View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, June 21, 2026

Cerpen Rakhanur | Bukan Debus

Cerpen Rakhanur



Kampung Sana memilliki hubungan yang erat dengan debus. Pertunjukan debus adalah hiburan bagi warga Kampung Sana sejak ratusan tahun yang lalu. Mula-mulanya kampung ini hanya tumbuh sebagai penonton. Keluarga Sukanta-lah yang mengawali tradisi bermain debus di Kampung Sana. Sukanta adalah generasi keempat di keluarganya yang menguasai permainan debus.

 

Sukanta sudah semakin sepuh. Kemampuan bermain debusnya dikalahkan oleh usia. Muncullah sebuah masa di mana ada kekosongan pemain bahkan pertunjukkan debus di kampung Sana. Semua warga rindu. Kini Jaya sebagai generasi kelima dari trah Sukanta akan menjawab kerinduan itu. Namun, Jaya mendapat penolakkan dari para tetua di desa. Para tetua termasuk Sukanta tidak suka dengan debus ala Jaya yang melenceng jauh dari nilai-nilai debus yang selama ini dipegang oleh Sukanta dan para pendahulunya.

 

DIA MAH PAMAEN SULAP, LAIN PAMAEN DEBUS, JAYA!1” Suara Sukanta menggelegar. Dia berteriak tepat di hadapan wajah anaknya. Hadirin yang bekumpul di balai membeku. Jaya tidak lagi memperpanjang keributan. Dia pergi meninggalkan bapaknya. Sejak saat itu Jaya tidak pernah terlihat lagi di kampung Sana. Dia berkelana dengan kelompok debus yang sudah terlanjur dibentuknya satu tahun yang lalu. Mimpinya untuk beratraksi di kampung kelahirannya harus dikubur dalam-dalam. Warga kampung Sana harus bersabar menahan rindu itu lagi.

 

***

 

Sayatan-sayatan menggores leher, lidah, telinga, lengan, hingga betis. Sekeras dan secepat cahaya petir. Dengung musik yang lantang tapi mendayu-dayu menjadi latar tak padu wajah-wajah kengerian penonton. Erangan-erangan seakan menahan perih mendramatisasi suasana. Di ujung aksi ini Jaya melempar golok asuhannya ke udara. Melayang. Lalu terjun menukik dan menancap tepat di kepala Jaya yang berikat kain putih. Kain ternodai. Merah. Wajah kengerian penonton berubah pucat. Agaknya Jaya memasang wajah kesakitan. Namun, sejurus kemudian ia mencabut golok yang menancap dan melepas ikat kepalanya dan terbahak. Tidak ada goresan sedikit pun. Tidak ada darah mengalir dari kepalanya. Penonton bersorak.

 

Sebuah lipatan terpal diletakkan di tengah arena pertunjukan. Dua orang bocah nanggung membuka lipatan itu. Ketika terpal terhampar lebarnya, penonton bisa menyaksikan betapa banyak pecahan-pecahan kaca di atas terpal yang sudah terhampar itu. Penonton menerka-nerka atraksi semacam apa lagi yang akan dilakukan Jaya.

 

Tidak sempat penonton memalingkan perhatian dari Jaya. Atraksi-atraksi gila susul-menyusul dipertontonkan oleh Jaya. Tangan keras nan kasar Jaya maraup pecahan-pecahan kaca. Segenggam di tangan kanan dan segenggam di tangan kiri. Genggaman kaca dilepas kembali ketika tepat sejajar dengan wajahnya. Berjatuhan. Gemercik pecahan-pecahan kaca yang saling terbentur seolah bicara kepada penonton bahwa ini kaca sungguhan. Wajah Jaya di-setting pada mode tengil. Membentuk gestur tempokeun aing yeuh!2 Dia raup kembali pecahan-pecahan kaca itu. Segenggam di tangan kanan dan segenggam di tangan kiri. Pecahan-pecahan yang ada dalam genggamannya diusap meyakinkan ke wajah. Ketika kaca-kaca itu bergesekkan dengan kulit wajahnya, Jaya meringis seakan kesakitan. Setelahnya wajah tengil kembali dipasang. Kali ini membentuk gestur aing kebal!3

             

Atraksi dengan kaca-kaca itu belum usai. Kini Jaya melepas bajunya. Melemparnya sembarang ke arah penonton. Dengan tangan yang terkepal kuat, Jaya memukul-mukul dadanya yang telanjang. Tangan kanan memukul dada bagian kiri. Tangan kiri memukul dada bagian kanan. Menyilang. Aksinya didramatisasi oleh raungan keras bak harimau Prabu Siliwangi. Kemudian Jaya membentangkan tangannya. Dia melompat dan menjatuhkan tubuhnya ke hamparan terpal yang penuh pecahan kaca itu sembari berteriak, "Allahu Akbar!". Sebagian penonton menutup matanya. Tak kuasa melihat aksi dari Jaya.

             

Jaya berguling-guling di atas pecahan-pecahan kaca itu. Serupa anak kecil sedang girang mandi bola, Jaya melempar-lempar pecahan kaca sembarang. Berbaring lagi. Menggerakkan tangannya seperti seekor dara mengepak-kepakkan sayapnya. Kakinya dibuka dan ditutup membentuk sebuah gerakan menggunting. Tepuk tangan penonton meledak. Semakin meledak ketika masing-masing mereka menyadari ini pertunjukkan debus yang pertama kali mereka tonton sejak dua puluh lima tahun yang lalu.

             

Di sisi selatan lapangan yang riuh, sebuah rumah tua bergeming. Tuannya sedari tadi hanya termenung di dalam rumahnya. Pantatnya menempel lekat pada sebuah kursi yang setua dirinya. Tatapan kosong. Telinganya tidak tuli. Dari rumahnya yang tepat berada di sisi selatan lapangan yang kini disulap menjadi teater pertunjukan Jaya, Sukanta bisa mendengar jelas hingar-bingar yang terjadi di sana. Musik-musik lantang, teriakan-teriakan penonton, dan gaya angkuh si Jaya bisa didengar Sukanta meski tak ada satu pun lubang rumahnya yang terbuka. Raga Sukanta tetap diam tak terusik oleh ramainya pertunjukan Jaya. Namun, isi hatinya bergejolak.

             

Mimpi buruk Sukanta telah menjadi kenyataan. Usahanya menghalau Jaya dan kelompoknya menggelar pertunjukan di kampung Sana hanya bertahan delapan tahun. Pertahanannya jebol seiring kepergian tetua-tetua kampung yang memiliki keyakinan sama dengannya. Suaranya tidak sebanding lagi dengan permintaan kebanyakan warga kampung. Warga kampung sudah tidak bisa bersabar lagi menahan rindu menonton debus. Dan mereka tidak peduli lagi soal nilai-nilai yang dipegang Sukanta. Bagi mereka nilai-nilai itu hanya omong kosong belaka, yang mereka tahu debus adalah pertunjukan orang kebal.

             

Semua orang di lapangan membubarkan diri setelah pertunjukan debus usai. Matahari ikut pergi. Lapangan kembali sunyi. Sembari berkemas, Jaya memandangi rumah yang tertutup rapat itu. Ada seporsi senyuman kemenangan merekah di wajahnya.

             

Belum sempat berganti pakaian setelah mendirikan dua waktu salat di musala, Sukanta duduk di beranda rumah. Segelas kopi hitam tanpa gula dan kretek menjadi teman dalam sunyinya malam. Sukanta lamat-lamat menatap lapangan. Ia coba memvisualisasikan apa yang tadi sore terjadi di lapangan itu dengan bermodal bunyi-bunyian yang ia dengar sendiri dari dalam rumahnya. Setelah berhasil, Sukanta menghisap kreteknya begitu panjang. Kepalanya geleng-geleng kemudian.

             

Seketika dia teringat masa mudanya. Sukanta muda begitu tertarik dengan permainan debus. Bapaknya adalah tokoh debus yang sangat dihormati pada masanya. Sebagai anak, Sukanta ingin sekali menapaki jejak bapaknya—sama seperti Jaya.

             

Saat usianya masih belia, Sukanta memutuskan bergabung bersama kelompok tarekat yang sama dengan bapaknya. Sukanta merelakan seluruh kenikmatan duniawi dan kebebasan masa muda. Ia menghabiskan masa mudanya untuk mondok. Siang dan malam bergelut dengan berbagai kitab. Bertahun-tahun bergelut dengan zikir-zikir yang diajarkan gurunya. Juga mengamalkan tawasul pemberian gurunya tanpa pernah diberi kesempatan bertanya apa maknanya. Saat itu, dia hanya hidup untuk memangkas jarak dengan Tuhan menjadi sedekat mungkin.

             

Puncaknya ketika Sukanta sudah cukup umur dan dinilai sudah pantas, dia menjalankan ujian untuk memperoleh kekebalan sebagai modal bermain debus. Dia berpuasa empat puluh hari. Berputar kembali ingatan itu di kepala Sukanta. Ketika ia menjalankan ujian, dia hanya berzikir, berzikir, dan berzikir sembari berpuasa. Dia di karantina seorang diri di sebuah kamar di rumah gurunya. Selama empat puluh hari itu, Sukanta pergi ke sungai sendirian dan mandi tepat pukul dua belas dini hari.

             

Puasa yang Sukanta jalani sebagai ujian bukanlah puasa sembarangan. Selama berpuasa empat puluh hari Sukanta hanya boleh berbuka dengan sekepal nasi putih dan sedikit terasi udang. Dia dilarang untuk bertatap muka dengan seorang wanita, bahkan dengan emaknya.

             

Sukanta kembali mengisap kreteknya panjang-panjang ketika mengingat betapa beratnya menjalani proses untuk menjadi pemain debus. Jeda.

             

Tidak terasa air matanya mengalir perlahan menyusuri pipinya yang sudah kendur. Dia kembali teringat bahwa Jaya tidak pernah melalui proses sepanjang itu untuk menjadi "pemain debus". Sukanta tahu Jaya hanya bermodalkan peralatan sulap yang dia beli dari kota. Bermacam trik juga dia pelajari di kota kemudian dikemasnya menjadi sebuah pertunjukan yang dia sebut-sebut sebagai debus. Itulah sebabnya delapan tahun yang lalu—ketika Jaya meminta izin menggelar pertunjukan bersama kelompoknya di kampung Sana—Sukanta meneriaki Jaya sebagai pemain sulap.

             

Ada penyesalan dalam diri Sukanta karena dia tidak mewariskan ilmunya kepada Jaya, padahal dia tahu betul Jaya memiliki keinginan yang sama dengan Sukanta muda. Bukan tidak mau, tetapi karena memang ilmunya belum cukup. Sayang, Syekh Gede yang menjadi guru Sukanta di masa lalu sudah tiada dan tarekatnya resmi bubar satu tahun setelah kepergian beliau. Yang tersisa hanya pemain-pemain debus segenerasi Sukanta tersebar di beberapa wilayah, tetapi lambat laun dimakan oleh zaman. Tidak laku. Akhirnya generasi setelah mereka memilih jalan pintas untuk disebut-sebut sebagai pemain debus. Dalam situasi ini, tidak banyak yang bisa dilakukan Sukanta dan generasi seusianya.

 

Lebak, 5 Juni 2026


Keterangan: 

1 ”Kau itu pemain sulap, bukan pemain debus, Jaya!”

2 Lihatlah aku!

3 Aku kebal!

 

 

______

 

Penulis

 

Rakhanur, lahir di Lebak pada 2 Mei 2005. Sedari kecil banyak dicekoki bacaan oleh orang tua. Sekarang, makin jatuh cinta terhadap sastra, terlebih setelah bergabung sebagai anggota UKM Belistra pada 2023 dan Komunitas untuk Perubahan Budaya (Kubah Budaya) pada 2025. Menjadi Ketua Umum UKM Belistra (Periode 2025) dan Pimpinan Redaksi majalah Langgam untuk tugas akhir mata kuliah Menulis Kreatif di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 


Puisi-Puisi Sholihul Mubarok

Puisi Sholihul Mubarok




Memulai Hari

  

Fajar berpijar di sudut trotoar

anak-anak menempuh jarak sekolah

kabar-kabar meluncur bagai keriut pasar

lebih bising dari lengking knalpot liar

 

Kuendapkan segenap kekacauan

berseduh dalam adukan

segelas kopi, pekat yang merawat hari

ketika matahari menawarkan silau

dari mata-mata ranjau

 

Barangkali sejenak hangat

tawa-tawa kecil dilepas ke udara penat

sebelum siang mengasuh belulang

dan hijau musim perlahan hilang

  

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Semangat untuk Ambruk

  

Kau memerah keringat

menempa raga menjadi sekadar alat

bergulat di bawah cambuk perintah

demi sepotong harga diri yang koyak

 

Waktu bergegas memutar kendali

memburu raga, mengasingkan naluri dari nurani

ketika setiap payah dikonversi upah

dan angka-angka menuntunmu menuju renta

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Kedaulatan

  

Kau tulis ulang dirimu

pada selembar entropi

di antara singularitas hujat

ketika dunia terburu waktu

 

Tiada bakal degradasi

oleh kepungan narasi gaduh

sebab telah tegak bagimu

korteks kokoh penjaga patut

agar tak ikut bersungut

dan menjelma pengecut

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Ketika Dulu

  

Senja selalu menatapmu

di balik bayangan bukit

di pantai Kairatu

 

katamu:

"Koma lere mo lome

Uloi elau lere sunu

Ulele o lalei esi bitu

Koma o mita mo ree

Lere sunu esi mutu"

 

Masih terngiang ucapmu dahulu

sebelum kini, kau terdampar ke Jakarta;

melarung kenangan

di sepanjang kebisingan.

 

Barangkali sekadar bias

antara beradaku juga ambisimu

hanya berlalu

tak sampai menjamah bayanganku.

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Empat Puluh

: kepadaku

  

Kini tumbuh empat helai rindu

putih di antara legam jenggotku

setelah bertahun menempuh

almanak mengeja jejak

tak sampai pada pijak

 

Telah kulangitkan doa-doa

mengudara bersama kepasrahan

agar jangan saja tersia

namun disuruh senja

 

Kepada dada

tersimpan berkas kelana

dari sunyi mula asal

menggumpal sebagai bekal

 

Tiada cinta

sekadar laksana fana

hanya remahan damba

kasih atas amanah dari-Nya

 

Entah berapa senja

menyapa mata kebisuan

abai padaku

sedang petang

enggan pelukku pulang

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

______


Penulis

 

Sholihul Mubarok lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985, serta aktif berkarya sebagai penyair di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, seperti Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, hingga antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku tunggal, ia kerap menghadirkan karya berbentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya yang bertajuk Dalam Semesta Matamu (2026). 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


 

 

 

 


Saturday, June 20, 2026

Resensi Kabut | Kerbau dan Taubat

Oleh Kabut




Cerita untuk anak, bukan cerita yang semua tokohnya harus anak. Cerita yang tidak melulu berisi masalah-masalah anak. Tulisan disebut cerita anak yang ditulis orang dewasa memunculkan sangkaan-sangkaan yang sering diperdebatkan. Konon, para penikmat bacaan anak di Indonesia mementingkan isi yang berdampak.

Kita jemu perdebatan yang memasalahkan isi cerita anak. Ada yang terlalu memihak bahwa cerita membentuk anak menjadi sopan, baik, beriman, dan pintar. Ada yang tidak menagih apa-apa dari cerita anak. Namun, ada pihak yang bolak-balik memikirkan sastra untuk anak memberi sokongan dalam pemajuan negara atau perayaan modernitas. Yang pernah diperdebatkan boleh dilupakan. Apa kita ingin memulai lagi perdebatan sehingga terkapar gara-gara bosan dan menyerah?

Produksi buku-buku untuk anak dari masa kolonial sampai Orde Baru memiliki beragam corak. Kita belum sempat membuat perbedaan yang menempatkan sastra anak dalam kecamuk ideologi atau bergejolak dalam arus pendidikan. Kita pun belum memiliki daya untuk mengolah resepsi para pembaca agar mengerti alur sastra anak di Indonesia, dari masa ke masa.

Apakah cerita untuk anak mutlak harus menjadi pengajaran? Kita kadang dibingungkan dengan ketetapan pengajaran dan hasrat hiburan. Maka, anak-anak yang membaca cerita dihasilkan orang dewasa boleh menuntut hiburan ketimbang dijadikan “konsumen” nasihat dan mendapat perintah-perintah yang bijak. Anak-anak yang membaca tidak diwajibkan memikirkan hal-hal yang baik saja. Di hadapan cerita, mereka berpikir “serius” mengenai keburukan, yang tidak berarti ditiru dan dibiarkan.

Yang dibuka adalah buku berjudul Mang Luwi yang ditulis oleh Lukman Hakim. Buku tipis dan kecil diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1975. Yang disajikan di sampul depan adalah gambar tiga lelaki dan seekor kerbau. Apa yang terjadi? Pembaca diminta membuka halaman-demi halaman agar mengetahui cerita atau mencari cocok antara cerita dan gambar.

Lukman Hakim mengenalkan para tokohnya: “Uju mengeluarkan rokok yang tinggal beberapa batang. Kemudian ketiganya berjalan ke arah kampung Tegalawi. Jalan ke kampung itu melalui sawah dan tanah kosong, sehingga mereka dengan bebas merokok dan bercakap-cakap tanpa kuatir diketahui penduduk.” Yang membaca berimajinasi bahwa ada beberapa orang yang saat tengah malam melakukan perbuatan yang mencurigakan. Imajinasi yang tidak sulit bagi pembaca. Mereka yang merokok. Mereka yang mendatangi suatu desa. Apa yang diinginkan?

Yang dituju adalah rumah orang yang kaya. Mengapa mereka ke situ? Anak-anak yang membaca dapat menjawab dalam waktu yang singkat. Pengarang mengisahkan: “Pak Sanusi, orang paling kaya di kampung itu. Sawahnya luas sekali. Ia juga mempunyai toko di pasar. Meskipun ia orang yang kaya, rumahnya biasa saja. Tidak ada listrik, tidak ada tanda kemewahan lain. Hanya kendang kerbau di belakang rumah, menandakan ia orang berada. Kerbaunya banyak untuk mengerjakan sawah yang luas.”

Beberapa lelaki mendatangi rumah orang yang dianggap kaya. Mencuri! Pembaca menduga mereka akan mencuri. Cerita untuk anak jangan memberi petunjuk yang sulit. Lukman Hakim sudah mengajukan petunjuk mudah, yang membuat pembaca mengetahui peristiwa pencurian. Yang dicuri adalah kerbau. Para pembaca mulai membayangkan cara dan kekuatan para pencuri. Kerbau itu hewan yang tubuhnya besar. 

Tiga orang mewujudkan siasat yang efektif dan efisien. Mereka tidak membawa kerbau dalam pencurian. Yang dilakukan adalah pekerjaan yang “hebat”. Pembaca seolah ikut menyaksikan: “Cekatan sekali tangan mereka menggunakan golok yang tajam. Sesudah menyembelih lalu menguliti kerbau besari itu. Sehingga dalam waktu yang tidak lama benar, hewan tadi tinggal berupa tumpukan daging saja. Hanya bagian-bagian yang mahal harganya yang mereka bawa. Tulang dan bagian tubuh yang tidak berharga, mereka tinggalkan begitu saja.”

Pembaca mengetahui tiga orang itu sakti. Pencurian yang membutuhkan keberanian. Para pencuri berhitung waktu dan perbuatan yang nantinya dianggap menghasilkan untung besar. Pada babak awal pengenalan pencuri, para pembaca mulai berpikir hal-hal yang menyebabkan mereka mencuri daging kerbau. Padahal, mereka dalam kerepotan-kerepotan yang “mengagumkan”.

Pencurian terjadi di desa. Para pencuri yang berhasil mendapatkan daging urusannya belum selesai. Bagaimana cara menjualnya? Mereka membawa daging yang berat ke pinggir jalan, yang biasanya dilalui truk. Para pencuri berharap boleh menumpang. Harapannya, daging sampai di pasar. Mereka ingin menjualnya. Yang diinginkan adalah uang.

Kesedihan menimpa berkaitan pencurian. Luwi (pencuri) memiliki anak yang sakit. Maka, duit yang diperoleh dari mencuri digunakan membeli obat dan makanan. Anak itu tidak sembuh, malah pamitan dari dunia. Sedih yang tidak tertahankan. Apakah pencuri itu mendapat balasan? Kutukan untuk pencuri?

Para pembaca diajak merenung, bukan segera menentukan sikap atas perbuatan tokoh dan akibat-akibatnya. Yang dilakukan pengarang, membujuk pembaca mengetahui sosok Luwi, yang mula-mula diceritakan sebagai pencuri. Luwi, sosok yang bersalah tapi ia patut dimengerti: “Sebenarnya, ia tukang kayu. Tetapi sudah lama alat-alatnya tidak digunakan. Lebih suka ia mendapat uang dengan cara yang lebih mudah. Sekarang, ketika di rumah kekurangan, masih tetap ia belum mau menggunakan perkakas dan kepandaiannya. Ia lebih suka duduk termenung mengenang anaknya.” Sosok di desa, yang biasa mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bisa bekerja tapi mencuri itu menjawab kebutuhan terhadap uang. Para pembaca diharapkan sungguh-sungguh memikirkan pekerjaan, tidak terus-terusan memasalahkan pencurian.

Buku cerita tentang pencurian. Anak-anak yang membacanya membandingkan dengan pengalamannya sebagai “pencuri” cilik. Para pembaca pun bisa membandingkan saat sebagai saksi adanya pencurian. Yang belajar di sekolah atau mengaji di masjid cepat mengetahui bahwa mencuri itu perbuatan jahat. Namun, anak-anak yang membaca cerita tentang pencurian menemukan adanya masalah-masalah yang bisa dipelajari.

Akhirnya, pengarang mengadakan adegan tobat. Luwi tidak selamanya pencuri. Pada suatu malam, ia mau mencuri lagi, yang dimengerti jawaban agar keluarga tidak kelaparan. Yang didatangi adalah rumah orang yang bergelar haji. Pencuri mengamati rumah yang menjadi sasaran. Di situ, ada seorang bergelar haji yang sedang membaca Al-Qur'an: “Suaranya enak didengar, lagunya menarik hati.”

Apa yang terjadi pada pencuri? Pengarang memulai cerita tentang keburukan atau kejahatan. Ada yang selesai: “Luwi tertegun. Ia ingat ketika kecil belajar mengaji kepada Haji Qomar yang telah meninggal dunia. Ia teringat akan kata-kata mutiara yang tersirat dari ayat-ayat Al Quran. Larangan akan kejahatan. Selanjutnya, ampun dan taubat. Akhirnya, pahala bagi keluhuran akhlak. Air matanya menitik. Wajahnya menengadah, lalu diucapkannya kebesaran Allah.” Cerita yang berakhir pertobatan. Anak-anak yang membacanya mengangguk, tidak perlu protes atau menolak akhir cerita.

Yang dipentingkan pengarang: pesan yang gamblang. Artinya, anak-anak yang membacanya sadar bahwa mencuri itu kejahatan. Mereka tidak ingin menjadi pencuri. Buku cerita yang dibaca tidak “menghibur” tapi kesengajaan menampilkan yang buruk atau jahat agar anak-anak mengerti sikap atau perbuatan dalam hidup sesuai ajaran agama. Jadi, cerita untuk anak adalah cerita yang menghendaki anak-anak menjadi beriman dan bertanggung jawab atas hidup.

_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 


Resensi Yuditeha | Sejarah yang Membunuh Berkali-kali

Resensi Yuditeha




Judul Buku: Kebaya Merah di Tebing Kanal

Penulis: Martin Aleida

Penerbit: Penerbit Buku Kompas (BPK)

Cetakan: 2025

Halaman: xxiv + 88 hlm, 13x19 cm

ISBN: 978-623-523-762-6

 

Martin Aleida termasuk jenis penulis yang menulis tidak untuk menyenangkan, melainkan untuk mengganggu. Sejak lama, karyanya bukan ruang hiburan, melainkan ruang sidang: tempat korban dihadirkan, pelaku tidak tampak, dan pembaca dipaksa menjadi juri tanpa palu. Ia konsisten berpihak pada yang kalah, tahanan politik, buruh, perempuan yang dilumat sejarah, orang-orang yang hidupnya hanya menjadi catatan kaki dalam buku negara.

 

Aleida (saya lebih suka menyebut nama belakangnya), menulis bukan untuk meromantisasi penderitaan, tetapi untuk membongkar bagaimana penderitaan itu dibuat, diwariskan, akhirnya dinormalkan. Ia tidak percaya pada sejarah resmi. Dalam dunia Aleida, sejarah selalu berantakan, berdarah, dan meninggalkan bau busuk yang tak mudah hilang. Dan Kebaya Merah di Tebing Kanal adalah salah satu buktinya.

 

Kumpulan cerpen ini seperti museum luka, tetapi tanpa kaca pengaman. Pembaca tidak diajak melihat dari jauh, melainkan diseret masuk, dipaksa menyentuh, dan mencium bau lembap trauma yang belum kering. Yang menarik, Aleida tidak menjual tragedi sebagai tontonan. Ia justru menulisnya dengan nada tenang, nyaris datar, seolah berkata: beginilah hidup bekerja, kejam tanpa perlu teriak.

 

Cerpen “Kebaya Merah di Tebing Kanal”, yang menjadi judul buku, bisa dibaca sebagai pintu masuk paling representatif. Di sana, kebaya merah bukan sekadar busana, tetapi simbol tubuh yang menolak lupa. Rubiah tidak mati karena sedih semata, tetapi karena ingatan yang tidak diberi tempat dalam sejarah resmi. Ayahnya dibunuh, ibunya dipenjara, hidupnya terombang-ambing sampai Eropa. Kanal menjadi semacam metafora sejarah modern: tampak tenang di permukaan, tapi menyimpan arus kematian di bawahnya.

 

Aleida seolah ingin mengatakan: migrasi tidak selalu berarti penyelamatan. Suaka politik bukan jaminan kesembuhan. Trauma tidak mengenal paspor. Ia bisa menyeberangi benua, menyusup ke rumah-rumah, dan tetap membunuh dari dalam.

 

Benang merahnya terasa di hampir semua cerita: tokoh-tokohnya hidup, tapi sekarat. Mereka bernapas, bekerja, menikah, bahkan bercinta, tetapi selalu membawa sesuatu yang belum selesai. Dalam “Lelakiku”, misalnya, kekerasan tidak datang dari musuh, melainkan dari rumah sendiri. Bapak yang memukul, suami yang tampaknya memang baik, negara yang membuang, semuanya seakan bersekongkol membentuk satu pesan, perempuan tidak pernah punya ruang aman.

 

Yang menarik, Aleida tidak membuat tokoh suami sebagai penjahat karikatural. Ia justru digambarkan tulus, halus, dan rasional. Di sinilah ironi bekerja: kebaikan bisa menjadi bentuk kekerasan baru ketika ia membela sistem yang membunuh. Kalimat suami dalam cerita itu seperti ringkasan moral buku ini, kejahatan negara selalu datang dengan dalih hukum, ketertiban, dan logika waras.

 

Dalam cerpen-cerpen lain, Aleida memperluas medan luka, dunia kerja yang dingin (Perkenalkan, Uno), masa pensiun yang hampa (Tukang Urut di Tepi Danau), hingga kamp tahanan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai barang rampasan (Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus). Semuanya berbicara dalam satu bahasa, sejarah tidak pernah netral, ia selalu punya korban yang namanya kadang sengaja disembunyikan.

 

Yang membuat buku ini tidak jatuh menjadi arsip penderitaan adalah sikap Aleida terhadap tokohnya. Ia tidak mengasihani mereka secara murahan. Ia memberi mereka martabat, kemampuan memilih, menolak, bertahan, bahkan mencintai di tengah reruntuhan. Tokoh-tokoh Aleida bukan pahlawan, tetapi juga bukan korban pasif. Mereka adalah manusia yang mencoba hidup di dunia yang secara sistematis menolak kemanusiaan mereka.

 

Di titik ini, Kebaya Merah di Tebing Kanal bisa dibaca sebagai kritik terhadap cara kita memperlakukan masa lalu. Di Indonesia, sejarah sering didandani seperti ruang tamu, bersih, rapi, dan penuh foto resmi. Aleida justru membuka toilet, tempat darah menetes, air mata mengering, dan bau busuk yang tak bisa disembunyikan.

 

Yang tajam dari buku ini adalah kesadarannya bahwa tragedi politik bukan hanya soal tahun dan peristiwa, tetapi soal dampak jangka panjang terhadap relasi manusia. Kekerasan negara tidak berhenti saat senjata diturunkan. Ia menjelma menjadi keluarga yang retak, tubuh yang trauma, cinta yang cacat, dan ingatan yang menolak lenyap.

 

Dalam cerpen “Tukang Urut di Tepi Danau”, misalnya, pilihan tokoh Aku untuk membantu penyintas kusta dan menolak jenderal bukan sekadar moral personal, tetapi pernyataan politik sunyi, di dunia yang dikuasai kekerasan struktural, kebaikan kecil adalah bentuk perlawanan paling radikal. Bukan heroisme, melainkan keteguhan sehari-hari untuk tidak ikut menjadi algojo.

 

Sementara itu, “Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus” mungkin adalah cerita paling telanjang dalam menampilkan tubuh sebagai medan politik. Cinta, seks, penjara, pengkhianatan, dan harapan bercampur tanpa romantisme. Ubi rebus yang diselipi surat menjadi simbol yang sangat Aleida, bahwa harapan selalu datang dalam bentuk paling sederhana, tapi sering disampaikan di tempat paling kejam.

 

Jika harus ditarik satu simpulan besar, maka buku ini bisa diringkas dalam satu kalimat: Sejarah tidak membunuh kita sekali, tetapi berkali-kali, melalui ingatan yang tidak pernah diberi hak untuk sembuh.

 

Aleida seolah menertawakan gagasan move on yang sering kita banggakan. Dalam dunia cerpen-cerpen ini, move on adalah kemewahan kelas menengah. Bagi korban sejarah, yang ada hanyalah bertahan, menyimpan, dan kadang menenggelamkan diri, secara harfiah maupun simbolik.

 

Yang membuat buku ini tetap relevan, meski berbicara tentang masa lalu, adalah keberaniannya menunjukkan bahwa pola kekuasaan tidak banyak berubah. Hari ini kita mungkin tidak lagi menyebut PKI, Kamp Gandhi, atau Bukit Duri, tetapi mekanismenya tetap sama: siapa yang menguasai narasi, dia yang menentukan siapa korban dan siapa penjahat.

 

Membaca Kebaya Merah di Tebing Kanal bukan sekadar membaca kumpulan cerpen, melainkan membaca ulang cara kita memahami sejarah. Ini bukan buku nostalgia, melainkan buku peringatan. Ia tidak menawarkan rekonsiliasi manis, apalagi penebusan. Yang ia tawarkan hanyalah satu hal yang jarang kita sukai, yaitu ingatan yang jujur.

 

Dan mungkin di situlah posisi paling berbahaya dari buku ini, ia menolak memberi kenyamanan. Ia membuat pembaca sadar bahwa banyak luka yang belum sembuh. Seperti Rubiah, Halawiyah, dan tokoh-tokoh lain dalam buku ini, kita semua hidup di tepi kanal sejarah, mengenakan kebaya masing-masing, mencoba terlihat baik-baik saja, padahal air di bawah terus mengalir membawa mayat.

 

______

 

Penulis

 

Yuditeha

Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Tuesday, June 16, 2026

Proses Kreatif | Kesetanan Membeli Buku

Oleh Encep Abdullah



Sejak akhir 2025, saya seperti orang gila, kerasukan bin kesetanan membeli buku. Menu beranda media sosial saya saat ini yang muncul 80% orang jualan buku. HP saya pun saat ini disesaki nomor kontak penjual buku. Dalam seminggu, saya bisa beli online 2--3 kali dengan pengeluaran yang bervariasi bergantung seberapa banyak saldo di rekening saya. Makin banyak saldonya, makin banyak pula yang saya beli, padahal tidak butuh-butuh amat. Saya tidak tahu, apakah kejiwaan saya ini sedang terganggu atau tidak. Tapi, kenyataannya begitu.


Gejala ini belum pernah saya alami sebelumnya. Satu habit baru dalam hidup saya: kecanduan beli buku online! Biasanya saya beli buku saat liburan atau mudik ke rumah istri—ke toko Gramedia BSD. Itu pun mungkin 3--5 bulan sekali. Kali ini, saya tak perlu menunggu liburan. Asal ada saldo di rekening, pasti langsung checkout buku. Kali ini saya kerasukan buku-buku bekas (ori) atau buku terbitan lawas yang sudah berdebu, menguning, bahkan sebagian sobek atau dimakan rayap. Seorang penjual bilang bahwa buku yang saya pesan itu sebagiannya sudah disantap rayap. Saya bilang, ”Makin ada bekas gigitan rayap, makin otentik.” Mungkin penjual buku itu bilang saya kurang waras. Ah, biarkan! Memang faktanya begitu. Saya sedang senang meraba dan menghidu buku-buku lawas. Imajinasi saya jadi melanglang buana.

Biasanya, kalau saya punya uang, saya memilih jalan-jalan, makan-makan, atau foya-foya traktir orang. Bahkan, untuk iseng membeli rokok saja, rasanya eman (sayang)—saya bukan perokok aktif, sekadar iseng-iseng saja kalau nongkrong. Dulu, kalo nongkrong-nongkrong, tak perlu pikir panjang beli rokok, ini dan itu. Sekarang mikir, lebih baik buat beli buku. Imbasnya adalah kepala saya jadi makin pusing. Tiap minggu nongol buku baru. Rak buku makin penuh. Ujung-ujungnya harus mengeluarkan duit lagi buat beli rak buku. Terus saja begitu. Bisa jadi, per 2--3 bulan kalau begini terus, rumah saya lemari buku semua. Tapi, bukannya itu yang saya mau?

Saya memang punya rencana punya perpustakaan pribadi yang kelak bisa dibuka untuk umum. Saya termasuk orang yang anti minta-minta sumbangan buku. Saya lebih senang membeli pakai duit sendiri. Lebih puas. Tapi, tidak menolak juga bila ada yang mau donasi buku, silakan. Namun, pilihan untuk menabung-membeli buku sendiri masih saya pertahankan. Toh, buku tidak basi. Bila nanti saya bosan dan mau saya jual, tinggal jual saja. Bahkan, beberapa bisa dijual lebih dari harga aslinya—terutama buku-buku langka.

Yang jadi masalah--bahkan saya khawatirkan--mental saya pelan-pelan berubah menjadi tukang timbun buku yang sedikit-sedikit berpikir kelak buku-buku langka, bekas, atau lawas itu jadi duit lagi. Jadi, pikiran materialistis, bukan sebagai pembaca atau penggali ilmu. Ada pikiran semacam itu. Tapi, menimbun buku, sepertinya berbeda dengan menimbun benda lain. Buku-buku bisa bermanfaat untuk siapa pun. Mungkin keluarga saya, tetangga saya, murid-murid saya, atau siapa pun yang mau membaca buku. Hanya, pikiran membeli buku untuk menjualnya kembali itu menjadi satu pantangan besar saya sebenarnya. Saya membeli buku untuk dibaca bukan untuk dijual. Saya pun sangat selektif. Tidak semua buku saya beli. Ada buku yang saya beli karena kangen dengan buku lama yang hilang, ada yang karena memang langka, ada juga karena saudara saya ingin pinjam buku tertentu tapi saya belum punya dan terpaksa saya harus beli—sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang ingin meningkatkan minat baca bukunya, sekaligus menjaga harga diri saya, masa buku seterkenal itu misalnya saya tidak punya.

Saya beruntung. Istri saya tidak ngoceh-ngoceh saya suka borong buku. Ia tahu, urusan dapur, kosmetik, itu nomor satu. Saya penuhi dulu semua itu. Jadi, tidak ada diskriminasi antara kebutuhan dapur (perut) dan otak--untuk tidak menyebut "nafsu". Malah, kemarin istri saya dan anak-anak menemani saya ke bazar buku yang diselenggarakan oleh Perpusda Banten. Lucu sih, ya borong buku online, ya borong buku offline juga. Dan, sekali beli buku offline minimal keluar 500 ribu. Sampai akhirnya saya mikir, Kenapa saya cuma beli buku di tempat bazar begini? Kenapa tidak coba dijualin ke orang-orang, mumpung diskon gede-gedean! Otak penjual saya tiba-tiba muncul. Saya merasa tidak mau rugi kalau datang ke bazar buku cuma buat beli buku pribadi doang. 

Sepulang dari bazar, saya bilang ke istri saya bahwa besok saya mau balik ke bazar lagi. Istri saya bilang, "Mau ngapain?" Saya jawab, "Mau jualan buku." Tapi, saya tidak mau borong semua bukunya dulu, belum tentu ada yang mau beli. Istri saya memberi saran, kenapa tidak difoto saja, kirim ke media sosial atau grup WA, siapa yang mau beli, ada jasa titip (jastip). Ini agak konyol buat saya karena belum pernah saya lakukan—eh, pernah sih kayaknya dulu zaman kuliah, mungkin semangat masa lalu ini yang muncul kembali. Akhirnya, saya foto dan saya kirim ke beberapa grup WA dan media sosial. Ada beberapa yang kecantol. Alhamdulillah, dapat 200—250 ribu dalam sehari itu lewat jasa titip. Tetap saja belinya saya talangi dulu pakai duit pribadi—karena mereka tidak transfer lebih dulu. Seru juga memanfaatkan waktu kosong hari itu dengan jastip buku macam ini. Malamnya, saya lihat lemari buku, ada beberapa buku yang saya punya ternyata dobel. Saya kepikiran dijual saja. Saya posting, tak lama laku juga. Dapat lagi  250 ribu.

Saya punya pikiran "jahat". Bagaimana kalau semua buku yang saya punya saya jual? Kalau saya jual kayaknya—setelah saya hitung-hitung—saya bisa dapat duit 50 juta. Wah, sebenarnya saya banyak duit juga ya. Saya mikir, ternyata ini aset masa depan saya buat dijual. Pikiran macam itu muncul lagi dalam kepala saya. No! No! Niat saya punya perpustakaan yang bisa dinikmati banyak orang. 

Ah, soal buku memang tak bisa lepas dari persoalan ilmu, duit, manfaat, dan masa depan. Hidup saya mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, melototin buku. Di sisi lain, yang lebih esensi, buku-buku itu menjadi terapi tersendiri bagi saya sebagaimana orang lain yang mungkin terapi dengan ikan dan bunyi air di akuarium.

Suatu hari, saya coba cek-cek lagi lemari buku saya, ternyata memang banyak buku yang saya beli karena nafsu, bukan karena butuh. Akhirnya, saya lihat jadi seperti "sampah" juga. Ada niat mau saya jual lagi dan saya belikan buku-buku lain yang memang punya dampak buat saya, atau yang lebih sesuai dengan passion saya atau kebutuhan banyak pembaca. Beberapa buku ini memang buku terjemahan yang sepertinya agak susah dibaca (diminati) oleh pembaca awan maupun pembaca serius. Pantas saja orang tersebut menjualnya borongan dan murah. Ternyata ini yang saya rasakan: tidak terlalu dibutuhkan. Kamu mau? Mungkin ada 50 buku (novel terjemahan, dewasa) bekas, bisa saja jual 5--7 ribu per buku.

Kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa saya pusing jualan buku? Toh, saya ini kan CEO Penerbit #Komentar. Haha! Setiap ada yang cetak buku, ya esensinya sama saja saya sedang jualan buku. Malah "lebih banyak" duitnya ketimbang harus beli buku orang, terus dijual lagi. Menurut saya, sekadar jualan buku (termasuk jualan buku karya sendiri), kok, saya merasa kurang gereget ya. Seperti tidak ada kerja intelektual karena sekadar posting tanpa harus ribet ini dan itu—padahal mungkin ada ilmu marketing-nya dan saya tidak terlalu menekuni dunia itu secara jalur "akademis"—, sedangkan saat saya mengurusi proses penerbitan buku, di sana jauh lebih menantang, merasa ada kerja intelektual (edit naskah, dll.). Dan, ini soal skill. Skill itu didapatkan dari pengalaman dan belajar yang terus-menerus. Membaca buku terus-menerus juga mungkin bisa melahirkan skill. Begitu juga dengan terus-menerus jualan buku--tentu yang jualan serius, ya. Bisa jadi skill yang terlatih itu yang akan menghidupimu. Manusia tanpa skill, ia akan mati dibunuh ketidakberdayaannya sendiri.

Apakah Anda termasuk manusia seperti saya? Kayaknya tidak! Mungkin ini terkesan "sombong". Skill saya mungkin segmented, tidak semua orang bisa. Dan, itu skill yang mungkin sudah terlatih belasan tahun. Untuk bisa menjadi seperti saya hingga di titik ini, mungkin Anda butuh waktu belajar selama itu juga, malah bisa jadi lebih lama. Skill di luar proses kerja keras saya, dengan segala kemudahannya, tentu saja adalah giving/karunia dari Tuhan semata. Oleh sebab itu, saya jadi mempertimbangkan lagi dengan judul tulisan ini, harusnya bukan "Kesetanan Membeli Buku", mungkin bisa kita ganti menjadi "Kemalaikatan Membeli Buku" atau "Keilahian Membeli Buku"?  Si "setannya" biar hilang. Namanya "setan", Anda tahu sendiri!


Kiara, 16 Juni 2026

 

 ________


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah [harusnya menjadi] tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024) dan buku esai terbarunya Orang Gila Sebelum Menulis Esai (2026). 


redaksingewiyak@gmail.com