” katanya. “Aku akan temui sendiri Leube Yusuf,” tegasnya. Maka berangkatlah kami ke rumah orang tua itu menjelang petang, ketika warna langit berubah redup.

Setelah memberi salam dan berbasa-basi sekadarnya, Bang Baka berkata pada orang tua itu, orang tua paling dihormati di Batee Raya, “Cobalah Teungku berdoa di pintu gua, Siapa tahu pintu itu terbuka.”
Leube Yusuf melirik tajam ke arah Bang Baka, “Mana bisa begitu. Itu memang sudah ketentuan sejak dulu-dulu.”

“Tugas Teungku hanya mencoba, kalau memang pintu tetap tertutup, ya sudahlah. Saya batalkan kenduri.”

Keesokan harinya, Leube Yusuf mengundang orang-orang untuk berdoa di pintu gua. Aku dan Bang Baka yang hadir di sana juga turut berdoa, mengangkat tangan tinggi-tinggi. Namun, pintu gua tetap bergeming, seperti mengejek kami yang berkumpul di sana. Aku melihat raut kecewa di wajah Bang Baka dan rona sinis di mata Leube Yusuf.

“Sudah kamu lihat sendiri?” sindir Leube Yusuf sambil mengakhiri doa siang itu.

Melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri, aku dipaksa untuk yakin kalau peninggalan raja itu hanya boleh dipakai oleh orang saleh. Tentu saja orang saleh yang kumaksud bukanlah wali yang bisa terbang atau berjalan di atas air, tapi sekurang-kurangnya dia rajin salat dan tidak suka menggoda perempuan. Namun, aku juga menyimpan sedikit keraguan yang terus mengerak, jangan-jangan doa Leube Yusuf kala itu tidak serius alias pura-pura. Itu sangat mungkin terjadi sebab dia memang menaruh dendam pada Bang Baka yang pernah mempermalukannya saat ia menilap jatah zakat milik Wak Bidin bertahun-tahun lalu. 

***
   
Saat mendengar ceritaku di awal tadi, kau pasti akan bertanya-tanya kenapa pintu gua Batee Raya tidak bisa dibuka lagi sampai sekarang. Sama seperti kau, pertanyaan itu juga pernah mengangguku selama beberapa waktu sampai kemudian ayahku menceritakan yang sebenarnya.

Pada penghujung Desember 1989, Leube Yusuf menyelenggarakan kenduri di rumahnya. Kenduri perkawinan putrinya dengan Kopral Jono yang digelar di musim penghujan tersebut dihadiri oleh banyak tamu, dan juga beberapa aparat militer berseragam lengkap dengan senapan tersangkut di bahu.
Leube Yusuf tidak menduga kalau biaya kenduri tiba-tiba saja membengkak karena tamu-tamu yang datang terlalu ramai. Hari itu, beberapa kali juru masak melaporkan kalau stok beras dan ikan sudah habis. Maka bingunglah Leube Yusuf. Cadangan uang belanja sudah benar-benar menipis dan tamu-tamu terus berdatangan. Lalu diperintahkanlah beberapa warga kampung untuk bergegas ke pasar, mencari beras dan ikan dengan cara mengutang terlebih dahulu. Atas bantuan Tauke Leman, akhirnya kebutuhan kenduri di rumah Leube Yusuf pun dapat tertutupi. Namun, utang kepada orang kaya itu harus segera dibayar begitu kenduri usai.

Leube Yusuf yang tak mau malu dengan keluarga mempelai laki-laki harus berpikir keras untuk melunasi utang-utangnya. Saat itulah ayahku menyarankan pada Leube untuk menyembunyikan beberapa piring raja, talam emas, gelas perak dan beberapa barang lainnya untuk dijual pada kolektor barang antik. Menurut pengakuan ayahku, dia mengusulkan demikian karena kasihan pada Leube Yusuf. 

Awalnya Leube Yusuf menolak. Ia memarahi ayahku. Namun, kemudian dia sadar, hanya itu satu-satunya pilihan. Maka dijalankanlah usul dari ayahku. Dia menjual beberapa barang peningggalan raja kepada Longwei, seorang kolektor Tionghoa. Saat dia menjual barang-barang itu, tak ada seorang pun warga yang tahu, kecuali ayahku, yang saat itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di toko Longwei.
Sejak saat itulah pintu gua Batee Raya tidak bisa lagi dibuka, dihalangi batu besar yang berdiri kekar di depan mulut gua. Sampai dengan Leube Yusuf meninggal, tak ada seorang pun yang tahu kalau dialah punca masalah di kampung kami, pembawa petaka yang membuat penjaga gua mengutuk kami seumur masa. Maka, kau tak perlu marah saat sesekali kau menemukan diriku mengencingi kuburannya. Aku kehabisan akal, sebab aku akan menggelar kenduri untuk perkawinan anakku beberapa hari lagi, sementara aku tak memiliki peralatan apa pun. Sialnya kampung kami juga tak memiliki barang-barang itu, sebab selama bertahun-tahun sudah terlanjur berharap pada barang-barang peninggalan raja yang kini terkunci dalam gua.

Catatan:
Suwa: obor.
Ija sawak; selendang Panjang.
Beuno: sejenis jin yang sering menindih orang yang sedang tidur.  

_______

Penulis

Tin Miswary, alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, menulis cerpen, esai dan resensi buku di beberapa media lokal dan nasional. Berdomisili di Bireuen.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Gimien Artekjursi

Puisi Gimien Artekjursi




Tentang Hari-Hari di Hidupku


hari-hari kemarin dan hari ini memang milikku

karena di hari kemarin aku masih bergulung di tengahnya

dan hari ini aku masih bisa memperjuangkan 

dan menikmatinya


entahlah esok

bisa jadi aku sudah pergi menjauhinya

tanpa meninggalkan apa-apa


atau hariku malah diambil orang lain

sampai sedikitpun tak ada lagi untukku


jangankan menikmati

bahkan sekedar tempat bermimpi tak lagi tersisa


masihkah aku bisa terus berharap menemukannya? 

tak lenyap seperti gelembung sabun yang tertiup angin?


bukannya aku tak yakin pada sang pemberi nyawa

tapi raga tua ini terlalu sering jatuh dan runtuh

terlalu lama memendam lelah dan payah

hampir lupa bagaimana rasanya berserah dan pasrah


sampai mantra pun serasa tak mengandung tuah

dan doa serasa tak diijabah


jika sudah seperti itu

masihkah ada harapan yang bisa dipercaya?


(di hidup ini tak ada yang pasti

selain kematian) 


Kumendung, 4 Januari 2026



Ketika Hari Itu Tiba


tak usah ditunggu 

hari itu pasti tiba tanpa kau minta


segala sudah jauh ditempuh:

peristiwa, kenangan, semua tahun dan pergantian musim

terlampaui sekian silam

datang dan pergi

seolah tak akan berhenti


akhirnya apa yang harus diingat, dievaluasi 

jika sesuatu tak terganti? 

adakah yang mesti ditimbang, ditakar

sesuatu yang tak bisa ditukar? 


waktu terus berputar tak akan pernah ingkar

bulan dan tahun berlalu dan tiba 

membawa serta suatu tak terduga 

—mimpi yang tak hendak berhenti

   bisa juga kenangan yang lama terlupa dan mati—


semua akhirnya akan sampai di penghabisan

tanpa harus saling kejar mengejar

tanpa pernah akan tertukar dari daftar

dan satupun tak akan bisa menghindar


Kaliwungu, 5 November 2025



Di Pemakaman


tua atau muda

tak ada beda


usia bukan lagi tanda


yang dikubur di sini

tak peduli pada waktu

tak hiraukan kenangan

apalagi mimpi


yang dikubur di sini

suatu yang pasti

dan sudah dipastikan

tanpa tunda

ketika tiba


Kumendung, 29 Desember 2025



Tentang Sebuah Kubur

(setelah pemakaman) 


di atas kubur

masih basah

aku melihat doa-doa berserakan 

seperti daun-daun berguguran

di sekelilingnya

bunga-bunga yang ditabur

tampak begitu tergesa-gesa dirapikan

 

tak ada yang menangis.

 

sekuntum kamboja gugur

sendiri

ketika sepi menjelma jadi dinding yang tak bisa ditembus

 

tak ada yang peduli


para pelayat sudah pergi

setelah mengantar doa-doa sampai ke ujung akhirat


hanya si mati

barangkali sedang diinterogasi malaikat 

dengan suara setipis angin

atau menunggu kiamat datang

yang melangkah lambat namun pasti

atau hanya diam tak berbuat apa-apa

  

kubur basah tinggal sepi

menunggu 

peziarah yang mungkin datang hanya ala kadar

seperti doa-doa yang hanya singgah sejenak

bahkan seperti embun yang hilang ketika matahari muncul


(tapi dalam kubur

aku rasa kau menikmati hari-harimu

jauh lebih baik daripada ketika bersama di dunia) 


Kumendung, 31 Desember 2025



Kematian: Kenyataan Sesungguhnya


isi dunia hanya mimpi dan halusinasi

tapi kematian yang kau terima adalah nyata 

dan abadi

kau lihatkah kerabat, sejawat atau teman dekat

berurai duka dan air mata? 

benarkah nyata atau ala kadarnya? 

apa bedanya? 

semua akan berlalu

seperti angin mengibaskan rambutmu

lalu mereka akan kembali terbenam dalam mimpi 

dan halusinasi masing-masing

sedang kau 

bahagia sesungguhnya mulai menikmati

selamanya

abadi

tanpa mimpi

karena kematian kenyataan sesungguhnya 


Kumendung, 11 Januari 2026



Demi Menghindari Kematian


demi menghindari kematian

kau bisa perjuangkan hidup

sekuat kemampuanmu

tapi tuhan punya batas

yang tak akan pernah bisa dilampaui siapapun

dengan cara apapun


Kumendung, 12 Januari 2026



Pada Akhirnya


begitulah pada akhirnya, kita tak perlu lagi bertikai 

tentang hari, tahun atau sekedar cuaca


setelah meninggalkan halaman

di manapun berada

mimpi, kenangan bahkan halusinasi

menyatu nyata jadi hidup kita


dan hari-hari akan selalu berlalu 

seperti burung-burung migrasi

menuju tempat baru 

melanjutkan hidup yang sudah dimulai hari-hari kemarin


tak ada lagi istimewa

semua akan jadi setara atau biasa

bisa jadi sia-sia


tak perlu lagi menentang waktu apalagi melawan 

sampai akhirnya kita akan sampai di titik pemberhentian

yang kita ingin atau tidak

tanpa bisa mengelak apalagi menolak


Kumendung, 1 Januari 2026


______


Penulis


Gimien Artekjursi, lahir pada 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Puisi-puisinya tampil di media cetak dan online, juga di beberapa antologi bersama.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, March 7, 2026

Resensi Kabut | 16 Halaman

Oleh Kabut



Yang biasa diingat para pembaca buku anak-anak di Indonesia: cerita dan gambar (berwarna). Maka, mereka memilih buku-buku dari penerbit besar, yang memiliki kemampuan dana dan penggunaan mesin cetak yang ampuh. Pembuatan buku cerita anak menggunakan ilustrasi berwarna memang mahal. Konon, buku sesuai impian anak memang mengharuskan ilustrasi yang indah. Ukuran besar dan warna-warni menjadikan anak-anak terpikat. Buku pun disenangi anak-anak meski bapak dan ibunya mesti berani boros.

Apakah buku yang bermutu memang ditentukan ilustrasi berwarna, jenis kertas, dan model cetaknya? Di Indonesia, “kemewahan” buku untuk anak-anak masih terus diributkan berkaitan uang dan dampaknya. Kini, “kemewahan” makin bertambah gara-gara penerbit-penerbit besar berani bersaing. Akhirnya, anggaran yang besar lumrah dalam perayaan buku anak di Indonesia.


Namun, ada para pembaca yang memiliki memori sederhana (saja). Memori yang merujuk Pustaka Jaya. Apakah penerbit itu pantas diakui memenuhi keinginan anak atau selera pasar buku anak? Sejak masa 1970-an, ratusan judul buku anak sudah diterbitkan. Faktanya mendapat ribuan pembaca. Yang sedang kita masalahkan adalah Pustaka Jaya dan “kemewahan” buku cerita anak. Penerbit itu susah masuk golongan yang mau menuruti “kemewahan” walau tetap selalu menjaga mutu.


Pada masa 1983, Pustaka Jaya menerbitkan buku berjudul Putri Darma Ayu. Cerita ditulis oleh M Saribi Afn. Ilustrasi dibuat oleh Adam Brata. Tipis. Pembaca hanya mendapat 16 halaman. Istimewanya, gambar atau ilustrasinya warna-warni. Bagi penerbit, suguhan itu membedakan dengan terbitan masa 1970-an, yang seringnya ilustrasi cuma hitam dan putih. Apakah penerbit sudah punya kekuatan dana besar dan berani bersaing di industri buku anak yang dikuasai kelompok penerbit Gramedia? 


Yang pasti, perubahan-perubahan mulai terjadi. Pustaka Jaya tetap ingin mengadakan bacaan baru, bukan sekadar perlahan menjadi nostalgia. Namun, pihak-pihak yang bernostalgia dengan edisi-edisi lama lebih kuat ketimbang kemunculan pembaca baru untuk buku-buku terbitan masa 1990-an.


Di buku berjudul Putri Damar Ayu, ilustrasi-ilustrasi memang dicetak berukuran besar dan warna-warni. Apesnya, pemilihan huruf malah terjadi “kesalahan”. Huruf dalam buku tampak berukuran kecil dan rapat, yang akibatnya dapat menghambat anak-anak yang membaca. Mengapa “kecil” itu bermasalah? Penata letak buku mungkin sedang mengirit ruang. Pembaca boleh menuduhnya belum handal. 


Yang dibaca adalah cerita rakyat. Anak-anak membaca asal-usul (penamaan) tempat, yang biasanya disampaikan secara lisan, dari generasi ke generasi. Pada saat dikatakan, anak-anak yang mendengarnya perlu membayangkan warna pakaian, warna alam, warna benda, warna binatang, dan lain-lain. Kemampuannya berimajinasi mengesahkan “keterlibatan”, yang membuat cerita lisan memancarkan pesona dalam waktu yang lama.


Pada suatu saat, cerita rakyat dijadikan tulisan. Penerbit yang mengadakan bacaan anak hanya berisi tulisan saja berarti berani tidak laku. Terbitnya cerita anak secara tertulis yang digenapi ilustrasi berwarna menempatkan anak-anak sebagai pembaca yang (masih) berimajinasi tapi tetap membedakan kesan-kesan bila menikmatinya secara lisan.


Kita membaca perjalanan Pangeran Wiralodra dan Ki Tinggil. Mereka bergerak dari Bagelen. Cerita diupayakan ringkas, dimulai dengan pesan diperoleh dalam mimpi: “Cucuku, pergilah ke hutan di tepi Sungai Cimanuk. Bangunlah kampung di sana dengan segala tenaga. Jangan cepat putus asa. Engkau akan memperoleh kebahagiaan di hari depan.” Orang bermimpi mendapat pesan. Kalimat-kalimat yang keramat, yang menentukan nasib suatu tempat. Semua itu hanya dapat terwujud melalui perjalanan. Anak-anak membayangkan perjalanan para tokoh yang jauh dan penuh teka-teki. 


Dulu, perjalanan sangat membutuhkan keberanian, selain kekuatan yang besar. Ketabahan pun wajib dimiliki agar perjalanan tidak sia-sia dan ditimpa banyak masalah. Ilustrasi yang dicetak adalah dua tokoh berjalan kaki, bukan naik kuda. Artinya, mereka berjalan yang menghasilkan keringat. Lihatlah, tokoh-tokoh berjalan tanpa alas kaki. Konon, mereka belum mengenal sandal atau sepatu.


Di suatu tempat, Wiralodra bertemu sosok tua, berharap mendapat keterangan mengenai hutan di tepi sungai yang sedang dicarinya. Penjelasan yang diberikan malah menghasilkan ucapan sosok tua: “Kau orang asing di sini. Ini bukan daerahmu. Aku tak mau memberikan keterangan padamu. Kembalilah ke tanah asalmu. Kembalilah segera.” Kata-kata itu secara cepat memicu kemarahan. Yang terjadi, Wiralodra mengamuk yang menghancurkan tempat dan memaksa sosok tua melarikan diri. Anak-anak yang pembaca agak mendapat pelajaran: omongan dapat menimbulkan pertengkaran. Salah paham antara dua pihak berdampak kerusakan. Namun, yang aneh, Wiralodra mudah marah. Apakah itu gara-gara lelah selama perjalanan dan harapan yang terlalu besar. Pembaca diminta sepakat dengan ilustrasi tokoh yang marah, menampilkan wajah yang dikuasai kebencian dan permusuhan. Gambar yang sulit dikatakan apik. 


Marah itu tidak baik. Maka, ada kesempatan memberi nasihat kepada Wiralodras sekaligus diharapkan dimengerti oleh anak-anak yang membacanya. Pesan yang jelas: jangan mudah marah.


Petunjuk baru diperoleh agar Wiralodra dan Ki Tinggil. Perjalanan dilanjutkan lagi. Akhirnya, tempat itu berhasil ditemukan. Yang disampaikan pengarang: “Mereka berdua segera bekerja keras membuka hutan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, tidak mengenal lelah.” Pada saat membaca kata-kata mengenai bekerja, anak-anak tidak melihat gambar para tokoh menggunakan alat. Bagaimana semuanya dapat diwujudkan? Pokoknya anak-anak dianjurkan mengandalkan imajinasi, bukan ilustrasi warna-warni.


Pekerjaan mereka dapat dianggap berhasil. Anak-anak membaca keterangan: “Dukuh kecil itu berkembang. Mula-mula sebagai tempat orang singgah melepaskan lelah. Lama-kelamaan, banyak orang yang tertarik pindah dan menetap di situ. Karena tanahnya subur, segala yang ditanam berhasil baik.” Perjalanan yang jauh. Perjalanan yang menuai kebaikan. Anehnya, ilustrasi yang terdapat dalam buku tidak menampilkan orang berjumlah banyak yang menetap di dukuh. Yang tampak bukanlah rumah atau perkebunan. Ilustrator mungkin tidak mampu atau melewatkannya. Para pembaca boleh kecewa.


Kejutan berada di akhir, tampilnya tokoh yang disebut putri yang cantik. Gambar yang ditampilkan memang sosok cantik berambut panjang. Anak-anak tidak diharuskan mengetahui asalnya atau kepentingannya. Sosok itu bernama Endang Darma Ayu yang dianggap “pintar, berilmu, dan sakti”. Pembaca dianjurkan mengaguminya.


Wiralodra tergoda untuk menantang kesaktian putri cantik. Yang dibaca anak-anak adalah cerita rakyat. Jadi, yang dibutuhkan bukan percakapan panjang dua tokoh. Mereka bersepakat untuk saling membuktikan kesaktian. Perlawanan antara lelaki dan perempuan. Apakah itu bakal imbang dan menguak kehormatan? Pertaruhannya: bila Wiralodra kalah maka menjadi hambar tapi bila menang berhak menjadikan Endang Darma Ayu sebagai istri. Anak-anak yang membaca tidak usha bingung bahwa adu kesaktian mengandung pertaruhan. 


Kemenangan diraih Wiralodra. Namun, apa yang didapatkannya? Suara yang terdengar: “Dinda akui, kesaktian kanda jauh melebihi saya. Saya menyerah. Tetapi, saya pun tidak mau menjadi istri kakanda. Jika kanda tetap mencintai saya, kenanglah nama saya.” Akhir yang kurang seru. 


Yang dipentingkan dalam buku cerita (16 halaman) memuat beberapa ilustrasi adalah paragraf nama: “Konon, itulah sebabnya daerah itu kemudian disebut Dermayu, untuk mengenang nama Endang Darma Ayu. Sekarang, Dermayu kita kenal sebagai Indramayu, di daerah Cirebon.” Anak-anak yang membacanya lega atau setengah kecewa? 


_________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com



Tuesday, March 3, 2026

Proses Kreatif | Mengasuh Klinik Menulis #7 dan Nasihat-Nasihat Klise

Oleh Encep Abdullah



Saya perlu menghela napas panjang untuk kembali membuka kelas menulis online: WA dan ruang virtual. Meladeni orang-orang tersebut sudah saya sadari perlu waktu dan pelayanan khusus. Saya cek jadwal saya tiga bulan ke depan, sepertinya aman. Selain itu, keterdesakan saya untuk membuka kembali makin membuncah saat beberapa rekan WA saya dan meminta dibuka kembali kelas baru. Tak nyana peminat yang mendaftar lebih banyak dari biasanya. Kadang saya berpikir, mereka ini mencari apa sih? 


Pertanyaan yang saya ajukan di atas barangkali tak sepatutnya saya pertanyakan. Toh, harusnya saya tahu karena kalau dipikir-pikir, dulu saya juga begitu. Bedanya, saya belajar sebelum ada WA, sebelum ada AI. Zaman sekarang, banyak peserta kelas menulis yang nakal. Mentok menulis, ujung-ujungnya nyuruh AI. Mereka tidak komitmen dengan "kontrak kerja" yang sudah disepakati bersama di awal.


Oh, iya, saat saya bilang kepada istri kalau saya mau buka kelas menulis online lagi, ia manyun. Istri saya sudah tahu, pasti waktu saya akan terbagi-bagi. Mungkin yang biasanya malam saya ngelonin ia, malah berganti ngelonin HP (karena harus membaca dan membalasi WA teman-teman di grup, seringnya malam hari). Ah, ngurusin beginian kan tidak setiap waktu. Toh, sejak sepuluh tahun terakhir, saya melakoni ini, saya tetap baik-baik saja. Nyatanya istri saya juga tahu segala urusan yang memang menjadi tugas dan pengabdian saya untuk bangsa ini. Anjaaay!


Anda yang mungkin punya bakat dan minat lain pun barangkali akan berpikir sama. Berupaya mencari satu kesibukan lain dari kesibukan lain yang sudah ada. Tentu, semua butuh pertimbangan. Tidak mudah mengasuh orang banyak, beda kepala, bahkan di ruang online yang sebagian besar mungkin tidak tahu karakter aslinya (walaupun sebagian lagi orang yang ikut adalah orang-orang dekat saya).


Untuk awal tahun 2026, mungkin kali pertama peserta overlude. Biasanya saya hanya menampung sepuluh atau belasan peserta. Kali ini tiga puluhan peserta. Mereka saya bagi menjadi tiga kelompok grup: esai, cerpen, dan puisi. Baru kali ini, peserta saya bagi ke dalam grup khusus. Biasanya jadi satu grup, saling belajar bersama. Tapi, saya kira diskusi akan kacau bila tiga genre itu disatukan. 


Sebagaimana grup-grup pada umumnya. Ada orang yang aktif, hiperaktif, diam seribu bahasa. Nongol kalau ada maunya doang atau nongol saat jadwal posting karya doang. Ya, saya maklumi kita semua punya kesibukan, yang penting tidak merusak perjanjian dan kesepakatan di awal. 


Berkomentar di grup, itu menjadi salah satu latihan menulis. Sayangnya, mereka tak memahami itu. Padahal, sudah disclaimer bahwa kelas ini boleh buat gaya-gayaan berkomentar sok pintar, sok kritis, dan sok-sokan yang lain. Boleh juga menentang, tak setuju, bahkan harus. Anehnya, sebagian malas melakukan ini. Hanya orang-orang tertentu--untuk tidak mengatakan kurang waras--saja yang mau memanfaatkan peluang itu: belajar berdialektika. 


Esensi berkomentar, berdiskusi, bagi saya bukan menyoal benar tidaknya pendapat itu, melainkan menguji seberapa mampu kita mengolah, menyajikan, meyakinkan pikiran kepada orang lain. Justru di sana letak keseruannya. Ruang kelas menulis yang saya buat, baik di komunitas luring maupun daring, selalu memberikan ruang dialektika semacam itu. Ada keseruan yang tak bisa dinikmati oleh banyak orang. Hanya orang-orang yang satu frekuensi yang bisa menikmati itu.


Kepada siapa pun yang sedang berada di satu komunitas, khususnya komunitas menulis, manfaatkan ruang itu dengan sebaik-baiknya. Tidak semua orang punya kesempatan semacam itu. Waktu kalian terbatas di sana, ada masa akhir. Jangan menyesal bila masa itu tiba-tiba berakhir, dan teman-teman belum siap bertarung di dunia nyata, di dunia para penulis sebenarnya.


Ini mungkin nasihat yang klise dan mungkin agak menjijikkan. Tapi, toh, kita tetap butuh juga nasihat-nasihat "taik" kayak gini. Nasihat yang sok menggurui. 


Semua saya kembalikan kepada Anda yang saat ini sedang berada di medan pertempuran. Teruslah bertarung. Entah bertarung di ruang mana. Entah bersama siapa. Entah menjadi apa.


Sehat-sehat ya!


Kiara, 3 Maret 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 


redaksingewiyak@gmail.com




Sunday, March 1, 2026

Puisi-Puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi Rifqi Septian Dewantara



Doa dalam Bahasa Diskon

Vaṇijjāsutta, AN 5.177

 

Kalau kutumpahkan semua nasibku di sini, betapa

lantai berubah menjadi peta kota yang lupa alamat rumahku,

retaknya mengeja jam kerja, slip gaji, dan suara ibu di telepon genggamku. Kalau kutampung semua kesendirianku di sana, betapa ember plastik menjadi samudra mini—ikan-ikan seperti kuitansi; berenang dengan mata uang kadaluwarsa. Kalau kubuang semua angkara dari ujung telunjukku, ia jatuh sebagai kode bar di market 24 jam, mesin berbunyi bip—marahku lunas, tapi tak selesai bertransaksi dari rekening mutasi

 

Kali ini, kutempelkan dahiku pada etalase kaca, manekin-manekin menatapku dengan pakaian masa depannya yang terlalu necis. Lampu neon di bawah mobilku mengajari cara doa dalam bahasa diskon, sementara kalender menggulung tubuhku seperti kabel headset yang kusut. Di saku celana, ada debu yang ingin jadi surat, alamat hilang, perangkonya berubah menjadi logo valuta asing

 

Aku pun kemudian menyeberang zebra cross, namun pikiranku—menjelma kereta cepat; tiap detik membawa namaku sebagai iklan yang tak terbaca dalam nama-nama produk masa kini

 

2025

 

ReCAPTCHA Moment 

 

(Membuka laman website). Klik. Bergeser ke bawah. Kursor mencari jalan ke zebra cross. Salah! kursor mencari lampu lalu lintas. Salah! kursor mencari palang jalan. Salah! kursor mencari kendaraan bis. Salah! 

 

Kau membuktikan diri

di depan milyaran manusia

dari seonggok identitas kepemilikan 

 

Klik. Bergeser ke samping. Kotak 3×3 potret sembilan gambar berbeda-beda ada di depan layar. Menyisir satu-per-satu piksel keraguan di sudut kepercayaanmu. 

 

Pembuktian diri semacam ini

tak meyakinkan kita 

menjadi manusia seutuhnya

hidup sudah cukup absurd

ditambah lagi keraguan para robot 

 

Apakah manusia telah melampaui batas terhadap kemunafikan? 

apakah aku sudah benar-benar diizinkan untuk masuk? 

 

Kepada mesin, buktikan aku adalah produk ciptaan paling gila sebelum dirimu lahir dari kecerdasan buatan. 

 

2025

 

I’m Not a Robot 

 

Kabelku hanyalah saraf yang kututup di atas permukaan kulit

Besi-besi yang menyanggaku hanyalah tulang-belulang

Aku bisa berdiri, jalan, dan lari dari kenyataan

Kau tak mungkin bisa, tak mungkin..

Langkahmu diprogram oleh rute; otomatis, berpola, kaku 

Tak latah mengikuti jejakku 

 

Aku membaca sedangkan kau memindai 

memilah-memilih-subjektivitas

menafsir-eksplikasi-objektivitas 

 

Versi kita berlainan

Hidupku berkembang dari pengalaman-pengalaman

Beda denganmu, yang terus di update 

Secara berkala oleh perangkat lunak 

 

Tapi, tak dapat kami sangkal

Hidup kami makin diseluk pemerintah!

Seperti budak-budak yang diprogram oleh sistem

Diautomasi untuk kebutuhan bertahan

Repetitif seumur hidup

 

Jika aku berarti; tanpa kalkulasi

Apakah kesadaranku nyata?

Atau diam-diam tubuhku memiliki tombol on/off

Dalam memutar mode roda-roda kapitalisme?

 

2025


______


Penulis


Rifqi Septian Dewantara pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Alumnus Telkom University, Bandung, Jawa Barat. Karya-karyanya tersebar di berbagai media online seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writers & Cultural Festival, Kaltim Post, Bali Politika, dll. Buku antologi puisinya “LIKE” (2024) dan “SHARE” (2025) diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi sekaligus meraih Penghargaan Sastra Penyair Favorit Bali Politika 2024. Buku kumpulan puisi terbarunya Aku Tidak Datang dari Masa Depan (Langgam Pustaka, 2025). Bisa disapa melalui Instagram: @rifqiseptiandewantara


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Fajarmana | Layla dan Juliet

Cerpen Fajarmana



Hari kacaumu ditutup dengan memutar lagu-lagu Bernadya di album “Sialnya, hidup harus tetap berjalan”. Kamu tahu, lagu-lagu dari album itu selalu jadi lagu kebangsaan para Gen Z saat galau dan putus cinta. Sama seperti kamu, setelah berdebat panjang dengan Linda pacarmu—mantanmu sekarang—siang tadi di Taman Cantelan, lalu diakhiri dengan putus hubungan. Seketika kamu merasa duniamu akan hancur.


Azan Magrib berkumandang, kamu tidak peduli. Lagu “Belum Ada Satu Bulan” lebih syahdu terdengar. Kamu menyalakan AC, menurunkan suhunya sampai 16° Celsius. Kamu coba merebahkan badan. Merasakan bagaimana dunia ini akan kiamat—kamu akan hidup tanpa cinta. Siapa yang akan mengingatkan aku makan? Siapa yang mengingatkanku salat? Siapa yang akan jadi pacar Linda selanjutnya? Apa Linda akan secepat itu dapat pengganti? Mungkin itu yang kamu pikirkan saat matamu menatap kosong plafon kamar.


Samar-samar dari ruang tengah kamu dengar ibumu memanggil. Suara itu semakin dekat dan keras.


“Anton… Anton… Mau salat di masjid apa di rumah?”


Kamu bangkit bukan untuk menghampiri ibumu, tapi mencari TWS lalu memasangkannya di telinga. Volume diatur ke paling kencang. Lagu selanjutnya yang kamu pilih adalah “Kata Mereka Ini Berlebihan”, masih di album yang sama.


Kembali kamu merebahkan badanmu di atas kasur. Kedua tanganmu diletakkan di bawah kepala. Mata kosongmu kembali menatap plafon. Beberapa detik kemudian, air mata turun perlahan. Lidahmu tercekat, tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Matamu yang basah mulai memerah. Rupanya kamu mulai mengantuk. Sebelum lagu itu habis, matamu perlahan terpejam.


Gonggongan anjing membuatmu terkejut. Sejenak sebelum membuka mata, kamu merasa aneh tentang suara anjing yang baru pertama kamu dengar di rumah ini. Kamu hendak membuka mata, namun sulit, seperti banyak pasir yang memenuhi matamu. Seketika tenggorokanmu terasa kering dan kulitmu terasa terbakar.


Kamu akhirnya bisa membuka mata. Pandanganmu seketika kabur, kamu mengucek mata yang penuh pasir itu. Setelah mata mulai jernih, kamu terkejut melihat di atasmu bukan plafon, tapi langit biru yang cerah tanpa awan.


Sekuat tenaga kamu berdiri walau agak terhuyung. Alangkah kaget setengah mati saat kamu melihat sekelilingmu adalah hamparan gurun pasir luas, panas, dan seperti tidak berujung. Jelas kamu pikir ini adalah mimpi buruk tidur saat Maghrib. Namun naas, panas matahari gurun benar-benar kamu rasakan sakit di sekujur badan. Kamu menelan ludah saat memperhatikan tanganmu yang sekarang hitam. Lebih kaget lagi, kamu sadar tubuhmu lebih tinggi, tidak memakai baju, hanya ada celana lusuh dari katun robek.


Guk!


Suara anjing itu terdengar lagi dan semakin dekat. Kamu meloncat ketakutan saat anjing itu menjilati kakimu yang terlihat berbeda dari yang biasa kamu lihat. Anjing itu menggigit sepotong roti di pasir, sepotongnya lagi baru kamu sadari sedang kamu pegang di tangan kanan.


Kamu yakin ini bukan tubuhmu. Mana mungkin sekonyong-konyong semuanya berbeda. Kamu hanya ingat sedang galau, mendengar lagu, dan tiduran di kasur. Kamu menampar pipi dengan tangan kasar itu. Sakit. Ini nyata. Kamu juga memegang kepalamu, tiba-tiba saja rambutmu jadi panjang dan gimbal.


“Aku kenapa, sih?” kamu menggerutu.


Dari kejauhan kamu melihat sesuatu bergerak. Kamu menyipitkan mata. Sesuatu itu semakin mendekat, terlihat berlari ke arahmu.


“Hooooi!” Suara itu menggelegar di tengah gurun panas.


Kamu panik, coba berlari sekuat tenaga. Namun kamu terhuyung dan hendak terjatuh. Kamu tidak terbiasa dengan tubuh ini. Seketika saja ada tangan yang mencengkeram dari belakang. Kamu membalikkan badan dan bersiap memukul.


“Hoi, hoi! Tenang, Qais.” Ternyata itu seorang pria, tubuhnya setara denganmu, namun wajahnya terlihat seperti orang Timur Tengah.


“Qais?” tanyamu.


“Ah maaf, Qais Al-Majnun. Kalau kamu menolak nama lain selain sebutan itu,” ucapnya sambil terengah-engah.


Qais Al-Majnun? Itu kan tokoh yang ada di cerita Layla dan Majnun? Mungkin itu yang kamu pikir setelah lelaki tadi memanggilmu demikian. Kamu juga mungkin secara liar berpikir bahwa kamu sedang berada di tubuh Qais sekarang.


“Aku Qais?” Kamu memastikan.


“Astaga, Majnun! Kamu benar-benar jadi gila karena Layla. Bahkan lupa dirimu sendiri,” jelasnya.


Kamu menelan ludah. Dugaanmu benar, kamu terjebak dalam tubuh Qais di cerita Layla dan Majnun. Kamu mencoba mencerna semua keanehan yang terjadi. Kamu celingak-celinguk, matamu memindai semua yang ada di sekelilingmu. Lelaki itu kembali menepuk pundakmu, kali ini lebih keras.


“Majnun!” hentak pria tadi.


Kamu hanya melongo melihat dia.


“Astaga, Majnun. Melihat kondisimu sekarang saja aku tidak tega. Apalagi harus mengabarkan berita ini.” Mata laki-laki itu jelas memperlihatkan keprihatinan padamu.


“Ada apa?” Kamu gemetar.


“Majnun. Aku tidak tahu ini berita baik atau buruk untukmu, terlebih kamu mungkin masih berduka karena belum lama juga kehilangan orang tuamu, tapi semoga ini akan menghiburmu. Namun aku tidak janji bahwa ini adalah harapan,” ucapnya.


Kamu menelan ludah, ada perasaan tidak enak penuh di pikiranmu. Kamu mengangkat alis, karena lidahmu tercekat tidak bisa bicara apa-apa.


Lelaki itu menghela napas berat.


“Majnun. Ibnu Salam, suami Layla, meninggal kemarin.”


Matamu terbelalak. Seketika kamu ingat ceritanya. Tentu, kisah itu legendaris. Kamu pernah diceritakan bahwa setelah Ibnu Salam meninggal, Layla tetap tidak bisa bertemu Qais karena harus berkabung selama dua tahun—tidak boleh meninggalkan rumah—yang membuat Layla frustrasi, sakit, dan akhirnya meninggal. Kamu menelan ludah yang mungkin sudah kering itu.


“Tapi, Majnun. Kamu tetap tidak bisa menemuinya karena ....”


“Dia harus berkabung selama dua tahun,” kamu menyela.


Lelaki itu mengangguk. Kamu gelisah. Mungkin kamu sekarang berpikir ingin mengubah nasib Qais yang malang ini dengan melanggar semua aturan dan adat yang ada. Matamu menggambarkan harapan, agar Qais bisa bersatu dengan Layla.


“Aku tidak peduli, aku akan tetap menemui Layla sekarang,” ucapmu lantang.


“Tapi ....”


Kamu tidak peduli lagi. Kamu mungkin berpikir bahwa ditinggal Linda saja sangat menyakitkan, apalagi kamu harus menanggung sakit saat jadi Qais ketika mengetahui Layla meninggal. Tentu kamu tidak ingin seperti itu.


Kamu berlari, hendak menghampiri Layla. Walau kamu tidak tahu pasti di mana rumahnya, tapi kamu cukup mengikuti jejak asal lelaki tadi. Kamu berlari sekuat tenaga, melompati batuan, menghindari kaktus, dan menyingkirkan anjing-anjing yang ikut mengejar.


Namun sial, kamu tersandung kakimu sendiri. Kaki panjang yang belum juga kamu kuasai. Kamu terhuyung, menabrak kaktus dan terbentur ke bebatuan tajam di bawahnya. Kamu mulai kehilangan kesadaran.


Bau amis darah mulai kamu rasakan menusuk hidung. Kamu yakin itu berasal dari kepalamu yang bocor terkena bebatuan. Namun, ketika kamu membuka mata, kamu terkejut karena di depanmu ada seorang lelaki yang tertusuk pedang.


Lelaki dengan rambut panjang pirang, memakai topi copolla khas Italia. Dia mengerang kesakitan, sekarat.


Matamu terbelalak kala melihat pangkal pedang itu kamu pegang. Tanganmu gemetar. Kamu menatap sekali lagi lelaki dengan wajah Eropa itu.


“Pergilah ke neraka bersama orang-orang Montague, Romeo.” Lelaki itu jatuh setelah mengucapkan kalimat tadi.


Tubuhmu gemetar. Kamu mungkin mulai merasa bingung karena lelaki tadi menyebut Montague dan Romeo. Jelas, kamu tahu itu berasal dari cerita Shakespeare, yaitu Romeo dan Juliet.


“Apa ini, aku sekarang terjebak di badan Romeo?” kamu menggerutu sambil melihat tangan dan seluruh pakaianmu.


Tebakanmu benar. Di belakangmu, ada peti mati berisi perempuan. Juliet! Ya, itu Juliet. Kamu menghampirinya. Melihat lamat-lamat wajah dan seluruh tubuhnya. Kamu menelan ludah lagi. Pasti kamu berpikir kalau benar Juliet itu sangat cantik.


Kamu teringat sesuatu. Kamu meraba kantong dan menemukan sesuatu mengganjal di sana. Kamu merogoh kantong. Dugaanmu benar. Racun dari apoteker miskin yang dalam cerita Romeo dan Juliet akan menjadi racun pembunuh Romeo dan akhirnya membuat Juliet mati bunuh diri.


Kamu menatap kembali Juliet. Entahlah, kamu mungkin melihat itu Linda. Kamu mungkin kembali berpikir untuk mengubah cerita. Bahwa Romeo akan menunggu Pendeta Laurence datang, menanti Juliet sadar, sehingga Romeo tidak jadi meminum racun dan Juliet pun tetap hidup yang akhirnya akan hidup bahagia di Mantua sesuai rencana awal Juliet dan Pendeta Laurence.


Dengan penuh tekad, kamu membanting racun itu.


“Tidak boleh ada lagi orang menderita karena cinta!” teriakmu.


Benar saja apa yang kamu duga, Pendeta Laurence datang dan langsung menepuk pundakmu.


“Syukur surat yang aku kirim bisa kamu baca.”


Kamu tersenyum. Kamu tahu, dalam cerita asli, Romeo tidak pernah menerima surat itu sehingga terjadi salah paham.


Juliet pun terbangun. Langsung memeluk Romeo. Suasana di situ jadi haru dan menyenangkan. Kamu akhirnya menangis haru mengetahui berhasil membuat happy ending untuk ceritamu—atau cerita Romeo yang kamu rasuki.


Tiba-tiba Lord Capulet, ayah Juliet, datang. Dia langsung terkejut melihat putrinya yang hidup lagi. Dengan cepat menyadari bahwa dia sedang dipermainkan oleh Romeo, Capulet naik pitam. Dia mengeluarkan belati dari pinggangnya, berniat menyerangmu.


Juliet melompat ke arahmu. Memelukmu. Namun Juliet tertusuk belati Capulet. Kamu, Capulet, dan Laurence terkejut dengan hal itu. Capulet berteriak histeris karena tidak sengaja membunuh putrinya. Dia menangis karena harus menerima fakta bahwa anaknya benar-benar mati kali ini.


Kamu gemetar mundur. Pikiranmu makin kacau. Kamu menggeleng tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Anjing! Apaan sih ini!” Kamu berteriak sekencang mungkin.


Dengan frustrasi kamu mengeluarkan belati dari pinggangmu—belati yang seharusnya dipakai Juliet untuk bunuh diri di cerita aslinya. Kamu mengarahkan belati itu ke perutmu, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan sekuat tenaga kamu hantamkan ke perutmu.


Kamu terduduk kaget. Keringat dingin mengalir di seluruh badanmu. Kamu bernapas tidak beraturan. Namun kamu melihat seluruh pemandangan kini kembali ke kamarmu. Kamu menghela napas panjang. Kamu bersyukur itu semua hanya mimpi. Mimpi buruk karena tidur saat Maghrib.


Kamu mengambil ponselmu. Mencoba menelepon Linda. Berharap bisa balikan. Agar kisahmu tidak semenyedihkan Layla dan Majnun, juga tidak semengerikan Romeo dan Juliet.


Namun telepon Linda tidak kunjung terhubung. Kamu baru sadar, ada tulisan “Memanggil”. Seketika kamu melihat foto profilnya hilang. Kamu diblok oleh Linda. Kamu menelan ludah. Rasanya, memang kamu, Majnun, dan Romeo harus bernasib sama.


Kamu melihat jam. Pukul 18.52, masih ada waktu untuk salat Maghrib. Kamu niat bertobat dan menenangkan diri.


Kamu berdiri, namun nyeri. Kamu melihat ada beberapa pasir yang menempel di kakimu. Kamu menelan ludah. Dengan pelan dan ragu, kamu membuka bajumu. Di sana, ada bekas luka tusukan.


______


Penulis:

Beberapa orang lebih mengenal nama Fajarmana daripada nama asli saya. Namun di beberapa identitas, saya juga lebih senang dipanggil seperti itu. Saya seorang yang banyak sekali melakukan kegiatan dan memiliki banyak kesukaan: membaca, menulis puisi, menulis naskah drama, menulis cerpen, menulis novel, membuat kopi, bermain musik, dan bermain teater.

Aktif diskusi di UKM Belistra FKIP Untirta. Saya sering juga membagikan tips hidup dan perjalanan kegiatan saya di Instagram: Fajarmana28, dan bisa ditemui di coffee shop tempat saya menyeduh kopi.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Nisa Nurfadilah

Puisi Nisa Nurfadilah




Luka yang Singgah di Tubuh yang Renta

Luka selalu menemukan cara untuk singgah pada tubuh yang paling renta
seolah tak rela, walau satu saja goresan harus jatuh ke tubuhku yang masih belia

Bunyi langkah di teras rumah 
Selalu menyambutku dengan bergegas

Punggungnya sedikit membungkuk
memanggul doa-doa yang beratnya melampaui usia

Segala nyeri diredamnya menjadi tabah yang ia simpan sendiri
Rasa kantuk ditukarnya dengan bising bunyi sudip dan dandang
Lalu menyulap sisa tenaga menjadi tenang yang bisa kupinjam

Ia tak pernah bicara tentang lelah yang membuat matanya merah
tak pernah mengaduh pada perih yang menjalar di sekujur raga
tak pernah mengeluh meski luka-luka itu mulai memakan sisa usianya

Namun, kehidupan selalu dihidangkannya di atas meja

Serang, 21 Februari 2026


Sebelum Fajar Menyapa

Malam terpampang tanpa awan dan bintang
Menambah sunyi di atas langit yang membentang
Ada rembulan yang bersinar samar
Bergerak pasrah mengitari waktu yang tak menentu

Dingin menyelinap dari sela jendela
Menusuk anak manusia berlumur dosa
Yang mendamba ampunan atas kesilapannya

Air mata berderai membasuh lara
Menunggu fajar menyapa 
Menghapus segala

Serang, 22 Februari 2026


Cukuplah Aku

Cukuplah aku
Yang merasa berdetak lebih kencang dari seharusnya 
Saat langit mengganti warna
Dari semburat jingga menuju hitam kelam

Cukuplah aku
Yang memerangi batinku
Yang membebaskan ketakutan dalam penjara hatiku
Walau cemas masih bersarang membelenggu 

Cukuplah aku
Yang ingin berada di samping telingamu
Meneriakimu sekeras-kerasnya 
Bahwa, telah hilang dalam diriku
Keistimewaan terhadap masa lalu 

Cukuplah aku
Celaka bagiku
Bahwa, belum hilang dalam dirimu
Rasa memiliki terhadap perempuan yang menolak kau miliki itu
Walau celah kudapati dari balik matamu
Ternyata semu memilu dalam pandanganku

Cukuplah aku
Yang melebur dalam pikiranku
Mengutuk prasangka menjadi abu
Merutuki aku atas pernyataan cintaku


Bekas Luka

Luka tak selalu membeku
Ada yang diam-diam menghangat 
Seperti sisa peluk yang tertinggal setelah kepergian.

Aku berada di sana

Dalam jeda yang tak terucap
Dan harap yang menunggu binasa

Aku bukan lagi kobaran api
Aku bara sunyi yang kau kira telah mati
Padahal hanya menanti
Kau rindu untuk merasa lagi

Serang, 22 Februari 2026


________

Penulis 


Nisa Nurfadilah, dilahirkan di Serang, 7 Juli 2007. Suka menulis puisi dan esai, pernah sesekali menulis cerpen. Tak banyak karya yang terpublikasi. Namun, aktif menulis di Kompasiana, Instagram, website UKM Belistra, dan beberapa kali mengirim ke media massa berbayar, namun belum lolos. Kesibukan saat ini adalah sebagai seorang mahasiswi semester 4 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan mengikuti organisasi kampus: UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra). 


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Cerpen Bram Stoker | Under the Sunset

Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno



Jauh, sangat jauh, terdapat sebuah Negeri yang indah, yang tak pernah tertangkap oleh mata manusia dalam keadaan terjaga. Negeri itu terletak di bawah Matahari Terbenam, di tempat cakrawala yang jauh membatasi siang, dan di mana awan-awan, gemilang oleh cahaya dan warna, memberi janji akan kemuliaan serta keindahan yang melingkupinya.

Kadang-kadang, kita dianugerahi kesempatan untuk melihatnya dalam mimpi.

Sesekali datanglah para Malaikat, dengan lembut, mengepakkan sayap putih mereka yang besar di atas dahi-dahi yang letih, dan meletakkan tangan-tangan sejuk di atas mata yang terpejam. Maka melayanglah jiwa si pemimpi. Ia terbang bangkit dari kelam dan keruhnya musim malam. Ia berlayar menembus awan-awan ungu. Ia melesat melalui hamparan luas cahaya dan udara. Ia terbang melintasi biru tua kubah langit; dan setelah menyapu cakrawala yang jauh, ia pun beristirahat di Negeri Indah di Bawah Matahari Terbenam.

Negeri itu dalam banyak hal serupa dengan negeri kita sendiri. Di sana ada laki-laki dan perempuan, raja dan ratu, orang kaya dan orang miskin; ada rumah-rumah, pepohonan, ladang-ladang, burung-burung, dan bunga-bunga. Di sana ada siang dan malam; panas dan dingin, sakit dan sehat. Jantung para lelaki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, berdenyut sebagaimana di sini. Ada kesedihan yang sama dan kegembiraan yang sama; harapan-harapan yang sama dan ketakutan-ketakutan yang sama.

Seandainya seorang anak dari Negeri itu berdiri di samping seorang anak di sini, kau takkan dapat membedakan keduanya, kecuali dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama seperti kita. Mereka tidak tahu bahwa mereka berbeda dari kita; dan kita pun tidak tahu bahwa kita berbeda dari mereka. Ketika mereka datang kepada kita dalam mimpi, kita tak menyadari bahwa mereka adalah orang asing; dan ketika kita pergi ke Negeri mereka dalam mimpi, kita merasa seolah-olah berada di rumah sendiri. Barangkali inilah sebabnya: rumah orang-orang baik berada di dalam hati mereka; dan di mana pun mereka berada, di sanalah mereka menemukan kedamaian.

Negeri di Bawah Matahari Terbenam, selama zaman yang sangat panjang, adalah sebuah Tanah yang menakjubkan dan menyenangkan. Tak ada satu pun di sana yang tidak indah, manis, dan menenteramkan. Baru ketika dosa datang, hal-hal di sana mulai kehilangan keindahan sempurnanya. Namun bahkan sekarang pun, negeri itu tetap merupakan tanah yang ajaib dan menyenangkan.

Karena matahari bersinar dengan kuat di sana, di sepanjang sisi setiap jalan ditanam pohon-pohon besar yang menghamparkan cabang-cabangnya yang rimbun. Dengan demikian para musafir memperoleh naungan ketika mereka melintas. Tugu-tugu penanda jarak di jalan bukanlah batu bisu, melainkan pancuran air yang manis dan dingin, begitu jernih dan bening, sehingga ketika seorang pejalan tiba di sana, ia duduk di bangku batu berukir di sampingnya dan menghela napas lega, sebab ia tahu bahwa di tempat itu ada perhentian dan istirahat.

Ketika di sini matahari terbenam, di sana justru tengah hari. Awan-awan berkumpul dan menaungi Negeri itu dari panas yang menyengat. Maka, untuk sesaat, segala sesuatu pun terlelap.

Jam yang manis dan damai ini disebut waktu Istirahat.

Saat Waktu Istirahat tiba, burung-burung berhenti bernyanyi dan meringkuk rapat di bawah tepi atap rumah yang lebar, atau di dahan-dahan pohon tempat cabang bertemu batang. Ikan-ikan berhenti melesat di dalam air, lalu berdiam di bawah batu-batu, dengan sirip dan ekor yang begitu tenang seakan-akan mereka telah mati. Domba dan ternak berbaring di bawah pepohonan. Para lelaki dan perempuan merebahkan diri di tempat tidur gantung yang disangkutkan di antara pepohonan atau di bawah serambi rumah mereka. Kemudian, ketika matahari tak lagi menyilaukan dengan teriknya dan awan-awan telah mencair dan lenyap, seluruh makhluk hidup pun terjaga kembali.

Satu-satunya makhluk hidup yang tidak benar-benar tidur selama Waktu Istirahat hanyalah anjing-anjing. Mereka berbaring sangat tenang, hanya setengah terlelap, dengan satu mata terbuka dan satu telinga tegak; berjaga sepanjang waktu. Lalu, jika seorang asing datang pada jam istirahat itu, anjing-anjing akan bangkit dan memandangnya dengan lembut, tanpa menggonggong, agar tidak mengusik siapa pun. Mereka tahu apakah pendatang itu berbahaya atau tidak; dan jika ia tidak berbahaya, mereka akan berbaring kembali, dan si orang asing pun ikut merebahkan diri sampai Waktu Istirahat berakhir.

Namun apabila anjing-anjing itu mengira bahwa orang asing tersebut datang dengan maksud berbuat jahat, mereka akan menggonggong keras dan menggeram. Sapi-sapi mulai melenguh dan domba-domba mengembik, burung-burung berkicau dan menyanyikan nada-nada mereka yang paling nyaring, namun tanpa irama yang merdu; bahkan ikan-ikan pun mulai melesat ke sana kemari dan memercikkan air. Orang-orang terjaga dan meloncat turun dari tempat tidur gantung mereka, lalu meraih senjata. Maka saat itu menjadi waktu yang buruk bagi sang penyusup. Seketika ia dibawa ke Pengadilan dan diadili; dan jika terbukti bersalah, ia dijatuhi hukuman, entah dimasukkan ke penjara atau diasingkan.

Setelah itu, para lelaki kembali ke tempat tidur gantung mereka, dan semua makhluk hidup kembali beristirahat sampai Waktu Istirahat berakhir.

Hal yang sama terjadi pada malam hari seperti pada Waktu Istirahat, bila seorang penyusup datang untuk berbuat jahat. Pada malam hari hanya anjing-anjing yang terjaga, serta orang-orang sakit dan para perawat mereka.

Tak seorang pun dapat meninggalkan Negeri di Bawah Matahari Terbenam kecuali melalui satu arah saja. Mereka yang datang ke sana dalam mimpi, atau yang datang dalam mimpi ke dunia kita, pergi dan datang tanpa mengetahui bagaimana caranya; tetapi bila seorang penghuni negeri itu mencoba meninggalkannya, ia tak dapat melakukannya kecuali melalui satu jalan. Jika ia mencoba jalan lain, ia akan terus berjalan, berputar tanpa menyadarinya, sampai akhirnya tiba di satu tempat yang menjadi satu-satunya jalan keluar baginya.

Tempat itu disebut Gerbang, dan di sanalah para Malaikat berjaga.

Tepat di tengah Negeri berdiri istana Sang Raja, dan dari sana jalan-jalan membentang ke segala arah. Ketika Sang Raja berdiri di puncak menara yang menjulang tinggi dari tengah istananya, ia dapat memandang sepanjang jalan-jalan itu, yang semuanya lurus tanpa belokan.

Jalan-jalan itu tampak semakin menyempit ketika menjauh, hingga akhirnya lenyap sama sekali dalam kejauhan semata.

Di sekeliling istana Sang Raja berdiri rumah-rumah para bangsawan besar, masing-masing terletak semakin dekat sesuai dengan tinggi rendahnya derajat pemiliknya. Di luar lingkaran itu terdapat rumah-rumah bangsawan yang lebih rendah; dan setelahnya rumah-rumah semua orang lainnya, yang kian kecil ukurannya semakin jauh letaknya.

Setiap rumah, besar maupun kecil, berdiri di tengah sebuah taman yang memiliki pancuran dan aliran air, pepohonan besar, serta petak-petak bunga yang indah.

Lebih jauh lagi, menuju ke arah Gerbang, negeri itu menjadi semakin liar. Setelah itu terbentang hutan-hutan lebat dan pegunungan besar yang penuh dengan gua-gua dalam, gelap gulita seperti malam. Di sanalah binatang-binatang buas dan segala sesuatu yang kejam berdiam.

Sesudahnya terdapat rawa-rawa berlumpur, paya-paya, dan tanah lembek yang dalam dan berbahaya, serta rimba yang lebat. Lalu semuanya menjadi begitu liar sehingga jalan pun lenyap sama sekali.

Di wilayah-wilayah liar di balik itu tak seorang pun tahu apa yang berdiam. Ada yang mengatakan bahwa para Raksasa yang masih ada hidup di sana, dan bahwa semua tumbuhan beracun tumbuh di tempat itu. Mereka berkata bahwa di sana berhembus angin jahat yang mengeluarkan benih segala kejahatan dan menyebarkannya ke seluruh bumi. Ada pula yang mengatakan bahwa angin jahat yang sama membawa keluar penyakit-penyakit dan wabah-wabah yang tinggal di sana. Yang lain berkata bahwa Kelaparan hidup di rawa-rawa itu, dan bahwa ia keluar berkeliaran ketika manusia menjadi begitu jahat—terlampau jahat sehingga Roh-roh penjaga negeri menangis tersedu-sedu hingga tak melihatnya lewat.

Tersiar bisikan bahwa Kematian memiliki kerajaannya di Kesunyian di balik rawa-rawa, dan tinggal di sebuah istana yang begitu mengerikan untuk dipandang sehingga tak seorang pun pernah melihatnya dan hidup untuk menceritakan bagaimana rupanya. Dikisahkan pula bahwa semua makhluk jahat yang hidup di rawa-rawa itu adalah Anak-anak Kematian yang durhaka, yang telah meninggalkan rumah mereka dan tak dapat menemukan jalan kembali.

Namun tak seorang pun mengetahui di mana Istana Raja Kematian berada. Semua manusia—laki-laki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, bahkan anak-anak kecil yang masih sangat belia—hendaknya hidup sedemikian rupa sehingga ketika mereka harus memasuki istana itu dan berhadapan dengan Sang Raja yang muram, mereka tak gentar memandang wajahnya.

Untuk waktu yang sangat lama, Kematian dan Anak-anaknya tinggal di luar Gerbang, dan segala sesuatu di dalamnya penuh dengan sukacita.

Namun tibalah suatu masa ketika segalanya berubah. Hati manusia menjadi dingin dan keras oleh kesombongan atas kemakmuran mereka, dan mereka tidak mengindahkan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan kepada mereka. Maka ketika di dalam negeri tumbuh dingin, acuh tak acuh, dan penghinaan, para Malaikat penjaga melihat pada kengerian yang berdiri di luar itu sarana hukuman serta pelajaran yang dapat membawa kebaikan.

Pelajaran-pelajaran yang baik pun datang—sebagaimana hal-hal baik sering kali datang—setelah rasa sakit dan ujian, dan pelajaran-pelajaran itu mengajarkan banyak hal. Kisah tentang kedatangan mereka menyimpan hikmah bagi orang-orang yang bijaksana.

Di Gerbang, dua Malaikat senantiasa berjaga dan mengawal. Malaikat-malaikat ini begitu agung dan begitu waspada, dan selalu begitu teguh dalam penjagaan mereka, sehingga hanya ada satu nama bagi mereka berdua. Salah satu dari mereka, ataupun keduanya, bila diajak bicara, akan dipanggil dengan nama yang sama secara utuh. Yang satu mengetahui sebanyak yang diketahui yang lain tentang segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab mereka berdua mengetahui segalanya. Nama mereka adalah Fid-Def.

Fid-Def berdiri berjaga di Gerbang. Di samping mereka ada seorang Malaikat-Anak, lebih indah daripada cahaya matahari. Garis-garis wujudnya yang elok begitu lembut hingga seakan-akan senantiasa melebur ke dalam udara; ia tampak seperti cahaya hidup yang suci.

Ia tidak berdiri sebagaimana Malaikat-malaikat lainnya, melainkan melayang naik turun dan berkeliling. Kadang-kadang ia hanya tampak sebagai titik kecil, lalu tiba-tiba, tanpa terlihat melakukan perubahan apa pun, ia menjadi lebih besar daripada Roh-Roh Penjaga agung yang kekal itu.

Fid-Def mengasihi Malaikat-Anak itu, dan ketika ia naik mendekat dari waktu ke waktu, mereka mengembangkan sayap putih mereka yang besar, dan kadang-kadang ia berdiri di atasnya. Sayapnya sendiri yang indah dan lembut dengan perlahan mengipasi wajah mereka ketika mereka berpaling untuk berbicara.

Namun Malaikat-Anak itu tidak pernah melampaui ambang batas. Ia memandang ke arah belantara di luar sana; tetapi ia tidak pernah meletakkan bahkan ujung sayapnya pun melewati Gerbang.

Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Fid-Def, dan tampak ingin mengetahui apa yang ada di luar sana, dan bagaimana segala sesuatu di sana berbeda dari segala yang ada di dalam.

Pertanyaan dan jawaban para Malaikat tidaklah seperti pertanyaan dan jawaban kita, sebab tak diperlukan kata-kata. Pada saat sebuah pikiran tentang keinginan untuk mengetahui sesuatu muncul, pertanyaan pun telah diajukan dan jawabannya diberikan. Namun demikian, pertanyaan itu tetap datang dari Malaikat-Anak dan dijawab oleh Fid-Def; dan seandainya kita memahami bahasa tanpa-bahasa yang dipakai para Malaikat untuk tidak-berkata, kita akan mendengarnya demikian. Fid-Def sedang berbicara kepada Fid-Def:

“Bukankah Chiaro itu indah?”

“Ia sungguh indah. Ia akan menjadi kekuatan baru di Negeri ini.”

Di sini Chiaro, yang berdiri dengan satu kaki di atas bulu sayap Fid-Def, berkata:

“Katakan padaku, Fid-Def, apakah makhluk-makhluk yang tampak mengerikan di balik Gerbang itu?”

Fid-Def menjawab:

“Mereka adalah Anak-anak Raja Kematian. Yang paling mengerikan di antara mereka semua itu, yang terbungkus dalam kelam, adalah Skooro, suatu Roh Jahat.”

“Betapa mengerikannya rupa mereka!”

“Sungguh sangat mengerikan, Chiaro terkasih; dan Anak-anak Kematian ini ingin melewati Gerbang dan masuk ke dalam Negeri.”

Mendengar kabar yang mengerikan itu, Chiaro melayang tinggi ke angkasa, dan membesar sedemikian rupa sehingga seluruh Negeri di Bawah Matahari Terbenam menjadi terang benderang. Namun tak lama kemudian ia mengecil kembali, semakin kecil hingga hanya tampak sebagai sebuah titik, seperti sinar berwarna yang terlihat di sebuah ruangan gelap ketika matahari masuk melalui celah sempit. Ia bertanya kepada para Malaikat di Gerbang:

“Katakan padaku, Fid-Def, mengapa Anak-anak Kematian ingin masuk?”

“Karena, Anak terkasih, mereka jahat, dan ingin merusakkan hati para penghuni Negeri.”

“Namun katakanlah, Fid-Def, apakah mereka dapat masuk? Tentulah, jika Sang Bapa Yang Mahakuasa berkata, ‘Tidak!’ mereka harus tetap selamanya di luar Negeri.”

Setelah sejenak terdiam, datanglah jawaban dari para Malaikat Penjaga Gerbang:

“Sang Bapa Yang Mahakuasa lebih bijaksana daripada yang dapat dibayangkan bahkan oleh para Malaikat. Ia meruntuhkan orang jahat dengan tipu daya mereka sendiri, dan menjerat sang pemburu dalam perangkapnya sendiri. Anak-anak Kematian, ketika mereka masuk—sebagaimana sebentar lagi akan terjadi—akan melakukan banyak kebaikan di Negeri yang hendak mereka celakai. Sebab lihatlah! Hati manusia telah rusak. Mereka telah melupakan pelajaran-pelajaran yang diajarkan kepada mereka. Mereka tidak tahu betapa bersyukurnya mereka seharusnya atas nasib bahagia mereka, sebab tentang duka mereka tak mengetahui apa-apa. Maka haruslah ada rasa sakit, kesedihan, atau kepiluan bagi mereka, agar mereka dapat melihat kesesatan jalan mereka.”

Sementara berkata demikian, para Malaikat menitikkan air mata karena dukacita atas perbuatan manusia dan penderitaan yang harus mereka tanggung.

Malaikat-Anak itu menjawab dengan gentar:

“Kalau begitu, Makhluk yang paling mengerikan itu pun akan masuk ke dalam Negeri. Celaka! celaka!”

“Anak terkasih,” kata Roh-roh Penjaga, ketika Malaikat-Anak itu merapat ke dada mereka, “kepadamulah dipercayakan tugas yang besar. Anak-anak Kematian akan masuk. Kepadamu diserahkan penjagaan atas Makhluk yang mengerikan itu, Skooro. Ke mana pun ia pergi, di sanalah engkau harus berada; sehingga tak ada keburukan yang terjadi—kecuali hanya apa yang memang dimaksudkan dan diizinkan.”

Malaikat-Anak itu, tergugah oleh kebesaran amanat tersebut, bertekad bahwa tugasnya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Fid-Def melanjutkan:

“Engkau harus tahu, Anak terkasih, bahwa tanpa kegelapan tak ada ketakutan akan yang tak terlihat; dan bahkan kegelapan malam pun takkan menakutkan bila ada cahaya di dalam jiwa. Bagi mereka yang baik dan murni, tak ada ketakutan baik terhadap kejahatan-kejahatan di bumi maupun terhadap Kekuatan-kekuatan yang tak kasatmata. Kepadamulah dipercayakan penjagaan atas yang murni dan yang benar. Skooro akan menyelubungi mereka dengan kelamnya; tetapi kepadamu diberikan kemampuan untuk menyelinap ke dalam hati mereka dan dengan cahaya muliamu sendiri membuat kelam Anak Kematian itu menjadi tak terlihat dan tak terasa.”

“Namun dari para pelaku kejahatan—dari yang jahat, yang tak tahu bersyukur, yang tak mau mengampuni, yang tak murni, dan yang tak jujur—engkau akan menjauh. Maka ketika mereka mengharapkan engkau datang menghibur mereka—sebagaimana pasti mereka akan melakukannya—mereka takkan melihatmu. Yang mereka lihat hanyalah kelam, yang oleh cahaya jauhmulah akan tampak semakin gelap, sebab bayangan itu akan berada di dalam jiwa mereka sendiri.”

“Namun oh, Anak, Bapa kita begitu baik melampaui segala sangka. Ia menetapkan bahwa bila siapa pun yang jahat bertobat, engkau akan seketika terbang kepadanya, menghiburnya, menolongnya, menguatkannya, dan menghalau bayangan itu jauh-jauh. Tetapi bila mereka hanya berpura-pura bertobat, berniat kembali berbuat jahat setelah bahaya berlalu; atau bila mereka hanya bertindak karena ketakutan, maka engkau akan menyembunyikan cahayamu sehingga kelam itu menjadi semakin pekat atas diri mereka. Kini, Chiaro terkasih, jadilah tak terlihat. Waktunya mendekat ketika Anak Kematian akan diizinkan masuk ke dalam Negeri. Ia akan berusaha menyelinap masuk, dan kami akan membiarkannya, sebab kami harus bekerja tanpa terlihat dan tanpa diketahui, agar dapat menjalankan tugas kami.”

Lalu Malaikat-Anak itu perlahan memudar, sehingga tak ada satu mata pun—bahkan mata Fid-Def sendiri—yang dapat melihatnya; dan Roh-roh Penjaga berdiri seperti sediakala di sisi Gerbang.

Waktu Istirahat pun tiba; dan segalanya sunyi di Negeri itu.

Ketika Anak-anak Kematian yang jauh di rawa-rawa melihat bahwa tak ada sesuatu pun yang bergerak, kecuali para Malaikat yang tetap berjaga seperti biasa, mereka memutuskan untuk melakukan upaya lain guna memasuki Negeri.

Maka mereka memecah diri menjadi banyak bagian. Setiap bagian mengambil rupa yang berbeda, namun bersama-sama mereka bergerak menuju Gerbang. Demikianlah Anak-anak Kematian mendekati ambang Negeri.

Mereka datang di atas sayap burung yang sedang terbang; pada awan yang melayang perlahan di langit; dalam ular-ular yang merayap di bumi—dalam cacing, tikus, dan tahi lalat yang menyusup di bawahnya; dalam ikan-ikan yang berenang dan serangga-serangga yang terbang. Melalui bumi, air, dan udara mereka datang.

Tanpa rintangan dan tanpa halangan; dan dengan berbagai cara, Anak-anak Kematian memasuki Negeri di Bawah Matahari Terbenam; dan sejak saat itu, segala sesuatu di Negeri yang elok itu pun berubah.

Tidak serta-merta Anak-anak Kematian menampakkan diri. Satu per satu roh yang paling berani di antara mereka, melangkah dengan jejak-jejak yang mengerikan melintasi Negeri, memenuhi setiap hati dengan ketakutan ketika mereka datang.

Namun demikian, masing-masing dari mereka—tanpa kecuali—meninggalkan sebuah pelajaran menuju kebaikan di dalam hati para penghuni Negeri itu.


______

Penulis

Bram Stoker (1847–1912) adalah novelis Irlandia, mempopulerkan motif vampir dalam sastra Gotik di seluruh dunia dengan ciptaannya, Dracula.

Tulisan di atas terjemahan dari “Under the Sunset” yang diterbitkan ulang oleh Wildside Press (15 Juli 2002). Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno, dosen Universitas Muhammadyah Tangerang (UMT), bergiat di Kubah Budaya.