View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, May 3, 2026

Cerpen Rosul Jaya Raya | Apokaliptik Seorang Pengarang

Cerpen Rosul Jaya Raya



Lelaki itu sadar bahwa dia tokoh di dunia apokaliptik ciptaanku. Aku, pengarang yang menciptakan lelaki itu, juga adalah tokoh dalam cerita pengarang lain. Pengarang lain yang menciptakanku, juga adalah tokoh dalam cerita pengarang lainnya. Sampai seterusnya dan seterusnya. Sampai pada pengarang tunggal yang (disebut Tuhan dan) jadi sumber segala penciptaan. 

Mustahil kalau pola penciptaan itu bagai rantai makanan makhluk hidup: maksudnya, lelaki yang terjebak sebagai tokoh cerita di dunia apokaliptik ciptaanku itu adalah pencipta dari pengarang tunggal yang pertama kali menciptakan sesuatu. Seandainya begitu, maka pengarang tunggal ini bukan entitas awal yang menciptakan sesuatu. Adakah perkara yang tak ada permulaan? 

Mustahil kalau pola penciptaan itu tanpa garis finis sebuah ujung: maksudnya, tak ada pengarang tunggal yang pertama kali menciptakan sesuatu karena saban pengarang terus sambung-menyambung diciptakan oleh pengarang lainnya. Bukankah tiap yang punya permulaan sudah tentu punya akhir? Adakah perkara yang tasalsul begini?

*** 

“Anjing! Keluarkan aku dari dunia ini.” Tentu tertebak bahwa lelaki itu mengumpatiku, pengarangnya sendiri. Meski pada dasarnya, Frankenstein ciptaanku itu punya kehendak bebas, sebenarnya tingkah-lakunya di bawah kendaliku. Tabir pengetahuannya yang terbuka bahwa dia adalah tokoh cerita yang aku ciptakan adalah takdir yang aku berikan padanya. 

Aku juga tahu kedumelan yang terus berdenyaran di hatinya. Dia berharap hidup di masa ketika dunia tak kacau-balau. Padahal tak ada masa di mana dunia akan terus damai. Manusia akan terus membentuk kubu-kubu untuk saling berak-memberaki. Mereka akan menang ketika berhasil memampuskan saudaranya sendiri, lalu jongkok di atas mayat saudaranya lalu meloloskan tahi ke jasad itu. Secara tak langsung, manusia adalah kloset di mata manusia lainnya. 

“Anjing tai! Enyahlah!” lelaki itu mengumpati orang gila yang melempari (dan tepat mengenai) bagian belakang kepalanya dengan botol kaleng bekas minuman 250 ml. Orang gila itu terpingkal-pingkal.


Alangkah asyik-masyuknya turut terpapar wabah gila seperti mereka, pikir lelaki itu. Dia merasa seperti dikelilingi zombi yang tak memangsa dirinya. Zombi-zombi gila itu, kendati tak membahayakan, tapi cukup menyebalkan. Dan lelaki itu justru ingin berubah jadi zombi seperti mereka. Dia yakin kalau orang-orang gila itu hidup bahagia di dunia halusinasinya di kepala masing-masing, kendati tampak dari luar bagai orang paling mengenaskan—lihatlah orang gila yang ke mana-mana dengan penis menantang dunia, alias dalam kondisi telanjang. 

Mulanya, mendapati diri—sejauh yang lelaki itu temui selama ini—satu-satunya orang yang tak terinfeksi wabah gila itu, dia sangat sumringah. Merasa jadi pemimpin dunia karena punya kendali penuh atas orang-orang gila itu. Serasa hidup di Taman Eden, taman segala-puncak kenikmatan berada, karena bisa melakukan apapun sesukanya termasuk kencing atau merancap di tengah jalan. 

Suatu pagi, lelaki itu terjaga di dunia yang tak pernah dibayangkan ketika matahari pagi menampar tubuhnya. Dia baru sadar kalau semalaman tidur di emper toko yang tutup. Tiga bulan kemudian dia akan sadar kalau dirinya subjek eksperimen seseorang: pengarang yang dia bayangkan sebagai lelaki yang punya muka selalu ngantuk dan hobi merancap dan bukan rekan yang cocok untuk diajak ngobrol berlama-lama karena pasti lelaki itu membosankan—anjing, dia meledekku. 

“Anjing lapar, perutku bunyi.” 

Dia beranjak dari sana, membawa badannya dengan malas untuk menatap dunia yang, pikirnya, pasti dikuasai kaum kapitalis pemilik modal yang lebih cocok ditendang ke alam baka. Mana mungkin kere sepertinya akan dimakmurkan oleh mereka? Sampai dia menatap keanehan-keanehan itu menumpuk di depan matanya. Dunia ini mampat seperti air comberan yang alirannya dipenuhi sampah-sampah, yang dimaksud sampah-sampah itu adalah orang-orang yang telah berubah jadi gila.
 

Lelaki itu menuju Indomaret. Tepat ketika dia sudah melewati pintu kaca, dia menatap pegawai perempuan Indomaret yang bertelanjang dada sedang tertawa-tawa sendiri. Sebenarnya dia ngeri, tapi pada saat yang sama timbul hasrat iblis ketika menatap payudara mengilat. Senoktah liur menetes dari bibirnya. Perutnya bunyi, dan sekonyong-konyong senyumnya mengembang sangat lebar seolah bisa merobek sudut bibirnya. 

“Aku bebas mengganyang semua yang ada di sini, hahaha!” suaranya cukup nyaring. 

Dia menyantap beberapa panganan di sana sampai kenyang: Sosis Yummy Choice, Dimsum, Onigiri, Nasi Goreng Hongkong, Bakpau, dan minum dua botol Coca-Cola. Lalu dia mendekati perempuan pegawai Indomaret itu. 

“Apa? Mau apa kau? Hahaha.” 

“Bolehkah aku menidurimu?”

“Hahaha.” Hanya tertawaan yang selanjutnya muncul dari sang perempuan. Bahkan ketika tubuhnya ditindih berkali-kali oleh lelaki itu. Tanpa sejumput pun mendedahkan perlawanan. Meski mulanya, lelaki itu ngeri terpapar jadi gila juga, tapi payudara dan leher dan wajah cantik perempuan itu demikian menggoda. Sebelum aku tak bisa merasakan kebahagiaan surgawi begini dalam kondisi sadar, barangkali esok atau satu jam ke depan aku sudah terinfeksi jadi gila lalu habis riwayatku, maka kesempatan tak boleh dianggurin, batin lelaki itu. 

Nyatanya, esoknya dan keesokannya lagi, lelaki itu masih waras. Senyumnya terus mengembang sepanjang hari. Dua malam dia tidur di kasur empuk (yang fungsi pegasnya dia manfaatkan sebaik mungkin dengan cara melompat-lompatkan badan, termasuk dalam posisi tiduran), di dalam ruangan berpendingin di hotel bintang lima. Busana yang dikenakannya kaos dan celana seharga puluhan juta yang dia comot dari toko busana elite di mal (andaikan dunia baik-baik saja dan dia tetap seorang kere, mustahil penghasilannya seumur hidup yang sehari-harinya habis untuk urusan perut, bisa membeli pakaian itu). Tak lupa juga, sebelum mengatupkan matanya untuk pindah ke semesta mimpi, dia meniduri resepsionis dan tamu hotel yang montok. 

“Apakah aku pernah punya idola?” tanyanya pada diri sendiri ketika dia sudah hidup selama sebulan lebih lima hari. Karena pemuda sinting di sisinya yang sedang menjilati bola sepak dan punya cita-cita menjadi Ronaldinho, tak akan mungkin menyahuti omongannya. Aneh sekali hidupku, aku tak tahu dari mana aku berasal, bagaimana masa laluku, dan tak ada seorang pun yang bisa aku ajak ngobrol, gerutunya. Kala itu, dia belum sadar bahwa dirinya terjebak di dunia apokaliptik ciptaanku. 

Syahdan, dia ingat tiga hari yang lalu, matanya terpikat pada spanduk yang terentang di sisi jembatan layang penyeberangan orang, sebab menampilkan potret artis cantik yang memegang wadah bedak padat. Perempuan yang kulitnya seputih bubur sumsum dan bentukan wajahnya, dengan mata sipit, mirip-mirip wajah perempuan dari negeri Cina. Lantas, di bawah jembatan layang penyeberangan orang itu, dia membuka celananya lalu merancap dan mengerang senyaring-nyaringnya secara sengaja seperti erangan aktor dan aktris bokep. 

“Aku akan meniduri artis itu, hahaha.”

Mata lelaki itu menembak motor Honda Scoopy yang terparkir di sisi lapangan. Ada mobil Toyota Avanza yang terparkir di sebelah motor itu. Andai aku bisa menyetir mobil, sudah pasti aku akan gonta-ganti memakai mobil ke mana-mana tiap harinya, celetuknya. Beberapa hari belakangan, dia telah mencoba mengendarai motor dan berhasil karena punya bekal bisa mengendarai sepeda. Lain kali dia berpikir hendak belajar mengendarai mobil.

Lelaki itu membuka iPhone Pro Max terbaru yang dia dapatkan dari rumah orang kaya sinting yang dua minggu lalu jadi tempatnya bermalam. Betapa terperanjatnya dia di sana, keesokan paginya, bangun tidur dengan kondisi basah kuyup sehabis disiram pemilik rumah yang selalu nyengir. Anjing kudis! Umpatnya. Dan ketika dia tengah berjalan menuju motornya, sekonyong-konyong wanita sinting yang diperkirakan sudah hidup separuh abad, terbirit-birit menujunya sambil berteriak-teriak: “Putraku! Putraku! Putraku!” lantas memeluk dia dari belakang. Anjing gila! Umpatnya. 

“Lepaskan aku anjing gila! Aku bukan anakmu.” Dia mendorong wanita itu sampai terjengkang lalu sang wanita meraung-raung, “mengapa kau tega sekali pada Ibu! Putraku!” dia membiarkan wanita itu menangis histeris sendirian. 

Selepas kelar berurusan dengan wanita itu, dia membuka Google Chrome lalu mengetik nama artis cantik, yang potretnya terpampang di spanduk jembatan penyeberangan jalan orang, pada laman pencarian. Tapi yang muncul justru kisah soal Ring of Gyges, Plato. Lelucon apa ini? Web Browser ini sudah eror? Muncul tanda tanya di atas kepalanya. Dia menyadari dirinya tak tolol-tolol amat. Buktinya dia bisa membaca dan mengoperasikan ponsel. Dia membayangkan: mungkin dulu aku pernah sekolah SD sampai SMP, lalu putus sekolah ketika SMA karena ayahku, yang seorang preman pasar, ditemukan mampus keracunan, lantas ibuku jadi pelacur untuk menyambung hidup lalu ibuku juga mampus di tangan seorang klien, yang adalah aparat negara, hingga sang pelaku dilindungi dari jerat hukum. Anjing tai!

Pada akhirnya dia membanting ponsel itu lalu menginjak-injaknya. Urung niat udiknya menuju kediaman sang artis untuk menidurinya. Dia ngeri membayangkan, mesin-mesin yang sudah tak dioperasikan oleh manusia (karena semua manusia sudah gila kecuali lelaki itu), mengevolusi dirinya sendiri lalu membasmi umat manusia karena sudah tak berguna. Atau umat manusia akan dijadikan budak untuk membangun peradaban baru: peradaban robotik, lantas beberapa manusia unik akan didepak ke kebun manusia—sebagai ganti dari kebun binatang—lantas para manusia ini juga bisa diperjualbelikan layaknya hewan peliharaan atau budak belian. 

***

Selepas tiga bulan lamanya hidup begitu-begitu saja, sekonyong-konyong lelaki itu bagai nabi yang menerima wahyu dari malaikat. Dia dapat pencerahan dan menyadari, kalau dirinya hanyalah subjek eksperimen seseorang. Tak mungkin kiamat seperti ini. Kiamat wabah gila ini tak seperti kiamat yang dia ketahui dari ceramah guru ngaji yang pernah dia dengarkan ketika kecil. Sekonyong-konyong mencuat sekelumit ingatan masa kecilnya menginap di masjid dan tidur di dalam beduk agar menghindari salat subuh. Tapi kemudian dia mulai meragukan keyakinannya. Jangan-jangan guru ngajinya membual soal kiamat. Jangan-jangan guru ngajinya yang menerangkan kedetailan terjadinya kiamat diperoleh referensinya bukan dari kitab suci, tapi buku stensilan bergambar—seperti buku-buku siksa neraka dan nikmat surga. 

“Hidup tanpa seorang pun sebagai teman, sebagai kekasih, sebagai keluarga, sebagai saudara, begini membosankan.” 

Sekonyong-konyong dia teringat kisah yang pernah disampaikan guru ngajinya dulu, tentang manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Adalah Adam yang tampak murung selepas beberapa masa di Taman Eden, karena didera kesepian. Lantas Tuhan menciptakan Hawa sebagai teman sekaligus kekasih baginya. Tak ada bedanya denganku: manusia waras di samudera zombi-zombi gila, pikirnya. 

Dia sering gabut mengajak ngobrol zombi-zombi gila itu. Menanyai mereka dengan ragam pertanyaan, dan sebagian besar, akan dijawab mereka dengan jawaban ngelantur tak nyambung. “Apa kau bahagia dengan hidupmu sekarang?”

“Bahagia sekali, hihihi. Sekarang aku akan bangun pagi bukan untuk pergi kerja, jaga hotel ini, jadi satpam, tapi bangun pagi untuk menaiki naga tiap hari keliling dunia, hihihi.” Jawab seorang satpam sinting di depan hotel. 

Kali lain dia bertanya ke manusia gila lain. “Apa bagimu hidup ini membosankan?”

“Tidak tidak tidak. Selama pacarku ini masih menemaniku, hidupku akan baik-baik saja.” Dia melongo, karena pacar yang dimaksud pemuda sinting yang ditanyainya adalah seekor anjing peliharaan yang lehernya terikat tali tuntun hewan. 

Dan seterusnya dan seterusnya. Lalu tabir pengetahuannya terbuka bahwa dia sekadar tokoh yang terjebak di cerita seorang pengarang—aku pengarang yang dimaksud. Maka muncullah perkataan sebagaimana di paragraf keempat: “Anjing! Keluarkan aku dari dunia ini.” Lalu muncul juga kedumelan-kedumelan sebagaimana di paragraf-paragraf selanjutnya—apalagi selepas mendapati kepalanya dilempar botol kaleng bekas 250 ml. 

Syahdan, aku iba juga dengan kondisi Frankenstein yang aku ciptakan itu. Justru sekarang dia ingin turut menjadi gila seperti manusia-manusia lainnya. Pikirnya, menjadi gila artinya menjadi bahagia, karena manusia yang waras artinya menjadi hampa di samudera zombi-zombi gila. Dia ingin menjadi Gyges yang melepas cincinnya. Maka, pada akhirnya aku menemuinya serupa Tuhan menemui Musa di Gunung Sinai. Aku menghampirinya yang tengah jalan-jalan bosan di sebuah taman—lokasi yang sebentar lagi berakhir mengenaskan seperti tempat-tempat lainnya karena tak ada yang urus. 

“Siapa kau?” 

“Duhai ciptaanku, ketahuilah aku pengarang yang menciptakanmu.” 

Anjing kocak, dari gelagatnya, dia menganggap aku juga orang gila. Dia menyangka, sebelum aku jadi gila begini, aku adalah sesosok penyair yang menulis puisi-puisi dan sama miskinnya dengannya. “Apa buktinya, hah?” dia menyeringai. 

“Lihatlah ini.” Sekonyong-konyong di tangan kananku muncul roti. Lalu tangan kiriku bergerak di udara: mengendalikan orang gila di dekat kami agar menuju ke arahku. Orang gila itu lantas memakan roti di tanganku. Selepas roti itu tak bersisa, tangan kananku mengeluarkan cahaya lalu memukul perut sang orang gila. Cahaya yang lebih tajam dari pedang mana pun itu bikin perut sang orang gila bolong—cahaya itu menembus pinggang belakang. Ketika sang orang gila sudah berkalang tanah, aku mengusap-usap bagian bolong itu, sekonyong-konyong abrakadabra perutnya kembali seperti semula: tak ada bagian yang bolong. Lalu aku menghidupkan kembali orang gila yang sudah mampus itu. 

“Mengapa matamu tak picek sebelah?”

Anjing kunyuk. Dia pikir aku Dajjal. “Hahaha, kurang ajar juga kau dengan pengarangmu sendiri.” 

“Nah begini dong. Enak. Ngomong itu biasa saja, tak usah dibuat-buat sok puitis. Pokoknya aku masih belum percaya katamu barusan.”
 

“Aku bisa melakukan hal yang sama padamu. Bahkan aku bisa melenyapkan dunia ini.”

Sekonyong-konyong di atas kepalanya muncul lampu kuning terang. Dia menatapku seperti tengah bercermin diri. “Hahaha. Aku senang sekali. Akhirnya aku akan jadi gila seperti mereka.”

“Apa maksudmu?”

“Kau masih tak paham ya? Hahaha.”

Aku terheran-heran. Tak ada sahutan keluar dari lisanku. Lalu dia melanjutkan ucapannya.

“Kau tak nyata. Kau halusinasi di kepalaku. Kau adalah aku. Aku adalah kau. Bukan kau yang menciptakanku tapi aku yang menciptakanmu. Hahaha.” 

Bagaimana mungkin omongan idiot itu benar? Tapi, apa iya kalau lelaki di depanku itu bukan Frankenstein yang aku ciptaan? Apa iya dunia apokaliptik ini, yang saban manusia di tiap penjurunya telah terpapar wabah gila, bukan dunia ciptaanku? Selepas aku renungkan dalam-dalam, satu-satunya alasan kalau omongannya boleh jadi benar karena aku pun tak tahu apa penyebab terjadinya wabah gila ini. Apa iya aku hanya halusinasi di kepala lelaki itu karena sekadar berkisah dari sudut pandangnya? Apa iya dunia ciptaanku bergeliat di luar kendaliku? Apa iya wabah gila ini awalnya proyek penghancur yang gagal, buatan Negara Adikuasa yang doyan perang dan hobi mengancam-ngancam negara lain supaya tunduk di bawah tiraninya? 

Pada akhirnya aku dan lelaki itu sepakat menanti pengarang yang menciptakan kami. Barangkali dia akan datang sekejap lagi. Kami terus menanti sampai matahari tenggelam. Esok sampai keesokannya lagi. Terus sampai seterusnya. Sampai matahari benar-benar terbit di barat, pengarang itu tak datang. Mendapati fenomena mengerikan itu, kami bergidik mampus lalu terkencing-kencing di celana. 

Surabaya, 04 Februari 2026

Persembahan untuk Mengenang Kurt Vonnegut


______

Penulis


Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Beberapa cerpennya memenangkan lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Puisi-Puisi Diana Rustam

Puisi Diana Rustam 




Epitaf


Di sini 

telah terbaring dengan gelisah

tubuh keadilan;

wajahnya babak belur

dihajar kepentingan

dan sumpah jabatan yang dilanggar.



Korupsi


Korupsi itu rajin olahraga:

setiap hari lompat pagar

dan lari dari tanggung jawab. 


Korupsi itu pandai sulap:

mengubah uang rakyat

jadi rumah megah

jadi mobil mewah.


Korupsi itu setia:

pejabat datang berganti-ganti

tapi ia tidak pernah beranjak pergi. 


Korupsi itu gemar selfie:

muncul di setiap berita

dengan pupur dan gincu

tapi tidak secuil pun membawa malu. 


Korupsi itu punya hobi unik:

mengoleksi tanda tangan rakyat

yang tak pernah merasa 

menandatangani apa-apa.



Narapidana


Pada suatu tengah malam 

sebuah buku diringkus

halaman-halamannya diborgol


Buku duduk di kursi pesakitan

dituduh meledakkan bom

di kepala seorang pemuda


Yang mulia hakim mengetuk palu:

“Buku ini berbisa,

karena mengajarkan cara berpikir

tanpa izin negara.”



Pemakaman Sejuta Followers


Ibumu wafat dengan tenang

dan kau sibuk memikirkan caption:

"Selamat jalan, Mamaku tercinta

yang kini trending di surga."


Ambulans menjelma studio berjalan

sirenenya cocok sekali untuk sound effect

para pelayat berebut layar ponsel

doa-doa diganti selfie 

yang asyik masyuk di samping nisan.


Penggali kubur tak sengaja masuk frame

langsung kautandai: #influencerkubur

bunga-bunga yang menutup liang

tak kalah harum dari notifikasi

yang datang bertubi-tubi.


Kini ibumu dalam perjalanan panjang

sementara kau sibuk begadang

menjawab komentar

menghitung like

dan menyiapkan konten baru:

"Tips bikin duka jadi peluang cuan."



Diseduh Notifikasi


Kaududuk di teras

mendengar derit waktu dari notifikasi ponsel

ada pesta di kota lain

ada tawa di kamar orang lain

ada bahagia yang tidak sempat kupinjam. 


Kau coba menulis puisi

tapi huruf-huruf tergesa

lari ke layar seberang

menjadi status orang asing

yang tampak lebih indah

dari nasibmu sendiri.


Sementara itu,

kopi di cangkirmu tetap hitam

direnangi lalat diam-diam

dan roti bakarmu, mendingin pelan-pelan.


Katamu hidup ini sederhana:

bernapas, makan, tidur, mencinta,

tapi kau selalu takut terlambat

seperti mengejar kereta yang

bahkan belum pernah kautumpangi.


Kausenyapkan notifikasi

kaupadamkan mata

lalu tiba-tiba, 

kau merasa paling sendirian

di tengah keramaian

yang bahkan tidak sempat

mengenalmu.


________

Penulis


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen. Beberapa  karyanya telah dimuat media daring. Saat ini penulis tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Instagram: dianarustam_


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, May 2, 2026

Resensi Kabut | Pembuktian Bapak

Oleh Kabut




Yang menonton lagu, yang sendu atau terharu. Pada masa tua, Iwan Fals dan Ebiet G Ade berduet, membawakan lagu berjudul “Ibu”. Di situ, kita melihat bapak dan ibu uang usianya tua. Mereka tinggal di rumah dalam kesepian dan penantian. Anaknya yang sudah dewasa pergi. Hari-hari yang tanpa kabar. Bapak merasa bersalah atas sikapnya terhadap anak yang bergitar. Ibu dengan ketabahannya terus mengasihi anaknya. Ibu yang sangat menantikan anaknya pulang atau kembali.


Hari yang dinantikan tiba. Anak itu pulang. Kangen yang ditebus dengan makanan di atas meja. Bapak pun kembali ke rumah. Detik-detik ia bertemu lagi dengan anaknya membuat penonton cengeng. Keluarga itu utuh, setelah hari-hari yang menegangkan dan merindukan. Yang menikmati lagu berjudul “Ibu” mungkin ingin membuat cerita yang lain. Namun, film yang digarap untuk lagu itu membuat kita berpikir serius tentang keluarga.


Yang menyimak berita-berita dari Jogjakarta mengaku marah dan sedih. Kaum balita dalam derita para pengasuh yang memilih keuntungan ketimbang menaburi kasih. Berita itu melukai. Kita tentu tidak hanya berpikiran lembaga dan para pengasuhnya. Yang mesti dipikirkan adalah para ibu, yang semula menitipkan anak-anak di situ. Ibu yang sedih. Ibu yang mungkin berpikiran lagi atas perannya dalam mengasuh anak, tidak diserahkan kepada orang lain dengan cara memberi upah. 


Berita yang menyita pikiran atas makna keluarga abad XXI. Konon, orang-orang takut atau enggan menikah. Yang berani menikah memutuskan tidak mau punya momongan. Pasangan yang berjanji sebagai bapak dan ibu hanya ingin memiliki satu anak. Kita yang mengetahui situasi mutakhir mulai ikut goyah dalam pemaknaan keluarga. 


Apakah pemerintah boleh turut campur dalam urusan keluarga? Di Indonesia, ada kementerian-kementerian yang menerapkan beragam kewenangan untuk keluarga. Kita tidak mampu membuat rincian dan dampak-dampaknya. Keluarga masih urusan penting bagi negara, yang ingin maju dan terhormat di dunia.


Pada masa lalu, penguasa memiliki kepentingan terhadap keluarga-keluarga di seantero Indonesia. Yang dilakukan adalah menyediakan restu dan anggaran dalam penerbitan buku-buku cerita untuk anak. Tema yang menjadi andalan adalah keluarga. Mengapa penguasa memikirkan keluarga dalam arus keaksaraan di Indonesia? Yang pasti kita mengingat jargon pemerintah yang ingin menciptakan keluarga kecil dan bahagia. Dulu, yang dikehendaki rezim Orde Baru adalah dua anak, bukan memiliki banyak anak yang menjadi beban negara.


Pada 1975, terbit buku yang sangat tipis berjudul Ibu, Lekaslah Pulang yang ditulis oleh Bu Ati. Buku diterbitkan oleh Indrapress, yang mendapat anggaran dari pemerintah. Maka, buku tidak diperdagangkan melainkan dibagi ke ribuan perpustakaan. Apakah buku yang tipis menemukan pembacanya? Apakah buku itu diam selama bertahun-tahun?


Kita membaca (lagi) pada 2026. Yang terbaca adalah cerita yang semestinya dinikmati orang-orang pada masa 1970-an. Bu Ati mengisahkan keluarga (ibu, bapak, dan anak). Yang hadir cuma satu anak, namanya Neni. Keluarga yang berada di desa. Neni diasuh oleh bapak dan ibu, tidak perlu merepotkan pengasuh atau pembantu. Di situ, tidak ada kakek dan neneknya.


Cerita yang inginnya sederhana tapi seleranya tidak kental Indonesia. Yang membaca akan menemukan pengaruh dari sastra dunia. Yang ditulis adalah cerita pengasuhan dan kasih. Apakah pengarang sebelumnya sering membaca sastra dunia dalam mengawali penulisan cerita untuk anak-anak di Indonesia?


Pada suatu hari, ibu berpamitan pergi ke kota. Mengapa ia pergi? Yang dijelaskan pengarang: “Ibu perlu membeli baju, taplak meja, dan keperluan dapur di kota. Kau tunggu rumah dengan bapak.” Pesan yang diberikan kepada Neni. Padahal, Neni ingin ikut, ingin merasakan kenikmatan bepergian dan berbelanja. Ibu sudah memutuskan bahwa Neni di rumah. Yang bertanggung jawab adalah bapak dalam masalah-masalah di rumah.


Bapak menunaikan misi pengasuhan. Peristiwa yang tercipta pada pagi hari: “Neni sudah cantik sekarang. Memakai rok kembang berwarna kuning. Rambutnya diikat menjadi dua. Pitanya berwarna kuning.” Neni diajak bapaknya naik sepeda. Mereka berkeliling desa melihat pemandangan. Neni merasa senang. Kita mendapat bukti awal bahwa bapak mampu bertanggung jawab.


Peristiwa yang dipentingkan oleh pengarang: makan malam. Bapak mengajak Neni untuk makan. Nasi dan lauk sudah tersedia di lemari. Berdua menikmati makanan tanpa kehadiran ibu. Mengapa ibu belum pulang? Yang pasti jarak desa dan kota sangat jauh. Maka, yang terjadi pada anak: “Ia murung dan hilang seleranya. Ia ingat ibu yang sedang pergi. Biasanya makan dengan ibu lebih gembira.” Para pembaca disadarkan bahwa pengaruh ibu lebih besar ketimbang bapak. Yang terpenting bapak sudah membuktikan tanggung jawab bahwa anaknya makan, tidak kelaparan. 


Yang harus dibuktikan saat malam adalah menjadikan Neni nyaman dalam tidurnya. Namun, harapan itu susah terwujud. Neni masih kepikiran ibunya. Yang diharapkan, ibu lekas pulang. Susah tidur, Neni malah melihat bintang-bintang di langit. Neni pasti berada di desa yang masih jarang penduduknya. Artinya, pemandangan langit atau alam tidak terhalang oleh banyak bangunan. Neni merasakan ketakjuban. Bintang-bintang yang memberikan keindahaan saat dirinya menanti ibunya. Apa yang dilakukan bapak?


Anjuran agar Neni lekas tidur tidak manjur. Sehingga, bapak harus mencari cara agar malam itu terasa indah, bukan sedih dan penantian. Peran terakhir ayah adalah memberikan cerita atau dongeng. Berhasil! Neni terlena cerita, akhirnya dapat tidur meski telat.


Bu Ati mungkin berpesan bahwa ibu perannya sangat besar. Ibu yang tidak berada di rumah sehari saja dapat menimbulkan kebingungan, kesalahan, keraguan, kerinduan, dan kegagalan. Beruntungnya, bapak yang diceritakan mampu mengganti peran ibu. Kita semestinya meralat: “mengganti”. Apakah yang benar saling melengkapi agar tidak terjadi diskriminasi? Cerita yang ditulis Bu Ati diniatkan menjadi bacaan anak-anak Indonesia. Namun, yang selesai membacanya akan merasakan pengaruh sastra asing atau dunia. Artinya, cerita itu tidak dekat dengan kenyataan-kenyataan di Indonesia


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Resensi Yuditeha | Luka-Luka yang Dihasilkan

 
Oleh Yuditeha


Judul Buku : Silsilah Luka Perempuan

Penulis : Yulita Putri

Penerbit : Press Mesin

Cetakan : November 2025

Halaman : VI+102 hlm, 12x18 cm

ISBN : 978-623-693-780-8

 

Tragedi perempuan bukan pada satu peristiwa dramatis, melainkan pada kebiasaan. Pada rutinitas yang dianggap biasa. Pada kalimat-kalimat kecil yang diucapkan tanpa rasa bersalah. Pada keputusan-keputusan yang tampak masuk akal, padahal sedang menanam bom.

 

Kumpulan cerpen Silsilah Luka Perempuan karya Yulita Putri (diterbitkan oleh Press Mesin, November 2025) seperti membuka album yang tak pernah dipajang di meja tamu. Sebelas cerpen di dalamnya bukan sekadar cerita perempuan tersakiti, melainkan tentang bagaimana luka dihasilkan, dirawat, diwariskan, dan dibenarkan. Buku ini memang tidak menawarkan reaksi yang membuat dada pembaca sesak, atau mata berkaca-kaca. Ia membuat kita terdiam, lalu pelan-pelan merasa bersalah.

 

Dalam "Dipermainkan Takdir", kita tidak sedang diajak menghakimi seorang ibu yang hilang kendali, tapi lebih melanjangi kesepian mental perempuan lelah, yang tidak pernah diberi ruang untuk mengaku ringkih. Di sana, depresi tidak dianggap penting. Ia hanya dikomentari kurang bersyukur atau ibu lain biasa saja. Kalimat-kalimat yang akrab di telinga masyarakat. Cerpen ini memberi kejut, betapa mudahnya kita memuja ibu simbol pengorbanan, tapi enggan mengakui bahwa ibu juga bisa remuk.

 

Keremukan itu tidak berhenti di satu tempat. Dalam "Anak-Anak dari Rumah Retak", kekerasan hadir seperti warisan. Seorang anak lelaki menganggap kekerasan kepada teman perempuannya sebagai permainan, karena sejak kecil menyaksikan ayah memukul ibu. Kekerasan adalah tontonan sehari-hari. Cerpen ini terasa dakwaan sosial yang sulit disangkal. Ada sesuatu mengendap di sana, jika seorang anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa menyakiti perempuan adalah wajar, maka ada sistem nilai tertentu  di sana, rumah menjadi sekolah pertama patriarki.

 

Cerpen "Sebelum Segalanya Jadi Penyesalan", bergerak di antara kertas dan keberanian jujur. Surat Ningsing adalah usaha menolong adiknya, tetapi juga bermakna sebagai sarana membuka luka rumah tangganya. Penderitaan, pengkhianatan, dan poligami yang lama disembunyikan. Surat menjadi saksi pahit. Ketika selesai, yang tertinggal bukan sekadar harapan agar sejarah tak terulang, melainkan getir bahwa kejujuran lahir saat penyesalan sudah mengintip.

 

Dalam cerpen "Warisan Api dari Tangan Ibu", luka yang muncul jelas dari tindakan, sebuah rahasia, manipulasi, dan moral ganda. Ia bukan sekadar warisan, tetapi hasil dari pilihan yang disembunyikan. Ketika kebenaran terbongkar, rupanya yang muncul adalah kesadaran bahwa luka itu dibuat, dipelihara, dan diturunkan.

 

Yulita tidak berhenti pada relasi suami-istri atau orangtua-anak. Ia juga menyusup ke wilayah lebih intim dan tabu. "Malam, Biarkan Sekali Saja Aku Bernapas", memperlihatkan bagaimana perkawinan dapat menjadi ruang legitimasi pemaksaan. Tidak ada adegan sensasional. Justru karena itu terasa nyata. Di banyak rumah, tubuh perempuan masih dianggap fasilitas. Persetujuan sering kali tidak sungguh-sungguh ditanyakan. Hanya ada kewajiban. Cerpen itu terasa bisikan getir di tengah wacana terkait kekerasan seksual. Yulita menulis hal itu diibaratkan kejadian biasa, bahkan mungkin rutinitas. Dan rutinitas jauh lebih menakutkan daripada ledakan.

 

Dalam "Perempuan yang Dilahirkan Luka dan Janji Lela", pilihan menjadi pekerja seks tidak ditempatkan sebagai jatuhnya moral, melainkan simpul dari banyak kebuntuan. Ekonomi minim, keluarga retak, janji dan utang menumpuk, semuanya membawa ke lorong gelap hingga mendorong perempuan mengambil keputusan yang sebelumnya ia kutuk. Yulita tidak mendramatisir, ia hanya menunjukkan bahwa dalam ketimpangan sistem, tubuh perempuan sering menjadi mata uang terakhir. Sementara itu, masyarakat gemar menghakimi perempuan yang menjual tubuhnya, tapi jarang bertanya siapa pembelinya.

 

Cerpen "Mengapa Tuhan Tak Menjadi Mama" terasa lembut di permukaan, namun menyimpan kritik tajam. Seorang anak kecil baru mengalami haid pertama kali menulis surat kepada Tuhan karena ibunya tak mampu menjawab pertanyaannya. Cerpen ini sederhana, polos, dan hampir lugu. Tetapi di situlah letak gugatnya. Mengapa pendidikan tentang tubuh perempuan masih dibungkus rapi? Mengapa darah dianggap aib? Dan mengapa perempuan kecil harus belajar sendirian tentang sesuatu yang akan ia alami seumur hidup? Yulita seolah ingin mengatakan, luka tidak selalu lahir dari hal besar. Ia bisa muncul dari ketidaktahuan yang diturunkan.

 

Ada pula "Poetri Mardika". Menghadirkan sosok seniman perempuan cerdas dan progresif. Ia bicara tentang empati, kekerasan seksual, dan kesenjangan sosial. Namun ia juga mengakui bahwa banyak karyanya meminjam pengalaman orang lain. Cerpen sindiran terhadap dunia intelektual dan kesenian yang kerap menjadikan luka sebagai bahan estetika. Apakah empati cukup, atau kita sedang mengarsipkan derita demi reputasi?

 

Di bagian akhir, Menghapus Masa Lalu, membawa pembaca pada wilayah yang nyaris surealis. Sosok peri menawarkan jasa menghapus ingatan paling menyakitkan. Ketika tokoh ingin menghapus peristiwa pelecehan oleh figur berkuasa di kampus, kita tiba-tiba sadar bahwa masalahnya bukan sekadar ingatan. Menghapus masa lalu mungkin mengurangi beban korban, tetapi tidak menghapus pelaku dan sistem yang melindunginya. Cerpen ini menyentuh denyut zaman, ketika banyak korban mulai bersuara, apakah keadilan berarti melupakan, atau justru mengingat dengan keras kepala?

 

Keterkaitan dari kesebelas cerpen ini terasa jelas. Luka perempuan di dalamnya bukan insiden tunggal. Ia berlapis, berulang, dan sering disamarkan oleh kata-kata seperti sabar, ikhlas, atau kewajiban. Buku ini memperlihatkan bagaimana keluarga bisa menjadi ruang perlindungan sekaligus ruang produksi trauma. Bagaimana ibu bisa menjadi penyelamat sekaligus bagian dari skema reproduksi. Bagaimana cinta bisa bercampur dengan batasan, dan bagaimana agama, moral, serta tradisi kerap dipakai untuk merapikan ketimpangan.

 

Tidak ada usulan pahlawan. Tidak ada tokoh yang benar-benar menang. Bahkan ketika ada perlawanan, ia diiringi rasa salah dan bingung. Seakan perlawanan perempuan tetap harus membayar harga emosional. Buku ini tidak menawarkan harapan, Yulita hanya mengajak pembaca duduk lebih lama bersama ketidaknyamanan.


Dan setelah kita menutup halaman terakhir, mungkin bisa jadi sadar bahwa silsilah luka bukan hanya milik tokoh. Ia milik kita. Luka itu tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap normal. Luka-luka itu dihasilkan.

 

________

Penulis

 

Yuditeha,

Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

 

Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com

  

Sunday, April 26, 2026

Puisi-Puisi Budiawan D. Santoso

Puisi Budiawan D. Santoso



Surga 


sepotong cinta

bertemu denganmu


dedaunan

air


rumah

keluarga


datanglah surga

ke aku



Penulis Buku Tua yang Baik Hati


aku mendengar dan membaca

segala kidung dari-Mu


Lalu, aku jalani

dengan sepenuh hati-hati


Februari, 2026



Berenang dalam Bahasa Ikan


aku baca mata para ikan.

air, tanah, rumput, kerikil


dalam akuarium.

menggenang di kepala.


aku baca bahasanya

menggeliat-geliat, juga menyelam.


mataku hampir terbenam,

bapak ibuku tak cuma diam.


aku seolah berenang

dalam bahasa ikan.



Amor Fati


Selembar uang 'tunai', berwujud: PUISI.


Kata, (tak) slalu mudah

meski itu indah


"beautiful"

"good"

"better"

"sweet"


Huruf huruf dari hembusan bernyawa itu, aku pelajari sejak nenek moyang---lahir & batin.


senyoem beraroma embun, garam, gula, merica, pala, cengkeh, hingga: beras.


aku 

merdeka 

mati

bebas 

oo

xxx


jangan lupai kami

/pilih lupakan saja 


cinta, melulu. Itu perlu.

"I love you"



______

Penulis


Budiawan D. Santoso, penyair tinggal di pinggir Kota Solo, Jateng, IDN.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Rafif Abbas Pradana | Anggrek dan Lava Neraka

Cerpen Rafif Abbas Pradana


Ribuan ekskavator datang untuk merobohkan pohon-pohon. Suaranya menderu seperti raksasa lapar. Permukaan hutan diratakan untuk membangun lahan pertanian, karena negara sedang krisis pangan yang tidak bisa dihindarkan. Selain ribuan ekskavator, ada juga ribuan orang bersenjata lengkap beserta kendaraan lapis baja untuk menjaga berlangsungnya proyek di daerah tersebut. Seluruh warga yang berada di situ menolak keras-keras, namun apa daya. Di dalam diri mereka ada yang menjadi pengkhianat, sampai-sampai tega menjual hutan itu kepada pengusaha yang sudah diizinkan sebagai pemegang proyek strategis. Angin pagi yang biasanya membawa bau tanah basah kini hanya membawa debu dan asap mesin.

Naas, para warga hanya bisa berdemo dan mendorong barisan orang-orang bersenjata itu. Seluruh warga ditembaki tanpa ampun dengan dalih mereka dianggap teroris. Tidak bisa dipatahkan lagi, program nasional harus dijalankan. Di tengah kericuhan itu, ada seorang gadis yang kebingungan dengan keadaannya. Gadis itu bernama Anggrek. Anggrek berusia enam belas tahun, masih bersekolah. Biasanya pagi-pagi ia berjalan ke sekolah sambil membawa buku tulis lusuh dan memetik bunga liar di pinggir jalan. Kini buku itu entah di mana. Keadaannya yang kalut membuat ia tidak bisa memaksa apa-apa. Anggrek menyaksikan sendiri bapaknya terbunuh ketika mendorong para orang bersenjata itu. Di mata Anggrek sendiri. Peristiwa itu membuat tubuh Anggrek gemetar, lututnya lemas, dan dadanya terasa kosong.
"Ayah, kau mengapa meninggalkan aku secepat itu? Berengsek orang-orang itu, tega membunuh ayahku!" ujarnya penuh dengan amarah.
Suaranya pecah di ujung kalimat. Anggrek ingin menghampiri ayahnya yang tergeletak jatuh, namun ditahan oleh temannya yang bernama Bunga.
"Heh Anggrek, jangan ke situ, bahaya!"
Bunga mengatakan dengan suara bergetar. Matanya memerah menahan takut. Namun Anggrek berkeras untuk mendekati bapaknya. Bunga terpaksa menarik secara paksa sampai Anggrek terjatuh ke tanah berdebu karena tidak mendengarkan ucapan Bunga yang khawatir. Selanjutnya Bunga memeluk Anggrek yang sedang menangis kejer. Tangannya yang kecil mengusap-usap punggung Anggrek pelan. Kejadian itu membuat Anggrek merasa benci terhadap orang-orang yang telah membunuh. Benci yang tumbuh seperti akar di dalam dadanya.
Seluruh warga terpaksa mundur dan terusir, bahkan dijanjikan oleh pengusaha itu untuk dipindahkan ke wilayah kota. Ada apartemen yang bisa ditinggali. Apa daya warga yang tidak punya kuasa. Para warga sebagian besar pindah ke kota, sebagian kecil masih bertempur untuk menjaga tanah kelahiran mereka. Malam sebelum berangkat, Anggrek memandangi rumah kayunya yang akan ditinggal. Di dinding masih ada coretan pensil—garis tinggi badannya waktu umur sepuluh tahun. Ibunya menyuruh Anggrek untuk ikut karena sudah tidak aman lagi, sesuai arahan pengusaha itu. Pun Bunga ikut, terlebih kedua orang tuanya terbunuh sekaligus karena terlindas ekskavator yang tidak sengaja melindas rumah mereka saat masih di dalam. Bunga tidak sempat mengambil apa pun dari rumah itu, kecuali satu foto lama yang kini kusut di sakunya. Di suatu malam, Bunga dan Anggrek serta ibunya pergi ke kota sesuai apa yang sudah dijanjikan.
Para warga desa akhirnya naik bus menuju kota. Sepanjang perjalanan, tak ada yang bersuara. Hanya suara mesin bus dan sesekali isak tangis anak kecil.
***
Setiba di kota, mereka melihat keadaan seratus delapan puluh derajat berbeda dengan desa yang pernah mereka tinggali. Lalu-lalang kendaraan yang selalu bersuara bising, berbagai macam kemacetan di jalan. Udara terasa panas dan lengket, tidak seperti angin desa yang sejuk. Setibanya di permukiman yang dijanjikan, para warga kaget dengan kondisi yang kumuh. Dinding-dinding kos-kosan mengelupas, selokan berbau menyengat. Tidak sesuai apa yang sudah dijanjikan. Namun apa daya, mereka tidak bisa mengkritisi lagi. Para warga masuk ke dalam tempat yang sudah ditentukan. Bunga, Anggrek, dan ibunya masuk ke satu kamar kos berukuran sempit. Bunga dan Anggrek setiba di dalam kamar menangis kejer karena tidak bisa menahan kenyataan yang ada. Mereka duduk di atas kasur tipis beralas kardus. Mereka merasa semua yang sudah terjadi terasa tidak adil.
Anggrek mempertanyakan kepada ibunya sambil memandangi langit-langit kamar yang retak.
"Kita di sini mau kerja apa, Bu?"
Ibunya menjawab dengan bingung sambil meremas ujung bajunya.
"Mungkin kita bisa berjualan."
Anggrek membalas dengan pesimis, suaranya lirih.
"Uang dari mana, Bu? Kita saja tidak ada modal untuk berjualan."
Ibunya menjawab pelan.
"Kita berutang lebih dahulu saja."
Anggrek tidak yakin dengan jawaban itu, matanya menatap ibunya lekat.
"Bu, jika kita berutang dan tidak laku, kita akan menderita lagi, Bu?"
Ibunya pun terdiam. Hening. Hanya suara kendaraan dari jalan raya yang masuk lewat jendela tanpa kaca.
Bunga mendengar percakapan Anggrek dan ibunya. Ia sedang duduk memeluk lutut di sudut kamar.
"Kita... kita bisa minta-minta dulu di lampu merah. Untuk cari modal awal buat jualan."
Bunga menyarankan dengan suara ragu.
Anggrek sontak kaget karena selama ini tidak pernah diajarkan untuk meminta-minta.
"Mengapa kita perlu meminta-minta?" tanyanya dengan alis berkerut.
Bunga menunduk, jemarinya saling meremas.
"Sudah tidak ada pilihan lagi. Kalau bukan itu..."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
"Ya... pilihan lain juga ada sih, Grek. Tapi kamu pasti tahu maksudku. Perempuan kayak kita, di kota kayak gini, kadang cuma punya... dua jalan."
Ibunya Anggrek langsung menangkap maksud itu, matanya membelalak.
"Kau ini diajarkan adab tidak? Kau waras, Bunga?"
Suaranya bergetar antara marah dan takut.
Bunga menjawab dengan mata berkaca-kaca.
"Bu, saya cuma... saya cuma bilang apa yang sering kejadian di sini. Saya tidak mau itu terjadi sama kita. Makanya saya bilang, lebih baik kita minta-minta dulu."
Bunga melanjutkan dengan suara lebih mantap.
"Kalau tidak mau yang begitu, kita mulai dari minta-minta. Pelan-pelan."
Ibunya mulai paham dengan keadaan Bunga. Ia memandangi dua anak gadis di depannya—satu anak kandungnya, satu lagi kini sudah seperti anaknya juga.
"Ya sudah. Kita meminta-minta. Itu pilihan kenyataan kita yang harus kita ambil," katanya akhirnya, suaranya berat.
Anggrek dan Bunga serta ibunya sepakat besoknya untuk meminta-minta di tengah jalan raya. Malam itu mereka tidur berimpitan di kasur sempit. Anggrek memandangi punggung Bunga yang sesekali bergerak gelisah.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Bunga, Anggrek, dan ibu Anggrek meminta-minta di pinggir jalan. Panas aspal mulai terasa memanggang telapak kaki. Mereka menjual empati dengan membawa sebotol minum yang dikasih beras, lalu bernyanyi dengan suara kedua anak dan Ibu Anggrek dan Bunga. Suara mereka pelan, kadang sumbang, tapi terus bernyanyi. Ibunya memegang sekantong plastik untuk menampung uang mereka. Awalnya berjalan lancar. Beberapa mobil membuka kaca dan memberi receh. Namun kejadian tidak menyenangkan buat mereka kemudian datang. Ada berbagai macam kelompok orang yang biasa meminta-minta dan mengamen di sana. Wajah-wajah keras dengan tatapan tidak ramah. Di sana sudah menjadi lahan mereka untuk mencari nafkah.
Salah satu orang menghampiri, badannya besar, rambutnya acak-acakan.
"Kau ngapain di sini? Di sini lahan kami!"
Ia mengatakan kepada Anggrek, Bunga, dan Ibu Anggrek dengan nada tinggi.
Mereka tidak bisa menjawab karena bingung dan takut. Tubuh Anggrek menegang.
"Saya di sini mau mencari nafkah karena kami digusur, dipindahkan ke kota ini."
Anggrek menjawab dengan suara kecil.
Orang itu sontak marah dan tidak peduli dengan alasan itu. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah jalan lain.
"Pergilah kau dari lahan kami, cepat!"
Maka mereka bertiga pergi dari lahan itu dan mencari lampu merah lainnya. Kaki mereka melangkah gontai di trotoar yang asing. Mereka pun kembali ke permukiman kumuh itu dengan tangan kosong.
***
Di dalam kamar, Anggrek sudah tidak ada harapan lagi. Ia duduk di sudut, menatap dinding kosong.
"Mengapa hidupku sial seperti ini? Aku ingin hidup biasa saja tanpa seperti ini, yang membuat sesak dadaku ini."
Suara Anggrek pelan tapi menusuk. Bunga melihatnya sontak ikut menangis, dan ibunya juga tidak bisa menahan, mereka menangis ikutan sambil menenangkan Anggrek yang menangis itu. Pelukan Bunga dan ibunya yang membuat Anggrek merasa ada. Hangat tubuh mereka bertiga jadi satu-satunya hal yang masih nyata.
Kemudian malam hari itu tiba. Lampu kamar dimatikan. Semua tertidur pulas karena lelah menangis. Bunga mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk sampai ia tidak tenang karena teringat kejadian kematian kedua orang tuanya. Dalam mimpinya, ia melihat lagi rumahnya ambruk, mendengar lagi suara ibunya memanggil namanya sebelum tertimbun. Ia terbangun dengan keringat dingin, dadanya naik turun. Anggrek merasa hidupnya kosong. Bunga merasa hidupnya tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan. Ia menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Seolah-olah besok sudah akhir dari kehidupan itu. Karena Bunga sudah tidak kuat lagi. Dan dalam kata-katanya yang hanya terdengar di dalam kepalanya sendiri:
"Aku ingin mati agar diriku tenang di alam sana. Aku tidak tahu apakah aku akan disiksa terlebih dahulu untuk menuju surga. Dan surga yang kuharapkan mungkin kujalani ke dalam neraka. Aku lebih baik masuk neraka daripada aku terus-terus menderita. Mungkin di neraka aku hanya disiksa, terlebih aku sudah terbiasa disiksa, daripada aku membebani Anggrek dan ibunya yang sudah susah. Aku ingin menuliskan untuk Anggrek, karena Anggrek sahabatku."
Bunga menuliskan sepucuk surat terakhir sebelum mengakhiri dirinya. Ia merobek kertas dari buku tulis lusuh yang entah dari mana asalnya. Tangannya gemetar saat menulis, air matanya jatuh membasahi sebagian tulisan.
Kemudian Bunga menjatuhkan dirinya dari lantai lima belas. Angin malam menerpa tubuhnya sesaat. Nyawanya pun melayang.
***
Esok paginya, suara sirine dan kerumunan warga membangunkan Anggrek dan ibunya. Tanda polisi ada. Anggrek dan ibunya kaget melihat itu, terlebih ketika Anggrek membaca surat terakhir Bunga yang diselipkan di bawah bantalnya. Anggrek merasa dirinya ditinggal oleh sahabatnya sendiri. Tangannya memegang surat itu erat-erat sampai kertasnya kusut. Anggrek semakin marah terhadap takdir yang semakin meregutnya, dan Anggrek akan terus bertekat untuk memerangi apa yang sudah direnggut, termasuk sahabat sendiri. Dan Anggrek sadar yang membuat Bunga seperti ini adalah trauma atas kejadian kematian kedua orang tuanya.
"Dasar ekskavator iblis! Kau robohkan saja lava-lava di neraka!" dalam gumamnya.
Matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi di kejauhan.
Keesokan harinya setelah Bunga ditemukan, Anggrek tidak bisa berhenti menangis. Ibunya hanya bisa diam memeluknya dengan air mata yang tak henti-hentinya jatuh membasahi pipi keriputnya. Anggrek memegang erat surat Bunga yang kusut karena air matanya sendiri. Surat itu tertulis dengan tulisan tangan gemetar di atas kertas yang sudah lecek:
"Anggrek, maafkan aku. Aku sudah tidak kuat lagi. Jaga ibumu. Jangan jadi seperti aku. Kalau kau hidup terus, perjuangkanlah hidup itu walau neraka yang kau rasakan. Karena mungkin di neraka sekalipun masih ada secercah harapan yang tidak kita lihat. Aku sayang kamu, sahabatku."
Anggrek kemudian berdiri di depan jendela kosan yang sempit itu, menatap langit kota yang kelabu penuh polusi dan asap kendaraan. Dari balik kaca jendela yang berdebu, gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang seperti monster-monster beton.
"Bunga, kau tenang saja. Aku tidak akan menyusulmu sekarang. Aku akan hidup dulu. Aku akan lihat sampai mana kezaliman ini berjalan. Aku akan jadi saksi, dan suatu saat aku akan teriakkan semua ini," ucapnya lirih.
Tangannya mengepal kecil di sisi tubuhnya. Ibunya hanya bisa mengusap punggung Anggrek pelan-pelan, tidak berkata apa-apa karena semua kata sudah habis untuk ratapan.
Mereka berdua kemudian memutuskan untuk tidak kembali meminta-minta di lampu merah. Ibunya mencari pekerjaan menjadi buruh cuci di rumah orang kaya, sementara Anggrek menjadi pemulung, memungut botol dan kardus bekas di pinggir jalan raya yang sama dulu mereka meminta-minta.
Suatu sore, di tumpukan sampah dekat lampu merah, Anggrek menemukan sesuatu—sebatang ranting kering dengan bunga plastik lusuh tersangkut di ujungnya. Entah kenapa, itu mengingatkannya pada pohon-pohon di desanya dulu. Ia memungutnya dan menyimpannya di saku. Di setiap langkah kakinya, Anggrek selalu menatap tajam ke arah gedung-gedung tinggi tempat para pengusaha itu bernaung, dan dalam hatinya ia berbisik sambil menggenggam ranting kering di sakunya:
"Suatu hari nanti, aku akan robohkan kalian seperti kalian merobohkan hutan kami, merobohkan ayahku, merobohkan Bunga."
Dan Anggrek pun terus berjalan di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah peduli. Ranting itu tetap ada di sakunya, menjadi saksi bisu dari tanah yang telah direnggut.
______
Penulis

Rafif Abbas Pradana, lahir di Bekasi pada 25 Oktober 2004. Ia merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kajian Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) periode 2026.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, April 25, 2026

Resensi Kabut | Tawa (Tidak) Tamat

Oleh Kabut



Kenangan kita banyak yang bersumber masa sekolah atau masa di SD? Pada saat masih kecil dan bertumbuh remaja, biografi kita sangat ditentukan oleh sekolah. Ribuan hari digunakan untuk belajar di sekolah. Kita sebenarnya lelah tapi bingung dalam membuat perlawanan. Pemerintah berpikiran sekolah membuat kita pintar, yang nantinya bisa berguna untuk Indonesia. Keluarga pun berharapan yang sekolah kelak mampu mendapat pekerjaan yang gajinya besar ditambah kehormatan. 


Sejak dulu, belajar di sekolah itu sangat penting dan wajib. Anak-anak yang tidak berada di sekolah dianggap masalah negara dan keluarga. Masyarakat prihatin bila mengetahui ada anak-anak atau para remaja yang tidak mengenakan seragam untuk belajar di sekolah. Hidup yang terkutuk dengan belajar dan mengesahkan kuasa sekolah selama bertahun-tahun.


Adakah kegembiraan atau kebahagiaan selama di sekolah? Kita pernah mengalami, juru pernah gembira tapi tidak melupakan segala penderitaan. Gembira itu bergaul dan bermain bareng teman-teman. Apada yang membuat kita menderita? Masuk pagi itu derita yang berulang. Mata masih mengantuk dan tubuh yang malas dipaksa harus berada di sekolah setelah matahari terbit. Derita yang lain adalah berada di depan tulis. Murid yang diharuskan menjawab walau tidak tahu apa-apa. Nilai ulangan yang jelek menimbulkan malu. Kenyataan tidak naik kelas adalah derita yang terbesar. Artinya, sekolah menjadi tempat penuh penderitaan. Apakah kita ingin menyangkalnya setelah berumur tua?


Kita tidak boleh melupakan adanya beberapa kebahagiaan. Ada yang teringat. Ada yang terlupa. Sekolah memberi kebahagiaan, yang membuat belajar tidak melulu pusing dan beban berat. Apa-apa yang membuat bahagia? Kita bisa membuat daftar pendek atau panjang. Bagaimana caranya memastikan bahwa sekolah boleh tetap ada asal banyak membahagiakan?


Bantuan untuk membuka ingatan berupa buku cerita anak yang berjudul Dunia Penuh Tawa yang ditulis Soekanto SA. Judulnya bagus tapi gambar di kulit muka (depan) jelek. Pihak penerbit membuat kesalahan besar! Sampul depan justru menimbulkan kesan jelek. Pilihan gambar dan pewarnaan yang membuat anak-anak berhak melewatkannya atau tidak membacanya. Mengapa buku bermuka buruk itu lolos dalam proyek Inpres, yang akibatnya dicetak ribuan dan disimpan di banyak perpustakaan di seantero Indonesia? 


Semula, orang mengimajinasikan tawa bersumber judul. Akhirnya, sedih melihat gambar empat murid yang disajikan secara sembarangan. Siapa yang membuat gambar. Yang pasti ia adalah perupa dan ilustrator terkenal: Sri Widodo. Apakah kesalahan juga dilakukan oleh penata letak? 


Kita tinggalkan masalah gambar di sampul depan. Percayalah bahwa cerita yang ditulis Soekanto SA itu bermutu. Sejak masa 1950-an, ia sudah rajin menulis cerita-cerita sekaligus berperan dalam terbitan majalah. Pada masa Orde Baru, ia makin rajin menulis cerita, yang terbit di majalah-majalah. Pada misi yang besar, buku-bukunya terbit, yang turut meramaikan pesta buku anak di Indonesia menggunakan anggaran pemerintah.


Yang diceritakan adalah murid yang bernama Klino. Ia dikenal sebagai anak yang usil, nakal, lucu, dan lain-lain. Di sekolah, ia sering membuat ulang yang berakibat mendapat hukuman. Apakah anak itu kapok dan bertobat? Yang terjadi, setiap hari di sekolah, ia membuat keributan. Anak yang tidak masuk daftar pintar tapi tidak pantas dibilang bodoh. Yang jelas ia murid kelas lima, yang membuat kelasnya bergejolak. Kelas yang mencipta beragam kebahagiaan dan penderitaan. Pengarang tidak menyusun daftar. Namun, Soekanto SA mengundang pembaca memihak tawa setiap mengikuti ulah Klino dan teman-teman. Sekolah berarti tempat terbaik untuk tertawa. 


Kita menyimak omongan guru kepada Klino setelah terjadi gegeran di kelas: “Jadi, engkau, Klino, mengaku? Engkau yang mengikatkan rambut kawan-kawanmu tadi? Lalu, mengapa? Coba katakana kepadaku, mengapa hal itu kau lakukan? Mengapa kau mengganggu anak-anak perempuan? Mengapa bukan kawanmu yang sebaya, kawanmu yang laki-laki? Mengapa bukan Suardi, kawanmu yang besar badannya itu? Kau takut? Tidakkah kau takut bahwa suatu waktu engkau akan dibalas orang lain yang tidak kausangka? Kau tahu Klino, kalau engkau baik, semua orang di dunia ini tentu baik kepadamu. Mengerti?” Klino berulang mendapat khotbah dan hukuman. Ia merasa menderita dan malu? Apakah ia justru bahagia dengan segala usilnya? Yang terpenting, teman-temannya tertawa bila ada dirinya yang suka membuat ulah-ulah mengejutkan. Jadi, pengarang salah membuat judul, semestinya “Sekolah Penuh Tawa”.


Di rumah, Klino tetap bikin masalah. Bapak dan ibunya menyadari bila Klino tidak suka belajar atau mengerjakan PR. Yang diinginkannya adalah bermain dan senang-senang. Bapak dan ibu khawatir nilai-nilainya di sekolah jelek. Bagaimana dapat naik kelas? Klino mengerti bapak dan ibunya berharap dirinya pintar. Padahal, ia sulit pintar tapi bukannya bodoh. Kita yang membaca boleh mengandaikan menjadi Klino. Belajar di sekolah dan rumah itu membosankan. Belajar yang mengganggu bermain dan kesenangan-kesenangan lain. Kita berharap tak usah ada kewajiban belajar di dunia. 


Klino mendapat banyak kalimat bapak saat hari penerimaan rapor: “Kau tahu buktinya, bukan? Engkau terlalu memandang enteng pelajaran. Terlalu banyak mendahulukan tontonan dan bersenang-senang daripada pelajaran. Tidak menurut kata orang tua. Kau tahu betapa susah payah orang tuamu menyekolahkan engkau supaya kau kelak menjadi anak pandai. Anak yang berbahagia karena pada hari dewasanya telah mempunyai senjata untuk mempertahankan hidup. Kau belum mengerti betapa kecewaku, kecewa ibumu. Sudahlah…” Kita iba melihat nasib Klino, anak yang bermasalah di tatapan guru dan orang tua. Dulu, kita pun seperti Klino. Semua gara-gara kewajiban memahami banyak mata pelajaran, yang dinilai dan menentukan naik kelas. Apakah akhirnya Klino menyerah? Ia tetap saja merayakan hidup dengan segala ulah, yang membuat teman-temannya tertawa ketimbang sedih sampai kiamat atau menangis yang menghasilkan sungai dan laut.


Yang terjadi, Klino berhasil naik kelas enam. Ia bertambah usia. Apakah bertambah ilmu? Klino malah bertambah “akal” dan “khayal” agar teman-temannya tidak merasa mendapat siksaaan selama belajar di sekolah. Tugas mulia Klino adalah menghibur dengan beragam cara. Murid yang bukan pintar tapi memastikan sekolah tidak menjadi penjara atau kuburan.


Beruntunglah sekolah itu memiliki Klino. Sosok yang menentukan pasang-surut kebahagiaan di sekolah, terutama kelas 6. Pembaca mengakui bahwa Klino adalah manusia terpilih: “Sudah beberapa hari, suasana kelas agak lengang. Mengapa gerangan? Bangku kedua pada barisan di pinggir kiri kosong. Klino tidak tampak. Seolah-olah Klino adalah pusah kegembiaraan kelas, maka kini menjadi lengang.” Murid-murid tidak tahan dalam lengang. Maka, mereka menuju rumah sakit, menebus kangen dan ingin menghibur Klino. Peristiwa yang membuat pembaca ikut terharu. 


Sekolah tanpa kehadiran Klino bisa bubar. Pembaca berani menganggap jika Soekanto menggubah cerita humor. Cerita yang menghibur anak-anak. Buku yang sangat cocok menjadi koleksi di perpustakaan untuk bergantian dibaca murid-murid. Bacalah novel itu ketimbang buku-buku pelajaran!


Bab terbaik dalam cerita adalah pidato Klino dalam acara perpisahan kelulusan. Klino yang tidak masuk golongan pintar berhasil lulus. Ia dipilih memberi pidato penting di hari-hari terakhir sebelum meninggalkan SD. Kita ikut mendengar dan menyaksikan: “Maka dari itu, dengan ini, atas nama kawan-kawan, kami mohon supaya bapak-bapak dan ibu-ibu guru dan terutama bapak kepala sekolah, sudilah melebur dosa kami. Mohon doa restu pula agar supaya kami tetap menjadi anak nakal. Oh, maaf, keliru, anak yang pandai dan bertanggung jawab serta selalu membayar uang sekolah tepat pada waktunya. Tidak pula menggunakan uang itu untuk pergi ke bioskop….”


Buku itu mencantumkan “tamat” di halaman 72. Kita membaca tanpa lama dan tak berhenti tertawa meski buku sudah ditutup. Soekanto SA berhasil membuat cerita anak yang penuh tawa. Cerita sering berlangsung di sekolah. Cerita yang mengurangi beban berat dan kutukan bagi kita yang mengenang pernah menjadi murid di SD. Buku boleh cetak ulang pada abad XXI saat lakon sekolah sudah sangat berubah.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Sunday, April 19, 2026

Puisi-Puisi Nadia Mayasari

Puisi Nadia Mayasari




Risalah


Kita tak harus selalu bersama

Kita telah bersepakat bahagia

Jika aku sekarat setidaknya aku lebur di matamu

Yang kerap kali menyisakan puing-puing kerinduan 

Sampai tiba ajal mendekat dan Izrail membawa pada kehidupan abadi 


Sekali lagi aku berdoa

Tuhan akan mengirimku kembali ke dunia

Menjadi kekasihmu yang tak akan lebur

Meski Izrail memanggilku. 


Tidak, aku akan kembali menjadi kopi

Yang kerap kali kau minum pagi hari

Lalu, mulutmu mencicip dan mencium aromaku—setiap hari.


Cipanas, 20 Maret 2026


Kopimu


Ke mana harus berlabuh?

Kapal yang ditunggangi tak bernakhoda

Terbentur

Terbentur

Terbentuk

Luka di badan membuat terombang-ambing di lautan

Meski sudah diperbaiki

Agaknya tak bisa kembali semula


Ke mana harus berlabuh?

Dermaga itu tak menerima kapal yang usang


Oh, Tuhan

Karang yang kokoh tak lebih kokoh dari keyakinan pada-Nya

Ombak yang kuat tak lebih kuat dari doa

Laut yang terbentang lebih luas dari dosa 


Dan, Tuhan mengirimkan ikan paus

Lalu meloncat dari kapal yang usang itu

Kemudian, kegelapan seperti abadi


Serang, 15 April 2026



Rudatin


Andai kau mengerti kondisi sekarang

Ibu sudah tak bisa menangis

Sebab isak tercekat oleh menu MBG

Tiga ratus lima puluh ribu ibu terima

Dengan harapan dan ikhlas yang mengendap di amplop gaji 


Kadang ingin bercerita, mengadu, dan berkeluh kesah

Namun, suar Ibu tak cukup kuat menembus telinga pemerintah

Ibu berpesan kepadaku

"Nak, jika besar nanti pergilah ke luar negeri dan belajar di sana"

Setidaknya kau tidak mendapat menu MBG sepotong tempe dan tiga butir lengkeng


Serang, 15 April 2026


______


Penulis


Nadia Mayasari, dunia mengizinkannya lahir pada 23 November 2004 di Lebak Banten, bagian timur perbatasan provinsi Jawa Barat dan Banten. Pernah mengikuti antologi puisi saat duduk di bangku SMP. Terkadang menulis puisi, lalu membacakannya di komunitas tercintanya: Belistra. Menjadi Juara 2 FLS2N saat duduk di bangku SMP melalui cabang baca puisi. Sejak saat itu mulai mencari jati diri pada puisi dan merambat ke penulisan lainnya, seperti esai. Saat ini sedang diamanahi belajar di perguruan tinggi negeri dan sedang bimbang karena banyak kebutuhan tapi minim pemasukan. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Rambu di Tanah Abu | Cerpen Angelina R. Wawo

Cerpen Angelina R. Wawo



Saya tidak lagi mendengar ombak sejelas dulu. Syukur-syukur jika desir angin mampir di telinga. Angin yang membawa bau asin dan sedikit kabut gosong dari sisi timur. Di sini, dari kursi roda yang macet-macet, saya memandangi langit jingga yang perlahan menjadi biru gelap. Di kejauhan sana, tampak samar, beberapa perahu nelayan melintas, seperti bayangan kecil yang menolak pulang.


“Ramai sekali orang-orang itu, Nene,” kata Ine, cucuku, seraya menutup jendela, “kabarnya, siang tadi ada orang yang bakar tempat ibadah.”


Teras rumah kami berhadapan langsung dengan pantai, cukup dekat, hingga mata rabun ini masih mampu melihat titik-titik hitam bertebaran di langit jingga sembur kebiruan. Tidak saya jawab Ine yang mengantar secangkir teh hangat, hanya kusambut gagang cangkirnya dengan jemari sedikit gemetar. Bukan saya tidak mau menjawab, hanya saja kabar itu buat saya sudah lebih dulu dibawa burung dan jatuh disapu angin laut yang bercampur kelabu.


Telinga saya begini-begini masih cukup bisa diandalkan, lolongan anjing, makian, perdebatan, dua logat yang kontras jadi satu, hingga sebutan Tuhan dan Allah yang saling sahut. Suara yang agaknya tak asing di telinga, suara yang membuat saya ingin memejamkan mata dan berpura-pura sudah mati saja.


Dong bilang, jarak hanya dua puluh meter sa, su bagaya bangun tempat ibadah. Sedangkan kita, harus jalan kaki tiga kilo memang ke paroki di kampung seblah!” teriak salah seorang lelaki paruh baya.


Ine mulai mendorongku masuk, membelakangi pantai yang sudah sepenuhnya hitam dimakan gelap malam. Tangan rampingnya membilas kain dan mengusap pelan ke sekujur tubuhku. Ine yang manis, mimik dan cantiknya persis saya waktu itu. Waktu surga dan neraka jadi satu. Ketika amarah manusia tidak butuh logika yang rapi untuk terbakar. Bara yang tertumpuk di dada meledak beriringan bersama dendam.


***

Tiga puluh tahun lalu, saya masih kuat berdiri di balik meja panjang dengan botol-botol minuman berderet dan lampu disko yang berputar liar di langit-langit. Kulit cokelat dan rambut keriting yang kukuncir tinggi bergoyang mengikuti langkah yang sibuk menyeimbangkan nampan hitam besar dengan pinggiran sulur emas.


“Paulina, another beer, please!” kata pria tinggi yang kontras bagai bidak catur jika didudukannya dia dengan saya.


Dia salah satu pria yang tidak mengadopsi paham bahwa wanita lokal se-Kuta, Bali, rela membuka lebar kakinya dengan sekali siulan bule. Maka dari itu, bekerja dengannya tidak sama sekali membuat saya kepayahan. Oliver, kasir, dulunya traveler modal nekat yang kemudian jadi homeless, dan kini giat bekerja demi kembali ke negara asalnya USA.


Saya ingat betul, Saturday night, pertengahan Oktober tahun 2002, pelanggan ramai riuh, antrean padat merayap. Benar apa yang dikata orang-orang, Paddy’s Pub tak pernah hilang ketenarannya, kawan membawa kawanannya, yang saya tahu banyak bule negeri kangguru. Mereka menjejali setiap sudut dengan botol di tangan dan mata memerah, namun anehnya masih liuk, di bawah dentuman dan bau alkohol yang menusuk.       


“Pau, handphone-mu bunyi terus!” kata kawanku, Wayan, pelayan pub, seperti saya.


Rumahnya masih di Legian, setiap berangkat, wanita Bali itu hanya modal kaki saja. Ia keluar dari pintu bertulis ONLY STAFF, berkata santai sedikit menekan, saya tahu bebannya banyak, Wayan punya lima saudara dan bapak yang lumpuh, sedangkan ibunya, wafat saat melahirkan si adik bungsu.


Sebagai wanita kampung dari Timur yang mengadu nasib, sebuah hal yang patut dibanggakan adalah saya punya telepon genggam. Keluarga di kampung tahunya saya anak pintar, mereka rela menjual kerbau di bawah harga pasar, semata-mata demi menitipkan saya di kota untuk pergi SMA.


Sayangnya kepintaran itu di Pulau Dewata, hanya menghantarkan saya di bawah kelipan lampu berwarna-warna. Dan sialnya lagi, orang tua di kampung tidak tahu akan hal itu. Intinya,  nona jang lupa kirim uang bulanan.     


Tapi, kini, yang saya terka-terka adalah siapakah yang menelepon itu. Sementara kontak saya hanya berisi lima, dan kelimanya ada di Paddy’s Pub bersama saya. Namun saya tak pernah lupa, menulis deretan angka pada surat yang saya terbangkan di pulau Marapu sana. Jangankan punya handphone, sinyal sa, kadang ada kadang tidak.


Saya isyaratkan tangan ke atas, meminta izin Oliver ke belakang, memuaskan rasa penasaran yang mengganjal. Kini pukul 21.00 Wita, suara getar menggema di lorong loker milik para pelayan, sesuai kata Wayan, itu adalah ponsel saya.


“Halo! Halo...!”


“Kaka Rambu?” tanyaku, mencoba mengenali suara itu, “Ih, su di Bali?”


Tak ada jawaban, agaknya si penelepon kebingungan musti menjawab apa.


“Ini pakai hape sapa? Kenapa tiba-tiba begini, Kaka? Baru anak bayi bemana?” pertanyaanku mencecarnya.


Sekali lagi tak ada jawaban. Beberapa detik setelahnya hanya ada tangis.


Sa su bilang to Kaka, tir usah urus itu, Mama itu sakit. Jang terlalu percaya Rato Adat!”


“Baru kaka ada di mana? Su di Legian?”


***


Jantung Rambu bertalu-talu, keringat mengguyur sekujur tubuh. Kapal yang bersandar tadi subuh, menghantarkannya berjam-jam kelimpungan mencari saya. Seharian penuh perempuan yang baru melahirkan tiga bulan lalu itu berkelana di Denpasar, ditipu ojek, hingga dicopet. Setidaknya, dia menemukan satu warga Bali yang baik hati, yang meminjamkan handphone sekaligus pulsa untuk menelepon saya.


Saya juga musti berterima kasih kepada Wayan, sebab risih mendengar ringtone ponselku. Seandainya tidak, mungkin saja Rambu sudah di antah berantah atau paling sialnya bertemu pria mabuk di Legian.


“Mama minta ko pulang cepat,” katanya.


Tangan kasar Rambu menangkup kedua pipi saya, tangan yang bagi saya serbabisa, tangan yang mengurus segala peliknya rumah besar dan adatnya. Memang saya yang tugasnya bayar membayar, tapi dibandingkan Rambu, pekerjaan ini agaknya hanya seperlima lelahnya.


“Mama ada mimpi, di tengah laut ada yang terbakar,” katanya, “Rato Adat ju su marah besar, mari nona ikut Kaka ya, kita pulang,” sambungnya.


“Kita omong lagi ya, Kaka ikut sa pigi tempat kerja, nanti kita pulang sama-sama.”


“Nona masih kerja jam begini?” Ia keheranan.


Alis Rambu menukik tajam, khawatir jelas di wajah tirusnya, di surat-surat yang saya terbangkan, hanya saya sebut bekerja sebagai ‘bekerja’, saya ubah waktu pagi jadi malam hari, nyatanya yang terjadi adalah kelelahan di pagi buta.


“Aduh, panjang ceritanya, Kaka duduk-duduk dulu di sana ya, baru kita pulang nanti. Tidur dulu juga tidak apa-apa.”


Kami berjalan beriringan, meski sama-sama dilahirkan dari rahim yang sama, rupa Rambu jauh berbeda. Rambu wajahnya lonjong, rambut panjang bergelombang, dan kulitnya putih bersih. Banyak yang bilang Rambu justru mirip orang Sabu. 


Sepanjang perjalanan tenggorokan saya seperti terselip kerikil. Telapak tangan kasar Rambu menggenggam jemari saya erat-erat. Matanya bergerak liar di sepanjang trotoar ramai yang kami lewati. Kini pukul 21.40 Wita, makin malam, Legian makin menyala. Tulisan Welcome to Paddy's Pub tidak bikin Rambu buka suara, meski saya yakin ada ribuan tanya di kepalanya. Namun Rambu adalah si penurut dari dulu.


***


Sudah kukantongi izin dari Oliver, bahwa malam ini, akan dihitung setengah hari kerja. Rambu masih di lorong loker Paddy’s Pub, mungkin saat ini sedang memakan nasi kotak, jatah makan para pelayan. Kini, kaki saya melangkah menjauhi Paddy's Pub dan kembali menyisir trotoar. Agen travel adalah tujuan saya.


Rambu harus pulang secepatnya. Legian bukan tempat Rambu, pun Mama yang kini terbaring sekarat dikelilingi keluarga yang lain, tidak saya biarkan kepala Mama terus dicuci hingga menguras kembali seluruh hewan ternak. Apalagi suami Rambu yang bodoh itu, tidak mungkin bisa menjaga anak mereka yang masih berumur tiga bulan. Sebab bagaimana pun mereka lebih percaya Rato Adat daripada dokter.


Saya akan membelikan Rambu sebuah tiket pesawat, esok kami akan jalan-jalan keliling Kuta hingga puas, membelikan banyak oleh-oleh untuk mama dan keponakan. Setelah itu, Rambu harus kembali pulang.


Pukul 22.30 Wita, saya melihat sebuah minibus di lampu merah. Tepat di depan kios agen travel yang kini sedang sibuk memasukan data dari fotokopi KK yang saya berikan. Warnanya putih, di bagian kemudi duduk tiga orang yang masing-masing tampak begitu serius, si pengendara mengucapkan kalimat panjang, kemudian mulut mereka seirama, sembari mengepalkan tangan ke atas. Pemuda di bagian kiri, yang paling jelas saya lihat, mengenakan sebuah rompi hitam, dia mengedip terlalu banyak, pun menghela napas terlalu dalam. 


“Terima kasih ya, Bli,” kataku pada si penjaga agen travel.


Lampu merah berganti hijau, amplop putih bertuliskan nama Rambu sudah siap menghantarkan kakakku kembali ke Marapu. Sayangnya, kaki saya urung berjalan ke arah Legian, saya  ingin berbelanja dahulu untuk Rambu, perlengkapan mandi dan tidur yang nyaman.


Hampir lima belas menit sudah saya mengelilingi rak-rak mini-market. Saya membayangkan betapa senangnya Rambu dengan lesung pipinya, mengatakan ih kamu ni repot-repot sa hingga berpuluh-puluh kali. Lima menit selanjutnya habis di antrean kasir. Sungguh, meski waktu bertulis 22.50 Wita, Bali, sedetik pun tak pernah sepi, kecuali saat nyepi.


Perjalanan kembali ke Paddy's Pub menghabiskan sekurangnya dua puluhan menit berjalan kaki. Tidak ada salahnya membeli dua botol kopi dingin yang akan menemani acara mengobrol kami. Kini, saya benar-benar kembali berjalan ke Legian. Menenteng dua kantung besar agaknya bikin jalan saya sedikit melambat. Padahal, di kampung sana, Rambu biasa membawa dua jeriken besar penuh air naik turun bukit. Sudah terlalu payah memang saya disebut sebagai Nona Sumba.


Sementara saya tersenyum geli mengingat-ingat masa lalu, di seberang suara dentuman besar dahsyat, orang-orang seketika melihat ke arah Paddy's Pub. Ledakan itu dari sana. Mata saya seolah melonjak ingin keluar. Satu-satunya yang ada di kepala saya hanya Rambu yang duduk di lorong loker pelayan.


Belum sempat menerka-nerka, kaki saya lebih dulu berlari, menyelip kegaduhan Legian yang ingin ditinggalkan. Orang-orang meneriakkan kata “teroris” berulang kali. Sementara itu Rambu masih di dalam, Rambu kakakku masih di lorong itu sendirian.


Beberapa belas detik setelahnya langit merah nyala, tubuh saya terlempar hawa panas, melayang sepersekian detik dan  menghantam trotoar. Rupanya, Rato dan mimpi Mama memang benar adanya. Maafkan saya Rambu, kakakku sayang, saya tidak bisa memberimu alas tidur yang lebih nyaman.


***


Aroma hangus dan dentuman keras itu tidak pernah pergi, menempel di kulit, di rambut, di sekujur tubuh dan ingatan saya. Paddy’s Pub mungkin sudah kembali menjadi bar ramai dengan gemerlap warna-warni. Tapi tanah itu, bagi saya, masih menyimpan bara, menunggu sewaktu-waktu manusia lupa lagi, menunggu satu pericikan kecil menyala lagi.


Rambu tidak pernah ditemukan, setidaknya mimpinya ada yang jadi kenyataan, menyusul saya merantau ke kota. Keinginan mama juga jadi nyata, meski sebulan setelahnya, Mama terlalu merindukan Rambu. Lidya, bayi umur tiga bulan itu juga ditinggal bapa-nya saat genap berumur tiga tahun, membuat saya berganti nama menjadi Mama Lidya. Kemudian, Lidya melahirkan Ine, cucuku, pun ikut serta merindukan bapa dan mamanya.


Dan hingga hari ini, saat saya hanya mampu duduk di kursi roda ini, saya tetap tidak paham mengapa ada saja orang-orang yang dengan mudah menghilangkan nyawa dan nama orang lain hanya atas nama Tuhan masing-masing.


Keterangan:

Cerpen ini terinspirasi dari tragedi terorisme Bom Bali I (Oktober, 2002)


______


Penulis

Angelina R. Wawo, lahir 31 Januari 2003. Saat ini aktif berkesenian di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pernah terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Beberapa tulisannya dimuat di media. Dapat bertukar kabar melalui @angelwa.woo.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com