Cerpen Albi Faza Nadafa
(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)
“Pak… bapak bangun pak, adzan subuh sebentar lagi berkumandang.” Itu istriku yang sedang membangunkan ku, setiap subuh aku terkadang merasa lelah karena semalaman aku pergi melaut.
Hasil tangkapan hari ini sangatlah banyak, yang biasanya aku mengangkut 25 kg ikan laut saja, hari ini aku berhasil mengangkut 45 kg ikan laut. Saat aku dan kawan ku hendak memindahkan hasil tangkapan menuju tempat berjualan kami di pasar ikan, aku melihat 3 orang menggunakan jas hitam yang sedang mengitari pasar,
“Dul kau lihat 3 orang kota itu ?” Adul menggelengkan kepalanya sambil memeperlihatkan ekspresi yang tidak peduli, entahlah mungkin kawanku ini sedang lelah.
“Dul masa kau tidak melihatnya? Itu loh yang tadi di dekat kios pak Naha.”
“Tidak ji aku tidak melihatnya.” Ujar Adul kepadaku dengan nada yang sedikit ngegas
Ah aku paham Adul hari ini memang sedang lelah. Selesai menata ikan-ikan segar di kios, aku dan Adul berbincang tentang keadaan kampung, aku sudah 4 kali melihat ketiga orang kota itu, bajunya sama, wajahnya sama, dan ketiganya selalu membawa buku kecil dan pulpen yang mengait di saku dada jas mereka. Bukankah membingungkan ada 3 orang kota yang bolak balik ke pasar dan saat pulang tidak membawa satupun tangkapan laut masyarakat kampung disini.
Sehabis solat isya, aku dan istriku makan bersama di ruang tengah, makan malam seperti biasanya, menu ikan bakar hasil tangkapan ku.
“Pak apakah kau tahu ? pa RT kemarin menemui orang kota yang bapak pernah ceritakan itu?”
“Berbicara apa pak RT dengan orang kota itu?”
“Tidak tau pak, aku hanya melihatnya dari jauh, saat hendak membeli sayur”
Aku sebenenarnya tidak terlalu peduli dengan orang kota itu, tapi entah kenapa setelah mendengar istriku bercerita, aku menjadi penasaran, apa yang diobrolkan oleh pak RT dengan mereka.
Malam ini Adul mampir ke rumah, jarang sekali dia mampir ke rumah, kecuali memang waktu nya melaut. Saat datang ternyata dia ingin bercerita sesuatu. Tak terasa sudah 1 jam aku dan Adul mengobrol, banyak sekali yang kami obrolkan tadi, terutama tentang kampung ini.
“Baiklah ji waktu sudah malam, aku pulang dulu”
“Ah kau dul buru buru sekali, takut istri kau?” sambil bertanya, aku menunjukan ekspresi wajah yang meledek.
“BAPAK, MASUK RUMAH SUDAH MALAM INI”mendengar itu aku gelapan, akupun langsung masuk ke rumah.
“Ji ji siapa sekarang yang takut istri?” Kesal sekali rasanya, baru saja aku meledek malah aku sekarang yang terlihat takut kepada istri.
3 hari setelah aku terlihat sebagai suami yang takut kepada istri. Aku dan Adul pergi menemui pak RT untuk mengobrol bersama di depan teras masjid. Aku bosan sekali jika sudah mendengarkan pak RT berbicara, dia selalu saja menceritakan cerita yang sama. Mungkin sudah 5 kali aku mendengar nya.
“Pak, bagaimana persiapan tanding bola dengan kampung sebelah?” aku sengaja mengalihkan topik pembicaraan, agar pak RT berhenti bercerita tentang masa muda nya.
“Aman saja ji anak anak sudah aku siapkan, tadi sore mereka juga sudah berlatih.” jawab pak RT
“Baguslah pak, semoga kampung kita bisa menang.”
“Pak RT, apakah kau mengetahui siapa 3 orang kota yang sering mengunjungi pasar?” Tiba tiba saja Adul mengalihkan topik pembicaraan, namun pak RT tidak menjawab, aneh sekali, setelah mendengar pertanyaan dari Adul pak RT langsung berpamitan kepada kami.
selesai mengobrol dengan pak RT aku masih bingung kenapa pak RT tidak menjawab pertanyaan Adul, bukankah itu hanya pertanyaan sederhana? Rasa rasanya ada hal yang pak RT sedang sembunyikan.
“Dul bagaimana kondisi kios.” Tanyaku pada Adul
“Aman ji, aku sudah membersihkan bangkai tikus nya.” Jawab Adul dengan yakin
Sepulang mengobrol dengan pak RT aku dan Adul menyempatkan diri mampir ke kios, kebetulan jarak dari masjid ke pasar sangatlah dekat. Saat sampai di kios aku dan Adul terkejut sekaligus mual ketika melihat ada bangkai tikus persis di depan kios. Masalahnya, setiap aku melihat bangkai, khususnya tikus perutku sangatlah terasa mual, makanya pada saat itu juga aku izin pamit pada Adul.
“Dul aku pulang duluan ya, perutku mual sekali, oiya Dul jangan lupa, tolong bersihkan bangkai tikus itu.” Aku lekas meninggalkan Adul, dan langsung menuju ke rumah untuk menyelesaikan urusan perutku.
Hari melaut pun tiba, seperti biasa aku dan Adul menyiapkan peralatan melaut seperti, Perahu, bahan bakar, dan yang pasti jaring ikan andalan aku dan Adul. Aku berdoa semoga hasil tangkapan kali ini bisa sama atau lebih seperti hasil tangkapan 5 hari yang lalu. Namun hal tak biasanya terjadi baru saja perahu berjalan beberapa meter, tiba tiba perahu menabrak bambu.
“Dul coba kau lihat kita menabrak apa ?”
“Bambu ji, aneh sekali siapa coba yang memasang bambu di tengah laut.” Jelas Adul sambil memegangi senter di tanganya.
Karena tidak ingin terjebak terlalu lama, aku dan Adul mencari jalan lain dengan cara mencoba memutari bambu bambu tersebut. Selama memutari bambu bambu, aku meminta kepada Adul untuk menyenteri bambu bambu tersebut. Dan ternyata sudah banyak bambu yang terpasang dengan tegak, jika diperhatikan bentuknya seperti pagar di tengah laut.
Saat matahari terbit, ia menari di ufuk timur, menyapa dunia dengan cahaya yang lembut, mengajak hati untuk mulai bermimpi lagi, menatap langit penuh harapan. Awalnya aku berpikir seperti itu, pagi datang harapan baru dimulai, namun harapan itu pupus.
Semua karena pagar bambu sialan itu, aku dan Adul terpaksa memutari pagar bambu untuk pergi ke tengah laut, bahan bakar yang harusnya bisa membawa perahu kami lebih jauh hanya bisa membawa beberapa meter, tidak seperti biasanya. Itupun berdampak pada hasil tangkapan kami.
ramai-ramai aku dan warga kampung bertanya kepada pak RT terkait pagar bambu di tengah laut itu. Pak RT hanya menjawab tidak tahu dan meminta para warga untuk tenang terlebih dahulu.
“Halo Mr.Kaloi, izin melaporkan, terjadi kericuhan di sekitar pasar.” Ungkap pak RT melaporkan situasi kepada Mr.Kaloi.
Mr.Kaloi adalah seorang pemilik perusahaan real estate termasyhur di negara tersebut. Proyek dengan dana miliaran bahkan hingga triliunan sudah menjadi makanan sehari hari Mr.Kaloi.
“Cepat selesaikan masalah itu, lakukan cara apapun, yang penting pembangunan pagar laut itu bisa selesai.” Tegas Mr.Kaloi kepada pak RT.
Pak RT sebetulnya sudah menduga apa jawaban yang akan dia dapatkan, maka itu pak RT pun sudah menyiapkan rencana apa yang akan dilakukan. Dan rencana itupun dilakukan.
Keesokannya aku melihat pemandangan yang sangat langka, aku melihat Adul sedang berbicara dengan orang asing, sepertinya itu orang orang dari stasiun televisi. Bukan main aku sangat terkejut dengan apa yang dibicarakan oleh Adul kepada pihak stasiun televisi tersebut.
“Ya pagar laut itu memang sengaja dibangun oleh warga sekitar, malah fungsi utamanya itu buat nelayan sini juga.” Jawab Adul setelah diwawancarai oleh pihak stasiun televisi
“Fungsi nya itu agar melindungi wilayah pesisir sini terhindar dari abrasi, dan juga bisa tuh dijadiin tambak udang.” Lanjut Adul dengan lihai menjawab pertanyaan pertanyaan.
Kecewa aku sungguh kecewa mendengar teman dekat ku berbicara seperti itu, semua yang Adul katakan adalah kebohongan, tidak mungkin kami warga pesisir membeli ribuan bahkan mungkin ratusan ribu bambu, belum lagi pemsangan nya, bagaimana kami memasang pagar pagar sialan itu ? di malam hari kami mencari ikan. Pagi, siang, dan sore kami berjualan di pasar. Dan coba bagaimana nelayan mempunyai uang sebanyak itu untuk membeli ribuan bambu dan tali, yang mungkin menghabiskan uang ratusan hingga miliaran rupiah. Sedangkan penghasilan sebulan kami saja hanya 1-2 juta rupiah saja.
Aku sudah terlanjur kecewa dengan Adul, dan aku juga bingung apa yang harus kulakukan, selama seminggu aku menunggu pihak berwajib membereskan urusan pagar laut tersebut.tapi nihil, itu semua tidak terjadi, yang terjadi malah semakin buruk, pagar laut itu semakin Panjang.
Sumber penghasilan ku mati, dan aku pun harus menghidupkan istriku dan juga anak yang sedang dikandung. Aku memilih keluar dari kampung untuk pergi ke rumah bapak, dan menjadi seorang petani jagung.