Oleh Kabut
Judul buku cerita anak kadang lugas. Pengarang sengaja membuatnya sederhana, mudah dipahami oleh pembacanya yang anak-anak. Artinya, menjuduli cerita untuk anak dan dewasa ada perbedaan. Namun, judul tetap sangat penting dalam usaha membuat anak-anak terpikat cerita yang tertulis. Judul dari pengarang kadang berubah oleh usulan editor. Ada pula yang harus patuh dengan keputusan penerbit dalam menentukan judul, yang mungkin dipengaruhi ramalan pemasaran.
Apakah judul ratusan cerita anak di Indonesia sudah dipilih untuk garapan penelitian? Pada masa kolonial, ada beberapa judul naskah buku yang berubah saat diterbitkan oleh Balai Pustaka. Di penerbit-penerbit partikelir, perubahan judul sudah biasa. Kebijakan pemerintah kolonial berkepentingan dalam kontrol bahasa, termasuk dicetaknya judul di kulit muka. Judul yang aneh-aneh menimbulkan pelarangan. Nasib pengarangnya pun dalam ancaman. Adakah judul cerita anak yang membikin pihak pemerintah kolonial marah atau sewot? Kita menanti peneliti yang mengungkapkan dibarengi bukti-bukti.
Pada abad XXI, judul untuk buku cerita anak meriah dengan bahasa Inggris. Jangan menyalahkan penggunaan bahasa Inggris, yang membuat anak-anak malah keranjingan membaca buku. Penerbit-penerbit buku Islam pun mulai memberi perbedaan. Mereka menerbitkan buku cerita anak dengan judul menggunakan bahasa Arab. Pokoknya, perkembangan judul cerita anak membuat kita senang sekaligus bingung.
Ingatan kita terhadap judul-judul buku cerita anak sangat lemah bila dibandingkan dengan sastra anak asal Amerika Serikat dan Eropa. Kita mudah ingat judul-judulnya dalam bahasa Inggris. Mengapa itu terjadi? Apakah kita memiliki cara mengingat yang timpang atau diskriminatif?
Pada 1978, terbit buku cerita anak oleh BPK Gunung Mulia. Buku itu berjudul Sepatu Baru. Yang menulis cerita adalah Nyonya RG Dumais. Penulisan nama memakai “nyonya”. Kita menduga bila yang menulis lelaki sudah beristri: “tuan”. Ingat, kita sedang memasalahkan judul cerita, bukan cara penulisan nama pengarang.
Judul yang sederhana, tidak sulit dimengerti. Gambar di kulit muka menampilkan gadis kecil yang mengenakan sepatu berwarna hitam. Judul dan gambar sudah cocok. Kita pun melihat sosok perempuan tua berkebaya tanpa mengenakan alas kaki.
Penggunaan judul cerita dengan diksi “baru” jangan cepat dituduh agar direstui rezim yang dinamakan Orde Baru. Dulu, “baru” memang politis gara-gara Soeharto yang bernafsu kekuasaan. Konon, “baru” itu memicu pengecapan bahwa rezim Soekarno disebut “Orde Lama”. Taktik politik sengaja memberi kesan buruk kekuasaan Soekarno. Maka. “baru” yang dibesarkan Soeharto adalah kebaikan, kebenaran, keadilan, kesempurnaan, kesejahteraan, dan lain-lain.
Kita harus menghentikan ingatan politik. Yang terpenting adalah menikmati cerita yang berjudul Sepatu Baru. Pengarang tidak sedang memberi cerita yang mengandung iklan beragam merek sepatu, yang pernah menjadi idaman jutaan orang di seantero Indonesia. Ceritanya tidak menyebut merek.
Gadis kecil itu bernama Tia. Di sekolah, ia terpilih untuk bergabung dalam kelompok paduan suara. Artinya, suara Tia merdu. Kelompok paduan suara mau mengikuti lomba, yang hadiahnya menggiurkan. Jadi, mereka rutin latihan dan bersungguh-sungguh. Tia bersemangat latihan, tidak meninggalkan pelajaran di sekolah atau pekerjaan-pekerjaan di rumah. Sejak awal cerita, Tia adalah teladan bagi para pembacanya. Gadis kecil yang tangguh.
Masalah terbesar di halaman-halaman awal: sepatu. Yang ikut lomba dianjurkan guru agar mengenakan sepatu berwarna hitam, yang bakal berpengaruh dalam penampilan murid-murid di mata para juri dan penonton. Tia bingung dan sedih. Mengapa?
Cerita mulai membuat para pembacanya memuji pikiran dan sikap Tia dalam mengatasi masalah sepatu. Pada mulanya, ia bingung tapi cepat mengetahui cara menjawabnya. Yang ditulis pengarang: “Seminggu yang lalu, Tia telah membongkar isi peti untuk menyimpan sepatu-sepatu tua ibunya. Dicobanya beberapa pasang. Tetapi, semuanya masih terlalu besar ukurannya. Lagi pula modelnya sudah ketinggalan zaman. Dua hari lalu, Tia ke rumah Ida, saudara sepupunya, hendak meminjam sepatu Ida. Tetapi, terlalu kecil buat Tia. Dengan sedih Tia melihat ke arah kakinya dengan sepatu yang using dan menipis solnya.”
Gadis kecil itu memikirkan sepatu hitam dan lomba menyanyi. Akhirnya, ia memikirkan uang agar dapat membeli sepatu baru. Jawabannya susah. Yang pasti, Tia tidak sempat berpikir sejarah. Ia belum perlu memikirkan sejarah yang menyebut bahwa modernitas tiba di Indonesia tidak bertelanjang kaki. Maksudnya, orang-orang asing berdatangan mengenalkan alas kaku. Orang-orang Eropa turun dari kapal mengenakan sepatu. Pada saat asing itu menguasai pulau-pulau di Nusantara, penampilan orangnya necis. Mereka mengenakan pakaian yang rapi dan bersepatu. Pada akhir abad XIX, ada usaha mengajak kaum bumiputra mencicipi modernita. Maka, dibukalah sekolah-sekolah. Kebijakan itu berakibat kaki-kaki bocah di tanah jajahan mulai bersepatu. Pada situasi berbeda, sepatu menandakan kelas sosial dan kemunculan pekerjaan-pekerjaan baru di Hindia Belanda. Masalah sejarah belum menjadi pemikiran Tia.
Pengarang mengisahkan bahwa bapaknya sudah meninggal. Di rumah, Tia hidup bareng ibunya. Setiap hari, ibunya menjadi buruh mencuci dan menyetrika, sejak pagi sampai sore. Malam, ibu melanjutkan pekerjaan dengan menjahit. Semua demi mendapatkan nafkah. Pembaca mengerti kemiskinan. Bekerja keras menjadi bukti agar tidak makin menderita.
Tia ingin ibunya ikut menentukan cara mengadakan sepatu baru. Yang dilakukan Tia adalah berusaha mengajak ibunya bercakap dan memberi keputusan: “Sepatu baru, Bu, hitam. Untuk ikut perlombaan paduan suara. Ana, teman Tia di seberang rumah juga ikut menyanyi. Ana sudah beli sepatu. Harganya dua ribu rupiah.” Ibu mendengarkan, memberi jawab pendek: “Dua ribu…”
Tia membuka celengan. Ibu menghitung tabungan. Uang belum mencukupi untuk membeli sepatu baru. Pembaca perlahan mulai mengagumi usaha-usaha Tia. Yang diceritakan pengarang mungkin lazim tapi pembaca dibuat kagum. Tia ikut membantu ibunya bekerja di binatu. Malamnya, ia ikut menjahit. Semua demi terkumpulnya uang sampai dua ribu rupiah. Ibunya kelelahan dan sakit. Apakah terjadi keputusasaan? Tia tetap ikut bekerja sambil merawat ibunya. Ia memilih pamit dulu dari belajar di sekolah, termasuk latihan menyanyi.
Pada masa sekarang, ketokohan Tia itu bisa segera dibuatkan sinetron dan film pendek. Ia mengutamakan sepatu baru, yang nanti digunakan dalam lomba. Ia yakin bakal menang. Selanjutnya, yang menang dapat tampil di TVRI. Paduan suara akan ditonton ribuan orang di Indonesia. Bekerja dan pengorbanan dilakukan agar kemenangan terwujud.
Pembaca tidak usah berdebar-debar. Yakinlah bahwa Tia berhasil membeli sepatu baru. Segala rintangan dapat dilalui tanpa tangisan atau sesalan yang menyayat. Tia itu tokoh yang ditakdirkan berhasil. Ibunya perlahan sembuh. Ibunya bahagia mengetahui Tia berhasil mengumpulkan uang dan mengenakan sepatu baru. Jadi, para pembaca dilarang cengeng. Cerita tidak melemehkan tapi memberi bara pengharapan.
Cerita cepat selesai terbaca. Tokoh yang mengenakan sepatu baru. Sepatu yang berkaitan dengan menyanyi, bukan sepatu yang diceritakan untuk digunakan demi belajar di sekolah. Gadis kecil yang rela dan bersemangat bekerja. Sepatu baru memang benda yang sangat penting dalam pembuktian suara merdu dan kebahagiaan. Pembaca yang menutup buku mulai berpikiran sembarangan. Sepatu baru dalam masa kekuasaan Orde Baru adalah pengisahan keluarga, sekolah, dan televisi.
__________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com








