Cerpen Aqilla Daffa Mahardika
(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)
Matahari sudah mulai tenggelam,selagi memancarkan cahaya yang berwarna keemasan yang kemudian dipantulkan oleh luasnya lautan,dengan angin yang tenang membawa deburan ombak kecil menyapa kapal kayu kecil milik adi,seorang nelayan sederhana yang sejak kecilnya sudah sangat dekat kehidupannya dengan lautan,pada sore itu adi tidak berlayar jauh,bukan karena kemampuannya tidak mumpuni,bukan juga karena kapalnya bocor apalagi hanya karena cuaca yang buruk karena sejatinya cuaca yang buruk sudah merupakan makanan sehari-hari bagi seorang nelayan tangguh seperti adi,melainkan ada hal yang lebih menyesakkan yaitu Pagar laut.
Dulu adi bisa berlayar sejauh yang dia mau,pergi ke wilayah biasanya dia mencari ikan,tempatnya biasa mencari nafkah,tapi sejak berdirinya Pagar setinggi dua meter itu berdiri tegak di tengah lautan seakan membuat kebebasannya terkekang oleh rantai tidak terlihat,nelayan nelayan kecil yang hanya memiliki barang barang sederhana sepertinya tidak bisa lagi menjala di tempat yang biasanya berlimpah,
adi pun kembali ke daratan bukan dengan ikan yang melimpah melainkan dengan wajah yang murung,sesampainya adi ke tepi pantai,nelayan nelayan lain sudah berkumpul di gubuk bekas tempat mereka biasa sering berkumpul setelah mencari ikan,wajah-wajah disana pun sama kusutnya seperti adi,
”bagaimana hasil tangkapan ikanmu adi?” tanya pak Abdul,salah satu nelayan tertua di kampung mereka.
“sama seperti sebelumnya pak,hampir engga ada sama sekali,ikan ikan pindah ke bagian lain dari Pagar itu”
Suasana di gubuk itupun makin suram,seluruh nelayan yang sudah melaut pun mengalami hal yang sama,bahwasanya hasil tangkapan mereka berkurang drastis sejak berdirinya Pagar dua meter itu didirikan
”kita ga bisa terus begini,bisa bisa kita mati karna kelaparan” kata budi,seorang nelayan muda yang sekarang mengepalkan tangannya karena marah
”tapi kita bisa apa?mereka bilang mereka punya izin sah dari pemerintah”sahut didit,dengan nada suara putus asa
bayu mengepalkan tangannya. “Kalau kita diam saja, besok lusa kita bahkan nggak bisa beli beras.”
Ditengah semua orang yang sedang kalut pikirannya,mereka semua tahu siapa yang bertanggung jawab atas berdirinya Pagar laut itu,sebuah perusahaan yang mengaku ingin “menata” dan menjaga ekosistem laut namun dibelakang semua yang mereka pikirkan hanyalah mereka sendiri,dan hasilnya pun berkebalikkan dengan janji janji yang diberikan,hanya kapal kapal besar yang diperbolehkan sementara nelayan nelayan kecil seperti mereka dibiarkan tersiksa dan mati kelaparan.
Keesokan harinya adi bersama beberapa nelayan lain mendatangi kantor pemerintahan daerah setempat untuk menyampaikan rasa keberatan mereka.namun bukannya keadilan yang ia dapatkan melainkan hanyalah janji manis.
“Kami akan menindaklanjuti laporan ini,” kata seorang pegawai dengan suara datar, tanpa benar-benar melihat ke arah mereka.
“Tapi, Pak, kami butuh solusi sekarang. Kalau pagar itu tetap ada, kami nggak bisa melaut!” desak Adi.
“Saya mengerti, Pak. Tapi prosedurnya harus kami jalani dulu.”
Adi mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu maksud pegawai itu: mereka harus menunggu, entah sampai kapan.
Keluar dari kantor pemerintahan, wajah-wajah kecewa para nelayan terlihat jelas.
“Sudah kuduga, nggak ada gunanya ngadu ke mereka,” gumam Budi kesal.
“Tapi kita nggak boleh menyerah,” sahut Adi tegas. “Kalau mereka nggak mau bantu, kita harus cari cara lain.”
Pada malam harinya Adi,Aldi dan beberapa nelayan lain nekat berenang menuju Pagar laut,dengan waspada mereka melihat dibalik Pagar laut,berharap menemukan jawaban atas keingintahuan mereka atas apa yang ada di balik Pagar.
Dan benar saja.
Dibalik Pagar itu,terdapat ikan ikan yang melimpah ruah,tak hanya itu mereka pun melihat banyak kapal besar yang sedang melempar jala dengan bebasnya seperti hanya merekalah yang memiliki hak untuk laut di indonesia ini,melihat hal itu membuat amarah di dada adi tumbuh dengan cepat,ini bukan lagi tentang sebuah Pagar yang menghalangi mereka tapi ini sudah menjadi simbol ketidakadilan.
Malam itu, Adi dan para nelayan kembali ke daratan dengan hati yang dipenuhi amarah. Mereka duduk di gubuk tua, memikirkan langkah selanjutnya.
“Kita nggak bisa diam saja,” ucap Budi dengan suara bergetar. “Kalau kita biarkan ini terus terjadi, kita bakal kehilangan laut kita selamanya.”
“Tapi kita harus gimana?” tanya Didit, masih dengan nada putus asa.
Adi menggenggam tangannya erat. “Kita harus buat suara kita didengar. Kalau pemerintah nggak mau dengar kita, maka kita harus bikin mereka mau mendengar.”
Budi mengangguk cepat. “Demo?”
“Lebih dari itu,yang akan kita lakukan bukan hanya sekadar demo kecil kecilan” sahut Adi. “Kita harus ajak semua nelayan dari desa lain. Kita tunjukkan bahwa ini bukan cuma masalah kita, tapi masalah semua orang yang hidup dari laut.”
Malam itu, mereka mulai bergerak. Adi dan beberapa nelayan lain menyusuri desa-desa pesisir, mengajak nelayan lain untuk bergabung dalam perjuangan mereka. Banyak yang awalnya ragu, takut berurusan dengan perusahaan besar dan pemerintah.Tapi ketika mereka mendengar bagaimana ikan-ikan dikurung di balik pagar dan hanya kapal-kapal besar yang boleh menangkapnya, kemarahan pun mulai membara.
Seminggu kemudian, ratusan nelayan dari berbagai desa berkumpul di tepi pantai. Mereka membawa spanduk sederhana yang bertuliskan: “Laut untuk Semua!” dan “Buka Pagar Laut!”.
Mereka berbondong-bondong menuju kantor pemerintahan daerah. Kali ini, mereka tidak hanya mengajukan protes dengan kata-kata, tapi dengan aksi nyata. Mereka menolak melaut, menolak diam, menolak tunduk pada ketidakadilan polisi bahkan sampai tentara pun turun tangan untuk menjaga kestabilan demo agar tidak ada korban jiwa yang berjatuhan dan tidak ada kerusakan properti .
Media media besar pun mulai meliput.Video para nelayan yang berdiri di depan pagar laut, berteriak meminta keadilan,ditayangkan di berbagai saluran tv nasional dan juga,mulai viral di internet. Mulai dari Masyarakat sampai influencer influencer terkenal serta tokoh politik membicarakan tentang hal ini,Tekanan publik pun semakin besar.
Akhirnya,pemerintah pusat turun tangan.Walaupun pada awalnya mereka menolak untuk mengakuinya pada akhirnya pun audit dilakukan.dan terbukti bahwasanya Perusahaan yang membangun pagar laut itu ternyata tidak memiliki izin yang benar. Lebih buruk lagi, mereka terbukti melakukan penangkapan ikan berlebihan yang merusak ekosistem.
Dalam waktu sebulan, pagar laut yang telah membelenggu kehidupan para nelayan itu pun akhirnya dibongkar,membuat para nelayan yang melihat proses pembongkaran pagar laut itu menangis bahagia.
Hari itu, Adi dan nelayan lainnya kembali berlayar. Kali ini, tanpa batasan. Tanpa rantai tak terlihat yang mengekang mereka.
Ketika jala pertama kali dilempar ke laut terbuka, Adi tersenyum.
Laut itu, akhirnya kembali menjadi milik mereka.