Cerpen Dennis Satriani Ramadan
(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)
Aryo Jimi Pramudya, seorang nelayan yang tinggal bersama 4 adik dan ibunya di rumah yang berdinding rotan, Jimi sudah menjadi tulang punggung disaat usianya yang masih sangat muda, setiap hari Jimi bersama nelayan lainnya berlayar disaat orang-orang sedang tertidur dan kembali ke pesisir pantai saat matahari terbit, pendapatannya tak selalu sama, kadang kurang kadang cukup baginya jika upah yang diberi cukup untuk membeli makan keluarganya ia pun sudah sangat bersyukur, malamnya ia pergi ke tempat penjual nasi goreng langganannya, mas Pur nama penjualnya Jimi sangat akrab dengannya bahkan ia anggap mas Pur sebagai ayahnya karena mas Pur sering membantu keluarga Jimi disaat tidak mempunyai uang sama sekali
“Hari ini tangkapan gimane mas Jim?” tanya Mas pur
“Alhamdulilah, ya lumayan nih bisa buat beli nasgor porsi lumayan banyak”
Pintu terbuka, terdengar salam dari luar pintu lalu disambut hangat oleh Pandu adik kedua Jimi, Pandu sangat senang karena kakaknya membawakan nasi goreng favoritnya, nasi goreng spesial dengan sosis yang dipotong kecil-kecil, malamnya mereka menyantap nasi goreng bersama-sama, bercerita apa yang telah dilalui Jimi hari ini kepada adik-adik dan ibunya
Besoknya ia lakukan aktivitas sama yang sering ia lakukan yaitu menangkap ikan, namun suatu pagi di desanya digegerkan oleh sebuah kemunculan pagar misterius yang berada di pinggiran laut, para warga pun bertanya-tanya untuk apa pagar itu dipasang
Jimi diberitahu oleh temannya tentang pagar itu, Jimi pun menghiraukannya ia mengira bahwa pagar itu tidak akan mengganggu pekerjaannya sampailah Jimi ingin berangkat menangkap ikan pada malam hari, tapi tangkapan malam itu sangat kurang dari target yang biasa didapatkan, balik dengan perasaan kecewa yang ia pikirkan sekarang adalah keluarganya makan apa malam ini karena pendapatan hari itu sangat sedikit.
Bagaikan malaikat yang diutus ke bumi Mas Pur memberi 2 porsi nasi goreng dengan cuma-cuma, bersyukur sangat bersyukur karena masih ada orang baik seperti mas Pur, kembali kerumah dan menyiapkan nasi goreng di piring cap sabun cuci,
“Bu, kayaknya pagar laut itu meresahkan buat para nelayan” ucap Jimi
“Sepertinya iya, Pak Salim tadi juga bilang begitu ke ibu, beliau katanya susah buat keluar dari pagar laut itu harus bongkar pagar laut tu” balas Ibu
Malam itu, setelah makan malam yang sederhana namun penuh kehangatan, Jimi duduk di teras rumahnya, menatap langit yang bertabur bintang. Pikirannya melayang, memikirkan masa depan keluarganya. Ia tahu, hidup sebagai nelayan tidaklah mudah, apalagi dengan adanya "pagar laut" yang semakin membatasi ruang gerak mereka.
"Bang jim, kenapa melamun?" tanya Pandu, adik keduanya, yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Jimi tersenyum, "Gapapa, ndu. Abang cuma lagi mikirin bagaimana kita bisa mendapatkan ikan lebih banyak lagi."
“Memang kenapa bang?” Tanya Pandu
“Itu karena pagar sialan yang dibuat entah oleh siapa, merugikan para nelayan seperti abang jadi susah dapet ikannya, boro-boro dapet ikan keluar dari pager itu aja susah banget” Jawab Jimi
Pandu mengangguk seakan ia tahu tentang pagar laut misterius itu “Yaudah deh bang, Pandu mau tidur dulu”
“Loh, ada apa ini?” Tanya Jimi yang baru datang di pelabuhan desanya, warga sedang berkumpul melakukan protes pagar laut misterius itu, kepala desa menenangkan para warga dan nelayan yang sedang di puncak emosinya.
"Kami tidak akan pergi dari sini sampai pagar itu dibongkar!" teriak seorang ibu dengan suara lantang.
Suasana semakin tegang. Petugas keamanan mulai bersiap siaga. Namun, para nelayan dan warga desa tetap teguh pada pendirian mereka. Mereka bersatu, bahu-membahu, menunjukkan kekuatan mereka sebagai komunitas.
Jimi, yang berada di barisan depan, merasakan semangat perjuangan yang membara. Ia teringat akan keluarganya, akan adik-adiknya yang kelaparan, akan ibunya yang khawatir. Ia tahu, ia harus berjuang, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk masa depan mereka.
Tiba-tiba, seorang reporter dari stasiun televisi lokal datang menghampiri kerumunan. Ia mewawancarai Pak Salim dan beberapa nelayan lainnya, merekam keluhan dan tuntutan mereka. Berita tentang aksi demonstrasi itu pun segera menyebar, menarik perhatian masyarakat luas.
Keesokan harinya, berita tentang "pagar laut" dan aksi demonstrasi warga desa menjadi berita utama di berbagai media. Masyarakat mulai bersimpati dengan perjuangan para nelayan. Tekanan publik pun semakin meningkat, memaksa pemerintah daerah untuk mengambil tindakan.
Seorang pejabat tinggi pemerintah daerah akhirnya datang menemui para nelayan. Ia mengumumkan bahwa pemerintah akan membentuk tim investigasi untuk menyelidiki pembangunan "pagar laut". Ia juga berjanji bahwa pemerintah akan segera mengambil tindakan jika ditemukan adanya pelanggaran hukum.
Para nelayan menyambut pengumuman itu dengan hati-hati. Mereka tahu, ini hanyalah langkah awal. Mereka harus terus mengawasi dan memastikan bahwa pemerintah benar-benar bertindak.
Sementara itu, Jimi dan beberapa nelayan lainnya memutuskan untuk melakukan investigasi sendiri. Mereka mencari tahu siapa sebenarnya yang berada di balik pembangunan "pagar laut". Mereka menelusuri jejak-jejak proyek pembangunan, mencari informasi dari berbagai sumber.
Investigasi pun dilakukan oleh para warga dan tim Investigasi pemerintah, selang beberapa minggu hasilnya pun ditemukan, dugaan awal adalah perusahaan swasta A yang berada tidak jauh dari desa tersebut, petinggi perusahaan A tersebut diminta kejelasan tentang pagar laut tersebut, mereka membantah atas tuduhan mereka yang membuat pagar laut tersebut.
Putus Asa ada itulah yang ada dipikiran para nelayan yang ingin mencari keadilan untuk desanya. Pak Salim di telepon oleh salah satu utusan tim investigasi karena tim pemerintah telah menemukan dalang dibalik pagar laut misterius itu, Pak Salim langsung bergegas ke kantor investigasi bersama beberapa warga termasuk Jimi. Disana mereka dijelaskan dalang dibalik pagar misterius yaitu perusahaan swasta B, Disana mereka dijelaskan dalang dibalik pagar misterius yaitu perusahaan swasta B, belum jelas apa tujuan mereka membuat pagar tersebut.
"Perusahaan B?" gumam Jimi, keningnya berkerut. "Tapi, perusahaan itu bergerak di bidang apa?"
"Mereka bergerak di perusahaan Real Estate," jawab salah satu anggota tim investigasi. "Mereka memiliki proyek untuk memecah ombak dan mencegah abrasi."
Para nelayan saling berpandangan. Mereka mulai memahami, "pagar laut".
"Tapi, kenapa mereka tidak memberitahu kami?" tanya Pak Salim, suaranya penuh kekecewaan. "Kenapa mereka membangun pagar itu tanpa izin?"
"Itulah yang sedang kami selidiki," jawab anggota tim investigasi. "Kami akan mencari tahu apakah mereka melanggar hukum atau tidak."
Para nelayan merasa lega karena dalang di balik "pagar laut" telah terungkap.
"Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang proyek ini," kata Jimi, suaranya penuh tekad. "Proyek ini telah merugikan kita semua."
Bersama Pak Salim dan beberapa nelayan lainnya, Jimi memutuskan untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Mereka mencari informasi tentang perusahaan B.
Mereka menemukan bahwa perusahaan B memiliki reputasi yang kontroversial. Mereka sering dituduh melakukan proyek-proyek yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat lokal.
"Ini tidak bisa dibiarkan," kata Jimi, geram. "Kita harus menghentikan mereka sebelum mereka merusak laut kita."
Para nelayan memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan B. Mereka ingin menanyakan langsung tentang tujuan pembangunan "pagar laut" dan dampak proyek pemecah ombak terhadap lingkungan dan mata pencaharian mereka.
Pertemuan itu berlangsung tegang. Pihak perusahaan B bersikeras bahwa proyek mereka bermanfaat bagi masyarakat. Namun, para nelayan tidak percaya begitu saja. Mereka menuntut bukti dan transparansi.
"Kami tidak akan membiarkan kalian merusak laut kami," kata Jimi, suaranya lantang. "Kami akan berjuang sampai akhir untuk melindungi mata pencaharian kami."
Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan. Para nelayan dan pihak perusahaan B sepakat untuk melanjutkan dialog dan mencari solusi yang saling menguntungkan.
Sementara itu, aksi demonstrasi warga desa terus berlanjut. Mereka menuntut pemerintah untuk segera membongkar "pagar laut" dan menghentikan proyek pemecah ombak tersebut.
Tekanan publik semakin meningkat. Kepala desa pun akhirnya mengambil tindakan tegas. Mereka mengumumkan bahwa proyek pemecah ombak dihentikan dan "pagar laut" akan segera dibongkar.
Para nelayan dan warga desa bersorak gembira. Mereka merasa, perjuangan mereka telah membuahkan hasil. Namun, mereka juga menyadari bahwa perjuangan mereka belum sepenuhnya berakhir. Mereka harus terus mengawasi dan memastikan bahwa pemerintah dan perusahaan B benar-benar bertindak sesuai dengan janji mereka.
Jimi, dengan hati yang lega, kembali melaut. Ia melihat laut yang luas dan indah itu dengan tatapan penuh syukur. Ia tahu, laut adalah sumber kehidupan mereka, dan mereka akan terus berjuang untuk melindunginya.
Kembali ke rumah dengan hati yang senang dan membawa 4 porsi nasi goreng, Jimi memberi tahu ke ibunya bahwa pagar laut akan segera dilepas, dan berharap setelah ini pendapatannya segera membaik, semoga.