Cerpen Yusuf Muhammad
(Disclaimer: Redaksi NGEWIYAK tidak mengubah/mengedit isi naskah lomba) |
Hari itu langit pagi masih kelabu, seolah enggan menampakkan wajahnya yang cerah. Aku sedang duduk di tepi perahu, tiba -tiba seorang pemuda berjas hujan kuning mendekatiku. Pemuda itu terlihat tergesa-gesa, wajahnya sedikit cemas.
"Pak Jamal, ini ada surat untuk Bapak," ujarnya sambil mengulurkan amplop cokelat yang sudah sedikit basah oleh gerimis.
Aku mengambil surat itu dengan tangan yang gemetar. Hatinya berdebar-debar, aku tahu surat ini pasti bukan kabar baik. "Anakku harus berhenti mondok," bisiknya pelan, suaranya tenggelam dalam desau angin laut yang menusuk tulang. Aku menatap laut, ombaknya bergulung-gulung seolah sedang mengejek keputusanku. "Laut ini dulu memberiku harapan, tapi sekarang, ia hanya memberiku masalah," gumamku.
Surat dari pesantren itu, meminta pelunasan biaya yang tak lagi mampu aku bayar. Anakku, si pengaji tulen harus pulang jika uang itu tak segera dilunasi. Aku menarik napasku panjang, dengan langkah berat aku pulang ke rumah, di mana istriku sedang duduk di teras. Aku mendekatinya, surat itu masih tergenggam di tanganku. Aku menatap wajahnya yang penuh kelelahan namun tetap tegar. "Kita dapat surat dari pesantren," ujarku pelan, suaranya serak. "Anak kita harus pulang jika kita tak bisa melunasi biayanya."
Istriku menghela napas. "Aku sudah tahu, Mas." Katanya.
Aku terkejut. "Kau sudah tahu? Dari mana?" tanyaku, bingung.
"Kemarin Bu Aminah datang ke rumah, anaknya yang mondok di pesantren yang sama juga dapat surat serupa. Dia bilang, pihak pesantren sedang meminta semua orang tua untuk melunasi biaya yang tertunggak di akhir bulan ini. Aku sudah menduga kita akan dapat surat juga," jawab istriku, sambil menatap aku dengan tatapan yang penuh pengertian.
Aku menatapnya, hatiku remuk. "Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Hasil tangkapan semakin sedikit, dan pagar laut itu—"
Istriku memotong pembicaraanku, "Kita harus cari cara, Mas. Aku bisa coba kerja di pabrik pembuatan otak - otak. Mereka sedang cari buruh."
Tapi Aku menggeleng. "Kau sedang hamil. Aku tak mau kau kelelahan."
Istriku tersenyum lemah, tangannya memegang perutnya yang masih kecil. "Tapi kita harus berusaha, Mas. Aku tak mau anak kita berhenti mengaji hanya karena kita tak mampu."
Aku terdiam sejenak, lalu menarik napas dalam. "Baiklah, tapi dengarkan aku. Jika kau benar-benar ingin bekerja, pastikan pekerjaan itu tidak terlalu berat.
Istriku mengangguk, matanya berbinar sedikit. "Aku akan tanyakan besok. Tapi, Mas. Apa yang akan kita lakukan jika hasil tangkapanmu tetap sedikit? Apa anak kita harus pulang?"
Aku menatap laut di kejauhan, wajahku penuh tekad. "Aku akan melaut lagi besok. Aku tak akan menyerah. Laut ini pernah memberiku harapan, dan aku yakin ia akan memberikannya lagi dengan hasil tangkapanku untuk bisa terkumpul biaya pesantren sebelum waktunya."
Beberapa hari kemudian, sebelum biayanya terkumpul anakku pulang dari pondok pesantren. Wajahnya tampak sedih, tapi matanya penuh pengertian. "Bapak Ibu, aku tahu kalian sedang berusaha keras untukku," katanya, suaranya bergetar. "Aku tak mau kalian menderita karena aku. Aku memutuskan untuk berhenti mondok dulu."
Aku menatapnya, suara lembut keluar dari bibirku. "Kenapa kau tahu kalau Bapak sedang kesusahan membayar biaya pesantrenmu? Siapa yang memberitahumu, Nak?"
Anakku menunduk, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu dari ibu temanku, dia menemuiku beberapa hari lalu. Saat menjenguk temanku di pondok minggu kemarin, ibu bercerita kalau sedang kebingungan untuk mengumpulkan biaya pesantrenku, katanya."
Aku menghela napas, rasa sedih menggelayuti wajahku. " Bu Aminah memberitahumu?"
Anakku mengangguk pelan. "Iya, Bu Aminah. Ibu temanku, dia merasa kasihan dan menyarankan agar aku tahu. Supaya aku bisa memahami keadaan."
Tanganku meraih bahunya, mencoba menenangkan. "Bapak tidak ingin kamu khawatir, Nak. Karena ingin kamu tetap fokus mengaji."
Anakku menggeleng, suaranya bergetar. "Bapak, aku tidak mau menderita karena aku. Aku sudah memutuskan untuk berhenti dahulu dari pesantren, aku bisa mengaji di kampung. Yang penting, kita tetap bersama."
Aku memeluknya erat, rasa haru dan bangga bercampur dalam dada. "Kamu anak yang baik. Bapak akan terus berusaha, kamu harus tetap menuntut ilmu. Jangan sampai keputusanmu ini menghentikan langkahmu."
Anakku tersenyum lemah, tapi tekadnya terpancar jelas. "Aku hanya ingin meringankan beban kalian. Aku janji, aku akan tetap rajin mengaji di kampung."
Setelah anakku memutuskan untuk berhenti mondok. Aku merasa berat hati, tetapi akhirnya pasrah. Aku pun duduk bersama anakku dan menceritakan segala hal yang terjadi selama ini. "Nak, Bapak ingin kamu tahu kenapa akhir-akhir ini penghasilan Bapak berkurang," kataku dengan suara lembut. "Ada pagar laut yang dipasang di perairan dekat sini, pagar itu menghalangi nelayan seperti Bapak untuk melaut lebih jauh. Waktu penghasilan bapak masih stabil, pagar itu belum ada. Tapi sekarang, pagar itu membuat hasil tangkapan Bapak berkurang drastis."
Anakku mendengarkan dengan serius, matanya penuh penasaran. "Pagar laut? Kenapa dipasang pagar laut, Bapak? Apakah ini yang dimaksud temanku."
Aku menghela napas. "Katanya untuk melindungi terumbu karang dan biota laut, Nak. Tapi, dampaknya justru membuat nelayan seperti Bapak kesulitan. Bapak sudah mencoba berdiskusi dengan warga dan mengadvokasi masalah ini ke pihak berwenang, tapi malah mendapat intimidasi. Bapak merasa terjepit, Nak."
Anakku terlihat sedih, tapi dia mencoba memahami. "Bapak, kenapa kita tidak mencari bantuan lagi? Mungkin ada cara lain."
Aku mengangguk pelan. "Bapak sudah mencoba, Nak. Bahkan Bapak sudah bercerita ke Pak Hadi, guru ngaji di kampung ini. Tapi, beliau malah menyarankan Bapak untuk tidak banyak bicara. Katanya, ini masalah besar yang sulit dilawan sendirian."
Anakku terdiam, hatinya merasa berat. Anakku teringat cerita temannya di pondok, yang bapaknya juga mengalami intimidasi serupa karena mencoba melawan pemasangan pagar laut. "Bapak, temanku di pondok juga bercerita kalau bapaknya kena intimidasi. Dia bilang, banyak nelayan yang merasa putus asa."
Aku menghela napas panjang. "Iya, Nak. Bapak juga merasa putus asa. Tapi, Bapak tidak mau menyerah begitu saja. Bapak akan terus berusaha, meski jalannya terasa berat."
Beberapa minggu kemudian, ada kabar masalah pagar laut akhirnya viral di media sosial. Banyak nelayan dan aktivis lingkungan yang bergerak bersama untuk menyuarakan masalah ini, tekanan publik yang besar akhirnya pagar laut itu pun akhirnya dicopot dan nelayan bisa kembali melaut dengan tidak di halangi jalurnya oleh pagar laut .
Dengan penghasilan yang mulai stabil kembali. Aku pun, memanggil anakku. "Nak, Bapak punya kabar baik. Pagar laut itu sudah dicopot, hasil tangkapan Bapak mulai normal lagi. Kalau kamu mau, kamu bisa kembali ke pondok pesantren."
Anakku tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. "Benarkah, Bapak? Aku sangat ingin kembali mengaji di pesantren. Tapi, aku juga tak mau Bapak dan Ibu terlalu terbebani."
Aku mengusap kepala anakku. "Jangan khawatir, Nak. Bapak dan Ibu akan berusaha semampu kami. Yang penting, kamu bisa terus menuntut ilmu. Kami bangga padamu."
Akhirnya, anakku pun kembali kepesantren. Dia belajar dengan lebih semangat, sambil terus mendoakan orangtuanya. Aku dan istriku pun merasa lega, meski perjuangan mereka belum sepenuhnya selesai. Mereka tahu, hidup ini penuh ujian, tetapi selama mereka tetap bersabar dan berusaha, pasti ada jalan keluar. Dan yang terpenting, mereka tetap bersama, saling mendukung dalam setiap langkah.