Cerpen Muhammad Rafly Ramadan
Di suatu pagi, Rizal terbangun oleh suara toa dari musala kecil di ujung gang.
“Warga diharapkan segera melakukan pemberantasan sarang nyamuk! Jangan biarkan jentik berkembang biak!”
Suara itu bercampur dengan langkah kaki terburu-buru para pekerja yang bersiap berangkat, gemuruh motor di gang sempit, dan sayup-sayup suara pedagang yang mulai membuka lapak. Rizal menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadaran. Musim hujan membawa serta genangan-genangan yang tak kunjung surut, menjadi rumah bagi nyamuk-nyamuk yang semakin ganas. Warga resah. Bukan karena mereka tak peduli, melainkan karena mereka tahu, esok pagi pengumuman itu akan terdengar lagi, dan mereka masih akan menghadapi hal yang sama.
Saat melangkah keluar rumah, Rizal mendapati udara pagi yang basah menyelinap ke pori-porinya. Gang kecil itu tak banyak berubah. Sisa hujan semalam masih tertinggal di aspal yang retak, menciptakan kubangan di sudut-sudut jalan. Seorang bocah berlarian tanpa alas kaki, cekikikan ketika cipratan air mengotori celananya. Di depan warung, ibu-ibu bercakap pelan, membicarakan harga minyak goreng yang semakin sulit dijangkau. Namun, hari itu ada yang berbeda.
Di ujung gang, orang-orang berkerumun. Wajah mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan harapan samar. Seorang pejabat datang berkunjung. Rizal pun ikut berdiri di antara mereka, menonton. Pejabat itu tersenyum lebar, bersalaman dengan warga satu per satu, membungkuk sedikit ketika seorang nenek menggenggam tangannya dengan erat. Kamera selalu mengikutinya ke mana pun ia melangkah. Ia berbicara dengan nada hangat, berjanji bahwa akan ada perubahan. Akan ada perbaikan. Akan ada harapan baru.
Lalu, di tengah kerumunan itu, seorang ibu maju dengan ragu. Tangannya menggenggam selembar kertas lusuh, sebuah surat dari sekolah yang berisi tunggakan SPP anaknya yang belum terbayar. Matanya tampak bengkak. Suaranya gemetar saat meminta bantuan. Pejabat itu tersenyum. Dengan gerakan yang dramatis, ia merogoh dompet dan menyerahkan sejumlah uang. Ijazah yang tertahan akhirnya bisa ditebus. Warga bersorak. Beberapa menitikkan air mata.
Namun, di antara tepuk tangan dan lensa kamera yang sibuk mengabadikan momen, Rizal hanya berdiri diam dan termenung. Mengapa seorang anak harus menunggu belas kasihan pejabat untuk mendapatkan haknya? Mengapa ijazah yang begitu berharga itu baru bisa ditebus saat ada kepentingan politik, sementara ribuan anak lain masih berjuang sendirian? Rizal pergi sebelum acara itu berakhir.
Di rumah, Rizal duduk di ruang tamu bersama ayah dan ibunya. Televisi menyala, menampilkan berita terbaru.
“Pemerintah resmi melarang penjualan gas elpiji tiga kilogram secara eceran. Mulai sekarang, pembelian hanya bisa dilakukan di pangkalan resmi bersertifikat.”
Tak ada yang berbicara selama beberapa detik. Ibu Rizal menghela napas.
“Kalau begini caranya, makin susah aja, Zal. Warung dekat sini pasti nggak bisa jual lagi.”
Ayah Rizal tetap diam, hanya menatap layar dengan mata sayu. Di luar, suara toa masih menggema, mengulang pengumuman yang sama.
Malam itu, ia memutuskan pergi. Di depan Istana Negara, barisan orang berdiri dalam diam. Mereka memegang poster, spanduk, dan lilin-lilin kecil yang menyala samar dalam gelap. Mereka tergabung dalam sebuah gerakan bernama Aksi Kamisan. Rizal pun ikut berdiri di tengah-tengah mereka. Tak ada teriakan. Tak ada suara lantang. Hanya keheningan yang lebih tajam dari pekikan protes mana pun. Lalu, dari belakang, seseorang berbisik,
“Kamu tahu, Zal? Orang-orang yang berdiri di sini, mereka bukan hanya menuntut keadilan. Mereka menuntut agar ingatan tidak mati.”
Angin malam menyusup di antara tubuh-tubuh yang berdiri tegak. Di kejauhan, suara toa masih terdengar. Lamat-lamat, seakan mengingatkan bahwa esok pagi, semua ini bisa terjadi lagi.
________
Penulis
Muhammad Rafly Ramadan adalah mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN Raden Mas Said Surakarta.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com