Thursday, March 13, 2025

Cerpen Lomba | Hammam Musthafa Prasha | Dewa Pagar Laut

 Cerpen Hammam Musthafa Prasha 



(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba) 


Pada suatu pagi yang cerah di desa terpencil yang jauh dari perkotaan, hiduplah aku disana bersama kedua orang tua ku di rumah kecil dekat pantai. Aku menjalankan rutinitas harian ku seperti membantu kedua orang tua, belajar, serta bermain bersama adikku seperti biasa. Aku pun juga makan sarapan untuk mengisi energi karena mau berangkat ke sekolah. Setelah sarapan, aku bersama adikku berpamitan kepada ayah dan bunda untuk berangkat ke sekolah.


Sekolahku cukup jauh dari rumahku sebab, jauh dari pantai namun tetap di daerah pedesaanku. Aku berangkat menggunakan sepeda dan memboncengi adikku yang duduk di belakangku. Namun, perjalanan yang panjang tersebut tidak membuatku bosan sebab angin yang sejuk selalu menyertai perjalananku untuk meraih kesuksesan serta pemandangan lautan yang begitu luas menjadikan wawasanku pun juga bertambah luas.


Lautan yang begitu luas pun juga memiliki batasan yang orang orang sering menyebutnya “Pagar Laut”. Selama perjalananku ke sekolah, aku sering bertanya tanya pada diriku sendiri “Apa ya sebenarnya yang ada dibalik pagar tersebut?”. Diriku sangat haus akan wawasan luas yang ada di balik pagar tersebut. Sepulang sekolah, aku selalu pergi ke tepi pantai untuk mengistirahatkan tubuhku dan selalu bertanya tanya kepada diriku sendiri dengan pertanyaan yang sama. Aku pun tertidur pulas, lalu aku bermimpi menjadi seorang dewa penjaga lautan yang dimana aku bisa menjelajahi berbagai dunia di luar sana melewati lautan yang luas.


Lalu aku pun terbangun dan terkaget saat melihat ombak yang begitu besar menghampiriku. Ditambah lagi orang orang pun terlihat sangat ketakutan. Aku yang berada di dekat tepi pantai pun kebingungan ingin melakukan apa. Sebuah ombak yang besar menerjang. Aku bertanya tanya pada diriku sendiri “Apakah dewa lautan sedang marah?”. Aku pun tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku pasrah dan berdoa saja kepada tuhan agar diberi pertolongan. Lalu, “Pagar Laut” di depanku seketika berubah menjadi pasukan malaikat pelindung.


Pasukan malaikat tersebut sangat besar dan membentang dari ujung ke ujung. Mereka bercahaya bagaikan cahaya yang tiada duanya dengan cahaya apapun. Mereka memiliki banyak sayap sekitar 100 lebih. Pasukan malaikat tersebut menghadang “Monster Ombak” yang sedang mengamuk tersebut. Si “Monster Ombak” pun berhasil di hadang dengan pedang dan tameng yang terbuat dari cahaya tersebut. Namun, tidak semudah itu pasukan malaikat tersebut menghadang. Serangan ombak yang berkali-kali lipat pun berdatangan.


 “Monster Ombak” tersebut menjadi lebih besar dari sebelumnya. Ia menjadi sebesar gedung pencakar langit. Aku hanya tercengan saja melihatnya. Tiba-tiba, di tanganku muncul sebuah cahaya yang amat terang. Terdengar pula suara seperti suara menggelegar berkata dari langit dan mengatakan “Wahai kamu yang sedang kebingungan, sesungguhnya kamu adalah kunci” ujarnya. Aku pun kebingungan apa maksud dari perkataan tersebut. Lalu aku berusaha memahaminya dan tiba-tiba aku berubah menjadi reinkarnasi dewa lautan yang kumimpikan sebelum semua bencana terjadi. Dengan segenap kekuatan yang aku miliki tersebut serta bantuan pasukan malaikat yang tadi aku pun berhasil menghadang seluruh terjangan “Monster Ombak” tersebut. Lautan pun menjadi tenang kembali, warga desa menjadi bahagia karena bencana tersebut berhasil dimusnahkan.


 Aku pun berubah kembali menjadi manusia. Namun, kekuatan cahaya lautan tersebut masih ada di dalam diriku. Langit pun berkata “Terimalah hadiah tersebut agar kamu terus melindungi orang orang sekitar dari segala bencana”. Aku pun berterima kasih kepada tuhan yang telah memberikan kekuatan untuk melindungi orang orang disekitarku. Aku pun menggunakan kekuatan tersebut untuk menjelajahi dunia luar sana yang ditanya tanyakan kepada diriku sendiri. Sampai saat ini aku masih melindungi dan menyelamatkan orang orang di seluruh belahan bumi sebagai sang dewa lautan atau pagar laut. 


Sebagai dewa pagar laut yang sudah diberi tugas ilahi, aku juga masih bisa menyempatkan waktuku untuk bermain bersama teman temanku serta menjalani rutinitas harian seperti biasa. Namun setelah menemukan semua jawaban dari pertanyaan yang diajukan untuk diriku sendiri, aku semakin bertanya tanya lagi pada diriku sendiri “Apakah diluar sana ada yang memiliki kekuatan seperti ini juga?”. 


Berhari-hari aku menjelajahi dunia lautan namun tetap saja belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Namun, pada suatu hari ketika aku sedang menjelajah, seseorang datang kepada ku dengan meluncurkan beberapa serangan menggunakan api. Dia menyerangku Secara bertubi-tubi dengan serangan beruntun. Awalnya, aku terkaget dengan serangan yang tiba-tiba datang begitu saja. Setelah itu, aku pun menyerang balik serangannya itu. 


Dia pun berhenti menyerang dan mengatakan “Hei, sepertinya kau adalah musuh alami temanku”. Aku pun kebingungan dengan pertanyaan tersebut “Apa gerangan yang dia katakan?”. Lalu langit berkata kepadaku “Dia adalah salah satu diantara Natural Disaster Demon dan dia adalah forestfire demon” ujarnya. Aku pun menyadarinya, ternyata dia adalah salah satu musuh bencana alam. 


Dialah yang membuat paru-paru dunia ini terbakar dan oksigen akan menipis jika tidak dihentikan. Aku pun bertindak secepat mungkin, bertarung melawannya dengan sangat sengit. Dengan kekuatan pagar laut ku, aku berhasil membuat dirinya kewalahan. Namun, aku belum berhasil mengalahkannya sebab, aku hanya bisa mencegah nya dengan cara membuat dirinya tersegel oleh pagar-pagar lautan ku. 


Lalu, dirinya berkata “hahahaha, aku sudah tau kau tidak bisa mmbunuhku” ujarnya. Lalu, dia berkata kembali “memang, pada dasar nya kekuatan para dewa Natural Defense hanya bisa mencegah kita saja hahahaha”. Langit pun berkata kepadaku “tidak usah dihiraukan, kekuatan para dewa Natural Defense memang hanya bisa untuk mencegah sebab membunuh bukanlah suatu keputusan yang adil” ujar sang langit. 


Setelah semua selesai, aku pun pulang ke rumahku untuk menemui keluargaku. Selama perjalanan, aku diceritakan oleh langit semua tentang dewa Natural Defense dan musuh alamnya yaitu Natural Disaster Demon. “kamu dan dewa lainnya sudah ditakdirkan untuk mencegah kekuatan para iblis tersebut”. Aku pun bertanya “siapa saja teman-teman dewaku itu?” lantas sang langit menjawab “dewa hutan, dewa atmosfer, dewa medis, dan dewa benteng” ujarnya.


Aku pun bertanya lagi kepada langit, “siapakah saja demon-demon tersebut?”. Langit berkata kembali “forestfire demon, earthquake demon, meteorite demon, disease demon, dan yang tidak bisa kalian kalangan yaitu ragnarok demon” ujarnya. Aku pun menganggukkan kepala menandakan bahwa aku sudah paham. 


Aku pun sampai di rumah dengan damai lalu kembali menjalani rutinitas harianku seperti biasa. Pada malam harinya, aku berbaring di kasur dan memikirkan siapa itu ragnarok demon sampai langit berkata tidak bisa dikalahkan kembali dan tiada yang tahu pula kapan ia datang. Aku pun berhipotesis bahwa kedatangannya ditentukan oleh takdir. Dan aku pun lelah lalu tertidur.