Thursday, March 13, 2025

Cerpen Pagar Laut | Muhammad Faisal Akbar | Serepih Senja di Bawah Laut


Langit sudah gelap. Angin berembus rapat, menyebabkan ombak bergulung tanpa irama yang beraturan. Sementara itu awan berkerumun di atas sana, menyisakan secercah cahaya bulan dari sela-selanya. Di bawah pendar itu, aku melihat samar-samar kehebohan yang ada di selingkung.

Aku adalah salah satu dari sekian banyak kawanku yang terombang-ambing di lepas pantai ini. Jauh dari daratan. Jauh dari rumah. Rasanya seperti diculik, dipisahkan dari keluarga, dibuang macam pesakitan. Namun, yang lebih merisaukan ialah kenyataan bahwa aku tak tahu kapan ini akan berakhir. Dan aku sungguh marah.

Padahal, aku sebelumnya cukup bahagia. Maksudku, betul-betul tenteram. Hidupku sudah lebih dari apa yang aku minta; berpijak di tengah lapangan sekolah untuk mendukung jalannya upacara bendera, atau berdiri tegak demi menopang tenda acara kawinan, hingga terpancang di pekarangan surau lalu digunakan orang untuk menyiarkan panggilan salat lima kali sehari. Meski terkena badai dan terik, siapa yang tak rela mengarungi hidup yang bermanfaat?

Namun, takdir justru menuntunku ke sini, ke tempat antah-berantah ini. Bukannya aku menyangkal takdir, tapi aku masih belum tahu alasan kenapa aku mesti terayun lunglai di atas geladak renyuk ini. Akibatnya, aku baru tersadar, betapa tubuhku kian menua dan lapuk. Aku tak mampu menghindarinya. Aku kadang berandai-andai, mengapa harus mendatangi wilayah asing hanya demi setangkup kebahagiaan? Kehidupan tak perlu dibuat repot. Bersahaja saja sudah cukup. Tak perlu berlebih-lebihan.

“Ayo, sekarang yang ini!” teriak salah satu dari mereka, orang-orang asing itu, yang sejak awal dengan giat memindah-mindahkan kami. Giliranku telah tiba.

***

Orang-orang ini sangat tak sabar. Seperti ada yang memburu mereka. Entah siapa. Entah apa. Tubuhku digotong dengan beringas ke buritan. Ada beberapa utas tali yang telah disiapkan untuk mengaitkanku dengan kedua kawanku yang sudah lebih dulu tercacak di sisi kiri dan kanan. Aku meronta-ronta, memberontak dengan susah payah, namun mereka tak mendengarnya. Alhasil, hanya bunyi kecipak air yang merebak.

“Byur!”

Tubuhku mulai basah. Licin seumpama belut. Meski sudah terbiasa dengan guyuran hujan lebat, ini tentu saja berbeda. Hanya tampak kerajaan air di sekelilingku. Aku mulanya bergidik. Menggigil. Ada kengerian yang meluap. Tapi, aku buru-buru mengingat petuah handai tolan.

“Tenanglah, laut tak seburuk itu.”

Mereka berkata bahwa laut mempunyai seperangkat keterampilan untuk merasa, untuk berbahasa. Aku mafhum, itu adalah kalimat penghiburan semata. Bisa jadi mereka hanya berseloroh. Namun kini aku perlahan mencoba mengamininya. Aku berusaha menangkap jalinan emosi sang laut walau kabur.

Awalnya, mereka bilang bahwa aku akan diterjunkan sedalam enam meter. Dan setelahnya, aku diminta untuk diam mematung selama mungkin. Sederhananya, menjaga perbatasan. Perihal antara apa dan apa yang saling dibatasi, aku akan mengutarakannya saat waktunya tepat. Demikian instruksinya. Tak lebih.

Tapi, astaga, aku terus menyusup ke bawah. Tiada alas untuk bertumpu. Melompong. Seolah-olah ada yang mengisapku. Efeknya pun bukan main. Sebagian kulitku mengelupas lantaran derasnya tekanan air, lalu hanyut dibawa gelombang bersama para lumut dan kotoran. Kali ini mulutku membisu. Aku belajar pasrah.

Menit demi menit berlalu. Aku terus tenggelam, meninggalkan kawan-kawanku beserta orang-orang itu, yang kian mengecil dan hilang dari peredaran. Namun demikian, pada satu momen, ketakutanku seketika lenyap. Sebab, percaya atau tidak, aku kini dapat menikmati alunan senja yang menawan sekaligus absurd. Ya, serepih senja di kedalaman laut.

Di wilayah ini, sinar matahari paling cerah sekalipun hampir mustahil untuk mendobrak masuk. Hanya sekelumit yang berhasil singgah, menghasilkan bayangan yang menciptakan garis-garis indah. Bahkan sudah tak terhitung lagi populasi jenis makhluk yang sukar ditemui di buku pelajaran. Bentuk dan perangainya aneh lagi mengerikan. Satu-satunya hal yang dapat meneduhkanku hanyalah senja itu.

Sejujurnya, aku merasa malu. Oh, betapa bodoh dan lugunya diri ini! Mengapa aku baru tahu bahwa senja juga dapat dijumpai di bawah laut? Kebanyakan orang tentu berpikir bahwa senja hanya dapat dinikmati di atas daratan. Tapi sekarang, usai pembuktianku ini, narasi itu salah besar. Kalau saja ada teknologi mutakhir yang mampu mengabadikannya, serepih senja ini niscaya menjadi lukisan bernilai miliaran dolar.

***

Kakiku masih terseret. Aku kian terbenam. Pertama kali merambah kawasan ini, senja itu mulai mempertontonkanku bermacam hal yang, bagi segelintir orang, tak patut. Semua ini sungguh di luar nalar. Malah terkesan gaib. Aku berani bertaruh, profesor oseanografi paling pintar pun pasti akan menggeleng-gelengkan kepalanya di depan papan tulis.

Mulanya, aku mendapati bangkai kapal yang teronggok di sebuah ceruk tajam. Umurnya boleh jadi ratusan tahun jika diukur dari model layar-layarnya yang sobek di sejumlah bagian. Lambungnya pun tampak keropos. Apakah ini kapal yang memboyong rempah ke tanah utara? Ah, malang sekali nasibnya kini. Bila saja disentil dengan dua jemari terlemah sekalipun, pasti hancur.

Lain cerita ketika aku iseng menengok ke dalam salah satu ruangannya. Suasananya bak istana. Di situ ada sebuah meja makan panjang berbahan kayu. Belasan lilin membakar taplak bercorak batik yang menutupinya. Namun kain itu tak kunjung hangus. Di belakangnya duduk selusin tuan dan nyonya yang asyik menyantap hidangan. Semuanya bersolek rapi. Berjas dan bergaun hitam menyala. Mereka tertawa terbahak-bahak seraya merangkul satu sama lain.

Yang lebih menakjubkan, di bawah pantofel mereka terdapat tulang belulang segar. Tengkorak manusia. Dan mereka sama sekali tak mengindahkannya. Mereka lebih memilih melahap kaviar dan anggur pekat dari ujung ke ujung, sembari meresapi asap dari pipa tembakau yang berkerubung. Soal mengapa bisa ada asap di bawah laut, jangan tanyakan padaku.

Ratusan meter berikutnya tak kalah ganjilnya. Selagi tubuhku terus tersedot, aku menyaksikan kehidupan ikan-ikan yang tak hidup. Mungkin setengah mati. Entahlah. Sebab, mereka tak membalas sapaanku. Aku juga nyaris tak dapat mengamati gerak-geriknya. Mereka terlihat lemau dan rikuh. Dari yang kucermati, mereka terlena dengan urusannya masing-masing, terlampau sibuk, tak peduli dengan sekitarnya. Seperti sedang menunggu sesuatu.

“Apakah ini warga negeri senja?” gumamku.

Aku masih saja menuruni laut, ibarat menjejaki tangga khayali, kian mendekati dasar. Cahaya makin menipis. Dan senja itu tambah cantik. Di antara bebatuan yang berkelip, aku menemukan jala yang tersangkut di sekitar terumbu karang. Kondisinya usang meskipun masih layak pakai. Ah, siapa yang menjatuhkannya? Sulit dimengerti jika benda itu sengaja dibuang. Bukankah itu sama saja dengan mencampakkan jiwa sendiri?

“Tolong sampaikan ini pada manusia-manusia keparat itu,” pekik sang jala tiba-tiba, “apakah mereka sudah tak membutuhkanku lagi?”

Aku tak serta-merta menanggapi. Selagi tubuhku terperosok, aku hanya tersenyum masam. Bagaimana aku memberi tahunya? Andai ia tahu, aku tak dapat mengontrol ragaku yang terus melesat ke bawah bagaikan rudal.

***

Senja itu tampak memudar. Binar elok itu, yang sedari beberapa jam lalu telah setia menemaniku, lambat laun sirna dari pandangan. Laut seakan hendak menyembunyikan dirinya dan menjadi pemalu ulung. Seiring dengan itu pula, aku terus melaju dengan pesat ke kolong bumi seraya memanjatkan doa dan sesekali sumpah serapah.

Keterasingan ini kian menggerogoti. Namun, di tengah sepi ini, aku justru menjumpai penampakan yang semakin garib. Apakah senja itu sedang menyuguhkanku salam perpisahan di penghabisannya? Aku tak begitu yakin. Yang jelas, dengan kesaksian ini, aku pasti akan dicap gila dan dungu. Tapi tak apa. Sejak tubuhku masuk ke dekapan laut, aku toh harus bersedia dengan segenap risiko yang muncul.

Semua itu bermula tatkala aku melewati pusaran air raksasa, di mana tubuhku serasa dipelintir dengan dua belah capit gergasi. Tak lama berselang, aku terlontar ke hamparan luas di mana tak ada lagi biota laut. Di situ, aku tak ubahnya seperti serpihan kecil di semesta air. Kini, yang ada di hadapanku hanyalah puluhan, ratusan, bahkan jutaan jasad nelayan yang terapung tak bernyawa.

Aku tak mungkin keliru. Aku dapat memandangi pakaian mereka yang compang-camping, rusuk yang mencungul, kulit yang memucat, luka iris di lengan dan pergelangan kaki, mulut yang separuh terbuka, dan bola mata yang membelalak. Aku juga mencium aroma anyir bercampur daging busuk yang menyengat. Tarikan di sekujur tubuhku sekonyong-konyong berkurang. Entah apa penyebabnya. Maka, aku berupaya sekuat tenaga untuk mengambang barang sesaat, lalu berenang di antara mayat-mayat itu.

“Ini bukan mimpi, mereka benar-benar mati!” bisikku pelan. Ragaku kebas.

***

Pada babak ini, aku sudah berada jauh di pelosok laut, pergi menjauh dari senja itu. Dan bersamaan dengan itu pula, timbul kesangsian dalam diriku. Aku kini mengimani bahwa senja adalah sebuah kutukan. Ada hal mutlak yang tercipta oleh senja bahkan di kedalaman laut sekalipun: ketidakpastian yang mematikan, yang membunuh. Senja tak lebih dari sekadar pergerakan dari terang menuju kelam.

Senja itulah yang mengantarkanku ke sini, menjebakku dengan keanggunannya, lantas minggat dan membuatku tak tahu apakah aku bisa kembali melihat sinar matahari atau tidak.

Aku tak masalah jika tak ada yang mengacuhkan kisah ini. Dianggap omong kosong pun aku maklum. Aku justru merasa hina menceritakan ini semua. Bayangkan saja, aku hanyalah sebatang tiang bambu yang hendak ditancapkan sebagai pagar laut yang memisahkan nelayan dan ikan, yang menceraikan manusia dengan hakikatnya, yang melanggengkan kebejatan di tanah tumpah darahmu lagi dan lagi. Bagaimana kau bisa langsung percaya?