Thursday, March 13, 2025

Cerpen Lomba | Tri Khairunnisa Agustin | Di Bawah Gelapnya Permukaan Laut

Cerpen  Tri Khairunnisa Agustin




(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)  


Srlakk srlakk srlakk 


Suara gelembung air yang memecahkan tenangnya malam, membangunkan penghuni baru di laut racun. Tercemar akan liciknya taktik para roh-roh tanah. Runcingan bambu dengan pasukan bersenter dikepala berlagak kacau seperti biasanya. Memporak-porandakan mimpi-mimpi malam para makhluk laut dengan pikiran berkeliaran kesana kemari tak memperdulikan sekitar. Hanya menuruti perintah katanya.


“Ayo cepat pasang!”


“Jangan lemot!”


"Itu aksi roh tanah, tak usah kau hiraukan," ujar sesepuh di laut racun, si Trukang.


"Roh tanah? Apa maksudmu, Tuan?" tanya penghuni baru karena penasaran.


Trukang tersenyum, berenang mengitari bambu-bambu tersebut yang diikuti penghuni baru hingga akhirnya berada tepat di bawah sinar senter. Ia mengayunkan siripnya lebih tinggi menuju permukaan air, melihat orang-orang yang sedang berlagak.


"Apakah kau melihat adanya rasa kekhawatiran dari wajahnya?" ucap Trukang setelah turun.


"T-tidak," jawabnya dengan gugup.


"Ya, tentu saja tidak. Kita hanyalah angin lalu yang tidak penting bagi mereka. Padahal mereka bisa bernafas karena ada udara yang terhirup dari hidungnya. Mereka adalah manusia tak bercermin, pikirannya hanyalah kekayaan, uang, dan harta" ujar Trukang dengan geram.


"Jadi, apa gunanya bambu-bambu ini ditancapkan di laut?" tanya penghuni baru.


"Lihatlah satu minggu kedepan, kau akan tahu jawabannya," ujarnya.


Setelah kekacauan yang ada, satu minggu berlalu. Tancapan bambu-bambu kini kian merapat merajalela tak berujung, membuat aktivitas para makhluk laut terganggu. Wilayah mereka untuk berenang menjadi lebih sempit dan terbatas. Ricuhnya kawanan ikan memprotes bangunan tersebut. Namun, akankah para roh tanah mempedulikan hal tersebut, selayang pemikiran pun sepertinya tidak ada.


"Tuan Trukang!! Keluarlah Tuan!!" teriak penghuni baru dari depan rumah sesepuh tersebut.


Semua orang bergunjing, bahkan berniat meminta bantuan pasukan dari pedalaman laut. Para ikan muda siap berbaris untuk menghancurkan bambu-bambu itu. Bahkan, ada yang sudah siap menyerang mereka dari atas permukaan.


"Heyy!! Aku mendengar roh tanah itu sedang berdebat, saling menyalahkan satu sama lain!" teriak salah satu ikan.


“Bukankah mereka tidak ada izin membangun ini?’’


"Apa yang mereka perdebatkan?"


"Memang manusia gila!"


Cahaya mentari yang menerangi lautan, kini gelap gulita terhalang pagar-pagar laut itu. Kesimpangsiuran informasi yang ada menjadikan suasana tak menentu. Tiada kejelasan yang dapat dijadikan pegangan kebenaran untuk melangkah. Roh-roh tanah itu hanyalah bermain-main, saling melemparkan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Miris.


"Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalah ini, Tuan?" tanya penghuni baru.


"Jika mereka saja tidak bisa mengatasi permasalah ini, bagaimana dengan kita yang tidak tahu apa-apa?" jawabnya.


"Haruskah kita semua pindah?" penghuni baru memberi saran.


Trukang langsung membalikkan badannya, menatap tajam mata penghuni baru. Dirinya baru pertama kali mendengar kata 'pindah' selama hidupnya di wilayah tersebut. Pasalnya, tragedi apapun yang ia alami tak pernah terpikirkan untuk pindah.


"Waww, unik sekali dirimu. Baru saat ini aku mendapatkan saran dari orang lain untuk berpindah," ujar Trukang.


Penghuni baru menelan ludahnya sendiri, jantungnya berdetak lebih kencang saat Trukang mengitarinya. Ia tak tahu menahu mengenai wilayah yang di huni saat ini. Semua membuatnya terasa membingungkan dengan keadaan yang terjadi.


Srlakk Srlakk Srlakk 


Tancapan bambu-bambu satu persatu terangkat dari laut, roh-roh tanah kembali datang bahkan lebih banyak dari malam itu. Lagi-lagi suasana menjadi kacau, ikan-ikan berlarian kesana kemari agar tak kena tamparan bambu-bambu itu. Apalagi pengangkatan akan berlangsung lama dengan kondisi bambu-bambu yang sudah sangat rapat dan panjang.


"Apa yang terjadi sekarang?" tanya penghuni baru.


"Seperti inilah mereka, seenaknya sendiri tanpa melihat aturan yang juga dibuat oleh mereka sendiri," ucap Trukang.


"PERHATIAN!"


Teriakan keras terpantulkan dari bukit terumbu karang. Ia adalah Krimbo, pengurus laut racun sekaligus satu-satunya ikan yang mendukung aktivitas para roh tanah itu. Semua ikan membencinya. Namun, dengan dukungan ikan-ikan terpandang dari wilayah lain membuatnya sulit untuk dilengserkan.


"Ahh, dia lagi dia lagi,"


"Apa gunanya ikan itu di sini?"


"Hai kamu persetan!" 


Umpatan demi umpatan terlontarkan dari mulut ikan-ikan. Mereka sangat geram, wilayah huniannya sedang terancam sedangkan dirinya asik berpesta di wilayah tetangga. Tak ada kontribusi dalam penyelesaian masalah yang terjadi saat ini, bahkan peduli dengan warganya saja pun tidak.


"Kondisi saat ini baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Manusia-manusia itu hanya ingin membuat kita aman di wilayah laut racun ini. Tak perlu risau hunian-hunian kalian hancur, terumbu karang masih banyak tersebar di wilayah kita. Kalian bebas mengambil sebanyak-banyaknya," ucapnya dengan gagah.


Turun dari singgasananya, Krimbo langsung pergi begitu saja. Sekedar melihat-lihat wilayah yang sudah hancur pun ia malah melengos. Memang pemimpin gila, pantas saja para ikan membencinya.


"Bisakah aku pergi ke tempat pemilik lautan ini, Tuan?" tawar penghuni baru.


"Walau kau membayarnya dengan nyawa mu sendiri?" tanya Trukang mengintimidasi.


Ketakutan bukanlah hal yang dibutuhkan untuk saat ini, penderitaan yang ada membuat hati penghuni baru tergerak. Ia akan pergi ke tempat pemilik lautan ini berada, di ujung laut yang gelap. Menjelaskan semua kejadian yang sudah terjadi di laut racun, berharap akan mendapatkan pertolongan dari-Nya.


"Beritahukan kepada-Nya sebenar-benarnya, kau akan mendapatkan bantuan jika kamu jujur. Berhati-hatilah, akan ku tunggu kabar baik itu," ucap Trukang.


"Baik, Tuan," jawab penghuni baru dengan tegas.


Bayangan sirip penghuni baru perlahan menghilang, rasa khawatir Trukang semakin terasa. Belum ada satupun yang berani pergi ke tempat menyeramkan itu setelah dirinya 30 tahun yang lalu. Ia sangat tahu bagaimana rasanya pergi melewati berbagai rintangan untuk sampai kesana.


"Jadi, sertifikat ini ilegal?"


"Selesaikan, lalu kita akhiri ini semua!"


Terdengar para roh tanah itu sedang ribut setelah menerima laporan baru. Kemana perginya mereka setelah 5 bulan penancapan bambu-bambu ini? Kebiasaan menunda-nunda selalu mereka lakukan ketika menyelesaikan masalah. Bahkan sampai penghuni baru tidak ada kabar hingga saat ini. 


"Tuan! Apakah penghuni baru itu gagal? Mengapa bantuan tak kunjung datang?" tanya salah satu ikan.


Orang-orang kembali ramai bergunjing bukan karena Trukang, melainkan Yemo si ikan lucu yang mendengar kabar bahwa Krimbo dikabarkan mati setelah menjadi tawanan oleh teman-temannya.


"Karma is real"


"Bahagia sekali aku hari ini"


"Hahaha jadi kambing hitam"


Para Ikan berseru gembira setelah mendengar hal tersebut. Mereka sekarang memiliki kebebasan melakukan apapun di wilayah tersebut. Tidak ada peraturan-peraturan yang membuat mereka menderita.


Blupp blupp blupp


Semua orang tiba-tiba terdiam, suara yang jarang terdengar. Namun, membuat menjerit ketakutan. Itu adalah gelombang tsunami yang akan memporak-porandakan wilayah daratan sekaligus laut racun.


"Wahai para makhluk! Inilah imbalan yang kalian dapatkan setelah gagal menjaga kepunyaan-Ku. Besarnya nafsu kalianlah yang mengakibatkan ini semua! Tiada ampunan bagi kalian orang-orang yang rakus, walau kau berlindung diujung debu!" ucap pemilik lautan dengan lantang.


Bangunan-bangunan tinggi, pohon-pohon, pagar bambu yang tersisa, bahkan para roh tanah ikut hanyut terbawa arus, tersebar tak berarah. Inilah dunia, yang takkan pernah abadi menunjukkan kekayaannya. Para makhluk yang berkorban hanya karena keegoisan makhluk lain yang terbalut akan nafsu. Tiada keadilan yang sebanding jika itu berasal dari yang sesama.


“Terima kasih, Nak. Pengorbananmu mengirimkan keadilan ini untuk kita semua sudah berhasil. Semoga pemilik lautan ini menepati janji-Nya untukmu!” teriak Trukang yang sudah terbawa arus.