View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, May 31, 2026

Cerpen Andria Septy | Tato Geg

Cerpen Andria Septy

 

 

Pada hari suci Saraswati tahun lalu, perempuan itu bertekad meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Sependek ingatannya, ia paling benci mata pelajaran Bahasa Inggris. Seorang pemuda mengenalnya, sewaktu mengenyam pendidikan menengah pertama di Desa K. Bahkan, ia akui keahliannya dalam menyontek yang dipersiapkan semalam suntuk. Ia bangga dengan masa muda yang mendebarkan ketika mulai mendeteksi kata-kata busuk dari orang-orang busuk. Kenakalan remaja paling berani yang dilakukannya; merajah lengan mulus nan ranum ketika libur semesteran. Betul. Ia berpura-pura menjadi anak kuliahan. Kala itu, tidak begitu ketat pengawalan dalam dunia pertatoan. Telah terwakilkan dengan tinggi dan wajahnya yang amat matang. Mulanya, perempuan itu bertato demi sok gaul, tanpa benar-benar tahu makna. Perempuan Bali kelahiran Kalimantan itu kerap disapa Metha.

      

Beberapa kawan meledek dan merecoki pikiran Metha. Ia menjawab dengan tanpa bersikap dongkol, kenapa mesti cari makna? Toh, tato ini sebenarnya untuk meningkatkan rasa percaya diriku. Beberapa kawan cowoknya tak sanggup berkata apa.

 

Semuanya serba pertama, ketika Metha jatuh cinta dengan tato dan (kelak) menjadi amor (anak motor). Termasuk pengenalannya pada dunia maya yang fana. Dunia ketika ia getol menjadi sesosok berkepala batu. Lingkungan sekitar Maya membentuk tabiatnya menjadi liar.

 

Di hari ulang tahunnya, perempuan itu menambah tato serigala pada lengan kiri atas. Pemuda itu tahu betul, tato Casper di lengan kanan telah menemani masa-masa remaja. Ide soal tato serigala muncul, lantaran hewan itu dipercaya membawa keberuntungan. Ia berkontemplasi, ingin berhasil dalam perkuliahan, pekerjaan dan berpenghidupan. Itulah hari terakhir, ia menjadi agak filosofis. Lantas beralih identitas menjadi amor (anak motor-red).

 

***

      

Ini kejujuran hati si pemuda Desa K.

 

Si amor Metha kerap membuatnya gelisah dengan foto-foto diri bak supermodel. Si pemuda betah berjam-jam demi memantau Metha pamer paha, bahu mulus dan bibir merah jambu. Ia rajin mengunggah foto di Story Instagram per dua jam. Si pemuda merasakan perubahan dalam hidup gara-gara kecanduan dengan Meta dan Metha. Pertanyaan demi pertanyaan berdansa riang di kepala pemuda itu. Mengapa ia tak mencoba berkenalan ulang? Terkait respons dan segala macam urusan belakang. Hal terpenting keberanian, tukasnya dalam hati.

 

Si pemuda itu pun dilanda kecemasan menahun. Ia menyempatkan diri ke puncak bukit belakang rumah sepulang dari seremonial foto keluarga. Ia memperoleh gelar "Sarjana Pendidikan" dan wisuda siang tadi. Biasanya, ia bermenung di bukit kunang-kunang itu sambil membawa tumblr berisi kopi. Desir alamiah yang dinanti; sepoi angin menyapa ilalang. Gigitan nyamuk membuatnya tersadar, ia seperti pungguk merindukan bulan. Namun, lembayung senja membikin kecemasan pudar. Seharusnya, ia berkarya bikin konten yang tadinya sebagai pekerjaan sampingan.

 

Ah, otaknya buntusebuntu-buntunya. Ia gundah akan ketiadaan ide meracik karya mutakhir dan pikirannya tertuju selalu ke Si Geg.

 

Batu kerikil dan partikel debu membersamai si pemuda sewaktu bekerja paruh waktu sebagai pengemudi perjalanan. Ia mesti setangguh Si Geg yang tidak dapat berbahasa Bali itu. Ia terpana ketika Si Geg berucap gamblang di sosial media, duit-lah agamanya sekarang. Perempuan itu berangkat ke kota demi sesuap nasi. Tahu-tahu, menjadi pemaki tulen. Curhatan Metha di sosial media itu dicatat oleh si pemuda.

 

***

 

Hari ini, pemuda itu bertandang ke usaha lampau di pusat keramaian. Lebih tepatnya, menyengajakan diri melamar pekerjaan di kafe bekas milik Ayah Geg. Di sisi lain, semacam perasaan heroik teruntuk kata-kata pengangguran yang bakal hilang segera. Barista semacam cita-cita masa kecil yang semenyenangkan roti gandum dan teh manis hangat pagi hari. Setibanya di skena kafe ia mendadak loyo. Perempuan fotogenik itu terlihat sedang asyik bercakap mesra dengan sosok berkumis tipis. Si kemayu bersandar di lengan lelaki itu sewaktu di depan elevator. Sang pemuda tercekat seraya membatin, optimis saja, barangkali menemui pemilik kafe di lantai atas. Sungguh. Wangi lembut parfumnya itu, membuat kami para cowok menjadi kepayang. Ia tahu betul. Metha dikenal sebagai sosok bergaya elite, di tengah ekonomi sulit.

 

Tersiar kabar, ia siap disewa menemani pria-pria kesepian. Perempuan yang fasih berbahasa Banjar itu tak pernah menampik. Ia mengikuti saja arah kehidupan membawanya. Hingga berbulan-bulan, si pemuda mencari celah bertemu. Tetapi belum ada perubahan signifikan karena Metha sok ‘pura-pura tak kenal’. Pemuda itu Metha anggap hanya ‘Maya’.

 

Sependek ingatannya, Metha sejak dulu lumayan berkepribadian keras. Terutama soal suara-suara perempuan yang diacuhtakacuhkan. Metha berang bukan main, ketika pendapat para perempuan, apa pun latar belakangnya, disepelekan bahkan tak dianggap.

 

“Ah, perempuan itu cuma pemanis. Sudah jelas dari gestur tubuhnya, simpanan pejabat.”

 

Kala itu, kepalanya seperti akan meledak. Hidungnya kembang kempis ingin segera menimpali. Namun sangking kesalnya, ia hanya menangis. Si Geg berusaha santai di kafe terselubung yang menjual miras. Lagu Mirasantika-Rhoma Irama mengalun deras. Sederas cinta Geg pada kariernya yang penuh ketidakpastian.

 

***

 

Si pemuda memperoleh pekerjaan sebagai asisten barista. Gaji pertama telah ia belikan gaun merah jambu untuk Metha. Ia bermaksud mengirim gaun itu, ke kafe tempat Geg menjadi pramusaji. Sedihnya, si hitam manis itu dimutasi menjadi kasir. Tepatnya, kasir salah satu kafe rekanan dari kafe tempat si pemuda bekerja. Konon, si perempuan rantau ini membikin seorang pelanggan keracunan makanan. Bahkan, berhembus kabar, ia sudah menjadi isteri kedua pejabat birokrat. Jadi, semacam harus dalam pengawasan intensif. Kafe yang serupa restoran bintang lima itulah tempat cuci uang.

 

Kurang dari sepuluh menit, jam menunjukkan pukul tujuh belas. Jam di mana biasanya Metha berada di belakang meja kasir. Selama tiga bulan ini, si pemuda sudah cukup punya informasi terkait manungsa itu. Manungsa cantik yang pembawaannya elegan. Pengikut sosial media menjuluki ia Angsa Cantik. Seharusnya seekor angsa yang ia jadikan tato, bukan serigala atau Casper. Metha gemar mengenakan pakaian-pakaian minimalis. Si pemuda pastikan, perasaan yang ia miliki bukan semata instan. Apalagi berahi. Ia tahu sejak lama, Metha bekerja sebagai pemandu hiburan malam. Tadinya, Si Geg sosok yang polos dan lempeng. Bahkan si pemuda mengikuti tulisan-tulisannya terkait soal ekologis. Bagi Metha; sungai, laut, hutan, sawah dan gunung diibaratkan sesosok perempuan. Lelaki mana yang bisa hidup tanpa wanita? Bahkan jikalau terasing dan diasingkan, perempuan masih bisa bertahan. Namun, keberadaan perempuan terlampau diperlakukan tak semestinya. Tulis Metha dalam blog yang si pemuda ingat betul. Kata-kata itu beririsan dengan ucapan neneknya dulu sewaktu kecil.

 

Semasa kecil, si pemuda memimpikan diri menjadi seperti Don Quixote, atau Pangeran Cilik yang terasing di planet. Semua impiannya dirayapi seribu satu pertanyaan. ‘Kau ini apa’ bertebaran di ranting pohon bunga Jakaranda dan Tabebuya.

 

Si pemuda tak punya senjata apa-apa, selain keahlian menyeduh kopi dan menyetir mobil. Seduhannya pun termasuk kategori junior di kancah dunia perbaristaan. Sejak lulus sekolah, si pemuda mencari tahu, apa gerangan kekhawatiran dan kegemaran perempuan itu. Ia suka foto, kopi dan kafe. Ia benci belajar tata bahasa. Suka jatuh cinta sama orang yang membuat kopi enak. Pria idaman Metha, maksimal seperti Mikael Jasin, atau minimal kayak Ayahnya yang militan.

 

Makanya, pemuda itu nyemplung sebagai barista karena ingin menaklukkan Metha.

 

Perempuan pecinta rupiah dan dolar itu bersimbah darah di bawah pohon Tabebuya. Iblis mana yang melakukan ini! Si Geg terakhir kali terlihat bersama si pria berkumis tipis. Si pemuda yakin betul, si rakus gembul itulah pembunuhnya! Tinta di atas kertas itu masih basah dan bercampur darah segar. Semua kertas-kertas bertuliskan bahasa Prancis. Identitas barunya terkuak lewat kertas surat, yang barangkali seribu lembar. Si pemuda menyusunnya satu persatu dan ia kumpul dalam stopmap plastik. Betapa pohon itu pohon yang kami rawat bersama sosok yang ia yakini sebagai kembaran Metha. Ada nama si pemuda tertera di pohon yang penuh bercak darah. Bahkan masih sedikit basah disamping bau anyir yang menyerebak.

 

Asisten barista itu tak paham mengapa semacam diarahkan ke tempat kejadian perkara. Ia yakin perempuan ini hanya doppelganger Metha. Simpel. Mayat itu tak bertato Casper. Si pemuda gagal paham, mengapa semua mata elang mereka tertuju padanya. Mereka tak percaya kata-katanya satu pun. Ah, kesaksiannya hanya dianggap angin lalu. Padahal, si pemuda mengantongi beberapa bukti yang mengarah ke manusia bau tanah, suami siri sendiri.

 

Gn. Kelua, April 2026

  

______

 

Penulis

 

Andria Septy, lahir di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia adalah satu dari 7 Emerging Writers di Makassar International Writers Festival tahun 2022. Pada tahun 2024, residensi dan pameran ‘Youth of Today’ Jogja Fotografis Festival di Yogyakarta. Ia penulis puisi, novel dan tutor. Menerbitkan novel Calista’s Conflict (Stiletto Indie Book, 2016). Buku kumpulan puisinya Tata Laras Gema Rima (Basabasi, 2025).

 

Instagram: @senoritaandriasepty_

Facebook: Andria Septy

Blog Pribadi: www.theasenorita.blogspot.com

Tautan karya-karya saya: linktr.ee/karyaandriasepty

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

 

 

 

 

Puisi-Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno


Besok


Langit sedang dirundung rindu,

rindu yang tak pernah dibalas waktu.

Sementara anak-anak sedang menghabiskan waktu,

aku tertidur pulas di dekapan hantu.

Itulah hantu masa lalu, hantu

perempuan yang mengejar-ngejarku.


Semasa hidupnya, ia tidak pernah berhenti berdandan,

bicara teori konspirasi bahwa bumi hanya percobaan.

Aku inginkan dia berhenti untuk takut pada masa depan.

“Besok kau harus menghilang dan tidak kelihatan.”


Keesokan harinya, segala ketakutan padam begitu saja.

Aku tidak lagi mendengar racau perempuan itu.

Tapi kadang kulihat dia di cermin, di kaca spionku, atau

ikut tertidur saat aku sedang memimpikan masa depan.


“Sudah tidur saja,” bisiknya.

Aku tidak gidik ngeri.

Tidak ada yang lebih ngeri dari

tubuh yang dirundung nyeri,

nyeri yang hinggap setiap hari.


“Besok aku akan membisikimu lagi.”

Aku peduli setan. Besok akan sama

dengan kemarin: hari-hari yang melelahkan,

hujan rindu yang dibawa pergi hantu

melewati langit yang masih malu menatapku.



Menjelma Tanah


Kubuka kitab suci dan kubaca agar mulia jiwaku

dan kutenggak gelas berisi malu 

agar tetap jujur pribadiku

dan kumakan sepotong bodoh dari balik jendela 

agar terarah jalanku

dan bermandikan rindu tubuhku

agar hati ini senantiasa mengingatmu

dan bersetubuh kata lidahku

agar ia tetap menggema di dalam pilu

dan terkubur batinku yang ringkih

lagi syahdu dalam lagu

dan kudekap air hujan di dalam pelukku

meski tertatih-tatih dalam ragu

agar nanti ketika aku menjelma tanah abadi

bunga yang harum bisa tumbuh dan mengabdi.



Dari Balik Jendela Maya


Dari balik jendela maya

kita saling memberi dukungan

meski tak tahu bunga siapa

atau burung siapa

sedang bertengger di sana.


Dari balik jendela maya

kita saling menipu dan meniru

untuk mendapatkan dukungan

meski tak tahu suara siapa

atau indra siapa yang kena.


Dari balik jendela maya,

dunia kita yang kedua,

kita merasa hidup seutuhnya.


______


Penulis

Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Karya-karyanya dapat dijumpai di berbagai media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Cerpennya yang berjudul “Tempat Kejadian Perkara” berhasil menjadi juara ketiga dalam Parmawijaya Dendasasmita Literary Awards 2025. “Ketika Kata Tiada” merupakan 10 Naskah Terpilih dalam Pitching Naskah Novel Bentang Pustaka x Suku Sastra 2025. Pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah lewat novelnya “Machine with a Heart”.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Lapak Buku "Siapa yang Terluka?" Karya Astini Uyun


Judul: Siapa yang Terluka?

Penulis: Astini Uyun
Penerbit: #Komentar

Terbit: Juni 2026

Tebal: vi + 133 halaman
Ukuran: 14 x 20 
Harga: Rp78.000


Siapa yang Terluka? mengisahkan perjalanan hidup Fanny Clarissa Putri, seorang mahasiswi yang menjalani kuliah sambil mengajar di sekolah dasar. Dalam proses bertumbuh, ia belajar tentang tanggung jawab, pendidikan, organisasi, persahabatan, dan arti ketulusan. Kehadiran Pak Basma, rekan kerja yang perhatian, serta Kak Dion, senior kampus yang selalu mendukungnya, membuat Fanny berada di persimpangan perasaan yang rumit. Di tengah kesibukan mengajar, mengikuti lomba, kegiatan organisasi, dan berbagai perjalanan yang membentuk dirinya, Fanny harus memahami makna cinta, kepercayaan, serta luka yang lahir dari harapan dan pilihan. Novel ini menghadirkan kisah hangat tentang keluarga, perjuangan meraih mimpi, dan pencarian jawaban atas satu pertanyaan sederhana namun mendalam: siapakah sebenarnya yang terluka?


Kontak Penulis:

0896-5090-3319


Saturday, May 30, 2026

Resensi Kabut | Bocah Menulis Indonesia

Oleh Kabut


Indonesia yang penuh kejutan setiap hari dipicu oleh beragam omongan yang disampaikan presiden, menteri, dan para pejabat (sangat) penting. Kita mula-mula terkejut tapi perlahan mulai terbiasa. Apakah terkejut masih akan terus terjadi? Yang masih berdebar mendingan berdoa. Yang takut boleh sembunyi di gua-gua terpencil.

Kejutan-kejutan itu mendapat tanggapan dari para tokoh melalui tayangan-tayangan di media sosial. Anehnya, keramaian yang tercipta tidak menjamin berkurangnya kejutan di Indonesia. Yang bikin geleng-geleng kepala, anak-anak mulai ikutan mengomentari kejutan-kejutan di Indonesia. Mereka bermunculan di beragam tayangan, yang membuat kita tertawa. Artinya, tanggapan terhadap kebijakan-kebijakan disajikan melalui omongan bersifat humor atau lagu-lagu yang bergelimang tawa. Anak-anak mengerti lakon Indonesia. Mereka tidak membuat esai untuk dimuat di koran atau majalah. Yang mereka lakukan adalah bersikap di depan kamera, lantas disuguhkan di media sosial. 

Kita kadang berharap anak-anak mengisahkan hal-hal lain saja ketimbang bersinggungan politik. Namun, kesadaran politik telah menular. Akibatnya, anak-anaknya yang suka membuat tayangan tergoda ikut membuat tanggapan atau mencipta hiburan yang mengingatkan publik bahwa Indonesia itu “negara seribu kejutan”.   

Pada masa lalu, anak-anak yang melek politik atau situasi sosial bisa bercakap bareng keluarga atau teman-teman. Di situ, mereka berharap terus memuliakan Indonesia meski bersedih atas hal-hal buruk. Anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana, belum dicampuri istilah-istilah asing seperti yang biasa diucapkan para pengamat politik dan kaum intelektual. Pada saat anak-anak tidak berkata-kata, garapan gambar bisa menyatakan yang dipikirkannya tentang Indonesia. 

Apakah anak-anak di seantero di Indonesia tetap percaya bahwa puisi bakal ikut mengubah nasib Indonesia? Dulu, kita mengingat puisi-puisi gubahan M Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Rendra, Taufiq Ismail, Wiji Thukul, dan lain-lain memberi warna dalam arus pembentukan dan pemuliaan Indonesia. Puisi-puisi memang tak kentara bila menjadikan Indonesia berharap terang dan girang. Yang biasa bermunculan adalah puisi-puisi yang ingin menyelamatkan Indonesia. Kita punya catatan tentang puisi-puisi gubahan anak, yang mengalir dalam pemaknaan Indonesia, dari masa ke masa? Jawaban yang susah.

Pada 2004, terbit buku berjudul Untuk Bunda dan Dunia. Buku terbitan DAR! Mizan itu berisi puisi-puisi gubahan Abdurahman Faiz. Pada saat terbit, penggubah puisi berumur 8 tahun. Indonesia mendapat persembahan buku puisi dari anak. Pada masa-masa sebelumnya, terbit beberapa “puisi anak” tapi yang menulis adalah orang-orang dewasa. Mereka membuat puisi untuk dibaca anak-anak. Faiz muncul sebagai penggubah puisi anak, yang dibaca oleh anak. Kaum dewasa pun boleh membaca sambil melacak tautan-tautan puisi dan kondisi Indonesia.

Judul buku terbaca sederhana. Para pembaca tidak mengira bakal bertemu puisi-puisi yang membuktikan anak berhak menanggapi masalah-masalah besar dan mengejutkan di Indonesia. Ia dalam keluguan sekaligus keberanian. Bagaimana ia mampu menulis puisi yang mendokumentasi dan mengiringi lakon Indonesia? Ia mungkin rajin membaca koran, menonton televisi, atau mendengar omongan dari kaum dewasa. Yang pasti, ia melihat dan merasakan Indonesia yang belum membahagiakan. Bagi yang penasaran atas puisi-puisinya sedikit mendapat keterangan. Faiz itu anak dari pengarang yang terkenal di Indonesia: Helvy Tiana Rosa.

Penjelasan tercantum dalam buku: “Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001 hingga November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7 tentang situasi sosial, dan 5 tentang tokoh masyarakat.” Yang menulis puisi dilahirkan di Jakarta, 15 November 1995. Ia hadir dalam suasana setengah abad Indonesia merdeka. Anak itu bertumbuh dengan rangsang sastra dalam keluarga. Yang dilakukannya adalah membuat tulisan: “Tapi, kalau menulis sajak, ia memilih layer telepon genggam yang kecil untuk menaruh larik-larik sajaknya.” Cara yang berbeda dari nostalgia kita mengenai penggubah puisi: yang menulis di kertas atau menggunakan mesin tik. Faiz mengalami zaman yang bergerak cepat dengan beragam benda-benda ajaib.

Kita membaca puisi yang berjudul “Tujuh Luka di Hari Ulangtahunku”. Faiz menulisnya pada tanggal 15 November 2003. Apa yang bisa kita ingat tentang 2003? Faiz memberi dokumentasi melalui puisi: Sehari sebelum ulangtahunku/ aku terjatuh di selokan besar/ ada tujuh luka membekas, berdarah/ aku mencoba tertawa, malah meringis// Sehari sebelum ulangtahunku/ negeriku masih juga begitu/ lebih dari tujuh luka membekas/ kemiskinan, kejahatan/ korupsi di mana-mana/ pengangguran, pengungsi/ jadi pemandangan yang meletihkan mata/ menyakitkan hati. Kita kagum mengetahui anak yang semestinya berbahagia dalam ulang tahun malah membuat renungan Indonesia. Ia terbukti peka dan berani menyatakan pendapat, yang termaktub dalam UUD 1945. 

Ia membahasakan Indonesia terluka, sama dengan tubuhnya yang terluka. Namun, luka Indonesia itu lebih menyakitkan. Bagaimana cara menyembuhkan luka Indonesia. Faiz percaya bahwa luka di tubuhnya akan bisa sembuh. Yang dipikirkannya adalah Indonesia akan terus terluka, sakit yang tidak pernah sembuh. Tragis!

Bait-bait yang bisa membuat kita merinding membayangkan anak mengisahkan Indonesia: Tapi ada yang seperti lucu/ di negeriku/ orang yang ketahuan berbuat jahat/ tidak selalu dihukum/ namun orang baik bisa dipenjara// Pada ulang tahunku yang kedelapan/ aku berdiri di sini dengan tujuh luka/ sambil membayangkan Indonesia Raya/ dan selokan besar itu// Tiba-tiba aku ingin menangis. Kita menduga ia menangis untuk Indonesia, tidak sekadar menangisi tubuh yang terluka. Ia sangat mencintai Indonesia. Diri yang bertambah umur bukan meraih bahagia sepenuhnya tapi dibikin mewek oleh kenyataan-kenyataan di Indonesia. Faiz yang menangis mungkin agak terhibur bila mendapat hadiah dari keluarga dan teman. Apakah ia menginginkan hadiah itu Indonesia yang makmur dan demokratis?

Faiz tidak memikirkan dirinya sendiri. Pada masa bertumbuh, ia belajar mengerti orang lain. Di keluarga, ia pasti sudah mengetahui peran dan dampak. Di Indonesia, ia mulai mengerti perbedaan peran yang “diperebutkan” demi pelbagai misi. Maka, ia menulis puisi yang berjudul; “Siapa Mau Jadi Presiden?” Puisi ditulis pada 2003. Siapa yang sedang berkuasa di Indonesia?

Puisi buatan Faiz bisa menjadi rekaman silam sekaligus kita baca berulang setiap hajatan demokrasi, yang biasanya dijanjikan setiap lima tahun. Faiz menulis: menjadi presiden itu/ berarti melayani/ dengan segenap hati/ rakyat yang meminta suka/ dan menyerahkan jutaan/ keranjang dukanya/ padamu. Ingatlah, yang menulis adalah anak. Ia ingin mengenali presiden. Yang dipikiran adalah tugas, bukan seribu cara untuk menjadi presiden. Faiz belum memasalahkan hajatan demokrasi yang boros duit, pamer kebohongan, bersaing curang, dan membodohkan rakyat. 

Yang sedang rajin mengungkapkan protes dan kritik kepada presiden dengan masa jabatan 2024-2029 boleh mengutip puisi gubahan Faiz. Puisi yang sangat cocok bila dibaca lagi. Kita boleh merekam saat membaca puisi, yang nantinya diunggah di media sosial. Kita mungkin hanya mengetik ulang, diedarkan ke pelbagai saluran agar mendapatkan pembaca. Apakah kita menanti Faiz yang sudah bertambah umur untuk membaca puisinya? Puisi ini memberi sentuhan berbeda dari arus kritik yang bermunculan di Indonesia. Puisi yang lugu dan lugas tapi mengadung keberanian.

Pada 2003, Faiz menulis puisi yang berjudul “Kepada Koruptor”. Puisi yang akan awet, bertahan lama di Indonesia. Pada saat korupsi masih terus terjadi, puisi tetap penting dibaca meski tidak menyelesaikan masalah. Puisi yang semestinya dibaca para koruptor: Gantilah makanan bapak/ dengan nasi putih, sayur dan daging/ jangan makan uang kami. Ia mengetahui pelaku korupsi sering bapak-bapak ketimbang ibu-ibu. Padahal, jumlah koruptor di Indonesia terus meningkat. Ibu-ibu yang masuk daftar koruptor pun bertambah. 

Apa yang diingatkan Faiz? Pemahaman korupsi melalui makanan. Faiz saat menulis puisi belum digegerkan MBG. Maka, ia memberi ajakan yang sopan agar koruptor makan nasi putih, sayur, dan daging. Perbuatan “makan uang rakyat” dianggap jahat. Perbuatan yang menghancurkan Indonesia. Peringatan yang lain: Telah bapak saksikan/ orang-orang miskin memenuhi/ seluruh negeri/ tidakkan menggetarkan bapak? Kita membayangkan puisi ini sering dibaca di KPK atau Kejaksaan Agung. Kita pun menanti Faiz yang sudah dewasa membuat puisi-puisi bertema korupsi mumpung Indonesia sulit bahagia.


____


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, May 29, 2026

Lapak Buku | Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas) Karya Sukron

 


Judul: Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas)

Penulis: Sukron
Penerbit: #Komentar

Terbit: Juni 2026

Tebal: vi + 87 halaman
Ukuran: 14,8 x 21 
Harga: 59.000


Novel Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas) karya Sukron mengisahkan perjalanan seorang perempuan muda bernama Yuki yang berjuang keluar dari tekanan hidup, rasa takut, dan belenggu rutinitas. Di tengah dunia kerja, pendidikan, dan tuntutan sosial yang melelahkan, Yuki perlahan belajar memahami dirinya sendiri, melepaskan penyesalan masa lalu, serta membangun keberanian untuk menentukan arah hidupnya. Melalui pertemuan dengan orang-orang yang mengubah cara pandangnya, Yuki menyadari bahwa “naik kelas” bukan sekadar jabatan, nilai, atau status, melainkan proses membebaskan diri dari ketakutan dan menemukan makna hidup yang lebih utuh. Dengan gaya bahasa puitis dan reflektif, novel ini menghadirkan kisah tentang keberanian, pertumbuhan diri, harapan, dan perjuangan menjadi manusia yang lebih bebas, kuat, serta berdamai dengan diri sendiri.


Kontak:

087771480255 (Penerbit)


Monday, May 25, 2026

Karya Siswa | Humaira Fakhiratur Rofifah | Ke Mana Ayah Pergi?

Cerpen Humaira Fakhiratur Rofifah



Aku melangkah ke sekolah seperti biasa, menyusuri jalan dengan lelah yang diam-diam kupendam. Langkah kakiku akhirnya sampai di gerbang sekolah. Pagi menyapa dengan riuh suara yang hangat. Aku duduk di bangku, menyusun harap di antara buku-buku, menyimak pelajaran yang perlahan tersimpan di memori. Menurutku, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang kecil tempat kenangan tumbuh diam-diam.

Waktu terus berputar tanpa suara, hingga tak terasa dentang pulang pun tiba menggema di udara. Langkahku menyusuri jalan bersama teman-teman, disisipi cerita ringan yang mengalir tanpa jeda. Sesampainya di rumah, sebuah kabar tak terduga datang dari ayahku, bahwa aku dan keluarga kecilku akan jalan-jalan ke Pantai Anyer.


Besok pun akhirnya tiba.


“Ayah, kita jadi ke pantai hari ini?” tanyaku sambil berlari kecil menghampiri ayah yang sedang menyiapkan tas.


Ayah tersenyum. “Tentu jadi. Hari ini ayah mau mengajak kalian liburan kecil.”


Ibu keluar dari dapur sambil membawa bekal. “Jangan lupa bawa tikar. Nanti kita akan makan bersama di sana.”


Di perjalanan, suasana mobil penuh tawa.


“Ayah, pantainya masih jauh?” tanyaku sembari melihat ke luar jendela.


“Sebentar lagi,” jawab ayah. “Sabar, tak akan lama kalian lihat laut yang biru dan indah.”


Sesampainya di Anyer, ombak terdengar bergulung pelan.


“Masyaallah, indah sekali …” kata ibu kagum.


Aku dan kedua adikku langsung berlari mendekati air.


“Ayah, lihat! Ombaknya besar!”


Ayah tertawa kecil. “Hati-hati, jangan terlalu jauh.”


Lalu ayah pun mengajak kami membangun istana pasir bersama, sementara ibu menata makanan di atas tikar.


“Ayo makan dulu,” panggil ibu.


Akhirnya kami menikmati makanan sambil bercerita dan tertawa riang. Aku memandang mereka dan merasa hangat di hati. Hari itu bukan hanya tentang liburan ke pantai, tetapi tentang kebersamaan keluarga yang terasa begitu indah.


Senja telah tiba, kami kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ayah langsung berpamitan untuk kembali ke tempat kerja.


“Tidak semuanya bertahan lama.”


Kata-kata itu ternyata benar adanya. Suasana rumah yang dulu hangat kini mulai berubah. Ayahku mulai bangkrut, ekonomi keluarga tumbang. Rumah ini tidak lagi menenangkan, melainkan ruang yang saling melukai.


“Ayah capek, Bu! Usaha ayah bangkrut!” bentak ayah.


“Lalu kenapa semua dilampiaskan ke kami?” suara ibu mulai bergetar.


Aku keluar perlahan dari kamar.


“Bu … Yah … jangan bertengkar lagi …” kataku pelan.


Ayah mengusap wajahnya kasar. “Kamu belum mengerti keadaan kita sekarang.”


Ibu menunduk. Matanya merah karena menangis.


“Dulu kita makan bersama sambil tertawa,” ucap ibu. “Sekarang tiap hari hanya ada amarah.”


Ayah terdiam beberapa saat. Namun akhirnya, ia mengambil jaketnya.


“Ayah mau keluar dulu.”


“Pergi lagi?” tanya ibu kecewa.


Ayah tidak menjawab. Pintu rumah ditutup keras hingga membuatku tersentak. Aku memandang ibu yang tertunduk lemas di kursi.


“Bu … apa semuanya akan kembali seperti dulu?”


Ibu tersenyum tipis sambil mengusap kepalaku.


“Ibu juga berharap begitu, Nak. Tapi kadang hidup berubah tanpa izin.”


Sebulan sudah ayah pergi meninggalkan kami entah ke mana. Kini, ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ibu pergi mengajar dan menitipkan kedua adikku kepadaku. Di sela-sela kesibukannya, ibu berusaha menelepon nomor ayahku, berharap notifikasi panggilan berubah menjadi dering dan dijawab. Tak hanya itu, ibu bertanya kepada teman kerja, teman nongkrong, bahkan keluarga pun ikut mencari keberadaan ayahku. Namun, belum juga ada hasil yang menenangkan hatiku, ibu, dan kedua adikku.


“Bu, Ibu tahu ayah sekarang di mana?” tanyaku lirih.


Ibu menghentikan aktivitas di depan laptopnya lalu menggeleng pelan. “Belum ada kabar, Nak.”


“Sudah lama sekali ayah menghilang …”


Ibu tersenyum kecil meski matanya sembab. “Iya … ibu juga terus menunggu.”


“Aku kangen ayah, Bu.”


Ibu memelukku erat. “Ibu juga. Tapi ibu selalu berdoa semoga nanti pintu rumah ini diketuk oleh orang yang kita tunggu selama ini.”


Aku menggenggam erat tangan ibu.


Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah. Pagi itu udara masih dingin, tetapi peluh sudah terasa di tengkukku. Namun, ketika di sekolah, aku mendapatkan tambahan beban berupa selembar kertas tunggakan sekolah.


“Nanda, ini surat tunggakan SPP. Berikan ke orang tuamu,” kata Bu Guru.


Aku menerima surat itu dengan tangan gemetar. Dadaku sesak.


Sepulang sekolah, aku hanya diam memandangi kertas itu di teras rumah.


“Kenapa melamun, Nak?” tanya ibu.


Aku ragu menyerahkan suratnya.


“Bu … sekolah menagih SPP lagi.”


Ibu membaca surat itu perlahan lalu menunduk.


“Maaf … ibu belum bisa bayar.”


Aku menggigit bibir menahan tangis. Sejak ayah pergi, ibu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhanku dan kedua adikku.


Ibu pun memelukku sambil menahan air mata.


“Ibu akan usahakan, Nak.”


Aku hanya mengangguk.


Malam pun tiba. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik terdengar jelas dari halaman belakang. Aku melamun. Aku teringat besok sekolah kembali menagih uang SPP. Aku merasa tidak tega terus melihat ibu memikul semuanya sendiri.


Tiba-tiba aku teringat pada Bibi Ona yang membuat emping di kampung sebelah. Emping buatan bibi terkenal enak, tetapi biasanya hanya dititipkan di warung kecil.


Lamunanku terhenti karena kehadiran ibu.


“Ibu belum tidur?” tanyaku pelan saat melihat ibu keluar membawa segelas teh hangat.


“Belum, Nak. Kenapa masih di luar?”


“Bu, kalau aku bantu jualan emping punya Bibi gimana?”


Ibu langsung menatapku.


“Kamu mau jualan emping sepulang sekolah?”


Aku mengangguk. “Aku ingin bantu ibu. Sejak ayah pergi, ibu kerja keras sendirian.”


Ibu menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.


“Kamu enggak perlu memikirkan semua ini, Nak. Kamu fokus belajar saja …”


Ibu menggenggam erat tanganku.


“Maaf … kamu jadi dewasa lebih cepat.”


Aku tersenyum kecil.


“Enggak apa-apa, Bu. Asalkan kita tetap sama-sama.”


“Ibu mengizinkan kamu berjualan, Nak. Tetapi, kamu harus ingat tugas utamamu belajar,” kata ibu dengan tegas.


Setelah mendapatkan izin dari ibu, keesokan harinya sepulang sekolah aku segera pergi ke rumah Bibi Ona dengan penuh harapan.


Aku duduk perlahan. Mataku melihat tumpukan emping yang sedang dijemur di tampah besar. Aku memulai maksud kedatanganku.


“Aku mau bantu jualan emping Bibi keliling kampung setelah pulang sekolah.”


Bibi Ona tampak terkejut.


“Lho, memangnya buat apa? Kamu fokus sekolah saja.”


Aku menarik napas panjang.


“Aku kasihan sama ibu, Bi. Sejak ayah pergi, ibu kerja sendirian. Kadang aku lihat ibu diam-diam nangis kalau malam.”


Suasana mendadak hening. Hingga akhirnya Bibi Ona mengizinkanku untuk berjualan emping miliknya.


“Baiklah. Kalau memang itu keinginanmu, Bibi izinkan. Tapi kamu harus tetap sekolah.”


Aku berpamitan kepada Bibi dan membawa emping yang sudah dikemas.


Di pundakku, sebuah tas kain besar berisi plastik-plastik bening bergoyang seirama langkah kakiku.


“Emping! Emping melinjo asli, Bu! Masih renyah!” teriakku dengan suara nyaring, memecah kesunyian gang.


Setiap hari rutinitasku menjajakan emping dari satu gang ke gang lain di kampung ternyata sudah berlangsung selama satu bulan. Akan tetapi, hari ini berbeda dari biasanya. Saat aku sedang berteduh di bawah pohon melinjo untuk menghitung lembaran ribuan yang lecek, ponselku berdering. Nama ibu muncul di layar. Suaranya terdengar tergesa dan gemetar.


“Assalamualaikum, Nak … cepat pulang,” suara ibu terdengar gemetar di telepon.


“Ada apa, Bu?”


“Ibu … baru dapat kabar tentang ayah.”


Aku terdiam sejenak.


“Ayah kenapa?”


Di seberang telepon, ibu menangis pelan.


Aku menggenggam tas erat-erat.


“Tunggu aku pulang, Bu. Jangan menangis sendirian.”


“Iya … hati-hati di jalan.”


Suara burung yang bersahutan dan deru lalu lalang orang lewat biasanya hanya dianggap angin lalu, tetapi siang itu semuanya terdengar seperti dentum peringatan. Ibu baru saja menelepon dengan suara yang hampir tidak dikenali, gemetar.


Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang membakar. Namun, keringat yang mengucur di pelipis bukan karena suhu yang menyengat, melainkan karena aku takut berita buruk menimpa ayahku.


Sampai di rumah …


“Aku pulang, Bu …” kataku pelan sambil menerobos pintu rumah.


Namun suasana rumah ramai. Beberapa keluarga dari pihak ayah duduk di ruang tamu sambil berbisik-bisik. Aku melangkah pelan melewati mereka. Tatapan mereka terasa asing dan membuat dadaku sesak. Di sudut ruangan, ibu hanya diam menunduk sambil menggenggam ujung bajunya erat-erat.


“Ada apa, Bu?”


Ibu hanya diam menunduk.


Bibi mendekat perlahan.


“Nak … kamu harus sabar, ya.”


“Memang ada apa?” tanyaku cemas.


Bibi menarik napas panjang.


“Ayahmu … menikah lagi.”


Aku langsung terdiam.


“Apa …?”


“Iya …” jawab bibi lirih.


Aku menatap ibu yang matanya sembab karena menangis.


“Jadi … semua ini benar, Bu?”


Ibu mengangguk pelan tanpa berkata-kata.


“Ayah keterlaluan!” bentakku dengan mata berkaca-kaca. “Tega sama ibu, aku, dan adik-adikku!”


Ibu langsung memelukku.


“Sudah, Nak … ini adalah jawaban dari doa-doa kita, meskipun pahit.”


Akhirnya aku mengerti. Ayah tidak sedang membangun keluarga baru. Ia hanya sedang mengganti kami dengan versi yang menurutnya lebih baik.


Aku mengeluarkan ponsel, menghapus kontak bernama “Ayah”. Setelah menarik napas panjang, perlahan aku menekan tombol hapus. 


_____

Penulis

Humaira Fakhiratur Rofifah, lahir di Pandeglang, 16 Maret 2012. Hobi menggambar & menulis. Siswa SMPIT Syifa Fikriya.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, May 23, 2026

Resensi Kabut | Minggu Bertanda Seru

Oleh Kabut



Di sebaran sastra dunia, yang dibaca anak dan remaja, muncul nama para tokoh. Nama-nama yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Semua itu nama asing. Soalnya, kita membaca cerita anak yang memukau berasal dari negara-negera di Eropa dan Amerika Serikat. Sastra anak mereka mendunia cepat melalui pelbagai cara. Yang terpenting melalui kolonialisme. Artinya, Eropa yang datang ke Asia atau Indonesia turut “mengenalkan” sastra yang bertumbuh di Eropa selama ratusan tahun. Datanglah cerita-cerita anak di Nusantara, yang semula berbahasa asing. Beberapa diterjemahkan dalam bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan lain-lain.


Nama-nama para tokoh terus teringat. Buku-buku cerita anak dari Eropa dan Amerika Serikat yang terpenting terbit dan laku, sampai sekarang. Bagaimana sastra anak yang bertumbuh di Indonesia? Kita saja tidak mampu membuat daftar 100 pengarang, yang meramaikan sastra anak di Indonesia. Usaha menyebut judul buku-buku pun sangat sulit. Lantas, nama para tokoh yang dibuat pengarang dalam bukunya gampang dilupakan. Nama-nama yang sulit tenar dan menjadi referensi bagi anak-anak. Pengecualian tentu terjadi. 


Di majalah Bobo, 5 Agustus 1989, tersaji iklan yang mengembalikan ingatan kita kepada tokoh yang hidup dalam cerita. Tokoh yang sempat berkuasa pada masanya. Siapa? Yang hidup pada masa 1980-an dan 1990-an mengingat tokoh cerita itu bernama Lupus.


Yang ditulis dalam iklan: “Oom dan tante butuh teman buat si kecil? Dan, oom dan tante sebegitu sibuk sampai tak ada waktu mencarikan teman buat si kecil? Atau, tak sempat lagi mendongeng kala si kecil menjelang tidur?” Iklan yang berlagak pintar. Buktinya, pengajuan tiga pertanyaan, yang sudah disiapkan jawabannya. Jawaban yang benar, tidak mungkin salah. Iklan yang berisi pertanyaan dan jawaban. Kita membaca kalimat jangan dianggap memerintah, boleh disebut jawaban: “Hadirkan ‘Lupus Kecil’ saat ini juga.” Iklan buku yang tidak lucu. Iklan untuk kaum dewasa, yang diminta beli buku untuk anak kecil. Pada babak sebelumnya, Lupus ditampilkan sebagai remaja. Lantas, dihidupkanlah Lupus yang masih kecil.


Apa keunggulan dari cerita yang dibuat oleh Hilman dan Boim? Iklan di majalah Bobo diupayakan mujarab. Penerbit ingin seri Lupus saat masih kecil laris seperti seri Lupus sebelumnya. Jadi, keterangan yang mengandung kebenaran dan kesejatian diberikan: “Lupus Kecil adalah cerita Lupus yang masih kelas satu SD. Berisikan pengalaman dan kejadian yang pasti dialami pula oleh putra-putri anda. Tentu si kecil senang berteman dengan lupus. Mereka tak berjarak. Mereka punya hobi yang sama, seperti nonton TV, main sepeda, makan siomai, atau sembunyi di kolong tempat tidur.” Ingatlah, yang diceritakan adalah bocah-bocah masa 1980-an atau berlatar Orde Baru. Jangan membayangkan bocah-bocah dalam cerita itu masih bisa ditemukan dalam abad XXI.


Kita buktikan dengan membuka buku berjudul Lupus Kecil: Pingsan Together. Hilman dan Boim Lebon belum kapok menghibur pembaca. Buku diterbitkan Gramedia, 2003. Namun, Lupus bukan lagi murid kelas satu SD. Ia menjadi tokoh yang bertumbuh. Yang harus diperhatikan: Lupus adalah murid kelas empat SD dan Lulu berada di kelas tiga.


Kita menikmati satu cerita yang mengakibatkan tawa selama belasan menit. Apa yang dipilih dalam buku berukuran kecil dan tipis, yang dihiasi ilustrasi apik? Kita memilih yang berjudul “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!” Judul yang sangat tidak menarik tapi dijamin lucunya.


Mami, Lupus, dan Lulu di rumah. Mereka mau mendefinisikan Minggu yang berbeda dari biasanya. Kebetulan, Papi tidak ada di rumah. Maka, rumah itu nasibnya ditentukan tiga orang. Minggu bukan untuk bermalas-malasan atau mencari hiburan sepuasnya. Apa yang terjadi? Kita membaca sambil capek tertawa.


Lupus dan Lulu protes, tidak ingin hari Minggu hancur maknanya sebagai hari libur. Namun, setiap protes mendapat jawaban paling benar dari Mami, yang sulit banget digugat meski mendatangkan seribu jin. Kita mengutip omongan Mami yang dahsyat: “Ingat, sekali Mami canangkan wajib belajar sembilan tahun, eh sori, jadi ngaco deh. Sekali Mami canangkan kerja hari ini, ya kalian harus kerja. Titik!” Aneh, Mami bilang titik tapi yang terlihat adalah tanda seru. 


Mami yang tidak mungkin kejam tapi tidak berniat menjadi komedian. Yang dikatakan: “Kalo menolak, kalian akan dihukum cambuk! Bukan, kalian dihukum untuk bikin cambuk sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar!” Mami yang mahir berlogika dan berbahasa. Tujuannya ketertiban dan kepatuhan dalam rumah.


Mereka berhasil kerja bakti, membersihkan beberapa ruangan. Tugas paling penting adalah menyingkirkan dan membuang barang-barang yang menyesaki beberapa ruang. Barang-barang itu dianggap tidak berguna, tidak boleh menjadikan rumah terasa sempit. Membuang hukumnya wajib sesuai ketentuan yang dibuat Mami. Kita membayangkan tiga orang itu benar-benar merusak makna libur pada hari Minggu. Mereka malah menggerakkan tubuh, berdebat, dan pesta keringat. Apakah itu masih bisa terjadi pada masa sekarang?


Yang dikatakan Mami cocok dengan yang terjadi di banyak rumah. Mami menjelaskan secara tegas: “Tapi, kalian pernah nggak merasa, kadang kita susah mencari sesuatu, misalnya mencari martil, gunting kuku, silet, atau benda-benda kecil lainnya? Kenapa? Karena di tempat-tempat yang semestinya berisi barang-barang itu, kini sudah terisi benda-benda lain. Di dapur saja, yang mestinya cuma ada perabot dapur, sekarang juga diisi barang-barang bekas. Rantai sepeda, kursi patah, kaleng bekas oli. Nah, tujuan kita ini adalah mengenyahkan semua benda-benda yang tidak pada tempatnya, dan semua benda yang kita anggap tidak penting lagi bagi kita!” Pidato itu ditambahi janji bahwa Lupus dan Lulu bila berhasil dalam pengenyahan itu bakal mendapat ganjaran yang menarik.


Jam-jam berlalu. Beberapa ruang berhasil dibersihkan dari barang-barang. Yang tampak, ruang-ruang menjadi longgar, tidak sesak dan berantakan lagi. Namun, kerja belum selesai. Sore, Papi pulang bawa cerita. Mereka bakal mendapat rezeki asal Papi bisa mengambil sertifikat tanah. Pokoknya, Papi sedang berbisnis yang menguntungkan. Syaratnya harus ada sertifikat. Di rumah, ia berusaha mengambilnya. Suasana yang berubah di rumah membuatnya kagum sekaligus khawatir. Rumah dalam kondisi rapi, bersih, dan indah. Minggu yang unik.


Di kamar, Mami mengatakan bahwa tidak mungkin ada sertifikat. Papi menjawab enteng: “Memang karena Papi nggak menyimpannya di sana. Di kamar kita sudah penuh barang. Sempit. Baju di mana-mana. Bedak-bedak Mami bertebaran. Jadinya, surat-surat itu Papi simpan di rak dapur. Di sana kan kosong.” Omongan itu menimbulkan gegeran. Minggu menjadi panik.


Papi gagal menemukan. Yang terjadi: “Hei, ke mana surat-surat itu? Dan, ke mana barang-barang koleksi Papi lainnya? Setang sepeda tua, mesin tik tua, oh, itu semua barang-barang yang nanti bakalan mahal…. Bundel-bundel majalah pada ke mana? Rak sepatu peninggalan zaman revolusi. Itu kan kenang-kenangan dari seorang pahlawan yang tak dikenal?”


Panik. Mami segera memerintah Lupus dan Lulu bekerja lagi. Mereka dipaksa mengambil lagi barang-barang yang dibuang di bak sampah. Barang-barang itu punya Papi, koleksi untuk kelak dijual. Lupus dan Lulu yang lelah berani protes. Mami tidak bisa disalahkan dan dikalahkan. Iming-iming yang diberikan agar patuh: “Nanti hadiahnya dobel.” Keluarga yang bikin pembaca tertawa. Kalimat yang terindah sebagai penutup cerita: “Akhirnya, rumah Lupus kembali seperti sedia kala.” 


Cerita yang mengesankan. Kita memang tidak memberi perhatian besar kepada Lupus dan Lulu gara-gara ocehan yang seru itu milik Mami dan Papi. Tetap saja cerita bisa dinikmati anak-anak yang membutuhkan tawa agar hari-harinya tidak menyiksa dan menjemukan.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, May 22, 2026

Berita | Pelatihan Menulis Cerpen SRMA 34 Lebak Bangun Semangat Literasi Siswa


NGEWIYAK.com, LEBAK -- Sekolah Rakyat Menengah Atas 34 Lebak menggelar kegiatan pelatihan menulis cerpen pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 13.30 WIB di Auditorium BPMP Banten. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 peserta didik kelas X serta dihadiri oleh 9 guru pendamping.


Pelatihan tersebut menghadirkan Encep Abdullah (pegiat literasi Banten) sebagai narasumber. Ketua pelaksana kegiatan, Ahmad Falih, menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Sekolah Rakyat.


“Dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Sekolah Rakyat, kami menyelenggarakan kegiatan pelatihan menulis cerpen sebagai wadah pengembangan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan menulis cerpen,” ujarnya.


Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan motivasi, wawasan, serta pengalaman berharga bagi para siswa melalui karya-karya narasumber yang telah dimuat di berbagai media nasional. Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah positif dalam membangun semangat literasi sekaligus melahirkan karya-karya tulis inspiratif dari siswa-siswi SRMA 34 Lebak.


Dalam penyampaian materinya, Encep Abdullah mengawali kegiatan dengan membacakan dua cerpen sebagai contoh. Satu cerpen dibacakan oleh seorang siswa, sedangkan satu cerpen lainnya dibacakan langsung oleh narasumber. Peserta tampak antusias menyimak cerita yang disajikan.


Salah satu cerpen yang dibahas adalah Dia Bertanya tentang Tuhan karya Febi Indirani. Menurut Encep, cerpen tersebut memiliki penyajian yang unik dan menarik karena disampaikan sepenuhnya dalam bentuk dialog antara seorang ibu dan anak. Keluguan cerita yang disampaikan membuat peserta beberapa kali tertawa saat menyimaknya.



Selain itu, Encep juga menekankan pentingnya keunikan dalam menulis cerpen. Ia menjelaskan bahwa cerpen harus berbeda dengan jurnal harian. Salah satu caranya ialah menghadirkan pembuka cerita yang menarik serta menggunakan sudut pandang yang tepat agar cerita terasa lebih hidup.


Pada sesi diskusi, beberapa peserta aktif mengajukan pertanyaan. Nur Aulia Putri bertanya tentang cara membuat kalimat yang tepat dan menarik, Kayla Herbiyani menanyakan mengenai pengembangan tokoh dalam cerita, sedangkan Wahyu bertanya tentang penggunaan bahasa dalam penulisan cerpen.


Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai pelatihan saja. Sebagai tindak lanjut, pihak penyelenggara akan menyeleksi siswa-siswi yang memiliki minat dan bakat dalam menulis untuk kemudian mengikuti pertemuan rutin setiap minggu guna mengasah kemampuan serta mengembangkan potensi mereka lebih dalam lagi.


Sementara itu, Novita Sulistyorini selaku guru Bahasa Indonesia sekaligus moderator acara, memberikan kesan positif terhadap pelaksanaan kegiatan yang berlangsung dengan tertib, interaktif, dan mampu membangkitkan semangat siswa dalam dunia literasi dan kepenulisan.



(Redaksi)


Thursday, May 21, 2026

Esai Afrian Rahadyaning Pangestu | Marriage is Scary atau Kita yang Terlalu Naif dalam Memandang Pernikahan?

Esai Afrian Rahadyaning Pangestu


“Marriage is scary.” 


Kalimat ini terdengar seperti keluhan generasi yang setengah sadar, setengah menyangkal. Pernikahan diposisikan seperti jebakan: indah di undangan, melelahkan di kenyataan. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur—benarkah yang menakutkan itu pernikahannya, atau kita sendiri yang masuk tanpa bekal, tanpa arah, dan tanpa akal sehat?


Mari kita buka dengan sedikit kejujuran yang mungkin tidak nyaman: banyak orang menikah bukan karena siap, tapi karena tidak enak. Tidak enak sama orang tua yang terus bertanya, “kapan nyusul?”. Tidak enak sama pasangan karena sudah pacaran terlalu lama.  Tidak enak sama lingkungan karena dianggap “tidak laku.” Akhirnya, pernikahan dijadikan solusi sosial, bukan keputusan eksistensial.


Ada juga yang lebih kreatif, yaitu menikah karena ingin “move on” dengan cara paling mahal berupa resepsi. Ada yang menikah untuk membuktikan bahwa dirinya “baik-baik saja” setelah putus. Bahkan, ada yang menjadikan pernikahan sebagai panggung balas dendam yang sah secara hukum. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan kata-kata suci seperti “komitmen” dan “ibadah,” padahal di dalamnya penuh motif yang tidak pernah dibereskan.


Sebagian besar dari kita ini aneh. Untuk membeli ponsel saja kita harus riset berhari-hari, kita bandingkan spesifikasi, baca ulasan sana-sini. Tapi, untuk memilih pasangan hidup—yang akan kita hadapi setiap hari—kita cukup bermodal “nyaman” dan “nyambung.” Seolah dua kata itu cukup untuk menopang puluhan tahun konflik, perubahan, dan realitas hidup.


Lebih absurd lagi, banyak yang merasa siap menikah hanya karena sudah punya pekerjaan tetap. Seakan-akan slip gaji adalah bukti kedewasaan. Padahal, yang sering terjadi justru sebaliknya, di mana finansial mungkin stabil, tapi emosional masih seperti anak kos yang panik saat air galon habis. Pernikahan akhirnya dipenuhi orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, tapi sudah sibuk menuntut orang lain untuk melengkapinya.


Tidak berhenti di situ. Setelah menikah, kita masih membawa “penyakit lama” yaitu penyakit ketergantungan. Banyak pasangan yang secara legal sudah mandiri, tapi secara psikologis masih bergantung pada orangtua. Setiap konflik kecil, maka langsung berubah menjadi sidang paripurna keluarga. Setiap keputusan harus melewati “persetujuan rida orangtua.” Pernikahan yang seharusnya menjadi ruang untuk dua orang, justru berubah menjadi forum kolektif yang destruktif. Dan di atas semua itu, ada satu tekanan modern yang diam-diam mematikan pernikahan, yaitu standar media sosial. 


Pasangan harus romantis seperti konten viral. Rumah tangga harus terlihat harmonis di feed. Hidup harus estetik, konflik harus disensor. Kita tidak lagi membangun pernikahan untuk dijalani, tapi untuk ditampilkan. Kita sibuk terlihat bahagia, sampai lupa bagaimana cara benar-benar bahagia.


Tidak heran jika kata “cerai” menjadi begitu ringan untuk diucapkan ketika berumah tangga. Ketika terdapat sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, malah langsung ingin keluar kata cerai. Padahal yang keliru bukan selalu pernikahannya, melainkan ekspektasi kita yang dibentuk oleh ilusi dan delusi media sosial. Jadi, kalau hari ini banyak yang bilang “marriage is scary,” mungkin itu bukan peringatan tentang pernikahan. Itu sebenarnya cermin bahwa kita belum cukup serius memahami apa yang sedang kita masuki.


Lantas apa yang bisa dilakukan, tanpa harus kita mengeluh dan menyalahkan keadaan?


Pertama, kita harus berhenti menjadikan pernikahan sebagai pelarian. Menikah tidak akan menyelesaikan luka lama, tidak akan otomatis mendewasakan, dan tidak akan mengisi kekosongan yang kita sendiri tidak pahami. Umpama pernikahan adalah mata air, kalau kita masuk dengan membawa ember bolong, yang terjadi bukan penuh, tapi bocor.


Kedua, perbaiki cara memilih. Jangan hanya jatuh cinta pada versi terbaik seseorang. Semua orang pasti tampak menarik saat belum diuji oleh masalah atau sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Yang perlu dilihat justru bagaimana dia marah, bagaimana dia kecewa, bagaimana dia mengambil keputusan saat tidak ada yang ideal, bagaimana dia menghadapi pasangan yang rewel dan bawel. Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang menyenangkan saat baik-baik saja, tapi yang tetap waras saat keadaan tidak baik-baik saja.


Ketiga, siapkan diri, bukan sibuk mempersiapkan acara yang mewah. Kebanyakan dari kita lebih serius mempersiapkan dekorasi dan acara resepsi dibanding mempersiapkan mental, fisik, dan ilmu. Lebih pusing memilih katering daripada belajar komunikasi. Padahal yang akan dijalani bukan pesta satu hari, tapi hidup bertahun-tahun.


Keempat, belajar mandiri setelah menikah. Hormat kepada orangtua itu penting, tapi membangun batas itu dewasa. Tidak semua hal perlu dibawa keluar dari rumah tangga. Ada hal-hal yang harus selesai di dalam, oleh dua orang yang memilih untuk bersama.


Kelima, turunkan ekspektasi, naikkan kapasitas. Jangan berharap pasangan selalu sesuai standar kita—apalagi standar yang kita ambil dari medsos. Lebih baik memperbesar kemampuan kita untuk memahami, beradaptasi, dan bertahan.


Pada akhirnya, mungkin pernikahan terkesan “menakutkan”, tapi hanya berlaku bagi mereka yang masuk tanpa persiapan dan tanpa kejujuran. Bagi yang datang dengan kesadaran, maka pernikahan bukan arena horor, melainkan ruang belajar paling intens tentang diri sendiri dan orang lain. Masalahnya, kita sering ingin hasilnya, tapi malas menjalani prosesnya. Dan kalau itu masih jadi kebiasaan, mungkin yang perlu kita takuti bukan pernikahan, melainkan kebiasaan kita sendiri yang gemar mengambil keputusan besar dengan cara yang sangat kecil.


______

Penulis


Afrian Rahadyaning Pangestu adalah guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA. 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Esai Uwais Korni | AI Sok Tahu!

Esai Uwais Korni


Tidak instan penulis-penulis dahulu di dalam mempelajari kepenulisan. Sebagian buku jika dibaca sekarang malah kesannya banyak typo. Tapi tetap menjadi mahakarya yang layak dibaca soalnya di zaman itu memang sedikit yang mendedikasikan diri sebagai penulis. Berbeda dengan sekarang yang banyak muda-mudi tergiur menjadi penulis entah sebab kesurupan setan apa. Bagaimanapun ikhbar tentang mitos penulis itu kayak-kayak layak sekali masyhur dan sukses secara finansial begitu mewabah bak virus Korona.


Terkait buku-buku yang banyak kesalahan dan tidak luput dari kekurangan, jika itu yang dimaksudkan adalah buku-buku lawas maka sekumpulan buku klasik tersebut masih dinikmati sebagai peninggalan yang bisa diambil hikmahnya. Itu tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga buku-buku bagus di zaman itu. Saya tidak menggeneralisasikan bahwa yang lawas pasti banyak keluputannya.


Yang klise bagi saya, misalnya, cerita Layla Majnun. Entah itu termasuknya legenda atau sebatas karangan fiksi, namun secara penceritaan itu sangat gampang diambil kesimpulan. Ini menurut sudut pandang saya yang tidak begitu tertarik dengan buku yang bertele-tele oleh majas. Soalnya point penting dari Layla Majnun hanyalah cowok yang depresi sebab patah hati. Tidak lebih daripada itu.


Cuman beberapa bab saya baca. Kemudian kebosanan menjalar ke waktu pembacaan saya atas buku tadi. Soalnya itu buku masuknya tema bucin yang sebelas dua belas dengan Dilan. Bagi saya seharusnya itu bukan termasuk buku mahakarya. Saya pertegas lagi, soalnya buku tersebut majasnya juga alay dan kesannya diperpanjang bukan dengan pembahasan inti melainkan dengan kalimat-kalimat syair.


Saya memaklumi buku-buku Arab klasik memang sering dijumpai berwujud syair. Ada soalan yang menjadi pembeda antara syair Arab dengan syair kita. Kalau syair Arab sangat ketat di dalam pengetahuannya. Ada bab dan sub-bab bagaimana caranya menulis syair yang baik dan benar. Permasalahannya adalah membuat syair tidak semudah membuat puisi. Syair kental dengan diksi singkat yang sesuai dengan format irama sekaligus bagaimana sekiranya pembacaan huruf akhirnya sama. Sedangkan puisi sebatas perdebatan tanpa akhir terkait bagaimana sekiranya esensi puisi menyesuaikan dengan keberlangsungan zaman. Kesimpulannya, puisi itu dinamis sedangkan syair itu “dogmatis”.


Alhasil, jika tingkat kesukaran menulis syair begitu tinggi maka intensitas di dalam pembuatannya juga tidak kaleng-kaleng. Tidak seperti saat saya menulis esai ini yang saya tulis sambil rebahan. Format dalam bersyair itulah yang menjadi overthinking para penulisnya. Bukan sekadar formatnya, melainkan ditambah pusing lagi dengan pemilihan diksinya bagaimana sekiranya sesuai dengan format yang ada.


Berbeda dengan syair Arab zaman sekarang yang istilahnya lebih modern dan dapat beradaptasi dengan puisi-puisi pada umumnya. Syair Arab tempo dulu tidak mentolerir adanya kehilangan format kepenulisan itu. Maka, datangnya Al-Qur’an yang kelihatannya kok bernada tapi dilihat-lihat kok tidak ada kesamaan dengan syair Arab masa itu menjadi busur tajam yang tembus ke jantung pujangga Arab, bahwa ternyata memang benar adanya Al-Qur’an itu bukan buatan Muhammad SAW.


Konteks syair sudah dijelaskan secara terperinci yang kesimpulannya, penyair itu amat diagung-agungkan di antara alasannya adalah cara membuat syair sendiri itu sangat susah. Bahkan di zaman sekarang pun AI tidak dapat membuat syair klasik. Saya jamin itu.


Ada ilmu bersyair di pesantren namanya Ilm Bahr atau Ilm Arud. Gampangnya, ilmu ini tentang bagaimana caranya bersyair yang baik dan benar. Itu sama seperti ilmu-ilmu permusikan. Perbedannya, Ilm Arud hanya soal irama dan bagaimana sekiranya kata menyesuaikam irama yang dibuat tadi. Di dalam puisi ada kesamaan dalam bentuknya. Contoh pada rumusan A-A-B-B. Namun untuk syair lebih kompleks untuk sekadar menyamakan huruf terakhir perlariknya.


Kenapa saya yakin bahwa AI tidak akan sanggup membuat syair Arab klasik? Sungguh keyakinan saya terkait ini seratus persen, bahkan lebih. Soalnya, AI itu sekumpulan data dan untuk membuat tulisan yang sesuai dengan data hanya dimampukan AI saat menulis teks berbahasa Indonesia dan bahasa lain yang gampang sintaksisnya. Bahasa Arab itu susah. Ilmu bahasa Arab sendiri ada 10 macam, dan setiap macam tadi kompleksitasnya sudah mampu membuat rambut kita beruban.


Bahasa Indonesia typo sedikit saja kita bisa memahaminya. Jangankan kita, AI pun bisa membaca dan mengoreksi typo teks bahasa kita ini. Saking gampangnya bahasa Indonesia, AI mudah sekali merevisi tulisan-tulisan kita yang salah dalam segi tatanan kebahasaannya itu. Bahkan dapat juga mengubahnya menjadi bermajas. AI adalah pujangganya bahasa Indonesia yang profesionalitasnya di atas rata-rata. Namun AI tetaplah AI. Karya AI, sebagus apa pun itu tetap bukan mahakarya yang layak dihargai.


Misalnya minta tolong ke AI. Buatkan tujuh paragraf yang tiap satu paragraf berisi minimal 5 kalimat dan maksimal 10 kalimat dengan tiap semua itu ada majasnya atau permisalannya yang majasnya tadi bagus dan tidak lebay, dengan tema: Pujian kepada Kang Encep sebab telah menjadi pendidik yang mengajarkan kami di dalam latihan menulis, dan tidak lupa tentang komunitas kepenulisannya itu yang telah melahirkan tidak sedikit penulis-penulis baru.


Ini hasilnya AI ya, berikut (sampai oke, itu tanda selesainya “mahakarya AI” hasil dari prompt di atas:


Di tengah riuhnya kesibukan dunia, Kang Encep hadir bak oase di padang pasir yang tandus bagi kami yang dahaga akan ilmu. Beliau tidak sekadar memberikan teori, tetapi juga menyalakan pelita di dalam pikiran kami yang sebelumnya masih tertutup kabut ketidaktahuan. Setiap kalimat yang meluncur dari lisannya ibarat benih unggul yang disemaikan ke lahan jiwa yang subur. Kami merasa beruntung karena beliau menuntun langkah kami dengan kesabaran setegar karang yang tak goyah diterjang ombak. Kehadirannya adalah mercusuar yang memandu kapal-kapal kecil kami menemukan arah di tengah samudra literasi yang luas.


Komunitas kepenulisan yang beliau bangun tumbuh subur seperti pohon yang akarnya menghunjam dalam ke tanah idealisme. Di tempat ini, ide-ide liar kami yang semula hanya bergentayangan seperti debu akhirnya menemukan bentuk dan wadahnya. Kang Encep merangkul setiap anggota layaknya seorang nakhoda yang memastikan seluruh awaknya sampai ke dermaga impian dengan selamat. Ruang diskusi ini menjelma menjadi kawah candradimuka tempat kami ditempa agar tulisan kami mampu melampaui batas cakrawala. Tanpa dedikasi beliau, mungkin komunitas ini hanyalah sekumpulan kertas kosong yang tak bermakna.


Banyak penulis baru yang lahir dari rahim komunitas ini berkat tangan dingin sang guru yang luar biasa. Ibarat seorang pemahat ulung, Kang Encep mampu melihat potensi mahakarya yang tersembunyi di balik bongkahan batu kasar milik para pemula. Beliau mengasah kreativitas kami dengan sentuhan yang halus namun tajam, sehingga setiap kata yang kami tulis kini memiliki ruh. Keberhasilan kawan-kawan yang telah menerbitkan buku adalah cermin dari bagaimana beliau membimbing kami dengan penuh ketulusan. Kini, jejak-jejak pena kami mulai membekas di atas kertas sejarah yang akan dibaca oleh banyak orang di masa depan.


Dalam setiap sesi latihan menulis, Kang Encep selalu menekankan bahwa kata-kata adalah senjata yang lebih ampuh daripada pedang manapun. Beliau mengajarkan kami untuk menyusun diksi sehalus sutra namun memiliki kekuatan yang mampu menggetarkan nurani pembaca. Analogi yang beliau berikan selalu tepat sasaran, bagaikan anak panah yang melesat menuju pusat target tanpa pernah meleset. Kami belajar bahwa menulis adalah proses memanusiakan diri sendiri melalui untaian aksara yang jujur dan bermartabat. Berkat bimbingan beliau, kami tidak lagi takut menghadapi lembaran putih yang menantang kreativitas kami.


Atmosfer kekeluargaan yang beliau ciptakan membuat komunitas ini terasa seperti rumah kedua yang hangat bagi para pembelajar. Persaingan sehat di antara kami tumbuh mekar bak bunga-bunga yang saling bersaing menampilkan keindahan warna tanpa harus saling menjatuhkan. Kang Encep berperan sebagai perekat yang menyatukan perbedaan pendapat menjadi harmoni yang begitu indah untuk didengar dan dirasakan. Setiap kritikan yang beliau berikan terasa seperti embun pagi yang menyejukkan sekaligus membersihkan noda pada draf tulisan kami. Kami merasa aman dalam naungan komunitas ini karena tahu ada sosok pemimpin yang selalu menjaga iklim kreativitas tetap stabil.


Pencapaian komunitas ini dalam mencetak penulis baru bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata dari sebuah dedikasi yang tak pernah padam. Ibarat fajar yang perlahan menyingsing, keberhasilan rekan-rekan kami memberikan harapan bagi siapa pun yang baru saja menapaki dunia kepenulisan. Kang Encep tidak pernah menuntut kami untuk menjadi salinannya, justru beliau membiarkan gaya bahasa kami tumbuh bebas seperti liuk pohon bambu yang diterpa angin. Beliau adalah kompas yang menjaga orientasi kami agar tidak tersesat dalam kerumitan tata bahasa yang membosankan. Kini kami sadar bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak untuk diabadikan dalam bentuk tulisan yang berkelas.


Terima kasih kami ucapkan kepada Kang Encep yang telah menjadi suluh di tengah kegelapan keraguan kami selama ini. Ilmu yang beliau bagi bagaikan aliran sungai yang tak henti-hentinya memberi kehidupan bagi ekosistem literasi yang kami bangun bersama. Semoga komunitas ini terus berkembang menjadi raksasa yang menaungi ribuan penulis baru dengan dedikasi yang tidak pernah luntur oleh waktu. Kami akan terus merawat ingatan tentang setiap pelajaran berharga yang telah beliau tanamkan di relung hati terdalam kami. Akhir kata, beliau bukan sekadar pendidik, melainkan arsitek yang telah membangun pondasi impian kami dengan sangat kokoh.


Ok.


Coba kita bikin puisinya dengan prompt ini. Ubahlah hasil kamu tadi menjadi puisi singkat. Lima bait saja. Tiap satu larik isinya 4 kata saja. Berikut hasilnya:


KANG ENCEP SANG PELITA


Kang Encep sang pelita,

Tuntun kami penuh setia.

Komunitas lahirkan jiwa baru,

Tulisan mengalir bagai air.

Karya abadi selamanya tumbuh.


Ok.


Sedangkan saya yakin jika AI tidak akan pernah mampu menuliskan satu syair utuh saja. Apa alasannya? Syair itu berbeda dengan puisi. Dari yang awalnya kalimat utuh menjadi puisi, itu masih dengan shorof atau morfologi yang sama. Sedangkan kalimat berbahasa Arab jika diubah menjadi syair itu sama artinya menyengaja untuk typo. Kenapa saya katakan menyengaja typo? Satu yang mendasari hal tersebut adalah syair itu memang merusak kalimat yang sudah jelas menjadi sepotong-sepotong kata yang secara morfologinya tidak sesuai dengan sintaksis pada umumnya. Syair adalah bentuk pemberontakan dari kalimat yang klise. Jadi, kenapa pujangga Arab suka bersyair dan malakah atau kemampuan bersyair sangat dipuji-puji jika berada di jiwa seseorang? Alasannya ya itu, susah buatnya.


Coba ya saya tanyakan ke AI. Apakah kamu bisa menulis syair klasik Bahasa Arab yang sesuai dengan ilmu arud? Kalau bisa, coba buatkan satu larik saja tema sesuai dengan kemampuanmu dan apa maumu. Arudnya yaitu mustafilun failun mustafilun failun. Jadi, arud itu pencocokan teks. Kayak di puisi ada kesamaan A-A-B-B. Gitu. Berikut hasilnya:


Tentu, saya bisa menyusunnya. Dalam tradisi sastra Arab, pola *Mustaf'ilun Fā'ilun Mustaf'ilun Fā'ilun* merupakan salah satu bentuk dari *Bahr al-Basit*.


Berikut adalah satu bait syair yang saya susun dengan pola tersebut (meteran *Bahr al-Basit*):


**Mustaf'ilun Fā'ilun Mustaf'ilun Fā'ilun**

*Ahlul 'ulūmi ka-nūrin fī dayājīhā*

(Artinya: Para pemilik ilmu itu bagaikan cahaya di tengah kegelapan malamnya).


**Analisis Arud (Wazan):**

 * **Ahlul 'ulū** (Mustaf'ilun)

 * **min ka-nū** (Fā'ilun)

 * **rin fī dayā** (Mustaf'ilun)

 * **jīhā** (Fā'ilun)


Apakah Anda ingin saya membuatkan bait selanjutnya untuk melengkapi syair tersebut?


Ok. Tetap sama. AI bodoh dalam bersyair. Itu pun masih ngotot dan sok tahu bahwa “Tentu, saya bisa menyusunnya”. Tampak kedunguannya tampak mentereng dengan pendetailannya atas penjelasan yang dibuat-buatnya itu. Ini definisi dari sudahlah bodoh gak sadar sama kebodohannya sendiri. Haha.


Nah, dari esai yang saya buat ini ada pembelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menulis esai ini sekali duduk. Sekali pembuatan. Mulai dari sebelum subuh dan selesainya habis subuhan. Bahwa, typo dalam menulis itu sangatlah normal, apalagi jika tidak dibantu sama AI. Dan bentuk ketidaktahuan penulis merupakan hal yang patut disyukuri, soalnya penulis yang tidak tahu akan berusaha mencari tahu. Bukan malah sok tahu seperti AI itu.


______


Penulis 


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya. Masih belum punya buku tunggal secara resmi. Alumni Klinik Menulis ke #6.