Esai Uwais Korni
Cara saya duduk saat memaksakan diri melepas kemalasan menulis yaitu dengan duduk senyaman mungkin. Tidur-tiduran saat menulis adalah yang sering saya lakukan. Kadang juga sampai tidur beneran.
Menulis di HP seperti saya sekarang ini menurut saya masih belum bisa dianggap sebagai kepenulisan yang serius. Menulis seperti ini bentuk dari ketidakseriusan penulis untuk menulis apa. Menulis yang main-main. Menulis yang iseng-iseng. Dengan begitu, tidak ada salahnya jika saya mencap saya sendiri sebagai penulis yang gagal. Pesimis saya jika saya bermimpi yang tinggi banget di bidang ini. Takut-takut ketinggian, jatuh nanti.
Dari sini dapat dimaklumi jika tulisan saya apa adanya. Sebisanya menulis. Seadanya ilmu saya. Semau saya. Lagi pula saya telah menyangka bahwa kegagalan-kegagalan macam ini yang menjadi wasilah saya tumbuh. Bertumbuh sehabisnya diinjak-injak ego itu, dikebiri keakuan itu, dicemooh merasa pintarnya itu, dan selalu menggoblok-goblokkan diri sendiri yang kok gak jadi apa-apa di zaman semaju ini internetnya.
Iri betul saya sama orang-orang yang terdidik itu. Hidupnya disiplin. Lurus terus. Seakan-akan kehidupannya mulai dari pagi sampai malam adalah pembelajaran. Saya wajib meniru mereka. Dalam artian, saya bukan iri terhadap kelebihannya itu yang sifatnya material, melainkan saya penasaran saja sama usahanya itu bagaimana. Usaha meraih kepintaran, kecerdasan, relasi yang selaras dengan tujuan, dan cobaan-cobaan kehidupannya yang mudah dicarikan solusinya.
Kekayaan hidup merupakan plus untuk menjadi orang-orang yang terdidik. Apa itu orang-orang yang terdidik? Adalah mereka yang bukan urak-urakan. Saya sadar saya orang urakan. Ketidakteraturan ini saya curigai sebab saya masih belum kaya saja. Bermimpi dulu. Hal pertama yang akan saya lakukan jika saya kaya raya adalah punya mentoring yang meluruskan kehidupan saya. Saya butuh pembimbing kapan saya belajar, apa yang saya pelajari, bagaimana penerapannya, dan adakah sesuatu di sana yang perlu dimusyawarahkan. Saya butuh pelatih fitnes biar saya sehat dan tidak kerontang macam ini. Biar saya olahraga menyesuaikan kemampuan saya dan yang penting istiqomahnya. Saya butuh teman bercerita biar kegundahan hati ini lega jika semua kotoran-kotoran batin disapunya sampai ke akar-akarnya. Biar jika saya berazam buruk sama seseorang dicegahnya seketika. Dipalingkan ke nge-game saja daripada musuh-musuhan sama tetangga. Saya butuh teman mabar biar tidak jenuh dari aktivitas sehari-hari yang telah terjadwal dengan rapi itu. Biar ada waktunya bersantai mengosongkan semuanya dari kejenuhan menjadi orang yang serius dan lurus.
Soalnya sepengalaman saya, saya lembek kalau tidak disuruh-suruh. Mental saya adalah mental makmum. Imam gerakannya apa, saya ikuti. Kalau saya yang jadi imamnya, jadinya tidak serius jalannya ke mana. Mau khusyuk sukanya saya bercanda. Mau bercanda tidak boleh. Itu larangan. Itu tanda urak-urakan. Tapi memang betul ya yang disampaikan guru saya, orang-orang kita adalah orang-orang yang kelewat batas bercandaannya itu. Disuruh serius tidak mau. Maunya bercanda terus. Disuruh berpikir tidak mau. Maunya refreshing terus. Refreshing terus sampai goblok.
Satu waktu kami mendapatkan guru tersebut sebagai mentor kami. Alhasil, tak satu pun dari kami yang tidak naik kelas kecuali yang memang sudah gak niat belajarnya itu. Langsung di-DO.
Hasil didikannya berpengaruh bagi kehidupan kami, dulu bahkan untuk nanti. Soalnya relate sama kenyataan. Ucapannya halus tapi menusuk. Tindakannya perlu diikuti. Baik-baik semua. Seakan-akan tak ada celah untuk dicela. Bahkan guru-guru lainnya iri sama sang mentor sebab terlalu lurusnya dia dan kakunya dia di dalam menjalani kehidupan.
Dulu HP android masih langka, bahkan mentor saya itu kalah sama teman-teman sesama guru, dan kalah sama murid-muridnya itu. Muridnya punya HP Blackberry, mentor saya tidak punya HP sama sekali. Saat itu lagi booming-nya Blackberry. Yang dipegangnya cuman buku. Ke mana-mana bawa buku. Tempurung kepalanya seakan-akan buku. Apa-apa buku. Bahasannya buku. Selalu buku. Lurus. Kaku. Tapi realistis dan gak mabuk agama, sebab pikirannya terbuka dan menerima pengetahuan-pengetahuan umum lainnya. HP masih dimiliki, tapi saat itu kami bahkan tak tahu bahwa sang mentor punya HP juga. Saking tertutupnya kehidupan pribadinya, mungkin.
Saya mengamati diam-diam apa yang dilakukannya, apa impiannya. Kok sampai sebenci itu terhadap HP? Tak lain, dia membatasi diri untuk terlihat memainkan HP di hadapan murid-muridnya. Yang diperlihatkan kepada murid hanyalah kedisiplinan. Yang tersimpan di belakang adalah keramahan, kesederhanaan, dan biasanya kayak orang-orang pada umumnya. Cuma di kelas saja kesannya beringas, tegas, dan buku terus.
Yang menjadi fokus pembelajarannya kepada murid bukan hanya pelajaran-pelajaran sekolah. Dia membimbing kami untuk tidak bersenang-senang melulu. Skeptisnya kepada murid-murid yang sakit adalah satu contoh. Ia menggambarkan, andaikan orang yang sakit itu diberi kabar kalau di kelas sedang bagi-bagi duit, kira-kira mereka yang sakit itu mampu memaksakan dirinya untuk mengambil jatahnya itu atau enggak sama sekali? Begitulah.
Padahal kalau di luar kelas, pribadinya bukan sebatas kasihan sama orang sakit. Dia royal kepada mereka yang tidak mampu secara finansial. Apalagi kepada mereka yang terkena musibah penyakit dan lain sebagainya itu. Dia suka bersedekah. Suka bertanya-tanya kabarnya murid bagaimana. Pokoknya kayak bapak kepada anaknya sendiri.
Mentoring seperti ini yang saya butuhkan sekarang. Saya masih kekanak-kanakan. Saya masih labil. Saya butuh pelajaran. Saya butuh dididik. Saya butuh guru. Saya masih murid yang gak lulus sama sekali dari pendidikan mana pun kecuali TK dan MI. Memang betul ada ceritanya seperti ini. Murid keburu lulus, sedangkan yang lulus kepengin jadi murid lagi. Anehnya, saya yang gak lulus malah kepengin jadi murid lagi. Terserah di sekolahan apa. Yang terpenting saya masih diterima sebagai anak didiknya.
_______
Penulis
Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com





