Judul Buku : Silsilah Luka Perempuan
Penulis : Yulita Putri
Penerbit : Press Mesin
Cetakan : November 2025
Halaman : VI+102 hlm, 12x18 cm
ISBN : 978-623-693-780-8
Tragedi perempuan bukan pada satu peristiwa dramatis,
melainkan pada kebiasaan. Pada rutinitas yang dianggap biasa. Pada
kalimat-kalimat kecil yang diucapkan tanpa rasa bersalah. Pada
keputusan-keputusan yang tampak masuk akal, padahal sedang menanam bom.
Kumpulan cerpen Silsilah Luka Perempuan karya Yulita
Putri (diterbitkan oleh Press Mesin, November 2025) seperti membuka album yang
tak pernah dipajang di meja tamu.
Sebelas cerpen di dalamnya bukan sekadar cerita perempuan tersakiti, melainkan
tentang bagaimana luka dihasilkan, dirawat,
diwariskan, dan dibenarkan. Buku ini memang tidak menawarkan reaksi yang membuat dada pembaca sesak, atau
mata berkaca-kaca. Ia membuat kita
terdiam, lalu pelan-pelan merasa bersalah.
Dalam "Dipermainkan Takdir", kita tidak sedang
diajak menghakimi seorang ibu yang hilang kendali, tapi lebih melanjangi
kesepian mental perempuan lelah, yang tidak pernah diberi ruang untuk mengaku
ringkih. Di sana, depresi tidak dianggap
penting. Ia hanya dikomentari kurang bersyukur atau
ibu lain biasa saja. Kalimat-kalimat
yang akrab di telinga masyarakat. Cerpen ini memberi kejut, betapa mudahnya
kita memuja ibu simbol pengorbanan, tapi enggan mengakui bahwa ibu juga bisa remuk.
Keremukan itu tidak berhenti di
satu tempat.
Dalam "Anak-Anak dari Rumah Retak",
kekerasan hadir seperti
warisan.
Seorang anak lelaki menganggap kekerasan
kepada teman perempuannya sebagai permainan, karena sejak
kecil menyaksikan ayah memukul ibu. Kekerasan adalah tontonan sehari-hari.
Cerpen ini terasa dakwaan sosial
yang sulit disangkal. Ada sesuatu mengendap di sana, jika seorang anak bisa tumbuh dengan
keyakinan bahwa menyakiti perempuan adalah wajar, maka ada sistem nilai tertentu di sana,
rumah menjadi sekolah pertama patriarki.
Cerpen "Sebelum Segalanya Jadi
Penyesalan", bergerak di antara kertas dan keberanian jujur. Surat Ningsing adalah
usaha menolong adiknya, tetapi juga bermakna sebagai sarana membuka luka rumah
tangganya. Penderitaan, pengkhianatan, dan poligami yang lama disembunyikan. Surat
menjadi saksi pahit. Ketika selesai, yang tertinggal bukan sekadar harapan agar
sejarah tak terulang, melainkan getir bahwa kejujuran lahir saat penyesalan
sudah mengintip.
Dalam cerpen "Warisan Api dari Tangan
Ibu", luka yang muncul jelas dari tindakan, sebuah rahasia, manipulasi, dan
moral ganda. Ia bukan sekadar warisan, tetapi hasil dari pilihan yang
disembunyikan. Ketika kebenaran terbongkar, rupanya yang muncul adalah
kesadaran bahwa luka itu dibuat, dipelihara, dan diturunkan.
Yulita tidak
berhenti pada relasi suami-istri atau orangtua-anak. Ia juga menyusup ke wilayah lebih
intim dan tabu. "Malam, Biarkan Sekali
Saja Aku Bernapas", memperlihatkan bagaimana perkawinan dapat menjadi ruang
legitimasi pemaksaan. Tidak ada adegan sensasional. Justru karena itu terasa nyata. Di banyak
rumah, tubuh perempuan masih dianggap fasilitas. Persetujuan sering kali tidak sungguh-sungguh ditanyakan. Hanya ada kewajiban. Cerpen itu terasa bisikan getir di tengah wacana terkait kekerasan seksual.
Yulita menulis hal itu diibaratkan
kejadian biasa, bahkan mungkin rutinitas. Dan rutinitas
jauh lebih menakutkan daripada ledakan.
Dalam "Perempuan yang Dilahirkan Luka dan Janji Lela", pilihan menjadi pekerja seks
tidak ditempatkan sebagai jatuhnya moral, melainkan simpul dari banyak
kebuntuan. Ekonomi minim, keluarga retak, janji dan utang menumpuk, semuanya membawa
ke lorong gelap hingga mendorong perempuan mengambil keputusan yang sebelumnya
ia kutuk. Yulita tidak mendramatisir,
ia hanya
menunjukkan
bahwa dalam ketimpangan sistem,
tubuh perempuan sering menjadi mata uang terakhir. Sementara itu,
masyarakat gemar menghakimi perempuan yang menjual tubuhnya, tapi jarang
bertanya siapa pembelinya.
Cerpen "Mengapa
Tuhan Tak Menjadi Mama" terasa lembut di permukaan,
namun menyimpan kritik tajam. Seorang anak kecil baru mengalami haid pertama
kali menulis surat kepada Tuhan karena ibunya tak mampu menjawab pertanyaannya. Cerpen ini sederhana, polos, dan hampir lugu. Tetapi di
situlah letak gugatnya. Mengapa pendidikan tentang tubuh perempuan masih
dibungkus rapi?
Mengapa darah dianggap aib? Dan mengapa perempuan kecil harus belajar sendirian
tentang sesuatu yang akan ia alami seumur hidup? Yulita seolah ingin mengatakan, luka tidak selalu lahir dari hal besar. Ia bisa muncul dari ketidaktahuan yang diturunkan.
Ada pula "Poetri Mardika". Menghadirkan sosok seniman
perempuan cerdas dan progresif. Ia bicara tentang empati, kekerasan seksual, dan kesenjangan sosial.
Namun ia juga mengakui bahwa banyak karyanya meminjam pengalaman orang lain.
Cerpen sindiran
terhadap dunia intelektual dan kesenian yang kerap menjadikan luka sebagai
bahan estetika. Apakah empati cukup, atau kita sedang mengarsipkan derita demi
reputasi?
Di bagian akhir, Menghapus Masa Lalu,
membawa pembaca pada wilayah yang nyaris surealis. Sosok
peri menawarkan jasa menghapus ingatan paling menyakitkan. Ketika tokoh ingin
menghapus peristiwa pelecehan oleh figur berkuasa di kampus, kita tiba-tiba
sadar bahwa masalahnya bukan sekadar ingatan. Menghapus masa lalu mungkin
mengurangi beban korban, tetapi tidak menghapus pelaku dan sistem yang melindunginya.
Cerpen ini menyentuh denyut zaman, ketika banyak korban mulai bersuara, apakah
keadilan berarti melupakan, atau justru mengingat dengan keras kepala?
Keterkaitan dari kesebelas cerpen ini terasa jelas.
Luka perempuan di dalamnya bukan insiden tunggal. Ia berlapis, berulang, dan
sering disamarkan oleh kata-kata seperti sabar, ikhlas, atau kewajiban. Buku
ini memperlihatkan bagaimana keluarga bisa menjadi ruang perlindungan sekaligus
ruang produksi trauma. Bagaimana ibu bisa menjadi penyelamat sekaligus bagian
dari skema reproduksi.
Bagaimana cinta bisa bercampur dengan batasan, dan bagaimana agama, moral, serta
tradisi kerap dipakai untuk merapikan ketimpangan.
Tidak ada usulan pahlawan. Tidak ada tokoh yang benar-benar menang. Bahkan ketika ada perlawanan, ia diiringi rasa salah dan bingung. Seakan perlawanan perempuan tetap harus membayar harga emosional. Buku ini tidak menawarkan harapan, Yulita hanya mengajak pembaca duduk lebih lama bersama ketidaknyamanan.
Dan setelah kita menutup halaman terakhir, mungkin bisa jadi sadar bahwa silsilah luka bukan hanya milik tokoh. Ia milik kita. Luka itu tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap normal. Luka-luka itu dihasilkan.
________
Penulis
Yuditeha,
Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.
Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com








