View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Monday, November 2, 2026

Karya Siswa | Puisi-Puisi Muhammad Fawwaz Hafizh

Puisi Muhammad Fawwaz Hafizh




Terang dan Sejuk itu


Aku mencarimu di kala mentari mengilhamkan cahaya

Kaukah terang itu? Menyinari lahan luas diriku

Yang sesampainya kau, hikmatku memelukmu


Aku menebak awan mendung disertai nikmat angin

Kaukah sejuk itu? Menjelma gerimis menghantam relung bibit cinta

Yang kala mengalirnya dirimu, subur daku bersama cinta itu


Benarkah kau keduanya? Bergilir dalam poros waktu

Yang menumbuhkan tangkai bunga, bunga kau aku

Aku dahaga, kau galgah gerimis

Menuangkannya padaku, kita menyegarkan kering akar

Yang diriku


11/09/2026



Misal-Misal Kehendakmu


Misal kau ingin berbagi

Membelah dua hati

Hatimu hatiku menyatu

Meregenerasi cinta yang merebah entah

Dahulu tujuannya


Misal kau ingin melangkah

Menuju laju hasrat bukan aku

Silahkan berlari untuk kehendakmu

Biarlah kini aku yang merebahkan cinta

Yang sedari dulu dikaulah tujuan


Misal kau ingin kukenang

Bersama ragam sajak kutulis

Yang aku lemah dalam berdiksi

Karena diskusi hati, kaulah diksi indah tuhan

Namun enggan abadi dalam bukuku


Misal kau ingin berbalik langkah

Niscaya jemariku merindu sentuhan kasihmu

Kemari menari kembali

Mengutuhkan hati yang menyerta koyakan

Dari lembar kenang itu

Bersama menuliskan lagi

Kisah kukasih, kekasihku.


17/09/2026



Di Waktu-Waktu Milikmu


Di kala fajar

Pada segar daun

Berlabuh rayuan embun

Kita saling menuntun


Membuka tirai

Yang pelita pun belum menjelma

Namun kita setia

Pada pagi yang remaja


Kisahkan mimpimu semalam, sayang

Yang dituangkan tuhan untuk mengisi

Setelah bermadu kasih jejak berarti

Mungkin itulah sapaan sebagai kisi-kisi


Di kala terik

Pada silaunya mentari

Mengambil sisa air bagai upeti

Kita bermelodi


Berhampar tikar

Cinta kita membelukar

Secangkir teh mengucil

Menenggak indahnya parasmu


Melodi yang dimainkan

Selaras hati yang bergejolak

Membias dahaga

Cucuran jiwa saling bercinta


Di kala senja

Pangkuanmu padang rumput

Hening tenang

Hanya kita dua sejiwa


Mentari bermalu menyingkir

Dalam derasnya ombak cinta kita

Aku tersihir

Oleh lembutnya segalamu


Kemari, kekasihku

Menguraikan makna cinta

Restu tuhan

Bergelimang angan terjalan


Di kala hujan gemintang

Senyapkan segala

Luapkan rasa

Di malam yang dingin

Kita teringin


Bersandarlah selalu

Pada tiap diriku

Yang senyatanya milikmu


05/09/2026


______


Penulis


Muhammad Fawwaz Hafizh, lahir di Serang, 26 April 2009. Saat ini sedang menempuh pendidikan di SMAIT Darussalalam Pipitan dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Hobi menyendiri untuk menenangkan pikiran, dan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Buku puisi pertamanya yang sudah terbit Senandung Tasbih (Penerbit #Komentar, 2026). Aktif di ekskul Lingkar Potlot Ponpes Darussalam Pipitan.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Karya Siswa | Puisi-Puisi Syahdan Fauzi

Puisi Syahdan Fauzi




Keindahan Terselip di Dunia

 

Penghuni burung, aku ingin berteduh 

Di bawah naungan yang bergetar

Di atas langit yang indah bergumam 

Terpapar cahaya yang merona

Kebahagiaan yang terselip di dunia

Melihatmu yang merona dan mempesona

Membuatku meronta 



Aku Ada Untukmu


Wahai burung cendrawasih yang indah 

Aku ingin terbang bersamamu

Menerpa awan dan langit 

Mencari jalan untuk merangkai


Aku akan tetap ada untukmu

Beramai-amai mencari kunci 

Meretas pintu penghalang

Mencari jalan searah 


Walau hujan menerpa

Aku akan menjadi tempat teduhmu


Jika rumah singgahmu roboh 

Aku akan kokohkan dan aku pertahankan 

Untukmu


Jika kau terjatuh 

Bangkitlah bersamaku

Peganglah tanganku

Aku tempat sandaranmu



Senja dan Kau


Senja yang terukir indah

Menggenggam tanganmu

Dan kau merasakan hangat itu

Hatiku berdetak, jantungku berdebar 

Melihat rupamu yang syahdu



Penyesalan


Di sepertiga malam yang sunyi

Aku bernyanyi

Ridho sang Ilahi

Menengadah tangan memanjat doa

Mata sembab meluapkan dosa

Tameng hancur, air bercucur

Isah tangis memecah keheningan

Jiwa gemetar tak karuan 

Penuh penyesalan

Terlena


Aku duduk di tepi pantai 

Tamaram yang indah datang 

Kala aku bergumam 

Suara burung berkumandang

Seketika aku tak bisa menahan 

Bak air jatuh berhamburan 

Karena keindahan yang kau ciptakan 

Membuatku lupa cara bersyukur

Karena hartaku datang tak terhitung

Maafkanku wahai rabbku

Kau yang mengetahui 

Semua tentang hidupku



Sesal


Aku menggenggam tanganmu 

Bahwa aku adalah angan-anganmu

Dalam jiwamu aku bersandar 

Agar aku tersadar

Aku pria tersial

Tak ingin engkau menjadi bebal



Takdir Tuhan 


Catatan tertulis dalam tinta 

Menghampirimu demi cinta

Bersemayam dalam geggaman

Menetap di hatimu


Aku ingin bahagia bersamamu

Dalam dekapan hangat yang kau berikan 

Memberikan semangat meraih cintamu

Bahwasanya aku ditakdirkan tuhan

Agar aku selalu di sampingmu

Sampai takdir menghantarkanku


______


Penulis


Syahdan Fauzi, siswa SMPIT Darussalam Pipitan kelas IX. Aktif di Ekskul Lingkar Potlot Ponpes Darussalam Pipitan.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, November 1, 2026

Cerpen Indri Anisa | Jalan Krikil Menuju Rumah Syamil

Cerpen Indri Anisa



Bedug itu ditabuh dengan tempo tertentu, dengan pemandangan langit jingga dan merah yang saling menyatu, ditaburi burung walet dan cabak yang terbang berkelompok, setelahnya azan magrib berkumandang merdu. Memanggil setiap hamba untuk mendirikan salat. Pria tua dengan sarung cokelat dan baju koko putih—serasi dengan rambut putihnya. Dia mengetuk rumah bercat hijau dan ada burung kakak tua yang digantung di depan teras, berceloteh di dalam sangkar. “Syamil, Syamil, Syamil, Ghani datang! Ghani datang! Ghani datang...!” Seorang pria tua juga keluar, dibalut jubah hitam dan peci biru—serasi dengan warna rambutnya.

“Bagaimana penampilanku? Mantap, toh?” Syamil melepas peci dan mengusap rambutnya. “Tapi, kata anakku justru jelek … oh kalau sebutan gaulnya alay—norak juga katanya.”

“Jadi, mau ganti semir lagi? Kapan? Aku bisa kapan saja.” Ghani menuntun Syamil menuruni tangga—jenis rumah ini seperti rumah panggung yang sudah berkali-kali direnovasi, sehingga kehilangan setengah nuansa tradisionalnya karena sudah bercampur dengan material semen dan pondasi bebatuan.

“Halah, merepotkan kamu saja. Biarin apa kata orang, toh, yang sepat mata mereka,” dia terbahak. “Lagi pula aku tidak lihat juga sejelek apa warnanya.” Syamil mengelurkan tongkat merah putih dari bahan almunium sepanjang 120 cm dari kantong jubahnya.

Keduanya jalan beriringan menuju masjid desa. Tiba di teras masjid, terdengar takbiratul ihram dari iman. Mereka terburu-buru dan langsung mengambil posisi rapi untuk ikut berjamaah. Setelah selesai salat, keduanya menyempatkan diri mengaji. Ghani mengambil Al-Qur’an biasa untuk dirinya, dan satu lagi yang berjenis timbul untuk Syamil.

“Ghan, besok-besok aku berangkat sendiri saja. Nungguin kamu malah telat terus.”

“Loh, mana bisa begitu,” dumel Ghani.

“Apanya yang nggak bisa, heh? Ini sudah 45 tahun, dan aku sudah hafal di luar kepala jalan seluruh desa. Tanpa bantuanmu aku bahkan sudah sampai ladang jagung Pak Sobir yang dekat jurang, minggu kemarin aku juga ke peternakan Pak Jumali untuk lihat sapinya yang melahirkan.”

“Lihat pakai apa?” ledek Ghani tertawa dengan wajah keriput yang makin mengkerut, dia menutup mulutnya menahan gigi palsunya agar tidak mencolot, terbahak sampai terbatuk-batuk, memuncratkan liurnya, wajahnya meram padam. Lalu, dia beristigfar.

“Jangkrik! Gelut ayo gelut!” Syamil membuang tongkatnya, berbalik membelakangi Ghani, lalu kedua tangannya mengepal seperti petinju. Ghani menarik bahu Syamil. “Sebelah sini.”

“Sudah tua Bangka, hampir bau tanah, kita nggak pantas lagi keras kepala dan mengepalkan tangan tua ini,” ucap Ghani bijak.

Syamil berdehem. “Nggak ingat dulu siapa yang sok jagoan? Berdiri bareng preman, bawa pukulan besi dan teriak-teriak kayak kesurupan jin.”

***

Empat puluh lima tahun lalu di desa Sejahtera yang berada di pelosok negeri, yang kaya akan sumber daya alam, salah satunya pohon-pohon besar yang kokoh, usianya bahkan menyentuh puluhan tahun, namun, warga di desa tersebut masih kolot dan tidak mengenal seberapa pentingnya pendidikan, sehingga anak-anak di sana tidak termotivasi untuk berangkat sekolah, sedangkan para remaja sudah diajak bekerja di sebuah pabrik pengelolahan kayu. Pabrik tersebut mengolah kayu dari hutan untuk menjadi bahan bangunan dan furnitur. Para buruh di sana mayoritas warga lokal, sedangkan para atasan seperti mandor pabrik tetap orang luar dari kantor pusat.

Ghani dan Syamil yang berusia 15 tahun berada di bangku sekolah menengah pertama. Mereka pulang lebih dulu dengan mengendap-endap dari halaman belakang, melempar tas dari pagar dalam, lalu memanjat pohon jambu yang dekat dengan tembok tinggi yang ditancapi besi-besi tajam yang berkarat. Mereka melompat, menggelundung, lalu nyusruk di tanah merah padat dengan batu krikil di sekitarnya.

“Yang sabar, Ghan! Mentang-mentang masih kecil kesabaran juga kecil. Lagian apa yang mau dikejar? Pabriknya juga nggak bakal kabur. Bentar lagi bel pulang, ini malah bolos, dosa, loh.”

“Bukan gitu. Kalau kinerja kita paling buruk kemungkina bakal didepak. Sini!” Ghani menarik telinga Syamil, berbisik. “Katanya akan ada PHK massal.” Syamil melotot. “Serius? Ngibul dosa, masuk neraka, dicincang malaikat Malik.”

“Demi Allah,” ucap Ghani serius. Syamil mengangguk percaya, dia mengambil tas Ghani, berat dan ada bunyi nyaring besi yang saling bergesekan.

“Buset, bawa apa ini? Kapal selam kamu angkut di dalam tas?” Syamil melempar tas Ghani. Kemudian, mereka berlari menuju pabrik, tergesa-gesa seperti cheetah yang berburu mangsa. Tiba di sana pemandangan ramai dan bising, tetapi, ini bukan karena bunyi mesin penggiling pabrik yang beradu, melainkan, otot para buruh pabrik dan preman dari pihak kantor pusat yang bersitegang.

“Sudah berapa bulan upah kami tidak dibayar, hah? Dari bulan lalu kalian bilang akan segera, akan dilebihkan, cih, pembohong biadab. Kalian menipu kami berkali-kali, berbulan-bulan ini kamu bon dan hutang sana-sini untung makan sehari-hari, dan kini, tanpa membayar upah lebih dan pesangon yang pantas kalian justru hendak memecat kami? Apa kalian sudah gila?” pria jangkung berkulit hitam bersuara lantang, dia seperti wakil untuk para buruh.

“Di mana hati nurani kalian?”

“Bayar upah kami dengan benar!”

“Kalian pantas dihukum!”

“Bakar saja bakar semuanya!”

Suara protes para buruh pabrik membara. Mereka tak gentar dengan para preman yang berdiri di depan mereka, mengancam dengan tubuh berotot besar berhias tato, dan wajah sangar.

Syamil menelan ludah kasar, dahinya berkeringat. “Ghan, kayaknya hari ini kita bolos kerja juga yuk. Hari ini pabrik nggak beroperasi, besok aja kita datang dan nagih upah baik-baik. Nggak semua harus pakai kekerasan, kan, ya?” dia menoleh.

Ghani berjongkok, merogoh tasnya mengeluarkan tongkat besi. “Maaf, Syamil. Hari ini aku akan dibayar cukup besar. Ini bukan mauku, tapi aku harus, demi nenek. Nenek butuh biaya untuk operasi tumornya, dan bos pabrik janji akan bayar langsung.” Ghani berlari masuk ke dalam pabrik, dia berdiri di jajaran para preman bayaran. Syamil tercengang, dia takut, kakinya berat untuk melangkah, mulutnya bungkam untuk mencegah, tapi, di sana Ghani sedang bertarung nyawa. Syamil tahu bahwa ketegangan di hadapannya bisa memakan korban jiwa, tidak terkecuali Ghani menjadi tumbalnya.

Prang!

Nyaring dan panas. Bertabrakan untuk saling menjatuhkan, bunyi jeritan, umpatan, dan ringisan sakit melolong di pabrik tersebut. Debu betebrangan, darah memuncrat entah dari tubuh siapa, semua orang dibutakan, dirasuki setan, penuh amarah, kekecewaan, dan ketakutan.

Syamil hanya berani mengintip, dari jauh dia memerhatikan sisi brutal Ghani, teman mengajinya, teman iktikaf, dan teman memancingnya sejak kecil. Dia tahu Ghani anak pemberani, dia selalu jadi yang paling kuat dan bisa diandalkan karena sejak kecil sudah terlatih dewasa agar tidak merepotkan neneknya, dia yatim piatu yang malang, dan dia tidak punya banyak teman karena dianggap liar—anak tanpa orang tua, anak yang miskin, dan tidak pandai beramah-tamah. Namun, Syamil mengaguminya, dia teman yang setia, tulus, dan apa adanya. Syamil bangga ketika temannya itu mengingatkan dirinya ketika berbohong kepada orang tuanya tentang iuran sekolah.

“Syamil, aku tidak pernah merasakan punya ayah dan ibu, jadi aku juga tidak paham tentang berbakti kepada orang tua. Namun, beberapa kali kamu mengajakku mengaji bersama Pak Ustaz, dan aku ingat dia pernah memberi nasihat bahwa, 'Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan... dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka' (HR. Bukhari dan Muslim)'. Tapi sudahlah, aku tahu kamu pasti lebih paham.”

Syamil menguatkan tekadnya, dia mengepalkan tangannya. “Baiklah.” Dia berlari menerobos perkelahian itu, bertepatan dengan itu Syamil melihat alat berat yang mengangkat bongkahan kayu di atas bergerak tidak stabil, berayun dari ketinggian tepat di atas kepala Ghani. Dia berlari sekencang mungkin, berteriak agar Ghani menghindar, tapi suaranya teredam bisingnya pertarungan, dia mendorong Ghani ke sisi lain.

Brak! Debuman keras menghantam Syamil.

Dia ingin mendorong Ghani bersamaan dengan tubuhnya, tapi malangnya kaki dia tersandung, tersangkut, hingga tak punya cukup waktu untuk menghindari bongkahan kayu yang jatuh. Detik itu juga semua hening, kecuali Ghani yang berteriak kalang kabut, dia menangis dan meraung, meminta pertolongan untuk Syamil yang sedang bersimbah darah.

***

Ghani bersimpuh di ruang jenazah. “Ne-nenek, nenek, to-tolong … tolong ambil apa pun kecuali nenek. Aku tidak punya siapa pun kecuali nenek. Tolong … siapa pun kamu kumohon bangunkan nenek.” Dia menangis seperti bocah lima tahun, kesedihannya begitu menyakitkan. Mungkin saja, dia tidak akan berani lagi menatap dunia dengan berani. Sebab satu-satunya tanggung jawab dan alasan dia hidup sudah diambil.

“Nenek sabar, ya. Setelah mengurus pemakaman nenek aku akan menyusul.” Dia memeluk tubuh kaku dan dingin neneknya.

“Apa maksudmu?” Syamil datang dengan baju pasien, wajahnya pucat, tangannya masih tersambung infus, dia duduk di kursi roda di dorong oleh adik perempuannya, dan matanya yang dibalut kain kasa putih bersih.

Ghani menoleh, berbicara dengan suara serak. “Syamil, aku minta maaf.” Dia juga menyesal atas apa yang menimpa Syamil, dia bahkan belum berani mengunjungi Syamil dan hanya mengintip dari luar kamar lalu kembali ke kamar rawat neneknya.

“Aku tidak butuh maafmu.”

“Kalau begitu aku akan bertanggung jawab.”

“Ya, kamu harus bertanggung jawab terhadapku untuk seumur hidupmu. Aku akan jadi tanggung jawabmu, oleh karena itu, tetaplah hidup, kamu harus jadi mataku untuk melihat dunia.” Kursi rodanya didekatkan kepada Ghani. Syamil membungkuk dan memeluknya.

“Gara-gara menyelamatkanmu aku mungkin kesulitan untuk pergi ke masjid. Pahalaku berkurang dan dosaku bertambah. Ke depannya kamu juga harus menanggung ini, Ghani.”

“Tentu saja.” Ghani kian terpuruk dan merasa bersalah.

“Apa masksudmu, hah? Aku tidak ingin masuk neraka. Jika sahabatku masuk neraka maka aku pun juga begitu.”

“Ka-kalau begitu aku akan selalu menjemputmu saat ke masjid. Kita bisa pergi bersama.”

______

Penulis

Indri Anisa, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung. Menulis cerpen menjadi salah satu cara healing karena baginya menulis dan membaca selalu membuka kesempatan untuk menemukan pengalaman serta perspektif baru. Ketertarikannya pada dunia sastra mendorong saya untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan menulis. Beberapa karyanya seperti ”Mulut Besar Toro” dimuat di cerpen.sastra (2026), Badai yang Mendorong Kapal memperoleh juara pertama di penulis pustaka (2025), ”Anak Perempuan dan Pisang Goreng” dimuat di Literation.id (2026), serta ”Tanjung Horn” Bersaksi dimuat di NGEWIYAK (2026). Instagram: @indrianissa48.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Supali Kasim

Puisi Supali Kasim



Angin Bertanya pada Daun-Daun

 

angin bertanya pada daun-daun

tersebab seluruh alam dan isinya

ialah tali pusar alirkan darah

plasenta meniup oksigen

dan berbagai jenis nutrisi

mengapa tidak saling berbagi

 

jika daun-daun terkesiap dan angin lindap

seluruh akar, urat, dan ranting tersipu

sedang kuncup bunga malu-malu

mungkin aorta yang menguar aroma

pada umur dunia makin tua

tapi makin menanjak titik angkara

 

angin kembali bertanya pada daun-daun

meski cuaca dan musim silih berganti

biji yang jatuh kembali tumbuh

sebelum bunga-bunga bermekar

simpan kembali hunus belati

makhluk di bumi bukankah saudara sendiri 

 

2026 

 

 

Kita pun Demikian Telanjang  

 

dari ruang tak bernama kita pun telanjang

menuju jalan pengembaraan

pada cuaca bergetar dan angin bersilang 

hitung kembali kekalahan

seperti migrasi burung-burung antartika

mencari peta

menaklukkan dirinya

 

semua benderang

dunia demikian telanjang

ke lorong panjang kesunyian

 

mestinya engkau memahami sejak mula

segumpal darah dari ruang hampa

menuju pengembaraan dan jalan-jalan kesunyian

menemukan pena

catatan tak terbayang

tetapi darahmu, entahlah

gelegak kuasa dan dunia

impian lalu menguburmu

 

sebelum keberangkatan ini

mestinya kau berkemas

seberapa luka

di bawah pohon-pohon rimbun

dahan bercabang, dan cinta bertumbuhan

entah masa lalu yang lusuh, berdarah dan luka

 

kita pun demikian telanjang

menaklukkan dunia

tak ingat lagi siapa kawan dan lawan

meski dari ruang tak bernama segalanya cinta

segalanya cinta

anak-cucu yang berharap cerita

sebuah warisan yang ingatkan kembali

bahwa kita manusia

 

2025                    

 


Orang-Orang Pesisir

 

sesekali jadilah orang pesisir

mandi berpasir

tidur bertilam pasir

 

tak terbayang dunia senantiasa dahaga

lidah-lidah ombak selalu mengajak

timbul-tenggelam di segara asin

mereguk manis dari masin

 

adakah gelombang bergulung-gulung dolanan

mengajakmu bercengkerama

mungkin engkau teringat

petak umpet di pekarangan masa kanak

berburu dan diburu

ikan-ikan terjaring

badai berpusing

 

mari, mari jadi orang pesisir

belajar hidup getir

menjauh mati dari khawatir

 

betapa jantan kau berwenang

tidur bukan lelap, makan bukan kenyang 

hidup sebenar-benar hidup

sebagai lautan dengan keluasan

seraya bercinta

menampung semua sampah

membasuh semua serapah

 

2025

 

 

Orang-Orang Gunung

 

cinta mengantarmu ke puncak gunung

hening dan suwung

dingin dan renung

 

pepohonan berbisik

wajah-wajah bukit yang manis

kegalauan terbang entah

ketenangan berserah

 

tanpa terasa terpilih oleh gunung

adakah bisik

wisik tanpa berisik

 

semua jadi misteri

dari sela daun-daun dan kabut

belum tentu terbit matahari

tapi cintamu tetaplah berpendar

berkeliling mengedar

 

dan sejuk semilir

melena pikir

jika kauhanyut

tidur dan mimpimu tak pernah akhir

 

2025

 

 

Orang-Orang Kota

 

seperti gerombol burung gereja

dari apartemen dan penginapan

terbangun kesiangan

 

pohon-pohon bertumbuhan

berurat besi beton

menghunjam akar mencari diri

melambaikan daun keterasingan

dan burung-burung gereja di dalamnya

saling cericit tanpa sapa

 

bertelur, menetas, dan terbang

serasa berubah elang

cari makan apa

mematuk siapa

buku-buku dari bangku sekolah

senyap di gedung parlemen dan istana

 

dan mimpimu selalu kesiangan

terlalu berat menafsir dunia

lupa hanya burung gereja

sesekali perlu

keluar mengeja cinta semesta

 

2025

 

_______

Penulis

 

Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat email supalikasim123@gmail.com Alamat rumah: Griya Paoman Asri, Jl. Jati 0/B6 Indramayu 45211 Jawa Barat. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, October 31, 2026

Resensi Kabut | Seratus Tahun Toha Mohtar: Sombong Pangkal Pingsang

Resensi Kabut


September telah berlalu, kita terlalu dipusingkan oleh perkara-perkara genting di Indonesia. Padahal, hari-hari yang panas telah melemahkan tubuh. Pikiran pun terdampak berantakan. Perasaan sering tak keruan. Kini, kita mengalami Oktober, yang belum memberikan tanda-tanda sedikit bergembira. Di Indonesia, lakon hidup masih terlalu jauh dari surga.


Mengapa kita kepikiran September, bulan yang telah berlalu. Kita kembali dalam ingatan. Artinya, September kemarin mengingatkan tokoh bernama Toha Mohtar. Kita terlambat merayakan 100 tahun Toha Mohtar (17 September-17 Mei 1992). Di kesusastraan Indonesia, ia terkenal dengan novel berjudul Pulang. Padahal, ia menulis beberapa buku. Namun, orang-orang selalu ingat Pulang. Kita membayangkan buku tipis yang diterbitkan Pustaka Jaya. Buku yang penting tapi tidak laris meski dijual selama 50 tahun.


Nasibnya sangat berbeda dengan novel-novel yang juga berjudul Pulang (1958) digubah oleh Leila S Chudori dan Tere Liye. Pulang dari dua pengarang itu laris banget, terus dicetak ulang. Novel yang membuat para penggemar memberi pujian-pujian. Yang sudah membaca novel berjudul Pulang dari Leila S Chudori dan Tere Liye belum tentu mengetahui ada Pulang dari masa lalu, yang digubah Toha Mohtar dan mendapat perhatian serius dari para kritikus sastra.


Toha Mohtar, nama besar dalam sastra Indonesia. Yang meragukan boleh membuka buku-buku susunan H.B. Jassin, Pamusuk Eneste, Maman S.M., dan lain-lain. Yang meyakini kehebatan Toha Mohtar dalam bercerita boleh menyesal gara-gara tidak mengadakan peringatan 100 tahun, yang seharusnya memunculkan lagi kesadaran novel berlatar sejarah. Kita pun belum mengetahui orang-orang yang berziarah ke makam Toha Mohtar, berdoa dan mengabarkan sastra di Indonesia abad XXI atau sastra terdampak kebijakan-kebijakan rezim Prabowo-Gibran.


Yang bisa diperbuat setelah telat: membaca satu buku Toha Mohtar. Yang kita baca bukan Pulang, tapi novel untuk anak yang berjudul Serigala dan Kura-Kura. Para peminat sastra di Indonesia terduga tidak pernah mengetahuinya. Yang suka dengan novel-novel terpenting di Indonesia mungkin mengabaikan novel untuk anak-anak. Yang ditulis Toha Mohtar adalah novel yang sangat berbeda selera dari Pulang. Ia menulis dan mempersembahkannya pada anak-anak di seantero Indonesia. 


Novel berjudul Serigala dan Kura-Kura diterbitkan oleh Yayasan Cemerlang, Jakarta, 1974. Novel itu digarap apik dengan hadirnya ilustrasi-ilustrasi buatan Ipe Ma’aruf. Padahal, Toha Mohtar ulung sebagai ilustrator. Jadi, yang mengoleksi buku Serigala dan Kura-Kura beruntung. Ia mendapatkan cerita gubahan Toha Mohtar dan menikmati gambar-gambar dari illustrator kondang di Indonesia. Buku yang semestinya cetak ulang untuk peringatan 100 tahun Toha Mohtar.


Cerita untuk anak bertokoh binatang. Kelaziman yang biasa berulang dalam kesusastraan anak di Indonesia dan dunia. Toha Mohtar tampak menulis cerita secara enteng dan mengandung kelakar. Ia tidak sedang serius dalam menunaikan misi moralitas. Yang disajikan adalah kemahiran bercerita. Pilihannya adalah dua binatang yang sudak diakrabi anak-anak: serigala dan kura-kura. Di film-film, anak-anak mengetahui serigala itu menakutkan. Yang pernah melihat kura-kura memiliki rasa takjub. Beberapa anak malah mengoleksi boneka kura-kura. Pada suatu masa, anak-anak di Indonesia menjadi penonton film asing yang berjudul “Kura-Kura Ninja”. Anak-anak berpihak kura-kura ketimbang serigala. 


Dalam novel, serigala masih muda dan kura-kura sudah tua. Mereka terlibat dalam percakapan dan peristiwa yang “menggelikan”. Kura-kura bilang pada serigala bahwa ingin berburu. Pernyataan yang mendapat tanggapan serigala meremehkan: “Serigala tertawa terbahak-bahak. Ada yang dirasanya teramat lucu dan ganjil. Sesungguhnya ia tidak bermaksud menghina. Coba bayangkan, yang bergerak seperti keong berangkat berburu. Lalu, apa yang bakal jadi buruan?” Para pembaca sudah disuguhi perbedaan sikap dua binatang. 


Serigala itu sombong, memberi nasihat pada binatang yang tua: “Berburu memerlukan gerak cepat, memerlukan keberanian, dan memerlukan tajamnya pikiran.” Serigala tampak menampilkan diri sudah berpengalaman dalam berburu. Maka, ia meragukan kemampuan kura-kura dalam berburu. Yang membuatnya ragu adalah bentuk dan cara bergerak kura-kura. Akhirnya, percakapan yang mengandung ejekan itu menghasilkan kesepakatan bahwa seriga dan kura-kura melakuan perburuan bersama. 


Yang terjadi adalah debat sepanjang jalan. Dua binatang yang memiliki karakter sangat berbeda harus bersama. Situasi yang aneh. Namun, mereka seperti ditakdirkan bersama meski sementara. Serigala bergerak lincah dan cepat. Kura-kura pelan dan mendapatkan halangan. Serigala diminta untuk membantunya saat terhalang oleh sebatang pokok kayu di jalan. Serigala mau membantu tapi cerewet, yang kata-katanya meremehkan kemampuan kura-kura. Serigala adalah binatang yang menang, kuat, dan berani.


Kejadian berulang. Kura-kura mendapat halangan. Maka, serigala terpaksa membantu. Para pembaca mulai diajak mengetahui maksud kura-kura dan serigala yang kebablasan pamer kepongahan sekaligus kebodohan. Yang diucapkan serigala: “Engkau sudah pasti dengar, kura-kura. Bahwa adalah bodoh jika pertanyaan yang sama diulangi lagi untuk kedua kalinya. Dan, sekarang, aku cegah engkau mengulangi permintaan yang sama.” Akhirnya, kura-kura tetap mendapat pertolongan lagi meski diserang omelan-omelan serigala. Pembaca menyadari itu taktik kura-kura untuk menyadarkan serigala.


Menit-menit berlalu, dia binatang belum mendapatkan hasil buruan. Di suatu tempat, kura-kura merasakan bahagia di pinggir telaga: “Ia menyandarkan tubuhnya di batang jambu. Angin bertiup dengan sejuk kendati matahari memancar tajam sekali. Sementara itu lidahnya menampung air jambu yang teramat manis, teramat segarnya. Dan, tentu saja, di mata serigala yang kehausan, jambu-jambu itu tampaknya jadi lebih segar dari sesungguhnya.” Yang berhasil didapatkan adalah jambu, yang berjatuhan dan berserakan di tanah.


Serigala yang sempat berpisah jalan merasa penasaran mengetahui kura-kura menikmati jambu. Ia bingung memikirkan cara kura-kura mendapatkan jambu. Serigala memang tidak mengetahui bila itu berjatuhan dari atas setelah jambu-jambu dimakan oleh kampret. Yang ditanyakan: “Bagaimana engkau bisa mendapatkan buah-buahan yang lezat? Buah-buah itu bergantungan terlalu tinggi. Tubuhmu terlalu pendek untuk bisa meraihnya. Lagipula, tidak ada ceritanya seekor kura-kura bisa memanjat pohon.” Kura-kura disodori pertanyaan yang membuktikan bahwa serigala itu bodoh tapi sombong.


Yang dilakukan kura-kura adalah menampilkan sikap yang “menantang” dan makin bikin marah serigala. Kesengajaan yang menciptakan humor bagi pembaca. Kura-kura memberi pesan tentang kebalikan kecepatan dan terburu-buru. Maka, ia memerankan diri dengan santai dan tenang. Yang diceritakan Toha Mohtar: “Ia menguap dan memang angin semilir menyenangkan. Ia seperti tidak peduli, malahan ada kesan seperti ia tidak mendengar ucapan-ucapan serigala. Sikap yang membuat serigala makin penasaran. 


Serigala memaksa agar kura-kura menjelaskan cara mendapatkan jambu yang manis dan segara. Kura-kura paham sifat serigala. Mulailah ia membuat keterangan yang mengandung kebohongan tapi dipatuhi oleh serigala. Anak-anak yang membaca novel lekas disadarkan bahwa kura-kura itu cerdik. Ia bakal mampu “mengalahkan” kesombongan serigala. Di hadapan halaman-halaman novel, anak-anak makin menentukan keberpihakkan pada kura-kura.


Petunjuk bohong yang diberikan: “Pertama-tama, yang aku kerjakan, berjalan mundur dari batang pohon jambu. Ya, aku mundur antara seratus Langkah. Tapi, mataku tidak pernah kulepaskan dari batang jambu.” Serigala agar mengerti, tidak sabaran ingin mengetahui cara-cara selanjutnya. Pembaca mungkin tertawa. Yang disampaikan kura-kura: “Lantas, saya lari sekencang-kencangnya. Dengan keras, aku tumbukkan kepalaku ke pohon jambu. Apa yang terjadi? Dahan-dahan banyak yang berguncangan. Dan, banyak buah yang berjatuhan.” Serigala tidak berpikir panjang. Ia melakukan sesuai petunjuk kura-kura. Padahal, ia sudah diingatkan: “Sakit? Tentu saja sakit. Bahkan, bukan buatan sakitnya. Tapi waktu itu kupikir, buah-buah itu memang jauh lebih manis dari peningnya kepala.” Serigala memilih melakukan tindakan yang bakal menyakitkan.


Yang terjadi, serigala pingsan. Kura-kura menikmati jambu. Anak-anak yang membaca boleh merasa kasihan pada serigala yang sombong, bodoh, dan menderita. Kura-kura terbukti cerdik. Ia menikmati buah tanpa harus melakukan perbuatan yang susah dan terlalu menyakitkan. Novel berjudul Serigala dan Kura-Kura memang pantas untuk bacaan anak-anak, yang memerlukan hiburan bermutu. Yang membaca bisa tertawa sambil merenungi nasib serigala. Kemenangan milik kura-kura. Anak-anak tentu sadar sedang membaca cerita para binatang tapi mengingatkan sifat-sifat yang dimiliki manusia.


_______


Biodata Penulis

Kabut, penulis lepas.


irim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

Thursday, October 29, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Jualan Agama: Bisnis Paling Laku di Indonesia

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



Donatur dijanjikan pahala, pegawai disuruh ikhlas, sementara pengelola semestinya mempertanggungjawabkan amanah.

 

Di Indonesia, ada bisnis yang produknya tidak perlu dipajang di etalase, tidak perlu diuji kualitasnya oleh konsumen, dan tidak perlu memberikan garansi yang bisa ditagih. Produknya tidak terlihat, tetapi peminatnya luar biasa. Namanya: pahala. Pasarnya: orang-orang yang ingin berbuat baik. Slogan promosinya: akhirat. Daya tarik utamanya: surga.

 

Cukup pasang foto anak yatim, tampilkan video santri mengaji, ceritakan keluarga miskin yang membutuhkan pertolongan, tambahkan kalimat menyentuh tentang sedekah, lalu sebarkan nomor rekening. Dalam hitungan menit, rasa iba bisa berubah menjadi transfer. Orang yang sedang menghitung uang belanja mendadak rela menyisihkan penghasilannya karena percaya bahwa kebaikan hari ini akan bernilai di hadapan Tuhan kelak. Kepercayaan itu mulia. Justru karena mulia, ia berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

 

Di negeri yang masyarakatnya religius, agama dapat menjadi sumber pengabdian luar biasa. Namun, agama juga bisa disulap menjadi alat pemasaran yang menguntungkan. Ketika nama Tuhan dijadikan daya tarik, ayat menjadi materi promosi, dan surga menjadi kalimat penutup penggalangan dana, kita perlu bertanya: yang sedang diperjuangkan benar-benar umat, atau kemakmuran orang-orang yang mengatasnamakan umat?

 

Tentu, tidak semua lembaga agama seperti itu. Banyak yayasan, pesantren, guru, dan pengurus yang bekerja tulus serta hidup sederhana. Namun, demi menjaga kehormatan mereka, praktik yang mencurigakan harus berani diperiksa. Jangan sampai kesalehan menjadi merek dagang, sementara amanah diperlakukan seperti milik pribadi.

 

Surga Bukan Bahan Marketing

 

Dalam bisnis biasa, pembeli boleh bertanya tentang kualitas barang. Jika barang bermasalah, penjual bisa dimintai pertanggungjawaban. Tetapi ketika bisnis dibungkus bahasa agama, sebagian orang mendadak takut bertanya. Mereka khawatir dianggap tidak ikhlas, dicap suudzan, atau dinilai tidak mendukung dakwah. Aneh, bukan? Orang diminta mengeluarkan uang sungguhan demi harapan pahala, tetapi ketika meminta laporan penggunaan uang, justru dirinya yang dicurigai.

 

Padahal, yang perlu diperiksa bukan pahala di akhirat, melainkan pengelolaan uang di dunia. Pahala adalah urusan Allah. Manusia boleh mengajak kepada kebaikan, tetapi tidak berhak memperlakukan surga seolah-olah tiket eksklusif yang bisa dijual melalui rekening yayasan. Sedekah memang memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Namun, keutamaan sedekah tidak otomatis membuktikan bahwa setiap penggalangan dana dikelola dengan benar. Foto anak yatim bukan laporan keuangan. Video orang mengaji bukan bukti bahwa uang donatur telah sampai kepada penerima manfaat. Spanduk bertuliskan ayat bukan sertifikat kejujuran.

 

Kalau sebuah lembaga rajin mengingatkan donatur tentang pertanggungjawaban di akhirat, mengapa lembaga itu sendiri tidak berani mempertanggungjawabkan uang di dunia? Jangan sampai kata ikhlas menjadi tirai untuk menutupi angka-angka. Jangan sampai orang yang meminta transparansi dianggap kurang beriman, sementara orang yang memegang uang merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Jika uangnya amanah, laporan keuangan seharusnya bukan ancaman. Jika pengelolaannya bersih, pertanyaan bukan musuh.

 

Pegawai Disuruh Ikhlas, Tapi Perut dan Dompetnya Kosong

 

Sekarang mari turun dari panggung ceramah menuju ruang belakang lembaga. Di depan, pengeras suara mengumandangkan keutamaan sedekah. Di media sosial, poster donasi tampil setiap hari. Pengurus berbicara tentang pengorbanan dan perjuangan dakwah. Namun, bagaimana nasib orang-orang yang membuat semua itu berjalan?

 

Ada guru yang mengajar setiap hari, tetapi penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada pegawai administrasi yang mengurus data donatur, tetapi kesulitan membayar kontrakan. Ada petugas dapur yang memastikan santri makan, tetapi belum tentu mampu menyediakan makanan bergizi bagi anaknya sendiri. Ketika mereka meminta penghasilan lebih layak, jangan-jangan jawaban yang datang justru nasihat tentang keikhlasan.

 

Pertanyaannya sederhana: apakah perut pegawai berbeda dengan perut pengurus? Apakah anak guru agama tidak perlu biaya sekolah? Apakah pekerja yayasan tidak boleh menikah, punya rumah, berobat, dan menabung untuk masa depan?

 

Beras tidak bisa dibayar dengan nasihat. Tagihan listrik tidak menerima kuitansi pahala. Pemilik kontrakan tidak otomatis menghapus tunggakan karena penyewanya bekerja di lembaga dakwah. Pegawai yang meminta gaji layak bukan berarti kurang bersyukur. Pengabdian tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban terhadap orang yang bekerja. Tentu, pengurus yang bekerja secara profesional berhak memperoleh gaji wajar. Tidak semua fasilitas pengurus adalah kemewahan, dan tidak semua perbedaan penghasilan merupakan ketidakadilan. Namun, gaji, fasilitas, serta keputusan keuangan harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Yang patut dikritik adalah ketika pengurus menuntut pengorbanan tanpa batas dari bawahan, tetapi tidak menunjukkan keterbukaan mengenai penggunaan dana dan kesejahteraan pegawainya. Jangan-jangan, di sebagian tempat, kata ikhlas berubah menjadi nama lain dari ketidakberdayaan pegawai untuk menuntut haknya. Kalimat yang penting niatnya ibadah memang murah diucapkan, tetapi bisa sangat mahal bagi orang yang harus membeli beras dengan uang yang tidak cukup.

 

Pesantren Bukan Kerajaan Keluarga

 

Pesantren seharusnya menjadi tempat menumbuhkan ilmu, membentuk akhlak, dan mendidik manusia agar bermanfaat bagi masyarakat. Banyak pesantren telah menjalankan tugas mulia itu dengan pengorbanan besar. Namun, lembaga pendidikan agama pun tidak boleh ditempatkan di atas pertanyaan yang wajar.

 

Ketika masyarakat menyumbang untuk membangun asrama, membeli kitab, menyediakan makanan santri, atau membiayai pendidikan, uang itu membawa amanah. Ia bukan hadiah tanpa syarat bagi siapa pun yang kebetulan memegang jabatan pengurus. Masalah muncul jika pengelolaan lembaga lebih menyerupai kerajaan keluarga daripada organisasi yang bertanggung jawab: jabatan berputar di antara kerabat tanpa proses yang jelas, aset diperlakukan seperti milik pribadi, laporan keuangan sulit diperiksa, sedangkan guru dan pegawai hidup dalam ketidakpastian.

 

Mempekerjakan anggota keluarga bukan otomatis penyimpangan. Mereka boleh bekerja sesuai kompetensi dan menerima upah yang wajar. Namun, hubungan darah tidak boleh menjadi karpet merah untuk memperoleh jabatan, fasilitas, atau keuntungan yang tidak transparan. Dana yayasan bukan warisan pribadi. Sumbangan masyarakat dan sumbangan dana pemerintah bukan uang pribadi maupun bukan uang keluarga yang bebas dibagi sesuka hati.

 

Bayangkan sebuah pesantren yang mengajarkan kesederhanaan kepada santri, tetapi gurunya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Santri diminta belajar tentang keadilan, sementara tenaga pengajar tidak dihargai secara layak. Masyarakat terus diajak berdonasi, tetapi penggunaan uangnya tidak dijelaskan secara memadai.


Apa yang sebenarnya sedang diajarkan kepada santri? Bahwa kesederhanaan hanya berlaku bagi orang kecil? Bahwa amanah cukup dihafalkan, tetapi tidak perlu diterapkan ketika menyangkut kepentingan sendiri?

 

Kita tidak boleh menyebarkan tuduhan tanpa bukti. Namun, menghormati guru bukan berarti menganggap semua keputusan pengurus pasti benar. Mencintai agama bukan berarti membiarkan orang yang mengatasnamakannya kebal dari kritik. Justru lembaga yang benar-benar menjaga agama semestinya berani membuka diri. Jika pengelolaannya bersih, apa yang perlu ditakutkan dari laporan yang jujur?

 

Jangan Jual Kemiskinan untuk Membeli Kemewahan

 

Penderitaan orang miskin dapat menjadi bahan penggalangan dana yang sangat efektif. Anak yatim ditampilkan agar orang tergerak. Santri yang kekurangan dijadikan wajah kampanye. Keluarga yang kesulitan makan diceritakan berulang kali. Cara ini bisa dibenarkan jika dilakukan secara bermartabat dan dana digunakan sesuai tujuan. Namun, ada batas moral yang tidak boleh dilanggar: penerima bantuan tidak boleh berubah menjadi komoditas, dan penderitaannya tidak boleh dipakai untuk memperkaya pihak lain.

 

Jika kampanye berhasil mengumpulkan dana besar, masyarakat berhak mengetahui berapa yang diterima penerima manfaat, berapa biaya operasionalnya, dan bagaimana sisa dana digunakan. Biaya operasional tentu diperlukan. Lembaga membutuhkan pegawai, transportasi, administrasi, dan fasilitas. Namun, semua itu harus wajar, dijelaskan, dan sesuai aturan. Yang tidak dapat dibenarkan adalah menggunakan kisah kemiskinan untuk membangun citra kesalehan, sementara manfaat bagi penerima bantuan tidak jelas dan pengelola menolak pertanyaan yang sah.

 

Donatur pun perlu lebih kritis. Jangan hanya bertanya, “Berapa pahala yang saya dapat?” Tanyakan pula, “Apakah uang ini sampai kepada tujuan yang dijanjikan?” Periksa identitas lembaga, laporan penggunaan dana, dan rekam jejak pengelolanya. Donasi yang cerdas bukan donasi yang kehilangan empati, melainkan donasi yang memastikan empati benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan.

 

Yang Dijual Agama, yang Dibayar Manusia

 

Sudah waktunya kita berhenti menggunakan keikhlasan sebagai jawaban untuk semua persoalan. Ikhlas adalah urusan batin yang mulia, tetapi hak pekerja adalah urusan nyata yang wajib diselesaikan. Orang boleh ikhlas mengajar, tetapi lembaga tetap harus memikirkan kesejahteraannya. Orang boleh mengabdi di pesantren, tetapi pengurus tetap harus menghitung kebutuhan hidupnya. Jika dana terbatas, jelaskan dengan jujur. Jika ada kekurangan, jangan menutupinya dengan pidato tentang pahala. Jika lembaga menerima uang masyarakat, bangunlah sistem pertanggungjawaban yang memungkinkan uang itu diawasi secara layak.

 

Pada akhirnya, mungkin bisnis paling menguntungkan bukanlah menjual agama, melainkan menjual citra kesalehan tanpa kewajiban menjalankan nilai-nilainya. Menjual harapan akhirat kepada donatur, tetapi mengabaikan kebutuhan hidup pegawai. Mengajarkan pengorbanan kepada orang kecil, tetapi enggan mengoreksi orang yang berkuasa. Mengutip ayat tentang sedekah, tetapi keberatan ketika ditanya tentang uang.

 

Agama tidak menjadi hina karena pengelolanya diperiksa. Yang menjadi masalah adalah ketika pengelola memakai agama untuk menghindari pemeriksaan. Jangan sampai masyarakat begitu sibuk mengumpulkan pahala sampai lupa memeriksa siapa yang mengelola uangnya. Jangan sampai pegawai terus diminta ikhlas, sementara pengurus tidak pernah diminta transparan. Jangan sampai surga dijadikan slogan untuk menutup pertanyaan yang seharusnya mudah dijawab.

 

Sebab, Tuhan tidak membutuhkan kita untuk membela penyalahgunaan atas nama-Nya. Anak yatim tidak cukup diberi tempat dalam video jika kebutuhannya tidak terpenuhi. Santri tidak cukup diberi nasihat jika kebutuhan pendidikannya terbengkalai. Guru tidak bisa membayar kebutuhan keluarganya dengan pujian bahwa ia sedang berjihad di jalan ilmu. Surga bukan milik pengurus yayasan. Pahala bukan komisi penggalangan dana. Dan keikhlasan bukan surat izin untuk menelantarkan manusia.

 

Kalau benar yang diperjuangkan adalah agama, mulailah dari hal yang sederhana: jangan mengambil hak orang lain, jangan mempermainkan kepercayaan masyarakat, dan jangan menjadikan kemiskinan sebagai modal untuk membangun kemewahan pribadi. Barangkali pertanyaan yang paling memalukan bukanlah berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan atas nama surga, melainkan berapa banyak manusia yang dibuat menderita selama uang itu dikumpulkan.

 

Jangan-jangan, yang paling laris bukan agama. Yang paling laris adalah bisnis membuat orang percaya bahwa uangnya sedang menuju akhirat, sementara kita tidak pernah sungguh-sungguh memeriksa ke mana uang itu pergi di dunia.

 

______

 

Penulis

 

Afrian Rahardyaning Pangestu adalah pernah menjadi guru Matematika, Bahasa Inggris, IPA, IPS untuk murid SMP serta SMA. Hobi membaca, menulis, menggambar, dan fotografi.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com