Thursday, March 13, 2025

Cerpen Lomba | Nanda Fridiani Bintoro | Pagar Laut dan Ombak Perlawanan

Cerpen Nanda Fridiani Bintoro 



(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)  


Matahari perlahan mulai memudar di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang membalut langit dan berkilau lembut di atas laut yang tenang. Namun, bagi warga desa pesisir, keindahan itu tak lagi menenangkan. Setahun terakhir, pagar bambu raksasa sepanjang 30 kilometer membelah laut, menutup harapan para nelayan yang selama ini menggantungkan hidupnya. 


Di tengah deru ombak yang pelan, Rama seorang anak nelayan berusia lima belas tahun, duduk diam di atas perahu kecil milik ayahnya. Jaring di tangannya terkulai, jarang terpakai sejak pagar bambu itu berdiri, membuat penghasilan keluarganya terus menipis.


Sementara itu, dari kejauhan seorang gadis dengan jas almamater biru dan tas ransel coklat melangkah menyusuri dermaga. Dyandra Aurelia yang biasa di panggil Dian, seorang mahasiswi jurusan Kesehatan Lingkungan yang datang untuk meneliti dampak pencemaran air laut di desa itu. Isu tentang air yang berubah warna, bau menyengat dan warga yang sering terserang penyakit kulit serta diare membuatnya penasaran.


Sebelum memulai penelitiannya, Dian menemui kepala desa untuk meminta izin. Suasananya terasa sangat menegangkan.


“ Saya ingin meminta izin untuk meneliti kondisi air laut di desa ini. Saya dengar banyak warga yang mengeluh sakit dan saya curiga ini ada kaitannya dengan laut,” kata Dian dengan hati-hati.


Kepala Desa menghela napas panjang, lalu menatapnya dengan sorot mata tajam. 


“ Hati-hati, Nak… Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau usik. Tidak semua orang suka jika rahasia terbongkar,” ujar Kepala Desa. 


Dian mengangguk, tapi pikirannya justru semakin dipenuhi tanya. Ada sesuatu yang janggal dalam ucapannya tadi. Mengapa ia seolah mengisyarakatkan agar Dian tidak ikut campur? Apa yang sebenarnya terjadi di balik pagar laut itu? 


Saat berjalan menuju dermaga, matanya menangkap pemandangan yang membuatnya semakin yakin bahwa ada yang tidak beres. Nelayan-nelayan tampak duduk termenung di tepi perahu mereka, jaring masih terlihat rapi seolah tak ada gunanya lagi dilemparkan ke laut. Dari kejauhan terdengar suara seorang anak lelaki yang berlari kecil menghampirinya, membawa seember kecil ikan yang tampak jauh lebih sedikit dari seharusnya.


“ Kak Dian! Kakak yang mau meneliti laut ya?” Rama yang menyapa lebih dulu


Dian tersenyum, “ Iya.. Kamu Rama, kan? Boleh aku tanya-tanya soal laut di sini?”


Rama mengangguk pelan dan menatap laut dengan tatapan kosong 


“ Bapak bilang tangkapannya makin sedikit. Dia sudah dua kali berlayar lebih jauh dari biasanya, tapi tetap tidak banyak ikan yang masuk jaring”


Dian mencatat dalam buku kecilnya, sembari menatap ember itu. Biasanya, nelayan bisa pulang membawa hasil tangkapan cukup untuk satu minggu. Kini, satu ember pun terasa seperti keberuntungan.


“ Dulu, kalau pagi begini nelayan pasti sudah sibuk membersihkan ikan hasil tangkapannya. Sekarang, mereka cuma duduk menunggu, tapi laut seperti nggak mau memberi apa-apa lagi.” Kata Rama pelan.


Dian memandang nelayan yang duduk di tepi perahu, menatap jarring kosong dengan mata yang letih. Pagar laut bukan hanya penghalang fisik, tapi juga membatasi kehidupan mereka. Meninggalkan dermaga, ia berjalan menyusuri desa dan mendengar keluhan warga yang semakin sering jatuh sakit.


“ Sudah beberapa hari anakku demam dan badannya gatal-gatal. Awalnya kami kira hanya alergi, tapi ternyata tetangga juga sakit.” ujar seorang ibu cemas.


Mendengar itu, Dian menatap sumur di dekat rumah warga. Air laut yang tercemar mungkin telah meresap ke sumber air bersih, menyebarkan penyakit secara perlahan. Ia harus memastikan dugaannya.


Dengan bantuan Rama, ia berperahu ke beberapa titik di sekitar pagar laut. Saat meraup air dengan botol kaca, aroma menyengat langsung menusuk hidungnya. Bukan hanya bau garam khas laut, tetapi sesuatu yang lebih pekat, lebih asin. Mungkinkah ada limbah yang mencemari perairan ini?


Dalam perjalanan pulang, langkah mereka terhambat ketika melihat beberapa pria berseragam gelap berdiri di dekat pagar laut. Mereka tampak berbicara serius dengan beberapa nelayan yang wajahnya terlihat tegang. Dian bisa merasakan atmosfer ketakutan di antara mereka. Rama yang berjalan di sampingnya tiba-tiba menundukkan kepala, seolah enggan berlama-lama di tempat itu. 


Malam itu, saat kembali ke tempat tinggalnya, pikiran Dian terus dipenuhi pertanyaan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik pagar laut itu? Mengapa para nelayan tampak begitu tertekan?


Di meja biru yang penuh dengan catatan dan alat-alat penelitiannya, Dian membuka laptopnya dan melihat hasil uji sampel yang baru saja keluar. Angka-angka di layar langsung membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Kadar logam berat dalam air laut desa ini jauh di atas batas aman. Ini bukan sekadar kebocoran alami, tetapi sesuatu yang lebih mengerikan.


Tanpa menunggu lama, Dian membawa lembaran hasil laboratorium itu dan segera menuju dermaga. Di sana, ia melihat Rama tengah berdiri di tepi perahu, menatap laut dengan tatapan kosong. Dian menggenggam dokumen di tangannya semakin erat. Ia tahu ini bukan sekadar masalah ikan yang menghilang. Ini adalah bencana lingkungan yang perlahan akan menghancurkan desa ini. Namun sebelum melaporkannya, ia harus memastikan sesuatu.


Bersama Rama, ia mendayung menuju pagar laut. Saat perahu semakin mendekat, Dian mulai memperhatikan sesuatu yang janggal, tidak ada arus air yang mengalir di sekitar pagar. Air yang seharusnya bergerak bebas kini terperangkap, menyebabkan endapan limbah menggenang di satu titik. Pagar ini bukan sekadar pembatas, tapi perangkap yang menahan limbah.


“ Lihat itu, Rama! Ini bukan sekedar pagar, INI PERANGKAP!” Dian menunjuk ke dasar laut yang mulai ditutupi lapisan hitam pekat.


Saat mereka bersiap kembali, sebuah suara menderu mendekati mereka. Dari kejauhan sebuah kapal besar melaju ke arah mereka.


 “ Kak, itu kapal yang sering orang-orang lihat malam-malam!” bisik Rama panik.


Dian segera menepi, mencari posisi aman di balik salah satu bagian pagar yang mulai lapuk. Dari kejauhan, mereka melihat beberapa orang dengan jaket gelap berdiri di atas kapal. Seorang pria mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada awal kapal. Beberapa detik kemudian, cairan hitam dituangkan dari drum besar ke laut. Bau menyengat menusuk hidung mereka.


Rama menutup mulutnya dengan tangan, nyaris berteriak. Mereka melihat langsung bagaimana limbah dibuang di depan mereka. Dian meraih ponselnya dan mulai merekam, tapi tiba-tiba seorang pria di atas kapal menoleh ke arah mereka. Tatapannya tajam, seolah menyadari kehadiran mereka.


“ Kak, kita harus pergi sekarang!” Rama menarik lengan Dian dengan panik.


Mereka segera memutar balik perahu dan mendayung secepat mungkin menuju desa. Jantung Dian berdegup kencang, kini ia memiliki bukti bahwa pagar laut ini bukan hanya penghalang, tetapi juga sarana untuk menyembunyikan pencemaran.


Sesampainya di desa, suasana terasa mencekam. Dian melihat Pak Hasan duduk di depan rumah, tatapannya kosong, wajahnya muram seolah baru saja menerima kabar buruk. Dian mendekat, Pak Hasan menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara dengan suara lirih, hampir berbisik.


“Orang-orang perusahaan datang tadi. Mereka bilang… aku harus diam. Jangan ikut campur soal pagar laut ini.”


Dian mengepalkan tangannya, rahangnya mengatup. Ancaman ini bukan sekedar desas-desus dan warga benar-benar dibungkam dengan ketakutan. Ia menyadari bahwa ketakutan warga bukan tanpa alasan. Ada kekuatan besar yang membuat mereka enggan bersuara. Dian tahu ia tidak bisa diam saja, jika perusahaan bisa membungkam warga dengan ancaman, maka satu-satunya cara untuk melawan adalah dengan membuat suara mereka lebih besar.


Malam itu, Dian mengunggah i rekaman pembuangan limbah lengkap dengan hasil uji sampel dan dampak bagi warga. Unggahannya menyebar cepat, memicu kemarahan public. Tak lama kemudian, seorang aktivis lingkungan menghubunginya dan segera datang ke desa. Seorang pria paruh baya datang ke desa keesokan harinya, mengenakan jaket dengan logo organisasi lingkungan terkenal. Ia mendekati Dian dan Rama dengan ekspresi serius,


“ Saya sudah melihat bukti yang kalian unggah. Kasus ini harus segera dilaporkan ke lembaga yang berwenang sebelum semuanya semakin parah.”


Dengan bantuannya, laporan resmi dikirim ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Beberapa hari kemudian, tim KKP turun ke lokasi dan menemukan bahwa perusahaan di balik pagar laut tidak memiliki izin pembuangan limbah serta telah melanggar peraturan lingkungan. Kasus ini pun berlanjut ke tahap investigasi lebih dalam.


Di bawah tekanan media dan masyarakat, pemerintah akhirnya bertindak. KKP bersama TNI AL mulai melakukan pembongkaran pagar laut yang terbuat dari bambu dan paranet. Warga dan nelayan ikut serta bekerja sama mengembalikan laut mereka.


Dalam investigasi, sejumlah saksi dimintai keterangan, mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas pembuangan pagar illegal. Kepala Desa ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemalsuan dokumen kepemilikan lahan. Penegakan hukum ini membawa rasa keadilan bagi warga yang telah lama diam. 


Dengan dibongkarnya pagar laut, ekosistem perlahan pulih. Air laut kembali jernih, ikan bermunculan dan kesehatan warga membaik. Nelayan bisa kembali melaut tanpa hambatan, mengembalikan mata pencaharian mereka yang sempat hilang. Di tepi pantai, Rama berdiri menatap laut yang kini kembali luas tanpa batas. Ia mengepalkan tangannya dengan tekad bulat.


“ Kak Dian, aku ingin belajar tentang lingkungan, supaya desa kita tidak mengalami kejadian seperti ini lagi!”


Dian tersenyum bangga. Pagar laut mungkin telah runtuh, tapi perjuangan belum selesai. Laut ini akan kembali biru, ikan-ikan akan pulang dan mereka yang pernah diam kini telah bersuara. Perubahan dimulai hari ini.