View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, July 26, 2026

Cerpen Dian Alia Ananta | Nyanyi Sunyi Kampung Tua

Cerpen Dian Alia Ananta



Angin sore berembus pelan menyisir rumah-rumah panggung di kampung P yang sunyi. Banyak pintu tertutup, halaman ditumbuhi rumput liar. Atap condong, dan warna dinding papan kehilangan warna asli. 


Dulu, kampung ini ramai. Seluruh rumah diisi pemiliknya. Riuh oleh tawa anak-anak dan suara orang yang bergotong royong. Kini, hanya ditempati beberapa orang tua yang masih setia.


Di beranda rumah panggung tua, seorang pemuda duduk bersama kakeknya. Ditemani secangkir kopi dari ladang sendiri. Dari sana, keduanya dapat melihat ke jalan tanah penuh lubang yang sering dipakai warga berlalu lalang.


“Kek, sekarang kampung kita mulai sepi. Sudah jarang kulihat anak-anak bermain di lapangan. Banyak pula rumah panggung reyot dan hampir roboh,’’ ujar Ari.


Mata tua kakek yang semula terpejam, kini terbuka perlahan. Matanya yang sayu menatap lurus ke depan seolah menerawang sesuatu.


“Di desa seperti ini, anak muda mana yang ingin tinggal, Ri?’’ balas kakeknya itu.


Memang, kampung ini bisa dibilang tertinggal dibanding beberapa kampung di wilayah Lampung lainnya. Banyak warga di sini yang memilih merantau bahkan pindah ke kota. Kembali ke kampung ini para perantau itu tak ada niatan menjaga dan membangun kampung kelahirannya. Kampung semakin sepi, banyak rumah yang kini kosong. Bahkan sebagian rumah nyaris roboh.

 

Tak jarang sebenarnya penguasa berkunjung ke kampung ini, namun kampung ini tetap saja mudah dilupakan. Andai di setiap diri masyarakat terpatri piil pesenggiri, masih mampukah mereka meninggalkan tempat mereka dilahirkan? Ari tak lagi berharap banyak dari kampung ini, kakeknya semakin renta, rezeki pun jarang didapat. Mau tak mau ia juga harus meninggalkan kampungnya.


Di hadapan kakek yang duduk di kursi tua, ia berlutut mengharap restu. Dengan sendu sang kakek menatap cucunya.


“Jangan pernah lupa tempat kamu lahir, Ri. Ingat untuk pulang, jangan seperti mereka yang kini rumahnya terbengkalai.’’


“Tentu Kek, suatu saat pasti Ari pulang dan siap membangun kampung kelahiranku ini.’’


Di beranda, sang kakek berdiri, menatap mobil yang membawa cucunya pergi. Dirinya hanya dapat berdoa agar cucunya tak seperti pemilik rumah kosong di ujung jalan sana.


Tahun berlalu begitu cepat, Terhitung sudah hampir 10 tahun sejak hari itu. Banyak yang sudah berubah, delapan tahun lalu ia dikabari bahwa sang kakek wafat. Namun, dia tak dapat pulang sekadar menatap jasadnya untuk terakhir kali. Dan kini, setelah sekian lama ia kembali membawa misi.


Berdiri di depan rumah panggung milik kakeknya, tangga kayu berderit seperti orang tua yang mengeluh. Di belakang rumah, makam kakeknya tepat berada di bawah pohon kamboja. Ari berlutut di sana.


“Aku pulang, Kek,’’ katanya pelan. Angin hanya menjawab sunyi.


Malam pertama di kampung, hanya terlihat beberapa rumah yang lampunya menyala. Terdengar ketok suara pintu, rupanya Pak Abu, salah satu tetua kampung datang berkunjung. Ari menjamu dengan segelas kopi. Terlihat tak ada yang berubah darinya kecuali keriput tua yang semakin rapat memenuhi wajahnya.


“Jadi kamu akhirnya pulang Ri?’’ Pak Abu bertanya tepat saat Ari sudah duduk. 


“Iya, Pak,’’ ia menjawab dengan senyum canggung.


Pak Abu menatap wajahnya lama, seolah mencari sesuatu di sana. 


“Kau pulang karena rindu, atau ada yang lain?’’


Ari terdiam. Menimang apakah harus diberikan sekarang. Ia menggapai tas yang berada di sampingnya dan sebuah map coklat keluar dari sana. Menyerahkannya langsung pada pria tua itu. Tak perlu lama menatap, pak Abu mengerti isinya. Wajahnya mengeras.


“Perusahaan?”


Ari mengangguk pelan.


“Mereka ingin membeli tanah di kampung ini. Untuk membuat pabrik.’’


Pak Abu menutup map itu pelan. Menatap mata Ari dalam dan tajam.


“Kakekmu dulu selalu membanggakan cucunya, beliau bilang Ari akan membawa pulang mereka yang pergi dan harapan bagi kampung, tapi kenapa sekarang berubah?’’


“Pak, semua rumah kosong akan dibeli, jalan akan diperbaiki, dengan begitu orang-orang yang telah lama pergi pasti tergiur untuk kembali.”


Raut wajah Pak Abu tampak kecewa, berdiri perlahan. Dengan suara bergetar, ia kembali melempar pertanyaan.


“Tapi ini kampung kita, harga diri masyarakat asli. Kau tak lupa kan?’’


Ari memejamkan mata. Ia ingat itu. Namun, kenyataannya kampung ini hampir kosong. Jika tidak seperti ini ia pun tak mampu mengembalikan keadaan kampung.


“Pak,’’ katanya pelan. “Jka tidak seperti itu, siapa lagi yang akan tinggal? Anak-anak semua sudah pergi. Banyak sawah tidak digarap, sekolah bahkan sudah tutup.’’


Pak Abu menggeleng pelan.  


“Jadi karena orang-orang pergi, kita harus menghapus kampung ini?’’


Ari merasa dadanya sesak.


“Tidak menghapus Pak! Aku hanya ingin, kampung ini kembali hidup, meski dengan cara yang berbeda,’’ katanya lirih.


Pak Abu tertawa pahit. 


“Hidup? Kalau pabrik berdiri, kampung ini tak akan hidup lagi, Ri! Namun hanya berubah menjadi kenangan yang dikubur rapat.’’


Malam itu, ketika rembulan begitu terang, Ari berjalan menuju masjid. Bangunan itu tampak tua dan sepi, hanya terisi oleh Pak Abu serta segelintir warga.


“Kau tahu,’’ lirih Pak Abu. ”Meski kampung ini sepi sudah lama, tapi setidaknya dulu tujuh saf masjid ini selalu terisi penuh.’’


Ari menatap lantai masjid. Dia ingat masa itu.


“Kenapa kau bawa mereka ke sini?’’ Pak Abu Kembali membuka suara.


Ari menelan ludah.


“Karena kalau tidak, dalam lima tahun dari sekarang mungkin kampung ini sudah menjadi hutan belantara.’’


“Dan menurutmu pabrik adalah cara menyelamatkannya?’’ 


Ari terdiam tak mampu menjawab. Hatinya bimbang.


Selepas dari masjid, Ari berdiri di belakang rumah. Di depan makam kakeknya ia terduduk. Dipandangnya kampung, banyak rumah kosong, jalanan sepi, dan sekolah yang jendelanya pecah. Semua ditinggalkan pemiliknya. 


Dadanya sesak, orang-orang tak hanya meninggalkan kampung ini, mereka juga meninggalkan tanggung jawab menjaganya. Dan sekarang, tanggung jawab itu jatuh padanya. Namun, caranya mungkin akan menghapus kampung ini selamanya. 


Angin berembus pelan. Untuk pertama kalinya ia merasa mengerti arti kehilangan. Bukan ketika seseorang pergi, melainkan saat tempat yang penuh kehidupan perlahan berubah menjadi kenangan.


“Tak heran kampung ini semakin sepi dan tertinggal, jauh dari pembangunan,” gumam Ari seraya menjauh dari nisan kakeknya. “Mereka kunjungi kampung ini saat pemilihan kepala daerah, karena dianggap bertuah bagi perjalanan kariernya. Setelah memimpin, kampung ini dilupakan….”


Ia kini yakin untuk membenarkan apa yang pernah dikatakan kakeknya semasa hidup. Orang datang atau berkunjung ke kampung ini, tak lain sebabnya mencari simpati. Bagaimana pun warga asli dari sini, menyebar di seluruh kota dan daerah lain.


_______


Penulis


Dian Alia Ananta, yang akrab disapa Dian, adalah penulis cerpen pemula asal Lampung Tengah, Provinsi Lampung.  Pelajar SMA Al Ma’rif 05 Padang Ratu, Lampung Tengah ini salah satu dari 20 peserta Kemah Sastra 2026 atas manfaat dana Indonesiana Kemenbud RI kepada Fitri Angraini, S.S., M.Pd.  Karya cerpennya , “Lesung Pipi” juara I Lomba Cipta Cerpen Festival Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kabupaten Lampung Tengah. Selain itu cerpennya terpublikasi di media online Lampung, Pesawaran Inside.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Puisi-Puisi Pringadi Abdi Surya

Puisi Pringadi Abdi Surya




Dongeng Hutan


Dulu, ada hutan. Hutan yang bernapas dengan seribu

udara, yang berbahasa dengan seribu suara: bisik daun, 

tawa kera, desau sungai purba. 


Setiap pohon adalah rumah, juga cerita. Di sana 

hujan jatuh begitu lebat, menghapus jejak waktu 

yang tak pernah terawat.


Kini, cerita kita berbeda. Ada barisan baru yang tumbuh.

Berdiri tegak, rapi, lurus, membisu. Seperti tentara

menunggu aba-aba.


Tak ada lagi semak belukar sunyi, tempat menyimpan 

rahasia, juga mimpi. Udara pun terasa berbeda, 

tipis, dan asing. Burung-burung pergi, tanpa pesan terakhir 

meninggalkan sehelai bulu, untuk pembatas buku.


Tapi apa lagi yang perlu kucatat:

Tanah ini, yang dulu hangat oleh akar yang menunjang dalam, 

atau menyerabut, menjadi sarang serangga menari, tempat 

kumbang bersemayam. Dan daun-daun khusuk bersembahyang.


(2025)



Tanpa Transportasi


Kau bertanya, kota seperti apa ini?


Di kota ini, tak ada bus yang berangkat pagi. 

Halte-halte karib dengan karat. Pondasi

telah tumbuh akar, merambat di tiang lampu, 

memanjat doa-doa orang yang lelah menunggu.


Rel kereta api juga masa lalu. 

Segerombol kucing berjalan di atasnya hati-hati, 

seperti penari kawat yang telah kehilangan sirkus 

dan penontonnya kini tinggal menunggu mampus.


Setiap bertanya seberapa jauh—kutunjukkan sol sepatu 

yang menipis dan punggung yang menghapal bentuk matahari. 

Setiap langkah adalah sudah

percakapan sunyi antara aspal dan debu yang tabah.


Kau bertanya, kota seperti apa ini?


Sebuah kota yang membiarkan penduduknya tersesat

Tak ada penunjuk arah. Di persimpangan jalan, 

lampu lalu lintas hanya nyala warna kuning. Selamanya.


(2025)



Di Ujung Toga


Kota ini bangun lebih pagi dari doa ibu,

mencetak kami lagi di mesin fotokopi nasib— 

barisan wajah serupa, di-laminating harapan tipis,

diapit ijazah yang mulai terasa seperti 

paspor ke negeri yang tak pernah ada di peta.


Kami datang dengan nama lengkap dan gelar,

seperti mantra yang kami hapal empat tahun,

berharap satu pintu akan terbuka oleh sihirnya. 

Tapi di sini, di lobi-lobi dingin berlantai granit, 

mantra itu gumam yang hilang ditelan suara pendingin.


Antrean ini lebih panjang dari cicilan KPR,

ular beton yang melingkari gedung-gedung kaca.

Di dalamnya, kami adalah arsip 

yang menunggu giliran untuk menguning. CV kami—

selembar surat cinta yang dikirim ke alamat

yang mungkin tak pernah membukanya.


"Sudah sampai mana?" tanya bapak dari seberang kota, 

suaranya seperti sinyal radio yang pecah dan berisik

Aku ingin menjawab, "Sudah sampai di titik 

mempertanyakan harga sebuah toga dan tawa di hari wisuda." 

Tapi yang keluar hanya, "Masih proses, doakan saja."


Di kedai kopi seberang kantor, kami bertukar cerita,

bukan tentang teori Foucault atau laba ditahan, 

tapi tentang aplikasi mana yang baru membuka lowongan,

tentang HRD yang hanya melihat sekilas ingatan, 

seperti memindai barcode barang diskon di pertokoan. 


Ijazah di dalam map ini terasa lebih berat dari tas 

yang dulu dibawa mendaki gunung di akhir semester. 

Dulu puncaknya jelas, kini aku berdiri di kaki 

menara gading yang tuli, melihat pantulanku di kaca—

seorang asing dengan sepatu yang solnya mulai menipis.


Kami adalah glitch di sistem kota ini,

notifikasi ‘telah dibaca’ yang tak pernah dibalas.

Setiap sore, kami pulang membawa lelah dan pertanyaan 

yang sama: untuk siapa sebenarnya menara-menara ini 

dibangun, jika pintunya hanya seukuran lubang jarum?


(2025)



Banjir Suatu Hari


Hujan menggantung di ingatan, dan 

tak kunjung surut.

Kautahu, ada berapa kata

yang hanyut di setiap tetesnya?


Aku menghitung lama genangan,

lewat embusan napas

yang tersangkut di antara doa dan cemas.


Air naik, dan kita belajar

bagaimana mencintai yang hilang,

dari meja makan yang mengambang

hingga sepatu-sepatu yang terbawa arus

ke muara sungai yang tak pernah kita urus.


Setiap rumah adalah perahu,

Jendela-jendelanya membuka diri ke langit

sambil menanti jawaban dari berbagai pertanyaan

yang selama ini terbentur lutut kekuasaan.


Benarkah bahwa

Yang fana adalah waktu, air abadi?


(2025)



Setelah Lama Tak Kutulis Puisi


setelah lama tak kutulis puisi, baru kusadari

telah lama pula hujan tak turun di kota ini

seribu daun ranggas, tapi tak ada pemakaman

iring-iringan kendaraan hanya milik pejabat

melaju cepat seperti hendak lari dari kematian


pada itu, kata-kata berkumpul di pinggir pantai

asap terkepul, mereka sedang membakar ingatan

aku tak tahu, bila niat itu belajar menjadi ibrahim

yang tak terbakar dijilati api. tetapi kobar

kian kobar, langit mulai tampak terpanggangi


setelah lama tak kutulis puisi, baru kupahami

telah lama pula tak ada seseorang yang kutangisi

kekasih yang berdiri di seberang jalan kini tak gadis


pada itu, aku mengingat-ingat kata terakhir

yang tak sempat kutuliskan di selembar surat

tentang hukum kekekalan cinta

bahwa cinta hanya menjadi kekal

bila ada perpisahan


______


Penulis


Pringadi Abdi Surya, dilahirkan di Palembang, 18 Agustus. Sekarang sedang bertugas di Banda Aceh. Catatan pribadinya sesekali tayang di https://catatanpringadi.com.


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, July 25, 2026

Resensi Kabut | Angin dan Air

Oleh Kabut




Anak-anak suka angin. Yang dimaksud bukan “masuk angin” atau “buang angin”. Pengalaman menjadi anak-anak terasa seru dan unik bila berurusan angin. Anak-anak yang bermain kitiran menyadari angin yang membuat sesuatu bisa berputar. Angin itu gerak. Maka, anak-anak yang bermain kitiran sambil berlari atau memasangnya di tempat tinggi menganggap angin adalah berkah.

Ada yang mengakui faedah angin saat bermain lempar debu atau daun. Mereka melihat debu dan daun terbang oleh angin. Mata yang melihat menimbulkan gembira. Peristiwa yang sederhana. Pokoknya, angin menjadi alasan bermain. Anak-anak mengerti hari-hari panen angin atau sulit angin. Yang gerah menghidupkan kipas angin. Di depan kipas angin, anak tetap bisa bermain dengan cara aneh-aneh. Artinya, anak dan angin itu cerita yang panjang, memuat gembira, persaingan, bingung, takjub, ketagihan, dan lain-lain.


Pada masa lalu, anak-anak yang merasakan sumuk mencari angin agar keringat menghilang. Yang punya kipas angin cuma sedikit. Benda yang mahal. Bagi yang cerdik, pembuatan kipas menggunakan bambu, kain, dan kertas cukup menghasilkan angin. Namun, hubungan bareng angin itu terlalu cepat berubah. Kini, di rumah-rumah, banyak beragam merek kipas angin yang memerlukan listrik agar orang-orang tidak jengkel gara-gara musim kemarau.


Ada lagi yang mengakrabkan anak dan angin. Kita mengetahuinya dalam novel yang berjudul Si Kajan Bengal (1975) gubahan Mien Resmana. Buku kecil dan tipis terbitan Pustaka Jaya. Buku yang gambar di sampulnya tidak segera berkaitan angin. Yang tampak adalah gambar anak dan domba. 


Pada mulanya, novel itu mengenai angin. Yang diceritakan pengarang adalah anak-anak yang suka bermain laying-layang. Anak-anak menuju sawah, berharap angin memberikan girang. Pengarang bercerita mengenai Endut yang bermain layang-layang: “Lari-lari anjing ia pergi ke sawah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Di sanalah, ia akan menerbangkan laying-layangnya. Kebetulan angin bertiup dengan kencang. Endut tengadah ke langit yang bersih biru. Hai, layang-layang siapakah itu? Sebuah layang-layang meliuk-liuk di angkasa. Bagian tengahnya bergambar bintang berwarna merah. Ia tak tahu layang-layang siapa. Ditengoknya ke sana kemari, tak terlihat juga pemiliknya.” Pada setiap siang atau sore, sawah ramai oleh anak-anak yang bermain layang-layang. Mereka tidak takut panas dan pantang lelah.


Pihak pemerintah mungkin tidak melakukan penyensoran naskah buku sebelum terbit. Di situ, pengarang mencantumkan: “bergambar bintang warna merah.” Pada masa Orde Baru, gambar atau logo sering bermasalah. Penguasa tidak suka “kiri”. Maka, segala gambar dan warna yang mengesankan “kiri” mendapat perlakuan yang represif. Bintang merah dalam novel mungkin tidak dianggap berbahaya secara ideologi.


Endut bergembira tapi sejenak. Muncul bocah bernama Kajan yang bikin keributan. Endut terpaksa menyerahkan layang-layang dan benang. Kajan terkenal sebagai anak yang bengal. Endut tidak berani melawan. Semula, angin dan layang-layang yang membuat senang berakhir sedih. Lantas, ia menyadari nasib.


Orang tua meminta Endut melakukan perbuatan yang lebih berfaedah ketimbang bermain layang-layang. Ia diminta di sawah, menjaga padi dari serangan burung dan ayam. Bocah yang tetap ke sawah dengan misi yang berbeda. Ia berupaya agar padi-padi itu selamat dari nafsu binatang yang ingin memakannya. Endut perlahan menikmati hari-hari berada di sawah. Namun, nasibnya tetap tidak beruntung. Kajan mendatanginya dan memberi kesedihan. 


Pada suatu hari, Endut tetap punya cara bergembira. Anak-anak yang membaca nasibnya Endut percaya bahwa kegembiraan tidak lenyap di dunia. Pengarang memang sedang memberi nasib yang sial dan sedih bagi Endut. Pengarang ingin mengajak para pembacanya mengerti ketabahan, sebelum memikirkan keberanian. Endut dijadikan tokoh yang memungkinkan ketabahan menemukan jalan untuk bahagia.


Maka, Endut yang tidak lagi bermain bersama angin mendapat penggantinya. Ia dan teman-teman memilih air. Mereka mencari ikan. Bermain air itu menyenangkan tapi menangkap ikan bukan masalah yang mudah. Yang diceritakan Mien Resmana: “Dalam lubuk terlihat beberapa ekor ikan kecil. Tapi karena masih berair sukar juga untuk menangkapnya…. Tidak banyak yang mereka peroleh. Lagi pula makin ke hilir air sungai makin besar sebab air dari sawah di kiri dan kanan sungai itu turun ke sungai. Sukar juga menangkap ikan dalam air yang agak besar.” Susahnya yang ditanggung bersama tetap memberi kesempatan bahagia. Bersama itu baik. Berusaha itu menemukan hasil.


Anak-anak sekarang yang membaca novel dari masa 1970-an boleh iri. Dulu, anak-anak bermain di sawah dan sungai. Berbeda dengan masa sekarang, yang mengondisikan anak-anak bermain di ruangan atau tempat-tempat yang membuat mereka bergirang dengan gawai. Angin dan air tidak lagi sumber kebahagiaan atau usaha mencipta kebersamaan. Yang terus bermain bareng angin dan air sebenarnya sedang mengerti alam.


Di novel yang tipis, anak-anak juga mengetahui nasib Endut gara-gara mau menjadi gembala domba. Ia mendapat tugas dari ayahnya agar domba-domba itu terpelihara. Endut menyanggupi. Tugas yang dilakukan secara rela dan bersemangat. Dulu, anak-anak di desa yang menggembala domba, kambing, atau kerbau memiliki beragam cara senang saat mereka bertemu dan berkumpul di sawah atau padang. Binatang makan rumput, anak-anak membuat usul-usul untuk mencipta senang. Tugas menggembala yang tidak mudah dan menimbulkan lelah tapi Endut mengetahui faedah-faedah baik. 


Pada abad XXI, novel tipis yang digarap Mien Resmana menjadi rekaman zaman. Anak-anak yang keseringan memegang gawai mungkin tidak gampang bertaut dengan kehidupan masa silam. Jadi, novel lawas bila masih mendapat pembaca sedikit menguak lakon anak-anak di desa saat pelbagai peristiwa mampu menimbulkan beragam rasa. Mereka pun membentuk kepribadian sekaligus sadar bermain peran dalam pergaulan sosial. Kini, novel itu bikin kangen bagi pembaca yang menua. Novel yang mengandung nostalgia.


_______




Penulis


Kabut, penulis lepas.




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Sunday, July 19, 2026

Berita | Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Jakarta Sukses Tingkatkan Kapasitas Pemasaran UMKM melalui Pelatihan Copywriting Berbasis Media Digital



NGEWIYAK.com, KAB. SERANG --  Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) telah sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pelatihan Copywriting Bahasa Indonesia Berbasis Media Digital untuk Meningkatkan Kapasitas Pemasaran Pelaku UMKM di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang” pada Minggu (19/7) di teras PAUD Al-Ibtisam, Kp. Pamong Udik, Ds. Kubang Puji, Kec. Pontang, Kab. Serang.


Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menyusun konten promosi yang menarik, komunikatif, dan persuasif dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana pemasaran. Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai teknik dasar copywriting, pemilihan diksi yang tepat, penyusunan kalimat promosi yang efektif, hingga praktik pembuatan konten untuk berbagai platform media sosial dan pemasaran digital.


Pelatihan berlangsung secara interaktif bersama narasumber berpengalaman, pegiat literasi Banten, Encep Abdullah, dengan mengombinasikan penyampaian materi, diskusi, studi kasus, dan praktik langsung. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan, diskusi yang aktif, serta semangat peserta dalam menyusun naskah promosi untuk produk masing-masing.


Ketua Panitia, Asep Yana Yusyama, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.


“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal bagi para pelaku UMKM untuk semakin percaya diri memanfaatkan media digital sebagai sarana pemasaran. Kemampuan menulis promosi yang baik bukan hanya soal merangkai kata, melainkan membangun kepercayaan konsumen dan meningkatkan daya saing produk lokal. Semoga ilmu yang diperoleh hari ini dapat langsung diterapkan sehingga memberikan manfaat nyata bagi perkembangan usaha para peserta.”


Lebih lanjut, beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, pemerintah Kecamatan Pontang, serta semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat.



Salah seorang peserta pelatihan, Sukri, mengungkapkan kesan positif setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.


“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai pelaku UMKM. Selama ini kami memasarkan produk secara sederhana, tetapi setelah mengikuti pelatihan ini kami memahami bagaimana membuat kalimat promosi yang menarik dan mampu meyakinkan calon pembeli. Materinya mudah dipahami, banyak praktik, dan langsung dapat diterapkan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan karena memberikan manfaat yang nyata bagi pengembangan usaha kami. Menurut kami, pelatihan ini berjalan dengan sangat sukses dan memberikan pengalaman yang berharga.”


Begitu juga menurut Nasuha, Pengelola PAUD Al-Ibtisam, menyampaikan keseruannya mendengarkan pemaparan materi dari narasumber.


"Masyaallah Pak Encep ngasih materinya asyik banget, top keren," ujarnya.


Keberhasilan kegiatan ini tercermin dari tingginya partisipasi peserta, interaksi yang aktif selama sesi pelatihan, serta meningkatnya pemahaman peserta mengenai strategi penyusunan konten promosi berbasis bahasa Indonesia yang efektif di media digital.


Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta berharap terjalin sinergi yang berkelanjutan dengan masyarakat, khususnya para pelaku UMKM di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang. Diharapkan keterampilan yang telah diperoleh dapat mendukung peningkatan kualitas pemasaran produk, memperluas jangkauan pasar, serta meningkatkan daya saing UMKM di era digital



(Redaksi)


Cerpen M Waladul Abror | Kalah

Cerpen M Waladul Abror



Hari-hari melintas dengan mata pisau yang tak terlihat bagi Arga. Pemuda yang tengah meniti ilmu di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia itu berjalan di antara mimpi dan kenyataan yang sering kali saling berseberangan. Seusai meninggalkan bangku SMA di Ponorogo, ia memilih memikul dua beban sekaligus: kuliah dan bekerja. Di rumahnya, ayah mengadu nasib sebagai kuli harian, sementara ibu menakar harapan lewat jajanan yang dijual dari beranda rumah.

Maka, selepas kuliah Arga kerap menitipkan lelah pada pekerjaan apa saja yang datang. Pernah ia mengangkat tumpukan material bangunan hingga telapak tangannya mengeras dan peluh membasahi punggungnya. Namun, ia tak pernah mengeluhkan keadaan. Baginya, setiap rupiah yang terkumpul adalah serpihan harapan yang harus dijaga agar tidak tercerai-berai.

Senja turun perlahan ketika langkahnya hendak menuju rumah Iwan, sahabat yang telah menemaninya sejak masa SMP. Iwan adalah sepotong cahaya di antara hari-hari yang kusam—selalu riang, selalu memiliki cerita yang mampu mengusir penat. Bersamanya, Arga sering menghabiskan sore di warung kopi sederhana, membiarkan waktu larut dalam percakapan tentang hidup yang kadang ramah, kadang pula terasa begitu asing.

Sebelum berangkat, pandangannya tertahan pada sebuah telepon genggam yang terbaring sunyi di dekat kursi ruang tamu. Secangkir kopi hangat masih mengepulkan aroma yang bercampur dengan lengang sore. Di antara uap yang perlahan memudar, Arga memandang benda itu cukup lama, seolah ada kabar yang sedang menunggu untuk mengetuk hidupnya.

Tanpa banyak pertimbangan, Arga meraih telepon genggam yang terbaring sunyi di dekatnya. Jemarinya menyusuri layar, membiarkan deretan status WhatsApp berlalu seperti bayang-bayang yang melintas di tepi jalan. Hingga akhirnya, pandangannya tertambat pada sebuah kabar yang menyala lebih terang daripada yang lain, seseorang berhasil membawa pulang uang dalam jumlah besar hanya dalam hitungan waktu yang singkat.

Kabar itu menjelma benih yang jatuh ke dalam tanah pikirannya. Mula-mula kecil dan nyaris tak berarti, tetapi perlahan tumbuh, menjalar ke segala arah, memenuhi ruang benaknya yang selama ini sesak oleh kebutuhan. Di tengah perjuangan yang tak pernah benar-benar usai, cerita itu terasa seperti setitik cahaya yang muncul di ujung lorong panjang.

Angan-angannya pun mulai berlayar jauh. Ia melihat sebuah laptop baru berdiri di atas meja belajarnya, melihat senyum kedua orang tuanya yang tak lagi dibebani kegelisahan, dan melihat dirinya berjalan tanpa dihantui hitungan biaya yang terus mengejar dari belakang. Bayangan-bayangan itu datang silih berganti, mengisi kepalanya seperti awan yang semakin menebal menjelang hujan.

Tak lama kemudian, langkahnya membawa menuju lemari tua di sudut kamar. Dari sana, ia mengeluarkan tabungan yang selama bertahun-tahun dijaga dengan kesabaran yang tak sedikit. Tangannya bergetar ketika membuka celengan itu. Bunyi kepingan dan lembaran uang yang terkumpul dari peluh serta lelah bertahun-tahun terdengar lirih di telinganya. Sesungguhnya, uang itu adalah jalan menuju motor yang selama ini hanya hidup dalam mimpinya. Namun, harapan yang baru saja tumbuh menjelma ombak yang lebih besar. Ia datang menghantam keraguan, mengikis kewaspadaan sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanyalah keberanian yang dibalut rasa penasaran.

Dengan tangan sedikit gemetar, Arga memindahkan seluruh uang tabungannya ke dalam saldo permainan itu. Tak ada lagi yang tersisa selain harapan dan keyakinan bahwa keberuntungan akan berpihak kepadanya. Dada Arga yang dipenuhi debar tak menentu saat siap memainkan permainan. Sentuhan pertama,  angka-angka itu bergerak naik. Sentuhan kedua naik begitu dahsyat.Sejenak, dunia terasa lebih ramah kepadanya. Angka-angka yang berlipat ganda itu menjelma harapan yang menari-nari di pelupuk matanya. Ia seperti melihat masa depan yang selama ini berdiri jauh di seberang sana perlahan mendekat. Senyum yang lama tersimpan akhirnya merekah di wajahnya.

Waktu pun berlalu tanpa suara. Sore merayap pelan di balik jendela, sementara Arga masih tenggelam dalam kegembiraan yang memabukkan. Dalam riuh angan yang memenuhi kepalanya, ia nyaris lupa bahwa ada seorang sahabat yang menunggu kedatangannya di ujung senja. Iwan, yang namanya perlahan tenggelam di antara gemerlap harapan yang baru saja menyala.

Karena kegembiraan yang meluap-luap di dadanya, Arga segera melangkahkan kaki menuju rumah Iwan. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajahnya sepanjang perjalanan. Sore itu, ia bahkan mengajak sahabatnya menikmati secangkir kopi di warung langganan mereka. Menurutnya, kemenangan yang baru diraih adalah rezeki yang menyambut pada waktu yang tepat, seolah langit berbaik hati setelah sekian lama membiarkannya bertengkar dengan kesulitan. Namun, Arga tidak memikirkan bahwa kemenangannya hanyalah pintu pertama menuju jalan buruk yang kelak menyeret hidupnya ke arah tidak jelas.

Sesampainya di warung, aroma kopi yang mengepul menyambut kedatangan mereka. Iwan yang heran melihat sikap sahabatnya itu lantas tersenyum dan bertanya. “Tumben, Gaa. Kamu yang traktir aku?”

Arga terkekeh pelan sebelum menjawab, “Iya, Wan. Tadi ada sedikit rezeki.”

“Alhamdulillah, Gaa,” sahut Iwan tulus. Mendengar kabar itu, hatinya ikut merasa senang. Baginya, Arga adalah sosok yang pantas memperoleh kebahagiaan. Sejak dulu, ia mengenal Arga sebagai pribadi yang baik hati, ringan tangan membantu sesama, serta tidak pernah menyerah meskipun hidup berkali-kali mengujinya dengan kesulitan.

Malam berlalu, meninggalkan jejak-jejak harapan yang masih menyala dalam benak Arga. Keesokan harinya, godaan itu datang kembali seperti seseorang yang sedang mengejar bayangan cahaya di kejauhan. Arga kembali mencoba peruntungan. Setelah Arga membawa lebih banyak rupiah daripada sebelumnya, kemenangan sebelumnya sudah bertumbuh jadi keyakinan yang perlahan mengaburkan kehati-hatiannya.

Di dalam kepalanya, mimpi-mimpi mulai tumbuh semakin tinggi. Ia membayangkan motor impian yang selama ini hanya mampu dipandangi dari balik kaca dealer. Ia membayangkan kedua orang tuanya tersenyum bangga saat ia mengajak mereka berjalan-jalan. Arga membayangkan di benak pikirannya tiap hari tanpa kecemasan, kekurangan, dan beban biaya kuliah yang terus dipikul. Tanpa disadari, bayang-bayang itu telah mengakar seperti besi yang sudah berkarat. Semakin ia menatap mimpi-mimpi itu, semakin jauh ia tersesat dan kewaspadaan yang selama ia jaga.

 Pertama, keberuntungan datang seperti mendapatkan berlian. Angka-angka di layar bergerak melampaui batas, membawa penuh harapan yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada Arga. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Untuk sesaat, ia merasa langit sedang membuka jalan bagi mimpi-mimpinya. Namun, keberuntungan ternyata hanya singgah sebentar. Perlahan, angka-angka itu berbalik arah. Sedikit demi sedikit, apa yang tadi bertambah mulai menyusut tanpa ampun. Arga menatap layar dengan napas tertahan. Di dalam dirinya, sebuah suara terus berbisik bahwa kehilangan itu hanyalah persinggahan sebelum kemenangan yang lebih besar datang menghampiri. Maka ia kembali melangkah ke jalan yang sama.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dan setiap langkah membawanya semakin jauh dari apa yang ingin ia pertahankan. Keringat mulai merembes dari telapak tangannya. Di atas meja, secangkir kopi yang tadi menghangatkan sore perlahan kehilangan uapnya. Kehangatan itu menghilang sedikit demi sedikit, sebagaimana harapan yang mulai luruh dari dalam dirinya. Namun Arga tak menyadarinya, pandangannya telah terpenjara oleh cahaya layar yang berkedip-kedip di hadapannya.

Ia terus mengejar apa yang telah pergi. Terus mengulurkan tangan kepada bayang-bayang yang semakin menjauh. Terus berharap pada kemungkinan yang tak pernah benar-benar ada. Angka demi angka lenyap seperti dedaunan kering yang diterbangkan angin. Tak ada yang tersisa untuk digenggam. Tak ada yang kembali meski telah dipanggil berkali-kali.

Di dalam dadanya, kegelisahan tumbuh seperti malam yang perlahan menelan cahaya senja. Napasnya memberat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ada ketakutan yang mulai mengetuk, tetapi ia menolak membuka pintu untuknya. Hingga akhirnya, layar itu menampilkan satu kenyataan yang dingin dan tak terbantahkan Rp0,00.

Seketika dunia di sekelilingnya terasa membisu, waktu seolah berhenti mengalir, udara terasa menggantung. Arga hanya menatap layar itu dengan mata yang kosong. Cahaya dari telepon genggam memantul di wajahnya yang pelan-pelan kehilangan warna. Arga seperti seseorang yang terbangun dari mimpi panjang, lalu mendapati seluruh kenyataan telah berubah menjadi hampa.

Tabungan yang dikumpulkan dari tahun ke tahun sudah lenyap tak tersisa. Peluh yang pernah jatuh di bawah terik matahari.Tenaga yang pernah diperas hingga tubuhnya nyaris tumbang. Harapan-harapan kecil yang selama ini disimpannya untuk masa depan, semuanya tenggelam dalam satu malam yang tak pernah ia bayangkan. Motor impian itu kini hanya tinggal bayangan yang memudar di kejauhan. Keinginan untuk meringankan beban kedua orang tuanya luruh seperti daun tua yang jatuh sebelum sempat menyentuh musim yang dinanti. Perlahan, telepon genggam itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Bunyinya memecah kesunyian, lalu kembali ditelan oleh sepi yang lebih dalam.

Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi.Langit senja di luar jendela telah lama berubah menjadi gelap, tetapi malam yang sesungguhnya justru baru saja tumbuh di dalam dirinya. Pandangannya beralih ke arah lemari tua di sudut kamar. Tempat itu pernah menyimpan mimpi-mimpinya, menyimpan hasil kerja keras yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dengan kesabaran yang panjang. Kini, yang tersisa hanyalah ruang kosong. Dan di dalam ruang kosong itu, penyesalan duduk seorang diri, menemaninya dalam sunyi yang tak lagi memiliki jawaban.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Arga. Dalam diam, ia melihat kembali potongan-potongan hidup yang pernah dilaluinya. Terik matahari yang membakar kulit saat bekerja. Peluh yang jatuh tanpa sempat dihitung. Rasa lelah yang selama ini dipendam rapat-rapat di balik senyum dan keteguhan. Serta harapan yang disusunnya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang sedang menata batu demi batu untuk membangun sebuah jembatan menuju masa depan.Kini, semuanya terasa runtuh dalam satu hari.

"Kenapa ini?" bisiknya lirih.

Pertanyaan itu melayang begitu saja di ruang kamar yang lengang. Tak ada jawaban.Yang terdengar hanyalah suara kipas angin yang berputar pelan, mengaduk kesunyian yang menggantung di udara. Malam terasa begitu panjang. Arga melihat lantai tanpa tujuan, seakan ia mencari sesuatu yang telah hilang dan tak mungkin ditemukannya lagi.

Pengalaman pertama ini,  ia merasa asing seperti di negara orang. Ia malu kepada dirinya yang telah merelakan perjuangan dengan sia-sia, malu kepada kedua orang tuanya yang senantiasa mengajarkan rezeki yang baik lahir dari kesabaran dan kerja keras. Namun penyesalan selalu datang setelah segalanya terjadi. Ia tahu, air mata tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Ratapan tidak akan memutar waktu ke belakang.

Perlahan, Arga menundukkan kepala. Barulah ia sadar bahwa kemenangan yang semula sempat membuatnya bersorak bahagia, justru umpan yang menyeret menuju jurang yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan langkah yang berat. Arga berusaha menenangkan pikirannya, meski penyesalan masih menetap di dadanya seperti tamu yang enggan pulang. Hingga pada suatu sore, ia memberanikan diri berjalan menuju rumah Iwan. Sesungguhnya, ada kegelisahan yang terus mengiringi langkahnya. Ia ingin meminta bantuan.Namun lidahnya terasa kelu hanya untuk membayangkannya.Tahun lalu, hubungan mereka sempat terusik oleh persoalan uang dalam sebuah acara tujuh belasan. Meski masalah itu telah lama selesai, kenangannya masih tertinggal di sudut hati Arga seperti noda yang sulit dihapus.

Ketika sampai di depan rumah sahabatnya itu, Arga menarik napas panjang."Alhamdulillah, Iwan ada di rumah," gumamnya dalam hati.

Di emperan rumah yang sederhana, Iwan tampak duduk santai. Asap rokok melayang tipis di udara senja, bercampur dengan aroma kopi yang mengepul dari cangkir di tangannya.Melihat kedatangan Arga, wajahnya langsung berbinar."Sini, Gaa. Duduk. Kita ngobrol dulu. Nanti aku buatkan kopi. "Keramahan itu masih sama seperti dulu. Sehangat senja yang perlahan turun di halaman rumah.

"Iya, Wan," jawab Arga pelan.Ia duduk, meski kegelisahan di dadanya belum juga reda. Keinginan untuk meminjam uang masih tertahan di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang mengikat kata-kata itu agar tidak keluar.

Tak lama kemudian, Iwan kembali dengan secangkir kopi hangat."Nih, Gaa. Kopimu."Cangkir itu diletakkan perlahan di atas meja.

"Makasih, Wan," jawab Arga.Uap kopi naik perlahan ke udara, membawa aroma yang biasanya mampu menenangkan pikirannya. Namun sore itu, kegelisahan di dalam dadanya jauh lebih pekat daripada aroma kopi yang memenuhi teras rumah.

Di tengah percakapan yang belum sempat mengalir jauh, pandangan Arga tertuju pada seorang lelaki yang berjalan cepat dari arah barat.Itu ayah Iwan. Langkahnya panjang dan tergesa. Wajahnya memerah seperti langit senja yang terbakar matahari. Kerutan di dahinya menumpuk rapat, sementara sorot matanya menyala oleh amarah yang sulit disembunyikan.Iwan segera berdiri.

"Pak, kenapa?" tanyanya.

Namun lelaki itu terus berjalan tanpa menjawab. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.Ia hanya melintas seperti badai yang sedang menahan dirinya agar tidak pecah sebelum sampai ke tujuan.

Beberapa saat kemudian, dari arah belakang rumah terdengar suara bentakan yang memecah kesunyian sore. Nada suaranya keras, penuh kemarahan, penuh kekecewaan. Arga menangkap beberapa potong kalimat yang menyebut tentang utang dan kesulitan hidup. Ia terdiam. Tangannya yang memegang cangkir perlahan melemah. Dadanya terasa semakin sesak. Suara itu seperti cermin yang memantulkan keadaan dirinya sendiri. Meski belum mengucapkan apa pun kepada Iwan, ia merasa seakan sedang melihat bayangan masa depannya berdiri di hadapan mata.

Sore perlahan berubah menjadi senja. Dan di balik aroma kopi yang mulai mendingin, Arga hanya mampu menunduk, membiarkan kegelisahan tumbuh semakin dalam di dalam dadanya.

Arga berusaha mengusir kegelisahan yang sejak tadi menggelayuti pikirannya. Ia mulai melempar beberapa candaan ringan kepada Iwan, mencoba mencairkan suasana yang sempat terasa kaku. Di balik senyum yang dipaksakannya itu, ia diam-diam menyusun keberanian yang sejak tadi tercekat di tenggorokan.Percakapan mengalir perlahan seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Tawa sesekali terdengar di antara mereka, meski di dalam hati Arga, kegelisahan masih duduk dengan tenang dan enggan pergi.Ketika dirasa waktunya telah tiba, Arga menarik napas panjang.

"Wan, aku boleh pinjam uangmu dua ratus ribu rupiah?" tanyanya pelan.

Iwan menatap sahabatnya itu sejenak, lalu menjawab tanpa banyak pertimbangan."Boleh, Gaa. Tapi buat apa memangnya?"

Mendengar jawaban itu, beban yang sejak tadi menekan dadanya terasa sedikit terangkat. Namun pada saat yang sama, sebuah kebohongan perlahan lahir dari rasa takut yang belum sanggup ia kalahkan."Buat beli kipas angin, Wan. Kipas di kamar rusak kemarin."

"Oh, begitu." Iwan mengangguk pelan."Ya sudah, tidak apa-apa."

Seketika Arga mengucapkan terima kasih dengan senyum yang tampak lebih ringan daripada sebelumnya."Terima kasih, Wan."

Sebetulnyadari hatiada sesuatu yang terasa menusuk, Arga menyadari perkataan yang baru saja keluar bukanlah kebenaran tetapi kebohongan, namun ia terpaksa ada rasa takut dibenaknya jika diceritakan kisah yang sebenarnya, sahabatnya itu akan memandangnya berbeda. Ia takut dinilai ceroboh, takut kehilangan kepercayaan yang selama ini dijaga dengan baik.

Senja terus merambat menuju malam. Kopi di dalam cangkir tinggal menyisakan ampas dan aroma yang mulai memudar. Arga menghabiskannya dalam beberapa tegukan terakhir, seakan ingin menelan sekaligus kegelisahan yang sejak tadi mengendap di dalam dada.

Tak lama kemudian, ia berdiri dan berpamitan. Iwan mengantarnya hingga ke depan halaman, sebagaimana kebiasaannya setiap kali ada tamu yang pulang. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, langkah Arga terasa lebih berat daripada biasanya. Langit di atas kepalanya perlahan menggelap. Angin sore berembus pelan, membawa kesunyian yang membuatnya semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.Ia mengingat kembali semua yang telah terjadi.

Harapan yang sempat membuat terlena, kemenangan yang ternyata hanya fatamorgana,  simpanan yang lenyap menjadi cacing bersama mimpi yang indah. Dan sekarang sudah berbohong kepada sahabat yang selama ini selalu memperlakukannya dengan tulus.

Penyesalan kembali mengetuk pintu hatinya. Namun kali ini, di balik penyesalan itu tumbuh sebuah kesadaran yang perlahan menjadi terang. Arga mulai sadar tidak ada jalan pintas yang mampu menggantikan nilai perjuangan, uang yang datang terlalu mudah sering pergi dengan cara yang lebih mengecewakan. Sedangkan rezeki didapat dari kerja keras, meski lambat dan menguras tenaga tubuh, selalu membawa ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Sejak itu,  Arga berjanji tidak akan lagi mengejar bayang-bayang keberuntungan yang menyesatkan. Ia tidak akan mudah menyerahkan masa depannya kepada harapan-harapan semu yang menawarkan mimpi sesaat. Arga memilih kembali jalan yang pernah menguatkannya, yang penuh peluh, jalan yang penuh lelah. Namun, juga jalan yang mengajarkannya kesabaran, kejujuran, dan harga sebuah perjuangan. Di bawah langit yang mulai tenggelam ke dalam malam, Arga terus melangkah pulang. Dan untuk kali ini setelah sekian lama penuh masalah, ia berjalan menuju dirinya yang sebenarnya dan bertaubat.

_______

Penulis

M Waladul Abror, lahir di ponorogo, 11 desember 2003. Hobi menggambar & menulis. mahasiswa semester 4 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kuliah di STKIP PGRI Ponorogo.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman

Puisi Selendang Sulaiman

 



pemulih lelah.

 

jika kau tanya seberapa gigih aku mencintaimu,

waktu telah kita penuhi riwayat saling meneguhkan.

telapak tanganku bisa kau bakar dengan api lilin,

biar segala pertanyaan mengabu oleh nyeriku.

 

engkau saksiku menempuh nasib terjal,

teman segala musim, pemulih lelah-letihku.

di rumah yang dijaga sepasang mata kucing piaraan,

aku berteduh selamanya, minum kopi buatanmu.

 

nyanyikanlah dalam hati lagu setahun kita bersama,

biar bunga-bunga di halaman tahu kapan menguntum,

yang kita rawat sambil bertahan dalam kewarasan.

 

lihat, garis nasib telah hancur di telapak tanganku.

kau tak perlu meramal masa kita dengan tarotmu,

toh kita telah jadi sekepal kemurnian di tepi dunia.

 

 

jamu penerimaan.

 

aku bukan petani dengan selumbung benih murni,

maka kubajak hari-hari keras di sekujur jakarta.

menggali umbi-umbi kemungkinan cuan di café-café

dengan cangkul panca indera yang jarang diasah.

 

sembari memanggang akal sehat di bawah matahari,

jantungku mengolah angin musim dan debu cuaca.

malamnya, kupaksa diri minum jamu penerimaan

pada nasib yang mengkarat di telapak touchscreen.

 

mataku, ya mataku, saksi tunggal tanpa kata-kata,

yang membingkai kebusukan jadi kaca benggala.

tunggulah masa yang dijanjikan lidah harapan.

 

barangkali, siklus kebenaran tak lagi beroperasi,

baik-buruk laku manusia telah menjelma abu,

yang berhamburan menutup cermin peradaban.

 

 

penakluk dendam.

 

mendekatlah wahai kelembutan tunggal duniaku,

baluti jiwaku yang dipenuhi paku dan duri amarah.

lewat bahasa jalanan tanpa mawar kupanggil kau,

penakluk dendam bermata terang bintang kejora.

 

lembut tabiatmu perlahan menetralkan udara,

larut ke dalam jantung: segarlah alir darahku.

kini, di bising jakarta ketenangan berdentum,

mengangkis jiwaku dari selokan yang kotor.

 

kepadamu, sandaran bagi seluruh angkuhku:

keras batu di dasar hati yang menindih bahasa,

mencair oleh sentuhmu tanpa harus mandi api.

 

tenggelamlah aku ke dalam teduh pelukmu,

sebelum seluruh riwayatku lenyap tanpa catatan.

sebab hanya padamu kupadamkan api dendam.

 

 

kelahiran kedua.

 

puisimu menjelma rahim tabung puisiku,

setiap kata kau kawin-silangkan tanpa jarum.

bergerak tanpa mata menuju penyatuan bahasa,

lalu setetes darahku jadi daging yang bernapas.

 

kini lahirlah aku untuk yang kedua sebagai puisi,

dengan mata yang ditumbuhi bayangan masa lalu.

kubaca puisimu berulang kali dengan dada berdebar,

sampai kutemukan retakanku utuh dalam wujudmu.

 

tiada amsal bagi bentuk keduaku yang prematur,

kumau kita tumbuh—berjalan di punggung jakarta,

tanpa menoleh ke belakang yang babak belur.

 

dengan soneta ini, kuyakinkan kita sekali lagi:

bahwa tubuh kurus ini masih mengandung nyawa,

pembuka jalan baru bagi kita yang menolak mati.

 

 

kumiliki kamu.

 

kumiliki kamu sejak iblis menyumpal mulut malaikat

dentumnya menyumbat telinga kita dari semua nasihat.

seringaimu di awal perjumpaan kita tanpa ekspektasi,

meruntuhkan senyum cleopatra di mata caesar.

 

kutundukkan wajah angkuh sepanjang jalan jakarta,

setelah menuruni gunung geulis—bukit meditasiku.

kini tiap kali wajah mendongak ke langit biru,

senyummu tinggal di sana memantul dari mataku.

 

kumiliki kamu, penangkis lesat anak panah nasib,

yang terus memburuku bertubi-tubi selama ini.

dan di balik kemilau lelampu jakarta kita menyatu.

 

hari-hari kemudian sesekali kita melebur jadi puisi,

walau tetap tak senikmat telor ceplok sarapan pagi.

yang pasti, aku dan kamu telah saling memiliki.

 

 

candu sengsara.

 

telah kuteguk habis ludah sendiri,

saat bibirku basah oleh air mata

di kedua kelopak mata lelahmu,

dan lehermu lembap oleh peluhku.

 

malam di jogja selalu melankolis

bagi pelancong pemburu kenangan.

tetapi tidak bagiku yang pernah runtuh,

sebab canduku padamu lebih sengsara.

 

kau hadir tanpa belenggu jakarta,

dan aku tak mencari kuil nurani—

untuk lari dari dera nasib sialan.

 

di pelukmu aku tinggal, berumah,

tanpa menagih janji langit yang tertulis:

tanpa pengiyaan, matamu tersenyum.

 

Jakarta, 2026


 ______

Penulis

Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa cetak dan elektronik seperti Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, republika.id, dll, serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi puisi tunggalnya: Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan Peta Biru Dunia Ketiga (Penerbit JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya segera terbit di akhir tahun 2026. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com