View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Thursday, July 16, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Kurs Dolar Naik, Tapi Kenapa Harga Kejujuran Malah Turun?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu

 


Yang Diperdagangkan Dunia Bukan Cuma Dolar

Para pembaca yang baik hati. Setiap kali rupiah melemah terhadap dolar Amerika, kita selalu mengulang kebiasaan yang sama. Kita menyalahkan The Fed, perang dagang, konflik geopolitik, harga minyak, atau kebijakan pemerintah. Semua penjelasan itu benar. Namun, karena terlalu sering diulang, kita lupa bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya yang diperdagangkan dunia? Apakah benar dunia hanya memperjualbelikan mata uang, atau sesungguhnya yang diperdagangkan adalah sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang itu sendiri?

Ekonom akan mengatakan bahwa nilai tukar dipengaruhi inflasi, suku bunga, produktivitas, neraca perdagangan, dan arus modal. Tidak ada yang salah dengan penjelasan itu. Tetapi ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan: mengapa modal memilih datang ke suatu negara, lalu meninggalkan negara yang lain? Mengapa investor bersedia menyimpan miliaran dolar di satu tempat, tetapi ragu menaruh sejuta dolar di tempat lain? Jawabannya tidak berhenti pada angka. Jawabannya berakhir pada satu kata yang tidak bisa dicetak oleh bank sentral: kepercayaan.

Bank Indonesia Mencetak Rupiah, Tetapi Tidak Bisa Mencetak Kepercayaan

Ada kesalahpahaman yang selama ini kita warisi. Kita mengira Bank Indonesia mencetak nilai rupiah. Sesungguhnya tidak. Bank Indonesia mencetak uangnya, tetapi tidak bisa mencetak nilainya. Nilai rupiah lahir dari keyakinan bahwa masyarakat yang menggunakannya memiliki sistem yang dapat dipercaya, di mana hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, perjanjian dihormati, pejabat tidak menjual kebijakan yang merugikan rakyat, data negara tidak direkayasa, dan korupsi bukan budaya. Ingat, mesin percetakan uang mampu menghasilkan miliaran lembar rupiah, tetapi tidak ada satu pun mesin di dunia yang mampu mencetak kepercayaan.

Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita sibuk menghitung cadangan devisa, tetapi lupa menghitung cadangan integritas. Kita bangga ketika investasi masuk, tetapi diam ketika kejujuran keluar dari kehidupan sehari-hari. Padahal investasi datang mengikuti kepercayaan, dan kepercayaan mengikuti karakter.

Investor Tidak Pernah Membeli Rupiah

Kita sering berkata bahwa investor membeli rupiah, membeli saham Indonesia, membeli obligasi negara, atau membeli proyek-proyek strategis. Kalimat itu sebenarnya belum lengkap. Yang pertama kali mereka beli bukanlah aset, tetapi keyakinan bahwa aset tersebut berada di tangan masyarakat yang dapat dipercaya.

Mereka tidak bertanya berapa banyak rumah ibadah yang berdiri di negeri ini. Mereka bertanya apakah kontrak akan ditepati. Mereka tidak menghitung berapa banyak ceramah agama yang disiarkan setiap hari. Mereka menghitung apakah pengadilan dapat menghadirkan kepastian hukum. Mereka tidak melihat seberapa panjang doa kita. Mereka melihat seberapa pendek jalan menuju suap.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sinis, tetapi pasar memang tidak mengenal basa-basi. Pasar hanya mengenal risiko. Dan risiko terbesar dalam ekonomi bukanlah inflasi. Risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan.

Kita adalah Bangsa Religius, Tetapi Kenapa Kepercayaan Masih Mahal?

Para pembaca yang baik hati. Ini adalah paradoks yang semestinya membuat kita gelisah. Indonesia adalah salah satu bangsa paling religius di dunia. Rumah ibadah berdiri megah. Pengajian, kebaktian, dharma, dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung hampir setiap hari. Namun, pada saat yang sama, indeks persepsi korupsi masih menjadi pekerjaan rumah, praktik suap belum benar-benar hilang, manipulasi data masih terjadi, dan kebohongan sering kali dianggap sekadar kecerdikan.

Kita jangan mengatakan bahwa agama gagal mencetak orang-orang menjadi baik.

Justru yang  jauh lebih menyakitkan adalah mengapa ajaran tentang amanah cuma sebatas berhenti di mimbar, tetapi tidak sampai ke ruang kerja?

Sebab agama yang hanya hidup dalam ritual akan menghasilkan masyarakat yang rajin beribadah. Tetapi, agama yang hidup dalam akhlak akan menghasilkan masyarakat yang dapat dipercaya. Dan dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya bahkan lebih tinggi daripada dolar.

Korupsi Tidak Mencuri Uang Negara

Kita sering mengatakan bahwa korupsi merugikan keuangan negara. Hal itu memang benar. Tetapi, kerugian terbesar bukanlah angka yang hilang dari kas negara. Korupsi mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu: reputasi.

Sekali sebuah negara dikenal sebagai tempat yang mudah disuap, sulit dipercaya, atau lemah penegakan hukumnya, maka biaya ekonomi langsung meningkat. Semua kontrak bisnis membutuhkan pengamanan. Semua investasi meminta jaminan tambahan. Semua orang mulai saling curiga. Biaya ketidakpercayaan membengkak, dan pada akhirnya seluruh rakyatlah yang membayarnya melalui harga kebutuhan yang lebih mahal, lapangan kerja yang lebih sedikit, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin lambat.

Korupsi bukan sekadar kejahatan hukum. Korupsi adalah metode tercepat untuk membombardir masa depan suatu bangsa dan negara.

Harga Kejujuran Sedang Turun

Para pembaca yang baik hati. Barangkali ini adalah masalah yang sesungguhnya. Kita tidak lagi merasa terganggu oleh kebohongan-kebohongan kecil. Suap berubah nama menjadi uang terima kasih. Pungutan liar menjadi uang peduli. Manipulasi laporan dianggap sebagai kreativitas administrasi. Menyontek menjadi kerja sama antarpelajar. Janji politik yang diingkari dianggap sebagai hal yang lumrah. Kita mengubah istilah agar hati tidak merasa bersalah.

Padahal setiap kali kebohongan dinormalisasi, maka harga kejujuran turun sedikit demi sedikit. Dan ketika harga kejujuran turun, maka biaya untuk membangun kepercayaan menjadi naik sedikit demi sedikit.

Lalu tanpa kita sadari, ekonomi ikut membayar tagihannya.

Rupiah Mengikuti Sesuatu yang Tidak Pernah Masuk Neraca

Para pembaca yang baik hati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ditentukan semata-mata oleh moral masyarakat. Ekonomi jauh lebih rumit daripada itu. Ada kebijakan moneter, perdagangan internasional, produktivitas, dan dinamika global yang tidak bisa diabaikan.

Namun ada satu kenyataan yang sering terlupakan. Semua faktor itu hanya bisa bekerja optimal apabila ditopang oleh kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari pidato. Kepercayaan lahir dari akhlak, dari amanah yang dijaga ketika tidak ada yang melihat, dari kejujuran yang tetap dipilih meski ada kesempatan untuk berbuat curang, dan dari rasa malu yang masih hidup ketika seseorang tergoda mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Mungkin karena itu, setiap kali kita melihat angka dolar naik terhadap rupiah, maka kita jangan cuma bertanya apa yang sedang terjadi di Washington. Tanyakan juga apa yang sedang terjadi di dalam diri kita. Sebab sejarah mengajarkan kita tentang satu hal yang sering terlupakan, yaitu bangsa-bangsa yang dulunya besar, mereka tidak runtuh ketika mereka kehabisan uang. Mereka runtuh ketika mereka kehabisan orang-orang yang dapat dipercaya.

Kita semua harus menyadari bahwa ketika kepercayaan kehilangan harga, maka yang terjadi adalah nilai mata uang pun ikut kehilangan nilainya.

______
Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Wednesday, July 15, 2026

Lapak Buku | Buku "Asfiksia" Karya Sul Ikhsan

 


Judul: Asfiksia

Penulis: Sul Ikhsan

Penerbit: #Komentar

Terbit: Agustus 2026

Tebal: vi + 145 hlm.

Ukuran: 14 x 20

Harga: Rp75.000


Bagaimana jika suatu hari nanti... kita harus membayar untuk bernapas? Di dunia Asfiksia, udara bukan lagi hak setiap manusia, melainkan komoditas yang dikuasai korporasi. Setiap tarikan napas mengurangi saldo hidup. Saat koin habis, hidup pun berakhir. Kael, seorang buruh muda dari Sektor Tiga, dipaksa bertahan di tengah kemiskinan, polusi, dan sistem yang memperdagangkan oksigen. Demi menyelamatkan adiknya dan membalas kematian kedua orang tuanya, ia menantang algoritma yang selama ini menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang harus mati.


Asfiksia menghadirkan dunia distopia yang mencekam, penuh intrik, teknologi, aksi, dan pertanyaan yang terasa begitu dekat dengan kenyataan: Apa jadinya jika keserakahan berhasil menguasai kebutuhan paling mendasar manusia? Bukan sekadar novel fiksi ilmiah, Asfiksia adalah kisah tentang keberanian, cinta keluarga, perlawanan, dan harapan yang tetap menyala ketika bahkan udara pun harus dibeli. Saat napas memiliki harga, seberapa besar harga yang bersedia kamu bayar untuk tetap hidup?


Kontak Penerbit:

087771480255

Sunday, July 12, 2026

Cerpen Rianda Akbari | Pantulan Dendam Penjaga Sekolah yang Percaya Jalan Pintas

Cerpen Rianda Akbari


Saban pagi, ia getol berdiri di tengah jalan. Rutinitasnya menghadang setiap laju kendaraan yang lewat. Perannya seperti melerai kendaraan yang berselisih pada dua arah berbeda. Ramai. Meski tidak terlalu lebar sebagaimana di kota, jalan ini mampu membuat jantung diuji nyali. Bukannya berkurang, sebaliknya korban nyawa malah melipatgandakan kengerian. Entah, siapa yang melakukan kesalahan. Jalan-jalan bopeng di sana-sini ataukah pengemudi yang dikeker oleh jarum jam. Atau ulah dedemit pun ia tak tahu.

Hari ini ia amat bersemangat daripada sebelumnya. Kelas sudah masuk tahun pelajaran baru. Artinya, tiba waktunya bekerja lagi setelah melewati dua minggu bulukan. Baginya libur panjang adalah puasa tanpa niat.

Selagi matanya awas dan sesekali mulut tersimpul senyum. Ia tak segan sekadar melontarkan sapa, meski orang tersebut tidak dikenalnya. Semisal, “Pagi, Pak!” atau “Berangkat kerja ya, Neng? Hati-hati!” Perilaku itulah yang membuatnya tidak pudar dalam ingatan siapa pun. Terutama di lingkungan sekolah—tempatnya bekerja sekaligus tinggal.

Ia adalah Darman, si penjaga sekolah.

Saat kendaraan muncul di kejauhan, lengannya mengibas memberi sebuah tanda perintah. Sederhana, tongkat diacungkan ke atas seperti menunjuk langit diikuti kerelaan pengemudi mengendurkan tali gas barang sebentar. Kalau tidak, para bocah seragam merah-putih yang bergabung dengannya itu takkan tampak ceria lagi.

Setelah menyeberangkan anak-anak, ia akan beralih memeriksa jamban. Bau jadah menyengat, tahi mengambang sudah timbul tenggelam menunggunya. Selain membaca dan melarang bersin sembarangan ke wajah teman sebangku. Sekolah pun mewanti-wanti agar anak-anak selalu membuang kotoran tubuhnya di lubang yang tepat. Tentu, ditutup dengan menyiram bekasnya hingga tak bersisa. Namun, begitulah anak-anak.

Darman harus mati-matian meladeni si kuning dan bau amonia dengan menyiram segentong dua gentong berulang kali. Jelas bagian itu kerap membuat pekerjaannya terasa lebih berat. Sebetulnya ia sudah bosan mengadu ke para guru sampai kepala sekolah agar sepiteng itu buru-buru diperbaiki. Bagaimanapun menurutnya, mengatasi kotoran yang meluber harus mendahului dari segala masalah yang lain. Hebatnya, mereka akan mengabulkan andaikan uang bos sudah cair, katanya.

Sejak tadi guru-guru sudah berdatangan. Bel velg ban bertalu nyaring. Sembari menenteng sapu lidi, Darman pergi ke arah selasar kelas. Di sana ia berpapasan dengan dua orang guru. Tanpa sapa, tanpa tolehan. Mereka tak berhenti. Seolah menganggapnya orang sinting. Tak seperti biasa guru-guru bersikap cuek bebek. Tiba-tiba kuping terasa rebing. Membuatnya sensitif menangkap kalimat yang mengekor pelan.

“Siapa lagi kalau bukan dia.”

Saat itu Darman tak pernah menaruh firasat apa pun. Ia hanya menganggap kedua orang tersebut sedang bergosip belaka. Membincangkan token listrik yang bersiul sedari subuh atau memamerkan honor yang mungil. Tentu yang tidak berhubungan dengan dirinya.

“Man, nanti sudah bersih-bersih datang ke ruang guru ya,” seru Ayep.

“Baik, Pak.“

Darman mengangguk, seketika ia beranjak dari pekerjaannya. Perlahan pikirannya menghimpun pertanyaan sekaligus agak ragu. Apakah ia melakukan kesalahan atau ada sesuatu yang penting. Hari ini serba janggal, para guru bersikap cuek dan sekarang dipanggil sepagi ini ke ruangan mereka. Apalagi yang menyuruhnya  adalah Ayep. Pengajar paling senior di sekolah ini.

Setibanya di ambang pintu, ia menarik napas. Di dalam, guru senior itu telah menunggu di meja kerjanya. Darman melangkah masuk.

“Kembalikan tabung gas itu!” sontak Ayep memberang.

“Punten, tabung gas apa, Pak?”

“Tak usah berlagak bodoh, tabung gas yang kau jual  itu, bawa balik!”

Darman terperanjat, matanya menatap lekat-lekat, “Bapak sudah menuduh saya.”

Dua minggu lalu, sehari sebelum libur panjang, pintu kayu itu sedikit menganga, seperti sengaja tidak ditutup rapat. Dari celahnya terlihat sesuatu yang asing.

Ia melongok sebentar ke arah ruangan gudang dekat jamban. Di dalam, dua tabung gas tergeletak. Satu di antaranya tampak baru. Catnya belum mengelupas dan segelnya masih utuh. Darman mengerutkan dahi. Ia ingat betul, gudang ini hanya ada tumpukan meja, kursi bersama papan tulis yang sudah rusak.

“Siapa yang simpan tabung gas di sini?” gumamnya.

Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Darman buru-buru menutup pintu, tapi tidak sampai rapat. Tangannya sempat menyentuh badan tabung itu, mulus dan sedikit berdebu. Ia menarik kembali tangannya, takut meninggalkan jejak tak kasatmata.

“Pak Darman!”

Suara itu memantul dari arah kantin. Seorang guru honorer melambai, meminta tolong membuka gerbang samping. Darman menyahut cepat, seakan ingin menjauh dari gudang. Sejak itu gerak-geriknya berubah. Ia beberapa kali menoleh ke belakang saat berjalan.

Menjelang bel istirahat, Ayep sempat lewat di dekat gudang. Ia berhenti. Menatap pintu yang tidak tertutup sempurna. Darman yang melihat dari kejauhan, spontan mempercepat langkahnya.

“Biar saya saja, Pak,” katanya, sedikit terengah.

Ayep tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke tangan Darman, lalu ke arah pintu gudang, kemudian kembali ke wajahnya. Tatapan itu tidak lama, tapi cukup untuk menaruh pesan.

“Omong kosong! Saya tidak asal menuduh ya! Dengar, takkan ada garong yang mengaku!” bentak Ayep.

Sementara guru-guru yang lainnya terlihat tak acuh. Seolah sependapat dengan tuduhan Ayep. Satu di antaranya mengangguk dengan kacamata yang melorot.  Selanjutnya dia melemparkan pertanyaan ke orang-orang di hadapannya. Lalu mendesak agar mereka bersepakat mengganti penjaga sekolah secepatnya. Lantaran kejadian ini akan menjadi aib yang kelak merembet ke mana-mana. Sejurus itu, pandangan mereka terbagi rata menerjang ke arah Darman. Kecurigaan serasa menyorong ke depan wajahnya.

“Sejak kemarin tabung gas itu hilang. Orang luar tidak mungkin masuk. Tinggal kau yang pegang kunci.”

“Tapi, Pak ,bisa saja ada orang asing menyelinap masuk.”

“Sudah sering kejadian begini. Jauh hari, tabung gas di pojok kantin juga raib.”

“Demi Tuhan! Soal itu tidak ada hubungannya dengan saya,” sanggah Darman.

“Sudahlah Man, tak perlu bawa-bawa Tuhan,” suara Ayep merendah, “Kita tidak perlu memperpanjang lagi, biar impas lebih baik kau keluar.”

“Saya tidak terima, tunggu saja akan saya buktikan semua!” teriak Darman sembari melengos ke luar. Sedangkan Ayep dan para guru tampak terheran melihat reaksinya yang amat ngotot.

Sejak keributan di ruang guru, suasana tak lagi sama. Setiap pekerjaan yang disentuh Darman serba disergap kikuk. Ditambah picingan mata dan bisik-bisik yang terus menguntitnya. Lama-lama, kecurigaan mereka ikut menular kepadanya.

Apakah betul aku mencuri tabung gas? Barangkali saat itu aku tidak sadar melakukannya? Pertanyaan itu silih berputar-putar di benaknya sepanjang waktu hingga membuatnya terjaga di waktu malam. Semakin lama ia bertanya, semakin yakin dirinya sebagai pelaku. Pikiran macam apa ini. Beberapa kali dirinya menyangkal. Mengelak dari pengakuan yang tiba-tiba begitu saja timbul. Agaknya kegelisahan kini turut menjalar ke tubuhnya seperti serigala yang mencabik-cabik dari dalam.

Sekarang Darman terpaku di depan cermin. Memandang nanap benda yang menerakan kemalangannya. Begitu pula pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan. Bayangan-bayangan muncul semakin terpancang dalam muara keyakinannya hari ini. Keyakinan untuk memulai satu pembalasan yang ia yakini sebuah kejantanan. Pembalasan yang akan membuat si senior itu morat-marit seumur hidupnya.

Ia telah merancang segala sesuatu agar hari ini berjalan mulus. Mula-mula, ia sumpal rapat celah-celah di sekeliling pintu dengan jejalan kain lap. Ia tekan sekuat tenaga demi tidak meloloskan seupil celah udara di kamar sempit ini. Setelah itu, ia raih tabung gas dan mendekapnya.

Kemudian sebatang paku yang telah dimodifikasi sedemikian rupa ditancap pada mulut tabung agar menahan katupnya tetap terbuka.

Tampak ia agak membusungkan dadanya. Memberi jatah ruang bernapas lebih leluasa. Seakan memberi penghormatan terakhir bagi kemalangan yang ia kutuki itu. Desis gas terdengar nyaring. Seolah saling terburai dari gerbang yang telah lama menahannya. Sekarang, ia memulai sebuah pengakhiran dengan berancang menarik napas sedalam-dalamnya. Berulang kali. Lekat-lekat ia hirup hingga sesak.

Penglihatannya berangsur kabur. Ia yakin pilihannya ini akan berjalan mudah mengundang maut. Sejauh ini ia tidak pernah merasakan keyakinan yang begitu besar seperti sekarang. Keyakinan itu dikerek pula oleh sebuah tulisan “HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN” yang kian samar dipandangnya.

“Aku bakalan mampus,” gumamnya.

Tubuhnya seketika diserang rasa lemas luar biasa. Tulangnya seolah tak mampu lagi menopang berat badan. Sontak ia terkulai ke arah samping. Rubuh. Bola matanya mengitari ke penjuru ruang. Seperti berputar-putar dalam tong setan.

Desisan gas yang mendesak keluar itu perlahan melemah. Kuping terasa berdenging bukan kepalang. Dinding-dinding bergerak menyempit. Ia menduga nyawanya sudah meninggalkan organ pendengaran. Giliran organ-organ lain yang mesti gesit dituntaskan. Meski sekarang lebih bersusah payah, ia tampak semakin bersikeras menarik napas sedalam mungkin. Berulang kali. Sebelum si kurang ajar itu sempat memanggilnya, ia harus segera mati. Paling tidak sekarat. Bayang-bayang gelap nyaris menindih erat. Megap-megap begitu hebat. Ia mengira tiba saatnya menuju kerongkongan dan kemudian lepas dari tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, tubuhnya menggeliat. Kelopak matanya terbuka. Celingak-celinguk menjelajah ke sekeliling. Apakah ia sudah berada di dunia lain? Pikirnya. Jarinya menggisik-gisik agar kesadarannya segera pulih. Perhatiannya tertuju pada paku yang tergeletak.

“Bajingan! Untuk mati saja aku tak mampu.”

Terdengar ketukan pintu dari luar. Ia hanya mendongak. Semakin lama suaranya semakin menggedor “Man, Man, Darman buka!” Darman masih terdiam. Ia tidak beranjak dari tempatnya berbaring. Teriakan dan gedoran kembali menyusul.

Gerendel pintu berputar, lalu pintu berderit terbuka. Seseorang masuk melewati pintu seiring cahaya yang ikut menerobos.

“Man, sudah seminggu kau tak tidur. Dari tiga hari lalu kau meracau. Sebelum makin parah, kita periksa saja,” ucap Ayep berusaha merangkul Darman.

Mendengar ajakan itu, Darman memalingkan wajah. Tampak ia cengar-cengir dan memilit-milit kerah baju. Sesekali ia bergumam tanpa sebab, “Lucu sekali mereka.”

Di luar, anak-anak bergumul di dekat mobil putih yang sedang menunggunya. Mereka berdua berjalan ke arah mobil. Lengan Darman melambai seakan hendak menyapa anak-anak. Setiap kali ia menyapa, mereka membalas dengan menjaga jarak dan tersenyum kecut. Sementara para guru hanya berdiri membisu dari kejauhan.

Pintu mobil terbuka, “Masuk Man,” kata Ayep akhirnya.

Kini, mobil putih itu bertolak dari sekolah membawanya menuju bangsal. Dari balik kaca, lengan itu masih melambai tak berhenti.

 

______

Penulis

 

Rianda Akbari lahir di Sukabumi. Aktif menulis tentang satwa liar dan lingkungan hidup. Dua karya puisi “Aku Rempang” dan “Bebaskan!” dimuat dalam antologi puisi Bela Rempang (2024). Karya lainnya dapat ditemukan di beberapa situs. Tinggal di Kp. Sukaharja RT/RW 001/007, Des. Sukaharja, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi – Jawa Barat. Akun media sosial: @rianda_akbari (Instagram)

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

 


Puisi-Puisi Rafif Abbas Pradana

Puisi Rafif Abbas




Perhitungan


Lelahnya aku menghitung jarak

antara lahir dan pulang,

yang tak pernah bersua

dalam satu lintasan.


Masing-masing memiliki ejaannya sendiri.

Kucoba mengejanya

sepanjang perjalanan hitung,

yang mungkin takkan usai,

meski sebuah jembatan

terus ingin dibangun.


Jembatan itu membentangkan

seluruh tubuhnya,

dari satu tepi

menuju tepi paling sunyi.


Jalan-jalan pun terhubung

menuju pulang,

sementara hitungan

tetap belum selesai.



Puisiku


Puisiku, kubagi setengah persen

dari tubuhku yang merana,

karena salah ditakdirkan mengisi spasi

antarbait puisiku yang saling menolak,

saling memberontak untuk mengeja pulang.


Sudah sebaiknya bait-bait puisiku

kusalingkalikan dengan kata-kata

yang membesar melebihi tubuhnya,

kukalikan lagi dengan bayang-bayang

yang saling meminjam wajah,

hingga menjadi baris berujung jarum

yang menusuk tubuhku dan terbaring.


Sementara judul puisiku

tak pernah mewakili

tubuh-tubuh puisiku,

apalagi hasil perhitungannya.



Terlalu Matematik


Aku terlalu matematik

Buat kamu yang tak sanggup

Menjadi penyebut

Di dalam doa seperempat malam

Sebelum ibu menawar harga

Dan aku menghitung

Sisa-sisa pembagian.



Aku Lirik 


Aku menghitung

Berapa senjaku akan datang,

Padahal tali telah diikatkan

Di antara kepala dan tubuhku.


Sampai aku menjerit dalam perhitungan,

Atas semua yang telah dilalui.

Hitam memutih dalam kekaburan,

Yang tak sempat menyebut bilangan

Di sela-sela puisi terakhirku.


Akhirnya bait terakhir dibanjiri

Darah yang menempel di lantai,

Sebagai artefak

Yang mengingatku

Sebagai aku lirik.



Demi 


Demi puisiku, aku bersumpah

Tidak ada Tuhan selain aku.

Bahkan dewa pun sulit mengeja namaku,

Apalagi umatku yang rajin berdzikir

Sepanjang puisiku terbentang,

Dari neraka sampai surga yang dijanjikan.


Hitunglah berapa bilangan yang kuberikan,

Kalikan apa yang telah kaudapatkan,

Bagikan kepada mereka yang mengemis,

Yang selalu memohon pecahan pujian.

Lalu hitung kembali

Apa yang telah kudustakan

Kepada umatku.



Aku Ingin 


Aku ingin bunuh diri

Biar menjadi pecahan

Dari hasil perhitungan

Sejak lahir

Sampai pulang.



Puisiku Ketujuh 


Setelah semua hitungan selesai,

ternyata aku

masih menjadi sisanya.



______


Penulis


Rafif Abbas Pradana, lahir di Bekasi pada 25 Oktober 2004. Ia merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kajian Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) periode 2026.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com




Esai Nurhadi | Hidup Ini Kurang Asyik Tanpa Mistisisme

Esai Nurhadi 

 


Harusnya saya sudah di rumah sore itu melanjutkan series Renegade Immortal, Tales Of Herding Gods, dan Tomb Of Fallen Gods S3. Tapi seakan tarikan gravitasi sangat kuat di rumah teman saya itu. Atau mungkin itu kodam penunggu yang menarik pantat saya dari bawah karena kebetulan kami sedang menyinggung mereka. Konon katanya kalau mereka sering disebut akan semakin mendekat.


Saya sendiri termasuk orang yang kurang percaya kalau ngomongin hal mistis, tapi juga bukan yang skeptis. Saya nyaman-nyaman saja kalau ngobrolin soal gaib. Dan memang begitulah obrolan sore itu berjalan. Dari yang tadinya cuma basa-basi soal keseharian, perlahan geser ke topik yang lebih mistis.


Teman saya mulai cerita soal pengalaman, katanya dia pernah ditembak jin saat menyaksikan orang kesurupan saat menyetel musik lengser wengi. Bayangkan bagaimana rasanya ditembak jin. Katanya seperti ditekan organ dalamnya dan menjadi sesak. Mungkin pengalaman teman saya itu kalau diceritakan kepada orang lain bakal dikira dia habis makan kecubung. Tapi entah mengapa, di ruang sepetak itu cerita-ceritanya kedengaran masuk akal. Atau minimal masuk ke rasa penasaran saya yang bertanya-tanya tentang dunia gaib itu sendiri.


Kemudian teman saya juga pernah diberi batu oleh tetangganya. Batu bukan sembarang batu—mungkin begitu pikirnya. Setibanya di rumah  dia penasaran sesosok apa penjaga atau kodam batu tersebut. Lantas menantangnya. Dan sesuai harapan. Katanya sesosok kakek tua tiba-tiba duduk di di belakangnya dengan kondisi tubuh yang sangat kurus dan perangainya menyeramkan.


Masih banyak lagi cerita mistis lainnya yang saya dengar dari obrolan sore itu. Tapi setelah dipikir-pikir hidup ini sebenarnya kurang asyik, apalagi era modern ini kalau cuma rasional-rasional saja. Makanya waktu obrolan soal kodam, soal energi yang mendekat kalau dibahas, atau soal firasat yang ternyata beneran kejadian—ada semacam kelegaan. Kelegaan karena dunia ini tidak se-flat itu.


Justru itu alasan kenapa saya—mungkin kebanyakan orang lainnya juga—menyukai atau sekadar penasaran, seperti cerita-cerita pada kultivasi Wang Lin dalam series Renegade Immortal tadi. Tapi minimal lewat cerita itu—atau obrolan sore kami yang mistisisme—saya masih diberi ruang untuk berpikir bahwa hidup ini ternyata misterius; ada kebenaran yang tak dapat dijelaskan oleh bahasa dan angka.


Jadi pada sore itu sementara series-series saya harus tertunda. Bukan karena enggan menonton, tapi mungkin karena saya lagi menyaksikan series dalam versi nyata. Dan entah mengapa hal itu terasa lebih hidup dan menyenangkan. Bagi saya cerita itu sebagai pengingat kecil bahwa hidup ini memang kurang asyik kalau dijalani serba logis. Sesekali, biarkan diri kita merebahkan pada obrolan yang hangat dan ringan. Toh, kalau ternyata itu cuma perasaan akan adanya jin, kodam, dan hantu-hantu lainnya, minimal jadi bahan obrolan seru buat sore-sore berikutnya.


________


Penulis


Nurhadi
 atau biasa dipanggil Albert. Sekarang masih pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.

 


Saturday, July 11, 2026

Resensi Kabut | Matematika dan Puisi

Oleh Kabut




Murid-murid di seantero sekolah sebentar lagi masuk sekolah. Mereka belajar lagi di kelas-kelas dalam hitungan ratusan hari. Masa liburan telah berakhir, yang membuat mereka terhibur dan terbebas dari seribu perintah pendidikan. Apakah mereka memilih libur atau mengalami hari-hari disibukkan beragam mata pelajaran atas nama ilmu? Mereka berada dalam situasi yang tidak keruan berkaitan kebijakan pemerintah, kemauan keluarga, hasrat pribadi, dan lain-lain. Namun, lakon belajar di sekolah terus dilanggengkan di Indonesia. Kita tidak pernah mengetahui terjadi pelarangan belajar atau “mengharamkan” sekolah.


Pada 2026, kita berpikiran tentang mutu pendidikan di Indonesia. Konon, mutu (sangat) menurun akibat pelbagai kebijakan. Ada yang menuduh guru-guru belum mampu membuktikan tanggung jawab. Ada yang sinis bahwa murid-murid memang tidak lagi berminat belajar. Pihak berbeda prihatin atas kegagalan keluarga-keluarga dalam merayakan pendidikan yang menyenangkan. Artinya, urusan belajar atau sekolah tetap mengandung ribuan masalah, yang kita hanya mampu sedikit memberi jawaban belum tentu benar.


Apakah situasi mutakhir berbeda dengan masa lalu? Kita dapat mengetahui dari biografi-biografi yang mengungkan masa belajar di sekolah. Sejak masa kolonial sampai Orde Baru, kita memiliki bab-bab yang pasang dan surut mengenai segala capaian dalam pendidikan di Indonesia. Ada pula yang rontok dan mampet, berakibat pendidikan di Indonesia mustahil berkembang atau maju.


Yang bersabar ingin mengetahui lakon pendidikan kadang memilih membaca novel. Kita tidak wajib melulu membaca Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara. Ada ratusan novel di Indonesia yang bercerita pendidikan. Bagi yang membaca sastra anak pasti menemukan ratusan judul novel yang membawa kita kembali ke masa lalu, yang menguak masalah pendidikan. Di situ, kita membaca biografi anak, mutu sekolah, pribadi guru, peran keluarga, dan lain-lain.


Kini, kita ingin mengenang yang silam melalui novel berjudul Astrid: Rumah Pohon gubahan Djokolelono. Buku berukuran kecil diterbitkan Gramedia, 1987. Artinya, novel mengisahkan anak dan sekolah berlatar masa Orde Baru. Judul yang dibuat tidak mengesankan pendidikan tapi pembaca yang membuka halaman awal sampai akhir mengetahui bahwa pengarang sedang mencipta “percakapan” tentang pendidikan. Yang diceritakan mengaitkan rumah dan sekolah.


Dua tokoh penting yang diceritakan adalah Astrid dan Anto. Mereka masih menjadi murid kelas 6 di SD. Anak-anak yang sudah menghadapi banyak masalah, tidak hanya dipusingkan oleh pelajaran-pelajaran di kelas. Yang pasti, pengarang mementingkan pendidikan. Sorotan yang serius untuk mata pelajaran matematika. Kita pun memiliki pengalaman bahwa matematika itu pelajarang yang sulit. Beberapa murid malah memutuskan membenci dan melawan dengan segala cara. Pokoknya, matematika adalah penderitaan meski beberapa murid sangat menggandrungi gara-gara menyadari kenikmatan dan faedahnya dalam hidup, terutama pada masa depan.


Astrid dan teman-teman kesulitan dalam memahami matematika. Di kelas, ada murid bernama Anto yang dianggap pintar matematika. Padahal, mereka tidak mengetahui bahwa Anto mengalami derita dalam matematika. Maka, cerita yang paling seru adalah murid-murid menanggungkan harapan dan penyesalan disebabkan matematika. Maka, pelajaran di kelas tidak mencukupi. Anak-anak memerlukan mengikuti les agar mengerti matematika. Pengisahan itu mengesankan bahwa matematika memang pelajaran sangat utama dalam pendidikan di Indonesia sekaligus dunia.  


“Les matematika yang diadakan di sekolah Astrid memang berlangsung dari jam empat sore sampai setengah tujuh,” tulis Djokolelono. Kita membayangkan anak-anak menyadari waktu untuk bermain atau bersungguh-sungguh belajar matematika. Astrid mengalami kebingungan dalam memutuskan ikut les atau melakukan yang lain. Ia sadar bahwa pengetahuan matematikanya rendah. Ikut les dapat membuatnya tidak terlalu bodoh. Namun, ikut les matematika tetap memberi siksa dan bertumbuhnya masalah-masalah.


Di mata guru dan teman-teman, Anto diakui pintar matematika. Mereka tidak mengetahui bahwa pengetahuan matematika Anto itu diremehkan oleh bapaknya. Anto dianggap masih bodoh, belum mampu menguasai hal-hal terpenting dalam matematika. Jadi, keributan dan salah paham terjadi gara-gara matematika. Bapak sangat menuntut Anto agar pintar matematika. Tuntutan berdasarkan keinginan bapak agar kelak Anto menjadi ahli dalam elektorinika. Yang sangat menuntut adalah bapak, bukan guru atau kurikulum. Anto merasakan penderitaan berbarengan teman-teman mengakuinya yang terpintar matematika di kelas.


Pada mulanya, Astrid kesulitan berakraban dengan Anto. Masalah matematika perlahan mampu membuat mereka berteman yang akrab. Astrid ingin paham matematika. Anto diminta menjadi “pengajar”. Anto yang disangka “sombong” perlahan terungkap sedang mengalami penderitaan. Matematika membuat dua murid saling mengerti kehidupan, yang merujuk sekolah dan rumah. Astrid menjadi anak yang memiliki penasaran dan berusaha membuktikan tanggung jawab. Anto ingin memiliki kepribadian tapi selalu kesulitan dalam aturan keluarga dan pergaulan di sekolah.


Di sela berpusing matematika dan menghadapi masalah keseharian, Astrid dan Anto sama-sama menyukai sastra, terutama puisi. Astrid mampu menggubah puisi. Kita mengutip seperti yang terdapat dalam novel: rumah pohon/ rumah di atas pohon/ di atas pohon ada rumah/ pohon di atas rumah/ kami memohonkan rumah/ kami merumahkan pohon/ pohon kami rumahkan/ rumah kami pohonkan. Puisi ditulis berkaitan dengan pengalaman mengetahui kebiasaan Anton berada di rumah pohon. Astrid menjadi saksi sekaligus turut dalam pengalaman di rumah pohon.


Anto mengaku kesulitan dalam matematika. Ia takut kepada keinginan dan perintah bapak. Anto sebenarnya menyukai sastra, ingin menjadi penulis, bukan ahli elektronika. Maka, ia membuktikan selera dan kepekaan sastra dengan menulis puisi. Mutunya berbeda dari tulisan Astrid. Pembaca menduga bahwa puisi dapat menjadi pembebasan atau hiburan ketimbang selalu menderita.


Puisi yang ditulis Anto: Saat air matamu menitik meniti pipi/ pipi yang sepi dari sinar ceria/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ sejuta cerita duka sejuta cerita duka/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ bekunya sejuta tawa bekunya sejuta tawa/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ berlalu pelan perjalanan usia di awal senja/ kulihat di beningnya/ kau menangis bukan buat dirimu/ kisah yang terpampang bukan kisahmu/ iba di hatimu bukan ibamu/ kulihat di beningnya/ bayang-bayang wajahku/ sendiri. Puisi yang apik, bersumber dari pengalaman dalam keluarga.


Matematika menjadikan Astrid dan Anto akrab. Puisi sempat memicu salah paham tapi memberi harapan bagi mereka dalam menikmati hari-hari yang tidak selalu cerah. Maka, Anto memutuskan tekun menulis puisi dan menuruti hasrat menjadi pengarang. Sikap yang berlawanan dengan tuntutan bapak. Astrid tampil menjadi saksi dan berani membuktikan tanggung jawab atas masalah yang menimpa keluarga Anto. Pembaca diajak mengagumi kepribadian Astrid. Perhatian terhadap Anto memunculkan dilema-dilema pendidikan yang menautkan rumah dan sekolah. Jadi, kita yang membaca novel gubahan Djokolelono sedikit mengerti mengenai anak-anak yang tidak harus dipaksa pintar matematika dan memiliki hak merayakan hidup melalui puisi.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Thursday, July 9, 2026

Esai Sulaiman Djaya | Kuasa dan Media

Esai Sulaiman Djaya



Di zaman mutakhir kita saat ini adalah sangat penting untuk memahami sejumlah praktik media yang tak dapat dilepaskan dari interest kekuasaan, politik, dan korporasi, utamanya media-media yang dimiliki dan dikendalikan kaum multinasionalis-imperialis saat ini. 


Media dan opini yang melayani suatu kepentingan dan kekuasaan, pada akhirnya akan melakukan diskriminasi dan penyingkiran atau eksclusi terhadap hal-hal yang tidak menjadi kepentingannya.


Sebagai contoh, ketika suatu kekuasaan dan imperium hendak membentuk suatu citra publik, seketika itu pula, mereka akan mengerahkan media-media yang dimilikinya untuk membentuk ‘keberpihakan’ publik untuk mereka (para elite global). 


Era kita sekarang adalah suatu abad atau sebuah zaman, bila meminjam istilahnya Jacques Derrida saat berbincang dengan Giovanna Borradori, di mana publik yang tidak kritis dan malas berpikir akan sangat rentan dimanipulasi dan dihasut oleh media-media yang mengabdi pada kekuasaan dan tirani demi suatu tujuan strategis dan politis, utamanya dalam kancah politik global.


Jaringan media yang kebetulan dikuasai dan dimiliki suatu kelompok tertentu atau suatu rezim bersama yang bekerja berdasarkan kepentingan yang sama akan tak sungkan-sungkan menjadikan media sebagai instrumen ‘penaklukkan’, di mana opini, keberpihakan, atau sikap massa (publik) digiring sesuai dengan kehendak para pemilik media, entah para pemilik media itu adalah suatu korporasi, kekuasaan, aliansi, atau suatu rezim kekuasaan dan politik.


Kita dapat memberikan contoh kasusnya adalah ketika media-media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook dan lain-lainnya mengangkat (dan atau meng-create) citra publik (simpati bersama) bagi insiden Paris beberapa waktu yang silam, namun pada saat bersamaan mereka ‘tidak mengangkat’ atau meng-create citra publik (simpati bersama) bagi tragedi-tragedi yang lebih parah, semisal agressi terhadap Yaman, Suriah dan apartheid serta kekejian Israel di Palestina.


Salah-satu pemikir kontemporer yang konsen dengan soal ini adalah Noam Chomsky. Dalam salah-satu analisisnya, di antara strategi yang mengabdi pada kekuasaan dan korporasi adalah dengan memasifkan opini atau pun diskursus untuk menyembunyikan ‘masalah’ yang sesungguhnya. 


Noam Chomsky juga menegaskan bahwa media memiliki arti yang sangat penting dalam proses politik, di mana dalam artian negatifnya adalah dalam rangka ‘menguasai’ opini dan sikap publik (massa).


Kita bisa memberikan contoh untuk apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut, yaitu ketika rezim dan aliansi Zionisme Internasional atau Zion Global (Amerika, Israel dkk) yang kebetulan menguasai lembaga-lembaga penyiaran dan hiburan banyak memasukkan muatan-muatan dan unsur-unsur ideologis yang menjadi kepentingan strategis dan politis mereka melalui media-media yang mereka miliki dan yang mereka siarkan ke seluruh dunia.


Pada tingkatan yang lebih rumit (canggih), media juga sering mereka gunakan sebagai elemen utama dari kontrol sosial yang salah-satu strateginya adalah strategi gangguan, dalam rangka untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu yang justru penting, yang mana dalam bahasa Noam Chomsky sendiri dicontohkan ketika media “mempertahankan perhatian publik yang dialihkan jauh dari masalah sosial yang nyata yang lebih penting, sehingga terpikat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.” 


Apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut yang menjadi salah satu unsur terpenting dari kontrol sosial yaitu strategi penebaran gangguan yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting.


Strategi penebaran gangguan ini memang dilakukan tirani atau rezim kekuasaan untuk menjaga agar masyarakat lebih berfokus pada isu-isu “kacangan” (demi pengalihan isu) sehingga melupakan isu-isu krusial yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan mereka, yang justru lebih riil dan lebih mendesak bagi kehidupan sehari-hari mereka.


Strategi yang lainnya adalah Strategi Buat Masalah, Kemudian Tawarkan Solusi atau Manajemen Konflik. Metode ini juga disebut “masalah-reaksi-solusi.” Strategi dan metode ini tak lain adalah menciptakan masalah, “sebuah situasi” yang disebut menyebabkan beberapa reaksi pada penonton. 


Contoh dari praktik rezim atau kekuasaan itu adalah: Mengintensifkan kekerasan di perkotaan atau dalam masyarakat urban, atau mengatur serangan berdarah agar masyarakat menjadi para pemohon hukum keamanan dan kebijakan yang merugikan kebebasan. 


Sebenarnya, menciptakan masalah yang dapat menyebabkan rakyat “mengemis” dan memohon pertolongan pada pemerintah sudah tidak menjadi hal baru, karena hampir semua pemerintahan di dunia melakukan hal seperti ini, yang mana dengan strategi dan metode ini, pemerintah menjadi “sinterklas” bagi masalah yang dibuatnya sendiri.


Strategi selanjutnya yang lain adalah Strategi Bertahap, yaitu sebentuk ‘pemaksaan’ penerimaan pada tingkatan yang tidak dapat ‘diterima’, hanya dengan menerapkannya secara bertahap, yang dilakukan secara simultan selama bertahun-tahun dan berturut-turut. 


Kita bisa menyebutkan contohnya yaitu ketika mereka (para elite global) memberlakukan kondisi sosial ekonomi baru (neoliberalisme), sepanjang era 1980-an dan 1990-an, yaitu dengan ‘memaksakan’ penerimaan bagi konsep negara minimal, privatisasi, kerawanan, fleksibilitas, pengangguran besar-besaran, upah, dan tidak menjamin pendapatan yang layak, sehingga tampak begitu banyak perubahan yang telah membawa revolusi jika mereka telah diterapkan sekaligus.


Yang juga acapkali dimainkan adalah teknik dan metode Strategi Menunda atau cara lain untuk dapat menerima keputusan yang tidak populer, agar mendapatkan penerimaan atau persetujuan publik (massa), pada saat penerapannya di masa depan (sesuai dengan target waktu yang mereka rencanakan).


Sementara itu, bila kita lebih jauh mencermati permainan reklame, iklan, dan yang sejenisnya, sebagian besar iklan untuk masyarakat umum menggunakan pidato, argumen, orang dan khususnya intonasi anak-anak, yang seringkali dekat dengan ‘kelemahan’, seakan-akan penonton (publik atau pemirsa) adalah anak kecil atau cacat mental. 


Anak-anak adalah simbol pihak yang lemah, rentan disakiti dan senantiasa menjadi korban. Strategi seperti inilah yang sangat sering diterapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai contohnya, ketika menjadi presiden, dalam rangka mencari simpati rakyat, di mana ia seringkali muncul dan mencitrakan diri seakan-akan sebagai figur lemah dan teraniaya, padahal yang sesungguhnya yang sedang dia (SBY) lakukan adalah menjalankan program peningkatan citra dan simpati rakyat. 


Strategi lain yang sebenarnya klasik tapi masih sering digunakan adalah teknik dan strategi emosional dengan memanfaatkan aspek emosional publik.


Demikian sejumlah contoh strategi ‘manipulasi’, sebagaimana didadar Noam Chomsky dan para analis dan pengkaji media, yang acapkali dimainkan media-media yang menjalankan kepentingan suatu korporasi, rezim kekuasaan dan politik, aliansi, dan yang sejenisnya. 


Mudah-mudahan media yang mendedikasikan dirinya bagi pendidikan dan pencerahan publik lebih setia bekerja sebagai pemberi informasi yang sehat dan sahih, ketimbang sebagai ‘mesin propaganda’ yang menyesatkan dan membodohi rakyat atau masyarakat.


_______


Penulis


Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan.



Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com


Esai Mela Sri Ayuni | POV Gen Z: Kerja Sambil Cari Kerja

Esai Mela Sri Ayuni




Dewasa ini, waktu membawa anak kelahiran 1997 sampai 2012 menginjak usia produktif. Di mana, kami sudah melalui seuprit perjalanan hidup yang kata mereka, baca: orang kaya, menyenangkan. Ya, menyenangkan. Saking menyenangkannya saya sampai pening, kenapa dari banyak pilihan saya pilih jawab “iya” pada saat malaikat bertanya 77x sebelum saya lahir ke dunia riuh dengan huruf tanpa jiwa. Selang beberapa fase kehidupan, waktu membawa saya untuk bertanggung jawab atas jawaban tersebut. Saya sadar, mungkin ini yang disebut “menyenangkan” kata mereka.


Generasi Z saat ini sedang merajai pasar kerja. Hampir di semua sektor kerja Gen Z berkontribusi di dalamnya. Mulai dari sektor hiburan, perdagangan, instansi pemerintahan, sampai ada yang jadi anggota DPR, contohnya Annisa Mahesa. 


Anak kepala dua ini sedang eksis di dunia kerja. Laman cerita WhatsApp saya pun banjir dengan pemandangan di tempat kerja masing-masing. Yang paling nyentrik status video di depan komputer sembari ditemani minuman dan camilan kesukaan dengan backsound, “Akh, hari yang mantap”. Ada juga yang pakai tulisan “Hasil berangkat jam 7 pulang jam 9 malam”. Namun, ada satu postingan yang membuat saya tertarik untuk menuliskan topik ini, yaitu dengan caption “Udah kerja kerjaannya cari kerja”.


Sebenarnya apa pun yang kamu unggah ke media sosial ini merupakan sepotong dari ceritamu yang kamu izinkan untuk diketahui orang lain. Artinya, sudah hasil sortir sendiri. Tapi tidak bisa berbohong juga, tulisan-tulisan seperti itu menggambarkan kalau dunia kerja sudah menyita waktu Gen Z untuk terus bekerja.


Fenomena Gen Z kerja sambil cari kerja ternyata bukan hal yang baru. Ternyata ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi di HP-nya memiliki aplikasi pencari kerja seperti LinkedIn, Glints, Jobstreet, dan lainnya. Tidak berhenti sampai di situ, sosial media yang Gen Z miliki tetap follow akun informasi lowongan kerja. Agar tidak tertinggal unggahan terbaru pekerjaan yang sedang dibuka. Tetap apply secara online.


Sesuai pengalaman saya pada tahun lalu, saya sudah memiliki pekerjaan. Namun di belakang itu saya terus saja lamar di beberapa tempat kerja lain. Sering ada panggilan wawancara langsung. Pada satu waktu di daerah Tangerang, saya mendapatkan panggilan kerja. Dikarenakan saya datang sendiri, saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan pelamar lain, sesama Gen Z. Sambil menunggu panggilan masuk ruangan tes, kami sedikit mengobrol lebih jauh. Dua orang tersebut perempuan dari daerah berbeda. Setelah diketahui, ternyata mereka berstatus karyawan di tempat lain. 

(1) Perempuan bekerja di pabrik makanan. 

(2) Sedang bekerja di minimarket.


Pada saat itu, saya tidak memberi tahu latar belakang saya. Saya cukup menyimak sedikit dari mereka, sesekali saya melemparkan pertanyaan di sela obrolan, “Kamu udah kerja. Kenapa cari kerja?” Dia menjawab, 

(1) “Pekerjaanku yang sekarang capek. Berangkat pagi buta pulang malam.” 

“Oh, iya ya. Gak bisa lihat matahari terbit atau tenggelam.” 

“Kalo kamu?” 

(2) “Gue mau dipindahin ke cabang baru di Bali. Gue gak mau jauh sama ibu.”


Tidak sedikit manusia seperti perempuan-perempuan di atas. Terkadang kebutuhan menjadi alasan terbesar untuk bertahan. Walau sambil berbohong izin tidak masuk kerja karena sakit atau ada keperluan keluarga. Padahal mau interviu kerja di belakang. Karena Gen Z cukup percaya diri dengan kemampuannya. Dan berpikir kalau Gen Z bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini. Keluar dari kebijakan perusahaan yang tidak masuk akal, atasan yang tidak manusiawi yang bikin gak betah berlama-lama. Lalu mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Ini hanya sampel, saya yakin masih banyak karyawan-karyawan lainnya di luar sana yang merasakan seperti kejadian tersebut. Gen Z mah simpel, kalau tidak bisa mengubah dari dalam, maka kita yang keluar “Jalan-jalan”. Hidup Gen Z!


Budaya kerja menentukan sejauh mana karyawan bertahan dalam pekerjaan. Maka dari itu, banyak dari Gen Z mencari side job. Mereka bekerja paruh waktu. Dari pagi sampai sore di pekerjaan utama, sore sampai malam menjadi pekerja part time. Ini antisipasi untuk pekerjaan utama. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemutusan hubungan kerja, PHK secara sepihak. Dari situ, Gen Z butuh cadangan pekerjaan untuk tetap stabil dalam mengurus keuangan.


Kalau berbicara tentang mencari kerja walau sudah memiliki pekerjaan, saya jadi teringat kalam dari Gus Baha, seorang ulama dari kalangan Islam tradisional. Beliau berkata, “Sebanyak apa pun gaji yang kalian miliki, tak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena yang akan mencukupi kebutuhanmu itu hanya rahmat Allah.” Tentu, saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Sebanting tulang apa pun kita mencari uang, tetap yang akan mencukupi kebutuhan kita itu rahmat Allah. Misalnya saya, seorang fasilitator anak. Kata teman saya gaji saya tidak cukup untuk mencukupi hidup sebulan. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia pun sering meminjam uang kepada saya. Dalam hati saya bergumam, “Katanya gaji gue kecil, gak cukup buat hidup sebulan. Tapi lu tetap minjem duit ke gue.” Justru di sini ada peran Allah di dalamnya. Yang membuat tidak mungkin di mata manusia, sehingga mungkin di mata Allah.


Dari kejadian di atas, hal yang bisa kita pelajari yaitu: Gen Z selain mengejar uang, ia juga fokus kepada kenyamanan lingkungan kerja dan kehidupan pribadi. Sesuai dengan slogan kerja Gen Z yang berbunyi “Work life balance”. Di samping membutuhkan uang buat ngopi, Gen Z juga butuh menjaga kesehatan mental agar tetap waras. Datang di tempat kerja sebelum waktunya dan pulang tepat waktu. Tenggo: jarum panjang ke angka dua belas pas, teng langsung go, pulang. 


Buat orang-orang yang gak pulang tenggo jangan tanya “Kenapa pulang awal?” Ya jelas. Gen Z capek. Mau pulang. Istirahat. Lagian kerjaan Gen Z sudah selesai. Gak kayak Anda, jam kerja malah dipake makan. Jam kerja malah dipake ngobrol. Giliran jam pulang dipake kerja. Biar apa? Biar keliatan kerja, hah? Dasar Anda kolot!


________


Penulis


Mela Sri Ayuni, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com