Kara, anak kecil SD kelas 6. Ia senang sekali bermain di jalan yang dekat dengan laut. Rumahnya yang tak jauh menjadikannya berjalan sambil menari hingga senja. Barangkali jika ia memahami tentang senja mungkin ia bisa menuliskannya atau menggambar di buku gambar ketika pelajaran seni budaya di sekolahnya. Tapi anak kecil hanya menikmati saja tanpa menempatkan makna yang khusus
Sepulang dari ngaji ia dengan dengan senang hati berganti pakaian untuk bersiap bermain di tepi jalan yang berbatasan langsung dengan lautan. Entah apa yang membuatnya sangat menyukai main di jalan yang dekat dengan laut itu, walaupun memang pada sore maupun malam kendaraan jarang lewat. Barangkali karna laut membuatnya nyaman setelah jenuh dengan gedung – gedung dan keramaian kota. Ketika ia berjalan sambil bernyanyi di trotoar, ada Kilauan lampu kapal yang bisa ia nikmati pada malam hari. Itu salah satu hal yang menarik baginya, ya meskipun terdengar biasa saja, tapi justru hal yang dianggap biasa bagi sebagian orang, punya daya tarik tersendiri bagi dia.
Setelah berjalan – jalan ia akan duduk di tepi laut, sambil menikmati camilan yang ia beli di perjalanan tadi. Di hatinya ia melihat bagaimana malam bekerja, karna sebelum ia menemukan kebiasaan di tepi laut, ia sepulang ngaji biasa langsung rebahan. Ada begitu banyak kapal satu persatu datang dan pergi, datang dan berdiam dan berangkat tak kembali. Sebentar lagi camilan yang ia makan habis dan ia akan pulang. Saat ia beranjak pulang, Tiba – tiba ada yang mengganjal di matanya, sebuah iringan kapal kecil dan sedang serupa lampu pijar di jalan. “apa itu?.”
....
“kara karna besok kamu sudah libur, maka ayah akan mengajakmu pulang ke rumah nenek.” Mendengarnya kara gembira, karna ia memang cukup lama tidak ke rumah neneknya. Dan sekarang ia punya libur sebelum ia pindah ke jenjang yang lebih tinggi, SMP.
Keesokan pagi setelah Shalat subuh kara dan keluarganya bersiap untuk berangkat menggunakan mobil carry hijau lumut milik pamannya yang disuruh bawa pada ayahnya. Ia pun berangkat setelah semua siap. Ketika berangkat kara bisa mengamati lautan sekitar desanya itu dari kaca mobil yang terbuka, ada yang sedikit mengganjal ketika sedang melihat pemandangan itu. Sejak kapan ada bambu di situ, bukannya tadi malam Gak ada ya, ucapnya dalam hati. Bambu – bambu yang kara lihat masih tertancap satu persatu, mirip seperti tancap pan bambu biasa yang biasa ia lihat. Cuma bedanya ini tertata lebih rapi dan berjajar, tapi ya sudahlah lagian kan buat apa juga memikirkan itu, dan ia pun fokus kembali pada pemandangan yang ia lihat selanjutnya. Setelah pemandangan yang ia sukai lenyap, ia tak terlalu berminat untuk memandang setelahnya. Di tengah perjalanan kara buka suara,
“ayah, kara tadi liat ada bambu di laut”
“bukannya itu hal biasa kara ?”
“iya ayah, tapi ini sedikit lebih rapi”
“ya mungkin para nelayan sudah bosan ngeliat bambu kocar kacir, jadinya dijadikan sedikit lebih rapi,” jelas ibunya. Kara pun hanya mengangguk ngangguk sambil memonyongkan bibirnya. Lalu setelah itu ia pun memilih tidur.
....
Setelah sampai kara menyalami neneknya dan menciumnya. Rumah nenek kara kebetulan memang di pesisir, sehingga ayah kara ketika pindah ke kota memilih tempat tinggal yang dekat dengan laut. Barangkali agar ia tidak lupa asalnya. Sebagaimana kara biasanya, ia tak bisa berdiam diri ketika melihat laut apalagi ini ada pantainya, tentu saja ia tak akan menyia – nyiakan kesempatan itu. Kara begitu menikmati setiap pasir yang ia pijak, maklum yang biasa ia pijak di rumahnya adalah tembok kecil beton yang langsung jadi pembatas dengan laut.
Kara terus berlarian dengan gembira, sampai tiba – tiba ia melihat pagar dari bambu. Tapi kara tidak terlalu tertarik untuk menanyakan, ia lebih memilih berkomentar sedikit saja. Karna ia mengira mungkin itu hal biasa yang tak akan berdampak apa – apa. Senja pun tanpa dirasa melambai di tepi pantai, kara duduk sejenak karna sedikit lelah berlarian sambil ditemani Bagaskara yang mulai redup, lalu ia pun pulang.
....
Di ruang tamu, kara bersama keluarga menonton tayangan televisi. Sambil lalu menikmati tayangan Ia bertanya kepada neneknya.
“Nek tadi kara liat bambu kayak pagar di laut”
Sambil mengambil camilan di meja, nenek kara menanggapi pertanyaannya.
“oh itu, katanya itu untuk mengurangi jika ada bencana tsunami”
“eh ?, tapi kata guru kara biasanya Mangrove”
“iya kamu benar, tapi nenek juga bingung bahkan merasa aneh, karna nelayan buat lewat jadi susah dan seolah – olah itu jadi ada batas – batas tertentu, seolah akan dijadikan area milik pribadi, tapi nenek bisa apa dan nelayan lain pun juga tidak tau mau berbuat apa, mau ditabrak atau dilepas itu katanya milik pemerintah.” Ayah dan ibu kara yang mendengar itu berkernyit lalu ikut nimbrung.
“sudah berapa lama itu Bu ?” tanya ayah kara.
“sudah lama nak, sejak 1 tahun yang lalu”
“awalnya bagaimana Bu ?” tanya ibu kara.
“awal – awal ibu juga gak sadar, masyarakat pesisir pun demikian. Karna pertama yang ibu lihat adalah bambu – bambu tertancap tidak biasanya, bambu itu tertancap lebih rapi dan seolah berbaris. Hari demi hari tanpa kami sadari berjalan, dan hasilnya seperti yang kara lihat di pantai tadi sore.”
Hening sejenak, ayah kara hanya menanggapi dengan bilang oh. Sementara nenek kara ke dapur lalu ayah kara melanjutkan bertanya kepada kara
“kara, kamu bilang ketika kita baru berangkat kamu melihat bambu yang berjejer lebih rapi dari biasanya?” , kara mengangguk.
Ayah dan ibu kara saling bertatapan. Ayah kara kemudian beranjak ke kamar duluan.
“ayah ke kamar dulu ya” ucapnya.
Di kamar, ayah kara terlentang di atas kasur berbantal tangan, ia sedikit merenung. Bagaimana mungkin seakan terdengar pencaplokan di perairan. Bukankah perairan itu tak boleh diklaim oleh satu pihak, dan harus ada izin bila ingin membangun sesuatu lengkap dengan surat dan sertifikat agar tidak ilegal. Apalagi sampai menghambat nelayan untuk mencari ikan sebagai mata pencarian. Lagi pula kenapa seolah – olah itu jadi kepentingan sepihak, tanpa memikirkan hak orang lain. Di samping itu juga kenapa tidak Mangrove saja untuk mencegah dampak bila ada tsunami. Tanpa terasa ayah kara tertidur.
....
Keesokan paginya, ayah kara menemui kades daerah tempat tinggal ibunya itu untuk bertanya perihal pagar tersebut yang ada di laut. Ia sendiri agak resah, karna bambu yang ada di rumahnya di kota mirip dengan asal mula terbentuknya pagar laut di tempat ibunya itu.
“Assalamualaikum pak kades”
“waalaikumussalam”, kebetulan kepala desa di sana sedang duduk santai di teras rumahnya
“Loh bapak, kapan datang ?”
“baru kemaren” sambil bersalaman.
“ada perihal apa bapak pagi – pagi sekali ke sini, apakah mau bikin surat pindah seperti dulu ?” tanya kepala desa tersebut. Dulu memang ayah kara sebelum pindah ke kota ia memang salah satunya minta bantuan ke kepala desa di situ.
“Oh tidak pak, ini perihal pagar yang di laut pak”
Mendengar itu sebetulnya dalam hati kepala desa sedikit resah. Karna tiba – tiba saja ada orang menyadari hal tersebut. Sejauh ini rakyatnya tidak terlalu peduli. Tapi kepala desa itu mencoba tenang.
“ oh itu, hanya program kecil – kecilan pak untuk pengembangan”
“tapi katanya para nelayan kesusahan pak dalam mencari ikan di area tersebut, seolah perairan itu dicaplok oleh seseorang “
Pak kades mendengar itu semakin bingung dan mulai keringat dingin, tiba – tiba dengan berpura – pura kades tersebut ditelpon seseorang.
“Oh iya pak sebentar ya pak, ini ada hal penting”
“silahkan pak”. Setelah beberapa menit kemudian
“Pak mohon maaf saya tidak bisa berlama – lama lagi, jadinya bapak mohon maaf tanpa maksud lancang bisa pulang, karna saya ada janji”
Ayah kara yang mendengar hal tersebut hanya mengangguk, “baik pak.” Dan dia pun pulang.
Di perjalanan pulang ayah kara sedikit merasa janggal, seperti ada yang aneh dengan hal tersebut. Pak kades kelihatan seperti kalang kabut ketika ditanyai perihal pagar itu. Sepertinya ini perlu diselidiki. Ya, ayah kara berencana untuk mengetahui lebih, apa yang sebenarnya terjadi.