Cerpen Siti Maskanah
(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)
Matahari perlahan menampakkan sinarnya dari balik cakrawala, menyapukan cahaya keemasan yang jatuh di permukaan laut. Di Gili Trawangan, dua saudara perempuan, Via dan Avia, tumbuh dengan kisah masa kecil yang indah. Keduanya kerap menghabiskan waktu di sebuah pohon besar di pinggir pantai yang mereka beri nama Pohon Cita, sebagai penghormatan bagi mendiang ibu mereka, Cita.
Meski bersaudara, mereka memiliki karakter yang berbeda. Via, gadis yang bebas dan pemberani, merasa lebih cocok dengan kehidupan desa sebagai nelayan seperti ayahnya. Sementara Avia, yang kaku dan terencana, memilih menempuh pendidikan tinggi dan bekerja di kota Mataram. Dua dunia yang berbeda, tapi keduanya tetap saling merindukan.
Setelah bertahun-tahun, Avia menyelesaikan kuliahnya dan bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan periklanan ternama. Hidupnya kini dipenuhi jadwal ketat, tekanan kerja, dan tuntutan yang tiada habisnya. Berbagai beban ia pikul, hingga suatu hari ia mulai merasakan sesuatu yang mengganggu—rasa lelah yang tak hanya fisik, tetapi juga batin.
Sementara itu, Via menjalani kehidupannya sebagai nelayan muda yang dikenal di desa karena kebaikannya. Ia tersenyum lepas, menikmati hari-hari dengan caranya sendiri, dan berhasil membuka toko ikan yang cukup besar. Meski hidupnya tampak sederhana, ia merasa kaya karena kebebasannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Avia.
Suatu malam, suara ketukan di pintu rumahnya membangunkan Via dari lelap. Saat ia membukanya, ia mendapati Avia berdiri di ambang pintu dengan wajah letih. "Tumben kamu pulang, Avia?" tanyanya heran.
Avia hanya tersenyum tipis. "Aku ingin pulang."
Via menyambutnya dengan hangat, menyiapkan makanan favorit mereka saat kecil, ikan sarden bakar. Setelah makan, ia mengajak Avia ke balkon rumah mereka, mengenang masa lalu di bawah taburan bintang.
Keesokan paginya, Via mengajak Avia ke Pohon Cita untuk menikmati sunrise, seperti dulu saat mereka masih kecil. Namun, sepanjang perjalanan, Avia tampak lebih banyak diam, sesekali melamun. Via mencoba mencairkan suasana dengan candaan, tetapi Avia tetap tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Saat matahari perlahan muncul dari cakrawala, Via mengeluarkan ponselnya dan berkata, "Ayo, kita foto! Mana HP-mu? Potret aku juga."
Namun, Avia menggeleng. "Jangan... Aku tidak ingin."
Ada yang ganjil, tetapi Via memilih diam. Ia tahu Avia bukan tipe yang mudah bercerita.
Hari berganti minggu, dan Avia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke kota. Ia sering duduk di tepi jendela rumah, menatap laut dengan tatapan kosong. Via, yang sejak awal merasa ada sesuatu yang mengganjal, akhirnya memberanikan diri bertanya saat makan malam.
"Avia, sebenarnya ada apa? Kau dulu bahkan tak bisa pulang saat Ayah tiada. Sekarang kau sudah lebih dari seminggu di sini. Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Avia menunduk, memainkan sendoknya tanpa niat makan. "Tidak ada apa-apa."
"Bagaimana mungkin? Aku sering melihatmu melamun. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan."
Avia menelan ludah, lalu tiba-tiba berdiri dan berlari menuju balkon. Via menyusulnya, menemukan Avia yang kini menangis terisak.
"Avia, ceritakan saja. Aku di sini," kata Via lembut.
Setelah beberapa saat, Avia menghela napas panjang dan berkata, "Aku dipecat. Aku didiagnosis mengalami depresi. Aku tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja, dan meski sudah ke psikiater, aku tetap sulit mengatasi semua ini. Tekanan, tuntutan, semuanya terasa seperti jerat yang semakin menyesakkan."
Via menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia meraih Avia dalam pelukan erat. "Tidak apa-apa, Kak. Kamu tidak sendirian. Jika di sini bisa membuatmu merasa lebih baik, tetaplah tinggal."
Angin laut bertiup lembut, membawa ketenangan yang lama tak Avia rasakan. Ombak bergulung perlahan seakan berbisik, menyadarkannya bahwa batas antara kelelahan dan ketenangan bukanlah sesuatu yang nyata, ia sendirilah yang perlu memberi ruang untuk berhenti sejenak.
Sejak hari itu, Avia mulai mencoba menikmati hari-hari di desa. Ia mengikuti kegiatan Via seperti menangkap ikan, memilih hasil tangkapan, hingga menjualnya di toko. Ia mulai berbincang dengan warga desa yang ramah, merasakan kepedulian yang tulus tanpa tekanan atau kepentingan tersembunyi.
Ia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang kesibukan. Hidup adalah tentang keseimbangan antara tanggung jawab dan kebahagiaan, antara bekerja keras dan memberi waktu untuk diri sendiri.
Di suatu senja, Avia dan Via duduk di tepi pantai, menatap laut yang tenang. "Via," kata Avia pelan, "Aku merasa lebih baik. Aku ingin tetap di sini lebih lama. Aku ingin mencari cara agar bisa tetap bekerja, tapi juga tidak kehilangan kebebasanku."
Via tersenyum. "Apapun yang kau pilih, aku di sini untuk mendukungmu. Yang penting, jangan lupa untuk bahagia."
Matahari perlahan tenggelam, mewarnai langit dengan warna jingga yang indah. Batas antara kelelahan dan ketenangan memang tipis, tetapi kini Avia tahu, selama ada tempat untuk pulang dan orang yang peduli, ia akan selalu menemukan jalannya kembali.