Cerpen Mahdi
(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)
“Bu, Joni berangkat dulu ya!”
Begitu ungkapku saat pamit keluar dari rumah di jam biasa aku pergi ke masjid. Tapi tidak seperti biasanya, aku tidak pergi ke masjid. Hari aku sudah janjian akan pergi ke laut. Hanya saja tidak seperti biasanya, agenda hari ini adalah kegiatan rahasia. Karena ini menyangkut keselamatan kampung kami.
Saat keluar dari rumah, tanganku merogoh sudut pagar di mana aku menyembunyikan sebuah kresek sore tadi. Di dalamnya terdapat gayung yang berisi sabun dan tali pramuka. Ini adalah item yang akan kami gunakan untuk melalukan misi Penyelamatan Ikan.
Semua bermula ketika pagi tadi ada kakak-kakak dengan jas putih datang ke sekolah kami. Mereka katanya dari PT. En yang sedang mengumpulkan petis. Kami gak tahu banyak mereka ngomong apa, tapi ada satu kalimat yang sangat penting. Yaitu pagar laut mengancam ekosistem laut. Artinya nanti itu bisa membuat hewan laut di wilayah pagar laut bisa mati membuat para nelayan tidak bisa mencari ikan lagi.
Sontak itu membuat banyak anak di kelas menangis, termasuk diriku sendiri. Aku masih mengingat bagaimana ayah kesulitan mencari uang ketika cuaca buruk. Selain tidak bisa melaut, ikan kami pun banyak yang jamuran dan busuk karena tidak kering-kering. Bahkan sampai sekarang kami masih punya hutang pada Pak Gito, pemilik kapal nelayan ayahku.
Setelah berjalan lima belas menit aku pun sampai di kawasan pantai. Di sana sudah ada Budi dan Noval yang sedang duduk di atas sebuah getek dari bambu. Getek itu adalah milik Budi yang biasa kami gunakan saat kami berenang di pantai. Getek itu adalah hadiah dari ayanhya setelah mereka selesai merenovasi rumah mereka.
“Mana Amdal dan Eska?” Tanyaku pada mereka.
Jadi kami sudah janjian berlima untuk membentuk party dalam menjalankan misi ini. Tapi ternyata menurut cerita yang lain, Eska tidak bisa pergi. Sementara Amdal akan menyusul setelah ia menyelesaikan PR-nya. Ya sudah, kami pun menunggu sampai Amdal datang.
Tidak lama seorang anak berkacamata datang dengan membawa sebilah bambu. Dia tentu saja adalah Amdal. Meski baru kelas 5 dia sudah memakai kacamata karena keseringan belajar. Dia juga yang merencakan misi ini setelah mendapat usulan dari party leader ini, yaitu aku.
Jadi aku mempunyai ide brilian. Kalau ikan-ikan itu bisa mati karena terkurung dalam pagar atau ayah dan teman-temannya tidak bisa mencari ikan, kami hanya perlu membuat lubang saja di pagar itu. Jika pagar itu berlubang, maka baik ayah, atau para nelayan bisa leluasa menangkap ikan di sana. Bahkan jika nanti wilayah itu pun di bangun, ikan-ikan bisa pindah lebih mudah.
“Maaf ya ges, lama” ucap Amdal.
“Siap ges gapapa” jawab kami serentak.
Singkatnya kami pun mereview barang bawaan kami lagi. Item dalam misi kali ini adalah satu getek, satu gergaji, satu botol air 1,5 liter, empat kresek, empat tali pramuka, dan tiga bilah bambu. Semua adalah peralatan yang sudah direncanakan dengan matang tanpa celah. Tingkat keberhasilan misi kali ini mencapai 90 persen.
Setelah mereview peralatan, saatnya kami menjalankan misi. Aku dan yang lain pun segera berganti pakaian dan mulai menjalankan getek ke arah laut. Tidak lupa demi keamanan kami mengikat pinggang kami dengan tali pramuka ke getek yang kami naiki. Budi duduk paling depan, diikuti Noval, aku dan Amdal. Aku duduk di tengah-tengah mereka, soalnya aku lupa membawa dayung.
“Oke gas!”ucapku semangat.
Tapi kami tidak bergerak. Ketiga temanku semuanya terdiam. Mereka nampak ketakutan. Aku pun baru menyadari bahwa di depan sana sangat gelap dan kami tidak ada yang membawa senter.
“Jon apa kita pulang aja ya?” Ucap Budi.
“Kau takut? Jangan jadi pengecut lah” ucapku mengompori.
“Heh kau enak duduk di belakang, kalau ada kuntil anak aku yang di serang duluan” balasnya sengit.
Seketika romanku pun berdiri. Aku pun juga jadi ciut. Untungnya kemudian Amdal membantu menengahi.
“Kalau ada kuntilanak tinggal baca ayat kursi.”
Jadinya kami pun berangkat sambil melantunkan ayat-ayat kitab suci. Sesuai kepercayaan kami tentunya. Setidaknya aku jadi tidak benar-benar berbohong kepada ibu kalau begini. Aku masih tetap pergi mengaji.
Tapi ternyata perjalanan misi tidaklah mudah. Belum lama mendayung, tahu-tahu ombak menggeser tubuh kami menjauh dari pagar. Awalnya hanya sedikit demi sedikit, Tapi lama-lama kelamaan semakin menjauh. Kalau kondisinya terang tidak masalah, tapi ini kondisinya gelap. Bisa gagal kalau begini terus. Masalah apa lagi ya Tuhan!
“Arrghh” gerutuku kesal.
Setelah itu kami pun terpaksa mendayung untuk kembali mendekati pagar. Dan agar tidak terbawa arus lagi, kami merambat dengan berpegangan menyusuri pagar. Satu jam kemudian akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Yaitu tempat di mana kami tidak bisa lagi melihat pantai. Tujuannya, agar aksi yang kami lakukan tidak ketahuan. Karena lubang yang tidak ketahuan tidak akan diperbaiki.
Noval pun bersiap melanjutkan proses berikutnya. Sebagai yang paling kuat di antara kami, Noval akan menggergaji bilah bambu untuk membuat lubang sesuai rencana kami.
“Bismillah,” ucap Noval.
Aku dan Budi pun saling pandang-pandangan. Kami merasa ada sesuatu yang salah. Tapi, perasaan mengganjal itu hanya sebentar. Belum ada satu menit sejak Noval mulai menggergaji, Noval sudah mengomel, dengan logat kasarnya yang biasa.
“Eh kupu-kupu! Pegangin dulu!”
Sambil mengomel badan Noval terlihat naik turun berlawanan dengan arah getek. Tapi bukan Noval yang bergerakn melainkan kami yang bergerak. Ombak yang naik turun gergaji tidak bisa menggesek bambu dengan benar. Jadi, Aku dan Budi kemudian berdiri dan berusaha mengurangi goyangan getek dengan cara memegang pagar.
Agaknya itu berhasil karena kali ini bambu bisa tergesek dengan benar. Tapi ombak menjadi lebih tinggi dari seharusnya. Badan kami sampai basah kuyup di buatnya.
“Kucing, Lumba-lumba!” ungkap Noval lagi-lagi
Kali ini, karena ombak besar datang mengagetkana kami. Sangking kagetnya, satu-satunya gergaji yang kami bawa pun sampai terlepas seketika tenggelam menuju dasar laut.
“Mission has failed!” batin kami hampir bersamaan.
Kami pun terduduk lemas, semua kecuali Noval tentunya. Noval tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Dia meledak! Dengan inflasi emosi yang tak terbendung, dia berdiri di atas getek dan mulai mengguncang bilang pagar itu dan menggoyangnya sekuat tenaga.
“Gajah!” Maki Noval.
Noval pun tidak bisa berhenti menggoyang pagar itu, Bahkan ketika pagar itu mulai goyah. Kami pun merasa pagar itu sebentar lagi akan copot. Benar saja, Tidak lama bambu itu copot dari tempatnya. Sialnya, kejadian itu datang hampir bersamaan terjangan ombak besar lainnya. Tidak kuat menahan cobaan, getek pun terbalik, bahkan kami sampai terlempar ke dalam air!
Untungnya kami semua bisa berenang. Berpegang dengan tali kami bisa kembali menuju getek.Tetapi lagi-lagi tidak dengan Noval. Noval yang kelihatan megap-megap di dalam air terlihat begitu jauh? Celaka! tali pramukanya terputus ketika getek terbalik sebelumnya.
Kami pun menjadi panik dan ketakutan. Untungnya Ambdal menyadari sebilah bambu panjang yang mengapung yang lebih panjang dari dayung yang kami gunakan. Bambu itu pun segera kami gunakan untuk menggapai Noval yang sedikit-demi sedikit semakin menjauh.
Untungnya Noval bisa meraihnya! Noval akhirnya bisa kembali menaiki getek lagi dan kami menjadi lengkap kembali. Tapi kami sudah lemas dan capek. Di tambah kami punya cuma getek dan bambu. Botol air dan gergaji sudah menghilang ke dasar laut. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan, aku pun memutuskan,
“Ayo kita pulang!”
Kemudian kami pun pulang. Dan semua ternyata berjalan seperti biasa. Tidak ada orang yang mencari, atau tangisan haru dan sambutan hangat. Hanya rasa haus dan lelah yang kami bawa dan mungkin ditambah sedikit rasa kecewa. Aku pun terpukul bahkan sampai terkena demam dan idak masuk sekolah untuk beberapa hari.
***
Beberapa belas tahun kemudian, aku termagu di sebuah beach club yang di bangun dekat kampungku. Pantai pasir putih yang warnanya terasa asing. Padahal seingatku, agaknya di tanah pasir inilah laut tempat dulu kami terbalik. Entahlah, mungkin aku salah. Baik tempatnya maupun suasananya terasa samar. Karena cerita itu tak pernah tersebar. Bahkan kegiatan kami pun tidak pernah diketahui. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Mungkin karena aku, Budi, Noval, dan Amdal terlalu malu menceritakannya. Bahkan ketika kami mungkin sudah dewasa. Atau hanya karena kami sudah tidak lagi bertegur sapa jadi tidak lagi tahu perkembangan cerita kami tersebut.
Tapi, jika cerpen ini terbaca oleh mereka yang entah di mana. Pesanku untuk mereka mungkin hanya sederhana. Hari itu operasi kami sebenarnya tidak sepenuhnya sia-sia. Hanya saja, rencana kami lah yang bodoh. Untungnya, takdir ternyata membawa hasil yang lebih baik. Sebuah lubang yang kami rencanakan tidak lebih baik dari pada mencabut akar masalahnya.
Lalu jika kalian sempat berkunjung ke beach club di kampung kita, jangan lupa memesan dan meninggalkan tip untukku.