Saturday, March 15, 2025

Cerpen Lomba | Rangga Ilham Adi | Pagar Laut

Cerpen Rangga Ilham Adi



(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)  |


Langit memerah di ufuk barat ketika Kinar berdiri di tepi tebing, matanya menatap tajam pada garis batas laut yang berkilauan diterpa cahaya senja. Di sana, jauh di tengah samudera, terlihat pagar laut yang menjulang tinggi, berlapis baja berkilau keemasan. Pagar itu memanjang tanpa ujung, memisahkan desanya dari lautan lepas. Sejak kecil, Kinar sering bertanya-tanya apa yang ada di balik pagar itu. Namun, di desa mereka, pagar laut adalah misteri yang tak boleh dipertanyakan.


Orang tua mereka selalu bilang, “Di balik pagar laut ada bahaya yang bisa menghancurkan kita.” Sejak dulu, tidak ada satu pun orang yang berani mendekat. Setiap perahu yang mencoba mendekati pagar laut tidak pernah kembali.


Namun, Kinar bukan gadis biasa. Penasaran yang membara dalam dadanya tak bisa dibungkam begitu saja. Terlebih sejak malam itu, ketika ia mendengar suara aneh di desanya—suara gemerincing rantai dan bisikan yang terbawa angin. Suara itu seolah datang dari pagar laut, memanggilnya, mengajaknya untuk mengungkap misteri yang selama ini tersembunyi.


“Aku harus melihatnya,” gumam Kinar.


Ia sudah menyiapkan segalanya. Perahu kecil yang cukup kuat untuk melawan ombak, tali temali, dan lentera minyak untuk menerangi jalan saat malam menjelang. Tak seorang pun tahu rencananya, bahkan sahabatnya, Raka, yang biasanya selalu ikut dalam petualangannya.


Malam itu, ketika semua orang terlelap, Kinar menyusup ke pantai. Ombak berbisik lembut, seakan tahu rahasia yang disimpan pagar laut. Tanpa ragu, Kinar mendorong perahunya ke laut, mendayung sekuat tenaga menuju pagar yang menjulang di kejauhan.


Semakin dekat, suara gemerincing rantai terdengar semakin jelas. Jantung Kinar berdegup kencang. Di balik pagar itu, sesuatu sedang menunggunya.


Saat jarak antara perahunya dan pagar hanya beberapa meter, perahu mulai bergetar. Air laut berputar seperti pusaran. Kinar berusaha mengendalikan perahu, namun kekuatan pusaran itu begitu besar. Hingga akhirnya, perahu kecil itu tertarik masuk ke dalam pusaran, menyeret Kinar ke dasar laut.


Gelap. Segala sesuatu di sekelilingnya lenyap. Kinar berusaha membuka mata, namun yang terlihat hanya kegelapan yang pekat. Tiba-tiba, sebuah cahaya muncul dari kejauhan, menerangi sosok tinggi berbalut rantai yang berdiri di balik pagar. Sosok itu memiliki mata merah menyala dan tubuh yang terbuat dari kabut hitam.


“Siapa… siapa kau?” suara Kinar gemetar.


“Aku adalah Penjaga Pagar,” suara sosok itu terdengar dalam dan menggema, “yang mengurung apa yang tak boleh dilepas.”


Kinar menelan ludah. “Apa yang kau kurung?”


Sosok itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kegelapan yang bisa menelan seluruh dunia. Dulu, laut ini adalah tempatnya, hingga akhirnya manusia membangun pagar untuk mengurungnya. Namun, setiap seratus tahun sekali, kegelapan itu mencoba melarikan diri.”


Kinar menatap pagar laut yang terlihat kokoh dari luar. Namun dari sisi ini, pagar itu penuh dengan retakan, dan dari celah-celahnya mengalir kabut hitam yang perlahan menyebar ke laut.


“Itulah sebabnya tidak ada yang boleh mendekat,” lanjut Penjaga, “mereka yang datang terlalu dekat akan ditelan oleh kegelapan.”


Kinar mundur setapak, tubuhnya gemetar. Ia ingat semua perahu yang tidak pernah kembali. Mereka pasti tertelan oleh kegelapan itu.


“Aku… aku harus kembali,” ucap Kinar dengan suara bergetar.


“Tidak semudah itu,” Penjaga berkata, suaranya berubah lebih dalam, “Kau sudah melihat rahasia pagar laut. Kini, kau harus memilih. Tinggal di sini dan menjadi Penjaga sepertiku… atau kembali, namun membawa kutukan kegelapan bersamamu.”


Mata Kinar membelalak. “Kutukan kegelapan?”


Penjaga mengangguk. “Kegelapan akan mengikuti dan menelan desamu. Pagar ini tak akan sanggup lagi menahannya.”


Kinar menggigit bibir. Ia tak bisa membiarkan desanya dihancurkan oleh kegelapan. Namun, jika ia memilih tinggal, ia akan menjadi seperti Penjaga—terperangkap di balik pagar untuk selamanya.


Air matanya mengalir. “Tidak ada pilihan lain?”


Penjaga terdiam sesaat sebelum menjawab, “Ada satu cara. Namun, itu membutuhkan keberanian dan pengorbanan yang besar.”


“Apa itu?” tanya Kinar, suaranya bergetar namun matanya penuh tekad.


“Kau harus memperkuat pagar ini dengan jiwamu sendiri,” kata Penjaga. “Jika kau bersedia, jiwamu akan menyatu dengan pagar laut, memperkuatnya dan menjaga kegelapan tetap terkunci. Namun, tubuhmu tak akan pernah kembali.”


Kinar terdiam lama. Pikirannya melayang pada orang-orang yang dicintainya di desa, terutama pada Raka yang pasti akan mencarinya. Tapi jika ia kembali, mereka semua akan binasa.


Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya dan menatap Penjaga dengan mata yang berkobar-kobar. “Aku bersedia.”


Penjaga mengangguk pelan, matanya yang merah menyala sejenak terlihat lembut. “Kau memiliki keberanian yang besar. Dunia akan aman berkat pengorbananmu.”


Perlahan, tubuh Kinar mulai bersinar terang. Ia merasakan hangat yang lembut menyelimuti tubuhnya, seolah-olah pelukan dari laut itu sendiri. Perlahan, cahaya itu menyatu dengan pagar laut, mengisi setiap retakan yang ada. Pagar yang tadinya rapuh kini berdiri kokoh, berkilauan dalam keemasan yang memukau.


Saat semuanya selesai, sosok Penjaga mulai memudar. Ia menatap Kinar yang kini menjadi bagian dari pagar laut dengan senyum tipis. “Sekarang, kau adalah Penjaga yang baru.”


Laut kembali tenang. Pusaran air menghilang, dan malam turun dengan damai. Desa Kinar tidak pernah tahu pengorbanan besar yang telah dilakukannya. Namun, sejak malam itu, pagar laut berdiri semakin kokoh, berkilauan setiap kali senja tiba, seakan-akan mengucapkan selamat tinggal terakhir dari seorang gadis yang memilih melindungi dunia.


Di tepi tebing, Raka berdiri termenung, menatap pagar laut yang berkilauan. Angin laut berbisik pelan, membawa suara yang begitu samar, namun jelas bagi hatinya. Suara yang memanggil namanya dengan lembut, seperti yang biasa dilakukan Kinar.


Raka tersenyum kecil, membiarkan air matanya jatuh. Ia tahu, di balik pagar laut yang megah itu, Kinar tetap menjaga mereka semua. Selamanya.