Kebebasanku direnggut mereka. Benarkah kebebasan itu pernah ada. Ah, aku sudah lupa. Mungkin sedari awal, itu hanyalah angan yang tak berwujud. Dan angan itu tidak pernah sampai. Katanya kebebasan itu bertalian dengan batasan. Bukankah itu sedikit aneh, bukan kebebasan namanya kalau ada pembatas. Ah, tapi tanpa pembatas manusia tidak pernah bisa merasa puas.
Entah sejak kapan tikus itu pandai berenang. Gara-gara mereka lautku tidak lagi biru. Mungkin penjagaan makanan di darat makin ketat. Membuatnya nekat menyeberang ke tengah lautan. Pasti kematian menjadi pemutus jalan, menghentikan ketidakpuasan hati ini.
Napas ombak mulai beringas. Hantamannya mulai menyakiti gendang telinga. Mulanya ombak tidak seganas ini. Banyak kapal yang sudah dihancurkannya. Ombak tidak lagi bisa ditunggangi. Semua berubah semenjak ada tembok raksasa yang menjulang tinggi. Orang sini menyebutnya Istana Laut. Tembok yang menghalau kapal. Tidak sembarang memberi izin lewat.
Entah jin mana yang dipekerjakan. Seolah istana ini jadi begitu saja. Katanya para pekerja membangun di saat pejabat tertidur lelap. Tidak ada yang menaruh curiga. Tahu-tahu sudah jadi. Tidak logis memang. Dan itu juga bukan sesuatu yang mengejutkan. Warga sini sudah terbiasa dengan kebijakan yang tidak biasa. Tanpa paham maksud dibangun di tengah lautan yang tertidur. Mereka melakukan keseharian seperti biasanya.
Meski dibangun dalam beberapa malam. Meski dibangun dalam kesederhanaan. Pembangunan istana berlatar kemegahan lautan telah selesai. Ini adalah istana pertama yang dibangun di atas lautan dalam. Sebagai orang luar pulau, cukup mengejutkan menyaksikan fenomena ini. Benar-benar di luar nalar. Pembangunan yang benar-benar lancar. Seolah tidak ada yang dirugikan di sini. Benarkah demikian.
Istana sederhana ini air menjadi alasnya. Dan langit menjadi atapnya. Sedang tembok-tembok bambu yang runcing menjadi dinding, pintu, dan jendela. Mereka memelihara ombak dengan mempertahankan kecepatannya. Tujuannya sederhana, menyapu, menghalau, dan mengusir tamu yang tidak diundang.
Istana itu dibangun di tengah perairan yang dalam. Dengan ukuran dan bentuk sudut yang tajam. Membuat ombak itu memantul. Dan dapat diarahkan. Bangunan ini juga dibangun berlawanan dari arah ombak datang. Posisi istana yang tidak sejajar dengan arah ombak. Menjadikan ombak itu tambah gesit dan liar.
Di pinggir lautan. Ada sebuah warung yang senang aku datangi. Menjadi tempat menghilangkan dahaga. Dan mempertahankan kewarasan di tengah keadaan yang gila. Warung yang menghadap ke arah lautan yang luas. Seluas hati pemilik warung ini. Begitu ramah dan pemurah, membuatku betah berlama-lama menghabiskan waktu di sini.
“Buatkan secangkir teh manis seperti biasa, ya, Bu Marin.”
“Airnya baru dimasak, Tang. Tunggu mendidih dulu, ya.”
“Oh gitu. Tidak apa deh. Ngomong-ngomong, katanya warung ini mau digusur, ya, Bu?”
“Benar Tang. Kata orang istana, mereka mau memperluas wilayah. Dan tempat ini menjadi sasarannya. Hari ini hari terakhir ibu jualan.”
“Kok kesannya aneh dan terasa janggal gitu, ya, Bu? Istana Laut itu kan sudah berdiri kokoh di tengah lautan sana. Bukankah harusnya tidak ada hubungannya dengan warung Bu Marin yang letaknya di pinggir ini? Mau seluas apa lagi wilayah kekuasaan mereka itu, Bu?”
“Entahlah Tang. Ibu juga tidak paham. Yang penting katanya mereka akan ganti rugi sebanyak satu juta lima ratus ribu. Sudah lama ibu tidak memegang uang sebanyak itu. Mungkin setelahnya, ibu akan hidup hemat berbekal uang pemberian istana.”
Satu juta lima ratus? Banyak? Hidup dengan uang segitu? Bahkan disebut sebagai kompensasi saja itu sangat tidak masuk akal. Lebih pas dikatakan bansos. Tetapi orang istana tidak sebaik itu. Belum lagi alasan penggusurannya masih tidak jelas. Ah, nampak desir ombak juga telah mencuci otak ibu penjual warung ini. Gumamku dalam hati.
“Kenapa Bu Marin tidak mencoba protes? Ibu rela membiarkannya begitu saja?”
“Tang, namanya kan takdir. Tuhan itu adil dalam membagi rezeki. Mungkin esok ibu akan mendapat kembali rezeki yang sebelumnya tidak pernah disangka. Kita dilarang berprasangka buruk kepada Tuhan yang sudah menciptakan keindahan laut ini. Percayalah, hari esok lebih baik.”
“Bu, kemarin ibu menyaksikan, kan?! Orang yang mengatakan Tuhan itu tidak adil, tidak berselang lama. Orang itu diadili oleh makhluk Tuhan. Mayat itu kembali ke sisi Tuhan dalam keadaan tidak bernyawa. Benar Tuhan itu adil. Tetapi manusia jauh dari sifat keadilan Tuhan.
“Bu buatkan secangkir teh es, ya!”
Dengan kesadaran penuh. Aku tahu siapa orang yang duduk di sampingku ini. Ia adalah satu di antara banyaknya orang yang mendiami istana. Utusan istana, tepatnya duta kelautan. Jalan pikirannya tidak semewah jas yang dikenakannya. Dulunya aku menaruh rasa hormat ….
“Pak Asdar, kan?! Ingat aku gak. Sewaktu pertama kali merantau ke tempat ini. Aku langsung menemui Bapak untuk memperkenalkan diri sebagai pendatang. Bapak dulunya ketua RT. Sekarang pekerjaan bapak di tengah Istana Laut sana, ya, Pak.”
“Oh Lintang. Sudah hampir lupa aku denganmu ini. Benar. Sibuk sekali aku di sana.”
“Begitu ya, Pak. Oh iya, Bapak tahu tidak, alasan mau digusur warung ini?”
“Kurang tahu, Lintang. Sempat juga ditanyakan ke pimpinan pusat. Kata beliau, ‘terserah mau diapakan’. Wakil pusat juga sama, katanya kerjakan saja apa yang dipinta. Senada juga dengan perkataan wakilnya wakil pusat, kalau surat keputusan penggusuran sudah keluar. Mustahil ditarik kembali. Jadinya ya Bapak kerjakan saja tanpa tahu-menahu. Yang terpenting itu, kita sama-sama nyaman. Bu Marin sudah ikhlas menerima penggusuran. Kami juga sudah rapat, dan sepakat ganti rugi dengan uang yang sepadan. Susah loh mencari uang di zaman sekarang.
“Bapak tahu susah cari uang. Kenapa Bapak tidak telusuri lebih lanjut. Pasti ada alasan …”
“Ini Pak es tehnya, ini Tang teh hangatnya.” sela Bu Marin.
“Jangan apa-apa langsung emosi, Tang. Benar seperti yang disampaikan mantan ketua RT kita ini. Hidup itu Tang tidak selalu seperti apa yang kita mau.”
“Tapi Bu Marin, kita bisa mengusahakannya, ketimbang pasrah ….”
“Lintang, kamu belum makan kan? Bapak traktir deh. Khusus hari ini saja tapinya. Sebab besok penggusuran sudah mulai dilakukan.” Sebelum menutup mulutnya, Pak Asdar kembali bersuara, “Bu Marin, saya borong juga ya Bu jualan sisanya.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan dengan makan gratis, Pak!”
“Tang! Jaga sikapmu dengan yang lebih tua! teh hangat yang kamu minum ini adalah keberuntungan. Setelah air mendidih, api gas tidak lagi menyala. Sekarang minyak gas sudah langka loh Tang. Jadi kamu harusnya bersyukur. Bersyukur karena diberi makan gratis itu.”
“Terima kasih Pak Asdar.” sambung Bu Marin.
“Maaf Pak Asdar.”
“Bapak terima maafmu Lintang.”
Tampak tidak ada lagi usaha yang membuahkan hasil. Biarlah. Biarkan saja. Aku sudah tidak peduli lagi. Seperti ini juga tidak apa. Sepertinya aku saja yang terlalu memikirkannya. Esok, setelah uang satu koma lima Ibu Marin habis, mungkin aku akan menghibur kesedihannya. Benar ternyata kesadaran itu amat sulit dibangun. Biar kehidupan saja yang menampar, membangunkan jiwa yang dipaksa tidur.
***
Pergusuran selesai. Dan Bu Marin juga telah selesai menjalani umur panjangnya. Inikah maksud perkataannya kemarin. Berprasangka baik kepada Tuhan. Dan ia tidak perlu lagi menjalankan umur dalam roda penuh derita. Beliau sedikit keliru, tidak ada rezeki hari esok. Uangnya langsung habis hari ini. Dan Tuhan memanggilnya kembali ke tempat asal. Ternyata ini hari esok yang ia maksud. Satu koma lima juta sudah lebih dari cukup untuk biaya pemakamannya.
Jadi sebenarnya kebebasan seperti apa yang kuimpikan itu. Mimpi itu tidak pernah terbangun. Sebab malamku selalu terjaga, menatap ombak yang memainkan kehidupan. Dasar ombak penjilat, sepatu anggota istana dijilatnya sampai mengkilap.
Lokasi Istana Laut yang di tengah, membuatnya tidak terjamah. Aku hanya melihat siluet dansa yang tidak berirama. Kecil sekali, sekecil kehidupan ini. Tentang tujuan pergusuran itu, siapa yang tahu. Siapa yang peduli. Kehidupan terus berlanjut. Waktu begitu berharga jika dibuang memikirkan warung yang telah kehilangan pemiliknya.