Esai Ayrin Widya Mustika Sari
Sebagai perempuan pasti tidak akan jauh dari yang namanya mekap, walaupun hanya lipstik saja. Bagi saya lipstik salah satu mekap yang paling penting. Karena lipstik dapat menambah rasa percaya diri. Walaupun belum mandi, jika pakai lipstik pasti dianggap sudah mandi. Lipstik penyelamat saya dalam hal itu. Warna lipstik dapat mempengaruhi karakter dan tampilan wajah. Saya lebih suka warna lipstik yang diombre atau kombinasi dua warna dibandingkan dengan hanya satu warna lipstik yang tebal, karena menurut saya lebih natural.
Lipstik disebut dengan istilah lipstick yang berasal dari kata lip yang berarti 'bibir' dan stick yang berarti 'batang'. Umumnya lipstik berbentuk batang padat di dalam wadah silinder. Selain lipstik terdapat produk lain yang dapat digunakan pada bibir, seperti lip balm produk melembabkan bibir, lip gloss produk memberikan efek glow pada bibir, lip tint produk pewarna bibir cair atau gel, dan lip cream produk pewarna bibir tekstur cream. Sedangkan kata mekap berasal dari penyerapan bahasa Inggris yaitu make-up yang merujuk pada tata rias atau kosmetik untuk mempercantik wajah.
Mekap memiliki banyak jenis produk. Selain lipstik produk mekap lainnya adalah bedak, foundation (alas bedak), cushion (foundation mengandung skincare), concealer, blush on (perona pipi), pensil alis, eyeshadow, eyeliner, maskara dan lain sebagainya. Mekap lengkap biasanya saya gunakan hanya untuk momen tertentu saja seperti menghadiri undangan atau acara penting lainnya. Namun, mekap bagi saya memerlukan banyak waktu. Saya tidak pandai memakai mekap. Bagian tersulit menurut saya adalah menggunakan pensil alis dan eyesliner. Penggunaan pensil alis dan eyesliner lebih lama prosesnya dibandingkan dengan produk mekap lainnya. Mungkin itulah kenapa ada yang pernah mengatakan bahwa orang yang pintar mekap merupakan orang yang memiliki jiwa seni dan bakat terpendam.
Ribuan kali saya belajar mekap, namun masih belum pandai mengukir alis. Apakah artinya saya tidak memiliki jiwa seni dan tidak berbakat dalam mekap? Namun, sebagai perempuan tentunya tidak akan kapok, banyak jalan menuju roma. Selain pensil alis, ada produk lain yang dapat membuat alis menjadi rapih seperti browcara. Browcara bentuknya menyerupai maskara bulu mata, namun dengan sikat yang lebih kecil.
Penggunaan mekap biasanya bertujuan untuk menutupi kekurangan pada wajah agar lebih percaya diri. Namun, karena membutuhkan waktu yang lama, jadi saya lebih memilih skincare dan lisptik untuk penggunaan sehari-hari dalam bekerja. Adapun skincare yang saya gunakan hanya skincare dasar seperti sabun cuci muka, pelembab, dan sunscreen. Terlebih jenis kulit saya adalah jenis wajah berminyak dan berjerawat sehingga penggunaan mekap jarang saya gunakan.
Pertama kali saya mengenal mekap tentunya dari ibu saya. Saat kecil saya sering bermain mekap milik ibu. Tentu ibu saya pasti marah saat itu. Waktu kecil saya tidak tahu fungsi mekap itu apa, sebagai anak-anak, dulu saya hanya meniru apa yang dilakukan oleh ibu saya. Saya mulai pakai mekap lagi saat saya lulus kuliah, tepatnya saat saya sudah punya penghasilan sendiri. Sebelumnya hanya pakai lipsglos dan skincare saja.
Saat kuliah jurusan pendidikan matematika, di angkatan saya hanya terhitung satu atau dua orang saja yang berani tampil sehari-hari dengan mekap tebal, lengkap dengan bulu mata yang cetar melebihi artis. Waktu itu saya ingat pernah bertemu dengan salah satu dosen dari jurusan lain. Dosen tersebut langsung menebak dari jurusan matematika ya. Karena menurutnya, hanya jurusan matematika yang jarang mekap. Saat kuliah dulu saya tidak terpikirkan untuk mekap, seperti tidak ada waktu.
Berbeda dengan zaman sekarang, banyak para pelajar perempuan khususnya sekolah menengah atas yang pipinya pada merah-merah seperti habis ditampar. Kalau zaman saya sekolah, saya berpikir murid yang pipinya merah pasti berbuat ulah sehingga ditampar oleh gurunya, atau tangannya merah bukan karena kutek, tapi karena disabet akibat tidak hapal perkalian. Itulah sebabnya murid zaman saya-- tepatnya angkatan sembilan puluh, masih "didikan VOC"-- lebih hafal perkalian dibandingkan dengan anak sekarang yang lebih hapal merek mekap.
Selain pipi yang merah, bibir juga merah bahkan ada murid perempuan yang berani ke sekolah dengan menggunakan lengkap full mekap. Mengalahkan mekap gurunya. Sebagai guru hanya bisa ingatkan untuk menghapus mekapnya. "Didikan VOC" sudah tidak belaku lagi di zaman ini, bahkan menegur murid dengan nada tinggi saja sudah dipermasalahkan. Setelah ditegur, biasanya murid tersebut langsung menghapus mekapnya, namun setelah itu digunakan kembali seperti tidak ada rasa bersalah.
Penggunaan mekap tidaklah salah, hanya waktu dan tempatnya yang belum tepat. Menurut saya rasanya tidak pantas jika seorang pelajar menggunakan mekap di lingkungan sekolah. Sekolah sudah memberi aturan tegas untuk tidak menggunakan mekap di lingkungan sekolah. Namun, sayangnya peraturan dibuat hanya untuk dilanggar bukan dipatuhi.
Biasanya anggota OSIS melakukan razia mekap, banyak murid perempuan yang membawa mekap seperti bedak, blushon, lipstik, lipcream, lip tint, pensil alis, eyeliner sampai penjepit bulu mata. Uniknya mereka jadi kreatif, supaya tidak terkena razia mereka sembunyikan. Ada yang simpan perlengkapan mekap di mukena, di tupperware, atau dibuang ke jendela lalu diambil saat selesai razia. Kadang kreativitas anak muncul saat keadaan terdesak, seandainya muncul saat pembelajaran mungkin akan lebih bermanfaat.
Saat ini media sosial sangat berpengaruh pada kehidupan anak-anak remaja. Banyak konten kreator mekap bertebaran di dunia maya sehingga remaja saat ini sudah pandai bermekap, bahkan bisa dikatakan berbakat dalam bermekap. Saat ini mekap sangat mudah didapat dan dengan harga yang terjangkau dikantong pelajar berbeda dengan zaman saya dulu harganya lebih mahal dan pilihan produknya juga terbatas.
Saya sempat berdiskusi dengan murid saya mengenai alasan menggunakan mekap di sekolah dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan mekap. Salah satu alasan mereka karena mereka merasa lebih cantik dan percaya diri jika menggunakan mekap. Sampai saya heran mereka bisa membuat alis dengan sempurna hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Mereka sangat cepat mengukir alis dibandingkan dengan menyelesaikan satu soal Matematika yang membutuhkan waktu 30 menit. Persiapan mereka untuk bermekap hanya sepuluh menit sebelum berangkat ke sekolah, bahkan sampai ada yang melewatkan waktu sarapannya. Mereka yang bermekap rata-rata ingin menjadi penata rias atau istilah kerenya saat ini adalah MUA (Make-Up Artist). Artinya mereka sudah menyadari benar akan memiliki bakat seni itu.
Adik saya seorang mahasiswi, sehari-hari setiap kuliah full mekap, persiapan mekapnya satu jam. Jarak dari rumah ke kampusnya butuh waktu perjalanan satu jam. Saat kondisi terlambat bangun pagi dengan kondisi tidak sempat bermekap, ia rela selama kuliah menggunakan masker karena insecure. Padahal hanya menggunakan liptint atau lipbalm sudah aman menurut saya, tapi harus full mekap bagi adik saya yang membuat ia percaya diri. Menurut adik saya, zaman sekarang beda dengan zaman dulu, dulu yang mekap dianggap aneh, sekarang yang tidak mekap yang dianggap aneh. Teman-teman bahkan semua mahasiswi di kelasnya pakai full mekap.
Beda zaman beda generasi beda karakter. Saya rasa skincare jauh labih penting dibandingkan dengan mekap. Mekap hanya bisa menutupi kekurangan kita sementara, tetapi skincare dapat merawat wajah kita jadi lebih sehat. Memang tidak ada yang salah dalam menggunakan mekap, asalkan mekap yang dipakai tidak berlebihan atau tipis natural dan sesuai dengan situasi serta kondisi sehingga pantas untuk dipandang. Seperti artis Korea yang bermekap sangat natural tetapi tetap cantik. Intinya mau menerima diri ini apa adanya sehinga pakai mekap atau tidak pun, bisa membuat percaya diri.
Serang, 5 Maret 2026
_______
Penulis
Ayrin Widya Mustika Sari, lahir di Serang, 12 April 1992. Hobi menulis diary. Belum memiliki karya apa pun, tapi sering mendampingi anak berkarya dalam ajang lomba komik, sebagai pembuat cerita. Keseharian sebagai ibu rumah tangga dan pendidik.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com










