View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Thursday, April 9, 2026

Esai Erni Febriyani | Dekonstruksi Karakter Tania dalam Film Ananta Prahadi: Antara Stigma Netizen dan Realitas Trauma Fatherless

Esai Erni Febriyani

 



Karakter Tania dalam film Ananta Prahadi karya Risa Saraswati merupakan salah satu anomali dalam dunia perfilman drama romansa Indonesia. Sejak kemunculannya, tokoh ini tidak pernah sepi dari polemik dan penghakiman moral oleh para penonton, terutama netizen di berbagai platform media sosial. Tania kerap dipandang sebagai representasi perempuan yang egois, keras kepala, temperamental, dan tidak tahu berterima kasih. Penilaian ini muncul dari kacamata sosiologis yang sangat kaku, di mana masyarakat cenderung menuntut tokoh perempuan dalam sebuah narasi cinta untuk bersikap lembut, penurut, dan menerima kasih sayang dengan tangan terbuka. Namun, benarkah Tania sesederhana itu? Ataukah ada kompleksitas psikologis dan latar belakang penciptaan yang sengaja luput dari pengamatan mata penonton yang hanya melihat permukaan?

Kritik ini hadir untuk mendekonstruksi pandangan arus utama tersebut. Jika netizen melihat Tania sebagai sosok yang “bermasalah”, penulis justru melihatnya sebagai sosok yang “terluka”. Perbedaan sudut pandang ini sangat krusial karena di situlah letak inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis yang sejak kecil merasa “asing” karena kemampuan indigonya, Risa menciptakan Tania bukan sebagai objek untuk dibenci, melainkan sebagai kembaran jiwanya yang antisosial dan kesulitan menyatu dengan dunia normal. Melalui narasi ini, kita akan membedah bagaimana standar moral netizen sering kali gagal menangkap rintihan batin seorang penyintas trauma yang sedang berjuang mempertahankan benteng kewarasannya.

Dalam narasi film ini, hubungan antara Tania dan Pierre menjadi medan tempur pertama bagi perbedaan persepsi antara penonton awam dan pembacaan kritis. Bagi netizen yang terbiasa dengan formula film romansa standar, Pierre adalah representasi dari “kesempatan emas” atau sosok penyelamat (savior) yang sempurna secara sosiologis: tampan, mapan, sabar, dan memiliki ketulusan yang tampak tanpa cela. Ketika Pierre secara jujur menyatakan perasaannya, netizen dengan cepat menghakimi reaksi Tania yang justru memilih untuk lari dan menjauh sebagai bentuk kesombongan yang tidak masuk akal. Penilaian netizen ini berangkat dari standar ganda gender yang kaku, di mana seorang perempuan dianggap “bermasalah” atau “egois” jika ia menolak cinta dari lelaki yang dianggap ideal oleh publik. Namun, jika kita menyelami batin Tania, tindakan melarikan diri tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap Pierre secara personal, melainkan sebuah manifestasi dari avoidant attachment style atau kecemasan akut akan kedekatan emosional. Bagi individu yang telah bertahun-tahun membangun benteng kesunyian demi melindungi harga dirinya yang hancur akibat stigma “gila”, pernyataan cinta Pierre bukan merupakan hadiah, melainkan ancaman bagi kestabilan batin yang telah ia susun dengan penuh penderitaan.

Lebih jauh lagi, keputusan Tania untuk meninggalkan Pierre dengan raut wajah yang penuh kesedihan—bukan kebencian—menunjukkan adanya konflik internal antara id yang haus akan kasih sayang dan ego yang terlampau trauma. Netizen sering kali gagal menangkap bahwa di balik sikap “jual mahal” tersebut terdapat sebuah self-loathing atau rasa benci pada diri sendiri yang sangat mendalam. Tania merasa bahwa dirinya adalah sosok yang terlalu sulit untuk dipahami, terlalu rusak untuk dicintai, dan terlalu “kotor” untuk bersanding dengan Pierre yang ia anggap terlalu bersih. Penolakannya adalah bentuk pengorbanan yang tragis. Ia lebih memilih untuk menyakiti Pierre dengan cara menjauh daripada membiarkan Pierre masuk ke dalam dunianya yang penuh dengan amarah dan ketidakstabilan. Ia tidak percaya bahwa kebahagiaan bisa bertahan lama, sehingga ia memilih untuk mengakhiri segalanya sebelum kembali merasakan kehilangan yang menghancurkan. Ini bukanlah egoisme seperti yang dituduhkan netizen, melainkan prinsip pertahanan diri dari seseorang yang merasa bahwa kesepian adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak akan lagi dikecewakan oleh harapan.

Persepsi netizen yang melabeli Tania sebagai perempuan “keras kepala” dalam relasi ini sebenarnya mencerminkan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perempuan yang memiliki prinsip emosional yang otonom. Tania memberikan pesan yang sangat kuat bahwa ia tidak butuh “diselamatkan” oleh cinta yang bersifat heroik jika ia sendiri belum berdamai dengan lukanya. Ia menolak menjadi objek romantis yang pasif; ia memilih jujur pada ketakutannya sendiri daripada berpura-pura bahagia dalam relasi yang ia rasa akan meruntuhkan benteng keamanan psikisnya. Kritik terhadap Tania dalam hal ini seharusnya beralih menjadi kritik terhadap netizen yang terlalu mendewakan “kebahagiaan standar” dan mengabaikan proses penyembuhan trauma yang sangat personal dan tidak linear. Tania adalah bukti bahwa cinta tidak selalu menjadi obat bagi semua orang; bagi sebagian manusia yang retak, cinta terkadang justru menjadi cermin yang memperlihatkan betapa hancurnya pantulan diri mereka sendiri, dan pelarian Tania adalah upaya paling jujur untuk tetap menjaga kewarasannya di tengah ketakutan akan intimasi yang mencekam.

Memasuki analisis ketiga, pusat gravitasi emosional dalam narasi ini terletak pada relasi simbiotik antara Tania dan Ananta Prahadi yang sering kali disalahartikan oleh netizen sebagai bentuk eksploitasi emosional. Pandangan arus utama netizen cenderung memposisikan Ananta sebagai sosok “korban” yang suci, sabar, dan teraniaya oleh sikap temperamental Tania yang meledak-ledak. Netizen menghujat Tania karena dianggap memperlakukan Ananta layaknya asisten pribadi yang bisa disemprot kapan saja, tanpa melihat bahwa Ananta adalah satu-satunya manusia yang berhasil melakukan “rekonstruksi mental” pada Tania sejak masa SMA. Bagi Tania, Ananta bukan sekadar sahabat atau pelayan; ia adalah object transitional atau personifikasi dari ruang aman (safe haven) yang memungkinkannya tetap berfungsi sebagai manusia di tengah badai trauma. Sikap keras Tania kepada Ananta sebenarnya adalah bentuk kejujuran emosional yang brutal. Ia hanya berani menunjukkan sisi “monster”-nya kepada satu-satunya orang yang ia percaya tidak akan pernah meninggalkannya.

Puncak kritik netizen terhadap Tania muncul saat adegan “perjanjian darah” di atas kertas dan ledakan amarah Tania ketika mengetahui Ananta telah bertunangan dengan Sukma. Netizen melabeli reaksi Tania sebagai bentuk kecemburuan romantis yang egois dan tidak tahu diri, mengingat sejak awal hubungan mereka telah dibatasi oleh kesepakatan profesional sebagai bos dan karyawan. Namun, jika dibedah secara psikoanalisis, kemarahan Tania bukanlah manifestasi dari rasa ingin memiliki Ananta secara romantis, melainkan bentuk separation anxiety atau kecemasan akan perpisahan yang sangat akut. Perjanjian darah tersebut bagi Tania bukan sekadar kontrak kerja, melainkan sebuah “mantra pelindung” untuk mengikat keamanan mentalnya secara tertulis. Ketika Ananta memutuskan memiliki kehidupan baru dengan bertunangan, Tania merasa pusat gravitasinya hilang secara tiba-tiba. Ledakan emosi di paviliun—di mana ia memecahkan benda-benda di sekitarnya—adalah bentuk acting out dari jiwa yang merasa “rahim psikologis”-nya sedang dihancurkan secara paksa oleh realitas.

Kritik terhadap Tania dalam hubungan ini seharusnya beralih menjadi sebuah pemahaman tentang bagaimana individu dengan trauma panjang berkomunikasi. Tania tidak memiliki kemampuan linguistik yang sehat untuk mengungkapkan rasa takut akan kehilangan, sehingga emosi tersebut dialihkan dalam bentuk tindakan destruktif atau displacement. Ia merasa bahwa jika Ananta pergi, tidak akan ada lagi orang yang mampu merapikan “cat-cat tumpah” di dalam kepalanya. Pikirannya yang terkesan meremehkan dengan berkata bahwa semua orang harus kuat seperti dirinya sebenarnya adalah tameng untuk menutupi betapa rapuhnya ia tanpa kehadiran Ananta. Tania bukan perempuan galak yang menyia-nyiakan Ananta; ia adalah seorang penyintas yang sedang mengalami nervous breakdown karena merasa satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan kini mulai melepaskan ikatannya. Dengan demikian, apa yang dianggap netizen sebagai egoisme murni sesungguhnya adalah rintihan ketakutan dari seorang manusia yang merasa akan kembali dibuang ke dalam lubang keterasingan yang sunyi dan gelap.

Akar dari segala kekacauan emosional yang dialami Tania sebenarnya berhulu pada sebuah luka purba yang sering luput dari perbincangan netizen, yaitu kehilangan sosok ayah dalam fase kehidupannya. Dalam perspektif psikologi perkembangan, figur ayah adalah simbol perlindungan, stabilitas, dan cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Ketika figur ini hilang secara tiba-tiba, dunia Tania seolah runtuh dan menyisakan kekosongan otoritas emosional yang permanen. Kehilangan ini menciptakan trauma penolakan (rejection trauma) yang membuat Tania secara tidak sadar menarik kesimpulan bahwa semua orang yang ia cintai pada akhirnya akan pergi meninggalkannya. Hal inilah yang menjadi alasan fundamental mengapa Tania cenderung memilih untuk menyendiri dan membangun tembok tinggi di paviliunnya; ia sedang melakukan antisipasi agar rasa sakit karena kehilangan di masa lalu tidak terulang kembali. Baginya, tidak memiliki siapa-siapa jauh lebih aman daripada memiliki seseorang, namun harus hidup dalam ketakutan akan kehilangan yang mencekam setiap detiknya.

Netizen yang menghujat Tania karena ia menolak Pierre atau bersikap kasar kepada Ananta tidak memahami bahwa Tania sedang mengidap fear of abandonment atau ketakutan akan ditinggalkan yang sangat patologis. Penolakannya terhadap Pierre adalah bentuk mekanisme pertahanan diri agar ia tidak memberikan celah bagi cinta untuk masuk karena, baginya, cinta adalah “pintu gerbang” menuju rasa kehilangan. Ia merasa bahwa dengan tetap sendiri, ia memegang kendali penuh atas rasa sakitnya. Hubungannya yang sangat dependen kepada Ananta juga merupakan bentuk kompensasi atas hilangnya figur pelindung dalam hidupnya. Tania memproyeksikan kebutuhan akan sosok yang selalu ada, yang tidak pernah pergi, dan yang mampu meredam emosinya kepada Ananta. Maka, ketika Ananta tiba-tiba menghadirkan sosok Sukma dalam hidupnya, bagi Tania itu bukan sekadar urusan asmara, melainkan sebuah déjà vu traumatik tentang bagaimana seorang laki-laki yang sangat ia andalkan kembali “pergi” untuk memilih kehidupan lain.

Kritik sosiologis terhadap Tania dalam konteks ini seharusnya menyoroti betapa kerasnya masyarakat terhadap anak yang tumbuh dengan luka pengabaian. Alih-alih dipahami sebagai individu yang sedang berjuang dengan inner child yang terluka, Tania justru dipaksa untuk bersikap “manis” dan “normal”, seolah-olah luka masa lalunya tidak pernah ada. Amarahnya yang meledak-ledak di paviliun adalah cara Tania berteriak kepada dunia bahwa ia lelah terus-menerus ditinggalkan dan dipaksa untuk kuat sendirian. Kehilangan sosok ayah telah merusak konsep diri Tania, membuatnya merasa “tidak cukup baik” sehingga ia merasa pantas untuk diabaikan. Inilah alasan mengapa ia sangat defensif; ia merasa harus menjadi “monster” agar tidak ada lagi yang berani mendekat, hanya untuk kemudian meninggalkannya dalam kesunyian. Melalui latar belakang ini, kita bisa melihat bahwa temperamen Tania bukanlah bentuk kejahatan, melainkan strategi bertahan hidup dari seorang anak perempuan yang dunianya sudah kiamat berkali-kali sejak ia masih kecil.

Menganalisis karakter Tania tidak akan lengkap tanpa membedah sosok di balik layarnya, yaitu Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis yang sejak kecil harus hidup dengan kemampuan indigo, Risa sering kali merasa menjadi the outsider atau sosok asing di tengah dunia orang normal. Perasaan “nggak nyambung”, diasingkan, dan dianggap aneh oleh lingkungan sosialnya itulah yang ia proyeksikan sepenuhnya ke dalam diri Tania. Tania bukan sekadar tokoh fiksi; ia adalah “kembaran jiwa” Risa yang merepresentasikan sisi gelap, antisosial, dan kasar yang mungkin selama ini harus diredam oleh Risa dalam kehidupan nyata. Melalui Tania, Risa ingin mengirimkan pesan yang sangat personal bahwa orang-orang yang dianggap aneh atau bermasalah secara mental sebenarnya tidak membutuhkan diagnosis medis yang dingin atau ceramah moral yang menghakimi. Mereka hanya membutuhkan satu orang yang bersedia menerima “monster” di dalam diri mereka tanpa pernah bertanya “mengapa”.

Dalam konteks ini, tokoh Ananta Prahadi hadir bukan sebagai sosok manusia biasa, melainkan sebagai personifikasi dari imaginary friend atau sahabat gaib, serupa dengan Peter Cs yang setia menemani Risa dalam kesunyiannya. Ananta adalah sosok yang seolah-olah “nggak nyata” karena ketulusannya yang terlampau murni; ia tidak memiliki pretensi, tidak menuntut Tania untuk sembuh, dan bersedia menjadi sasaran amarah tanpa membalas. Risa sengaja menciptakan Ananta sebagai bentuk harapan bagi mereka yang sedang mengalami depresi akut atau keterasingan hebat. Ia ingin menunjukkan bahwa di dunia yang penuh penghakiman ini, masih ada ruang bagi penerimaan yang radikal. Ananta adalah “jangkar” bagi Tania, sebagaimana sahabat-sahabat tak kasat mata Risa menjadi jangkar bagi kewarasannya saat dunia nyata terasa terlalu menyesakkan untuk ditinggali.

Lebih jauh lagi, kegemaran Tania melukis dengan penuh amarah hingga merusak kanvas di paviliunnya merupakan bentuk katarsis lewat seni yang sangat nyata. Risa Saraswati, yang juga seorang musisi dan penulis, memahami betul bahwa emosi destruktif tidak seharusnya dipendam, melainkan harus dibuang melalui karya agar tidak membusuk di dalam jiwa. Adegan-adegan temperamental Tania di paviliun adalah simbol dari proses terapi diri (self-therapy) yang dilakukan oleh Risa. Melalui visualisasi tersebut, Risa ingin berbagi pesan kuat bahwa “hantu” yang paling mengerikan di semesta ini bukanlah kuntilanak atau entitas gaib lainnya, melainkan amarah, ego, dan trauma masa lalu yang terkunci rapat di dalam batin manusia. Seni, bagi Tania (dan juga bagi Risa), adalah satu-satunya bahasa jujur yang tersisa ketika kata-kata sudah tidak lagi mampu mewadahi rasa sakit yang teramat dalam.

Kritik terhadap karya ini seharusnya tidak berhenti pada perilaku buruk Tania, tetapi pada bagaimana seni menjadi alat bertahan hidup bagi mereka yang “retak”. Risa ingin menunjukkan bahwa menjadi “aneh” seperti Tania adalah sebuah kewajaran dalam proses menghadapi luka. Dengan menghadirkan Ananta sebagai penyeimbang, Risa sedang melakukan eksorsisme terhadap trauma-trauma pribadinya dan mengajak pembaca atau penonton untuk mulai “berjalan pelan membaca luka” orang lain. Keseluruhan narasi ini adalah sebuah surat cinta bagi para pencari suaka emosional; sebuah pengakuan bahwa meski kita merasa tidak normal dan penuh duri seperti Tania, kita tetap layak untuk mendapatkan satu orang yang mau berdiri di samping kita, merapikan cat-cat yang tumpah, dan memastikan bahwa kita tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi di dalam paviliun kesunyian kita sendiri.

Sebagai konklusi dari seluruh rangkaian dekonstruksi karakter ini, melabeli Tania sebagai perempuan egois dan temperamental hanyalah sebuah bentuk kegagalan kolektif kita dalam membaca lapisan emosi manusia yang kompleks. Melalui sosok Tania, kita diajak untuk menyadari bahwa perilaku seseorang yang terlihat “buruk” di permukaan sering kali merupakan mekanisme pertahanan terakhir dari sebuah jiwa yang sudah terlalu sering dihancurkan oleh kehilangan. Tania bukan sedang mencoba menjadi jahat; ia hanya sedang berusaha untuk tetap utuh di tengah badai trauma fatherless dan keterasingan sosial yang mengepungnya sejak kecil. Jika netizen lebih memilih untuk memuja kesempurnaan Pierre atau kepolosan Ananta, maka esai ini justru memilih untuk memanusiakan keretakan Tania. Sebab, pada akhirnya, kejujuran emosional Tania yang meledak-ledak jauh lebih berharga daripada kepalsuan sosial yang menuntut setiap orang untuk selalu tampil “normal” dan bahagia.

Kritik sosiologis yang membenturkan pandangan netizen dengan realitas batin Tania memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya empati radikal. Kita harus berhenti menjadi hakim moral yang cepat memberikan vonis dan mulai menjadi pembaca yang mau berjalan pelan di lorong-lorong luka orang lain. Risa Saraswati melalui Ananta Prahadi telah berhasil melakukan eksorsisme terhadap trauma pribadinya sekaligus memberikan “surat cinta” bagi mereka yang merasa aneh, berbeda, dan tidak diinginkan oleh dunia. Ananta hadir sebagai pengingat bahwa setiap “monster” di dalam diri manusia berhak mendapatkan satu jangkar yang tulus, dan setiap paviliun kesunyian berhak mendapatkan cahaya yang tidak menghakimi. Tania mengajarkan kita bahwa menjadi retak bukan berarti tidak berharga; justru melalui retakan itulah kita bisa melihat siapa yang benar-benar bersedia bertahan untuk merapikan serpihannya.

Pada akhirnya, memahami Tania adalah perjalanan untuk memanusiakan sisi-sisi gelap dalam diri kita sendiri yang sering kali kita sembunyikan dengan rapi. Melalui analisis ini, diharapkan tidak ada lagi penghakiman dangkal yang dialamatkan kepada karakter-karakter “sulit” seperti Tania, baik dalam karya sastra maupun dalam kehidupan nyata. Karena di balik setiap teriakan amarah dan setiap kanvas yang rusak, selalu ada seorang anak perempuan yang hanya ingin diterima apa adanya tanpa perlu mengubah dirinya menjadi orang lain. Esai ini menjadi pembelaan bagi Tania, bagi Risa, dan bagi siapa pun yang pernah dianggap “gila” oleh dunia yang terlalu malas untuk memahami rasa sakit yang mendalam. Kesunyian memang pahit, namun dalam kesunyian Tania, kita menemukan kejujuran yang paling murni tentang apa artinya menjadi manusia yang terus berjuang untuk tidak kembali hancur.

 

______

Penulis


Erni Febriyani, lahir di Cilegon, 18 Februari 2007. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia yang menaruh minat besar pada dunia kepenulisan, literasi, dan pengelolaan teks. Karyanya berupa puisi, cerpen, esai, serta artikel opini yang dipublikasikan di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Medium, dan Kumparan. Beberapa tulisannya juga terlibat dalam antologi nasional dan proyek buku dongeng anak. Aktif mengikuti kegiatan literasi, lomba menulis, serta pelatihan kepenulisan dan editorial. Pernah menjadi penulis terpilih dalam antologi nasional dan meraih beberapa prestasi di bidang menulis puisi, esai, serta resensi buku. Selain menulis kreatif, ia terbiasa mengolah naskah akademik, menyunting teks, dan memperhatikan tata bahasa serta ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kesehariannya diisi dengan kuliah, menulis, membaca, serta merancang karya-karya tulis yang kelak ingin ia bagikan lebih luas—baik melalui media digital maupun penerbitan mandiri.



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com

Sunday, April 5, 2026

Puisi-Puisi Budiawan D. Santoso

Puisi Budiawan D. Santoso




Orang Awam


Gambar-gambar menempel ke area mata. Aku ibu butuh obat cacing. Aku anak mau vitamin A.

Chairil Anwar tlah membuka buku.

Sapardi Djoko Damono tlah lelah.

Aku siapa yang belum mengenal terkenal,

pagi-pagi tlah dapat sodoran pelbagai puisi.



Cuci


A dan C. F juga D. Mau apa suara yang terbungkam penjara.

Aku butuh sunyi.

Aku mau bercinta.

Lain aku kepengin makan serta minum.

Mawar melati kenanga, dan rerumputan. Angin tak pernah diam apa membisu.



Itu: Kacang Tanah


Kecap sedap tlah terbuang. Tenggorokan tak sepi ludah.

Ada ruang dan diam yang ingin.

Itu

apa?

Pulang aku bersama ayah.

Bawa apa apa.

Kurebus bersama itu. Dalam dalam.

Dalam sujud sembah yang jarang bertemuan.



Mata Elang


Apa Amerika Serikat ada dalam hatimu?

Apa aku bersamamu?

Sepenggal cinta mencari, menunggu, yang kadang tersesat, tak mau arah.

Aku, Amerika.



Buang


Harta bendamu. Biar aku kamu,

menyatu.

Ah, aku merindu.

Ah, aku merupamu.

Ah, Tuhanmu apa Tuhanku,

tlah menyatu.


Januari- awal Februari, 2026

 

______


Penulis

Budiawan D. Santoso, penyair tinggal di pinggir kota Solo Baru, Kec. Grogol, Kab. Skh, Jateng. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Erni Febriyani | Jejak Lumpur Merah

Cerpen Erni Febriyani


Udara Terminal Pulo Gebang siang itu terasa seolah bisa membakar kulit. Sekarang sudah pukul 13.00. Aspal hitam yang menguapkan panas membuat pandanganku sedikit bergelombang—efek fatamorgana yang menyebalkan. Aku menyipitkan mata, memindai deretan bus AKAP yang terparkir rapi bagai monster besi yang sedang tertidur. Langkahku kupercepat saat melihat sebuah bus dengan trayek Jakarta-Banyuwangi mulai menyalakan mesin. Asap knalpotnya yang hitam pekat menyembur, seolah memberi peringatan bahwa ia akan segera berangkat—jika bukan karena urusan pekerjaan, aku tak akan mau buru-buru seperti ini.


Tepat di pintu bus, aku berpapasan dengan seorang wanita. Ia mengenakan terusan tipis yang tampak terlalu anggun untuk perjalanan sejauh seribu kilometer.

"Permisi, Kak. Apa benar ini bus yang menuju Banyuwangi?" tanyaku, sedikit terengah. 

Ia menoleh, menatapku dari ujung sepatu hingga ujung kepala dengan tatapan yang sulit diartikan. Dingin, tapi magnetis. "Betul," jawabnya singkat dengan suara yang rendah, "Aku juga akan ke sana." Aku menganggukkan kepala, ikut masuk ke dalam bis.

Nasib seolah sedang bermain dadu, ternyata kursi kami bersebelahan. Di tengah deru mesin dan guncangan bus yang mulai membelah kemacetan Jakarta, percakapan kami mengalir. Namanya adalah Raya, awalnya kami hanya sekadar berbagi permen hingga akhirnya bertukar nomor ponsel.


"Kamu asli orang sana, Raya? Ada saran tempat yang bagus untuk dikunjungi nggak?" tanyaku berbasa-basi, mencoba mengusir kantuk yang mulai menyerang karena pendingin bus yang menusuk tulang.


"Aku bukan orang Banyuwangi," ia menatap ke luar jendela, melihat deretan lampu jalan yang mulai menyala saat bus memasuki tol Trans-Jawa. "Aku ke sana untuk berobat."


“Kamu sakit apa?" tanyaku spontan. Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah kami sudah bersahabat sejak lama.


Ia tidak langsung menjawab. Keheningan tiba-tiba menyergap di antara kami, lebih sunyi daripada suara mesin bus di bawah kaki. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela.


"Suamiku meninggal beberapa tahun lalu karena pandemi," suaranya bergetar tipis. "Prosedur saat itu juga sangat ketat. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk menatap wajahnya atau menyentuh tangannya untuk terakhir kali. Ada rahasia yang belum sempat dia bisikkan, dan sesuatu yang belum sempat diselesaikan.”


Ia menoleh padaku, sebuah senyum tipis yang getir terukir di bibirnya. "Aku ke Banyuwangi untuk menemui seseorang yang katanya bisa 'membuka pintu'. Aku ingin menyelesaikan apa yang belum tuntas di antara kami."


Jantungku berdegup lebih kencang. Logika di kepalaku berteriak bahwa ini gila, aku paham betul makna ‘membuka pintu’ yang ia maksud ke arah mana, ini sungguh gila. Tapi rasa penasaranku jauh lebih berisik. "Apa aku boleh ikut?" tanyaku lirih.


Raya menatapku cukup lama, matanya seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku sanggup menanggung apa yang akan kulihat nanti. "Boleh," jawabnya pelan. "Kirim lokasimu saja. Nanti aku jemput bersama temanku."


Aku mengangguk antusias, meski ada desir aneh di dadaku. Kami berpisah di terminal pusat Banyuwangi. Seorang rekan kerja sudah memesankanku kamar hotel, jadi aku bisa langsung mandi dan melepas penat setelah belasan jam di perjalanan. Namun, rasa lelahku kalah oleh rasa ingin tahu. Aku telah tiba di Banyuwangi pukul 09.00, lagipula aku sudah tertidur pulas di dalam bis. Begitu pesan singkat dari Raya masuk, aku segera turun ke lobi.


"Hai, Sasa. Kenalin, ini Tia, temanku," ucap Raya dari balik kemudi. Aku menyapa Tia, yang hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa dingin.


Kami membelah jalanan Banyuwangi yang sudah mulai dipadati orang yang berlalu-lalang. Namun perjalanan itu terasa tanpa akhir, hampir dua jam kami menembus rimbunnya pepohonan yang dahan-dahannya meliuk seperti tangan raksasa. Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah rumah tua kayu khas Jawa yang berdiri angker di tengah kesunyian.


Seorang wanita tua mengenakan kebaya hitam legam keluar dari pintu yang berderit. Rambutnya disanggul rapi, namun tatapannya tajam menusuk, seolah bisa membaca setiap dosa di kepalaku. Raya dan Tia memanggilnya "Nyai".


Awalnya aku diminta menunggu di luar, di bawah naungan pohon kamboja yang baunya menyengat. Namun tak lama, Tia memanggilku masuk, “Jangan berbicara apa pun ketika kamu melihat sesuatu di dalam.” Aku menganggukan kepala patuh. 


Di dalam, ruangan itu hanya diterangi temaram lampu minyak. Bau kemenyan dan aroma amis langsung menyergap penciumanku. Di depan kami, Nyai sudah memegang seekor burung gagak yang sayapnya masih bergeletar lemah. Tanpa ragu, Nyai membelah dada burung itu dengan pisau kecil yang berkilat. Ia mengambil hatinya yang masih hangat, lalu memeras darah hitam pekat itu ke dalam sebuah gelas tanah liat. Setelah merapalkan mantra dalam bahasa yang tak kupahami, ia menyodorkan gelas itu pada Raya.


Raya tampak pucat, namun ia patuh. Ia meneguk darah gagak itu hingga tandas, menyisakan noda
merah kehitaman di sudut bibirnya.


"Lepas pakaianmu. Pakai jarik ini," perintah Nyai dengan suara serak.


Raya melepaskan identitas manusianya, berganti kain jarik lusuh yang disediakan. Nyai kemudian membentangkan kain hitam besar. Mereka berdua masuk ke bawah kain itu, menghilang dari pandangan, menyisakan gundukan misterius yang mulai bergerak-gerak aneh.


Suasana menjadi sangat pekat. Jantungku berdegup kencang, rasa takut yang luar biasa merayap dari ujung kaki. Karena aku tahu bahwa ritual ini sudah pasti bekerja sama dengan jin, refleks aku mulai merapalkan ayat kursi di dalam hati. Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.... Aku terus mengulangnya, mencoba mencari perlindungan dari aura gelap yang mulai memenuhi ruangan itu.


Di tengah gumaman Ayat Kursi yang kurapalkan dalam hati, tiba-tiba kain hitam itu tersingkap. Nyai muncul seperti bayangan yang keluar dari kegelapan. Ia tidak berkata-kata, namun matanya yang sehitam jelaga menatapku tajam—begitu tajam hingga seolah-olah ia bisa mendengar setiap bait doa yang kupanjatkan.


Perlahan, ia mengangkat jari telunjuknya yang keriput ke depan wajahku. Ia menggerakkannya ke kanan dan ke kiri secara perlahan. Isyarat universal untuk satu kata: diam.


Napas pembelaanku tercekat. Lidahku kelu, Ayat Kursi yang kurapalkan mendadak terhenti di tenggorokan. Begitu aku terbungkam, Nyai kembali menghilang ke balik kain, meninggalkanku yang gemetar hebat di sudut ruangan. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berzikir tanpa suara, memohon agar kakiku tidak lemas saat diperintahkan pergi.


Tak lama, Raya diarahkan masuk ke sebuah ruangan tertutup di sudut rumah. Aku dan Tia diminta segera meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum kakiku melewati ambang pintu, sebuah suara merobek kesunyian hutan. Itu suara Raya. Ia menangis hebat, meraung pedih, namun di sela tangisnya aku mendengar ia sedang bercakap-cakap dengan seseorang—sebuah suara bariton yang berat, yang mungkin seharusnya sudah tertimbun tanah bertahun-tahun lalu.


Hujan deras menyambut kami di luar. Tanah merah yang tadinya kering kini berubah menjadi bubur lumpur yang amis. Aku menatap nanar ke arah sepatu putih kesayanganku yang kini terendam lumpur merah pekat. Sial, susah dicuci ini nanti, batinku mencoba mengalihkan ketakutan dengan masalah sepele.


Di dalam mobil, suasana sunyi senyap, hanya ada bunyi wiper yang menyapu kaca depan. Aku memberanikan diri membuka suara.


"Raya... nggak apa-apa kita tinggal sendirian di sana?" tanyaku dengan suara parau.


Tia menatapku sekilas dari spion tengah. Tatapannya kosong. "Nggak apa-apa. Memang begitu aturannya. Tiga hari lagi aku akan menjemputnya. Dia sudah 'bertemu' dengan suaminya sekarang."


"Tiga hari? Ngapain saja di dalam ruangan sempit itu?"


Tia tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ngapain saja. Menyelesaikan masalah yang tertunda, menagih janji yang patah, atau sekadar melepas rindu. Dan tentu saja..." Tia menjeda kalimatnya, "...mereka akan melakukan hubungan suami-istri. Seperti biasa."


Aku terhenyak. Kepalaku mendadak pening. Suaminya sudah meninggal, jasadnya entah sudah jadi apa, tapi di dalam sana—di balik dinding kayu tua itu—Raya sedang bercinta dengan sesuatu yang ia sebut suami?


Kami kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan. Di tengah pikiranku yang berkecamuk, tiba-tiba mobil sudah berhenti tepat di depan lobi hotel. Aku tersentak. Bagaimana mungkin? Perjalanan berangkat tadi terasa seperti abadi—dua jam menembus hutan—tapi pulang seolah hanya sepuluh menit. Aku tidak bertanya, aku hanya ingin segera lari dari atmosfer dingin di dalam mobil itu.


Setibanya di kamar, aku bergegas menuju kamar mandi, ingin membasuh sisa-sisa bau kemenyan yang seolah menempel di kulitku. Namun, tepat sebelum aku menyalakan keran, sebuah suara menyelinap masuk melalui celah pintu. Suara sinden. Sangat halus, meliuk-liuk merdu, namun tanpa jeda untuk mengambil napas. Awalnya aku menduga itu hanya musik dari tamu di kamar sebelah yang menyetel lagu tradisional. Aku mencoba mengabaikannya dan masuk ke dalam kucuran air. 


Namun… setelah aku selesai dan mengeringkan tubuh, suara itu tetap ada. Sama persis, dengan nada yang sama, diputar berulang-ulang seperti kaset rusak yang terjebak di satu pita yang sama. Aku merebahkan diri di kasur, mencoba memejamkan mata dan membiarkan senandung itu menjadi latar belakang. Hingga sebuah bisikan tajam tepat di lubang telingaku membuatku terlonjak.


"Lupakan!"


Suara itu kering dan dingin. Jantungku berpacu hebat. Detik berikutnya, aku mendengar namaku dipanggil dari luar. "Sasa... Sasa...."


Aku bangkit dan menyibak tirai jendela. Di bawah sana, di halaman hotel, aku melihat Tia. Ia berdiri mematung sambil mendongakkan kepalanya tepat ke arah jendelaku. Aku terpaku bingung. Kamarku ada di lantai delapan, jaraknya puluhan meter dari tanah. Bagaimana mungkin suaranya bisa terdengar sejelas orang yang berdiri di sampingku?


Baru saja mulutku terbuka untuk memanggilnya, pemandangan nalar itu pecah. Tia tidak berjalan menuju pintu masuk. Ia justru merayap. Tubuhnya menempel di dinding hotel, merangkak naik dengan gerakan patah-patah yang sangat cepat—persis seperti laba-laba raksasa.


Aku tersungkur mundur, menutup jendela dengan kasar dan menguncinya rapat-rapat. Napas duniaku terengah-engah. Panik, aku mulai merapalkan semua ayat suci yang kuhapal, namun suara sinden itu justru semakin mengencang, seolah menertawakan ketakutanku. Bisikan "LUPAKAN!" bergema di setiap sudut kamar.


Demi menyelamatkan kewarasanku, aku meraih ponsel, menyalakan murotal dengan volume maksimal untuk menenggelamkan suara-suara gaib itu. Aku meringkuk di bawah selimut, memejamkan mata rapat-rapat sampai akhirnya kelelahan menyeretku ke dalam tidur yang gelap.


***


Keesokan harinya, setelah seluruh pekerjaanku tuntas, aku duduk di restoran hotel. Aroma kopi yang kusesap sedikit menenangkan saraf-sarafku yang tegang. Mataku kosong, menatap seorang petugas kebersihan yang sedang memanjat tangga untuk memperbaiki lampu yang berkedip di langit-langit.


DAR! 


Tiba-tiba, suara ledakan pecah. Lampu itu meledak hebat. Secara refleks, aku menutupi wajah dengan kedua tangan, menghindari hujan serpihan kaca. Namun, saat aku membuka mata, duniaku berganti total.


Bau kopi berganti bau aspal panas. Suasana restoran yang sejuk berganti menjadi hiruk-pikuk terminal yang menyesakkan. Aku tidak lagi duduk di kursi empuk, melainkan tergeletak di lantai terminal yang kasar. Di sekelilingku, beberapa petugas medis sedang sibuk, dan sebuah ambulans terparkir dengan lampu strobo yang menyilaukan.


"Mbak? Mbak bisa dengar saya?" seorang petugas medis menepuk pipiku.


Aku mengerjap, mencoba menajamkan penglihatan. Di kerumunan orang yang menonton, aku melihatnya. Raya. Ia berdiri di sana, menatapku dengan sebuah senyum kecil yang misterius. Baru saja aku ingin berteriak dan mengejarnya, petugas medis menahanku.


"Jangan banyak gerak dulu, Mbak. Mbak harus segera ke rumah sakit," ucapnya tegas.


Aku linglung. Sepanjang perjalanan di ambulans, kepalaku berdenyut hebat. "Apa yang terjadi? Saya... saya tadi di hotel," gumamku parau.


Petugas medis itu menatapku kasihan. "Mbak pingsan di terminal. Menurut saksi mata, kepala Mbak dipukul oleh seorang ODGJ. Padahal ODGJ itu perempuan tua loh, Mbak. Tapi pukulannya keras sekali, oleh sebab itu Mbak langsung tumbang."


Aku tertegun. ODGJ tua? Pingsan di halte? Jadi, pertemuanku dengan Raya, perjalanan ke Banyuwangi, darah gagak, dan kain hitam itu... hanya bunga tidur saat aku pingsan? Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah halusinasi akibat gegar otak ringan. Aku bahkan belum sampai ke kota tujuan. Semuanya hanya mimpi.


Setibanya di rumah sakit, petugas medis menyerahkan kantong plastik berisi barang-pribadiku. "Ini sepatunya, Mbak. Tadi terlepas saat Mbak dievakuasi."


Aku mengambil sepatu putih itu, seketika jantungku seolah berhenti berdetak. Sepatu itu kotor. Bukan sekadar debu terminal, melainkan kerak lumpur merah yang tebal, basah, dan berbau amis kemenyan. Padahal Terminal Pulo Gebang sedang sangat kering dan terik. Satu-satunya tempat berlumpur merah yang kukunjungi hanyalah halaman rumah Nyai.


Di tengah guncangan batinku, ponselku bergetar. Sebuah telepon dari rekan kerjaku.


"Bu, maaf ya, saya belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Masih ada meeting yang harus saya pegang," ucapnya dari seberang sana.


"Nggak apa-apa, Pak," jawabku gemetar. "Maaf juga saya terlambat datang ke Banyuwangi. Saya belum sempat cari hotel, meeting hari ini saya bolos, dan tugas yang Bapak arahkan juga belum sempat saya sentuh...."


Hening sejenak di seberang telepon.


"Loh? Maksud Ibu apa?" suaranya terdengar bingung. "Ibu kan sudah di Hotel Arum sejak kemarin. Soal meeting, tadi pagi kita kan sudah bertemu, Bu? Tugas yang mana yang belum dikerjakan? Perasaan tadi presentasi Ibu lancar-lancar saja, semua sudah selesai."


Aku terdiam. Lidahku kelu. Ponsel itu hampir merosot dari genggamanku. Jika aku pingsan di halte, lalu siapa yang presentasi di kantor? Jika semua itu mimpi, dari mana datangnya tanah merah di sepatuku?


Aku memperhatikan sepatuku dengan saksama, mengingat kembali kejadian yang telah kulalui. Hingga tatapanku tertuju pada ujung tali sepatu. Lagi-lagi aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Di ujung tali sepatuku, ada bekas noda kering berwarna kehitaman. Bekas darah.


_______


Penulis


Erni Febriyani, lahir di Cilegon, 18 Februari 2007. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia yang menaruh minat besar pada dunia kepenulisan, literasi, dan pengelolaan teks. Karyanya berupa puisi, cerpen, esai, serta artikel opini yang dipublikasikan di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Medium, dan Kumparan. Beberapa tulisannya juga terlibat dalam antologi nasional dan proyek buku dongeng anak. Aktif mengikuti kegiatan literasi, lomba menulis, serta pelatihan kepenulisan dan editorial. Pernah menjadi penulis terpilih dalam antologi nasional dan meraih beberapa prestasi di bidang menulis puisi, esai, serta resensi buku. Selain menulis kreatif, ia terbiasa mengolah naskah akademik, menyunting teks, dan memperhatikan tata bahasa serta ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kesehariannya diisi dengan kuliah, menulis, membaca, serta merancang karya-karya tulis yang kelak ingin ia bagikan lebih luas—baik melalui media digital maupun penerbitan mandiri.



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, April 4, 2026

Resensi Kabut | Sepatu dan Merdu

Oleh Kabut



Judul buku cerita anak kadang lugas. Pengarang sengaja membuatnya sederhana, mudah dipahami oleh pembacanya yang anak-anak. Artinya, menjuduli cerita untuk anak dan dewasa ada perbedaan. Namun, judul tetap sangat penting dalam usaha membuat anak-anak terpikat cerita yang tertulis. Judul dari pengarang kadang berubah oleh usulan editor. Ada pula yang harus patuh dengan keputusan penerbit dalam menentukan judul, yang mungkin dipengaruhi ramalan pemasaran. 


Apakah judul ratusan cerita anak di Indonesia sudah dipilih untuk garapan penelitian? Pada masa kolonial, ada beberapa judul naskah buku yang berubah saat diterbitkan oleh Balai Pustaka. Di penerbit-penerbit partikelir, perubahan judul sudah biasa. Kebijakan pemerintah kolonial berkepentingan dalam kontrol bahasa, termasuk dicetaknya judul di kulit muka. Judul yang aneh-aneh menimbulkan pelarangan. Nasib pengarangnya pun dalam ancaman. Adakah judul cerita anak yang membikin pihak pemerintah kolonial marah atau sewot? Kita menanti peneliti yang mengungkapkan dibarengi bukti-bukti. 


Pada abad XXI, judul untuk buku cerita anak meriah dengan bahasa Inggris. Jangan menyalahkan penggunaan bahasa Inggris, yang membuat anak-anak malah keranjingan membaca buku. Penerbit-penerbit buku Islam pun mulai memberi perbedaan. Mereka menerbitkan buku cerita anak dengan judul menggunakan bahasa Arab. Pokoknya, perkembangan judul cerita anak membuat kita senang sekaligus bingung.


Ingatan kita terhadap judul-judul buku cerita anak sangat lemah bila dibandingkan dengan sastra anak asal Amerika Serikat dan Eropa. Kita mudah ingat judul-judulnya dalam bahasa Inggris. Mengapa itu terjadi? Apakah kita memiliki cara mengingat yang timpang atau diskriminatif?


Pada 1978, terbit buku cerita anak oleh BPK Gunung Mulia. Buku itu berjudul Sepatu Baru. Yang menulis cerita adalah Nyonya RG Dumais. Penulisan nama memakai “nyonya”. Kita menduga bila yang menulis lelaki sudah beristri: “tuan”. Ingat, kita sedang memasalahkan judul cerita, bukan cara penulisan nama pengarang.


Judul yang sederhana, tidak sulit dimengerti. Gambar di kulit muka menampilkan gadis kecil yang mengenakan sepatu berwarna hitam. Judul dan gambar sudah cocok. Kita pun melihat sosok perempuan tua berkebaya tanpa mengenakan alas kaki.


Penggunaan judul cerita dengan diksi “baru” jangan cepat dituduh agar direstui rezim yang dinamakan Orde Baru. Dulu, “baru” memang politis gara-gara Soeharto yang bernafsu kekuasaan. Konon, “baru” itu memicu pengecapan bahwa rezim Soekarno disebut “Orde Lama”. Taktik politik sengaja memberi kesan buruk kekuasaan Soekarno. Maka. “baru” yang dibesarkan Soeharto adalah kebaikan, kebenaran, keadilan, kesempurnaan, kesejahteraan, dan lain-lain.


Kita harus menghentikan ingatan politik. Yang terpenting adalah menikmati cerita yang berjudul Sepatu Baru. Pengarang tidak sedang memberi cerita yang mengandung iklan beragam merek sepatu, yang pernah menjadi idaman jutaan orang di seantero Indonesia. Ceritanya tidak menyebut merek. 


Gadis kecil itu bernama Tia. Di sekolah, ia terpilih untuk bergabung dalam kelompok paduan suara. Artinya, suara Tia merdu. Kelompok paduan suara mau mengikuti lomba, yang hadiahnya menggiurkan. Jadi, mereka rutin latihan dan bersungguh-sungguh. Tia bersemangat latihan, tidak meninggalkan pelajaran di sekolah atau pekerjaan-pekerjaan di rumah. Sejak awal cerita, Tia adalah teladan bagi para pembacanya. Gadis kecil yang tangguh.


Masalah terbesar di halaman-halaman awal: sepatu. Yang ikut lomba dianjurkan guru agar mengenakan sepatu berwarna hitam, yang bakal berpengaruh dalam penampilan murid-murid di mata para juri dan penonton. Tia bingung dan sedih. Mengapa?


Cerita mulai membuat para pembacanya memuji pikiran dan sikap Tia dalam mengatasi masalah sepatu. Pada mulanya, ia bingung tapi cepat mengetahui cara menjawabnya. Yang ditulis pengarang: “Seminggu yang lalu, Tia telah membongkar isi peti untuk menyimpan sepatu-sepatu tua ibunya. Dicobanya beberapa pasang. Tetapi, semuanya masih terlalu besar ukurannya. Lagi pula modelnya sudah ketinggalan zaman. Dua hari lalu, Tia ke rumah Ida, saudara sepupunya, hendak meminjam sepatu Ida. Tetapi, terlalu kecil buat Tia. Dengan sedih Tia melihat ke arah kakinya dengan sepatu yang using dan menipis solnya.” 


Gadis kecil itu memikirkan sepatu hitam dan lomba menyanyi. Akhirnya, ia memikirkan uang agar dapat membeli sepatu baru. Jawabannya susah. Yang pasti, Tia tidak sempat berpikir sejarah. Ia belum perlu memikirkan sejarah yang menyebut bahwa modernitas tiba di Indonesia tidak bertelanjang kaki. Maksudnya, orang-orang asing berdatangan mengenalkan alas kaku. Orang-orang Eropa turun dari kapal mengenakan sepatu. Pada saat asing itu menguasai pulau-pulau di Nusantara, penampilan orangnya necis. Mereka mengenakan pakaian yang rapi dan bersepatu. Pada akhir abad XIX, ada usaha mengajak kaum bumiputra mencicipi modernita. Maka, dibukalah sekolah-sekolah. Kebijakan itu berakibat kaki-kaki bocah di tanah jajahan mulai bersepatu. Pada situasi berbeda, sepatu menandakan kelas sosial dan kemunculan pekerjaan-pekerjaan baru di Hindia Belanda. Masalah sejarah belum menjadi pemikiran Tia. 


Pengarang mengisahkan bahwa bapaknya sudah meninggal. Di rumah, Tia hidup bareng ibunya. Setiap hari, ibunya menjadi buruh mencuci dan menyetrika, sejak pagi sampai sore. Malam, ibu melanjutkan pekerjaan dengan menjahit. Semua demi mendapatkan nafkah. Pembaca mengerti kemiskinan. Bekerja keras menjadi bukti agar tidak makin menderita.


Tia ingin ibunya ikut menentukan cara mengadakan sepatu baru. Yang dilakukan Tia adalah berusaha mengajak ibunya bercakap dan memberi keputusan: “Sepatu baru, Bu, hitam. Untuk ikut perlombaan paduan suara. Ana, teman Tia di seberang rumah juga ikut menyanyi. Ana sudah beli sepatu. Harganya dua ribu rupiah.” Ibu mendengarkan, memberi jawab pendek: “Dua ribu…”


Tia membuka celengan. Ibu menghitung tabungan. Uang belum mencukupi untuk membeli sepatu baru. Pembaca perlahan mulai mengagumi usaha-usaha Tia. Yang diceritakan pengarang mungkin lazim tapi pembaca dibuat kagum. Tia ikut membantu ibunya bekerja di binatu. Malamnya, ia ikut menjahit. Semua demi terkumpulnya uang sampai dua ribu rupiah. Ibunya kelelahan dan sakit. Apakah terjadi keputusasaan? Tia tetap ikut bekerja sambil merawat ibunya. Ia memilih pamit dulu dari belajar di sekolah, termasuk latihan menyanyi.


Pada masa sekarang, ketokohan Tia itu bisa segera dibuatkan sinetron dan film pendek. Ia mengutamakan sepatu baru, yang nanti digunakan dalam lomba. Ia yakin bakal menang. Selanjutnya, yang menang dapat tampil di TVRI. Paduan suara akan ditonton ribuan orang di Indonesia. Bekerja dan pengorbanan dilakukan agar kemenangan terwujud. 


Pembaca tidak usah berdebar-debar. Yakinlah bahwa Tia berhasil membeli sepatu baru. Segala rintangan dapat dilalui tanpa tangisan atau sesalan yang menyayat. Tia itu tokoh yang ditakdirkan berhasil. Ibunya perlahan sembuh. Ibunya bahagia mengetahui Tia berhasil mengumpulkan uang dan mengenakan sepatu baru. Jadi, para pembaca dilarang cengeng. Cerita tidak melemehkan tapi memberi bara pengharapan.


Cerita cepat selesai terbaca. Tokoh yang mengenakan sepatu baru. Sepatu yang berkaitan dengan menyanyi, bukan sepatu yang diceritakan untuk digunakan demi belajar di sekolah. Gadis kecil yang rela dan bersemangat bekerja. Sepatu baru memang benda yang sangat penting dalam pembuktian suara merdu dan kebahagiaan. Pembaca yang menutup buku mulai berpikiran sembarangan. Sepatu baru dalam masa kekuasaan Orde Baru adalah pengisahan keluarga, sekolah, dan televisi.


__________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Monday, March 30, 2026

Karya Guru | Kapan Bapak Jualan? | Cerpen Syabaharza

Cerpen Cerpen Syabaharza 



Sepeda ontel dan keranjang dagangan masih terparkir dengan rapi di halaman rumah. Ampas kelapa yang sudah mulai membusuk berserakan di sekitar sepeda. Sabut kelapa juga tidak kalah semerawut, menambah kesan tidak teratur halaman rumah itu. Tulisan “besok bayar, hari ini gratis” tampak jelas di keranjang. Susunan aksara yang kesannya biasa tetapi terkadang menjebak bagi yang tidak memahaminya. Beberapa butir kelapa tua yang belum dikupas bergelantungan di sebuah kayu yang sengaja diciptakan. Toples dengan bentuk dan rupa yang sama masih tersusun rapi dalam keranjang. Toples itu berisi air dengan warna random. Seolah seperti sahabat karib, keranjang dan toples itu selalu bersama.


Pak Darsim dan anaknya semenjak tadi memandang ke arah sepeda dan keranjang itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tatapan mencari jawaban dari sebuah permasalahan yang tidak diketahui kapan akan terjawab. Sepasang mata keduanya tidak berkedip memperhatikan segala pernak-pernik di sekitar sepeda dan keranjang itu. Dua pasang mata itu mewakili beberapa orang miskin yang tidak mampu berbuat banyak ketika diterjang oleh kesewenang-wenangan. Ketidakadilan seolah akrab dengan mereka. Sepeda dan keranjang itu turut menjadi saksi ketika fitnah itu dengan telak menghantam mata pencahariannya. Fitnah yang diluncurkan oleh segelintir orang berseragam. Fitnah begitu tajam bagai anak panah yang diluncurkan dengan kekuatan penuh.


Sudah hampir satu pekan sepeda ontel dan keranjang itu terparkir di halaman. Belum bisa dipastikan kapan sepeda itu beroperasi lagi. Traumatik psikis yang membuat Pak Darsim belum berani untuk berdagang kembali. Rasa sakitnya mengalahkan seperti ditusuk benda tajam yang sangat tajam. Pukulan dan tendangan yang dirasakan Pak Darsim waktu itu memang sakit, namun pukulan kepada psikisnya jauh lebih membekas. Bekas lebam yang masih terlihat di pipi dan tubuhnya masih bisa ditahan, tapi luka di hatinya terasa sangat perih. Walau demikian Pak Darsim tetap berusaha tegar di hadapan anak semata wayangnya. Hanya ia bingung harus kemana mengadu dan mencari nafkah untuk buah hatinya itu.


***


“Kapan Bapak jualan?”


Entah sudah berapa kali anaknya melontarkan pertanyaan seperti itu. Mungkin karena Pak Darsim tak kunjung memberikan jawaban.


Pak Darsim belum bisa menjawab. Ia hanya mengelus kepala anaknya itu dengan penuh cinta dan sayang. Dibelai rambut anaknya yang sudah memanjang sampai bahu itu. Kesedihan kembali menyeruak dari hati Pak Darsim.


“Bapak tidak apa-apa kan?”


Merasa pertanyaan pertama tidak digubris, sang anak melontarkan pertanyaan lagi. Kali ini pertanyaan yang mewakili kekhawatiran seorang anak terhadap keadaan orang tuanya.


“Tidak Nak, Bapak baik-baik saja.”


Seperti biasa Pak Darsim mampu menjawab pertanyaan selain “kapan bapak jualan?”. 


“Kalau begitu, kapan Bapak jualan lagi?”


Dan untuk kesekian kalinya Pak Darsim tidak bersuara ketika pertanyaan itu dilontarkan sang anak.


Fenomena diamnya Pak Darsim ketika diajukan pertanyaan tertentu membuat sang anak merasa bingung dan penasaran. Sang anak terus bertanya-tanya dalam hati, mengapa bapaknya selalu ada jawaban untuk pertanyaan lain, tetapi membisu seribu kata jika pertanyaan “kapan jualan” disampaikan.


Sang anak terus mencoba menebak terkait perilaku sang bapak. Sang anak berasumsi bapaknya mengalami amnesia khusus untuk pertanyaan itu saja. Tapi apakah ada penyakit seperti itu. Selama ia sekolah belum pernah mendengar adanya penyakit amnesia sebagian, sepengetahuannya jika orang amnesia maka akan lupa segalanya.


“Bapak mau makan?”


Sang anak mencoba mengubah pertanyaannya kembali. Pertanyaan yang sengaja ia bedakan dengan pertanyaan sebelumnya. Sang anak ingin tahu apakah pertanyaan versi terbaru ini akan dijawab bapaknya.


“Bapak belum lapar.”


Keheranan sang anak bertambah membuncah. Keheranannya sekarang sudah bercampur dengan amarah yang siap menyembur bagai lahar gunung berapi. 


Sang anak heran dengan bapaknya yang hanya bisa menjawab pertanyaan selain “kapan jualan.” Sang anak marah terhadap dirinya yang tidak mampu memahami apa yang menimpa bapaknya.


Sang anak diam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menatap sang bapak yang masih terlihat seperti orang linglung. Rasa sedih menjelma dalam dirinya. Ia tidak pernah membayangkan bapaknya jadi seperti sekarang ini. Ia sudah hampir putus asa menunggu jawaban pertanyaan “kapan bapak jualan”.


***


Keadaan Pak Darsim yang tidak bisa menjawab pertanyaan “kapan bapak jualan” dengan cepat menyebar ke pelosok kampung. Sebagian besar penduduk menyangka bahwa Pak Darsim masih trauma dengan kejadian beberapa pekan yang lalu. Kejadian ketika Pak Darsim diperlakukan seperti pesakitan yang sangat berdosa. Dagangannya habis dilempar dan dihancurkan. Waktu itu Pak Darsim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyaksikan dengan matanya sendiri sumber penghidupannya diporak-porandakan.


Menurut cerita, waktu itu ada yang membeli dagangan Pak Darsim. Seperti biasa Pak Darsim melayani dengan ramah dan senyum. Sebagai pedagang tentu ia girang dagangannya dibeli. Satu per satu pembeli itu dilayani. Dan dalam sekejap dagangan es kelapanya hampir ludes. Kebahagian Pak Darsim semakin menjadi karena selain uang sudah terkumpul dan dagangannya habis. Ia juga bisa pulang cepat ke rumah. Pak Darsim pun duduk santai sambil merapikan uang yang sudah didapatnya.


Awal mula masalah mengampiri Pak Darsim ketika ada dua orang laki-laki berbadan besar mendatanginya. Tanpa bertanya dan tanpa berbicara kedua lelaki itu menendang keranjang es Pak Darsim sambil mengeluarkan kata-kata kasar.


“Kamu coba menipu ya?”


Lelaki berseragam cokelat dengan pangkat di bahunya melontarkan pertanyaan kepada Pak Darsim. Namun belum sempat Pak Darsim menjawab ia sudah menjulurkan tangan ke dalam keranjang dagangan Pak Darsim dan mengambil sebuah es kelapa yang masih dibungkus.


“Sekarang kamu yang makan!” lelaki itu menyodorkan es kelapa itu ke mulut Pak Darsim. 


Mendapat perlakuan seperti itu, Pak Darsim kaget. “Ada apa ini Pak?”


“Jangan banyak tanya, makan saja itu!” lelaki satunya yang memakai baju kaos oblong membentak Pak Darsim.


Karena ketakutan yang sangat luar biasa dan juga demi menjaga keselamatannya, dengan terpaksa Pak Darsim memakan es kelapa yang merupakan dagangannya itu.


Kedua lelaki itu memperhatikan dengan saksama ketika Pak Darsim memakan es kelapa itu. Mereka menunggu reaksi yang akan terjadi terhadap Pak Darsim. Namun sampai es kelapa itu habis, Pak Darsim tetap seperti biasa.


Kedua lelaki itu saling pandang. Mereka heran kenapa Pak Darsim tidak apa-apa. Padahal tadi ada laporan bahwa es kelapa Pak Darsim berbahaya karena diduga terbuat dari kelapa busuk. 


“Kami minta maaf ya, Pak,” dengan rasa malu dan bersalah kedua lelaki itu mengatupkan kedua tangan di dada menghadap Pak Darsim.


“Kami sudah sembrono.”


Pak Darsim bertambah bingung. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. Tubuhnya masih gemetar. Tangannya tidak bisa bergerak. Peristiwa beberapa saat tadi sangat membuatnya terpukul. 


“Tolong jangan dilaporkan ya, Pak!” lelaki berseragam itu kembali memohon kepada Pak Darsim.


Pak Darsim masih diam. Wajahnya masih tampak pucat. Kerutan hitam di wajahnya bertambah jelas.


***


Sore itu Pak Darsim dan anaknya kembali duduk di teras. Mereka kembali memperhatikan sepeda ontel dan keranjang dagangan yang masih di posisinya.


“Kapan bapak jualan?”


Kembali sang anak bertanya kepada Pak Darsim. Tapi Pak Darsim tetap konsisten dengan kebisuannya ketika ada pertanyaan itu.


_______


Penulis


Syabaharza
adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, March 29, 2026

Cerpen Bella Paring Gusti | Kabel dan Sarang-Sarang di Kepala

Cerpen Bella Paring Gusti



Mata ini terus terpancang pada cermin. Pasalnya kutemukan sosok yang amat gersang di sana, dengan kepala bersarang, mata milik orang lain, kulit pucat, juga dada yang berdetak tanpa inti, seperti jam tanpa jarum. Sejurus kemudian tangan-tanganku merengkuh tubuh yang menggigil, berusaha menepis kenangan-kenangan yang menggerogoti dari dalam.


Perlahan namun pasti, sepasang netra di bayangan cermin itu mulai menghitam dan cekung. Aku terkesiap, buru-buru bangkit. Tenggorokanku mendadak terkancing oleh sesuatu yang pelik. Kusaksikan ubin lantaiku meretak, dan pecahannya mulai merambat, dan berusaha menggapai-nggapai kakiku yang malang.


Tak kusangka tubuh ini mempunyai gerak refleks cepat untuk menarik tas besar setelah sebelumnya kuisi dengan barang-barang. Kini jantungku berguncang begitu keras seolah-olah ada di dekat telinga. Bagaimanapun aku harus cepat menyingkir dari sini, menemukan kenangan lain demi mendepak keluar kenangan hampa yang telah mengakar kuat.


Sebelumnya, telah kukabarkan keinginanku ini kepada adik, dan ia bersedia ikut serta. Kami melangkah hingga akhirnya tiba di sebuah pelataran luas di mana lantainya yang mengkilap tak berhenti memantulkan langkah-langkah orang sibuk di roda kepala masing-masing. Aku duduk di salah satu kursi dingin sambil menerawang jauh. Menatap ke arah burung-burung raksasa yang berbaris siap untuk ditumpangi.


Kelebatan langkah orang-orang seakan kilasan bayangan pada sebuah kamera lawas. Mataku menangkap sebagian besar orang mempunyai kepala bersarang seperti milikku. Apakah mereka juga hendak pergi demi mengganti kenangan itu dengan kenangan baru di tempat lain? Untuk sejenak sejumlah cuplikan gambar menyekap benak ini: tangan-tangan muda yang mencengkeram map portofolio kerja dicerabut paksa dan dijual ke luar negeri, sirene ambulans meraung ngilu mengangkut orang-orang yang patah semangat dan terkikis ekonomi, peluh menetes di tiap dahi para pejuang di susur jalan, air mata menitik jatuh meratapi negerinya dikungkung awan gelap panas, sementara sejumlah petinggi mereka bermandikan sampanye dan uang. Kakiku tegas menancap lantai, semakin yakin bahwa aku harus mencari kenangan lain di suatu tempat nun jauh.


Aku dan adikku mulai merayap di antara lautan kepala-kepala bersarang lain. Kami lantas melayang tinggi ke udara, di bawah kepak sayap burung raksasa untuk meninggalkan gugusan pulau hijau yang dilindungi oleh cakar seekor garuda perkasa. Negeri yang konon kabarnya kaya raya.


Tak berapa lama pandanganku karam pada awan-gemawan yang meriung dan meliuk-liuk lembut. Seharusnya aku senang bukan kepalang. Tapi kenyataannya aku tak dapat melupakan kenangan-kenangan tersebut. Tiap matahari menyiramkan terik, maka aku mengingatnya. Bertumpukan menjadi kenangan yang masam, sedih, dan kosong. Suara alunan musik dari langit sayup-sayup terdengar tragis.


Sungguh kenangan itu tergambar sepi di pelupuk mata dan benak, teramat menyiksa otak dan sanubariku. Kau pun tahu bahwa banyak kejadian lama menjadi hampa jika dikenang kembali. Menyemburat kelabu seperti video dokumenter. Lembap seperti kayu lapuk. Astaga! Benar, kan? Perasaan akan kenangan itu tetap mengendap seperti kabut yang turun pada kesunyian bukit-bukit!


Mataku panas dan akhirnya terisak pelan. Aku membenci kabut dan bukit-bukit.


Tanpa terasa detik jam yang selalu berputar mengantarkan kami pada tempat tujuan. Aku menghela napas panjang ketika mata ini langsung disuguhi oleh penampang negara eksentrik dengan langit berbeda, dengan matahari yang berbeda, tanah yang jelas berbeda, kelembapan udara berbeda, dan tentu saja kenangan yang berbeda pula nanti. Aku kemudian melangkah dibersamai oleh sepasang kaki adikku. Namun, anehnya kami sama-sama membisu, sama-sama berkutat pada pikiran masing-masing setelah bertemu warga sipil di sini.


Sebagian besar dari mereka memiliki mata seperti buah badam. Kulitnya bersih kepucatan, bahkan lebih pucat dari bayanganku sendiri di dalam cermin. Rahang penduduk asli ini tampak tegas sehingga menimbulkan kesan kaku, didukung oleh fitur wajah yang minim ekspresi. Belum lagi langkah tergesa-gesa yang mereka ambil. Aku jadi teringat robot buatan negeri seberang yang mengimitasi manusia.


Mendadak berembus angin dingin di sela sarang yang terbangun di kepala tatkala netraku memindai mereka lebih detail. Aku menyadari sesuatu yang lebih mencengangkan: di kepala-kepala mereka tak ada satu sarang pun yang mengendap dan berkembang biak layaknya milik kami, milik bangsa kami. Tetapi orang-orang berkulit pucat ini punya banyak saluran kabel di dalam kepalanya. Tak pelak aku menyaksikan timbul percikan listrik di dalam sana barang sekali dua kali.


Diam-diam aku mengerutkan kening, mencoba menyelami apa yang terjadi dengan negara ini. Orang-orang bahkan tak melirik kami sama sekali. Mereka terus melangkah tersental-sental lurus seolah tujuannya hanya di depan mata. Salah satu sosok yang tak sengaja berpapasan denganku membuatku terjingkat. Seorang wanita cantik dengan penampilan elegan ala metropolitan justru konslet kepalanya. Bunga api merecik, mulai melebar, lalu melahap sebagian besar kabel-kabel di dalam. Oh, betapa hebatnya ia tetap tak menunjukkan ekspresi apa pun.


Hal ganjil berikutnya yang kusadari dari perempuan itu adalah urat-urat di sekitar rahang dan pelipisnya yang membiru. Perhatianku jadi terlempar dan melompat-lompat dari satu orang ke orang lain. Sialnya aku baru memperhatikan bahwa mereka memang memiliki urat berdenyut kebiruan yang menjalar di bawah kulit. Amat biru bagai disengat es. Dada mereka pun tampak beku. Retakan mulai terjadi di mana-mana sejauh mata memandang.


Untuk sesaat mata ini malah saling bertumbukan dengan mata milik adikku. Aku menebak apa yang dipikirkannya sebab mukanya begitu pucat. Kemungkinan benak kami sama: di tempat ini ada hal yang lebih gawat dari negeri asal kami.


Terlepas dari warga sipil yang nyaris seperti mayat hidup, negeri ini sesungguhnya menyimpan sudut-sudut yang mengagumkan. Sejauh mata memandang, netra ini disuguhi oleh keindahan puri-puri modern, juga peletakan detail ornamen yang serba futuristik. Aku jadi merasa sedang terlempar ke seribu tahun mendatang.


Kami pun bertingkah sebagaimana burung pipit yang mengirap sayap. Beterbangan ke sana kemari, bertengger ke satu tempat ke tempat lain. Kami sibuk menyambangi toko kue enak, mampir di sejumlah gerai pakaian yang sudah menjelma menjadi pusat mode, serta menikmati minuman segar untuk memulai kenangan baik di tempat ini.


Memoriku mulai giat merekam apa saja yang tertangkap indra: segala sesuatu yang kiranya dapat menumpuk kenangan-kenangan lama. Aku bersyukur akan udara yang kami hirup, akan jalan yang kami pijak, berbagai burung di cakrawala yang melayang dan mempresentasikan jauhnya perbedaan di negeri kami. Tanpa terasa petualangan kami terus bergulir hingga malam menyergap. Bahkan netraku terpukau dengan bintang-gemintang; aku sempat berpikir bahwa kenangan-kenangan lama akan segera lenyap, lantas meruap menjadi debu waktu yang lekas tersapu tanpa jejak.


Namun, rupanya aku salah besar.


Ketika kami sedang berayun-ayun di kursi taman susur kota, lamunanku tetap saja menyelinap di berbagai kenangan yang terus mengusikku. Kenangan senyap tentang dirinya, tentang seseorang yang membayang lekat di balik pelupuk mata ini, tentang wajah-wajah merah berleler keringat, tentang mata yang kuyu pasrah tanpa gairah, tentang kisah negara yang karut-marut, tentang sistem kampung halaman yang mengharu biru, tentang masa depan, tentang mata buta para pemimpin terhadap rakyatnya sendiri. Oh, aku sungguh terkapar di antara bayang-bayang angan dan kenyataan. Dihantui pelbagai ingatan eidetik itu.


Tanpa sadar air mata menggelegak, mencair di antara ketidakberdayaan. Merindu pada rumah yang tak menganggap dan memberi kepastian kepada diri ini. Tatkala aku menikmati tetesan darah dari balik dada dan mengecup lukaku yang berdenyar, sejumlah pria garang mendadak menyambangi kami.


Aku tersentak. Salah seorang menghampiri, menarikku, dan menodongkan sebuah pisau tepat di pangkal leher, sementara tangan kecil adikku ditelikung tangan-tangan besar secara kasar.


“Tolong! Tolong!”


Aku memekik histeris agar menarik perhatian orang lain. Namun, tak ada yang membantu kami. Menoleh saja tidak. Untuk sekilas aku jadi mengerti kenapa penduduk di sini mempunyai kabel-kabel di dalam kepalanya.


Lalu, semuanya kusaksikan di depan mata kepalaku sendiri: bagaimana sekelompok pria begundal itu menyeret adikku, menanggalkan apa saja secara paksa, lantas hinggap satu per satu sampai tubuh adikku terbaring layu. Hatiku langsung terkoyak. Aku menggerung sekencang-kencangnya. Akulah kakak yang gagal sebab tak berdaya menolongnya.


Semuanya menjadi begitu lengang di luar. Pria-pria beringas tunjuk taring dan menghela napas puas. Aku berkelejatan di dekat tubuh hening adikku. Berikutnya mataku menyaksikan bagaimana debu-debu berkilauan yang lebih indah dari sayap kupu-kupu menguar dari jasadnya. Mereka menguap ke udara, terbang menuju semesta, luruh, kemudian buyar tak tersisa.


Aku menatap kosong ke arah tanah lapang tanpa wujud adikku. Semua berlalu secara buru-buru dan lenyap. Ketiadaan di depanku ini menghapus kenangan lama, lantas memunculkan kenangan baru yang nyatanya paling muram.


Pada akhirnya musnah juga kenangan lama yang membuatku berlari-lari tanpa arah. Aku masih menyalahkan dekadensi kampung halaman. Merutuki sisi serakah penguasa yang kemaruk merampok hak-hak hajat orang banyak.


______


Penulis


Bella Paring Gusti, lahir serta bertumbuh di Bumi Bung Karno, Blitar, Jawa Timur. Gemar meramu novel, cerpen, dan esai. Dalam beberapa karya menggunakan nama pena: Glory Bella. Penulis dapat dihubungi via email: yemimabella@gmail.com, juga Instagram: @byemima.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail


Puisi-Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin




SUARA SUARA DARI RANAH MINANG


Disuarakan angin,

Suara kampung halaman

Merayapi lipatan waktu.


Di jantungku, arwah leluhur bangkit

Membawa sesembahan padi.

Angin selatan berhembus sakal

Seperti takwil tanpa aksara,

Mengalirkan melankoli,

Menyalakan bara di dalam darah.


Aku hanyut di antara pulau dan samudra,

Ditenggelamkan malam.

Hanya sisa doa yang bisa kubaca

Dengan mata terpejam.

Namun suara suara itu terus berulang,

Bagai kilap sawah berundak,

Menyusuri lereng bukit,

Mengalir pelan ke nadi.


Tanah gambut berbisik,

Tempat lahir boleh rapuh,

Namun akar tetap teguh

Dalam ingatan yang tak mahu tercerabut.


Di antara bunyi ombak

Kulihat wajah mereka tersenyum,

Leluhur yang menjaga wasiat purba,

Meninggalkan sulur cahaya

Di tubuh yang senantiasa gelisah.


Kini aku mengerti,

Suara suara tanah yang menyulam ingatan

Adalah denyut yang tak selesai,

Bahkan saat sunyi menelan segala nama.



PERTANYAAN PERTANYAAN DI SAWAHLUNTO


Adakah suara rantai

Masih bergema di balik dinding batu,

Atau hanya gema bayangan

Yang terus berputar

Dalam paru paru.


Adakah keringat itu

Masih tersimpan di tanah hitam,

Menjadi sungai yang tak pernah

Sampai ke muara,

Atau sudah kering bersama doa

Yang lama tumbang.


Adakah nisan tanpa nama

Benar benar menyimpan sunyi,

Atau justru menyalakan bara

Yang tak bisa ditutup

Oleh harum kembang kamboja

Atau upacara yang singkat.


Adakah langit di atas kota ini

Pernah benar benar biru,

Atau sejak mula ditutup arang

Yang dijahit paksa

Ke setiap pandang mata.


Adakah sejarah

Selalu memilih pemenang,

Sementara tubuh tubuh berantai

Yang digali lalu ditinggalkan

Hanya terbaring dalam peta

Yang tak lagi dikenang.


Aku bertanya pada diri,

Pada batu, pada bau besi,

Siapa yang masih mengingat

Bahwa maut pernah ditambang

Bersama bara,

Dan hidup dikurung

Tanpa pintu keluar.



MELIHAT TARI GALOMBANG


Talempong berdenting,

Bansi melengking,

Gendang menuntun langkah penari,

Menyongsong bagai ombak laut

Mengusung sampan kecil ke pelaminan.


Ayunan tangan,

Hentakan kaki,

Mengalirkan desir di dada,

Gerak silat di sela tari

Bagai pagar gaib

Menjaga kasih dari runtuhnya waktu.


Dara-dara membawa carano berisi sirih,

Melintas dalam cahaya emas.

Di mata mereka tergambar warisan,

Gelombang yang berulang,

Pantai yang menanti,

Cinta yang dituntun arus tak henti.


Di bawah payung kuning,

Masa depan hadir sebagai perjamuan panjang,

Antara ingatan dan harapan,

Antara debar yang rapuh

Dan restu yang turun perlahan.


Ketika tari galombang membuka jalan ke pelaminan,

Tubuh larut bersama arus,

Tak tercerai dari gelombang,

Tak terpisah dari waktu.



ANAK-ANAK ILALANG


Kami berlari di pematang basah,

Matahari rebah di lekuk lembah.

Cahayanya menyusup ke daun padi

Yang bergetar ditiup angin tebing curam.


Ilalang condong mengikuti desir,

Menyapu lutut, menggelitik betis.

Capung merah hinggap sebentar,

Menjadi tanda di udara yang sunyi.


Kami menancapkan benang layang-layang

Ke tanah liat yang masih hangat.

Ia melesat setinggi dinding batu,

Menembus kabut,

Membawa kabar dari lereng seberang.


Asap dapur rumah gadang

Menggulungkan aroma ke angin senja.

Kami tak mengerti rahasia dunia,

Hanya mendengar desir ilalang

Sebagai bisikan leluhur

Yang menahan hujan di kantong awan.


Setiap desir adalah butir waktu

Yang ditabur langit di atas kepala.

Kami percaya mampu memanggil petir

Dengan peluit bambu,

Dan menanam matahari di sela akar ilalang

Agar kelak tumbuh menjadi cahaya.



SESUDAH DUA PULUH TAHUN


Jalan tanah ke kandang ayam

Masih membelah rumpun pisang

Di belakang rumah.

Bisik menempel di akar,

Seperti beringin tua

Menancap di tanah merah,

Menahan bara

Dan rindu yang mengeras.


Tiga puluh tahun kutinggalkan kampung.

Kusisir kota dan pasar jauh:

Bukittinggi, Payakumbuh,

Batusangkar, Sawahlunto,

Hingga Jakarta dan pesisir selatan.

Namun jejak tak pernah benar benar pergi,

Ia tinggal

Di ambang pintu ingatan.


Kini aku pulang,

Dari serambi ke dapur belakang,

Melewati tungku dan lesung batu.

Kubawa kampung yang mengendap di tubuh,

Tanah yang lama kupanggul sebagai rindu,

Kini

Kupeluk tanpa sisa gentar.


2025



SUBUH DI PADANG PANJANG


Hujan berwarna kelabu subuh

Menjatuhkan sisa sisa mimpi,

Jantung kata basah oleh riciknya,

Larut ke rimbun kabut

Sementara langit menunduk

Di sela surau tua yang suara azannya retak.


Waktu bersembunyi di lipatan ingatan,

Di antara kumbang dan ilalang.

Lenguh lembu meresap ke tanah,

Hening meneteskan lapis lapis kenang.


Usia hanya sehelai kain lembap

Dijemur di halaman Singgalang.

Gunung itu menegakkan dada pada udara,

Menembus bukit dan gelombang angin gadang

Yang mengantar bau tanah dan hujan.


Ada yang lindap ke haribaan subuh,

Seperti rindu yang telah matang,

Bercampur harum nasi di tungku pagi,

Menyelinap dari rumah rumah yang baru terjaga.


Kubiarkan menit menit mengalir

Di antara namamu,

Terpahat di batu sungai yang berkelok,

Membelah sawah,

Menemukan cintaku

Yang sejak lama belajar mencari muara.


2025



MENDENGAR DANAU SINGKARAK


Kudengar dari dasar danau

Mengendap suara pasang 1926,

Merayap ke tepian,

Menggulung mukim,

Ngaum Padang Panjang

Tercatat di tubuh bumi

Sebagai nyeri yang lebam.


Dua kali guncangan

Menyalin partitur gelap,

Teriakan yang meruam

Di telinga malam,

Seperti nada kehilangan.


Desa diperam angin asin,

Menyimpan demam panjang

Dari hari hari yang retak.

Sunyi menjelma getir

Di mulut anak anak kehausan.


Namun Singkarak tetap menampung

Segala yang karam,

Serupa surga kecil dipendam waktu.

Di permukaannya kulihat wajahmu,

Mabuk dalam riak asing

Yang pandai menyembunyikan duka.


Barangkali rindu adalah air itu,

Tak pernah surut,

Membawa kilau

Yang sekejap tampak,

Lalu lolos

Dari jeruji ingatan.


______


Penulis


Listio Wulan Nurmutaqin, penulis asal Brebes yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya telah dimuat di berbagai media lokal, nasional, dan luar negeri, antara lain Jawa Pos, Tempo, Kompas.id, Republika, Suara Merdeka, Majalah Kandaga, dan Suara Sarawak (Malaysia), serta media daring dan cetak lainnya. Ia terpilih dalam Payakumbuh Poetry Festival 2024 dan lolos kurasi Pertemuan Penyair Nusantara XIII tahun 2025. Buku puisi tunggalnya, Tokoh Utama, terbit pada 2023.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Ari AJ | Ani

Cerpen Ari AJ

 


Semerbak melati masih tercium di hidungnya, tanah itu masih basah, langkah pelayat sudah lebih dari tujuh kali, tetapi Ani masih tak juga berdiri. Lantunan doa tuntas dipanjatkan, tak kurang nasihat dari ustaz kampung yang renta, kerabat berbusa membujuknya pulang, tak ada guna menunggu penghuni pusara bangkit dari bentala, tetapi tetap, Ani tak ingin beranjak. Di bulan Juni ini, tangis perempuan hampir kepala empat itu pecah, ia mengingat dua puluh tahun lalu saat tidak merasakan sweet seventeen seperti teman-temannya akibat kabar mengejutkan tentang orang yang dicintainya, kini dua dekade setelahnya kenyataan pahit harus dialaminya lagi. Ani pun mempertanyakan mengapa kebahagiaan tak juga abadi di hidupnya.


***


Penjahat yang Licin


Jendela kamar Ani bergetar, begitu juga tubuh dan jemari lentiknya. Panasnya kamar dan selimut yang membebat tubuh gagal menghantarkan kehangatan saat jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Lalu terdengar bisikan yang membuat telinga Ani berdiri, ia tak mengenali satu pun suara dari seberang jendela. Sementara itu, dua obeng secara paksa ditancapkan ke sisi kanan dan kiri jendela kamarnya, obeng lain masuk melalui bagian bawahnya.


Yang terjadi setelahnya Ani harus berkejaran dengan waktu agar tubuhnya tidak tertangkap gerombolan pria kekar itu. Meski begitu, ia sempat melihat mereka mencongkel jendela lalu masuk ke kamarnya, tetapi tidak berhasil membungkam Ani yang bersembunyi di bawah meja meski kemudian terlihat tidak bisa ke mana-mana. Sebuah pukulan mendarat di wajah hingga membuatnya ambruk sebelum pintu kamarnya dibobol paksa seseorang.


Annie, are you OK?


Hanya itu yang diingat Ani saat tersadar di ruang berlangit-langit putih dengan selang infus di lengan. Perempuan berambut pirang di sampingnya terisak. Ia terkejut saat mendapati Ani sudah siuman.


“Kamu jangan menangis, Sayang. Ayah tidak apa-apa.”


Ani sulit mencerna ucapan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing, seteguk air membuatnya jauh lebih baik. Lalu muncul pertanyaan yang membuat ibunya kembali berderai air mata.


“Kemana Ayah?”


“Ayah baik-baik saja, Nak. Ayah sudah tenang, Ayah sudah selamat. Ani jadi anak yang pintar, ya. Sebentar lagi SMP. Ani harus…,
ujar perempuan muda itu seraya tak kuat meneruskan kalimatnya.


Tangis Ani pecah saat tahu ayahnya tewas di tangan sekelompok penyamun yang menjarah rumahnya. Teriakan Ani membangunkan ayahnya yang segera membuka paksa kamar yang terkunci. Mulut pria yang menyayangi keluarga kecilnya itu pun terbungkam untuk selamanya. Yang membuat Ani tidak bisa menahan tangis ialah kenangan manis yang sulit dilupakan. Pertanyaan akan arti nama Ani membawanya pada perkenalan pada idola yang begitu dicintai mati-matian.


Annie, are you OK? Will you tell us that you’re OK?


Pengalaman merantau ayahnya ke Jakarta tidak hanya membuatnya mahir menjahit, tetapi juga mengenalkan Ani seorang penyanyi legendaris yang tape recorder-nya menjadi oleh-oleh untuknya, sosok penyanyi itu terpatri dalam benaknya sejak kecil. Cinta pada ayahnya melahirkan cinta pada idolanya.


***


Kau Buatku Merasa (Jatuh Cinta)


Sebelum tragedi itu, mawar merah di genggaman masih segar. Janji manis itu sudah terucap, sangat manis, tetapi masih kurang manis bagi Ani. Meriahnya suasana sekolah kala itu tak cukup membantu memeriahkan hatinya. Lelaki kakak kelasnya itu kini duduk di sisi sambil menggenggam tangan. Terasa dingin. Ani yakin pria muda itu tengah gugup meski tampilan necis dan dasi kupu-kupunya tetap memukau.


Aku suka rasa yang kauberi padaku, pegang tanganku, Sayang, aku akan sangat bahagia


Sesekali genggaman tangan lelaki itu dilepas karena ada satu dua anak yang kedapatan memergoki. Prosesi perpisahan kelas XII saat itu sudah tuntas, remaja tanggung di sampingnya adalah salah satu yang akan menjadi alumnus. Sebelum perpisahan di antara mereka benar-benar terjadi, hanya satu yang diinginkan Ani: janji yang lebih manis lagi serupa lirik yang ingin ia tunjukkan pada lelaki itu. Betapa kompleksnya perasaan Ani, untuk jatuh cinta saja, ia mendambakan sesuatu yang sulit dimengerti.


Aku akan bekerja pagi sampai sore, untuk membelikanmu segalanya agar kau selalu ada di sampingku


Akhirnya ikrar yang lebih manis itu terucap meski hanya dalam bayangan Ani. Perasaannya meledak, tinggal sedikit lagi rayuan itu akan lebih lengkap dengan bait selanjutnya dari lagu tersebut. Tak pernah aku jatuh cinta sebelumnya, berjanjilah padaku, Sayang, kau akan mencintaiku untuk selamanya, aku bersumpah akan membahagiakanmu karena kau tercipta untukku. Ani membiarkan dirinya bernyanyi untuk melengkapi perasaannya, juga memecahkan keheningan karena mereka tak juga bicara sejak mawar merah diserahkan lelaki itu. Teman-teman Ani iri mengapa ia yang baru kelas XI justru mendapat bunga dari seseorang yang seharusnya memperolehnya, sesuatu yang tak juga dimengerti Ani, tak pula berani ditanyakannya pada sang lelaki.


“Habis ini, mau ke mana, Mas?”


Hanya pertanyaan klasik yang keluar dari bibir Ani. Lelaki itu mencuri pandang untuk memastikan dari mana pertanyaan itu.


“Jakarta.”


Pertanyaan bodoh, harusnya tak perlu kutanyakan perkara yang sudah tersedia jawabannya, Ani membatin. Spanduk di gerbang sekolah yang menampilkan deretan siswa yang sudah diterima di kampus negeri kembali terbayang. Sesungguhnya isi kepalanya bertambah semrawut setelah mendengar nama ibu kota itu, rasanya sudah lama tak mengunjungi pusara ayahnya meski ia selalu hadir setiap Kamis sore maupun hari raya. Perhatian Ani teralihkan saat seseorang memintanya membantu panitia lain membersihkan lokasi acara. Meski begitu, tembang itu masih terngiang di pikirannya.


Kau buatku merasa (jatuh cinta), kau nyalakan gairahku, kau jatuhkan diriku, hari-hari sepiku hilang


Perasaan gadis tersebut begitu riang siang itu. Akan tetapi kebahagiaan mendapat bunga dan meriahnya acara harus dibayar mahal, sesampainya di rumah, ia mendapati berita di televisi yang membuatnya terdiam. Ani pun menghambur ke ibunya di dapur, menumpahkan tangisnya pada satu-satunya orang tua usai sang ayah tiada. Suara sang pembawa acara masih terdengar walau tak ada yang menyaksikan.


“Konser terakhir megabintang pop dunia, Michael Jackson, dipastikan batal digelar usai sang artis berpulang di usia kelima puluh tahun, meninggalkan tiga anak, harta miliaran dolar, Neverland, dan kejayaan musiknya selama empat puluh tahun berkarya.”


Mimpi Ani musnah untuk bisa menyaksikan konser di The O2 Arena, London yang sudah dibayangkannya sejak lama. Tragedi di bulan Juni membuatnya lemas. Hanya ucapan ibunya yang membuat mata berbinar meski tak lama kemudian duka kembali menyelimuti dengan beban yang lebih berat nan sulit dimengerti. Kenyataan pahit lalu terjadi, sehari setelahnya, ibunya ikut berpulang sebelum bisa menuntaskan janji di ulang tahun ketujuh belas Ani kala itu. Masih teringat ikrar ibunya ketika Ani menangisi kepergian idolanya, sesuatu yang sudah direncanakan menjadi hadiah ultah spesialnya.


“Ibu tahu, kamu pasti ingat Ayah. Untuk menghibur kamu, bagaimana kalau besok Ibu ajak kamu berkenalan dengan orang-orang yang juga memiliki idola seperti kamu. Mau?”


Ani hanya bisa meratapi, mempertanyakan nasib tragis yang tak urung pergi.


***


Aku Tak Bisa Berhenti Mencintaimu


Damainya air danau di utara Kota Jakarta tidak lantas membuat Ani tenang, sesekali ia bertanya-tanya apakah tengah bermimpi. Matanya berkali-kali memastikan jam bergambar sang idola di lengannya masih menunjukkan pukul delapan malam dan kini sudah lebih dua puluh satu menit, terlelap pada saat seperti ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Entah bagaimana keramaian itu tercipta setelah ia hanya sendirian datang ke ibu kota dengan kereta api dari Yogyakarta, itu pun untuk urusan lain.


Dua puluh empat jam lalu, Ani masih beristirahat di hotel dekat danau tersebut. Sebuah pesan masuk ke telepon pintarnya dari seseorang yang sudah lama menghilang. Ia tahu, pria muda yang memberinya mawar merah tujuh tahun lalu itu memang tak ada kabar sejak terakhir kali berbincang hampir empat tahun silam ketika ia mengungkap satu-satunya permintaan. Kini perasaannya sudah berubah, tetapi tak ada salahnya mengiyakan ajakan bertemu kawan lama, terlebih rangkaian kegiatan yang diikutinya tidak memiliki agenda resmi malam ini. Lelaki itu mengajak bertemu di sisi danau dekat hotel tempatnya menginap, danau yang hanya ramai oleh sedikit pedagang dan pengunjung.


Di dekat danau itulah awalnya Ani tidak mencurigai sekelompok pemusik yang terlihat siap beraksi seperti akan tampil di kafe-kafe. Terlambatnya lelaki itu hampir membuat Ani mengurungkan niat bertemu, tetapi kemudian sebuah irama dari pemusik itu mengejutkannya. Sebuah lagu cinta dihiasi alunan piano, gitar, serta kahoon, dan yang membuat Ani berteriak kecil yakni falseto sang penyanyi yang begitu sempurna, mirip dengan suara sang idola.


Setiap kali angin bertiup, kudengar suaramu, jadi kupanggil namamu


Seketika suasana ramai, seorang lelaki yang sudah lama tak dilihatnya muncul dari kerumunan, kembali membawa mawar merah dalam genggaman. Ani tak tahan untuk ikut melantunkan lagu yang dirilis tahun 1988 itu.


Kau tahu yang kurasakan, ini tak mungkin salah, aku bangga mengatakan aku mencintaimu, aku tak bisa hidup tanpamu


Embusan angin malam tak sekalipun dirasakan Ani. Perhatiannya terpusat pada lelaki yang wajahnya tak banyak berubah seperti tujuh tahun lalu, tetapi kini lebih dewasa, dengan air muka cerah, dan sorot mata semringah. Untuk pertama kali, Ani bisa menyanyikan senandung kesukaannya bahkan dengan berduet sebagaimana aslinya saat dinyanyikan sang idola bersama Siedah Garrett. Suasana meriah semakin menghanyutkannya.


Saat malam ketika bintang bersinar, aku berdoa di dalam dirimu akan kutemukan cinta yang sesungguhnya


Saat pagi membangunkanku, maukah kau datang dan menjemputku? Aku akan menunggu


Ani tahu persis, lagu itu belum tuntas dinyanyikan, tetapi tiba-tiba lelaki itu berlutut di hadapannya sembari menjulurkan sesuatu dari telapak tangan. Lidahnya seketika kelu saat mendapati kotak cincin berwarna merah terbuka di depan mata. Momen yang akan selalu dikenang itu berakhir dengan perbincangan hangat hingga tengah malam bersama lelaki ketiga yang dicintainya setelah sang ayah dan idolanya yang sudah tiada, juga ditemani lantunan tembang cinta kesukaannya. Ani begitu gembira, setelah penantian panjang, ikrar lelaki itu akhirnya ditunaikannya dan lagu-lagu kesayangan tidak lagi hanya dalam imajinasinya.


Aku tak bisa berhenti mencintaimu, kalau aku berhenti, apa yang harus aku lakukan? Karena aku tak bisa berhenti mencintaimu


Mengingat Waktu


Orang-orang yang datang melintasi pemakaman itu memandang aneh perempuan keras kepala yang tak juga bangkit dari duduk setelah keluarga besarnya memutuskan meninggalkannya sendirian.


“Perempuan aneh, tidak bisa menerima kenyataan!”


“Kuat sekali perempuan itu, sepertinya sudah dua jam berpanas-panasan.”


“Terlalu banyak mengkhayal, dunia tidak selebar daun kelor.”


Sementara itu, derai air mata mengiringi nyanyian yang dilantunkan Ani di depan pusara orang yang dicintainya. Ia teringat permohonan satu-satunya dulu yang sudah ditunaikan lelaki yang kini telah tiada tersebut lewat ikrar tiga belas tahun lalu, sebuah pengharapan agar lelaki itu mau mengenal idolanya jika serius meminangnya. Kini lelaki idaman itu sudah berbaring dengan tenang, harapan Ani hanyalah agar kelak lelaki yang dicintainya bertemu idolanya sebagaimana janji sang Raja Pop Dunia tentang konser terakhir ‘see you in July’ di The O2 Arena, London. Senyumnya terbit saat membayangkan sang suami mewakili dirinya bertemu sang idola di alam sana.


Nyanyian itu masih terdengar dari bibir tipisnya, sebuah lagu tentang waktu dan pertanyaan akan masa lalu. Dilantunkannya senandung cinta yang dirilis tahun 1991 itu serupa janji apabila salah satu dari mereka menghadap sang Maha Cinta, dan Ani tengah menunaikan ikrarnya diiringi tangis haru dan suasana duka.


Ingatkah kau saat kita jatuh cinta? Kita masih muda dan polos, ingatkah kau bagaimana kisah kita bermula? Rasanya seperti surga, tetapi mengapa semua ini berakhir?


Ani kembali terisak.


Bandung, Februari 2026



Catatan:

Sebagian kecil cerita di atas terinspirasi dari empat lagu Michael Jackson. Kelimanya menjadi sub judul yakni Smooth Criminal (Penjahat yang Licin), The Way You Make Me Feel (Kau Buatku Merasa (Jatuh Cinta)), I Just Can’t Stop Loving You (Aku Tak Bisa Berhenti Mencintaimu), dan Remember the Time (Mengingat Waktu). Kalimat yang dimiringkan adalah terjemahan bebas dari penggalan liriknya.

 

_______

Penulis

Ari AJ sehari-hari jualan ayam dan belajar beternak. Moto hidupnya: beternak-ternak dahulu, menulis kemudian. Karya cerpennya diterbitkan Tabloid Jurnalposmedia, NU Online, dan meraih Juara III Lomba Cerpen Rumah Rengganis 2022 serta masuk antologi. Penulis bisa dihubungi via Instagram @ari_aj33 dan e-mail ari.aj122833@gmail.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiiyak@gmail.com