Saturday, March 15, 2025

Cerpen Lomba | Adima Aishasofia Diaz | Pesisir dari Fajar

 Cerpen Adima Aishasofia Diaz |



(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)  |


Di pinggir waktu sebelum pagi, Kembali lagi air dalam ombak mencoba untuk masuk ke pesisir. Mereka cukup tumpang tindih, tetapi aku yakin peisisir tidak benci ombak! Aku yakin pasir-pasir hanya merasa tergelitik oleh ombak kecil yang semalam kelelahan mengamuk karena dibakar hujan. Lalu angin menghantam percakapan mereka, membawa air dari tengah laut yang sudah lama ingin juga menyapa pesisir.


Pasir-pasir lama pasti juga senang melihat air laut lama yang datang dan pergi berkali-kali. Karenanya mereka biarkan dorongan ombak membawa air lebih jauh ke pesisir kering yang juga merasa panas.


Kemudian pagi akan dihancurkan, saat semua yang ada di pesisir mendapatkan waktu yang tepat untuk menandai sebuah hari baru.


Ah! Pagi ini masih menjadi pagi! Apakah akan ada ayam berkokok di Pantai ini? Apakah yang membangunkan para nelayan adalah ikan-ikan? Karena aku bisa bersumpah ikan-ikan di bagian sana baru saja melompat merusak batasan permukaan laut untuk melihat matahari yang menurutku terlihat seperti mendekap seluruh isi laut, dan menutup langit yang nanti akan menjadi biru!


Di depan wajah laut dan pagi yang mulai mengintip, rumah-rumah gelap masih tertidur dan pohon-pohon kelapa yang berjajar masih tertunduk menunggu ketukan dari pagi. Sampai akhirnya pasir-pasir akan mekar disirami matahari, dan bergulir membuka sebuah jalur panjang dari karpet emas. Ah! Untuk dinaiki jari-jari kakiku yang mulai mati rasa dan menunggu untuk disentuh! 


Dan disaat waktu dan tuntutan serta sumpahan untuk bekerja mengetuk pintu mereka, saat mereka melihat lampu di langit sudah diubah menjadi oranye keemasan, mereka akan bangun tersentak, seakan dikejut sebuah tegangan tinggi dan melompat dari tempat tidur mereka untuk mengejar waktu nyata yang tadi dihabiskan untuk mimpi.


Dibawah waktu ini ada batasan dari laut ke langit, dari pesisir ke laut, seorang dengan waktu, dan semua ini dengan langit. Tetapi aku rasa aku masih bisa merusak semua Batasan itu!


Dan di kemudian pagi, setelah jauh aku pergi dari pantai berangin itu, menuju ke rumah dengan mobil, melewati semua hal, seperti musim gugur yang menjatuhkan dedaunan beku, musim semi yang menumbuhkan terlalu banyak bunga tetapi bukan daun, musim dingin yang hanya bisa dihangatkan oleh sentuhan, dan musim panas yang membuat bayanganku lari dan terbakar, dimanapun mata dan hatiku dilemparkan, mereka akan selalu jatuh ke pantai berangin itu.


Karena itu aku lagi-lagi duduk di kursi pengemudi, membuat mobil ini berjalan ke arahmu. Turun ku laju menuruni reruntuhan badan waktu yang berkabut, untuk kembali ke tempat dimana pernah kutatap begitu lama, pernah kutulis, dan kuukir. Dimana hati kutinggalkan dan air mata kutangiskan.


Ah! Saat matahari membakar tepat di atas kepala ini! Kutinggalkan mobilku di sembarang tempat, aku yakin kau ini akan menjaganya! 


Kularikan kaki ini. Kulepas Sepatu yang membalut. 


Sampai kaki ini merasakannya lagi. Bulir-bulir yang menyangga dan membelai kulit dari seorang yang selalu merasa dilucuti di tempat yang jauh dari sini! 


Tapi tunggu! Dimana semuanya? 


Saat ku todongkan dan kuikat pandangan ini ke arah laut, tempat semuanya biasa menggelitik satu sama lain, di atas laut, Oh! bagaimana aku baru sadar! Laut tengah ditusuk sebaris pagar! 


Seratus meter di atas laut, ada bambu yang menusuknya! Apakah pertengkaran meledak selagi aku tidak disini?


“Ombak, air! Apa yang terjadi diatas laut itu?”  


“Oh! Banyak yang terjadi!” Jawab Ombak. “Ikan-ikan yang berjalan tegak seperti engkau, menusuk badan laut dengan bambu-bambu runcing itu!” Lanjutnya.


“Tetapi mengapa? Air, dimana kau?”


“Aku disini! Oh, ini buruk! Para kalian, mengira bahwa aku dan ombak menyakiti pasir dan seluruh pesisir!” Seru Air. 


“Tetapi apa kau benar-benar menyakiti pasir-pasir?” Tanyaku. Air menjawab dengan, “Persetanan! Tidak akan! Tetapi, memang benar pasir-pasir merasa sedikit kewalahan karena aku sedikit merasa ketambahan beban. Ah, beban yang kumaksud adalah sesuatu yang keras dan beberapa mengapung! Dan karena itu Pasir-pasir kering yang diujung mulai bisa menyentuhku yang dibawa ombak! Mereka benar-benar marah! Dan menambah garam di luka, pak tua nelayan di dekat sini juga terlihat sedih, karena ikan-ikan dijelaskannya sebagai ‘tidak se-semangat dulu’ dan pak tua nelayan juga tidak lagi mencari ikan disekitar mulut pesisir, tetapi sekarang di tengahnya!” Ujar Air.


“Ya, ya! Dan aku merasa sedikit mual… terutama sejak ada bambu-bambu itu disana! Aku selalu saja merasa keberatan untuk mendorong air mencium para pasir.” Lanjut Ombak. 


Ini buruk. Di ujung pantai-pantai, kukepangkan pandangan kepada bambu-bambu terang yang membentuk barisan pagar tegak yang masih bisa ditangkap oleh mata.


“Ombak, maaf aku tidak yakin bisa mencabutnya dari tubuh laut.”


“Suka atau tidak sedari awal kami juga tidak berharap kau bisa! Tidak apa-apa, ini semua salah aku dan air, dan mungkin ikan-ikan karena membasahi dan membangunkan pasir-pasir kering yang selalu tertidur.”


Ah! Tempat ini menjadi tidak lagi seperti surga sunyi yang pernah membunuh waktuku seharian! Semuanya menjadi suram. Para nelayan kelelahan, ombak serasa orang mabuk ombak, hubungan air dan pasir menegang, dan angin tidak lagi berbicara, ia sekarang bersumpah.


Karenanya lagi-lagi supir untuk mobil ini kujadi, dan disetiap ban berputar, semakin banyak dosa ku yang mengalir! Mengapa? Karena kucoba memcari tempat suaka lain dan meninggalkan pantai sakit itu! 


Oh! Ini buruk. Mereka memberi hati mereka, tetapi jiwa mereka yang kuinginkan. Terburuk, terburuk.

Satu hingga beberapa pagi kemudian aku akan kembali.


***


Di saat kabut-kabut waktu masih menutupi hari dari menjadi pagi, setelah gugur membunuh daun semi, aku disini. Di waktu yang masih menjadi pesisir fajar, aku kembali ke sini.


Indraku dilucuti oleh kubah besar yang mencuri cahaya, dari jendela mobil, belum bisa kulihat apa-apa dari pesisir itu. 


Sampai, kabut-kabut waktu menyerah, dan menyerahakan tugas menjaga hari ini untuk matahari. Dan saat itu, ombak yang membawa air lagi-lagi mencoba masuk ke dalam darat. Tetapi mengapa kali ini tidak ada yang menimpali satu sama lain? 


Kunaikan pasir-pasir menuju ke tempat air bergerak-gerak, disana, kulihat lagi ujung cakrawala. Masih banyak sekali bambu yang melukai lautan! 


“Laut menjadi sakit!” Sapa Pasir. 


“Sakit?”


“Oh! Banyak sekali yang terjadi! Laut membunuh! Ia membunuh para nelayan!” Teriak Pasir dengan panik. “Membunuh? Membunuh bagaimana, Pasir?” 


“Semenjak badan laut dangkal di tusuk oleh pagar-pagar itu, para nelayan merasa dibatasi, karena itu mereka pergi ke laut dalam untuk menangkap ikan-ikan. Dan saat itulah ombak dari tempat yang jauh merusak rantai lautan dan mengubur kapal-kapal nelayan itu dengan ombak! Kamu melewatkan banyak sekali kegundahan! Mereka juga menjadi sangat protektif dengan laut, tidak lagi diperbolehkan orang selain nelayan bermain-main di area ini!”


“Mengapa begitu? Bukannya itu salah mereka sendiri? Jika begini adalah adu domba antara lautan!”


“Tidak, tidak. Tidak semua mata dapat menangkap fajar seperti engkau! Tidak semua daun telinga dapat menangkap suara air yang sedang menggoda pasir! Tidak semua orang peduli dan menanyakan bagaimana hari laut berjalan! Mereka tidak dapat melihat apa yang akan didatangkan tindakan mereka, atau mereka hanya tidak mau berpikir! Dan saat hasil dari tindakan itu datang mengetuk pintu mereka, tidak ada waktu untuk membangun penyembuhan. Apalagi menyembuhkannya. Karena itulah mereka mengambil ketenangan yang dibuat sepersatu waktu dan bertahan seperdua waktu, daripada mencoba menyembuhkan dalam dua waktu dan bertahan selama tiga zaman! Oh! Semua ini terjadi!” 


Ah! Bagaimana ini bisa terjadi! Saat nanti sinar membangunkan nelayan, digusurlah aku! Tapi apa yang bisa kulakukan? Polisi? Dewan? Tidak, tidak!


Buntu-buntu… “Laut, Pasir, Ombak, Air, menurut kalian apa yang bisa kubantu?” 


“Maaf, kami juga tidak tahu. Mungkin ini adalah masa depan yang selamanya akan berjalan. Ikan-ikan tak akan lagi lompat mengintip sinar matahari, Tubuh mereka akan tertahan pagar-pagar itu. Batu-batu tak akan lagi berdiri dengan bangga dan dihantam ombak. Karena ombak telah dibunuh dan dikembalikan ke tengah bumi oleh pagar-pagar itu. Air tak akan lagi membawa rumput laut dan kerang-kerang. Karena yang dibawanya sekarang hanyalah ikan-ikan mati dan serpihan-serpihan bening. Dan hari baru yang membawa pagi tidak akan datang. Karena tidak ada yang bisa dirayakan lagi disini! Dan Laut tidak bisa melihat langit. Karena tubuhnya ditancapkan ke dasar dibawah, oleh mereka yang merasa seperti tuhan!”