View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Monday, February 16, 2026

Karya Siswa | Buah Mangga Pak Selamet | Cerpen Firqo Aqila Nur

Cerpen Firqo Aqila Nur



Hembusan semilir angin menerpa kulit seorang anak perempuan yang tengah duduk sendirian di sebuah gubuk kecil di tengah sawah. Ia sedang menikmati pemandangan laut yang terlihat meski jaraknya amat jauh, karena daerah tempat tinggalnya berada di puncak dan dekat dengan laut.


Di tengah lamunannya, tiba-tiba seseorang dari kejauhan memanggil namanya. Sejenak ia terkejut, lalu mencari sumber suara yang ternyata berasal dari arah seberang sawah.


“Rumy!” panggil orang itu sambil melambai-lambaikan tangannya. “Ayo ke sini dulu, aku mau nunjukin sesuatu sama kamu,” lanjutnya.


Anak perempuan yang dipanggil Rumy itu pun segera bangkit dari duduknya, kemudian bergegas menghampiri.


“Ada apa sih, La? Mau nunjukin apa?” tanya Rumy dengan raut wajah penasaran.


Lula, yang merupakan teman dekat Rumy, kemudian menggenggam tangan Rumy. “Ayo, ikut aku!” Ia pun mengajak Rumy ke suatu tempat.


Ternyata tujuan mereka menuju sungai. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sana, karena jarak antara sungai dan sawah memang tidak terlalu jauh. Ketika sampai, mereka berdiri di pinggiran sungai. Rumy yang semakin dibuat penasaran itu kembali bertanya.


“Kita mau ngapain sih ke sungai?” tanyanya. Rumy paling tidak bisa dibuat penasaran seperti ini.


Lula segera mengarahkan tangannya, menunjuk sesuatu. Rupanya, dari arah seberang sungai ada seorang anak laki-laki bersama beberapa temannya yang sedang menangkap ikan.


“Kamu lihat nggak? Kayaknya Danu and the gang lagi nangkep ikan! Mana mereka dapetnya besar-besar lagi,” terangnya dengan mata berbinar.


Danu merupakan anak tetangga sebelah rumahnya. Mereka cukup akrab untuk dibilang teman, karena satu sekolah dan kebetulan berada di kelas yang sama dengan Rumy dan Lula.


Dahi Rumy berkerut heran. “Iya, aku lihat kok. Terus kenapa?”


Lula mengeluarkan smirk-nya, lalu memberi ide licik. “Gimana kalau kita ambil aja ikan tangkapan mereka?” Ia melirik Rumy.


Rumy yang mendengar ide licik temannya itu hanya bisa menghela napas lelah, lelah menghadapi tingkah ajaib temannya satu ini.


“Kamu ini ya, La, nggak ada kapok-kapoknya. Kamu nggak inget? Kemarin kamu habis dimarahi Ibu kamu gara-gara ngambil buah mangga Pak Selamet. Padahal kamu bisa aja minta izin dulu, daripada ngambil diam-diam terus ketahuan pemiliknya,” jelas Rumy dengan nada sedikit jengkel.


Lula melengkungkan bibirnya sambil menarik-narik tangan Rumy.


“Tapi, Rum, mereka duluan kok yang mulai. Aku cuma mau balas dendam aja ke mereka, terutama sama si Danu itu!” terang Lula dengan bersungut.


“Emangnya kamu ada masalah apa sama Danu?” tanya Rumy.


“Asal kamu tahu ya, kemarin si Danu sama geng abal-abalnya itu juga ngambil buah mangganya Pak Selamet,” jawab Lula dengan raut wajah menahan kesal.


Rumy sedikit terkejut, meski sebenarnya ia tidak terlalu heran dengan tabiat nakal tetangga mereka itu.


Rumah Danu berada di barisan kedua dari samping kanan rumah Rumy, sedangkan rumah Lula berhadapan dengan rumahnya.


“Waktu itu, pas aku lewat rumah Pak Selamet, aku lihat mangganya udah pada mateng. Karena ngerasa sayang kalau nggak dipetik, takut busuk di pohon, akhirnya aku berniat mau ngambil diam-diam. Kamu tahu sendiri kan kalau Pak Selamet itu galak, jadi aku nggak berani minta izin. Tapi pas tahu kalau ternyata beliau lagi ada di rumah, akhirnya aku urungin niatnya,” terang Lula mulai menceritakan kejadian sebenarnya saat dirinya dituduh mencuri buah mangga milik Pak Selamet.


“Tiba-tiba aku lihat Danu and the gang udah ada di atas pohon sambil metikin mangga. Terus si Danu lihat aku berdiri di bawah pohon sambil ngeliatin mereka. Karena dia takut aku ngelaporin ke Pak Selamet, akhirnya dia ngajak aku kerja sama. Mereka bagian metik, aku bagian masukin ke karung yang udah mereka siapin di bawah. Aku yang emang niatnya mau ngambil jadi ngeiyain aja, karena kupikir kan nggak sendirian dan nggak perlu capek-capek manjat,” jelas Lula.


“Tapi pas buahnya udah kekumpul banyak di karung, tiba-tiba Pak Selamet keluar rumah dan ngelihat aku lagi pegang karung yang isinya buah mangga beliau. Sedangkan si Danu sama gengnya udah lompat dari pohon dan kabur ninggalin aku,” lanjut Lula dengan kesal.


“Nyebelin banget! Pokoknya aku masih nggak terima! Masa aku doang yang jadi tersangka? Harusnya mereka yang jadi tersangka utama. Aku kan cuma ikut-ikutan aja.”


Rumy tertawa kecil mendengar cerita Lula. “La… La… lagian kamu mau-mau aja sih jadi umpan,” kekehnya, yang langsung mendapat lirikan tajam dari Lula. “Udah deh, mending kamu insaf. Udah tahu bahaya, bukannya dihindarin malah disamperin.”


Lula mendengus malas. “Daripada kamu ceramah mulu, mending kamu bantuin teman kamu ini dalam misi balas dendam.”


Rumy bersedekap. “Kamu mau aku bantuin niat buruk kamu itu?” Ia menggelengkan kepala, lalu meraih pundak Lula. “La, udah deh, buang jauh-jauh pikiran itu. Meskipun aku tahu mereka salah, balas dendam itu nggak baik.”


Lula mendengus pelan.


“Ya sudah! Kalau kamu nggak mau bantu, nggak apa-apa kok. Aku bisa lakuin sendiri!” jawabnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Rumy.


Rumy hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Terlihat Lula mulai melancarkan aksi balas dendamnya. Saat para anak laki-laki itu sedang fokus menjaring ikan, Lula mengendap-endap mendekati ember berisi ikan hasil tangkapan Danu and the gang.


Ember ikan berhasil ia dapatkan. Sambil menyamarkan wajahnya dengan kain, Lula hampir saja kabur sampai terdengar teriakan lantang.


“Hey! Siapa kamu? Ikan kami mau dibawa ke mana!” teriak Danu.


“Kayaknya dia mau bawa kabur ikan-ikan kita deh, Nu,” sahut salah satu temannya.


“Ayo, teman-teman, kita kejar! Jangan biarkan dia lolos!” seru Danu.


Mereka pun berlari beramai-ramai mengejar Lula. Lula yang kalang kabut mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari sekencang mungkin meski membawa ember yang lumayan berat.


Rumy yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa tepuk jidat, lalu ikut berlari menyusul Lula.


Karena kehabisan tenaga, Lula akhirnya bersembunyi di balik tembok sebuah rumah yang halaman depannya dihiasi pohon mangga. Ia merasa tidak asing dengan rumah itu, tetapi tidak mengambil pusing. Yang penting dirinya aman.


Tiba-tiba seseorang meraih pundaknya dari belakang. Lula hampir berteriak kalau saja tidak langsung dibekap. Ternyata Rumy.


“Rumy! Astaga, aku kira siapa! Kamu buat aku jantungan!” keluh Lula.


Rumy menahan tawa. “Habisnya kamu bandel sih.”


Ia melirik ember ikan. “Lumayan banyak juga ya tangkapan mereka. Terus, kamu beneran mau bawa ikan-ikan itu?”


“Ya iya dong, Rum. Udah capek lari setengah mati gini, masa dibalikin? Nggak fair.”


“Terus kalau ketangkep gimana—”


“Kena kalian… Loh? Lula! Rumy! Ternyata yang ngambil kalian berdua?” sahut Danu yang tiba-tiba muncul dari atas pagar.


Tanpa banyak basa-basi, Danu melompat turun. “Apa alasan kalian ngambil ikan tangkapan kita?”


“Maaf, Nu, tapi aku nggak ikut-ikutan. Aku cuma ngikutin Lula lari,” jelas Rumy.


“Kamu, La. Apa alasan kamu nyuri ikan-ikan itu? Kamu kan bisa bilang kalau mau. Aku nggak sepelit itu kok,” ujar Danu.


Lula memutar bola matanya. “Kamu masih nanya? Setelah kejadian kemarin? Kamu pikir aku bakal diam aja?”


Danu menggaruk kepala sambil menyengir. “Hehehe… maaf ya, La. Kita kaget waktu itu, jadi langsung kabur tanpa inget ada kamu.”


“Pokoknya kalian harus jelasin ke Pak Selamet kalau kalian yang metikin buahnya!”


Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Pak Selamet keluar karena merasa terganggu dengan keributan mereka.


“Kalian ini kenapa bertengkar di rumah saya siang bolong begini? Mengganggu orang tidur saja.”


Lula terkejut. Ternyata ini rumah Pak Selamet.


“Kamu yang kemarin ngambil buah saya, kan?” tanya Pak Selamet.


“Kejadiannya nggak kayak gitu, Pak,” jawab Lula, lalu memberi kode pada Danu.


Danu pun menjelaskan kejadian sebenarnya dan mengakui kesalahan mereka.


“Sebenarnya saya marah bukan karena kalian mengambil mangga saya. Tapi karena kalian memilih mencuri daripada meminta izin,” ujar Pak Selamet. “Lain kali kalau mau ambil, silakan izin dulu. Mencuri itu perbuatan tidak baik. Mengerti?”


“Iya, Pak. Kami paham dan tidak akan mengulangi lagi,” jawab Danu.


Setelah itu mereka pamit. Lula dan Danu akhirnya berbaikan. Sebagai tanda perdamaian, Danu and the gang mengajak Lula dan Rumy untuk bakar-bakar ikan hasil tangkapan mereka.


Sejak hari itu, Rumy, Lula, dan Danu and the gang mulai berteman baik. Mereka semakin akrab dan sering bermain bersama.


________


Penulis

Firqo Aqila Nur, siswa kelas XII TKJ SMK Muhammadiyah Pontang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Berita | Ngondhuh Berkah, Ngerandu Poasa’an: Lesbumi PCNU Jember Mendaras Warisan Ulama NU Timur Jawa


NGEWIYAK.com, JEMBER – 16 Februari 2026. Memasuki usia satu abad pada tahun 2026, Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya merayakan perjalanan panjang organisasi, tetapi juga merefleksikan kontribusinya terhadap bangsa dan agama. Dalam semangat tersebut, Lesbumi PCNU) Jember bersama dengan PTIQ Nurul Quran Sukogidri-Ledokombo, NHP Film, dan Sanggar Umah Wetan menggelar acara bertajuk "Ngondhuh Berkah, Ngerandu Poasa’an". Acara yang berlangsung di Aula PTIQ Nurul Quran ini merupakan perpaduan antara seni, budaya, dan spiritualitas yang diharapkan dapat menarik partisipasi luas dari masyarakat.


Tema "Ngondhuh Berkah, Ngerandu Poasa’an" dipilih dengan cermat untuk menggambarkan esensi dari peringatan satu abad NU. "Ngondhuh Berkah" berarti mencari berkah dari Allah SWT melalui berbagai amalan, sementara "Ngerandu Poasa’an" mengajak untuk merenungkan makna puasa sebagai latihan spiritual. "Kami ingin acara ini tidak hanya seremonial, tetapi juga memberikan manfaat spiritual dan intelektual bagi semua yang hadir, kita harus meneladani Rasulullah melalu ajaran para ulama, seperti KHR As’ad Syamsul Arifin dan KH Ahmad Shiddiq yang kita diskusikan mala mini”, ujar KH. Dr. Muhammad Izzuddin, M.Hi. Beliau adalah Pengasuh PTIQ Nurul Quran Ledokombo


Rangkaian acara dimulai dengan lantunan Shalawat Al Wasilah PTIQ Nurul Quran Ledokombo, Mamaca Sang Duta, Babad Satus Taun NU karya Cak Sid dari Sanggar Umah Wetan, kemudian dilanjutkan oleh seaman puisi oleh penyair nasional Muhammad Lefand dari Lesbumi Jember. Puncak acara adalah pemutaran film dokumenter "KH. Achmad Shiddiq: Islam dan Pancasila" yang diproduksi oleh NHP Film. Yusrizal NH dari NHP Film menjelaskan, "Film ini dibuat untuk mengenang jasa-jasa KH. Achmad Shiddiq dalam merumuskan konsep Islam Nusantara yang moderat. Kami berharap penonton dapat mengambil hikmah dari perjuangan beliau, terutama dalam konteks kebangsaan saat ini yang kerap diuji dengan isu-isu intoleransi."


Dalam ulasannya Prof. Dr. Akhmad Taufiq, M.Pd. menyampaikan apresiasi dan masukan terhadap narasi sejarah yang perlu diperhatika secara cermat. “Film ini menarasikan pemikiran dan peran Kiai Ahmad Shiddiq tentang dialektika hubungan antara Islam dan Pancasila, yang menjadi dasar bagi NKRI, untuk diketahui oleh kita semua bahwa perjalanan NU dan bangsa ini tidak lepas dari diskursus yang pelik tapi produktif”, jelasnya.


Acara yang terbuka untuk umum tersebut dihadiri oleh ratusan santri, dewan guru/ustadz, seniman, aktivis, dan masyarakat umum. “Selain sebagai bagian dari peringatan satu abad NU, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan antarumat beragama dan sesama anak bangsa”, ujar Siswanto Ketua Lesbumi Jember.


(Redaksi)


Sunday, February 15, 2026

Berita | Tarhib Ramadan 1447 H, Muhammadiyah Pontang Siap Berbenah


NGEWIYAK.com, KAB. SERANG -- Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pontang menggelar Pengajian Umum Tarhib Ramadan 1447 H/2026 M pada Sabtu, 15 Februari 2026, di Lapangan Masjid Darul Arqam, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pontang. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Gema Syiar Ramadan 1447 H bertema “Bersama Ramadan Mengukir Kebaikan, Menggapai Keberkahan.”


Sejak pagi, lapangan masjid dipadati warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar. Spanduk besar bertuliskan tema kegiatan terpasang di sisi panggung, menguatkan pesan bahwa Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum pembaruan diri.


Ketua PCM Pontang, Amrullah Aftah, S.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan harapan agar tema yang diusung benar-benar terwujud dalam gerakan nyata. Ia menegaskan bahwa ikhtiar yang dilakukan AMM merupakan upaya kolektif untuk membangkitkan kesadaran spiritual menjelang datangnya bulan suci.


“Ini yang bisa kami ikhtiarkan. Semoga semua yang kita lakukan di sini bernilai pahala. Gema syiar ini untuk menggugah spiritualitas kita, karena sebentar lagi kita memasuki bulan penuh keberkahan,” ujarnya.


Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Serang, Mabrur Ams, S.Ag., menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ia mengingatkan pentingnya kesiapan mental, spiritual, dan keilmuan dalam menyambut Ramadan. Ia juga mengajak seluruh warga persyarikatan untuk mengikuti keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait awal Ramadan yang telah ditetapkan, yakni pada 18 Februari 2026.


Puncak acara diisi tausiyah oleh dr. K.H. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam ceramahnya, mengangkat tema dari panitia kegiatan: “Ramadan: Momentum Perubahan Diri Menuju Pribadi Bertakwa.”



dr. K.H. Agus menegaskan bahwa dalam Muhammadiyah, niat berjuang harus dilandasi keikhlasan karena Allah, bukan kepentingan duniawi. Ia juga mendorong PCM Pontang untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas gerakan agar mampu menjadi cabang unggulan di tingkat nasional.


Menurutnya, Ramadan adalah ruang latihan total selama 24 jam. Seluruh aktivitas bernilai ibadah ketika diniatkan dengan benar. Ia mengingatkan bahwa semangat beribadah di bulan suci seharusnya menjadi standar moral di bulan-bulan berikutnya.


Mengutip pandangan Quraish Shihab, ia menjelaskan bahwa kata Ramadan mengandung makna “mengasah” dan “membakar.” Ketakwaan diasah melalui disiplin ibadah, sementara dosa-dosa dibakar melalui taubat dan pengendalian diri.


Selain perspektif keagamaan, ia juga memaparkan manfaat puasa dari sisi medis. Dengan gaya komunikatif dan sesekali humor yang mengundang senyum jamaah, ia menjelaskan bagaimana puasa berkontribusi pada detoksifikasi tubuh, pengaturan metabolisme, serta penguatan kesehatan mental.


Kegiatan ini turut dihadiri oleh para tokoh dari unsur PCM dan PCA Pontang-Tirtayasa, PDM Serang, AMM Pontang, PWM Banten, serta Lurah Desa Singarajan Hj. Ulfah. Kehadiran para tokoh tersebut memperlihatkan sinergi antara unsur persyarikatan dan pemerintahan setempat dalam membangun kehidupan religius masyarakat.


Pengajian Tarhib Ramadan ini menjadi penanda bahwa Ramadan tidak disambut dengan euforia semata, tetapi dengan kesadaran dan persiapan matang. Di Pontang, gema syiar itu bukan hanya terdengar dari pengeras suara, melainkan dari tekad bersama untuk menjadikan Ramadan sebagai titik tolak perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa.


(Red/Encep)


Saturday, February 14, 2026

Resensi Kabut | Pelajaran di Halaman

Oleh Kabut




Berbahagialah keluarga yang tinggal di rumah dengan memiliki lahan di depan, samping, dan belakang. Ada yang menyebut halaman atau pekarangan. Maka, rumah itu memenuhi beberapa kaidah sehat, indah, dan sejuk. Mengapa rumah itu selalu diimajinasikan berada di desa? Konon, lahan di desa masih luas. Gagasan tanah dan rumah masih mengikuti petunjuk-petunjuk leluhur, berbeda dengan nalar di kota. Konon, rumah-rumah di kota telah meninggalkan ajaran lama. Akibatnya, banyak rumah tanpa pekarangan.

Di desa, kebun-kebun kosong pun masih ada, yang membuat suasana kehidupan mengesankan hijau dan tenteram. Maka, rumah-rumah berpekarangan mengartikan anugerah tanaman atau pohon. Rumah memiliki pengertian yang “bertumbuh”. Yang menghuni memiliki kaitan-kaitan dekat dengan alam, tak sekadar tanaman atau pohon. Di situ, ada pula beragam binatang. 

Yang sedang kita pikirkan adalah rumah, belum masalah arsitekturnya. Cerita yang dibaca berjudul Mengatur Taman, bukan Mengatur Pekarangan atau Mengatur Halaman. Apakah itu cerita? Kita yang membaca judul dapat tersesat menganggapnya makalah atau buku berisi petunjuk-petunjuk. Yang jelek adalah pilihan kata: “mengatur”. Dulu, rezim Orde Baru mencipta tata kehidupan sering menggunakan istilah: aturan, peraturan, mengatur, dan lain-lain. Jadi, pembuatan judul adalah “kesalahan” yang sulit dimaafkan oleh para pembaca.

Penulis cerita bernama Nilasartika. Yang menerbitkan adalah Cypress, Jakarta, 1985. Yang membuat gambar-gambar bernama Ipe Maaruf. Ingat, yang kita baca adalah cerita. Anak-anak yang membacanya mudah menyelesaikan. Cerita yang singkat, cuma 39 halaman. Artinya, tidak semua halaman berisi kata-kata. Beberapa halaman, dipasang gambar-gambar yang besar. Pada suatu masa, buku menjadi koleksi di perpustakaan yang berada di Solo. Buku yang hanya menghuni sebentar, berlanjut menjadi barang rongsokan dan dagangan di pasar buku bekas. Namun, kita yang membaca masih berhak memberinya arti meski tidak terlalu penting bagi Indonesia abad XXI, yang sedang mendapat beragam perintah dari rezim Prabowo-Gibran.

Pada mulanya, pembaca ikut merasakan yang dialami tokoh bernama Ina. Pulang dari sekolah saat siang. Sewajarnya sinar matahari terasa panas. Ina pulang berjalan kaki. Yang ditulis pengarang: “Peluhnya mengalir. Baju seragamnya basah.” Matahari memberi kesan panas. Apakah di pinggir jalan tidak ada pohon-pohon seperti kekhasan desa? Pengarang mungkin lupa dalam meyakinkan pembaca mengenai latar tempat. 

Ina pulang sendirian. Pembaca tidak usah mencari-cari kalimat bahwa Ina mengobrol bersama teman-teman. Yang suka menuntut boleh menanyakan: “Sekolah seperti apa?” Kita biasanya mengetahui anak-anak SD yang pulang sekolah berbarengan jalan kaki atau naik sepeda onthel. Di cerita, SD itu pasti istimewa, yang muridnya sangat sedikit. Namun, kitab oleh menduga pengarang tidak mau bertambah repot bila memiliki banyak tokoh dalam cerita.

Di jalan, Ina melamun. Jalan itu tidak dilewati mobil, truk, atau bis. Yang diceritakan adalah suasana di desa. Maka, kita membayangkan jalan desa yang belum dihajar modernisasi. Jalan itu sepi. Ina bisa melamun tandanya ia tidak menjadi gangguan bagi pengguna jalan yang lain. Pembaca mendingan berimajinasi bahwa selama berjalan, Ina tidak bertemu siapa-siapa, termasuk teman atau tetangga.

Pengarang bercerita: “Ia teringat sudut halaman rumahnya yang sejuk. Tempat ia bermain bersama bonekanya. Ia selalu bermain di bawah pohon ceri. Pohon itu tumbuh rimbuh di sudut halaman rumah.” Lamunan yang indah saat Ina merasakan panas matahari. Yang sejuk cuma di halaman rumahnya? Jalan yang dilaluinya tidak sejuk. Sekali lagi, pembaca jangan suka menyalah-nyalahkan pengarang. Yang sering menyalahkan dan mengejek berdampak sulitnya kemajuan dalam kesusastraan anak di Indonesia.

Sampai di depan rumah, Ina terkejut, tidak melamun lagi. Mengapa? Yang dilihatnya adalah Pak Amat menebas pohon ceri. Padahal, adegan sebelumnya adalah Ina ingin cepat sampai rumah dan bermain sekaligus berteduh di bawah pohon ceri. Pengarang sengaja ingin menciptakan “tiba-tiba”. Pembaca mengira Ina sedih dan timbul konflik.

Cerita yang ditulis justru menolak konflik-konflik. Ibunya berhasil memberi keterangan, yang mudah dimengerti. Ibu yang berpengetahuan dan sabar: “Ina, pohon ceri itu tumbuh makin lama makin besar. Akarnya akan membahayakan rumah kita.” Ina mendengarkan, tergoda bertanya. Ina masih murid SD, boleh bertanya macam-macam: “Mengapa, Ibu? Bukankah rumah kita akan bertambah teduh seperti rumah nenek?” Ia mendapatkan pengalaman, yang digunakan dalam membuat pertanyaan.

Ibu tidak kehabisan kata-kata. Ibu pun tampil seperti guru: “Tapi kau ingat, ubin rumah nenek retak-retak oleh akar pohon ceri. Jika pohon itu dibiarkan bertambah besar, akarnya akan membongkar rumah kita. Lagi pula daun-daunnya yang kering selalu mengotori halaman. Halaman muka rumah kita sempit. Ibu ingin mengatur halaman itu menjadi taman bunga yang indah dan mungil.” Pembaca yang usil menuduh tokoh ibu dalam cerita tergabung dalam Dharma Wanita atau PKK, yang memiliki misi mulia bertema pekarangan atau taman di lingkungan rumah.

Ibu bercerita secara jelas dan apik mengenai beragam tanaman di taman: cabai, terung, tomat, kacang, dan bumbu-bumbuan. Ada pula pohon pepaya. Keuntungan: “Pohon pepaya itu dapat dipetik hasilnya jika telah berbuah. Sekarang pohon itu sedang berbunga. Pucuk daunnya yang muda dapat dimakan untuk lalap.” Ibu yang bertanggung jawab dalam mengurusi rumah dan merawat pengetahuan. Ina sangat beruntung memiliki ibu yang cerdas sekaligus bijak.

Ina berusaha mengerti tapi sedikit kecewa: “Aku tak akan mendengar lagi kicau burung ketilang dan pipit di pohon ceri.” Jawaban tetap ada berdasarkan fakta dan pengalaman. Kecewa itu ditumpas: “Burung-burung itu akan pindah  ke pohon jambu di muka jendela kamarmu, Ina. Burung-burung itu akan menikmati buah salam yang masak di belakang rumah kita. Sebentar lagi, pohon mangga kita berbuah.” Pembaca sangat penasaran dengan rumah dan lingkungannya. Rumah itu “impian” bagi orang-orang yang hidup di Kawasan permukiman padat di pelbagai kota.

Percakapan itu mengingatkan Ina dengan pelajaran IPA di sekolah. Di rumah, ia tetap saja kepikiran pelajaran. Ina terduga murid yang pintar, santun, dan patriotik. Di rumah, ibunya adalah guru, selain bapak dan tetangga yang diminta membantu mengurus halaman. Ina tidak melulu berhadapan buku pelajaran.
Pada saat mengurus taman, yang digunakan adalah pupuk kendang, bukan pupuk yang dibuat di pabrik. Pupuk itu mendapat penjelasan, yang membuat Ina bertambah pintar. Jadi, Ina mendapat pelajaran banyak: tanaman, binatang, pupuk, dan lain-lain. 

Apakah pembaca harus kagum dengan pengetahuan ibu? Kita membaca yang disampaikan pengarang: “Bangsa kita memiliki pertanian yang sangat luas. Ibu kira ternak di negara kita tidak cukup banyak untuk menghasilkan pupuk kendang bagi tanah pertanian kita yang luas di negeri ini. Oleh sebab itu pemerintah mendirikan pabrik Pusri (Pupuk Sriwijaya). Kau tahu, Ina, di mana letak pabrik itu?” Akhirnya, kesempurnaan terjadi: Ina teringat pelajaran IPS. Ina berhasil menjawab: “Di Palembang.” Jawaban diperoleh dari buku pelajaran. 

Kita membuktikan bahwa buku cerita itu bergelimang pelajaran. Beruntunglah anak-anak yang membaca buku cerita. Mereka sebenarnya sedang membaca buku pelajaran yang menyamar.

_______

Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Monday, February 9, 2026

Karya Siswa | Puisi Azreen Faeyza Khaireen Nisa

Puisi Azreen Faeyza Khaireen Nisa



Titik Nol


Hampa

Seakan tak ada makna

Tak kunjung menemukannya

Kosong


Aku tertawa walau tak bersuka

Aku marah walau tak terbakar

Semua perasaan itu sepi  

Seperti hati


Akankah aku menemukan jawaban?

Akankah aku menemukan jalan?


Teman, keluarga

Semua itu kosong

Seperti bayang yang tak mempunyai rupa

Seperti tamparan yang tak terasa sakit 


Hampa yang mendalam, tak terobati

Semua terasa sunyi 

Semua nihil

Tuhan, pantaskah aku menemukannya?


Film Sandiwara

Film kita berakhir di tikungan jalan

Panggungku kosong setelah pertunjukan


Awan putihku lenyap di langit mendung

Kita hanyalah hujan yang salah musim

Datang lalu membanjiri kenangan


Sungai terus mengalir membawa ingatan tentangmu

Musim hujan berlalu

Namun kenangan tetap membasuh


Kau hanya angin yang mendorong layarku

Anginmu seperti angin malam

Dingin


Air mataku seperti hujan yang lupa cara berhenti

Kini kusadari kau hanyalah pelajaran

Bukan tujuan akhir dalam perjalananku


______


Penulis


Azreen Faeyza Khaireennisa dilahirkan di Serang, 7 Januari 2014. Saat ini duduk di kelas 6 Ibnu Sina SD El Fatih yang beralamat di Kompleks Permata Banjar Sari Asri, Cipocok Jaya, Kota Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, February 8, 2026

Resensi Kabut | Sakti dan Garam

Resensi Kabut


Cerita anak kadang dituntut turut menebar sains. Namun, tuntutan itu berlebihan bila kita menilik persembahan cerita anak di Indonesia, dari masa ke masa. Yang membuat cerita anak jarang berkepentingan mengajak anak-anak (pembaca) memasuki pengalaman, petualangan, atau pendalaman sains. Cerita-cerita disuguhkan untuk memberi ajaran-ajaran moral ketimbang memicu imajinasi mengarah sains.

Apakah berlimpahnya cerita anak di Indonesia menampilkan pengabaian atas ilmu (pengetahuan), yang berkaitan beragam mata pelajaran di sekolah? Kita belum wajib ikut menjawab. Yang dipelajari anak-anak di sekolah sering menjemukan dan “permukaan”. Wajarlah anak-anak yang belajar tidak ingin meraih pengetahuan-pengetahuan melebihi yang tercantum di puluhan buku pelajaran. Mereka cukup berbekal buku pelajaran agar dianggap berilmu. 

Anak-anak yang mau menikmati waktu senggang atau melawan kebosanan dengan membaca cerita anak tidak diharuskan menemukan asupan-asupan agar bergaiah dalam memikirkan sains. Cerita, yang sejatinya adalah khayal atau berpijak imajinasi, telanjur dianggap sumber hiburan atau mencari ajaran-ajaran moral.

Di Indonesia, pembakuan cerita anak yang digunakan mengajarkan kebaikan, kesantunan, kerukunan, keadilan, dan lain-lain sudah “membebani” para pembacanya. Artinya, membaca cerita anak seperti mengikuti penyuluhan atau “pembinaan”. Yang rajin membaca cerita anak semestinya menjadi panutan dalam usaha menjadi manusia yang “utama”. Dampak “cerdas” atau “melek pengetahuan” belum dijanjikan dalam perayaan cerita anak di Indonesia, dari masa ke masa. Beberapa orang malah menyatakan bahwa anak-anak yang pingtar bukanlah anak-anak yang gandrung bacaan fiksi. Mereka adalah penegak keampuhan buku-buku pelajaran.

Pada abad XXI, kita mulai mengetahui terjadi pergeseran selesai dalam perkembangan bacaan anak. Penerjemahan cerita-cerita anak dari pelbagai negara ikut berpengaruh dalam mengagungkan sains. Maksudnya, cerita-cerita yang dibaca mengarahkan anak menekuni botani, astronomi, fisika, matematika, dan lain-lain. Cerita anak bukan “pengganti” buku pelajaran tapi referensi dalam selebrasi imajinasi yang tidak melulu moral.

Mengapa yang terkandung dalam pelbagai cerita anak asal negara-negara asing memikat anak-anak di Indonesia? Yang bikin iri adalah cerita-cerita itu sulit tersaingi oleh gubahan para pengarang Indonesia. Akhirnya, bermunculan cerita mengandung sains, yang ditulis oleh pengarang Indonesia dengan pertimbangan dibaca anak-anak Indonesia. Maka, yang diperlukan adalah patokan yang tidak mengikuti gejolak sastra anak dan sains di dunia.

Kita belum mampu membuat amatan yang serius mengenai sastra anak Indonesia abad XXI, yang gelagatnya sudah memuliakan sains. Kita mundur saja ke masa lalu untuk menyibak pemenuhan hasrat pengetahuan dalam sajian cerita anak. Yang terbaca sebenarnya tidak sepenuhnya hanya moral. Namun, kita yang ikut membaca meski bukan anak-anak lagi menganggap terjadi peminggiran imajinasi berpatokan sains.

Pilihannya adalah membaca buku cerita bergambar yang berjudul Lesung Jimat. Cerita ditulis oleh Adikusumah. Gambar-gambar dibuat oleh A Wakidjan. Buku tipis itu diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Anak-anak yang membacanya tidak bakal lelah dan cemberut dalam menyelesaikan cerita dan menikmati gambar. Buku di tangan yang cuma 40 halaman dapat dikhatamkan beberapa menit saja, tidak perlu 3 hari atau seminggu. 

Buku diterbitkan pada tahun 1975. Para pembaca tidak usah berharap hasil cetaknya apik. Gambar-gambar pun sederhana dalam tampilan tiga warna. Penggarapan buku sudah serius meski keterbatasan desain dan mesin cetak belum memungkinkan suguhan yang artistik. Pada masa 1970-an, anak-anak yang membacanya mungkin sudah terpukau. Pembagian oleh penata letak membuat anak-anak terbujuk membaca: satu halaman berisi kata-kata dan satu halaman untuk gambar. Penceritaan dibuat bernomor. Susunan mirip puisi tapi bahasanya gampang dimengerti.

Judul cerita adalah Lesung Jimat. Lesung, benda yang diakrabi anak-anak di Indonesia, terutama yang hidup di desa. Lesung itu benda berkaitan dalam pengadaan pangan. Lesung terbuat dari kayu, yang menghasilkan suara merdu dan mengaitkan anak-anak dengan kultur pangan. Konon, lesung dan alu itu benda khas dalam peradaban agraris. Penyebutan “jimat” dalam cerita lekas membimbing anak-anak dalam keyakinan tradisional di Indonesia. Jimat itu istimewa, ajaib, ampuh, atau sakti.

Pembuka yang membenarkan itu khayalan: “Tersebutlah kono dahulu kala, sebelum air laut asin rasanya, dua orang laki-laki bersaudara.” Masalah yang terpenting? Air laut atau manusia? Pembaca akan mengetahuinya bila membaca 20 nomor dalam buku. 

Yang diceritakan adalah dua bersaudara, tidak mengikutkan bapak dan ibunya. Yang tua bernama Kikir. Yang muda dinamakan Budiman. Dua nama itu pilihan pengarang, yang menggampangkan pembaca dalam mengetahui sifat-sifat tokoh. Anak-anak paham bahwa kikir itu sifat yang jelek, tidak boleh ditiru. Pemberian nama Kikir mungkin memastikan sisi hitam tokoh. Sebalinya, anak-anak mengartikan Budiman adalah sifat-sifat yang baik, yang biasanya dianjukan untuk ditiru. Pada masa lalu, sebutan “budiman” digunakan dalam lirik lagi, yang mengarahkan terwujudnya “murid yang budiman”. Pada kesempatan berbeda, cerita anak menganjurkan menjadi manusia yang budiman.

Apakah sepenuhnya tokoh itu dapat menjadi panutan? Yang diceritakan oleh Adikusumah: Yang muda, Budiman Namanya. Ia orang miskin, tapi rajin, senang bekerja. Di samping itu hatinya mulia, ia senang sekali menolong orang. Yang memerlukan tenaga, dibantunya bekerja, yang kelaparan, diberinya makan. Karena itu ia dicintai oleh semua orang.” Pemberian definisi yang tidak bisa dibantah. Anak-anak sepakat saja. Budiman adalah tokoh yang menunjukkan kebaikan-kebaikan. 

Pada saat membaca cerita, perhatian anak-anak condong mengarah kepada tokoh Kikir atau Budiman? Mereka boleh membuat perbandingan sambil mencari “contoh” dalam kehidupan keseharian. Bagi pembaca yang hanya ingin menikmati cerita, belum ada kebutuhan mengaitkan dengan lakon hidup yang lazim menyajikan sisi hitam dan sisi putih.

Di halaman bernomor 4 dan 5, anak-anak gampang membuat simpulan: “Pada suatu hari, karena kehabisan bekal, Budiman datang ke rumah kakaknya, hendak meminjam beras sedikit untuk makannya. Tapi, si kakak yang kaya marah, katanya kesal: ‘Kau hanya pandai menyusahkan orang!’ sambil pergi meninggalkan adiknya. Budian tunduk. Air matanya meleleh ke pipi karena sedih dan pedih oleh perkataan kakanya yang menusuk hati.” Dua nasib yang sangat berbeda. Anak-anak kasihan kepada Budiman. Namun, kecengengan si tokoh membuat anak-anak bertanya-tanya tentang kesabaran atau ketabahan. Mengapa ia menangis?

Yang mengejutkan: “Istri si Kikir iba hatinya melihat Budiman yang sedih dan putus asa. Karena merasa kasihan diberinya Budiman: beras sebatok dan sepotong ikan. Budiman terharu menerima pemberian itu. Sesudah mengucapkan terima kasih ia pun bermohon diri lalu pergi dari situ.” Istri yang memiliki sifat-sifat berbeda dari Kikir. Pembaca yang tidak menyukai Kikir agak memuji istrinya. Bagaimana kehidupan suami-istri dalam mengelola kekayaan dan pergaulan dengan sesama?

Bantuan atau pemberian itu akhirnya tidak dinikmati sendirian oleh Budiman. Ingat, ia adalah tokoh yang suka berbuat baik. Beras dan ikan asin diolahnya untuk dimakan bersama lelaki tua (merana) yang ditemuinya di jalan. Lelaki yang tua dan kelaparan itu diajak ke rumah. Malam menjadi saksi mereka makan dan membuktikan kebaikan. Pembaca bisa menebak. Budiman mendapat balasan dari lelaki tua. Balasannya adalah lesung dan alu. 

Anehnya, benda yang diberikan tidak terbuat dari kayu tapi perak. Jadi, lelaki itu pastinya menyamar saat tampil dalam ringkih dan kelaparan. Ia adalah sosok yang istimewa, yang sengaja datang untuk menguji dan membantu Budiman. Pesan yang diberikan saat menyerahkan lesung dan alu: “Mintalah apa yang kauingini kepadanya, dan ia akan berbukti. Taruhlah sedikit tanag ke lesung ini bila kau mengingini ia berhenti.” Terjadilah, apa-apa yang diminta Budiman terwujud, dimulai dengan permintaan beras. Akhirnya, Budiman menjadi tokoh yang makmur-sejahtera tapi tetap baik dan suka menolong sesama. Budiman tidak berubah menjadi sombong dan kikir.

Yang selanjutnya terjadi adalah ulah Kikir untuk menguasai lesung dan alu milik adiknya. Berhasil melalui pencurian. Ia membawanya ke pelabuhan, berlanjut naik ke kapal. Yang diinginkannya adalah emas, intan, dan berlian. Pada saat di kapal, ia mendengar juru masak ribut-ribut disebabkan saat mau memasak kehabisan garam. 

Maka, yang diinginkan dari alu dan lesung adalah garam. Akibatnya, garam terus dihasilkan dalam jumlah yang banyak, yang mengakibatkan kapal itu karam. Kikir tidak mengetahui cara menghentikannya. Akhir dari cerita: “… sehingga laut jadi asin semua, sekarang dan di masa yang akan datang.” Buku cerita itu ditutup, anak-anak membuka buku pelajaran sambil menyimak penjelasan guru. Mereka mendapat bahasan mengenai ait laut yang asin dan air sungai yang tawar. Anak-anak juga belajar tentang garam dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Buku cerita bergambar yang disusun oleh Adikusumah dan A Wakidjan menjadikan anak-anak tersenyum menandakan “bingung” dan “ragu”. Mereka dalam ketegangan cerita dan sains.


__________

Penulis

Kabut, penulis lepas. 



Kirim naskah ke 
redaksingewiyak@gmail.com

Thursday, February 5, 2026

Berita | SMP Islam Al Ikhlas Jaksel Gelar Worksop Karturema, Undang Tim #Komentar dari Serang


NGEWIYAK.com, JAKSEL -- Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) dari Serang Banten yang dinakhodai Encep Abdullah mengisi pelatian menulis di SMP Islam Al Ikhlas yang berada di Jalan Cipete III, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, selama tiga hari, Selasa--Kamis (3--5 Februari 2026). 


Dalam pelatihan yang bertajuk Workshop Karturema (Karya Tulis Remaja), para peserta terdiri dari Encep Abdullah yang mengisi materi karya tulis ilmiah, Nurhadi karya ilmiah populer, Ma'rifat Bayhaki menggali ide, dan Ahmad Wayang menjelaskan tentang cerita pendek dan premis. 


Encep menjelaskan, membuat karya tulis ilmiah itu butuh latihan disiplin. "Tema yang bisa kita tulis beragam. Bisa dari mengkritisi isu yang sedang berkembang atau dari hal-hal lain yang ingin digali dan diteliti," kata Encep saat mengisi materi. 


Sedangkan hari kedua diisi oleh Ahmad Wayang tentang cerpen atau cerita pendek. Dalam kesempatan tersebut Wayang juga menjelaskan mengenai pentingnya membuat premis, sebelum menuliskan cerita yang panjang. Menurutnya premis adalah rancangan dasar dalam menulis cerita. "Jangan lupa tuliskan dulu premisnya. Sebab dari premis, kita bisa tahu dan melihat bagaimana cerita kita bergerak. Apakah menarik atau sebaliknya," kata Wayang. 


Selama kegiatan tersebut, peserta workshop juga dilatih dan dibimbing dalam menuliskan cerita mereka hingga jadi oleh para mentor. 


Penanggung jawab acara workshop Hawin Maulana mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang digelar sekolah dalam rangka meningkatkan literasi menulis pada siswa. "Gol dari workshop ini adalah agar anak-anak semakin mahir menulis dan nanti karya mereka akan dibukukan," kata Hawin. 


Encep juga menjelaskan bahwa kerja sama antara Tim #Komentar dengan SMP Islam Al Ikhlas sudah terjalin sejak tahun lalu. "Alhamdulillah tahun ini tim #Komentar kembali dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengisi kegiatan workshop menulis. Sebelumnya tahun lalu juga kami mengisi kegiatan yang sama, untuk kelas VIII," jelas Encep. 


Kirani, salah satu peserta workshop, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. "Kegiatan ini seru dan menambah wawasan. Semoga bisa berjumpa lagi di tahun depan," kata Kirani. (Rin/red)



Esai Uwais Qorni | Masalah Krusial Pembuatan Judul Esai

Esai Uwais Qorni



Sebenarnya ilmu membuat judul esai itu dapat ditemui banyak di internet dan di buku. Kita juga bisa mendapatkannya dengan berdiskusi dengan ChatGPT. Tapi, kesannya akan lain kalau kita mikirin judul tulisan itu sendirian dibandingkan dengan, misalnya, dibantu oleh AI. AI tidak mengajak kita berpikir. AI malah menghambat kita berpikir secara mandiri.


Seringnya pengetahuan yang disampaikan melalui esai mudah untuk kita mencernanya. Di dalam esai berisi subjektivitas penulisnya. Lewat esai, penulis bisa mengutarakan apa pun yang ada di otak dan di hatinya. Bahasan yang pemantiknya berupa quotes jika diniatkan untuk diesaikan itu bisa panjang.


Tidak mustahil esai bentuknya itu pengalaman-pengalaman penulis dengan penyampaian yang terkesan bercandaan, gak niat, bahkan blak-blakan tanpa khawatir dicemooh pembacanya nanti. Dimungkinkan juga bentuk esai begitu kaku semacamnya ketikan robot. Gampangnya, esai merupakan bacotan penulis.


Esai gak melulu menaruh solusi di dalamnya. Kadang ada esai yang ngajak mikir.


Saya suka menulis esai baru-baru ini. Sebab saya merasa gagal latihan menulis cerpen, saya fokuskan saja kepenulisan saya dalam bentuk esai dan puisi. Saya juga merasa gagal dalam menulis judul apa pun genre tulisannya itu. Tapi, saya merasa tidak perlu memusingkan itu.


Selama masa-masa setoran cerpen di grup latihan menulis asuhan Kang Encep "Klinik Menulis", saya sangat terganggu dengan pembuatan judul. Berkali-kali revisi karya. Tetap yang paling bikin overthinking adalah kenapa judulnya tidak meningkat ke arah yang lebih bagus. Sudahlah tulisan saya sedengan dan di bawah standar, ditambah pula dengan judulnya yang jelek.


Kalau mikirin seperti ini terus mungkin saya pensiun dari kegiatan menulis. Menulis dengan perasaan gembira baru sekarang tumbuhnya. Ini malah mau disusahkan lagi dengan masalah pemilihan judul. Jika saya gak bahagia lewat menulis, lalu buat apa saya betah-betahan menulis? Kayak gak ada kerjaan saja yang lebih menggiurkan, misalnya nyari duit.


Tapi, tidak sampai di sini. Saya menulis biar ngebacot aja. Ngebacot yang dikit-dikit berbobot. Daripada ngebacot tapi ngerecokin urusan orang lain. Daripada ngebacot malah menambah down mental lebih baik saya nulis begini.


Menulis itu butuh modal. Ini saya minim modal sebenarnya. Materi kepenulisan saya dikit banget. Banyak yang belum saya kuasai. Menghafalkan nama-nama sastrawan, saya gak mau. Soalnya saya bisa dibilang gak nyaman kalau bahas sejarah macam itu. Bukan artinya saya buta total terhadap sejarah. Saya hanya gak suka menghafalkan nama-nama dan penanggalannya itu. Untuk ngedengerin sejarah, asalkan seru dan gak ngebosin, oke saja buat saya.


Saya nyaris minder menulis sok-sokan seperti ini. Denger-denger di dunia literasi itu ada perpolitikannya. Bodo amatlah saya masalah itu. Asalkan saya mampu menuntaskan satu tulisan itu sudah lebih dari cukup. Daripada ngomong doang pengen nulis ini pengen nulis itu, tapi gak pernah dikerjain. Lebih baik senyap, tapi gerak maju.


Omong-omong, gak ada motivasi saya menulis itu lewat support orang-orang terdekat saya. Jadi merupakan pencapaian jika saya masih bertahan menulis sampai sekarang. Ditarik tali benangnya adalah rasa penasaran saya tinggi. Mimpi saya ini, andaikan saya berada di lingkungan yang kutu buku niscaya saya ajak semuanya itu untuk mendiskusikan buku-buku.


Omong-omong lagi, beberapa tahun yang lalu saya bermukim di asrama yang tepat. Saya mondok di pesantren yang tepat. Di sana gak ada istilahnya senioritas. Semua belajar. Semua saling mendukung untuk jadi lebih pintar lagi. Ada kebiasaan saya di sana yang pengen banget sekarang ini saya hidupkan kembali di rumah, yaitu kebiasaan berdiskusi.


Dulu sukanya saya mendiskusikan ilmu nahwu atau sintaksis Arab. Yang sering saya ajak berdebat itu adik kelas, soalnya biar saya tahu seberapa bodohnya sih saya ini kok bisa sampai "kalah" berdebat dengan adik kelas? Sedangkan bersama sekumpulan kakak kelas di forum seringnya saya oleh mereka didorong untuk menjadi moderator. Sebab semua itu bobot omongan saya meningkat. Hasilnya saya sekarang gak suka basa-basi.


Tepat setahun sebelum kelulusan, saya boyong. Hijrah lagi ke dua tempat yang berbeda dalam hitungan waktu dua tahunan di luar sebelum akhirnya saya menetap di kampung halaman. Dan sekarang saya sudah ada di rumah.


Kenyataan pahit menimpa saya. Apa yang saya impikan tidak terpenuhi. Saya jadi pengangguran di sini. Di sini saya gak jadi apa-apa. Jadi guru, saya merasa bukan pakarnya. Dan saya tidak lulus di pondok mana pun. Saya yakin kelulusan saya cuma satu, yaitu lulus MI di pondok milik keluarga sendiri.


Kecewa ya kecewa. Soalnya gini, jika saya tahu di lingkungan rumah ilmu debat itu gak penting sebab umur dan posisi seseorang bisa mengangkat dan mengultuskan apa pun ucapannya meskipun gak selalu ada benarnya. Maka, buat apa saya selama itu pura-pura berani ngomong di forum diskusi hanya demi melatih keberanian diri dan memompa kemampuan bernalar?


Lanjutan bahas esainya mana nih?


Yaitu pada kesamaan berdiskusi dengan menulis esai. Bagi saya menulis esai itu mudah sebab saya bisa berdebat. Kalau bisa berdebat seringnya bisa menulis esai. Menulis esai itu ngebacot versi tulisan, sedangkan diskusi itu ngebacot dengan "menjagokan" ilmu-ilmu. Permasalahan timbul ketika saya sadar kalau di forum debat gak ada judul saat memulai debat. Saat saya bertukar pikiran dengan teman-teman, ya sudah jadi debat itu. Itu langsung mulai saja.


Sebelumnya memang tema ditentukan, persiapannya yang matang, juga kudu siap mental menghadapi "lawan" debatnya. Ketika berdiskusi sudah semacamnya, dua ayam jago diadu di tengah-tengah kandang terbuka.Saat itu juga kelihatan siapa yang gaya penyampaiannya masih seperti di awal yang santai dan siapa yang kepanasan dan terpojok. Apa yang dibahas itu jadi seru ketika semuanya sama-sama tahu kalau hal semacam ini menambah ilmu dan bukan menambah musuh. Jika dengan debat malah musuh-musuhan, ya jangan debat sekalian.


Esai, gampangannya ya begitu. Esai itu diskusi versi tulisan. Keduanya sama-sama mengumpulkan gagasan. Keduanya membenturkan perspektif dan menghasilkan kesimpulan akhir yang meskipun gak selalu memuaskan semua pihak, tapi setidaknya ada sudut pandang baru yang dapat ditelaah lebih mendalam. Dan kadang esai dan diskusi itu menyisipkan perasaan pelontarnya, juga sesekali menayangkan pengalamannya dalam berhubungan dengan permasalahan tersebut. Tapi, yang membedakan keduanya adalah judul. Esai punya judul, sedangkan berdebat itu langsung ke isi.


Perihal ilmu membuat judul, saya pernah baca buku dan nonton edukasi di YouTube. Saya tidak mencantumkan referensi di sini. Tinggal cari istilahnya itu "Efek Halo". Persamaannya antara "Efek Halo" dan dalam pembuatan judul esai maupun judul karya lainnya, yaitu sama-sama diarahkan kepada kesan pertama bagi konsumen. Pembaca adalah konsumen tulisan dan apa yang pertama kali dinilainya adalah judul tulisan tersebut.


Ini sebenarnya masalah pelik dan penuh abu-abu. Ada sebagian judul yang menipu. Lewat judulnya saja kesannya itu bagus. Kayak bagian setelahnya itu berupa isi tulisan yang wajib dibaca sekali seumur hidup. Benar-benar pencitraannya itu seratus persen dikerahkannya untuk mengelabui calon pembaca. Padahal cuma judul, bukan fakta. Kenyataannya adalah kita tidak tahu seberapa bagus atau jeleknya sebuah tulisan sebelum kita membacanya sampai selesai. Alhasil, untuk pembuatan judul sendiri mungkin saya pribadi cocoknya dikesampingkan. Menulis selesai dulu baru overthinking tentang judulnya apa. Atau membaca sampai tuntas terlebih dahulu dan jangan menghiraukan bagus atau jelek judulnya.


Referensi:

1. Fahruddin Faiz dalam buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika.

2. Pengarahan Diklat Jurnalistik.

3. Beberapa video tentang "Logical Fallacy".


Monday, February 2, 2026

Lapak Buku | "Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya" Karya Heru Anwari

 


Judul: Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya

Penulis: Heru Anwari
Penerbit: #Komentar

Terbit: Maret 2026

Tebal: viii+95 hlm.

Harga: Rp65.000



Buku Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya karya Heru Anwari merupakan kumpulan esai reflektif yang lahir dari perjalanan lintas negara, terutama Amerika Serikat dan Alaska. Melalui pengalaman sebagai atlet BMX dan seniman pertunjukan, penulis mengajak pembaca menelusuri sisi lain peradaban modern: gemerlap kapitalisme, kebebasan yang menyesakkan, serta krisis nilai kemanusiaan. Setiap esai merekam perjumpaan personal dengan isu materialisme, korupsi, kerja, kebahagiaan, hingga spiritualitas, yang dipertautkan dengan realitas Indonesia sebagai “tanah surga” yang kerap terlupa. Dengan bahasa jujur dan narasi kontemplatif, buku ini menjadi catatan batin seorang pengelana yang mempertanyakan makna hidup, harga diri, dan iman di tengah dunia yang menjadikan uang sebagai pusat segalanya.



Kontak:

087771480255 (Penerbit)


Saturday, January 31, 2026

Resensi Kabut | Ubi: Panen dan Memasak

Oleh Kabut



Indonesia tidak hanya padi. Indonesia pun bukan cuma jagung. Di tanah Indonesia yang subur, orang-orang menanam dan memanen ubi. Sejak ratusan tahun lalu, penduduk di Nusantara memiliki beragam olahan dengan bahan baku ubi. Penamaan makanan macam-macam memberi khazanah kuliner yang punya banyak cerita. Jadi, Indonesia pun ubi.


Pada zaman berlimpah (jenis) makanan, yang berdatangan dari Barat, ubi sering diremehkan. Konon, ubi adalah makanan kelas bawah. Ada yang mengecap ubi itu “desa” atau “kampungan”. Artinya, ubi sangat sulit bersaing dengan makanan-makanan baru atau modern. Namun, ubi adalah tanaman yang mudah berkembang di Indonesia, yang hasilnya melimpah. Pada masa lalu, biografi dan sejarah memuat ubi dalam hal-hal yang penting dan sepele. 


Di hadapan anak-anak, ubi mungkin sulit berarti. Mereka telanjur mendapat godaan-godaan kemodernan, yang mengajarkan selera baru. Mereka menyantap makanan-makanan yang tampilannya melampaui sajian tradisional. Mereka dibuat percaya dengan nama-nama asing, yang menjadikan makanan naik martabatnya. 


Pada masa Orde Baru, ubi biasa berada di tingkat bawah. Anak-anak mengetahuinya tapi belum tentu menggemari dan mau menyantapnya. Di pelbagai desa, segala olahan ubi adalah santapan kaum tua. Olahan-olahan ubi menjadi nostalgia atau kenangan, yang perlahan terpinggirkan.


Namun, ada usaha agar anak-anak di Indonesia tidak melupakan ubi. Yang dilakukan adalah mengarang cerita untuk anak. Soedharma KD menggubah cerita berjudul Hantjurnja Ketjurangan. Buku yang tipis diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1972. Judulnya tidak menggunakan diksi ubi tapi pembaca disuguhi cerita dan penjelasan mengenai ubi. Yang agak membantu imajinasi adalah gambar di sampul depan yang dibuat oleh Ipe Ma’aruf.


Buku itu masuk babak awal dari keseriusan Pustaka Jaya menerbitkan buku cerit anak. Banyak judul yang terbit tapi mengalami kesulitan dalam pemasaran. Pada masa 1970-an, kita mencatat bahwa Pustaka Jaya berhasil “membujuk” pemerintah melakukan pembelian buku cerita anak ribuan eksemplar, yang dibagikan ke banyak perpustakaan. Kerja atas nama buku kelak dikenal sebagai “Inpres”. Proyek buku Inpres memicu ratusan pengarang menghasilkan banyak cerita anak yang berstempel “milik negara” atau “tidak diperdagangkan”. Artinya, pemerintah membeli buku dari penerbit-penerbit, yang disediakan untuk anak-anak dan kaum remaja agar gemar membaca.


Novel tipis berjudul Hantjurnja Ketjurangan membuktikan selera Pustaka Jaya. Novel yang mengandung nasihat dan keilmuan. Yang dimaksud keilmuan adalah biologi atau pertanian. Pengarang memiliki pemahaman mengenai ubi, yang disampaikannya kepada anak-anak melalui cerita, bukan makalah ilmiah. 


Yang menjadi tokoh dalam cerita atau murid-murid di SD, yang beralamat di desa. Pembaca diminta meresmikan bahwa ubi itu khas desa. Shoedarma bercerita kegembiraan anak-anak, berangkat dari sekolah menuju sawah untuk panen ubi. 


Peristiwa yang seru: “Sepandjang djalan mereka selalu menjanji. Diselingi dengan bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Bahkan kelakar terdengar djuga, bertjampur dengan gelak tertawa. Mereka bukan semua tjalon pradjurit. Tetapi mereka panda djuga berbaris tertib.” Pasukan itu mau merayakan sukacita: panen ubi. Sekolah menjadi pihak yang memberi pelajaran dan membimbing murid-muridnya paham ubi.


Cerita sengaja menghendaki memberi ajaran baik kepada para pembaca. Kita yang membacanya menyadari adanya propaganda: “Kira-kira enam bulan jang lalu oleh Lembaga Sosial Desa, SD Sukaredja mendapat pindjaman sawah kira-kira seperempat hektar luasnja. Separo dari sawah itu ditanami padi, sedang separo lagi dibuat ladang. Musim ini mereka panen ubi pohon. Sebentar lagi mereka akan panen padi.” Kita kagum mengetahui pihak sekolah tidak sekadar melelahkan anak-anak dengan beragam mata pelajaran. Pada hari-hari tertentu, anak-anak diajak dalam pelajaran dan pengalaman bertani. Ingat, mereka adalah murid-murid kelas 4 dan 5. 


Kerja bersama menjadikan panen ubi penuh kegembiraan. Anak-anak lelah tapi senang. Mereka membuktikan kerja yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Yang ditanam adalah ubi “mukibat”. Penjelasan disampaikan pengarang: “Adapun ibu mukibat ialah hasil okulasi ubi karet dan ubi biasa, hasil pertjobaan Pak Mukibat. Ubi biasa sebagai pokok batang jang nantinja menghasilkan ubi, sedangkan ubi karet sebagai batang dan tjabang-tjabang jang bertugas memasak makanan dengan daun-daun jang lebat.” Pelajaran penting agar anak-anak menghargai ilmu pertanian dan tokoh di Indonesia.


Mereka beruntung dan bahagia: “Adapun hasil panen mereka kira-kira empat kwintal. Dua kwintal dimasak dan dua kwintal lagi dilelangkan. Hasilnja untuk mentjukupi kebutuhan alat-alat sekolah. Sedangkan ketela hasil okulasi itu dibagi-bagikan kepada pak lurah, pak penilik sekolah, pak ketua lembaga sosial desa, djuga kepada pak mantri kesehatan dan pak mantri pertanian. Sisanja dilelang.” Cerita yang terlalu apik. Guru dan murid dalam keberhasilan. Para pembaca geleng-geleng kepala: kagum dan sulit percaya. 


Cerita yang akhirnya kekurangan pikat. Keberhasilan kadang kurang memberi gejolak bagi pembaca. Pengarang malah menambahi “keberhasilan” dengan pidato saat upacara di sekolah: “Keistimewaan negeri merdeka. Kita harus pandai bekerdja. Supaja apabila kalian sudah besar kelak, kalian dapat bekerdja sendiri. Kita harus selalu bekerdja dan selalu membangun.” Kalimat-kalimat biasa diproduksi oleh pemerintah. Jadi, novel itu menginginkan anak-anak mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, yang saat itu dipimpin Soeharto.


Hasil panen membuat anak-anak kerja bakti lagi untuk memasak. Mereka memberi kontribusi macam-macam. Sekolah menjadi tempat terindah, bukan hanya untuk membuka buku pelajaran dan mengerjakan tugas di buku tulis. Kita mengikuti nasihat dalam upacara: “Untuk memasak ubi sadja dibutuhkan kerukunan jang erat. Ada jang mempunjai sebutir kelapa, tetapi ada djuga jang tidak mempunjai apa-apa. Ada jang mempunjai lima gandu gula djawa, tetapi ada jang hanja mempunjai selembar daun pisang. Semuanja dikumpulkan untuk mentjiptakan suatu masakan jang lezat. Dan, kita sama-sama telah merasakan masakan itu.”


Sekali lagi, pengarang hendak mencipta cerita yang sempurna. SD di desa menjadi contoh kebahagiaan bukan gara-gara pelajaran saja tapi mengikutkan bekerja di pertanian. Kesempurnaan itu makin kentara dengan memasak bersama dan menikmati beragam makanan berbahan ubi. Jadi, novel bisa dijadikan referensi agar murid-murid di seantero Indonesia memuliakan ubi.


Apakah sekolah seperti itu masih bisa ditemukan di abad XXI? Kita malah bingung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, yang membuat sekolah menjadi tempat yang banyak perintah atau tanda seru. Sekolah mendapat beragam petunjuk agar menyukseskan segala program buatan pemerintah. Rekayasa terjadi menimbulkan kekonyolan. Kita mendingan tersesat dalam novel gubahan Soedharma ketimbang memikirkan pemerintah dan sekolah masa sekarang.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com