View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, March 29, 2026

Cerpen Bella Paring Gusti | Kabel dan Sarang-Sarang di Kepala

Cerpen Bella Paring Gusti



Mata ini terus terpancang pada cermin. Pasalnya kutemukan sosok yang amat gersang di sana, dengan kepala bersarang, mata milik orang lain, kulit pucat, juga dada yang berdetak tanpa inti, seperti jam tanpa jarum. Sejurus kemudian tangan-tanganku merengkuh tubuh yang menggigil, berusaha menepis kenangan-kenangan yang menggerogoti dari dalam.


Perlahan namun pasti, sepasang netra di bayangan cermin itu mulai menghitam dan cekung. Aku terkesiap, buru-buru bangkit. Tenggorokanku mendadak terkancing oleh sesuatu yang pelik. Kusaksikan ubin lantaiku meretak, dan pecahannya mulai merambat, dan berusaha menggapai-nggapai kakiku yang malang.


Tak kusangka tubuh ini mempunyai gerak refleks cepat untuk menarik tas besar setelah sebelumnya kuisi dengan barang-barang. Kini jantungku berguncang begitu keras seolah-olah ada di dekat telinga. Bagaimanapun aku harus cepat menyingkir dari sini, menemukan kenangan lain demi mendepak keluar kenangan hampa yang telah mengakar kuat.


Sebelumnya, telah kukabarkan keinginanku ini kepada adik, dan ia bersedia ikut serta. Kami melangkah hingga akhirnya tiba di sebuah pelataran luas di mana lantainya yang mengkilap tak berhenti memantulkan langkah-langkah orang sibuk di roda kepala masing-masing. Aku duduk di salah satu kursi dingin sambil menerawang jauh. Menatap ke arah burung-burung raksasa yang berbaris siap untuk ditumpangi.


Kelebatan langkah orang-orang seakan kilasan bayangan pada sebuah kamera lawas. Mataku menangkap sebagian besar orang mempunyai kepala bersarang seperti milikku. Apakah mereka juga hendak pergi demi mengganti kenangan itu dengan kenangan baru di tempat lain? Untuk sejenak sejumlah cuplikan gambar menyekap benak ini: tangan-tangan muda yang mencengkeram map portofolio kerja dicerabut paksa dan dijual ke luar negeri, sirene ambulans meraung ngilu mengangkut orang-orang yang patah semangat dan terkikis ekonomi, peluh menetes di tiap dahi para pejuang di susur jalan, air mata menitik jatuh meratapi negerinya dikungkung awan gelap panas, sementara sejumlah petinggi mereka bermandikan sampanye dan uang. Kakiku tegas menancap lantai, semakin yakin bahwa aku harus mencari kenangan lain di suatu tempat nun jauh.


Aku dan adikku mulai merayap di antara lautan kepala-kepala bersarang lain. Kami lantas melayang tinggi ke udara, di bawah kepak sayap burung raksasa untuk meninggalkan gugusan pulau hijau yang dilindungi oleh cakar seekor garuda perkasa. Negeri yang konon kabarnya kaya raya.


Tak berapa lama pandanganku karam pada awan-gemawan yang meriung dan meliuk-liuk lembut. Seharusnya aku senang bukan kepalang. Tapi kenyataannya aku tak dapat melupakan kenangan-kenangan tersebut. Tiap matahari menyiramkan terik, maka aku mengingatnya. Bertumpukan menjadi kenangan yang masam, sedih, dan kosong. Suara alunan musik dari langit sayup-sayup terdengar tragis.


Sungguh kenangan itu tergambar sepi di pelupuk mata dan benak, teramat menyiksa otak dan sanubariku. Kau pun tahu bahwa banyak kejadian lama menjadi hampa jika dikenang kembali. Menyemburat kelabu seperti video dokumenter. Lembap seperti kayu lapuk. Astaga! Benar, kan? Perasaan akan kenangan itu tetap mengendap seperti kabut yang turun pada kesunyian bukit-bukit!


Mataku panas dan akhirnya terisak pelan. Aku membenci kabut dan bukit-bukit.


Tanpa terasa detik jam yang selalu berputar mengantarkan kami pada tempat tujuan. Aku menghela napas panjang ketika mata ini langsung disuguhi oleh penampang negara eksentrik dengan langit berbeda, dengan matahari yang berbeda, tanah yang jelas berbeda, kelembapan udara berbeda, dan tentu saja kenangan yang berbeda pula nanti. Aku kemudian melangkah dibersamai oleh sepasang kaki adikku. Namun, anehnya kami sama-sama membisu, sama-sama berkutat pada pikiran masing-masing setelah bertemu warga sipil di sini.


Sebagian besar dari mereka memiliki mata seperti buah badam. Kulitnya bersih kepucatan, bahkan lebih pucat dari bayanganku sendiri di dalam cermin. Rahang penduduk asli ini tampak tegas sehingga menimbulkan kesan kaku, didukung oleh fitur wajah yang minim ekspresi. Belum lagi langkah tergesa-gesa yang mereka ambil. Aku jadi teringat robot buatan negeri seberang yang mengimitasi manusia.


Mendadak berembus angin dingin di sela sarang yang terbangun di kepala tatkala netraku memindai mereka lebih detail. Aku menyadari sesuatu yang lebih mencengangkan: di kepala-kepala mereka tak ada satu sarang pun yang mengendap dan berkembang biak layaknya milik kami, milik bangsa kami. Tetapi orang-orang berkulit pucat ini punya banyak saluran kabel di dalam kepalanya. Tak pelak aku menyaksikan timbul percikan listrik di dalam sana barang sekali dua kali.


Diam-diam aku mengerutkan kening, mencoba menyelami apa yang terjadi dengan negara ini. Orang-orang bahkan tak melirik kami sama sekali. Mereka terus melangkah tersental-sental lurus seolah tujuannya hanya di depan mata. Salah satu sosok yang tak sengaja berpapasan denganku membuatku terjingkat. Seorang wanita cantik dengan penampilan elegan ala metropolitan justru konslet kepalanya. Bunga api merecik, mulai melebar, lalu melahap sebagian besar kabel-kabel di dalam. Oh, betapa hebatnya ia tetap tak menunjukkan ekspresi apa pun.


Hal ganjil berikutnya yang kusadari dari perempuan itu adalah urat-urat di sekitar rahang dan pelipisnya yang membiru. Perhatianku jadi terlempar dan melompat-lompat dari satu orang ke orang lain. Sialnya aku baru memperhatikan bahwa mereka memang memiliki urat berdenyut kebiruan yang menjalar di bawah kulit. Amat biru bagai disengat es. Dada mereka pun tampak beku. Retakan mulai terjadi di mana-mana sejauh mata memandang.


Untuk sesaat mata ini malah saling bertumbukan dengan mata milik adikku. Aku menebak apa yang dipikirkannya sebab mukanya begitu pucat. Kemungkinan benak kami sama: di tempat ini ada hal yang lebih gawat dari negeri asal kami.


Terlepas dari warga sipil yang nyaris seperti mayat hidup, negeri ini sesungguhnya menyimpan sudut-sudut yang mengagumkan. Sejauh mata memandang, netra ini disuguhi oleh keindahan puri-puri modern, juga peletakan detail ornamen yang serba futuristik. Aku jadi merasa sedang terlempar ke seribu tahun mendatang.


Kami pun bertingkah sebagaimana burung pipit yang mengirap sayap. Beterbangan ke sana kemari, bertengger ke satu tempat ke tempat lain. Kami sibuk menyambangi toko kue enak, mampir di sejumlah gerai pakaian yang sudah menjelma menjadi pusat mode, serta menikmati minuman segar untuk memulai kenangan baik di tempat ini.


Memoriku mulai giat merekam apa saja yang tertangkap indra: segala sesuatu yang kiranya dapat menumpuk kenangan-kenangan lama. Aku bersyukur akan udara yang kami hirup, akan jalan yang kami pijak, berbagai burung di cakrawala yang melayang dan mempresentasikan jauhnya perbedaan di negeri kami. Tanpa terasa petualangan kami terus bergulir hingga malam menyergap. Bahkan netraku terpukau dengan bintang-gemintang; aku sempat berpikir bahwa kenangan-kenangan lama akan segera lenyap, lantas meruap menjadi debu waktu yang lekas tersapu tanpa jejak.


Namun, rupanya aku salah besar.


Ketika kami sedang berayun-ayun di kursi taman susur kota, lamunanku tetap saja menyelinap di berbagai kenangan yang terus mengusikku. Kenangan senyap tentang dirinya, tentang seseorang yang membayang lekat di balik pelupuk mata ini, tentang wajah-wajah merah berleler keringat, tentang mata yang kuyu pasrah tanpa gairah, tentang kisah negara yang karut-marut, tentang sistem kampung halaman yang mengharu biru, tentang masa depan, tentang mata buta para pemimpin terhadap rakyatnya sendiri. Oh, aku sungguh terkapar di antara bayang-bayang angan dan kenyataan. Dihantui pelbagai ingatan eidetik itu.


Tanpa sadar air mata menggelegak, mencair di antara ketidakberdayaan. Merindu pada rumah yang tak menganggap dan memberi kepastian kepada diri ini. Tatkala aku menikmati tetesan darah dari balik dada dan mengecup lukaku yang berdenyar, sejumlah pria garang mendadak menyambangi kami.


Aku tersentak. Salah seorang menghampiri, menarikku, dan menodongkan sebuah pisau tepat di pangkal leher, sementara tangan kecil adikku ditelikung tangan-tangan besar secara kasar.


“Tolong! Tolong!”


Aku memekik histeris agar menarik perhatian orang lain. Namun, tak ada yang membantu kami. Menoleh saja tidak. Untuk sekilas aku jadi mengerti kenapa penduduk di sini mempunyai kabel-kabel di dalam kepalanya.


Lalu, semuanya kusaksikan di depan mata kepalaku sendiri: bagaimana sekelompok pria begundal itu menyeret adikku, menanggalkan apa saja secara paksa, lantas hinggap satu per satu sampai tubuh adikku terbaring layu. Hatiku langsung terkoyak. Aku menggerung sekencang-kencangnya. Akulah kakak yang gagal sebab tak berdaya menolongnya.


Semuanya menjadi begitu lengang di luar. Pria-pria beringas tunjuk taring dan menghela napas puas. Aku berkelejatan di dekat tubuh hening adikku. Berikutnya mataku menyaksikan bagaimana debu-debu berkilauan yang lebih indah dari sayap kupu-kupu menguar dari jasadnya. Mereka menguap ke udara, terbang menuju semesta, luruh, kemudian buyar tak tersisa.


Aku menatap kosong ke arah tanah lapang tanpa wujud adikku. Semua berlalu secara buru-buru dan lenyap. Ketiadaan di depanku ini menghapus kenangan lama, lantas memunculkan kenangan baru yang nyatanya paling muram.


Pada akhirnya musnah juga kenangan lama yang membuatku berlari-lari tanpa arah. Aku masih menyalahkan dekadensi kampung halaman. Merutuki sisi serakah penguasa yang kemaruk merampok hak-hak hajat orang banyak.


______


Penulis


Bella Paring Gusti, lahir serta bertumbuh di Bumi Bung Karno, Blitar, Jawa Timur. Gemar meramu novel, cerpen, dan esai. Dalam beberapa karya menggunakan nama pena: Glory Bella. Penulis dapat dihubungi via email: yemimabella@gmail.com, juga Instagram: @byemima.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail


Puisi-Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin




SUARA SUARA DARI RANAH MINANG


Disuarakan angin,

Suara kampung halaman

Merayapi lipatan waktu.


Di jantungku, arwah leluhur bangkit

Membawa sesembahan padi.

Angin selatan berhembus sakal

Seperti takwil tanpa aksara,

Mengalirkan melankoli,

Menyalakan bara di dalam darah.


Aku hanyut di antara pulau dan samudra,

Ditenggelamkan malam.

Hanya sisa doa yang bisa kubaca

Dengan mata terpejam.

Namun suara suara itu terus berulang,

Bagai kilap sawah berundak,

Menyusuri lereng bukit,

Mengalir pelan ke nadi.


Tanah gambut berbisik,

Tempat lahir boleh rapuh,

Namun akar tetap teguh

Dalam ingatan yang tak mahu tercerabut.


Di antara bunyi ombak

Kulihat wajah mereka tersenyum,

Leluhur yang menjaga wasiat purba,

Meninggalkan sulur cahaya

Di tubuh yang senantiasa gelisah.


Kini aku mengerti,

Suara suara tanah yang menyulam ingatan

Adalah denyut yang tak selesai,

Bahkan saat sunyi menelan segala nama.



PERTANYAAN PERTANYAAN DI SAWAHLUNTO


Adakah suara rantai

Masih bergema di balik dinding batu,

Atau hanya gema bayangan

Yang terus berputar

Dalam paru paru.


Adakah keringat itu

Masih tersimpan di tanah hitam,

Menjadi sungai yang tak pernah

Sampai ke muara,

Atau sudah kering bersama doa

Yang lama tumbang.


Adakah nisan tanpa nama

Benar benar menyimpan sunyi,

Atau justru menyalakan bara

Yang tak bisa ditutup

Oleh harum kembang kamboja

Atau upacara yang singkat.


Adakah langit di atas kota ini

Pernah benar benar biru,

Atau sejak mula ditutup arang

Yang dijahit paksa

Ke setiap pandang mata.


Adakah sejarah

Selalu memilih pemenang,

Sementara tubuh tubuh berantai

Yang digali lalu ditinggalkan

Hanya terbaring dalam peta

Yang tak lagi dikenang.


Aku bertanya pada diri,

Pada batu, pada bau besi,

Siapa yang masih mengingat

Bahwa maut pernah ditambang

Bersama bara,

Dan hidup dikurung

Tanpa pintu keluar.



MELIHAT TARI GALOMBANG


Talempong berdenting,

Bansi melengking,

Gendang menuntun langkah penari,

Menyongsong bagai ombak laut

Mengusung sampan kecil ke pelaminan.


Ayunan tangan,

Hentakan kaki,

Mengalirkan desir di dada,

Gerak silat di sela tari

Bagai pagar gaib

Menjaga kasih dari runtuhnya waktu.


Dara-dara membawa carano berisi sirih,

Melintas dalam cahaya emas.

Di mata mereka tergambar warisan,

Gelombang yang berulang,

Pantai yang menanti,

Cinta yang dituntun arus tak henti.


Di bawah payung kuning,

Masa depan hadir sebagai perjamuan panjang,

Antara ingatan dan harapan,

Antara debar yang rapuh

Dan restu yang turun perlahan.


Ketika tari galombang membuka jalan ke pelaminan,

Tubuh larut bersama arus,

Tak tercerai dari gelombang,

Tak terpisah dari waktu.



ANAK-ANAK ILALANG


Kami berlari di pematang basah,

Matahari rebah di lekuk lembah.

Cahayanya menyusup ke daun padi

Yang bergetar ditiup angin tebing curam.


Ilalang condong mengikuti desir,

Menyapu lutut, menggelitik betis.

Capung merah hinggap sebentar,

Menjadi tanda di udara yang sunyi.


Kami menancapkan benang layang-layang

Ke tanah liat yang masih hangat.

Ia melesat setinggi dinding batu,

Menembus kabut,

Membawa kabar dari lereng seberang.


Asap dapur rumah gadang

Menggulungkan aroma ke angin senja.

Kami tak mengerti rahasia dunia,

Hanya mendengar desir ilalang

Sebagai bisikan leluhur

Yang menahan hujan di kantong awan.


Setiap desir adalah butir waktu

Yang ditabur langit di atas kepala.

Kami percaya mampu memanggil petir

Dengan peluit bambu,

Dan menanam matahari di sela akar ilalang

Agar kelak tumbuh menjadi cahaya.



SESUDAH DUA PULUH TAHUN


Jalan tanah ke kandang ayam

Masih membelah rumpun pisang

Di belakang rumah.

Bisik menempel di akar,

Seperti beringin tua

Menancap di tanah merah,

Menahan bara

Dan rindu yang mengeras.


Tiga puluh tahun kutinggalkan kampung.

Kusisir kota dan pasar jauh:

Bukittinggi, Payakumbuh,

Batusangkar, Sawahlunto,

Hingga Jakarta dan pesisir selatan.

Namun jejak tak pernah benar benar pergi,

Ia tinggal

Di ambang pintu ingatan.


Kini aku pulang,

Dari serambi ke dapur belakang,

Melewati tungku dan lesung batu.

Kubawa kampung yang mengendap di tubuh,

Tanah yang lama kupanggul sebagai rindu,

Kini

Kupeluk tanpa sisa gentar.


2025



SUBUH DI PADANG PANJANG


Hujan berwarna kelabu subuh

Menjatuhkan sisa sisa mimpi,

Jantung kata basah oleh riciknya,

Larut ke rimbun kabut

Sementara langit menunduk

Di sela surau tua yang suara azannya retak.


Waktu bersembunyi di lipatan ingatan,

Di antara kumbang dan ilalang.

Lenguh lembu meresap ke tanah,

Hening meneteskan lapis lapis kenang.


Usia hanya sehelai kain lembap

Dijemur di halaman Singgalang.

Gunung itu menegakkan dada pada udara,

Menembus bukit dan gelombang angin gadang

Yang mengantar bau tanah dan hujan.


Ada yang lindap ke haribaan subuh,

Seperti rindu yang telah matang,

Bercampur harum nasi di tungku pagi,

Menyelinap dari rumah rumah yang baru terjaga.


Kubiarkan menit menit mengalir

Di antara namamu,

Terpahat di batu sungai yang berkelok,

Membelah sawah,

Menemukan cintaku

Yang sejak lama belajar mencari muara.


2025



MENDENGAR DANAU SINGKARAK


Kudengar dari dasar danau

Mengendap suara pasang 1926,

Merayap ke tepian,

Menggulung mukim,

Ngaum Padang Panjang

Tercatat di tubuh bumi

Sebagai nyeri yang lebam.


Dua kali guncangan

Menyalin partitur gelap,

Teriakan yang meruam

Di telinga malam,

Seperti nada kehilangan.


Desa diperam angin asin,

Menyimpan demam panjang

Dari hari hari yang retak.

Sunyi menjelma getir

Di mulut anak anak kehausan.


Namun Singkarak tetap menampung

Segala yang karam,

Serupa surga kecil dipendam waktu.

Di permukaannya kulihat wajahmu,

Mabuk dalam riak asing

Yang pandai menyembunyikan duka.


Barangkali rindu adalah air itu,

Tak pernah surut,

Membawa kilau

Yang sekejap tampak,

Lalu lolos

Dari jeruji ingatan.


______


Penulis


Listio Wulan Nurmutaqin, penulis asal Brebes yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya telah dimuat di berbagai media lokal, nasional, dan luar negeri, antara lain Jawa Pos, Tempo, Kompas.id, Republika, Suara Merdeka, Majalah Kandaga, dan Suara Sarawak (Malaysia), serta media daring dan cetak lainnya. Ia terpilih dalam Payakumbuh Poetry Festival 2024 dan lolos kurasi Pertemuan Penyair Nusantara XIII tahun 2025. Buku puisi tunggalnya, Tokoh Utama, terbit pada 2023.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Ari AJ | Ani

Cerpen Ari AJ

 


Semerbak melati masih tercium di hidungnya, tanah itu masih basah, langkah pelayat sudah lebih dari tujuh kali, tetapi Ani masih tak juga berdiri. Lantunan doa tuntas dipanjatkan, tak kurang nasihat dari ustaz kampung yang renta, kerabat berbusa membujuknya pulang, tak ada guna menunggu penghuni pusara bangkit dari bentala, tetapi tetap, Ani tak ingin beranjak. Di bulan Juni ini, tangis perempuan hampir kepala empat itu pecah, ia mengingat dua puluh tahun lalu saat tidak merasakan sweet seventeen seperti teman-temannya akibat kabar mengejutkan tentang orang yang dicintainya, kini dua dekade setelahnya kenyataan pahit harus dialaminya lagi. Ani pun mempertanyakan mengapa kebahagiaan tak juga abadi di hidupnya.


***


Penjahat yang Licin


Jendela kamar Ani bergetar, begitu juga tubuh dan jemari lentiknya. Panasnya kamar dan selimut yang membebat tubuh gagal menghantarkan kehangatan saat jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Lalu terdengar bisikan yang membuat telinga Ani berdiri, ia tak mengenali satu pun suara dari seberang jendela. Sementara itu, dua obeng secara paksa ditancapkan ke sisi kanan dan kiri jendela kamarnya, obeng lain masuk melalui bagian bawahnya.


Yang terjadi setelahnya Ani harus berkejaran dengan waktu agar tubuhnya tidak tertangkap gerombolan pria kekar itu. Meski begitu, ia sempat melihat mereka mencongkel jendela lalu masuk ke kamarnya, tetapi tidak berhasil membungkam Ani yang bersembunyi di bawah meja meski kemudian terlihat tidak bisa ke mana-mana. Sebuah pukulan mendarat di wajah hingga membuatnya ambruk sebelum pintu kamarnya dibobol paksa seseorang.


Annie, are you OK?


Hanya itu yang diingat Ani saat tersadar di ruang berlangit-langit putih dengan selang infus di lengan. Perempuan berambut pirang di sampingnya terisak. Ia terkejut saat mendapati Ani sudah siuman.


“Kamu jangan menangis, Sayang. Ayah tidak apa-apa.”


Ani sulit mencerna ucapan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing, seteguk air membuatnya jauh lebih baik. Lalu muncul pertanyaan yang membuat ibunya kembali berderai air mata.


“Kemana Ayah?”


“Ayah baik-baik saja, Nak. Ayah sudah tenang, Ayah sudah selamat. Ani jadi anak yang pintar, ya. Sebentar lagi SMP. Ani harus…,
ujar perempuan muda itu seraya tak kuat meneruskan kalimatnya.


Tangis Ani pecah saat tahu ayahnya tewas di tangan sekelompok penyamun yang menjarah rumahnya. Teriakan Ani membangunkan ayahnya yang segera membuka paksa kamar yang terkunci. Mulut pria yang menyayangi keluarga kecilnya itu pun terbungkam untuk selamanya. Yang membuat Ani tidak bisa menahan tangis ialah kenangan manis yang sulit dilupakan. Pertanyaan akan arti nama Ani membawanya pada perkenalan pada idola yang begitu dicintai mati-matian.


Annie, are you OK? Will you tell us that you’re OK?


Pengalaman merantau ayahnya ke Jakarta tidak hanya membuatnya mahir menjahit, tetapi juga mengenalkan Ani seorang penyanyi legendaris yang tape recorder-nya menjadi oleh-oleh untuknya, sosok penyanyi itu terpatri dalam benaknya sejak kecil. Cinta pada ayahnya melahirkan cinta pada idolanya.


***


Kau Buatku Merasa (Jatuh Cinta)


Sebelum tragedi itu, mawar merah di genggaman masih segar. Janji manis itu sudah terucap, sangat manis, tetapi masih kurang manis bagi Ani. Meriahnya suasana sekolah kala itu tak cukup membantu memeriahkan hatinya. Lelaki kakak kelasnya itu kini duduk di sisi sambil menggenggam tangan. Terasa dingin. Ani yakin pria muda itu tengah gugup meski tampilan necis dan dasi kupu-kupunya tetap memukau.


Aku suka rasa yang kauberi padaku, pegang tanganku, Sayang, aku akan sangat bahagia


Sesekali genggaman tangan lelaki itu dilepas karena ada satu dua anak yang kedapatan memergoki. Prosesi perpisahan kelas XII saat itu sudah tuntas, remaja tanggung di sampingnya adalah salah satu yang akan menjadi alumnus. Sebelum perpisahan di antara mereka benar-benar terjadi, hanya satu yang diinginkan Ani: janji yang lebih manis lagi serupa lirik yang ingin ia tunjukkan pada lelaki itu. Betapa kompleksnya perasaan Ani, untuk jatuh cinta saja, ia mendambakan sesuatu yang sulit dimengerti.


Aku akan bekerja pagi sampai sore, untuk membelikanmu segalanya agar kau selalu ada di sampingku


Akhirnya ikrar yang lebih manis itu terucap meski hanya dalam bayangan Ani. Perasaannya meledak, tinggal sedikit lagi rayuan itu akan lebih lengkap dengan bait selanjutnya dari lagu tersebut. Tak pernah aku jatuh cinta sebelumnya, berjanjilah padaku, Sayang, kau akan mencintaiku untuk selamanya, aku bersumpah akan membahagiakanmu karena kau tercipta untukku. Ani membiarkan dirinya bernyanyi untuk melengkapi perasaannya, juga memecahkan keheningan karena mereka tak juga bicara sejak mawar merah diserahkan lelaki itu. Teman-teman Ani iri mengapa ia yang baru kelas XI justru mendapat bunga dari seseorang yang seharusnya memperolehnya, sesuatu yang tak juga dimengerti Ani, tak pula berani ditanyakannya pada sang lelaki.


“Habis ini, mau ke mana, Mas?”


Hanya pertanyaan klasik yang keluar dari bibir Ani. Lelaki itu mencuri pandang untuk memastikan dari mana pertanyaan itu.


“Jakarta.”


Pertanyaan bodoh, harusnya tak perlu kutanyakan perkara yang sudah tersedia jawabannya, Ani membatin. Spanduk di gerbang sekolah yang menampilkan deretan siswa yang sudah diterima di kampus negeri kembali terbayang. Sesungguhnya isi kepalanya bertambah semrawut setelah mendengar nama ibu kota itu, rasanya sudah lama tak mengunjungi pusara ayahnya meski ia selalu hadir setiap Kamis sore maupun hari raya. Perhatian Ani teralihkan saat seseorang memintanya membantu panitia lain membersihkan lokasi acara. Meski begitu, tembang itu masih terngiang di pikirannya.


Kau buatku merasa (jatuh cinta), kau nyalakan gairahku, kau jatuhkan diriku, hari-hari sepiku hilang


Perasaan gadis tersebut begitu riang siang itu. Akan tetapi kebahagiaan mendapat bunga dan meriahnya acara harus dibayar mahal, sesampainya di rumah, ia mendapati berita di televisi yang membuatnya terdiam. Ani pun menghambur ke ibunya di dapur, menumpahkan tangisnya pada satu-satunya orang tua usai sang ayah tiada. Suara sang pembawa acara masih terdengar walau tak ada yang menyaksikan.


“Konser terakhir megabintang pop dunia, Michael Jackson, dipastikan batal digelar usai sang artis berpulang di usia kelima puluh tahun, meninggalkan tiga anak, harta miliaran dolar, Neverland, dan kejayaan musiknya selama empat puluh tahun berkarya.”


Mimpi Ani musnah untuk bisa menyaksikan konser di The O2 Arena, London yang sudah dibayangkannya sejak lama. Tragedi di bulan Juni membuatnya lemas. Hanya ucapan ibunya yang membuat mata berbinar meski tak lama kemudian duka kembali menyelimuti dengan beban yang lebih berat nan sulit dimengerti. Kenyataan pahit lalu terjadi, sehari setelahnya, ibunya ikut berpulang sebelum bisa menuntaskan janji di ulang tahun ketujuh belas Ani kala itu. Masih teringat ikrar ibunya ketika Ani menangisi kepergian idolanya, sesuatu yang sudah direncanakan menjadi hadiah ultah spesialnya.


“Ibu tahu, kamu pasti ingat Ayah. Untuk menghibur kamu, bagaimana kalau besok Ibu ajak kamu berkenalan dengan orang-orang yang juga memiliki idola seperti kamu. Mau?”


Ani hanya bisa meratapi, mempertanyakan nasib tragis yang tak urung pergi.


***


Aku Tak Bisa Berhenti Mencintaimu


Damainya air danau di utara Kota Jakarta tidak lantas membuat Ani tenang, sesekali ia bertanya-tanya apakah tengah bermimpi. Matanya berkali-kali memastikan jam bergambar sang idola di lengannya masih menunjukkan pukul delapan malam dan kini sudah lebih dua puluh satu menit, terlelap pada saat seperti ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Entah bagaimana keramaian itu tercipta setelah ia hanya sendirian datang ke ibu kota dengan kereta api dari Yogyakarta, itu pun untuk urusan lain.


Dua puluh empat jam lalu, Ani masih beristirahat di hotel dekat danau tersebut. Sebuah pesan masuk ke telepon pintarnya dari seseorang yang sudah lama menghilang. Ia tahu, pria muda yang memberinya mawar merah tujuh tahun lalu itu memang tak ada kabar sejak terakhir kali berbincang hampir empat tahun silam ketika ia mengungkap satu-satunya permintaan. Kini perasaannya sudah berubah, tetapi tak ada salahnya mengiyakan ajakan bertemu kawan lama, terlebih rangkaian kegiatan yang diikutinya tidak memiliki agenda resmi malam ini. Lelaki itu mengajak bertemu di sisi danau dekat hotel tempatnya menginap, danau yang hanya ramai oleh sedikit pedagang dan pengunjung.


Di dekat danau itulah awalnya Ani tidak mencurigai sekelompok pemusik yang terlihat siap beraksi seperti akan tampil di kafe-kafe. Terlambatnya lelaki itu hampir membuat Ani mengurungkan niat bertemu, tetapi kemudian sebuah irama dari pemusik itu mengejutkannya. Sebuah lagu cinta dihiasi alunan piano, gitar, serta kahoon, dan yang membuat Ani berteriak kecil yakni falseto sang penyanyi yang begitu sempurna, mirip dengan suara sang idola.


Setiap kali angin bertiup, kudengar suaramu, jadi kupanggil namamu


Seketika suasana ramai, seorang lelaki yang sudah lama tak dilihatnya muncul dari kerumunan, kembali membawa mawar merah dalam genggaman. Ani tak tahan untuk ikut melantunkan lagu yang dirilis tahun 1988 itu.


Kau tahu yang kurasakan, ini tak mungkin salah, aku bangga mengatakan aku mencintaimu, aku tak bisa hidup tanpamu


Embusan angin malam tak sekalipun dirasakan Ani. Perhatiannya terpusat pada lelaki yang wajahnya tak banyak berubah seperti tujuh tahun lalu, tetapi kini lebih dewasa, dengan air muka cerah, dan sorot mata semringah. Untuk pertama kali, Ani bisa menyanyikan senandung kesukaannya bahkan dengan berduet sebagaimana aslinya saat dinyanyikan sang idola bersama Siedah Garrett. Suasana meriah semakin menghanyutkannya.


Saat malam ketika bintang bersinar, aku berdoa di dalam dirimu akan kutemukan cinta yang sesungguhnya


Saat pagi membangunkanku, maukah kau datang dan menjemputku? Aku akan menunggu


Ani tahu persis, lagu itu belum tuntas dinyanyikan, tetapi tiba-tiba lelaki itu berlutut di hadapannya sembari menjulurkan sesuatu dari telapak tangan. Lidahnya seketika kelu saat mendapati kotak cincin berwarna merah terbuka di depan mata. Momen yang akan selalu dikenang itu berakhir dengan perbincangan hangat hingga tengah malam bersama lelaki ketiga yang dicintainya setelah sang ayah dan idolanya yang sudah tiada, juga ditemani lantunan tembang cinta kesukaannya. Ani begitu gembira, setelah penantian panjang, ikrar lelaki itu akhirnya ditunaikannya dan lagu-lagu kesayangan tidak lagi hanya dalam imajinasinya.


Aku tak bisa berhenti mencintaimu, kalau aku berhenti, apa yang harus aku lakukan? Karena aku tak bisa berhenti mencintaimu


Mengingat Waktu


Orang-orang yang datang melintasi pemakaman itu memandang aneh perempuan keras kepala yang tak juga bangkit dari duduk setelah keluarga besarnya memutuskan meninggalkannya sendirian.


“Perempuan aneh, tidak bisa menerima kenyataan!”


“Kuat sekali perempuan itu, sepertinya sudah dua jam berpanas-panasan.”


“Terlalu banyak mengkhayal, dunia tidak selebar daun kelor.”


Sementara itu, derai air mata mengiringi nyanyian yang dilantunkan Ani di depan pusara orang yang dicintainya. Ia teringat permohonan satu-satunya dulu yang sudah ditunaikan lelaki yang kini telah tiada tersebut lewat ikrar tiga belas tahun lalu, sebuah pengharapan agar lelaki itu mau mengenal idolanya jika serius meminangnya. Kini lelaki idaman itu sudah berbaring dengan tenang, harapan Ani hanyalah agar kelak lelaki yang dicintainya bertemu idolanya sebagaimana janji sang Raja Pop Dunia tentang konser terakhir ‘see you in July’ di The O2 Arena, London. Senyumnya terbit saat membayangkan sang suami mewakili dirinya bertemu sang idola di alam sana.


Nyanyian itu masih terdengar dari bibir tipisnya, sebuah lagu tentang waktu dan pertanyaan akan masa lalu. Dilantunkannya senandung cinta yang dirilis tahun 1991 itu serupa janji apabila salah satu dari mereka menghadap sang Maha Cinta, dan Ani tengah menunaikan ikrarnya diiringi tangis haru dan suasana duka.


Ingatkah kau saat kita jatuh cinta? Kita masih muda dan polos, ingatkah kau bagaimana kisah kita bermula? Rasanya seperti surga, tetapi mengapa semua ini berakhir?


Ani kembali terisak.


Bandung, Februari 2026



Catatan:

Sebagian kecil cerita di atas terinspirasi dari empat lagu Michael Jackson. Kelimanya menjadi sub judul yakni Smooth Criminal (Penjahat yang Licin), The Way You Make Me Feel (Kau Buatku Merasa (Jatuh Cinta)), I Just Can’t Stop Loving You (Aku Tak Bisa Berhenti Mencintaimu), dan Remember the Time (Mengingat Waktu). Kalimat yang dimiringkan adalah terjemahan bebas dari penggalan liriknya.

 

_______

Penulis

Ari AJ sehari-hari jualan ayam dan belajar beternak. Moto hidupnya: beternak-ternak dahulu, menulis kemudian. Karya cerpennya diterbitkan Tabloid Jurnalposmedia, NU Online, dan meraih Juara III Lomba Cerpen Rumah Rengganis 2022 serta masuk antologi. Penulis bisa dihubungi via Instagram @ari_aj33 dan e-mail ari.aj122833@gmail.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Fileski Walidha Tanjung

Puisi Fileski Walidha Tanjung 




Hutan Mengingat Doa


Di dada bumi, hutan pernah menjadi kitab hijau yang dibaca angin.

Kini gergaji menulis luka pada batang ranting dahan sunyi.

Burung kehilangan alamat rumahnya.

Namun tanah masih berbisik 

barang siapa menanam kesabaran, Tuhan menumbuhkan kembali pohon harapan di halaman masa depan umat manusia.



Sungai Menelan Plastik


Sungai berjalan seperti ibu tua membawa kantong plastik dari dosa kota.

Airnya sesak oleh kemasan keserakahan.

Ikan-ikan membaca takdir pahit di perutnya.

Namun arus sungai itu tetap berdoa:

jika manusia belajar sederhana, Tuhan akan mencuci dunia dengan hujan yang subur. 



Langit Menggigil


Langit kini seperti dahi anak kecil yang demam.

Asap pabrik menempel seperti kompres panas di wajahnya.

Matahari menatap cemas pada bumi yang berkeringat.

Namun angin menyampaikan pesan 

orang-orang yang merawat bumi akan dipeluk oleh rahmat Tuhan.



Kota yang Tersengal 


Kota tumbuh seperti bayi raksasa yang terus lapar 

Rumah bertumpuk di punggung bumi 

Manusia saling mendesak seperti doa yang terburu-buru.

Namun langit teguh menahan badai:

barang siapa yang berbagi roti, Tuhan membuka ruang damai di dada kehidupannya.



Bumi yang Khusyuk Berdoa


Pada akhirnya bumi duduk seperti ibu yang menunggu anak-anaknya pulang.

Hutan, sungai, langit, kota, semua berkumpul. 

Mereka mengangkat tangan kepada Tuhan.

Dari kesabaran manusia-manusia yang tidak serakah,

tumbuhlah masa depan: dari kebahagiaan yang sederhana, merasa cukup, dan bersyukur dalam damai.


______

Penulis


Fileski / Walidha Tanjung Files, lahir di Madiun pada 21 Februari 1988, adalah seorang penulis, musikus, penyair, dan pendidik yang mengajar Seni Budaya di SMAN 2 Madiun.  Dikenal melalui karya puisi, prosa, dan esai yang terbit di berbagai media massa.

Karya-karyanya pernah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Majalah Pusat (Badan Bahasa), Bangka Pos, Denpasar Pos, Koran Nusa Bali, Bali Politika, Borobudur Writer id, Majalah Panji Balai Bahasa Jawa Timur, Harian Rakyat Sultra, Koran Merapi, Radar Tuban, Radar Jember, Radar Lawu, Radar Madiun, Radar NTT, Tribun Batam (Kantor Bahasa Kepri), Solopos, Radar Surabaya, Radar Bojonegoro, Koran Haluan, Utusan Borneo (Malaysia), Radar Kediri, Radar Banyuwangi, Sinar Indonesia Baru, Rakyat Sumbar, Singgalang, Halo Jember, Suara Sarawak (Malaysia), Majalah Elipsis, Majalah Media PGRI Jawa Timur, Ruang LiteraSIP, dll. 


Beberapa pencapaiannya: terpilih dalam Undagi (Tenaga Ahli) Balai Bahasa Jawa Timur 2026. Peraih Anugerah Hescom dari e-Sastera Malaysia 2014 dan 2015. Lima Terbaik Cipta Baca Puisi Gempita Awards 2025. Lima Terbaik karya Seni Budaya di GCC 2021 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. 5 Terbaik cipta puisi di Festival Sastra Nasional “Syukur Waktu” 2024. Guru Penulis terpilih di Peta Sastra Kebangsaan 2024 di Salihara, Jakarta. Delegasi Penyair Jawa Timur dalam Temu Sastrawan MPU VIII (Banten) dan MPU XI (Jawa Barat). Pemenang Lomba  “Pesta Cerpen” Penerbit Buku Kompas GWP 2024. Founder Negeri Kertas. Divisi Pengembangan Sumber daya manusia di Forum TBM Jawa Timur. Dapat ditemui melalui email: fileskifileski@gmail.com, Instagram @fileski.




Saturday, March 28, 2026

Resensi Kabut | Sejak Kecil

Oleh Kabut



Yang bisa diingat dari kesibukan jutaan orang mudik sebelum Lebaran adalah kemacetan dan kelelahan. Kita mesti menggenapi ingatan bila membaca berita kecil mengenai menteri membagi buku kepada anak-anak yang turut dalam lakon mudik akbar di Indonesia. Menteri yang bertugas mengurusi pendidikan itu menginginkan anak-anak selama mudik menjadi pembaca buku. Konon, yang membaca bakal mendapat pengetahuan, selain mampu mengartikan waktu perjalanan dengan berfaedah.

Peristiwa yang tidak terlalu mendapat perhatian menjelang Lebaran. Kita digoda membuat pemaknaan bacaan dan Lebaran. Anak-anak tidak selalu berkaitan uang dan makanan untuk perayaan Lebaran. Di tangan mereka, ada buku-buku yang bersumber dari “kebaikan” pemerintah. Kita penasaran mengenai judul buku dan pengakuan anak-anak yang berhasil bersama buku selama perjalanan menuju kampung halaman.


Kini, Lebaran telah berlalu. Namun, kita mendapat susulan ingatan mengenai bocah dan bacaan. Yang memasuki dan duduk di gedung bioskop mendapat pesan dari film berjudul Na Willa. Film yang sengaja jadwal pemutarannya meramaikan Lebaran. Di film bertokoh anak-anak, para penonton mengetahui Na Willa yang hidup bersama buku. Di kamarnya, ada banyak buku, yang sering dibelikan oleh bapaknya. Yang bertugas membacakan adalah ibu. Beberapa buku berbahasa Inggris. Penonton belum perlu cemburu melihat bocah yang dimanjakan buku-buku berbahasa Inggris. Bocah yang istimewa.


Apakah urusan bocah dan bacaan hanya terpikirkan pada abad XXI, abad yang (terlalu) digital? Kita mendingan membuka ingatan dari silam yang bergelimang cerita di kertas-kertas terjilid. Hari-hari setelah Lebaran, anak-anak mungkin mewujudkan ambisi menghabiskan uang. Mereka ingin senang. Lebaran berdampak gagasan uang. Anak-anak rajin jajan makanan dan minuman, selain mainan. Ada anak-anak mungkin menggunakan uangnya untuk membeli buku-buku baru. Adakah yang berpikiran aneh dengan membeli buku-buku bekas atau lama?


Kita membayangkan ada anak yang dolan ke Solo. Ia menuju Gladak, yang memiliki tempat penjualan buku-buku bekas. Tempat yang sederhana dan sering sepi meski berdekatan Masjid Agung dan Pasar Klewer. Yang berhasil datang dan berbelanja buku-buku bekas berhak mendapat pujian. Perbuatan yang mulia saat tangan-tangan selalu bergawai dan mata terpikat layar bercahaya.


Di situ, ada yang menemukan buku berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat garapan BS Dewantara. Buku tipis yang diterbitkan oleh Intan Pariwara, 1981. Anak-anak yang memegang buku itu mula-mula dijerat pertanyaan mengenai tokoh. Mereka mengenali Ki Hadjar Dewantara tapi kurang mengakrabi Suwardi Suryaningrat. Dua nama milik satu tokoh, yang berpengaruh dalam sejarah politik dan pendidikan di Indonesia. Tokoh yang membawa misi-misi besar, sejak masa kolonial.


Dulu, buku itu bacaan anak-anak dalam asuhan Orde Baru. Rezim yang dipimpin Soeharto, yang serius dalam mengenalkan tokoh-tokoh sejarah melalui buku pelajaran, buku cerita anak, poster, lagu, dan film. Penerbitan buku yang ditulis BS Dewantara itu termasuk yang ingin mengenalkan anak-anak dengan sejarah. Yang dibaca adalah buku biografi yang rasanya novel. Penulis adalah keturunan Ki Hadjar Dewantara. Artinya, tulisan berdasarkan fakta dan ingatan meski boleh menghadirkan yang fiksi.


Jadi, yang dihadapi para pembaca adalah anak yang mengisahkan bapaknya saat masih kanak-kanak. Buku yang memang diharapkan cocok sebagai bacaan anak walau mengandung beban-beban politik, kebudayaan, dan sejarah. Buku tipis yang mudah diselesaikan dalam hitungan menit tapi membuat anak-anak kepikiran macam-macam. Unsur hiburannya sangat sedikit.


Di pembuka, penulis mengingatkan bahwa Suwardi Suryaningrat dilahirkan saat bulan Ramadan. Yang tercatat di sejarah dan diperingati secara nasional di Indonesia, Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara dilahirkan 2 Mei 1899. Tanggal yang dipilih untuk memuliakan pendidikan. 


Penulis memberi pengertian bahwa waktu kelahiran mengesankan religiositas dalam kedirian anak yang lahir dalam alur keningratan di Jogjakarta. Bapaknya adalah sosok penting di Pakualaman, yang mewujudkan cita-cita kebudayaan dalam kondisi tunanetra. Jadi, Suwardi Suryaningrat dalam pengasuhan bapaknya yang memiliki keistimewaan. Pada masa kecil, pengajaran Islam dan Jawa membentuk biografi yang kokoh.


Kita membaca kutipan mengenai bapak yang memberi petunjuk pada Suwardi Suryaningrat: “Di, mulai besok, engkau harus belajar mengaji dan belajar membaca huruf Jawa. Aku sudah mengundang dua orang guru. Pada tiap hari Senin, engkau harus belajar membaca dan menulis huruf Jawa, sedang hari Kamis engkau mengaji (Al Quran).” Anak itu menurut, memasuki hari-hari yang belajar.


Suwardi Suryaningrat tidak selalu belajar. Harinya-harinya pun girang saat bermain bareng teman-teman. Yang bersamanya tidak selalu anak-anak bangsawan. Ia justru suka bergaul dan bermain dengan anak-anak di kampung atau kalangan jelata. Kesadaran “kerakyatan” telah terbentuk sejak kecil. Ia ingin menghormati sesama tanpa dalil darah kebangsawanan. Maka, ia lumrah menjadi tokoh yang berpihak pada rakyat. Ia belajar dari nasihat bapaknya: “Bangsawan ataupun ulama itu sekadar pakaian, di hadapan Tuhan, pakaian itu akan ditanggalkan, ilmu dan amallah yang menjadi penilaian.” 


Anak-anak yang membaca biografi atau cerita masa kecil Suwardi Suryaningrat mudah kagum. Mereka memang sedang memasuki dunia tokoh yang terkenal dalam pendidikan dan kebudayaan, yang mendapat kemuliaan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Yang agak membingungkan, anak-anak yang membaca kurang mengetahui sisi-sisi pinggiran dari anak yang bernama Suwardi Suryaningrat. Yang dijejalkan justru sejarah kekuasaan di Jawa, yang digunakan penulis untuk menguatkan latar sejarah untuk kemunculan pemikiran dan gerakan yang diadakan Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Jadinya, anak-anak yang ingin mengenali lebih dekat justru dilelahkan oleh uraian sejarah yang rumit. 


Pada akhirnya, para pembaca sampai pada babak perubahan yang dialami Suwardi Suryaningrat yang memasuki gejolak modernitas. Yang ditulis oleh BS Dewantara mengenai kakek dan bapaknya: “Pangeran Suryaningrat sangat bangga atas kemajuan pendidikan Suwardi yang diterima di rumahnya. Tetapi, dia masih ingin meningkatkan lebih tinggi lagi kepandaian putranya yang cerdas itu. Berusahalah Pangeran Suryaningrat memasukkan Suwardi ke sekolah Belanda, yaitu sekolah dasar dinamakan Europeesch Lagere School (ELS). Usahanya ternyata berhasil.” 


Anak itu memang masuk di ELS, 1896. Namun, selama belajar di sekolah, ia menghadapi banyak masalah, terutama diskriminasi dari anak-anak Eropa. Suwardi Suryaningrat mendapat perundungan. Yang dilakukan adalah “membalas” atau melawan melalui perkelahian dan keilmuan. 


BS Dewantara menerangkan: “Pada hari-hari pertama Suwardi duduk di antara anak-anak Belanda di ELS, wajarlah ia mengalami perasaan aneh dan canggung. Namun, semangatnya untuk maju pesat mendorong usahanya untuk dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan. Hari demi hari, bertambahlah ilmu pengetahuan Suwardi dan kecerdasannya terarah pula. Pengalaman pergaulannya pun bertambah, demikian juga pengenalannya terhadap manusia-manusia baru di sekelilingnya.” Babak anak yang mulai menyadari dunia, yang ia berani hadir sebagai kekuatan perubahan. 


Ia merasakan dampak-dampak pendidikan modern bercitarasa Eropa. Semua yang dipelajari selama kanak-kanak dipadukan dalam pembentukan cita-cita. Suwardi Suryaningrat menjadi sosok yang mengarah pembaharuan dalam situasi kolonial dan kepentingan memajukan bumiputra.


Masalah inilah yang membuat anak-anak yang membaca buku memberikan pujian. Kita menaruh kutipan yang cukup penting: “Setelah belajar dari pengalamannya mengajar anak-anak para hamba sahaya dan anak-anak kampung, sangat terasa oleh Suwardi bahwa mendidik itu merupakan kegiatan yang sangat menarik dan menyenangkan. Setelah lulus dari ELS pada tahun 1904, maka Suwardi melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, yaitu sebuah sekolah pendidikan guru, di Jogjakarta.” Sejak itulah kita mulai memahami misi besar pendidikan, yang berhasil diwujudkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Semuanya sudah ditentukan dan dibentuk sejak kecil.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, March 26, 2026

Esai Ayrin Widya Mustika Sari | Sebuah Catatan Mudik

Esai Ayrin Widya Mustika Sari



Tradisi mudik merupakan tradisi tahunan masyarakat Indonesia, khususnya para perantau yang pulang ke kampung halaman menjelang hari raya seperti Idulfitri. Memiliki pasangan seorang perantauan dari lampung, tentu saja mudik merupakan tradisi wajib baginya. Terlebih lagi orang tua masih sehat. 


Pertanyaannya apakah label perantau ini hanya dimiliki bagi mereka yang berasal dari pulau atau daerah yang sangat jauh? Menurut saya label perantau bisa disandang juga bagi mereka yang berada  di lain kota, tetapi satu provinsi. 


Dilema saat Lebaran adalah mudik ke mana? Sebenarnya bisa kedua tempat dijangkau. Seperti mudik ke tempat yang dekat terlebih dahulu saat hari Lebaran, kemudian langsung menuju mudik ke tempat kedua yang lebih jauh. Namun tidak demikian, suami lebih mengutamakan mudik yang terjauh ke kampung halamannya sebelum Lebaran tiba.


Baginya, mudik satu provinsi dianggap bukan mudik. Karena selain jarak tempuh hanya satu jam,  frekuensi bertemu pun sangat sering. Padahal pertemuan tidak saat momen Lebaran. Sedangkan, saat momen lebaran Idulfitri tiba, setiap anak termasuk saya tentu saja ingin sungkem dengan orang tua dan berkumpul bersama keluarga. Namun, sebagai istri hanya bisa mengikuti apa kata suami.


Arus mudik tahun ini terpantau aman dan terkendali. Ternyata berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementrian Perhubungan tahun ini sekitar 50,60% masyarakat Indonesia melakukan tradisi mudik. Tahun ini arus mudik turun sekitar 2% dari tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomi. Namun, moda transportasi mengalami kenaikan. Salah satunya kapal laut. Jalur penyeberangan Merak-Bakauheni naik sekitar 5,4% dibanding tahun 2025. 


Setiap kali mudik memiliki seni khasnya masing-masing. Meskipun tahun ini presentasi arus mudik mengalami kenaikan, mudik kali ini kami jalani tanpa antrean saat memasuki kapal. Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk masuk kapal kami antre berjam-jam. Mungkin karena efek libur sekolah dan cuti bersama yang berbeda waktunya. 


Di dalam kapal pun masih terasa lega untuk anak saya berlarian, biasanya lantai kapal dipadati tikar pengunjung yang tidak kebagian kursi, sehingga kami naik kapal eksekutif pun rasa kapal reguler. Terlebih harga tiket kapal eksekutif saat mudik sama dengan harga tiket kapal reguler. Jadi, sudah pasti rata-rata pemudik memilih kapal eksekutif. Karena kapal eksekutif dianggap lebih bagus, lebih bersih, ruangan lebih nyaman dan lebih ber-AC serta lebih cepat sampai. 


Seninya mudik naik kapal itu saat kami berebut tempat untuk duduk atau tidur. Di kapal juga disediakan kamar besar yang di dalamnya berjejer kasur tingkat untuk istirahat. Beruntung sekali saat kami bisa dapat kasur di depan playground. Jadi, kami bisa istirahat sambil mengamati anak bermain. 


Ritual saat naik kapal salah satunya adalah tidur. Saat di kapal para pemudik benar-benar memanfaatkan waktunya untuk istirahat karena mereka telah melewati perjalanan jalur darat. Jadi, tidur di kapal walaupun hanya satu atau dua jam, bisa mengembalikan energi untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya di jalur darat. Namun, bagi kami yang memiliki balita aktif, tidur di kapal adalah momen yang sangat langka.


Ritual naik kapal lainnya adalah bancakan. Kebanyakan orang saat naik kapal, mereka langsung menggelar makanan untuk makan bersama. Walaupun kapal masih stay di pelabuhan. Aroma nasi padang dan aroma seduhan mi instan harum semerbak menguasai ruangan. Meskipun momen mudik saat bulan puasa, namun ada saja wangi-wangi aroma tersebut. 


Selain itu ritual selanjutnya adalah nonton. Di dalam kapal eksekutif terdapat beberapa televisi yang menayangkan film. Saya selalu menebak nebak film apa yang akan diputar di TV kapal. Namun, saat mudik kali ini ternyata tayangan pelayanan PT ASDP yang diputar di TV. Tentu saja saya sangat kecewa. Bisa saja saya nonton menggunakan ponsel atau tablet tapi rasanya lebih seru nonton ramai-ramai di kapal.


Dulu sebelum ada kapal eksekutif, saya dan suami pernah naik kapal reguler. Salah satu kapal reguler tersebut di dalamnya terdapat bioskop mini berbayar. Selama perjalanan kami habiskan waktu untuk nonton film. Tidak semua kapal reguler memiliki fasilitas tersebut. Namun,momen itu sangat berkesan dan belum saya jumpai pada kapal eksekutif. 


Setiap kapal memiliki ruangan VIP, termasuk kapal eksekutif memiliki ruangan VIP. Tentu saja ruangan itu berbayar. Perbedaannya jelas lebih privat dan nyaman serta dilengkapi dengan fasilitas tambahan snack. Namun, tidak semua orang berminat masuk ruangan VIP. Karena memang kapal eksekutif sendiri sudah nyaman, ditambah anak saya lebih senang bermain di playground. Berbeda dengan musim mudik, ruangan VIP selalu diburu. 


Playground di dalam kapal hanya sepetak kecil. Mungkin lima orang anak kecil saja sudah penuh. Bersyukur saja walaupun kecil ada tempat bermain untuk anak. Uniknya di playground ada dua mobil yang hanya bisa dijalankan dengan koin uang logam dua ratus atau lima ratus rupiah saja. Jadi, setiap naik kapal kami wajib bawa uang koin logam dua ratus dan lima ratus rupiah. 


Perbedaan naik kapal berdua suami dengan keluarga besar, sepertinya lebih seru bersama keluarga besar, karena segala macam tentengan dibawa. Mulai dari rantang nasi dan lauk sampai termos air panas untuk sedu mi dan kopi pun kami bawa. Benar-benar seperti piknik. Pemikiran orang tua tentu berbeda dengan kami yang masih muda. Kami lebih ke bawa diri saja tanpa persiapan matang mengenai perbekalan karena memang di kapal juga tersedia aneka makanan, namun harganya dua kali lipat dibanding harga darat. Orang tua sudah pasti mengajarkan arti hemat.


Selain itu juga di dalam kapal terdapat beberapa orang yang menawarkan jasa pijat dan bekam. Rata-rata yang berprofesi adalah laki-laki. Tentu saja peminatnya juga para penumpang laki-laki khususnya mereka yang lelah menyetir mobil atau sopir-sopir mobil besar. 


Setiap naik kapal atau akan turun kapal, kami selalu diburu oleh para pemburu koper yang sering disebut poter. Porter kapal merupakan buruh angkut informal di pelabuhan. Poter dengan seragam oranye sering kali berebut naik ke kapal dan bergegas menghampiri para penumpang untuk menawarkan jasa angkut koper atau barang-barang. Profesi ini sangat penting bagi pemudik pejalan kaki. Namun, para poter penuh persaingan ketat, terutama saat arus mudik. Harga yang ditawarkan pun bisa sampai empat kali lipat. Biasanya jasa poter hanya dua puluh lima ribu, namun saat momen Lebaran bisa mencapai seratus ribu bahkan lebih. 


Saya sangat menikmati momen mudik dengan kapal laut karena bisa menikmati pemandangan langit dan laut yang biru, sambil membawa rasa haru saat meninggalkan tanah Jawa tanah kelahiran. Keindahan yang dinikmati tentu saja masih terasa belum sempurna karena ada hati yang tertinggal, jauh di tanah seberang. Belahan jiwa, orang tua yang melahirkan saya.


Saat ini kita berada pada zaman digital, sehingga komunikasi jarak jauh sangat mudah digapai. Orang tua zaman kini pun sangat modern dan mahir menggunakan HP. Namun, momen sungkem saat Lebaran merupakan momen lebaran yang tidak bisa digantikan hanya dengan video call semata.


Delapan tahun tak terasa sejak menyandang status istri, kapal laut ini mengantarkan saya menuju tanah baru, tanah yang asing namun hangat. Bahkan kehangatannya melebihi tanah kelahiran. Entah kapan momen sungkem itu datang kembali. Tetapi satu hal yang pasti, momen mudik saat meninggalkan tanah kelahiran terasa lebih ringan, karena telah memiliki keluarga asing rasa keluarga asal yang selalu menunggu di perantauan


Kalianda, 25 Maret 2026


________


Penulis


Ayrin Widya Mustika Sari, lahir di Serang 12 April 1992. Seorang perantau dari tanah Jawa.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Thursday, March 19, 2026

Esai Nia Kurniati | Lebaran

Esai Nia Kurniati



Mengenang masa kanak-kanak saya dulu sekitar tahun '90-an, Lebaran adalah momentum yang sangat membahagiakan. Aroma lebaran sungguh sangat terasa dari awal Ramadan, bagaimana riuhnya seluruh penghuni rumah mulai bergotong royong membersihkan area sekitar rumah. Dari minggu pertama Ramadan hingga minggu terakhir, semua sibuk dengan segala macam persiapan Lebaran.


Di minggu pertama, saya, ibu, paman, bibi, dan saudara-saudara sepupu saya akan berkumpul di rumah nenek. Tentu kami yang berkumpul adalah anak cucu nenek yang tinggal satu kampung dengan beliau. Suasana penyambutan Lebaran ini kami mulai dari rumah nenek (tempat berkumpul keluarga besar). Kami mulai membersihkan setiap sudut rumah. Menyapu, mengepel, mencuci gorden, membersihkan kaca jendela serta tak lupa halaman yang cukup luas itu pun harus disapu bersih dan ditata rapi. Kamar-kamar harus berganti seprei, kasur, dan bantal harus mulai dijemur. Dan tugas paling utama dan harus paripurna adalah mengeluarkan deretan toples kaca dari gudang, toples-toples besar dan kecil yang selama setahun hanya diam berdebu. Toples-toples ini harus dicuci bersih dan dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum siap digunakan untuk menampung berbagai aneka kue.


Setelah minggu pertama bergotong royong membersihkan area rumah, maka memasuki minggu kedua, kami mulai menyiapkan aneka bahan kue: tepung, mentega, gula, telur, minyak dan lain-lain. Aroma rumah berubah total. Wangi vanila dan mentega yang dipanggang mulai tercium dari sudut dapur nenek. Ibu dan saudara perempuannya mulai berjibaku membuat adonan aneka kue--mereka mengadon masih menggunakan cara manual. Di masa itu, membuat kue adalah hal yang tidak boleh terlewatkan, maka tidak hanya dapur nenek yang mengeluarkan aroma wangi mentega, tetapi dapur para tetangga pun saling berlomba mengeluarkan aroma has itu. Saya dan sepupu memiliki tugas menata adonan ke loyang dan menata kue yang sudah matang ke dalam toples.


Ada catatan tak tertulis yang akan menjadi petuah sakral nenek: ketika kue sudah masuk ke dalam toples maka jangan ada yang menyentuh sampai hari Lebaran tiba. Nenek akan membuat catatan kecil tak tertulis bahwa setiap toples sudah punya hak miliknya masing-masing sesuai dengan jumlah anak-anak beliau. Bisa dibayangkan dengan sepuluh anak, jika nenek membuat sedikitnya tujuh jenis kue, maka dikalikan tiga toples untuk satu anak, akan terlihat berapa banyak kue yang harus tersedia untuk sepuluh anaknya. Belum kue yang khusus untuk tamu nenek-kakek termasuk keluarga besar beliau yang nanti berkunjung. Maka momen membuat kue ini tidak akan selesai hanya di minggu kedua, tapi akan terus berlanjut hingga nanti menjelang malam takbiran tiba.


Aneka kue kampung yang has; kue aster, kue gencet, kue soldah, kue mentega, kue sagon, rempeyek, gipang, seroja, rengginang, biji ketapang, wajik, dapros, akar kelapa, bolu kuwuk, merupakan aroma terapi bagi saya dan para sepupu, penyemangat untuk menuntaskan puasa sampai magrib. Karena setelah magrib tiba, kami akan diperbolehkan mencicipi kue-kue tersebut dengan catatan tidak mengambil kue yang telah masuk toples-toples khusus itu. Kue-kue yang sudah tertata rapi dalam toples khusus itu akan kembali masuk gudang almari kayu nenek dan harus ditata kembali, berjejer sesuai dengan ukuran toplesnya. Dan, tentu nenek akan menjadi pawang gudang almari tersebut.


Di sela kepulan asap dapur yang masih menguarkan aroma khas kue kampung, di minggu ketiga kami mulai gelisah oleh harapan. Harapan akan kedatangan paman dan bibi yang dari kota. Setiap kali ada deru motor ojek lewat di depan rumah, kami bergegas lari ke depan teras berharap orang yang kami tunggu segera hadir. Nenek akan terlihat gelisah ketika anak-anak rantaunya belum juga datang--saat itu di kampung kami belum ada telepon rumah apalagi telepon genggam, jadi satu-satunya harapan kami adalah mendengar deru mesin motor ojek berhenti di depan rumah nenek. Kabar kedatangan paman dan bibi beserta anak-anaknya dari kota sangat melegakan dan membahagiakan. 


Dan minggu keempat adalah puncak dari segala kesibukan dan celoteh riang bahagia nenek kakek karena anak cucunya sudah kumpul semua. Inilah momen nenek-kakek mengumpulkan semua cucunya yang tinggal di kampung dan akan memperkenalkan aneka bawaan oleh-oleh kota dari paman dan bibi. Ya, bagi saya dan sepupu yang tinggal di kampung, oleh-oleh kota adalah oleh-oleh yang sangat mewah pada masa itu.  enek dan kakek akan membagikan oleh-oleh tersebut untuk kami cicipi. Kue kaleng, aneka buah kota seperti apel, anggur, pir salak pondoh, dan jeruk saat itu adalah buah-buahan mewah yang tidak ada di kampung. Ada momen lucu ketika itu bibi membawa anggur hijau. Dengan tenangnya kakek membagikan setiap anggur pada kami, termasuk saya untuk mencicipi. Kami baru tahu kalau ada anggur yang berwarna hijau dan jauh lebih manis rasanya. Selama ini yang kami tahu, anggur itu berwarna ungu. Kakek iseng mendekati saya yang hendak makan buah anggur itu. Ia berbisik, "Tong diemam weureu". Spontan saya lepehkan lagi buah anggur itu dan membuangnya ke lantai. Tapi saya lihat kakek senyum-senyum. Paman yang melihat saya kaget, kenapa saya membuang anggur hijau itu. Kemudian paman saya bilang, "Makan aja, itu enak," sambil tertawa.


Ditengah celotehan riang nenek-kakek ada anak-anak perempuannya yang masih berjibaku dengan kepulan asap dapur. Kali ini tidak lagi memasak aneka kue Lebaran. Tapi sudah mulai sibuk membuat bumbu untuk aneka hidangan. Ya, satu hari menjelang Lebaran, di kampung kami ada tradisi potong kerbau (daging patungan warga) buat warga yang patungan daging. Sebelum gema takbiran tiba, hari terakhir puasa adalah saatnya memasak aneka lauk untuk Lebaran besok harinya. Selain semur daging dan gemblong, di kampung kami memiliki tradisi nyate. Sate khas kampung kami adalah sate kerbau dengan potongan daging yang besar dan tusuk sate yang panjang. Momen membuat sate inilah momen yang paling khas, maka buka puasa terakhir kami dengan hidangan yang sangat istimewa: sate kerbau besar dan semur daging--menambah suasana berbuka begitu nikmat. Ramadan dan Lebaran kami lewati dengan rasa syukur yang meluap.


Tiba hari Lebaran, setelah salat Id, kami saling bersalaman dan bermaaf-maafan, berkumpul di ruang tengah menggelar tikar dan makan bersama menikmati aneka hidangan Lebaran. Setelah itu, kami berkeliling mengunjungi saudara-saudara tertua kakek, saling menyapa dan memperkenalkan anak cucu untuk mempererat silaturahmi. Terakhir, kami akan sama-sama berziarah ke makam nenek-kakek buyut kami. Lebaran tanpa gawai terasa begitu hangat saling berkunjung dan silaturahmi secara langsung menatap orang-orang berharga di depan kita. 


Hari ini menjelang Lebaran tahun 2026, setelah puluhan tahun, hati saya selalu kembali ke dapur nenek tahun '90-an. Suasana itu mungkin telah berubah, tapi rasa hangatnya masih menetap di sana, di dalam kamar memori yang saya kunci rapat.


Serang, 18 Maret 2026


________

Penulis


Nia Kurniati, terlahir di kabupaten yang asri, Pandeglang, 19 Juni 1984. Berkegiatan seperti ibu-ibu pada umumnya mengurus rumah tangga. 

Tuesday, March 17, 2026

Proses Kreatif | Mencari Penulis Berbakat

Oleh Encep Abdullah



Hari Sabtu lalu (14 Maret 2026), saya menghadiri acara peluncuran buku esai—buku perdana—Heru Anwari berjudul Suara dari Alaska di Rumah Dunia. Heru merupakan salah satu peserta yang saya asuh di Klinik Menulis Angkatan ke-6 pada 2024 lalu. Salah satu yang menarik dari Heru ini adalah haus belajar (menulis). Hal ini mengingatkan saya pada rekan-rekan yang saya asuh di Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa (#Komentar): Sul Ikhsan, Bayhaki, Ray Ammanda, dkk. yang dahaganya luar biasa akan ilmu (menulis).

Orang-orang yang saya sebut mula-mula saat pertama berjumpa seperti makhluk yang sedang tersesat di belantara hutan, bahkan kelihatan ”sakau”. Mereka seperti ingin membabat segala ilalang itu: rasa penasaran akan proses, tujuan, dan hasil. Saya, sebagai mentor, hanya memberi peta, mungkin tidak terlalu banyak ikut campur untuk masuk ke dalam belantara-belantara itu karena akan cukup melelahkan. Kadang, saya suruh mereka mencari penunjuk jalan (guru) yang lain. Sebagian entah pergi ke mana, sebagian lagi masih tetap ingin nyumput di ketiak saya. 

Guru, sejauh mana pun, pasti punya kelemahan. Jangan terpaku pada satu guru. Kadang, si guru kurang meng-update dan meng-upgrade ilmu. Jadi, guru perlu banyak cara agar obrolannya bisa nyambung—walau kadang terlalu memaksakan. Saya pun mungkin begitu. Untuk beberapa hal bisa saya ikuti, untuk hal lain mungkin saya abaikan. Saya tak mengerti, apakah memang belum menemukan orang lain selain saya agar dahaga mereka bisa terpuaskan—walau tak mungkin bisa terpuaskan—atau mereka memang malas mencari guru lain, atau memang tidak ada yang klop. Apakah sesulit itu mencari guru?

Adakalanya saya pun perlu mengecas diri. Mungkin sudah sering saya sampaikan hal ini pada tulisan-tulisan yang lalu. Saya perlu uzlah, mungkin lebih nyufi lagi istilahnya tahannuts. Agak ngeri sih istilah ini, padahal saya hanya gelandangan yang masih jauh dari akhlak mahmudah atau akhlakul karimah. Tapi, agenda macam uzlah kan tidak terus-menerus, hanya perlu merenung sekian menit, jam, atau hari untuk merefleksikan keadaan agar ada jalan terang. Maka, kembali riuh dengan orang lain mungkin bagian dari jawaban itu sebelum nanti mengecas diri dengan tahannuts kembali. Ini semata-mata agar melatih jiwa tetap berada dalam keheningan (menuju Allah) meskipun dalam keriuhan (duniawi).

Kembali kepada Heru. Ia adalah sosok anak jalanan dalam dunia BMX freestyle. Tubuh Heru sudah menjelajah banyak negara, banyak tempat. Ia tidak sekadar juga membawa tubuh, melainkan juga jiwa yang iqra. Ia gelisah, jiwanya berkecamuk, pikirannya bertengkar, lalu merenung dan menyimpulkan bahwa ada sesuatu di balik itu. Itulah iqra. Orang yang sudah iqra saya yakin akan mudah untuk menulis. Menulis adalah output dari iqra itu. Maka, lengkaplah sudah Heru menjadi penulis yang mendapat iqra dua kali: membaca dan menulis—seperti yang sering disampaikan Golagong ”menulis adalah membaca dua kali”.

Saya tidak tahu buku apa yang Heru baca. Intinya, ada bakat. Sekarang, ia ingin belajar menulis puisi. Saya selalu yakin, akan mudah orang seperti Heru untuk menjadi penyair. Jiwa perenungnya ada, jiwa filsufnya ada, jiwa iqranya ada, jiwa reflektifnya ada, komplet. Mungkin tinggal membaca banyak referensi saja agar bisa melihat peta para penyair itu seperti apa, biar tidak buta. Menulis kalau sekadar menulis, siapa pun mungkin bisa. Tapi, menulis yang tak sekadar menulis, tidak semua orang bisa. Bahkan, sekalipun saya—seringnya yang penting menulis dan tampak panjang paragrafnya, agak sulit untuk menulis yang terlalu dalam karena butuh kontemplasi yang juga dalam.

Sosok Heru adalah bagian dari tantangan memunculkan penulis baru berbakat di Banten. Apalagi ia  influencer. Malah, untuk memberikan dampak yang lebih luas kepada orang lain agar mau membaca dan menulis bisa sangat memungkinkan ketimbang saya. Karena banyak penulis muda yang saya asuh, atmosfernya kurang kuat. Sebagiannya sekadar menulis saja, bukan sebagai kontemplasi, bukan iqra yang iqra. Penjabaran iqra yang iqra, kiranya bisa kita pakai uraian dari K.H. Toto Tasmara yang menurut saya sebagai Muslim cukup mengena. Huruf ”alif” pertama melambangkan bahwa setiap permulaan dimulai dari Allah. Lalu, huruf ”qaf” melambangkan qalbu, bahwa sejatinya setiap yang kita kerjakan harus berasal dari hati. Maka, akan muncul ”ra” sebagai rahmatan lil ’alamin, suatu kebermanfaatan untuk umat. Terakhir ”alif” lagi, bahwa segala hal diakhiri dengan kepasrahan diri kepada Allah. Saya kira, itu ada dalam diri Heru, yang jarang saya temukan pada penulis lain.

Mencari penulis berbakat, apalagi di luar latar belakangnya sebagai akademisi, agak sulit dicari. Mungkin yang kuliah banyak. Akademisi pun banyak. Tapi, banyak juga yang gagap menulis. Maka, sosok seperti Heru menjadi semacam antitesis. Banyak rekan yang saya asuh, mereka adalah guru, sarjana, akademisi, bahkan pembaca buku yang ulung. Saat mereka menulis, saya tidak terlalu kaget. Pada diri Heru, lain lagi. Seperti ada semacam keaslian diri, bahkan kepolosan dan kejujuran diri menilai sesuatu. Pandangannya terhadap sesuatu tampak otentik dan itu yang tidak dimiliki banyak penulis baru, khususnya yang ada di Banten—dalam hal ini saya tidak sedang mengecilkan semangat teman-teman yang memang berada di jalur akademis.

Saat acara bedah buku Heru, Golagong bilang, ”Cep, kalau bisa cari penulis cewek yang punya bakat seperti Heru!”

Ini satu tantangan. Bisa saya temukan, bisa juga tidak. Penulis baru banyak, tapi mencari yang otentik agak susah. Untuk menyebut Banten, saya masih penasaran bahkan ingin ketemu dengan satu sosok penulis muda yang saya kira juga agak ”gila” pikirannya. Ia bernama Santama, asal Anyer. Bisa cari FB-nya dengan nama yang sama. Santama ini agak misterius, agak susah diajak ketemu. Bahkan, uniknya, ia bergabung dengan komunitas-komunitas (online) yang tidak pada umumnya sebagaimana kebanyakan orang Banten. Ia melanglang buana sendiri, belajar otodidak, tidak masuk dalam kelas akademis, tapi bacaanya cukup berbahaya. Tulisannya—cerpennya—otentik, bahkan seakan memberontak terhadap struktur bahasa. Anda bisa baca cerpen-cerpennya di NGEWIYAK. Saya belum menemukan sejauh ini, penulis—sastrawan—muda dari Banten yang menulis cerita macam Santama. Namun, saya belum menemukan cara agar Santama muncul di permukaan kesusastraan Banten. 

Mencari bakat penulis di Banten, itu gampang, tapi susah. Kadang juga susah, tapi gampang. Intinya aja deh, liyeeeeur!


Kiara, 17 April 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 


redaksingewiyak@gmail.com



Sunday, March 15, 2026

Cerpen Rakhanur | Gunting Rumput

Cerpen Rakhanur



Siang hari ketika matahari begitu terik, Dani menggendong ibunya menuju rumah Pak RT. Dia berjalan sekitar dua ratus meter dan berselisih jalan dengan beberapa orang tetangganya. Setiap orang yang berselisih jalan dengannya tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Bagaikan petir menyambar di siang bolong, mereka melihat Dani menggendong ibunya yang tanpa kepala. Darah segar masih mengucur dari pangkal leher. Melukis jejak perjalanan Dani.


Sesampainya Dani di rumah Pak RT, dia meletakkan tubuh ibunya di teras. Dia mengetuk-ketuk pintu. Pak RT yang menerima kedatangan Dani sama kagetnya dengan warga yang berpapasan dengan Dani di jalan. Pak RT coba mencerna apa yang terjadi di hadapannya. Walaupun sempat membeku, tetapi akhirnya dia sanggup untuk bertanya kepada Dani. Proses interogasi berjalan mudah. Dengan dingin Dani mangaku, "Aku telah menggunting kepala Ibu."


***


Rumah tidak bisa dikatakan tempat yang nyaman bagi Dani. Rumah adalah sarang durjana. Berbagai pertikaian anatara Sadeli dan Sulastri sudah menjadi makanan sehari-hari. Sedari kecil Dani tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mereka sibuk saling menghardik. Mereka selalu merasa paling benar sendiri. Sulastri tidak pernah menghargai tanggung jawab Sadeli walaupun dirinya telah mendapatkan hak-haknya dari Sadeli.


Malam hari selalu menjadi waktu-waktu yang menjengkelkan bagi Dani. Sadeli yang lelah setelah seharian berkeliling dagang kopi disambut oleh Sulastri. Bukan dengan segelas kopi atau kata-kata yang membuat Sadeli sedikit tersenyum, tetapi oleh wajah Sulastri yang sekusut seragam putih Dani di jam-jam menjelang pulang sekolah. Setelahnya Sulastri akan mengeluh tentang apa yang dia rasakan seharian tadi. Kalau Sulastri sudah mengeluh, rasa-rasanya dia adalah wanita paling miskin di bumi ini.


Sulastri selalu hidup dalam angan-angannya. Dia tidak pernah menapakkan kakinya ke bumi. Sulastri memiliki standar kehidupan yang tinggi tanpa sadar keadaan dia sebenarnya seperti apa. Suaminya hanya pedagang kopi keliling. Dirinya tidak pernah mau membantu mencari penghasilan tambahan. Namun, dia menginginkan gaya hidup glamour ala-ala selebritis yang selalu dia tonton di acara Singlet.


Ironinya Dani yang justru membantu Sadeli memenuhi kebutuhan keluarganya. Setidaknya dia terpaksa untuk mencari uang saku sekolah sendiri. Empat kali dalam sepekan Dani merawat taman yang ada di kompleks dekat kampung tempat tinggal dia. Jika hari itu adalah hari sekolah, maka Dani akan pergi ke taman selepas sekolah. Tak jarang dia membawa baju ganti untuk bekerja ke sekolah. Pulang sekolah langsung pergi ke taman dan mengganti seragam putih abu-abunya di sana.


Merawat taman yang cukup luas tentulah Dani tidak bekerja sendirian. Dia berbagi tugas dengan rekan-rekan kerjanya. Merawat rumput yang ada di taman adalah salah satu tugas yang sering ia kerjakan. Dia terampil sekali menggunakan gunting rumput. Memangkas rumput-rumput agar tetap terlihat cantik. Memotong setiap rumput liar yang tak diinginkan keberadaannya. Jika ada rumput taman yang mati, Dani juga yang mencabutnya untuk ditanami kembali dengan rumput yang segar. Namun, dari sekian perawatan rumput yang dilakukan dia secara terampil, Dani paling suka satu hal: menyiram. Dia sangat menikmati saat bau tanah menyeruak ke udara. Itu seperti obat penenang Dani di kala dia gusar karena keadaan rumah yang tak harmonis dan pikirannya yang terbebani pekerjaan rumah dari gurunya.


Hari ini adalah akhir pekan. Hari libur sekolah. Dani merawat taman pagi hari. Sejak pukul setengah tujuh Dani sudah bergaul dengan gunting rumputnya. Pekerjaannya sedikit tersaingi oleh aktivitas warga kompleks yang hanya memiliki waktu untuk berolahraga dua hari dalam sepekan. Selain itu, di momen-momen demikian kadang timbul rasa iri ketika melihat remaja nanggung seusianya yang bisa dengan asyik berolahraga dengan teman-temannya. Rasa irinya semakin memuncak kalau dia melihat sebuah keluarga harmonis yang jalan-jalan santai di taman sambil membawa anjing peliharannya.


Pekerjaan Dani sedikit bertambah di momen akhir pekan seperti ini. Semakin banyak pengunjung yang datang ke taman, maka semakin banyak sampah yang dihasilkan. Pasalnya tidak semua orang yang datang ke taman itu untuk berolahraga, tetapi banyak juga yang sekadar jajan-jajan atau menikmati sarapan yang mereka beli dari pedagang di sekitar taman. Meskipun taman ini berada di kompleks perumahan, tidak menjamin pengunjungnya betul-betul sadar akan kebersihan.


Setelah Dani selesai dengan pekerjaannya pagi itu, dia lantas pulang ke rumah. Sebelum sempat ia masuk ke dalam rumah, dia tertegun di pekarangan rumah. Dari dalam rumah terdengar maki-makian yang keluar dari mulut Sulastri. Tidak seperti biasanya, Sadeli saat itu membalas makian-makian Sulastri sama kerasnya. Nampaknya akumulasi kekesalan Sadeli kepada istrinya pecah hari ini. Kesabarannya sudah tidak terbendung.


Kemarin sepeda yang Sadeli andalkan untuk mencari nafkah disita Satpol PP. Sadeli terjaring razia di tempat yang tidak semestinya ada pedagang seperti dia. Sulastri meradang mengetahui suaminya kahilangan satu-satunya mata pencaharian. Dia tidak memberi solusi sedikit pun. Sulastri malah semakin merasa kalau dirinya adalah wanita paling miskin di dunia. Kondisi inilah yang diyakini menjadi pemantik sehingga amarah Sadeli pecah meledak-ledak.


Kondisi rumah sudah tidak karuan. Ketika Dani masuk ke dalam rumah, ternyata seisi rumah sudah berantakan. Satu-satunya foto keluarga yang dimiliki keluarga itu sudah lepas dari figuranya. Bingkainya patah dan kacanya sudah pecah berkeping-keping. Tidak ada lagi perabotan yang berada di tempat yang semestinya. Melihat kondisi sedemikian rupa, Dani yakin kalau konflik antara kedua orang tuanya sudah berada di tahap saling serang secara fisik. Tentulah itu membuat Dani semakin frustrasi.


Sejurus kemudian Dani melihat Sadeli menampar Sulastri. Sulastri membalasnya dengan jambakan. Sadeli tak mau kalah—membalas jambakan Sulastri. Sekilas Dani bisa melihat lebam-lebam biru di beberapa bagian tubuh Sadeli dan Sulastri. Rambut Sulastri sudah seperti gembel yang tidak pernah mandi. Sadeli sudah hiang kontrol. Sulastri histeris menangis. 


Sulastri berlari ke dapur, mengambil pisau, dan kembali menghampiri Sadeli. Tanpa basa-basi dan belas kasihan, Sulastri menyerang Sadeli tanpa ampun. Dani menyaksikan betapa ganasnya Sulastri menghunuskan pisau dapur kepada Sadeli berkali-kali. Dada, perut, hingga wajah Sadeli habis oleh Sulastri. Sadeli terkapar dengan kondisi yang mengerikan. Sulastri tertegun duduk di hadapan jasad suaminya. Memandangi suaminya dengan rasa tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan. Teriakan histerisnya menghilang. Sisa air mata yang masih terus mengalir.


Dani mendekati Sulastri. Berjalan dengan pandangan dingin. Sorot mata Dani bertemu dengan sorot mata Sulastri. Seketika air muka Sulastri berubah. Setiap jarak antara dirinya dengan Dani terpangkas, wajahnya semakin memancarkan wajah ketakutannya. Adegan ini seperti adegan seekor singa yang siap memangsa rusa yang sudah tidak berdaya. 


Dani mengeluarkan gunting rumput yang biasa dia pakai untuk bekerja dari tasnya. Sama seperti Sulastri yang tak segan menghabisi nyawa Sadeli, Dani langsung menusukkan ujung gunting rumputnya ke leher Sulastri. Tak puas dengan apa yang telah dilakukannya, Dani kemudian menggunting leher kepala ibunya dengan dingin. Lapisan kulit terbuka. Darah segar semakin deras mengalir. Daging, tulang, dan segala yang berada di dalam lapisan kulit leher dilumat oleh gunting rumput perlahan-lahan. Kepala Sulastri terputus. Kemudian Jasad tanpa kepala itu digendong oleh Dani ke rumah Pak RT. 

______

Penulis


Rakhanur, lahir di Lebak pada 2 Mei 2005. Sedari kecil banyak dicekoki bacaan oleh orang tua. Sekarang, makin jatuh cinta terhadap sastra, terlebih setelah bergabung sebagai anggota UKM Belistra pada 2023 dan Komunitas untuk Perubahan Budaya (Kubah Budaya) pada 2025. Menjadi Ketua Umum UKM Belistra (Periode 2025) dan Pimpinan Redaksi majalah Langgam untuk tugas akhir mata kuliah Menulis Kreatif di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com