Thursday, March 13, 2025

Cerpen Lomba | Yaser Pratama Sandhy | Pagar Laut

Cerpen Yaser Pratama Sandhy



(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba)  


Aku masih ingat saat pertama kali melihat pagar laut itu. Aku berusia delapan tahun dan sedang berlibur di pantai bersama keluarga. Pagar laut itu terletak di ujung pantai, membentang sepanjang beberpa ratus meter. Pagar itu terbuat dari kayu yang sudah lapuk dan berwarna abu-abu, dengan rantai-rantai besi yang menghubungkan tiap-tiap tiang.


Aku merasa penasaran dengan pagar laut itu. Apa tujuan pagar itu dibangun? Apakah untuk melindungi pantai dari ombak besar atau untuk mencegah orang-orang memasuki area tertentu? Aku bertanya kepada ayahku, tapi dia hanya mengangkat bahu dan berkata bahwa pagar itu telah ada sejak lama.


Hari-hari berikutnya, aku sering mengunjungi pagar laut itu. Aku suka duduk di atas pasir dan memandang pagar itu, mencoba untuk memahami tujuan dibangunnya. Aku juga suka berjalan-jalan di sepanjang pagar itu, merasakan rantai-rantai besi yang dingin dan kasar.


Suatu hari, aku bertemu dengan seorang pria tua yang sedang duduk di atas pasir, tidak jauh dari pagar laut. Dia memiliki wajah yang keriput dan mata yang biru tua. Aku merasa penasaran dengan pria tua itu dan mendekatinnya.


”Selamat pagi,” kataku.


Pria itu menoleh ke arahku dan tersenyum.”Selamat pagi,” katanya. ”Apa yang kamu lakukan di sini?”


Aku menjelasakan bahwa aku sedang berlibur di pantai dan aku penasaran dengan pagar laut itu. Pria itu mendengarkan dengan saksama dan kemudian dia mulai menceritakan kisah tentang pagar laut itu.


”Pagar laut itu dibangun oleh nenek moyangku”, katanya. ”Mereka ingin melindungi pantai dari ombak besar yang sering menghantam pantai. Mereka juga ingin mencegah orang-orang memasuki area tertentu yang dianggap sakral.”


Aku mendengarkan dengan saksama dan aku merasa penasaran dengan kisah itu. Aku bertanya kepada pria itu tentang area sakral itu, tapi dia hanya mengangkat bahu dan berkata bahwa itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh beberapa orang itu.


Setelah bertemu dengan pria tua itu, aku mulai memahami bahwa pagar laut itu bukan hanya sekedar pagar biasa. Pagar itu memiliki sejarah dan makna yang dalam. Aku mulai merasa penasaran dengan kisah-kisah lain yang terkait dengan pagar laut itu.


Suatu hari, aku mengunjungi desa yang terletak di dekat pantai. Aku ingin bertemu denga orang-orang yang tinggal di desa itu dan mendengarkan kisah-kisah mereka tentang pagar laut itu.


Setelah berjalan selama beberapa jam, aku akhirnya tiba di desa itu. Desa itu kecil dan damai, dengan rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan atap yang terbuat dari jerami. Aku melihat beberapa orang yang sedang beraktivitas di luar rumah mereka, dan aku memutuskan untuk mendekati mereka. 


”Halo,” kataku kepada seorang wanita yang sedang mencuci pakaian di sebuah bak. ”Saya ingin bertanya tentang pagar laut itu. Apakah Anda tahu kisah-kisah tentang pagar itu?”


Wanita itu menoleh ke arahku dan tersenyum. ”Oh pagar laut itu,” katanya. ”Ya, saya tahu kisah-kisah tentang pagar laut itu. Pagar laut itu dibangun oleh nenek moyang kami untuk melindungi desa kami dari ombak besar yang sering menghantam pantai.”


Aku mendengarkan dengan saksama dan aku merasa penasaran dengan kisah itu. Aku bertanya kepada wanita itu tentang kisah-kisah lain yang terkait dengan pagar laut itu, dan dia mulai menceritakan kisah-kisah yang menarik dan unik. 


Kisah-kisah itu membuat aku merasa bahwa pagar laut itu bukan hanya sekedar pagar biasa. Pagar itu memiliki sejarah dan makna yang dalam, dan aku merasa bahwa aku telah memahami pagar itu lebih baik, dan aku melihatnya lagi dengan pandangan yang baru.


Ketika aku tiba di pantai, aku melihat bahwa pagar laut itu masih berdiri tegak, seperti biasa. Tapi kali ini, aku melihatnya dengan pandangan yang berbeda. Aku melihat pagar itu sebagai simbol sejarah dan budaya, bukan hanya sekedar pagar biasa.


Aku merasa bahwa aku telah belajar sesuatu yang baru dan menarik, dan aku ingin berbagi kisah-kisah itu dengan orang lain. Aku memutuskan menulis kisah-kisah itu dalam sebuah buku, sehingga orang lain dapat memahami pagar laut itu seperti aku.


Setelah menulis buku tentang pagar laut itu, aku merasa bahwa aku telah melakukan sesuatu yang berguna. Aku merasa bahwa aku telah membantu orang lain memahami pagar laut itu dan sejarahnya.


Namun, aku juga merasa bahwa aku belum selesai. Aku merasa bahwa aku masih memiliki banyak hal yang ingin aku lakukan untuk membantu melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya.


Aku memutuskan untuk mengunjungi kembali desa yang terletak di dekat pantai. Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang tinggal di desa itu dan membicarakan tentang bagaimana kita dapat melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya.


Ketika aku tiba di desa itu, aku melihat bahwa banyak hal yang telah berubah. Desa itu telah menjadi lebih modern dan banyak bangunan baru yang telah dibangun.


Aku bertemu dengan seorang pria yang bernama Pak Tono. Pak Tono adalah seorang yang sangat tua dan telah tinggal di desa itu selama lebih dari 70 tahun.


Pak Tono memiliki banyak pengetahuan tentang pagar laut itu dan sejarahnya. Aku bertanya kepadanya tentang bagaimana kita dapat melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya.


Pak Tono memandangku dengan mata yang bijak dan berkata, ”Anak muda, melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya tidak hanya tentang mempertahankan bangunan fisiknya, tetapi juga tentang mempertahankan tradisi dan budaya yang terkait dengannya.”


Aku mendengarkan dengan saksama dan merasa bahwa aku telah memahami apa yang Pak Tono katakan.


Aku memutuskan untuk bekerja sama dengan Pak Tono dan orang-orang lain di desa itu untuk melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya.


Setelah bekerja sama dengan Pak Tono dan orang-orang di desa itu, aku mulai memahami betapa pentingnya melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya. Aku juga mulai memahami betapa sulitnya melestarikan sesuatu yang telah ada selama ratusan tahun.


Namun, aku tidak menyerah. Aku terus bekerja sama dengan orang-orang di desa itu untuk melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya. Kami bekerja sama untuk memperbaiki pagar laut itu, memperkuat struktur bangunan, dan memperbarui catatan-catatan sejarah.


Setelah beberapa bulan bekerja sama, kami akhirnya berhasil melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya. Pagar laut itu kini telah menjadi salah satu situs sejarah yang paling penting di daerah itu.


Aku merasa sangat bangga dengan apa yang telah kami capai. Aku juga merasakan bahwa masih banyak hal yang perlu dilakukan melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya.


Aku memutuskan unuk terus bekerja sama dengan orang-orang di desa itu untuk melestarikan pagar laut itu dan sejarahnya. Aku juga memutuskan untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan yang aku dapatkan kepada orang lain, sehingga mereka juga dapat memahami betapa pentingnya melestarikan sejarah dan budaya. 


Dan begitulah, cerita tentang pagar laut itu berlanjut. Aku harap bahwa cerita ini dapat memberikan inspirasi kepada anda untuk melestarikan sejarah dan budaya yang ada di sekitar Anda.