View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Thursday, August 20, 2026

Esai Uwais Korni | Cara Menulis yang Paling Benar

Esai Uwais Korni




Barusan saya hampir terpengaruh sama metode menulis yang tidak nyaman untuk saya terapkan. Metode menulisnya begini. Pertama, saya harus buat premis tulisan terlebih dahulu. Buat premis ini yang susah. Jadi saya skip. Kedua, saya harus buat ranting-ranting paragraf apa yang mau saya tulis. Kalau buat beginian, saya tahu sedikit. Ketiga, saya harus menulis menyesuaikan premis dan kerangka tulisan tersebut. Nah, ini yang saya gak suka. Dengan ini saya jadi burung di dalam sarang. Gak bebas terbang ke mana-mana. Gak punya imajinasi lagi mau nulis apa.


Saya coba menerapkannya sedikit. Habis itu jijik sendiri sama tulisan yang saya buat itu. Saya memang ditakdirkan untuk menjadi penulis yang asal menulis kayaknya.


Coba kita baca bareng-bareng empat paragraf yang saya buat dengan metode penulisan tadi itu. Di bawah ini.


“Istilahnya, semakin padi berisi semakin condong ke bawah tubuhnya. Mereka yang berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang luas akan terlihat seperti padi yang matang, siap panen, dan yang pasti isinya banyak. Cenderung merendahkan hati merupakan kebiasaan dari mereka yang bijaksana.


Mereka paham bahwa semakin banyak ilmu semakin merasa bodoh sekali dirinya. Bodoh disebabkan bukan mereka yang benar-benar bodoh, melainkan saking banyaknya pengetahuan yang lain yang belum mereka pahami lagi. Orang-orang seperti ini diumpamakan seperti kita yang kehausan tapi yang diminum adalah air laut. Bukan hilang dahaganya, malah bertambah haus jadinya.


Ilmu sedikit dicari kemudian diperoleh dan dipraktekkan lebih mengesankan dibandingkan langsung ilmu banyak yang diidam-idamkan namun tidak satu pun yang dipraktekkannya. Saya menyadari hal ini ketika saya mulai suka dunia literasi. Pas awal saya belajar menulis dulu, saya terburu-buru untuk cepat-cepatan mendapatkan materi penulisan sebanyak-banyaknya. Saya baca semuanya tanpa jeda. Saya melahapnya tanpa satu pun didiskusikan. Ujung-ujungnya semua itu lenyap tak tersisa.


Ilmu sedikit ingin diketahuinya, dicari-cari, ditanyakan satu persatu, dan dipraktekkan secara bertahap, lebih berkesan dibandingkan langsung banyak ilmu yang dibaca namun tidak ada penerapan. Dalam contoh materi kepenulisan, jika materi kepenulisan, metode atau cara menulisnya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lainnya itu masuk semuanya ke otak kita sekaligus, maka yang terjadi bukan kita langsung sanggup produktif menulis, melainkan kita akan pusing sendiri oleh ilmu yang luas tersebut. Sedikit demi sedikit saja belajar caranya menulis agar kita mampu menahan bobotnya praktek menulis yang susah-susah gampang itu. Ibaratnya bayi, mustahil baru lahir langsung bisa berlari. Ibaratnya tumbuhan yang berbuah, mustahil baru menanam besoknya langsung panen. Semuanya bertahap.”


Sumpah, itu paragraf yang kaku banget. Jelas-jelas itu bukan tulisan yang gue banget.


Malam 17 Agustus 2026 saya bertamu ke rumah guru mendiskusikan tentang bagaimana caranya cowok mendapatkan jodohnya. Ini konteksnya teman saya bingung nyari jodoh kok gagal mulu. Ada satu quotes yang terlontar dari diskusi semalam itu yang kurang lebihnya seperti ini: (translate dari bahasa Madura) “Yang penting ikhtiar menjemput jodoh. Tidak malu ngomong secara jujur dan tidak gengsi mengakui kalau suka sama perempuan calon pasangan hidup itu. Seperti apa ikhtiarnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu punya jodoh”.


Quotes singkat itu memantik daya berpikir saya untuk membelokkannya ke arah dunia kepenulisan. Seperti ini “Yang penting jadi tulisannya. Seperti apa metode menulisnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu sudah buat tulisan”.


Yang sering terjadi, saya bingung bagaimana caranya saya memulai menulis dan dengan metode apa saya menulis. Saking banyaknya metode menulis yang saya cari-cari di internet sampai saya kebingungan sendiri. Kok banyak, gitu loh. Jadi nge-blank ini otak.


Padahal ilmu tentang bagaimana caranya menulis itu tidak harus semuanya diterapkan dalam sekali duduk. Gak wajib juga untuk mempraktikkannya, gitu loh. Meskipun saya misalnya bikin-bikin sendiri metode menulis yang nyaman bagi saya, itu gak papa. Lagi pula tidak ada siapa pun yang memaksa saya untuk menulis pakai cara ini atau cara itu. Toh sebenarnya saat saya sedang menulis tidak ada siapa pun yang peduli sama saya ini lagi ngapain.


Begitu juga dengan pembaca. Pembaca maunya saya menulis, bukan maunya saya curhat tentang bagaimana caranya saya menulis. Pembaca bodo amat sama usaha saya ketika saya menulis. Pembaca maunya saya berhasil menulis. Dan ketika saya gagal menulis, pembaca juga bodo amat.


Pembaca butuh bukti bahwa saya mampu menulis, dengan apa? Yaitu dengan cara saya menyelesaikan sebuah tulisan. Bukan cuman bisanya omong kosong doang ngomongnya bisa menulis tapi gak nulis-nulis.


Jadi, saya atau juga kalian yang bercita-cita menjadi penulis yang produktif, gak usah berkoar-koar “saya nulisnya begini, saya nulisnya begitu”. Kecuali jika ditanya. Gak perlu juga menyombongkan diri “saya nulisnya pakai metode ini nih, dan ini metode menulis yang paling baik dan paling benar”. Atau curhat “ini saya nulisnya dah capek banget loh, berbulan-bulan loh, bertahun-tahun loh, baru selesai sekarang”. Taik kucing itu. Toh pembaca juga bodo amat sama curhatan dan keluh-kesah kita.


Pembaca juga gak papa tajam mulutnya dan bukan cuman mengomentari tulisan kita, bahkan menghujatnya juga hak-hak mereka kok. Soalnya kan memang menjadi penulis harus siap dan menerima atas kritik, saran yang membangun, dan hujatan yang merusak mental penulisnya. Tulisan kita disebarluaskan untuk dikomentari. Pasti pembaca punya unek-unek atas bacaannya itu. Sebagian mendiamkannya. Yang lain ada yang sampai buat resensi buku-buku yang telah dibacanya itu. Kemudian dengan resensi itu adakalanya apa yang dikomentari tersebut jadi naik daun. Bahkan ada juga yang terjun payung.


Saya pribadi tidak akan peduli sama omongan pembaca. Itu hak mereka untuk ngomongin tulisan-tulisan saya. Dan saya tidak akan pernah tersinggung atas semua itu. Biarkan yang menanggung malunya adalah tulisan-tulisan saya sendiri. Saya anggap saja tulisan-tulisan saya itu punya jiwa dan mereka mau serang balik atau diam saja, ya terserah yang dihujat itu.


Kan gini. Nulis saja capek, kok malah ngeladenin pembaca. Tambah capek nantinya. Saya pribadi lebih fokus saja sih sama apa yang mau saya kerjakan. Jika misalnya saya ingin menjadi penulis, maka yang perlu saya perhatikan adalah pendisiplinan diri di dalam bidang yang saya geluti ini. Disiplin adalah kunci.


Beberapa minggu ini saya tidak menulis. Memang saya tidak menulis, tapi saya fokus merevisi tulisan-tulisan yang ada di draf yang kemudian ingin saya cetak insyaallah akhir tahun. Belum lagi saya bukan hanya jualan es teh, tapi juga nyambi sebagai penjaga konter. Pastinya saya sedikit waktu untuk menulis dan membaca. Seakan-akan cukup dengan dua alasan ini saya boleh pensiun dini dari dunia kepenulisan. Tapi kenyataannya saya malah semangat untuk membaca dan menulis. Apalagi sekarang internet sudah ada di mana-mana otomatis pengetahuan ada di mana-mana. Jadinya, di sela-sela saya bekerja, saya sesekali baca di Ipusnas. Grup FB kepenulisan juga saya buka mana tahu dapat ilmu baru dari sana.


Saya omongin diri saya sendiri dengan baik-baik, “sesibuk apa sih kamu sampai gak mau baca buku dan gak mau belajar menulis?”. Akhirnya hati saya luluh dan mau belajar menulis dengan lebih semangat lagi.


Bagi saya, sesusah apa pun pekerjaannya pasti gampang jika di-training dan disistem. Pertama kali saya jaga konter, saya gak tahu bagaimana caranya melayani pembeli, bagaimana caranya memasukkan vocer, dan lain sebagainya. Saya juga tidak tahu dompet mana saja untuk uang ini dan itu, dan dompet mana saja untuk uang itu dan ini. Tapi berkat training selama tiga hari, saya bisa kok menjadi karyawan yang disiplin dan lurus.


Apa saja jika tersistem itu enak. Gak ada drama di sana.


Menulis juga sama. Jika menulis itu disistem kapan mulainya dan kapan selesainya, maka gak drama di sana. Gak ada tuh nantinya capek menulis, bosen menulis, bingung mau menulis apa, dan lain sebagainya. Itu cuman banyak alasan bagi penulis yang malas.


Capek menulis kan bisa berhenti dulu. Bosen menulis, ya cari hiburan di luar. Bingung mau menulis apa, ya belajar hal baru.


Dengan sistem seperti ini, saya baru tahu bahwa selama ini saya penulis yang pemalas. Soalnya saya menulis ya menulis saja. Tidak ada sistem tertentu ketika saya belum menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sedang menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sudah menulis. Sebab, kembali ke paragraf di awal tadi, saya orangnya tidak enakan kalau fokus ke satu metode.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Wednesday, August 19, 2026

Cerdek Rois Rinaldi | Dibakta Mabur Sèwu Kêlawa

Cerdek Rois Rinaldi



Mêsin bor tua karatan milikakên banyu ngêbêbicaki bêbancik. Rêmbês niku banyu mêlêbêt ming lêmah ngêdamêl kobakan alit. Kados aboté dunia ing pêningal kula, langit ngêgantung èndèp, kêlawu lan abot, anggané ayun mêlêdogakên mèga, sêmêntawis botên gèrèk dados udan gêmêrêcêk; kados utahé banyu mata wong wadon sing lara ati.


Tindak kula abot, ngan awak mayêng lumaku kados wèntên sêwiji-wiji sing narik saking lor, damêl kula mingo ming arah niku.


“Galèmah kolêm niku,” kula ngêhulêng sêmbari murugi dêdalan bècèké kolêm gêde gênah kula lan rèncang-rèncang siram dan wudu.


Ngênani banyu jêriji-jêriji kula, kêrasa atis kêbina-bina tumêka ngêrambat ming jatiné balung. Luwih atis malih waktos mungup sios wayangan saking banyu lêbah tumibané cahya bolham limang watt.


“Marsyad?” ringrang lan mangmang pêningal kula kari-kari kêkatonên wong sing sampun kirangan sêkini ning pundi wèntêné.  


Marsyad mêlayu gêdabrusan, ampir botên ambêkan dèwèkè, kari-kari Bunyai ngawé-ngawé tangan têngêné saking pêpaga griyan. Pupu Marsyad sêgêdé gêdêbong niku nabrak lêlinggir balok sing ngêlonjor. Badan buntêké kêbangbing ming kolêm.


Kêpuyuh-puyuh kula ning riku ngatonakên.


Sarung irêngé sing kêlinyar lan kandêl mêlêndung kados layar kapal gêdé ahèng.  Ning riku, dèwèkané anggané buta sêgara.


Kula ngèkèk ulêng.


“Marsyad?” ngêhuleng malih kula. “Gusti Pêngéran! Niku kêdadosan sêngèn.”


Sampun pating liwat pirang-pirang taun têbihé sêdantên sing wèntên ning riki, kula waruh malih diantêbakên kêlawan botên wèntên wong setugêl-tugêl acan. Sêsêk ambêkan kula. Kêlipun kula alok lan kêplok, sêmentawis Marsyad kêlaranên?


“Ning pundi Marsyad sêniki?” gêgêtun kula. “Malêr lêmutah dèwèkané?”


Rumasa kula maring salah antrah, linggar saking niku kôlêm noli ngintè lêlurung gênah kula sêngèn ngimbik-imbik ayun nonton Angling Dharma ning Tv Proyek lan nyawang kula maring têbihé dêdalan tonggoh kari-kari èling maring sios waktos kula nangis karna botên uning kêpêripun carané nyabut talês têlês.


Mêlaku lan mêlaku kula têkang gêgêdêr sikil noli lirèn linggih ning tragtag majlis. Wèntên kêkarèn uni adzân ngêgurat ning kuta. Wèntên arum pirang-pirang kitab kuning murag ning traso waktos jêlgêdêg wong katah ubar-abir dados wêwayang ning adêp kula, ning wit-witan, ning lawang griya Abahyai


“Mang Bustomi?” kula kados ngingali wong lanang niku malih ing antawise wayangan ubar-abir.


Kula noli ingêt siyos pêrkawis sing botên munasabah najan sêtuhuné kêdadosan napa-napa sing botên bangkit kula wani nyêtuhukakên.


Waktos niku, kula lagi kêtungkul ngumbah ning jogan Bunyai, alon tindaké Mang Bustomi mandêg ning arêp lawang. Rainé kados dibarèt mangmang, ngan saking jêjêg sikilé kêtingalan botên karsa kêpundur najan sêdêpa. Bunyai sing lagi ngêpé rêngginang ning têtampah gagé mêlêbêt ming soro sêsampuné mirêng Mang Bustomi ngênda izin kanggé mêtuki Abahyai. 


Abahyai noli medal, linggih ning ambèn gêdé. Mang Bustomi dikèn lungguh ning ambèn alit sing wènten ning sêbrang gênahé Abahyai. Gigiré rada ngêbungkuk, tangané dilêmpit kêdik ning pêpangkon.


Kula ngêbilas sios mangkok, nôli sios cèndok. Sêdantên kula damêl lambat, karna karsa ayun uning; ngêjantrêng kula mêndêt mirêng obrolan sêkaroné. 


“Ampura Abahyai, kula ngênda izin ayun ngalih mondok,” cépé Mang Bustomi kêliwat ètès, botên wèntên sêwijil timun acan kêpirêng gêtêr ing uni pêngucapé.


“Ning kéné baé. Bantôni Abah nguruk batur-baturira,” cépé Abahyai têtêg ajèr.


Mang Bustomi, santri 16 taun niku, kêliwat jlingêr, malah luwih jlingêr najan diadêpakên sèrèng santri-santri dawuk.
Mang Bustomi unggal dados badal lamun Abahyai wèntên hajat mêdal saking pondok. Botên sêmbrang-sêmbrang, cêcêpêngané Mang Bus niku Tafsîr al-Jalâlain. Unggal dèwèké ngêwiyak ilab tumêka ilab, nyurahé wong niku bèntès. Kitab tafsir al-Qur’an sing dipêdamêli Jalâluddîn al-Mahallî lan ditêrasakên sèrèng muridé, Jalâluddîn as-Suyûthî niku kados iqra dijabar-jèri piyambake sembari nèngglèngakên êndas lan nguyup kopi irêng.


Dados, munasabah Abahyai ngênda Mang Bus napik mêdal saking pondok.
Ngan malak-mandar, Mang Bus ngisungi jawab sing damêl ati ngêdêpêpês.


“Ampura...” dèwèkané narik ambêkan gêdé, “anggané dêdaharan, unggal dintên ning riki kula dahar tahu lan témpé. Sepisan-pisan kula karsa dahar daging ning liyan gênah.”


Sêmîngêb! Ngêjumbul kula mirêng niku omongan Mang Bus.


“Wantèn!” cépé kula ning jêro ati sêmbari
ngêrasa godong waru pada mandêg ambêkan lan angin cêp kinjêng ning pêpojok jogan. Rasané waktos kêliwat dawa lan têbih murugi liyan nasabé nasib kanggé bocah pondok sing luwih dawuk telung taun saking kula puniku.


“Lamun mêngkonon,” ngucap Abahyai, “lunganên!”


Mang Bustomi botên obah botên usik, têmungkul dèwèkané.


“Ngan ìngêtên,” cépé Abahyai malih, uniné luwih abot. “Ilmunira ora bakal bêrkah.”


“Nikutah sing naminé sêpata?” ngêdidisi kula maring sios omongan wong-wong sêngèn, sing cépéné lamun kênang sêpata, botên bakal sêlamêt uripé.


Pirang-pirang taun sêsampuné kêdadosan niku, Nadzi, rèncangan sêkamaré Mang Bus, botên wèntên udan botên wèntên angin, sanja ning griya kula. Sêdèrèngé Nadzi kêbujêng ngêjêjêgakên lêlungguh linggihé ning hambal, kula gèrèk nakèni kabar Mang Bus.


“Mang Bustomi saiki èdan. Ngamukan,” cépé Nadzi kêtingalan kêtuwon.


“Sêpata iku, sêkêcap mingkêm, ya, Zi?”


“Sêpata?”


Ingêtan ming Mang Bustomi mandêg ing pêmugasané pêrtakènan Nadzi, karna ing sor kobong baris kêtêlu saking ambing wètan, sios wayangan kados uwit cukul lan ngêgêdéni. Wayangan niku ngêrubuhakên sêsaka lan ngêgabrugakên gribig, kari-kari mata kula kêlilipan, wit niku ngêjinis dados bocah lanang sêsarungan sanglur ijo ngênggé kaos oblong putih lan kopyah irêng putur.


Ngêjumbul kula ayun mêlayu ngêlungani, ngan botên kuasa kados kênang oyod mingmang. Kadosé sampun têbih mêlayu kula, malah pêadêp-adêp kêlawan bocah niku.


“Sampun kula nyana, andika bakal rawuh,” cépéné, sêmbari mêlengos boten makul.


“Bakal rawuh?” têtakèn kula glagapên.


“Kêlalèn tah maring janjiné andika?” têtakèn bocah lanang niku.


Nindak sêtindak rongtindak dèwèkané, mȇdêki kula luwih pêdêk malih. “Kêlalèn?” taken bocah niku mindoni.


“Andika?” gȇgȇtun kula kȇpȇrusut tȇtaken karna wèntȇn sios tanda sing kula kȇnal. Niku bocah têlulas taun sing kêdahé sampun botên ning riki.


“Sampun tebih linggar andika? Sampun bungah ninggal kula piyambak ning riki?”


Kula kados kêtêlak ambêkan mirȇng omong bocah niku. Ringrang dadosé ningali mata lan alis sing sami irȇng lan marongé. Kula kêpundur rong tindak, kȇpundur malih tȇlung tindak. Langit plèas sanglur lan kêliré waktos angin kȇbȇk kêbul munggah saking lêmah anyȇb. Ningali kula maring langit ngilari dedalan kangge nuturi wayah, ngan kirangan sêniki subuh ijo, sipêng anta, atanapi magrib gȇdé. Kula botên bangkit ngêbêntênakên sing mêncorong niku sêrngéngé atanapi wulan.  


Bocah niku dèhèm kari-kari dèwèké dados
sêwu wayangan mawur ming angin dados sêwu kêlawa mabur ngidêri kula kados kêdung kali musêr. Pirang-pirang sêwîwi irêng ngêgulung kula ing sêpêlêbêté pusêran.


Kula dibakta mabur nêmbus saban-saban gênah sing kirangan napa naminé. Bot
ên wèntên kawitan sing bangkit ditutur lan botên wèntên pêmugasan sing bangkit dipurugi. Gênah-gênah niki mung liwat kados wayangan kabur ing sêpêlêbêt peningal. Lurung suwung cahya sing wau ngêrèncangi alon-alon ngiyêp, tumêka sing kari ngan bêrêrêt ngêwêngku kula.


Sewu kêlawa mabur nguculakên, kula piyambak mêlaku ning lêlurung waktus sios cahya ngêbêr saking sabêtan
sorban putih sing disampirakên ning pundak têngên sios lanang. Pundak niku nunduk lan matané nuju maring kitab sing kêwiyak ing pêpangkon. Pêngucapé kêlawan ngati-ati ngêlafadakên nadhom Alfiyah Ibnu Malik sing unggal kula aba waktos sêngèn ning pondok.


Bil jarri wat tanwini wan nida wa al

# wa musnadin lil ismi tamyizun hashal


Mântul uni nadzom niku ning lêlurung, ngêrambat maring saban-saban pênêjané ingêtan, ngêrangkul badan kula sing kêlawan gêgêdêr murugi.


Ngêjantrêng kula sêmbari lungguh waktos sampun ning adêpan wong lanang sing saking uwané mencorong cahya.


“Abahyai?”


Abahyai mésêm. “Bungah tâh urip sira, Mang?” têtakèn Abahyai nutup kitab noli nyawang maring kula kados nyawangé kurma atub maring Siti Maryam sing lagi mêtêng gêdé Nasi Isa.  


“Dunia sêjabané pondok iku kêrêng, ngarumas sing kuduné dikêduwèni sira.”


Pêngandikané Abahyai èmpêr kados gênah niki, botên jelas napa darat apa sêgara, botên ngêdêrêbèni watês tandês. Botên wèntên lawang, botên wèntên jêndêla. Kirangan unèn-unèn napa gêdabrusan, kirangan rawuh saking rêrungkad gunung atanapi ombak.  


Kula nunduk lan mêrêm, pira-pirang kula mirêng Abahyai tetakèn:

 
“Bungah tah urip sira, Mang?”


“Bungah tah urip sira, Mang?”


S
êwu kêlawa, sêwiwiné nêrungkub kula malih, mêlèk kula ngan Abahyai sampun botên wèntên ning gênah. Mabur sêwu kêlawa, mabur kula ing sêpêlêbêté. Layap-layap adzan kêpirêng waktos kilat lampu putih pucêt ngiyêp. Sewu kêlawa murag dados wayangan, noli ngêjinis dados bocah telulas taun.


Bocah niku ngadêg ajèr ning lêbah têngên ranjang kula.


“Mang, kula niki andika lan sêniki sampun wayah kanggé andika mantuk maring kula,” cépéné. “Têbih dêdalan sing Mamang lampahi botên damêl bungah.” 


Mêlèk mêrêm mata kula karna rai bocah niku wulah walih sèrèng rai Ibu. Pirang-pirang mêlèk mêrêm kula ningali, rupiné ênggih niku sêtuhuné Ibu, nguculakên tangané saking ngêrangkul badan kula sing ngêgojod ning ranjang rumah sakit. 


“Èdan tâh kula niki, Ibu?” têtakèn kula, ampir nyêrah. “Kula sampun pêgêl.”


Ibu gidêg bari mèsêm lan nyêcêpi banyu mili ning pojok sêkaro matané sing ngêdêliyêr.


“Kêlipun kulané, Bu?” tètakèn malih kula.


“Aja wêdi, sira ora kêlipèn-kêlipèn,” têgêsé pêngucap Ibu kêliwat ngimânakên.

 

Banten, 1439 Hijriyah

 

Monday, August 17, 2026

Karya Siswa | Puisi-Puisi Muhammad Radeska Sari

Puisi Muhammad Radeska Sari

 



Kehilangan

 

Tuhan

Di mana Engkau ketika aku kesusahan?

Apakah Engkau meninggalkanku?

Aku tersesat di hutan

Aku ketakutan menghadap kengerian

Apakah semua yang kuhadapi ini kenyataan?

Atau ilusi semata?


Tuhan

Tolong jemput aku ke jalan-Mu

Luruskan niatku

 

(Rokan Hulu 2026)

 


Perantara

 

Hari-hari berlalu dengan cepat

Tubuh hancur berkeping-keping

Tiada tempat untuk bersinggah

Hanya kepada-Mu aku berharap

Dengan perantara 5 tetes air

Yang turun dari langit suci

Semoga dengannya

Aku mendapat ketenangan yang abadi

 

(Rokan Hulu 2026)

 

 

Buah Perbuatan

 

Tuhan

bukuku basah diterjang banjir

Tulisannya basah tak terbaca

Tuhan kenapa di saat seperti ini

Kau tak ada di sini?

Bisikan angin berhembus

membawa pesan yang sunyi

 

(Rokan Hulu 2026)

 

 

Jadilah Manusia

 

Semakin lama hidup

Semakin terusir akal

Semakin lama hidup

Semakin didahulukan hasrat

Semakin tinggi pangkat

semakin besar rakusnya

Selayaknya hewan

Yang tak memiliki rasa puas

Banyak manusia yang ingin jadi hewan

Ia tak tahu hewan saja enggan jadi manusia

 

(Rokan Hulu 2026)

 

______


Penulis

Muhammad Radeska Sari kelas XI IPS 4 MA Basma Darul I’lmi Wassa’adah.


Kirim naskah ke

redaksi ngewiyak@gmail.com


Karya Siswa | Tetesan Menara Tua | Cerpen Anri Dzakkir

Cerpen Anri Dzakkir



Kilat memecah malam. Petir menggelegar. Ribuan tetes air jatuh. Dua sosok tergopoh-gopoh menyeret karung besar berisi mayat. Yang satu sambil membawa cangkul. “Ayo buruan, sebelum ada warga yang melihat kita,” ucap salah satu sosok. “Gimana kalau kita kubur di sumur tua ini saja?” Sahut sosok yang memegang cangkul.

“Jangan,” hujan terus menderu.

“Kita gali lobang baru saja. Buruan!”

Dua sosok itu pun menggali sebuah lubang bergantian di dekat sumur tua itu.

“Buruan masukin mayatnya, nanti keburu ada yang lihat,” ucap salah satu sosok setelah mereka selesai menggali lubang yang cukup dalam.

“Baik,” jawab sosok di sebelahnya seraya memasukkan karung berisikan mayat itu ke dalam lubang.

“Buruan timbun!”

“Oke.”

Setelah itu.

“Udah, ayo buruan kita pergi,” ajak salah satu sosok tatkala mereka selesai menimbun lubang itu.

“Ayok,” jawab sosok di sebelahnya.

Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada malam itu, namun tidak ada pula yang mengetahui bencana apa yang akan datang di kemudian hari kepada mereka. 

 * * *

Delapan belas tahun kemudian.

“Ma, yang benar aja dong. Masa kita pindah ke rumah kecil ini,” ucap seorang anak kecil yang berumur 11 tahun.

 “Mau gimana lagi Nak. Papa kan baru saja tertangkap KPK karena korupsi. Jadi cuma rumah kecil ini yang kita punya sekarang,” jawab sang mama.

 “Riko tahu Ma, tapi kenapa kita gak tetep tinggal di kota aja sih Ma?”

“Biaya hidup di kota mahal Riko. Sedangkan kita gak punya apa apa lagi. Semua aset kita sudah disita sama KPK,” jelas sang Ibu.

“Tapi kan....,” ucap Riko ingin membantah.

“Riko, kamu bisa gak sih paham sama keadaan kita sekarang. Kita sudah gak punya apa apa lagi,” potong sang kakak yang dari tadi hanya diam dan akhirnya tidak tahan dengan kelakuan adiknya.

“Benar apa yang dikatakan kakakmu itu Riko,” sambung mama.

Riko hanya diam. Di dalam hatinya ia sangat kesal kenapa semua ini harus terjadi kepada dirinya.

“Ya, sudah. Meningan kamu sekarang bantuin kak Clara masukin barang barang kita ke dalam,” ucap sang mama sembari menunjuk Clara yang mulai mengangkat barang barang ke dalam rumah.

 “Iya...,” jawab Riko dengan raut wajah yang sangat kesal.

Kemegahan cahaya matahari lenyap diterkam gelapnya malam. Setetes cahaya bulan yang redup dengan sinar yang samar perlahan-lahan muncul.

“Riko keluarlah dari kamarmu. Ayo kita makan malam,” panggil mama dari arah dapur.

“Iya ma,” jawab Riko malas sembari melangkah pelan menuju dapur.

Sesampai di meja makan.

“Makanan macam apa ni Ma? Riko gak sudi memakannya,” ucap Riko dengan meninggikan suaranya.

“Hanya ubi rebus ini yang bisa mama masak Nak. Mama belum sempat pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan. Lagi pula uang tabungan mama juga tinggal sedikit, jadi kita harus hemat,” jelas mama panjang lebar.

“Semua ini menyaebalkan,” teriak Riko kemudian berlari ke luar rumah.

“Riko, kamu mau ke mana?” panggil mama namun tidak dipedulikan Riko.

 “Riko mau ke mana Ma?”tanya Clara yang baru keluar dari kamarnya.

 “Dia marah karena mama cuma bisa memberinya makan ubi rebus ini,” jelas mama.

 “Dasar anak bandel itu,” ucap Clara.

 “Ayo, kita kejar dia Clara,” pinta mama khawatir.

 “Biar Clara aja yang mencari Riko. Mama tenang aja di rumah,” ucap Clara.

“Kamu yakin Clara? Desa ini berbeda dengan kota Nak,” jelas mama.

“Tenang aja Ma. Clara bisa kok,” jawab Clara meyakinkan.

“Ya, udah, tapi kamu hati hati ya, Nak!” pinta mama.

“Iya, Ma,” saut Clara sembari bergegas melangkahkan kaki ke luar rumah. Tanpa mereka sadari ada sebuah bayangan (makhluk halus) yang sedari tadi memantau keributan yang terjadi di rumah kecil itu.

* * *                                                                        

“Riko. Di mana kamu Riko,” teriak Clara terus memanggil manggil adiknya namun hasilnya tetap nihil. Dia tidak menemukan di mana keberadaan adiknya itu.

“Ke mana ya semua penduduk desa ini. Kok sepi kali sih,” gumamnya dalam hati dengan terus berjalan menelusuri gelapnya desa itu.

“Menara apa ini? Seram amat kelihatannya,” tatkala dia berdiri di bawah menara yang menjulang tinggi di tengah tengah desa itu. Menara itu seperti di selimuti oleh aura yang menyeramkan. Belum lagi lumut dan kerak banyak menempel di bagian dindingnya menambah ngerinya menara itu, membuat bulu kuduk berdiri. Tetiba dia mendengar suara tangisan anak kecil dari arah kegelapan di belakang menara itu.

“Siapa di sana. Riko apa itu kamu? ” ucapnya sembari berjalan perlahan ke arah sumber suara itu. Jantungnya berdetak cepat. Keringat dingin menjulur ke seluruh tubuhnya. Namun nihilnya dia tidak menemukan siapa siapa di sana.

“Perasaan tadi dari sini arah suaranya, ”gumam Clara . Udara malam itu sangat dingin. Clara merasa seperti ada yang memantaunya sedari tadi dari kejauhan kegelapan malam.

“Riko. Kamu di mana?” panggil Clara pelan, kakinya gemetar, kepalanya pusing dan keringat dingin. Jantungnya berdetak semakin kencang, dan tiba tiba dia melihat sosok tanpa kepala yang sangat menyeramkan berjalan pelan ke arahnya.

“Aaaaaa....”, teriak Clara lalu berlari sekencang kencangnya ke sembarang arah. Napasnya tersenggal senggal, keringatnya bercucuran. Saat dia berlari cukup jauh, dia berhenti dan menoleh ke belakang namun dia tidak mendapati suatu apapun di sana, dia melihat sekeliling suasana di tempat itu sangat sepi dan gelap, lalu,

“Siapa kamu?” ucap seseorang dengan suara yang sangat berat dari belakang Clara. Clara terkejut bukan main karena kakek tua tiba tiba sudah berdiri di belakangnya.

“Saya Clara Kek. Keluarga kami baru pindah ke desa ini,” jelas Clara dengan gemetar.

“Kenapa kamu berada di luar malam malam begini Nak?” tanya kakek tua mengintrogasi.

“Aku sedang mencari adikku Kek. Saat ini berada di dekat menara. Aku mendengar suara tangisan anak kecil dan tiba tiba ada sosok anak kecil tanpa kepala berjalan pelan ke arahku. Aku panik dan langsung berlari ke sembarang arah,” jelas Clara susah payah.

“Gawat, ayo kita ke sana,” ucap kakek itu terlihat panik dan langsung berlari ke arah menara diikuti Clara.

“Di mana kamu melihat sosok itu?” tanya kakek tua saat mereka telah berada tepat di bawah menara tua itu.

“Di sana kek,” ucap Clara menunjuk tempat berdirinya sosok tadi. Kakek itu diam. Sampai satu tetes cairan amis berwarna merah segar jatuh tepat mengenai kening Clara. Dia mendongakkan kepalanya ke atas lalu mendapati kepala Riko yang sudah terpenggal di ujung menara.

“Riko, ” teriak Clara histeris. Kakinya gemetar lemas tak sanggup menahan tubuhnya. Akhirnya dia jatuh ke tanah sampai tak sadadarkan diri. Lalu terdengar teriakan mama yang datang dengan berberapa warga.

“Riko, anakkuuuu....,” teriak mama histeris lalu jatuh ke tanah sepeti Clara. Semua orang diam, sampai salah satu warga ada yang berkata,

“Kakek Yan, sumurnya,” ucap salah satu warga mengingatkan.

“Ayo kita ke sana,” ucap sang kakek yang langsung berlari ke tempat sumur tua yang berada di pinggir desa.  Sumur tua itu mengeluarkan bau yang sangat amis dari dalamnya. Airnya telah berubah jadi darah, terlihat tubuh Riko mengambang di dalam sumur itu dengan kepala yang telah terpenggal.

“Ucup, keluarkan mayat Riko dari dalam sumur itu!” perintah Kek Yan. Mama dan Clara yang sudah sadar semakin histeris melihatnya.

“Riko, jangan tinggalin mama Nak!” teriak mama histeris.

“Apa yang sebenarnya terjadi Kek,” tanya Clara masih menangis.

Kakek itu bercerita. Dulu sumur ini adalah sumber kehidupan warga di desa ini, sampai pada akhirnya ada dua orang dari kota datang dan membangun menara itu. Mereka melakukan perjanjian bersama iblis untuk mengokohkan  menara itu. Namun dengan sarat satu kepala anak kecil di tanamkan di pondasinya, mereka menculik salah seorang anak sebatangkara yang hidup di desa ini, mereka memenggal kepala anak itu dan menanamkannya di pondasi menara itu, dan mengubur badannya di dekat sumur ini, sampai pada akhirnya setelah satu bulan menara itu selesai dibangun, anak-anak  desa ini mulai menghilang kalau mereka keluar pada malam hari karena dendam yang dimiliki setan menara itu terus mencari cari korban lain. Setelah anak-anak itu ditemukan, nasibnya sama, mati mengenaskan. Sejak saat itu, ada aturan wajib di kampung ini jika ingin selamat. Anak anak tidak di perbolehkan keluar pada malam hari. Dua pria yang membangun menara itu telah mati mengerikan  di ujung menara itu. Dendam yang membara akan menerkam apa saja yang ada di hadapannya, sehingga sulit untuk memadamkannya. Kegelapan yang penuh misteri akan merangkul semua dendam untuk mencapai semua tujuannya.

 

_______

Penulis

Anri Dzakkir, santri MA Basma Darul’Ilmi Wassa’adah. Saat ini duduk di kelas XI IPS 3.


Kirim naskah ke 

redaksi ngewiyak@gmail.com