Seorang anak datang kepadaku, sambil membawa sesuatu yang ada di genggamannya. ia berlari tergopoh gopoh. kakinya pincang. pikirku. tak sepantasnya ia tergesa gesa seperti itu. kemudian datanglah ia kepadaku sambil membawa sesuatu itu dan memberikannya kepadaku. “untuk kak qowim yang mau beranjak sekolah ke pesantren” ujarnya. rupanya itu adalah sebuah bulu babi. aku kemudian berterima kasih dan ia pun pergi.
aku mengingat sosok itu. reno namanya, ia bersekolah di SD satu satunya yang ada di tempat kami, ia tak punya ayah, ibunya bekerja sebagai pedagang ikan seperti kebanyakan ibu yang berada di tempat kami. aku ingat ia pincang karena kaki kirinya tertimpa sebuah perahu yang entah dari mana. ia punya adik yang masih kecil sekali. ia pernah berkata kepadaku “aku setelah lulus SD aku mau aku ikut ibu berjualan agar adik bisa sekolah”. begitulah kehidupan rata rata di tempat kami, lulus SMP saja sudah syukur.
aku kembali berbincang dengan teman temanku, 2 temanku sama sekelas denganku, kami sama sama kelas 6 semester 2 hendak lulus dari SD tempat kami namun kami berbeda nasibnya. aku untungnya bisa melanjutkan sekolah ke pesantren yang ada di ibukota, tidak terlalu cukup populer namun cukup untuk ilmu yang bisa ku dapat. bagas, setelah lulus ingin pergi dengan ayahnya sebagai nelayan sepanjang hari dan juga membantu di dermaga. sementara nurul entah apa yang akan dikerjakannya ketika lulus, pekerjaan orang tuanya berbeda diantara kami. ia tinggal di rumah neneknya namun rumah orang tuanya juga dekat di tempat kami. katanya rumah orang tuanya berisik dan ramai sekali, banyak orang orang berbadan besar dan yang berbadan kecil dengan tubuh penuh luka ada dirumahnya, “mengganggu” ujar nurul di suatu waktu itu.
kami bertiga biasa bersama dari pagi hari di sekolah, hingga usai mengaji di mushola tempat kami. kegiatan yang paling kami senangi adalah hari minggu dimana kami bisa bermain dimanapun dan kapanpun. bagas sangat berbakat di bidang akademik, aku menyayangkan dia mengapa ia tak lanjut bersekolah. aku sendiri setelah lulus dari pesantren dipesankan untuk menjadi orang yang lebih baik dan bernasib bisa kerja di gedung tinggi di ibukota.
mimpiku untuk menjadi seorang insinyur pesawat terbang sangat gemilang jikalau aku jadi bersekolah di pesantren. aku selalu melihat pesawat melintas di udara sambil mendongakan kepala ke atas. ku lihat dari bawah aku berpikir pesawat pesawat itu bergerak terlalu lambat, aku ingin ketika aku menjadi insinyur pesawat terbang aku akan membuat pesawat pesawat itu sangat cepat sehingga orang orang yang melihat jika sekali saja berkedip maka ia akan kehilangan pandangan pesawat itu.
aku kembali kerumahku yang memang sangat dekat dari tempat kami berkumpul sehingga aku yang lebih cepat berpisah dengan mereka. sesampainya dirumah aku bertemu ke 2 adikku yang sedang tidur tiduran. aku segera mengecek meja belajarku. ayahku suka menaruh majalah majalah harian yang mungkin sudah terbit dari 3 hari lalu namun baru sampai di tempat kami yang memang jauh terpelosok walau masih wilayah dekat ibu kota. majalah majalah itu tentang majalah pengetahuan, aku tau adanya pekerjaan insinyur pesawat dari majalah majalah itu. aku membaca setiap kata dari halaman halaman majalah itu dan menggunting setiap topik yang menarik menurutku kemudian ku tempelkan ke sebuah buku khusus untuk aku menyimpan potongan potongan topik itu.
usai membaca, aku bersegera mandi dan kemudian berpakaian rapih untuk ke mushalla. aku ke mushalla bersama ayahku yang juga ingin beribadah disana, usai sholat maghrib seperti biasa aku mengaji bersama teman temanku dan pulang setelah usai sholat isya. ayahku menjadi ustad yang mengajari aku dan teman temanku yang mengaji di mushalla. ayahku memiliki kehidupan yang menurutku sempurna, ia mendirikan koperasi bagi nelayan dan menjadi ustad di waktu yang sama. ia menghidupi kami dari hasil bekerja di kantor dermaga dan SHU koperasi untuk tambahan lainnya. sementara perannya menjadi ustad merupakan amalan yang dilakukannya secara ikhlas.
hari minggu aku bersama ayahku pergi ke pesisir untuk mencari ketenangan, kemudian tak lama seorang kenalan ayah menghampiri kami seraya berkata “bapak, gawat pak, laut kita di pagari”. ayah terkejut. waktu itu juga kami segera pergi ke wilayah lain pesisir yang dimaksud. aku melihat tak jauh dari mulut pantai, laut dipagari oleh kayu kurus memanjang hingga ke ujung. aku belum melihat dimanakah ujungnya, namun para nelayan menemukan ujungnya sehingga mereka perlu berjalan lebih banyak lagi untuk memutari pagar lau itu.
sebulan setelah kejadian tersebut, aku mendengar nuru akan pindah dari kampung. aku tak percaya, aku menghampiri rumahnya. kosong. itu yang aku dapatkan. aku sedih. mengapa ini terjadi. tetangga nurul menjelaskan, nurut pindah ke kampung halamannya, ayahnya tak sanggup berlayar lagi. pagar laut gila.
sementara aku keadaannya berbanding terbalik, para nelayan semakin membutuhkan koperasi saat ini. mereka butuh bensin lebih untuk memutari pagar laut agar bisa berlayar menuju tempat dimana ikan bisa dipancing. pendapatan koperasi makin hari kian makin naik. SHU yang ayah dapatkan sangat melimpah.
namun, banyak juga nelayan yang memutuskan mundur diri dari pekerjaan nelayan. gaji tak menentu. pengeluaran tiap harinya besar. mesti melewati rute lebih jauh. penghasilan SHU juga makin lama makin menurun walau jumlah yang didapati besar. sementara ayahku kondisinya aman karena ia adalah pegawai negeri di dermaga.
sampai akhirnya aku mendengar kabar bahwa reno, si kaki pincang, dan ibunya, meninggal dunia. alasan dibalik mengapa mereka berdua meninggal karna ibunya sudah tidak mampu lagi menemukan ikan dengan harga murah untuk dijual yang mengakibatkan mereka tidak mendapatkan penghasilan selama berbulan-bulan dan memakan makanan yang tidak bergizi. sementara adiknya yang ditinggali kini terpaksa kami serahkan ke panti asuhan jauh dari kampung. tidak ada yang sanggup menghidupi.
kami memprotes akan adanya pagar laut ini. ini laut negara. bisa dinikmati bersama. kami sudah melaporkan kejadian ini kepada kepala kampung dan desa setempat. namun mereka tak bisa apa apa, ini bukan ulah mereka, sudah dicabuti malah ditanami lagi oleh orang orang yang tidak kami ketahui.
ibuku menghampiriku di sore hari, “nak, siapkan barangmu, “kita akan pergi” ucap mama. aku terkejut. mana mau aku pergi. aku bertanya
“mengapa ma”
“ayah pindah tugas”
“kalau ayah saja yang pindah apa bisa? saya tak mau”
“kemasi barang barangmu”
aku tak bisa mengelak, ibu tak bisa dilawan. aku menuruti ibuku. aku mengemasi barang barang yang aku perlu. aku akhirnya menuju mobil yang akan membawa kami pindah dari kampung ini.