Thursday, March 13, 2025

151 Cerpen Pagar Laut I Ilfinda Zaka Ochtafarela I Runtuhnya Pagar Besi Penghalang Kebebasan


 

 Runtuhnya Pagar Besi Penghalang Kebebasan

Pagi hari itu, semua warga kampung yang berada di dekat laut Seno digegerkan dengan adanya pagar-pagar laut di sekitar wilayah perairan itu. Laut yang seharusnya bukan milik perorangan ataupun perusahaan tetapi merupakan bagian dari aset negara dan menjadi milik semua rakyat. Orang-orang di wilayah sekitar itu berkerumun melihat pemandangan pagar-pagar besi yang menancap di perairan laut tersebut dan tidak ada seorangpun yang bergerak untuk menyingkirkannya. Semua orang yang berada di tempat tersebut berbisik dan bertanya-tanya siapa yang melakukan tindakan tersebut.

Rafi adalah anak di kampung dekat laut Seno tersebut. Saat itu hari Minggu, dia dan ketiga temannya pergi ke pantai. Rafi dan ketiga temannya melihat di perairan lautan itu tertancap banyak pagar-pagar besi yang menghalangi jalannya kapal-kapal nelayan yang akan berangkat ke laut lepas. Rafi terdiam menatap pagar-pagar besi yang mengelilingi perairan lautan yang masih bagian dari wilayah kampungnya. Tangan Rafi terkepal dan dadanya terasa panas ingin sekali dirinya menyingkirkan pagar-pagar laut besi tersebut.

Disekitar perairan lautan Seno itu, sudah ada garis polisi sehingga warga tidak bisa untuk melihat dari dekat apalagi menyingkirkan pagar-pagar laut besi itu. Polisi menghimbau kepada para warga untuk tidak mendekat di sekitar pagar-pagar besi yang berada di lautan lepas itu. Rafi kemudian melangkahkan kakinnya dan tidak menghiraukan panggilan ketiga temannya yang meneriakkan namanya. Rafi kini berhadapan dengan salah satu polisi berkumis yang sedang berada tepat didepan garis polisi.

“Kenapa tidak dilepas saja pak? Itu mengganggu jalannya para nelayan yang akan mencari nafkah hari ini.” Rafi berkata kepada bapak polisi yang berada dihadapannya.

“Kami harus mengikuti prosedur yang ada. Kamu mundur saja tidak boleh melintas di wilayah perairan yang sudah kami pasang garis polisi ini.” Polisi berkumis itu tersenyum kepada Rafi sambil menggerakkan tanganya supaya Rafi mundur mengikuti perintahnya.

   Rafi terdiam, isi kepalanya berpikir keras dan tangannya mengepal. Rafi kemudian berlari bukan untuk mundur tetapi dia menerobos garis polisi yang didepannya menuju perairan lautan Seno. Polisi berkumis tadi mengejar Rafi yang sekarang berada di area pagar-pagar laut besi. Rafi kemudian mencabut dua pagar besi di tangan kanan dan kirinya.

Suara tepuk tangan dan teriakan sorak-sorak menyeruak di belakang Rafi. Keberaniannya untuk mencabut pagar-pagar besi itu dan menerobos garis polisi membuat para warga yang tadinya diam dan berbisik sekarang terlihat ramai dengan aksi nekat Rafi. Polisi berkumis itu kemudian menepuk pundak Rafi saat dia akan mencabut pagar-pagar besi kembali. Terlihat enam pagar besi runtuh di tengah arus perairan lautan dan kokohnya pagar–pagar lautan yang menjadi simbol kekuasaan atas wilayah tersebut. 

“Sudah kubilang seharusnya kamu mundur.” Polisi berkumis itu berkata dengan suara lantang kepada Rafi.

“Bagaimana saya bisa mundur pak, lihatlah para kepala keluarga itu ingin mencari nafkah hari ini tetapi terhalang dengan pagar-pagar besi. Mereka hari ini ingin mencari rejeki untuk kehidupan sehari-hari bagi keluarganya.” Rafi menjawab pertanyaan dari polisi berkumis itu dengan suara tegas.

“Tidak seharusnya kamu mencabut pagar-pagar besi itu. Semua akan dilakukan jika ada perintah. Saya bekerja sesuai prosedur.” Polisi berkumis itu berkata kepada Rafi sambil menatap Rafi tajam.

“Kemanusiaan nomer satu daripada prosedur yang bapak jalankan. Apakah bapak pernah berpikir jika bapak bekerja sesuai prosedur maka yang terjadi akan membiarkan mereka pulang dengan tangan kosong dan mereka akan merasakan kelaparan? Keluarga mereka sudah menanti dirumah untuk mendapatkan sesuap nasi dari hasil mencari ikan pak.” Rafi berteriak marah kepada polisi berkumis itu.

Polisi berkumis itu terdiam menatap Rafi. Bapak polisi itu kemudian menghela napas panjang dan terdiam seakan berpikir dengan yang diucapkan Rafi kepadanya. Polisi berkumis itu kemudian menepuk pundak Rafi dan tersenyum kepadanya. Rafi terdiam dan menatap polisi berkumis dihadapannya.

“Saya salut dengan keberanianmu anak muda. Saya akan mengusahakan hari ini masalah pagar besi yang berada diwilayah perairan laut Seno akan tuntas dan segera menghilangkan pagar-pagar yang menghalangi seorang ayah untuk mencari nafkah bagi keluarganya.” Polisi berkumis itu berkata dan masih memegang pundak Rafi.

Rafi terdiam dan menatap polisi berkumis di hadapannya. Rafi kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju pantai yang diikuti bapak polisi dibelakangnya. Tepuk tangan bergemuruh menyambut Rafi layaknya seorang pahlawan yang sudah membela hak-hak rakyat tertindas. Beberapa polisi kemudian berdatangan dan mulai memperketat area penjagaan di garis polisi itu.

“Berani sekali dirimu menantang aparat.” Dika berkata kepada Rafi yang sudah kembali berkumpul kepada ketiga teman-temannya.

“Harus ada orang yang berani untuk memperjuangkan hak-hak orang kecil.” Rafi tersenyum kepada temannya.

“Apakah mereka akan hanya terdiam sambil mengawasi kita dan tidak melakukan pencabutan terhadap pagar-pagar besi itu?” Dika menyahut lagi perkataan Rafi.

“Entahlah, tapi mereka sudah berjanji kepadaku akan menuntaskan masalah itu. Setidaknya sudah kusampaikan kepada bapak polisi itu untuk membela rakyat kecil yang ada di wilayah perairan ini. Kita hanya perlu melihat cara kerja mereka sekarang.” Rafi berkata kepada kawannya.

Polisi berkumis itu kemudian terlihat berlari menuju mobil hitam yang kemudian terparkir agak jauh dari kerumunan warga. Rafi yang melihat pergerakan dari bapak polisi tadi kemudian meninggalkan temannya yang meneriakkkan namannya kembali. Sosok laki-laki berjas hitam dan bersepatu mengkilat merk Gucci turun dari mobil tersebut. Polisi tersebut kemudian mengangkat tangannya untuk salam hormat kepada sosok laki-laki tersebut.

“Pukul enam pagi tadi pagar-pagar besi sudah tertancap..” Polisi berkumis itu berkata tetapi kemudian disahut oleh Rafi.  

“Bapak saya tahu anda adalah orang terhormat di wilayah ini, apakah bisa saat ini pagar-pagar besi itu dicabut di wilayah perairan kami. Saya sebagai anak kampung disini ingin ada kebebasan mencari nafkah di wilayah perairan milik negara. Bukankah, lautan adalah milik semua warga negara?” Rafi berkata kepada sosok laki-laki berjas hitam itu.

Polisi tersebut terkejut dengan kemunculan Rafi, terlihat dari wajahnya dia sangat marah dan melangkahkan kakinya menuju Rafi. Rafi terdiam tanpa rasa takut melihat polisi tersebut yang akan menghampirinya tetapi dicegah oleh sosok laki-laki berjas hitam itu. Sosok laki-laki berjas hitam itu kemudian menghampiri Rafi dan menepuk kedua pundak Rafi dengan tangannya sambil tersenyum. Terlihat di wajahnya dia sangat kagum dengan keberanian Rafi.

“ Siapa namamu anak muda?” Sosok laki-laki berjas hitam itu berkata kepada Rafi.

“Namaku Rafi dan aku adalah anak warga kampung sini. Tolonglah bapak jangan menghalangi hak-hak kami. Sampaikan kepada orang-orang yang berkuasa bahwa wilayah ini tidak seharusnya dibatasi hanya untuk kepentingan pribadi.” Rafi berkata kepada sosok laki-laki berjas hitam itu.

Laki-laki berjas hitam itu kemudian tersenyum dengan ucapan Rafi dan kemudian menoleh kepada polisi berkumis itu dan berkata kepadanya “ Cabut saja pagar-pagar besi pembatas itu. Aku melihat sosok anak muda pemberani yang sudah membela hak-hak warga disini untuk mencari penghasilan di atas bumi pertiwi ini.” 

Polisi tersebut kemudian mengangguk atas perintah yang diterima baru saja. Polisi berkumis itu kemudian meminta kawan-kawannya untuk segera ikut menyingkirkan pagar-pagar besi yang menghalangi para nelayan ke lautan tersebut. Sorak-sorak warga bergemuruh dengan terlepasnya pagar-pagar besi yang menunjukkan runtuhnya penghalang kebebasan mencari nafkah  diwilayah itu. Rafi kemudian terdiam dan menatap sosok laki-laki berjas hitam itu.

“Terima kasih pak untuk kebaikan hatinya sudah memberikan perintah untuk menyingkirkan pagar-pagar besi itu.” Rafi berkata kepada sosok laki-laki berjas hitam itu.

“Tidak mengapa, memang seharusnya wilayah perairan adalah milik semua warga negara.” Pungkas laki-laki berjas hitam itu.