Cerpen Juli Prasetya
(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba) |
“Kau akan menyaksikan sebuah zaman. Zaman di mana langit akan dipatok sebagaimana tanah, dan laut dipagari seperti halaman rumah. Lawanlah orang-orang serakah yang tak tahu malu memasang patok & memagari laut itu. Berjanjilah padaku kau akan meneruskan jejakku, dan kau akan terus merawat laut ini. Meski laut ini tak pernah sekalipun memberimu sebiji ikan. Karena laut ini adalah kampung halamanmu, kampung halamanku”
***
Subhi masih tongkrong dengan perasaan dongkol yang tak terperi di atas jembatan pagar bambu semi permanen yang terbuat dari bilah-bilah bambu dan papan bekas. Jembatan itu memanjang di sepanjang laut, tempat biasa Subhi dan Warisun memancing. Joran pancingnya yang terus diam di hadapannya adalah bukti, bahwa laut seperti ingkar janji padanya. Padahal Subhi memiliki keyakinan yang nyaris seperti dogma. Bagi Subhi laut adalah rumah paling ramah bagi segala jenis ikan, kecuali ikan sepat & lele. Dan itu artinya laut sebagai rumah ikan sudah sepantasnya memiliki banyak ikan yang tinggal di kedalamannya.
Tapi lihatlah apa yang terjadi pada Subhi sekarang. Dengan pandangan iba dan nyaris putus asa, Subhi hanya bisa terus memandangi ujung joran pancingnya. Ia masih berharap bahwa ujung joran itu akan bergerak, meskipun ia tidak tahu kapan ujung joran pancing itu akan bergerak. Ia seperti tengah melihat gasing takdir di depannya berputar. Tapi ia tak pernah tahu ke mana arah takdir itu bergerak, dan kapan takdir itu akan menyentaknya. Joran itu masih diam, dan angin laut mulai bertiup pelan.
Dengan sedikit harapan yang menipis, dan rasa pesimis yang datang layaknya gerimis. Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu Subhi selama nyaris dua bulan ini datang juga, apa yang menjadi harapannya selama ini akan terkabul juga. Joran pancingnya tiba-tiba bergerak, bagi Subhi ini adalah sebuah keajaiban.
Andai saja joran pancingnya itu tetap diam bergeming, maka dapat dipastikan Subhi akan menjadi lelaki pantai yang akan melewati puncak kesialan yang dialami oleh orang-orang Salao-nya Hemingway. Nelayan dengan nasib buruk yang tak pernah mendapatkan ikan sama sekali meskipun hampir 52 hari memancing di laut. Salao itulah bentuk terburuk dari ketidakberuntungan, kesialan paripurna. Dan di hari ke 52 ini, setelah nyaris hampir dua bulan Subhi memancing, akhirnya Subhi melihat jorannya bergerak-gerak dengan begitu cepat dan galak.
Bagi pemancing berpengalaman seperti Subhi, yang hidup dan matinya hanya di laut dan sungai. Ia dapat menebak ikan jenis apa yang sedang memakan umpannya hanya dari melihat gerakan ujung jorannya.
“Cara ikan memakan umpan itu berbeda-beda, Sun” katanya pada Warisun suatu kali, saat mereka dulu memancing di sungai.
“Jika cepat dan seperti bermain-main, itu ikan kecil. Jangan diladeni kalau kau tak ingin malu hanya mendapatkan ikan sebesar jari kelingking” jelas Subhi sok tahu.
“Terus?” tanya Warisun dengan raut wajah serius, sambil terus menyimak kawannya itu memberikan penataran
“Jika joran terasa berat seperti tersangkut sesuatu dan bergerak-gerak. Nah itu patut diwaspadai” kata Subhi dengan mimik muka menakut-nakuti.
“Ikan monster-kah?” tanya Warisun penasaran.
“Bukan, itu pasti kepiting kali” kata Subhi sambil memasang wajah polos tak berdosa.
“Jembut” umpat Warisun yang begitu serius menyimak.
“Dan jika cara memakan umpannya begitu elegan, perlahan, dan tarikannya berat. Boleh jadi itu adalah ikan marlin Sun, wallahua’lam. Aku sendiri tidak pernah mendapatkan ikan marlin. Paling banter cakalang atau ikan tuna. Itu pun terjadi dulu bertahun-tahun yang lalu. Waktu aku ikut melaut bersama Mbah Sanarki. Pelaut tua paling handal di kampung laut ini” katanya.
Setelah joran pancing Subhi secara ajaib bergerak, ia segera memegangnya dan menggenggamnya erat-erat. Tarikan ikan yang dirasakan Subhi begitu kuat, sehingga membuatnya agak kewalahan mengatur posisi tubuhnya. Subhi kemudian meletakkan gagang pancingnya di sela-sela kedua pahanya. Dan menahannya. Perlahan ia memainkan jorannya, ia menarik ulur pancing. Dan ketika momentumnya tepat ia menarik jorannya dengan sekuat tenaga dengan kedua tangannya. Napasnya memburu, keringat mulai bercucuran dari dahi, leher, dan ketiaknya.
“Sepertinya aku mendapat marlin, Sun!!!” teriak Subhi kegirangan. Warisun yang melihat pertarungan Subhi dan sebuah ikan besar yang masih misterius itu hanya bisa ternganga. Saat ikan sudah berhasil ditarik menepi dan terlihat di permukaan. Tiba-tiba ikan mengamuk dan masuk ke sela-sela pagar bambu di dasar laut. Subhi tak akan mungkin melepaskan ikan itu. Namun sayang saat Subhi menarik jorannya kuat-kuat, tiba-tiba senar pancingnya terputus. Senar itu tersangkut di pagar bambu tempat ia berdiri dan membuat calon ikan tangkapannya itu kabur. Ikan besar yang selama 52 hari ini ia nanti-nantikan itu lepas begitu saja. Semua usahanya selama ini menjadi sia-sia belaka.
“Ikan kontol!!!” umpat Subhi nyaris berteriak. Atas segala kesialan yang menimpanya itu, Subhi kemudian melemparkan semua kekesalan itu kepada pagar bambu yang sedang dipijaknya. Dengan wajah merah padam, dan kemarahan yang muncul tiba-tiba entah dari mana. Subhi kemudian membanting jorannya lalu ia mengambil sebilah golok yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia kemudian mulai mengamuk membabibuta membabati pagar-pagar bambu hingga hancur tak karuan. Warisun yang melihat kelakuan kawannya yang kalap menghancurkan pagar laut itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tahu ia tidak akan bisa menghentikan kawannya yang sedang kesurupan itu, percuma. Sambil mengisap lintingannya dengan santai, Warisun hanya diam menyaksikan kelakuan kawannya yang sedang ngamuk.
Tidak sampai dua jam Subhi berhasil merubuhkan pagar bambu itu menjadi bentuk yang tak karu-karuan. Tapi kemarahan dan amuk yang dilakukan Subhi sebenarnya bukan lantaran ikan tangkapannya terlepas, atau senar pancingnya saja yang putus karena pagar bambu itu. Tapi juga karena Subhi teringat kepada pesan mendiang kaptennya dulu si Pelaut Tua, Mbah Sanarki sebelum mati dikeroyok oleh orang-orang tak dikenal saat ia melawan pemasangan pagar laut bertahun-tahun yang lalu.
“Kau akan menyaksikan sebuah zaman. Zaman di mana langit akan dipatok sebagaimana tanah, dan laut dipagari seperti halaman rumah. Lawanlah orang-orang serakah yang tak tahu malu memasang patok & memagari laut itu. Berjanjilah padaku kau akan meneruskan jejakku, dan kau akan terus merawat laut ini. Meski laut ini tak pernah sekalipun memberimu sebiji ikan. Karena laut ini adalah kampung halamanmu, kampung halamanku. Berjanjilah padaku kau akan terus dan benar-benar melawan mereka; orang-orang rakus itu. Ingat pesanku ini, jangan pernah takut pada apapun, pada siapapun, kecuali kepada orangtua dan Tuhan. Berjanjilah padaku suatu hari nanti kau pasti akan menghancurkan pagar laut itu, pasti kau akan menghancurkan pagar laut itu”