View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, July 19, 2026

Cerpen M Waladul Abror | Kalah

Cerpen M Waladul Abror



Hari-hari melintas dengan mata pisau yang tak terlihat bagi Arga. Pemuda yang tengah meniti ilmu di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia itu berjalan di antara mimpi dan kenyataan yang sering kali saling berseberangan. Seusai meninggalkan bangku SMA di Ponorogo, ia memilih memikul dua beban sekaligus: kuliah dan bekerja. Di rumahnya, ayah mengadu nasib sebagai kuli harian, sementara ibu menakar harapan lewat jajanan yang dijual dari beranda rumah.

Maka, selepas kuliah Arga kerap menitipkan lelah pada pekerjaan apa saja yang datang. Pernah ia mengangkat tumpukan material bangunan hingga telapak tangannya mengeras dan peluh membasahi punggungnya. Namun, ia tak pernah mengeluhkan keadaan. Baginya, setiap rupiah yang terkumpul adalah serpihan harapan yang harus dijaga agar tidak tercerai-berai.

Senja turun perlahan ketika langkahnya hendak menuju rumah Iwan, sahabat yang telah menemaninya sejak masa SMP. Iwan adalah sepotong cahaya di antara hari-hari yang kusam—selalu riang, selalu memiliki cerita yang mampu mengusir penat. Bersamanya, Arga sering menghabiskan sore di warung kopi sederhana, membiarkan waktu larut dalam percakapan tentang hidup yang kadang ramah, kadang pula terasa begitu asing.

Sebelum berangkat, pandangannya tertahan pada sebuah telepon genggam yang terbaring sunyi di dekat kursi ruang tamu. Secangkir kopi hangat masih mengepulkan aroma yang bercampur dengan lengang sore. Di antara uap yang perlahan memudar, Arga memandang benda itu cukup lama, seolah ada kabar yang sedang menunggu untuk mengetuk hidupnya.

Tanpa banyak pertimbangan, Arga meraih telepon genggam yang terbaring sunyi di dekatnya. Jemarinya menyusuri layar, membiarkan deretan status WhatsApp berlalu seperti bayang-bayang yang melintas di tepi jalan. Hingga akhirnya, pandangannya tertambat pada sebuah kabar yang menyala lebih terang daripada yang lain, seseorang berhasil membawa pulang uang dalam jumlah besar hanya dalam hitungan waktu yang singkat.

Kabar itu menjelma benih yang jatuh ke dalam tanah pikirannya. Mula-mula kecil dan nyaris tak berarti, tetapi perlahan tumbuh, menjalar ke segala arah, memenuhi ruang benaknya yang selama ini sesak oleh kebutuhan. Di tengah perjuangan yang tak pernah benar-benar usai, cerita itu terasa seperti setitik cahaya yang muncul di ujung lorong panjang.

Angan-angannya pun mulai berlayar jauh. Ia melihat sebuah laptop baru berdiri di atas meja belajarnya, melihat senyum kedua orang tuanya yang tak lagi dibebani kegelisahan, dan melihat dirinya berjalan tanpa dihantui hitungan biaya yang terus mengejar dari belakang. Bayangan-bayangan itu datang silih berganti, mengisi kepalanya seperti awan yang semakin menebal menjelang hujan.

Tak lama kemudian, langkahnya membawa menuju lemari tua di sudut kamar. Dari sana, ia mengeluarkan tabungan yang selama bertahun-tahun dijaga dengan kesabaran yang tak sedikit. Tangannya bergetar ketika membuka celengan itu. Bunyi kepingan dan lembaran uang yang terkumpul dari peluh serta lelah bertahun-tahun terdengar lirih di telinganya. Sesungguhnya, uang itu adalah jalan menuju motor yang selama ini hanya hidup dalam mimpinya. Namun, harapan yang baru saja tumbuh menjelma ombak yang lebih besar. Ia datang menghantam keraguan, mengikis kewaspadaan sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanyalah keberanian yang dibalut rasa penasaran.

Dengan tangan sedikit gemetar, Arga memindahkan seluruh uang tabungannya ke dalam saldo permainan itu. Tak ada lagi yang tersisa selain harapan dan keyakinan bahwa keberuntungan akan berpihak kepadanya. Dada Arga yang dipenuhi debar tak menentu saat siap memainkan permainan. Sentuhan pertama,  angka-angka itu bergerak naik. Sentuhan kedua naik begitu dahsyat.Sejenak, dunia terasa lebih ramah kepadanya. Angka-angka yang berlipat ganda itu menjelma harapan yang menari-nari di pelupuk matanya. Ia seperti melihat masa depan yang selama ini berdiri jauh di seberang sana perlahan mendekat. Senyum yang lama tersimpan akhirnya merekah di wajahnya.

Waktu pun berlalu tanpa suara. Sore merayap pelan di balik jendela, sementara Arga masih tenggelam dalam kegembiraan yang memabukkan. Dalam riuh angan yang memenuhi kepalanya, ia nyaris lupa bahwa ada seorang sahabat yang menunggu kedatangannya di ujung senja. Iwan, yang namanya perlahan tenggelam di antara gemerlap harapan yang baru saja menyala.

Karena kegembiraan yang meluap-luap di dadanya, Arga segera melangkahkan kaki menuju rumah Iwan. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajahnya sepanjang perjalanan. Sore itu, ia bahkan mengajak sahabatnya menikmati secangkir kopi di warung langganan mereka. Menurutnya, kemenangan yang baru diraih adalah rezeki yang menyambut pada waktu yang tepat, seolah langit berbaik hati setelah sekian lama membiarkannya bertengkar dengan kesulitan. Namun, Arga tidak memikirkan bahwa kemenangannya hanyalah pintu pertama menuju jalan buruk yang kelak menyeret hidupnya ke arah tidak jelas.

Sesampainya di warung, aroma kopi yang mengepul menyambut kedatangan mereka. Iwan yang heran melihat sikap sahabatnya itu lantas tersenyum dan bertanya. “Tumben, Gaa. Kamu yang traktir aku?”

Arga terkekeh pelan sebelum menjawab, “Iya, Wan. Tadi ada sedikit rezeki.”

“Alhamdulillah, Gaa,” sahut Iwan tulus. Mendengar kabar itu, hatinya ikut merasa senang. Baginya, Arga adalah sosok yang pantas memperoleh kebahagiaan. Sejak dulu, ia mengenal Arga sebagai pribadi yang baik hati, ringan tangan membantu sesama, serta tidak pernah menyerah meskipun hidup berkali-kali mengujinya dengan kesulitan.

Malam berlalu, meninggalkan jejak-jejak harapan yang masih menyala dalam benak Arga. Keesokan harinya, godaan itu datang kembali seperti seseorang yang sedang mengejar bayangan cahaya di kejauhan. Arga kembali mencoba peruntungan. Setelah Arga membawa lebih banyak rupiah daripada sebelumnya, kemenangan sebelumnya sudah bertumbuh jadi keyakinan yang perlahan mengaburkan kehati-hatiannya.

Di dalam kepalanya, mimpi-mimpi mulai tumbuh semakin tinggi. Ia membayangkan motor impian yang selama ini hanya mampu dipandangi dari balik kaca dealer. Ia membayangkan kedua orang tuanya tersenyum bangga saat ia mengajak mereka berjalan-jalan. Arga membayangkan di benak pikirannya tiap hari tanpa kecemasan, kekurangan, dan beban biaya kuliah yang terus dipikul. Tanpa disadari, bayang-bayang itu telah mengakar seperti besi yang sudah berkarat. Semakin ia menatap mimpi-mimpi itu, semakin jauh ia tersesat dan kewaspadaan yang selama ia jaga.

 Pertama, keberuntungan datang seperti mendapatkan berlian. Angka-angka di layar bergerak melampaui batas, membawa penuh harapan yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada Arga. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Untuk sesaat, ia merasa langit sedang membuka jalan bagi mimpi-mimpinya. Namun, keberuntungan ternyata hanya singgah sebentar. Perlahan, angka-angka itu berbalik arah. Sedikit demi sedikit, apa yang tadi bertambah mulai menyusut tanpa ampun. Arga menatap layar dengan napas tertahan. Di dalam dirinya, sebuah suara terus berbisik bahwa kehilangan itu hanyalah persinggahan sebelum kemenangan yang lebih besar datang menghampiri. Maka ia kembali melangkah ke jalan yang sama.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dan setiap langkah membawanya semakin jauh dari apa yang ingin ia pertahankan. Keringat mulai merembes dari telapak tangannya. Di atas meja, secangkir kopi yang tadi menghangatkan sore perlahan kehilangan uapnya. Kehangatan itu menghilang sedikit demi sedikit, sebagaimana harapan yang mulai luruh dari dalam dirinya. Namun Arga tak menyadarinya, pandangannya telah terpenjara oleh cahaya layar yang berkedip-kedip di hadapannya.

Ia terus mengejar apa yang telah pergi. Terus mengulurkan tangan kepada bayang-bayang yang semakin menjauh. Terus berharap pada kemungkinan yang tak pernah benar-benar ada. Angka demi angka lenyap seperti dedaunan kering yang diterbangkan angin. Tak ada yang tersisa untuk digenggam. Tak ada yang kembali meski telah dipanggil berkali-kali.

Di dalam dadanya, kegelisahan tumbuh seperti malam yang perlahan menelan cahaya senja. Napasnya memberat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ada ketakutan yang mulai mengetuk, tetapi ia menolak membuka pintu untuknya. Hingga akhirnya, layar itu menampilkan satu kenyataan yang dingin dan tak terbantahkan Rp0,00.

Seketika dunia di sekelilingnya terasa membisu, waktu seolah berhenti mengalir, udara terasa menggantung. Arga hanya menatap layar itu dengan mata yang kosong. Cahaya dari telepon genggam memantul di wajahnya yang pelan-pelan kehilangan warna. Arga seperti seseorang yang terbangun dari mimpi panjang, lalu mendapati seluruh kenyataan telah berubah menjadi hampa.

Tabungan yang dikumpulkan dari tahun ke tahun sudah lenyap tak tersisa. Peluh yang pernah jatuh di bawah terik matahari.Tenaga yang pernah diperas hingga tubuhnya nyaris tumbang. Harapan-harapan kecil yang selama ini disimpannya untuk masa depan, semuanya tenggelam dalam satu malam yang tak pernah ia bayangkan. Motor impian itu kini hanya tinggal bayangan yang memudar di kejauhan. Keinginan untuk meringankan beban kedua orang tuanya luruh seperti daun tua yang jatuh sebelum sempat menyentuh musim yang dinanti. Perlahan, telepon genggam itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Bunyinya memecah kesunyian, lalu kembali ditelan oleh sepi yang lebih dalam.

Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi.Langit senja di luar jendela telah lama berubah menjadi gelap, tetapi malam yang sesungguhnya justru baru saja tumbuh di dalam dirinya. Pandangannya beralih ke arah lemari tua di sudut kamar. Tempat itu pernah menyimpan mimpi-mimpinya, menyimpan hasil kerja keras yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dengan kesabaran yang panjang. Kini, yang tersisa hanyalah ruang kosong. Dan di dalam ruang kosong itu, penyesalan duduk seorang diri, menemaninya dalam sunyi yang tak lagi memiliki jawaban.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Arga. Dalam diam, ia melihat kembali potongan-potongan hidup yang pernah dilaluinya. Terik matahari yang membakar kulit saat bekerja. Peluh yang jatuh tanpa sempat dihitung. Rasa lelah yang selama ini dipendam rapat-rapat di balik senyum dan keteguhan. Serta harapan yang disusunnya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang sedang menata batu demi batu untuk membangun sebuah jembatan menuju masa depan.Kini, semuanya terasa runtuh dalam satu hari.

"Kenapa ini?" bisiknya lirih.

Pertanyaan itu melayang begitu saja di ruang kamar yang lengang. Tak ada jawaban.Yang terdengar hanyalah suara kipas angin yang berputar pelan, mengaduk kesunyian yang menggantung di udara. Malam terasa begitu panjang. Arga melihat lantai tanpa tujuan, seakan ia mencari sesuatu yang telah hilang dan tak mungkin ditemukannya lagi.

Pengalaman pertama ini,  ia merasa asing seperti di negara orang. Ia malu kepada dirinya yang telah merelakan perjuangan dengan sia-sia, malu kepada kedua orang tuanya yang senantiasa mengajarkan rezeki yang baik lahir dari kesabaran dan kerja keras. Namun penyesalan selalu datang setelah segalanya terjadi. Ia tahu, air mata tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Ratapan tidak akan memutar waktu ke belakang.

Perlahan, Arga menundukkan kepala. Barulah ia sadar bahwa kemenangan yang semula sempat membuatnya bersorak bahagia, justru umpan yang menyeret menuju jurang yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan langkah yang berat. Arga berusaha menenangkan pikirannya, meski penyesalan masih menetap di dadanya seperti tamu yang enggan pulang. Hingga pada suatu sore, ia memberanikan diri berjalan menuju rumah Iwan. Sesungguhnya, ada kegelisahan yang terus mengiringi langkahnya. Ia ingin meminta bantuan.Namun lidahnya terasa kelu hanya untuk membayangkannya.Tahun lalu, hubungan mereka sempat terusik oleh persoalan uang dalam sebuah acara tujuh belasan. Meski masalah itu telah lama selesai, kenangannya masih tertinggal di sudut hati Arga seperti noda yang sulit dihapus.

Ketika sampai di depan rumah sahabatnya itu, Arga menarik napas panjang."Alhamdulillah, Iwan ada di rumah," gumamnya dalam hati.

Di emperan rumah yang sederhana, Iwan tampak duduk santai. Asap rokok melayang tipis di udara senja, bercampur dengan aroma kopi yang mengepul dari cangkir di tangannya.Melihat kedatangan Arga, wajahnya langsung berbinar."Sini, Gaa. Duduk. Kita ngobrol dulu. Nanti aku buatkan kopi. "Keramahan itu masih sama seperti dulu. Sehangat senja yang perlahan turun di halaman rumah.

"Iya, Wan," jawab Arga pelan.Ia duduk, meski kegelisahan di dadanya belum juga reda. Keinginan untuk meminjam uang masih tertahan di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang mengikat kata-kata itu agar tidak keluar.

Tak lama kemudian, Iwan kembali dengan secangkir kopi hangat."Nih, Gaa. Kopimu."Cangkir itu diletakkan perlahan di atas meja.

"Makasih, Wan," jawab Arga.Uap kopi naik perlahan ke udara, membawa aroma yang biasanya mampu menenangkan pikirannya. Namun sore itu, kegelisahan di dalam dadanya jauh lebih pekat daripada aroma kopi yang memenuhi teras rumah.

Di tengah percakapan yang belum sempat mengalir jauh, pandangan Arga tertuju pada seorang lelaki yang berjalan cepat dari arah barat.Itu ayah Iwan. Langkahnya panjang dan tergesa. Wajahnya memerah seperti langit senja yang terbakar matahari. Kerutan di dahinya menumpuk rapat, sementara sorot matanya menyala oleh amarah yang sulit disembunyikan.Iwan segera berdiri.

"Pak, kenapa?" tanyanya.

Namun lelaki itu terus berjalan tanpa menjawab. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.Ia hanya melintas seperti badai yang sedang menahan dirinya agar tidak pecah sebelum sampai ke tujuan.

Beberapa saat kemudian, dari arah belakang rumah terdengar suara bentakan yang memecah kesunyian sore. Nada suaranya keras, penuh kemarahan, penuh kekecewaan. Arga menangkap beberapa potong kalimat yang menyebut tentang utang dan kesulitan hidup. Ia terdiam. Tangannya yang memegang cangkir perlahan melemah. Dadanya terasa semakin sesak. Suara itu seperti cermin yang memantulkan keadaan dirinya sendiri. Meski belum mengucapkan apa pun kepada Iwan, ia merasa seakan sedang melihat bayangan masa depannya berdiri di hadapan mata.

Sore perlahan berubah menjadi senja. Dan di balik aroma kopi yang mulai mendingin, Arga hanya mampu menunduk, membiarkan kegelisahan tumbuh semakin dalam di dalam dadanya.

Arga berusaha mengusir kegelisahan yang sejak tadi menggelayuti pikirannya. Ia mulai melempar beberapa candaan ringan kepada Iwan, mencoba mencairkan suasana yang sempat terasa kaku. Di balik senyum yang dipaksakannya itu, ia diam-diam menyusun keberanian yang sejak tadi tercekat di tenggorokan.Percakapan mengalir perlahan seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Tawa sesekali terdengar di antara mereka, meski di dalam hati Arga, kegelisahan masih duduk dengan tenang dan enggan pergi.Ketika dirasa waktunya telah tiba, Arga menarik napas panjang.

"Wan, aku boleh pinjam uangmu dua ratus ribu rupiah?" tanyanya pelan.

Iwan menatap sahabatnya itu sejenak, lalu menjawab tanpa banyak pertimbangan."Boleh, Gaa. Tapi buat apa memangnya?"

Mendengar jawaban itu, beban yang sejak tadi menekan dadanya terasa sedikit terangkat. Namun pada saat yang sama, sebuah kebohongan perlahan lahir dari rasa takut yang belum sanggup ia kalahkan."Buat beli kipas angin, Wan. Kipas di kamar rusak kemarin."

"Oh, begitu." Iwan mengangguk pelan."Ya sudah, tidak apa-apa."

Seketika Arga mengucapkan terima kasih dengan senyum yang tampak lebih ringan daripada sebelumnya."Terima kasih, Wan."

Sebetulnyadari hatiada sesuatu yang terasa menusuk, Arga menyadari perkataan yang baru saja keluar bukanlah kebenaran tetapi kebohongan, namun ia terpaksa ada rasa takut dibenaknya jika diceritakan kisah yang sebenarnya, sahabatnya itu akan memandangnya berbeda. Ia takut dinilai ceroboh, takut kehilangan kepercayaan yang selama ini dijaga dengan baik.

Senja terus merambat menuju malam. Kopi di dalam cangkir tinggal menyisakan ampas dan aroma yang mulai memudar. Arga menghabiskannya dalam beberapa tegukan terakhir, seakan ingin menelan sekaligus kegelisahan yang sejak tadi mengendap di dalam dada.

Tak lama kemudian, ia berdiri dan berpamitan. Iwan mengantarnya hingga ke depan halaman, sebagaimana kebiasaannya setiap kali ada tamu yang pulang. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, langkah Arga terasa lebih berat daripada biasanya. Langit di atas kepalanya perlahan menggelap. Angin sore berembus pelan, membawa kesunyian yang membuatnya semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.Ia mengingat kembali semua yang telah terjadi.

Harapan yang sempat membuat terlena, kemenangan yang ternyata hanya fatamorgana,  simpanan yang lenyap menjadi cacing bersama mimpi yang indah. Dan sekarang sudah berbohong kepada sahabat yang selama ini selalu memperlakukannya dengan tulus.

Penyesalan kembali mengetuk pintu hatinya. Namun kali ini, di balik penyesalan itu tumbuh sebuah kesadaran yang perlahan menjadi terang. Arga mulai sadar tidak ada jalan pintas yang mampu menggantikan nilai perjuangan, uang yang datang terlalu mudah sering pergi dengan cara yang lebih mengecewakan. Sedangkan rezeki didapat dari kerja keras, meski lambat dan menguras tenaga tubuh, selalu membawa ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Sejak itu,  Arga berjanji tidak akan lagi mengejar bayang-bayang keberuntungan yang menyesatkan. Ia tidak akan mudah menyerahkan masa depannya kepada harapan-harapan semu yang menawarkan mimpi sesaat. Arga memilih kembali jalan yang pernah menguatkannya, yang penuh peluh, jalan yang penuh lelah. Namun, juga jalan yang mengajarkannya kesabaran, kejujuran, dan harga sebuah perjuangan. Di bawah langit yang mulai tenggelam ke dalam malam, Arga terus melangkah pulang. Dan untuk kali ini setelah sekian lama penuh masalah, ia berjalan menuju dirinya yang sebenarnya dan bertaubat.

_______

Penulis

M Waladul Abror, lahir di ponorogo, 11 desember 2003. Hobi menggambar & menulis. mahasiswa semester 4 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kuliah di STKIP PGRI Ponorogo.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman

Puisi Selendang Sulaiman

 



pemulih lelah.

 

jika kau tanya seberapa gigih aku mencintaimu,

waktu telah kita penuhi riwayat saling meneguhkan.

telapak tanganku bisa kau bakar dengan api lilin,

biar segala pertanyaan mengabu oleh nyeriku.

 

engkau saksiku menempuh nasib terjal,

teman segala musim, pemulih lelah-letihku.

di rumah yang dijaga sepasang mata kucing piaraan,

aku berteduh selamanya, minum kopi buatanmu.

 

nyanyikanlah dalam hati lagu setahun kita bersama,

biar bunga-bunga di halaman tahu kapan menguntum,

yang kita rawat sambil bertahan dalam kewarasan.

 

lihat, garis nasib telah hancur di telapak tanganku.

kau tak perlu meramal masa kita dengan tarotmu,

toh kita telah jadi sekepal kemurnian di tepi dunia.

 

 

jamu penerimaan.

 

aku bukan petani dengan selumbung benih murni,

maka kubajak hari-hari keras di sekujur jakarta.

menggali umbi-umbi kemungkinan cuan di café-café

dengan cangkul panca indera yang jarang diasah.

 

sembari memanggang akal sehat di bawah matahari,

jantungku mengolah angin musim dan debu cuaca.

malamnya, kupaksa diri minum jamu penerimaan

pada nasib yang mengkarat di telapak touchscreen.

 

mataku, ya mataku, saksi tunggal tanpa kata-kata,

yang membingkai kebusukan jadi kaca benggala.

tunggulah masa yang dijanjikan lidah harapan.

 

barangkali, siklus kebenaran tak lagi beroperasi,

baik-buruk laku manusia telah menjelma abu,

yang berhamburan menutup cermin peradaban.

 

 

penakluk dendam.

 

mendekatlah wahai kelembutan tunggal duniaku,

baluti jiwaku yang dipenuhi paku dan duri amarah.

lewat bahasa jalanan tanpa mawar kupanggil kau,

penakluk dendam bermata terang bintang kejora.

 

lembut tabiatmu perlahan menetralkan udara,

larut ke dalam jantung: segarlah alir darahku.

kini, di bising jakarta ketenangan berdentum,

mengangkis jiwaku dari selokan yang kotor.

 

kepadamu, sandaran bagi seluruh angkuhku:

keras batu di dasar hati yang menindih bahasa,

mencair oleh sentuhmu tanpa harus mandi api.

 

tenggelamlah aku ke dalam teduh pelukmu,

sebelum seluruh riwayatku lenyap tanpa catatan.

sebab hanya padamu kupadamkan api dendam.

 

 

kelahiran kedua.

 

puisimu menjelma rahim tabung puisiku,

setiap kata kau kawin-silangkan tanpa jarum.

bergerak tanpa mata menuju penyatuan bahasa,

lalu setetes darahku jadi daging yang bernapas.

 

kini lahirlah aku untuk yang kedua sebagai puisi,

dengan mata yang ditumbuhi bayangan masa lalu.

kubaca puisimu berulang kali dengan dada berdebar,

sampai kutemukan retakanku utuh dalam wujudmu.

 

tiada amsal bagi bentuk keduaku yang prematur,

kumau kita tumbuh—berjalan di punggung jakarta,

tanpa menoleh ke belakang yang babak belur.

 

dengan soneta ini, kuyakinkan kita sekali lagi:

bahwa tubuh kurus ini masih mengandung nyawa,

pembuka jalan baru bagi kita yang menolak mati.

 

 

kumiliki kamu.

 

kumiliki kamu sejak iblis menyumpal mulut malaikat

dentumnya menyumbat telinga kita dari semua nasihat.

seringaimu di awal perjumpaan kita tanpa ekspektasi,

meruntuhkan senyum cleopatra di mata caesar.

 

kutundukkan wajah angkuh sepanjang jalan jakarta,

setelah menuruni gunung geulis—bukit meditasiku.

kini tiap kali wajah mendongak ke langit biru,

senyummu tinggal di sana memantul dari mataku.

 

kumiliki kamu, penangkis lesat anak panah nasib,

yang terus memburuku bertubi-tubi selama ini.

dan di balik kemilau lelampu jakarta kita menyatu.

 

hari-hari kemudian sesekali kita melebur jadi puisi,

walau tetap tak senikmat telor ceplok sarapan pagi.

yang pasti, aku dan kamu telah saling memiliki.

 

 

candu sengsara.

 

telah kuteguk habis ludah sendiri,

saat bibirku basah oleh air mata

di kedua kelopak mata lelahmu,

dan lehermu lembap oleh peluhku.

 

malam di jogja selalu melankolis

bagi pelancong pemburu kenangan.

tetapi tidak bagiku yang pernah runtuh,

sebab canduku padamu lebih sengsara.

 

kau hadir tanpa belenggu jakarta,

dan aku tak mencari kuil nurani—

untuk lari dari dera nasib sialan.

 

di pelukmu aku tinggal, berumah,

tanpa menagih janji langit yang tertulis:

tanpa pengiyaan, matamu tersenyum.

 

Jakarta, 2026


 ______

Penulis

Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa cetak dan elektronik seperti Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, republika.id, dll, serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi puisi tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan Peta Biru Dunia Ketiga (Penerbit JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya segera terbit di akhir tahun 2026. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



 


Saturday, July 18, 2026

Resensi Kabut | Indonesia Itu Beras

Resensi Kabut




Penguasa mengadakan panen raya. Yang dipanen adalah padi, nanti menjadi beras, berakhir disantap sebagai nasi. Maka, yang dipikirkan duluan adalah sebutan dan wujud. Tempat untuk pertunjukkan akbar adalah sawah. Di situ, terlihat hamparan tanaman padi. Mata yang melihat mengartikan Indonesia (bakal) makmur bila sering diselenggarakan panen raya. Sawah-sawah yang subur. Beras yang dihasilkan melimpah. Kita kepikiran yang membahagiakan.

Namun, suasana yang tidak alamiah dalam tontonan itu disempurnakan oleh ucapan penguasa mengenai beras. Ada yang bingung menyimak pernyataan penguasa mengenai beras, harga mahal, menanam padi, dan lain-lain. Yang mudah teringat tentu Indonesia yang berjanji selalu swasembada beras. Konon, penguasa yang berhasil adalah Soeharto pada masa 1980-an. Kita tentu tidak lupa politik-beras yang pernah terjadi pada masa revolusi. Indonesia menyumbang beras pada India. Kebijakan yang berpengaruh dalam politik-global. 

Indonesia sering bermasalah beras. Ingatan tentang tragedi kelaparan itu bikin sedih. Beras yang harganya mahal membuat ibu-ibu lesu. Kebijakan impor beras kadang menimbulkan curiga. Beras sebagai sumber korupsi biasa terjadi. Politik-merayu demi kemenangan dalam rebutan kekuasaan biasa menggunakan bingkisan beras. Pokoknya, seribu cerita beras di Indonesia berulang, belun tentu menimbulkan kebaikan.

Di novel berjudul Bulir Emas di Negeri Seberang yang digubah Dou Mbojo, anak-anak yang membacanya diajak berpikir Indonesia dan beras. Buku yang dihiasi gambar Ipe Ma’ruf itu terbitan Rora Karya, 1977. Latar cerita di suatu desa, yang berada di NTB. Buku yang sengaja diedarkan di ribuan perpustakaan, berharap dibaca ribuan anak. Namun, kita menduga buku itu bukan bacaan yang memikat bagi anak-anak masa lalu.

Tokoh-tokoh yang dimunculkan di halaman-halaman awal adalah anak-anak. Mereka masih belajar di SD. Pengarang mengisahkan mereka bukan saat berada di sekolah. Yang terjadi adalah kemarau ganas. Warga desa menderita tapi susah menemukan jawaban dalam menyelamatkan hidup. Tahun-tahun yang buruk dan berat akibat kemarau. Pada saat turun hujan, mereka pun sedih dengan adanya banjir. Artinya, mereka berada di desa yang “mustahil” makmur dan bahagia. Mengapa mereka masih bertahan di desa saat harapan terus menipis?

Yang dilakukan anak-anak setiap hari adalah berjalan dan mencari makanan. Mereka tidak mau mati akibat kelaparan. Pengarang bercerita: “Ketiga anak itu tengah mencari umbi gadung. Sebagai makanan, pengganti nasi yang sudah lama tak dirasakan. Sejak musim kemarau tiga bulan mulai berlangsung. Sekarang bulan keempat. Bahan makanan telah habis dari persediaan.” Lapar adalah petaka. Yang mencari makanan sering tidak menemukan.

Anak-anak ikut bertanggung jawab agar tersedia makanan di rumah. Konsekuensinya, hari-hari mereka habis dalam perjalanan dan pencarian yang melelahkan. Musim kemarau berarti musim tidak belajar di sekolah. Kejadian yang dimaklumi: “Tetapi, ketiga anak itu telah lama meninggalkan bangku sekolah. Bukan hanya mereka. Seluruh murid sudah tidak ada yang bersekolah lagi. Sejak musim paceklik menyerang. Ini sudah menjadi kebiasaan setiap tahun.” Makanan lebih penting ketimbang pelajaran-pelajaran di kelas. Perut yang kelaparan tidak bisa belajar.

Pada saat menderita dalam mencari makanan, anak-anak sempat berbagi omongan dan pengetahuan. Yang sudah kelas 6 berusaha memberi penjelasan mengenai kutukan yang menimpa desa. Tokoh yang ingin sadar: “Kau tahu bahwa di daerah kita ini dulunya adalah daerah yang subur.” Ia mendapat penjelasan dari orang-orang yang sudah tua. Namun, kenyataan cepat berubah: “Orang-orang telah menebangi hutan dan pohon-pohon semaunya. Tanpa memperhitungkan akibatnya… Mereka membuat perladangan liar, menebangi pohon untuk keperluan rumah, kayu api, dan sebagainya.” Yang terjadi adalah perusakan. Desa yang menderita itu tidak sedang dikutuk Tuhan. Penyebab petaka adalah salah manusia yang tidak memuliakan alam, yang mencintai hidup dengan kesederhanaan.

Desa itu terselamatkan. Yang berusaha menanggulangi lapar adalah pemerintah. Maka, berdatangan pihak-pihak yang mewakili beberapa lembaga. Mereka datang membawa bantuan beras. Kita mulai paham bahwa buku cerita anak yang diterbitkan menggunakan anggaran pemerintah wajib mengabarkan kebaikan-kebaikan Orde Baru. Warga desa menerima beras, merayakan hidup setelah hari-hari yang menyiksa. Pemerintah dianggap berjasa.

Pada pembagian berasa, pihak pemerintah berkepentingan memberi pengumuman dan rayuan. Warga dikumpulkan agar mengetahui kebijakan pemerintah. Beras itu menjadi “tanda bujukan”. Pemerintah menginginkan warga melakukan transmigrasi. Jadi, novel yang dibaca anak-anak masa 1970-an berisi propaganda pemerintah. Novel ikut menyukseskan program rezim Orde Baru.

Sebagian besar warga mengikuti anjuran, meninggalkan desa atau tanah kelahiran. Yang dipikirkan adalah hidup, bukan derita-derita bila tetap berada di desa. Pergi ke tempat lain bukan perkara yang mudah. Mereka ingin mengubah nasib. Pemerintah mengaku bertanggung jawab. Warga pun ditantang mampu membenahi hidup di tanah yang baru. 

Yang disampaikan pihak pemerintah: “Mari kita sama-sama membangun daerah ini. Karena merupakan sebagian dari tanah air kita. Kami yakin atas kedatangan saudara-saudara akan membawa kebaikan. Untuk saudara-saudara, untuk daerah, bangsa, dan tanah air Indonesia.” Kita membayangkan pilihan diksi para pejabat bertujuan membuat warga patuh, percaya, dan bertanggung jawab. Kita belum perlu membandingkan penggunaan bahasa oleh pemerintah masa Orde Baru dengan masa sekarang.

Warga mudah terpengaruh. Yang ikut transmigrasi berpendapat: “Tanah air Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke. Masih luas yang belum tergarap. Menanti tangan-tangan emas yang menjamahnya, guna kepentingan pembangunan.” Novel untuk bacaan anak memastikan bahwa transmigrasi adalah progam unggulan Soeharto. 

Hari-hari berganti di tanah baru. Mereka mengolah tanah. Mereka mengikuti petunjuk-petunjuk pemerintah. Transmigrasi itu mengubah nasib. Akhirnya, mereka membuktikan: “Buah padi semakin lama semakin tua. Bulirnya yang berwarna kuning emas, kini sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat tua. Daun-daunnya sudah banyak yang mengering. Maka ketika sampai pada umur tujuh puluh hari, batang-batangnya banyak yang miring merebah.” Mereka menikmati kerja keras. Panen padi menimbulkan kebahagiaan. Beras bakal tersedia. Mereka makan nasi tanpa takut kelaparan dan siksa kemarau. Novel pun berhasil meyakinkan anak-anak bahwa makanan pokok rakyat Indonesia adalah beras.


_______



Penulis



Kabut, penulis lepas.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Thursday, July 16, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Kurs Dolar Naik, Tapi Kenapa Harga Kejujuran Malah Turun?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu

 


Yang Diperdagangkan Dunia Bukan Cuma Dolar

Para pembaca yang baik hati. Setiap kali rupiah melemah terhadap dolar Amerika, kita selalu mengulang kebiasaan yang sama. Kita menyalahkan The Fed, perang dagang, konflik geopolitik, harga minyak, atau kebijakan pemerintah. Semua penjelasan itu benar. Namun, karena terlalu sering diulang, kita lupa bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya yang diperdagangkan dunia? Apakah benar dunia hanya memperjualbelikan mata uang, atau sesungguhnya yang diperdagangkan adalah sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang itu sendiri?

Ekonom akan mengatakan bahwa nilai tukar dipengaruhi inflasi, suku bunga, produktivitas, neraca perdagangan, dan arus modal. Tidak ada yang salah dengan penjelasan itu. Tetapi ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan: mengapa modal memilih datang ke suatu negara, lalu meninggalkan negara yang lain? Mengapa investor bersedia menyimpan miliaran dolar di satu tempat, tetapi ragu menaruh sejuta dolar di tempat lain? Jawabannya tidak berhenti pada angka. Jawabannya berakhir pada satu kata yang tidak bisa dicetak oleh bank sentral: kepercayaan.

Bank Indonesia Mencetak Rupiah, Tetapi Tidak Bisa Mencetak Kepercayaan

Ada kesalahpahaman yang selama ini kita warisi. Kita mengira Bank Indonesia mencetak nilai rupiah. Sesungguhnya tidak. Bank Indonesia mencetak uangnya, tetapi tidak bisa mencetak nilainya. Nilai rupiah lahir dari keyakinan bahwa masyarakat yang menggunakannya memiliki sistem yang dapat dipercaya, di mana hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, perjanjian dihormati, pejabat tidak menjual kebijakan yang merugikan rakyat, data negara tidak direkayasa, dan korupsi bukan budaya. Ingat, mesin percetakan uang mampu menghasilkan miliaran lembar rupiah, tetapi tidak ada satu pun mesin di dunia yang mampu mencetak kepercayaan.

Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita sibuk menghitung cadangan devisa, tetapi lupa menghitung cadangan integritas. Kita bangga ketika investasi masuk, tetapi diam ketika kejujuran keluar dari kehidupan sehari-hari. Padahal investasi datang mengikuti kepercayaan, dan kepercayaan mengikuti karakter.

Investor Tidak Pernah Membeli Rupiah

Kita sering berkata bahwa investor membeli rupiah, membeli saham Indonesia, membeli obligasi negara, atau membeli proyek-proyek strategis. Kalimat itu sebenarnya belum lengkap. Yang pertama kali mereka beli bukanlah aset, tetapi keyakinan bahwa aset tersebut berada di tangan masyarakat yang dapat dipercaya.

Mereka tidak bertanya berapa banyak rumah ibadah yang berdiri di negeri ini. Mereka bertanya apakah kontrak akan ditepati. Mereka tidak menghitung berapa banyak ceramah agama yang disiarkan setiap hari. Mereka menghitung apakah pengadilan dapat menghadirkan kepastian hukum. Mereka tidak melihat seberapa panjang doa kita. Mereka melihat seberapa pendek jalan menuju suap.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sinis, tetapi pasar memang tidak mengenal basa-basi. Pasar hanya mengenal risiko. Dan risiko terbesar dalam ekonomi bukanlah inflasi. Risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan.

Kita adalah Bangsa Religius, Tetapi Kenapa Kepercayaan Masih Mahal?

Para pembaca yang baik hati. Ini adalah paradoks yang semestinya membuat kita gelisah. Indonesia adalah salah satu bangsa paling religius di dunia. Rumah ibadah berdiri megah. Pengajian, kebaktian, dharma, dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung hampir setiap hari. Namun, pada saat yang sama, indeks persepsi korupsi masih menjadi pekerjaan rumah, praktik suap belum benar-benar hilang, manipulasi data masih terjadi, dan kebohongan sering kali dianggap sekadar kecerdikan.

Kita jangan mengatakan bahwa agama gagal mencetak orang-orang menjadi baik.

Justru yang  jauh lebih menyakitkan adalah mengapa ajaran tentang amanah cuma sebatas berhenti di mimbar, tetapi tidak sampai ke ruang kerja?

Sebab agama yang hanya hidup dalam ritual akan menghasilkan masyarakat yang rajin beribadah. Tetapi, agama yang hidup dalam akhlak akan menghasilkan masyarakat yang dapat dipercaya. Dan dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya bahkan lebih tinggi daripada dolar.

Korupsi Tidak Mencuri Uang Negara

Kita sering mengatakan bahwa korupsi merugikan keuangan negara. Hal itu memang benar. Tetapi, kerugian terbesar bukanlah angka yang hilang dari kas negara. Korupsi mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu: reputasi.

Sekali sebuah negara dikenal sebagai tempat yang mudah disuap, sulit dipercaya, atau lemah penegakan hukumnya, maka biaya ekonomi langsung meningkat. Semua kontrak bisnis membutuhkan pengamanan. Semua investasi meminta jaminan tambahan. Semua orang mulai saling curiga. Biaya ketidakpercayaan membengkak, dan pada akhirnya seluruh rakyatlah yang membayarnya melalui harga kebutuhan yang lebih mahal, lapangan kerja yang lebih sedikit, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin lambat.

Korupsi bukan sekadar kejahatan hukum. Korupsi adalah metode tercepat untuk membombardir masa depan suatu bangsa dan negara.

Harga Kejujuran Sedang Turun

Para pembaca yang baik hati. Barangkali ini adalah masalah yang sesungguhnya. Kita tidak lagi merasa terganggu oleh kebohongan-kebohongan kecil. Suap berubah nama menjadi uang terima kasih. Pungutan liar menjadi uang peduli. Manipulasi laporan dianggap sebagai kreativitas administrasi. Menyontek menjadi kerja sama antarpelajar. Janji politik yang diingkari dianggap sebagai hal yang lumrah. Kita mengubah istilah agar hati tidak merasa bersalah.

Padahal setiap kali kebohongan dinormalisasi, maka harga kejujuran turun sedikit demi sedikit. Dan ketika harga kejujuran turun, maka biaya untuk membangun kepercayaan menjadi naik sedikit demi sedikit.

Lalu tanpa kita sadari, ekonomi ikut membayar tagihannya.

Rupiah Mengikuti Sesuatu yang Tidak Pernah Masuk Neraca

Para pembaca yang baik hati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ditentukan semata-mata oleh moral masyarakat. Ekonomi jauh lebih rumit daripada itu. Ada kebijakan moneter, perdagangan internasional, produktivitas, dan dinamika global yang tidak bisa diabaikan.

Namun ada satu kenyataan yang sering terlupakan. Semua faktor itu hanya bisa bekerja optimal apabila ditopang oleh kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari pidato. Kepercayaan lahir dari akhlak, dari amanah yang dijaga ketika tidak ada yang melihat, dari kejujuran yang tetap dipilih meski ada kesempatan untuk berbuat curang, dan dari rasa malu yang masih hidup ketika seseorang tergoda mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Mungkin karena itu, setiap kali kita melihat angka dolar naik terhadap rupiah, maka kita jangan cuma bertanya apa yang sedang terjadi di Washington. Tanyakan juga apa yang sedang terjadi di dalam diri kita. Sebab sejarah mengajarkan kita tentang satu hal yang sering terlupakan, yaitu bangsa-bangsa yang dulunya besar, mereka tidak runtuh ketika mereka kehabisan uang. Mereka runtuh ketika mereka kehabisan orang-orang yang dapat dipercaya.

Kita semua harus menyadari bahwa ketika kepercayaan kehilangan harga, maka yang terjadi adalah nilai mata uang pun ikut kehilangan nilainya.

______
Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com