Friday, March 14, 2025

Puisi-Puisi Zikri Amanda Hidayat

Puisi Zikri Amanda Hidayat




Pulang Kerja


Di ambang pintu, aku menggugurkan daun-daun letih

Merapikan pilu di permukaan kusut baju dan hati

Di balik pintu, aku menugasi ekor mata mendikte cahaya

Seraya suara panggilanku membangunkan jam sepi


Ibu dengan segala mantra bahan masakannya

Menyulap dapur itu menjadi laboratorium sihir

Mengubah cinta menjadi sekolam wajan gulai

Mengubah sayang menjadi beberapa piring sambal


Ayah di ujung pintu, membawa nafkah pada detak jantungnya

la meramu mimpi-mimpi yang terserai sepanjang pagi


Di tudung nasib, rahasia tercipta di antara aroma doa

Sepiring kehidupan siap masuk ke rumah perut yang rindu


Pesisir Selatan, 2022



Kerangkeng Nelangsa


Andai-andai adalah kunang-kunang

Semacam harapan awanama menjala indah cahaya kasih

Halimun tipis berwajah kenangan menyisakan embun rindu di mata daun

Melerai deru sungai akan angan-angan yang tak bertuan


Rimba tilas bagai labirin tanpa pintu

Musim berganti menggelar pesta renjana di lembah dada

Rusuk curam tersimpan kepingan-kepingan bulan

Berkecambah dengan sepi yang rindang


Padang, 2024



Demikianlah Cinta


Secawan anggur tumpah di meja waktu,

mengalir pelan merambak luas takdir.

Di sembarang arah entah, semut menemukan genangannya

tanpa mencari tahu apa yang akan ia cicipi.

Celakalah, semut meneguk anggur dan mabuk setelahnya.


Padang, 2024



Buana Wajahmu


Dari hamparan waktu yang luas

Di hulunya aku bertandang pada laut sepasang matamu

Beratap cakrawala awan-awan senyuman;

Berbinar gincu merah saga


Nyiur-nyiur melambai bagai bulu matamu lentik penantang badai

Lalu, terdampar di hutan alismu yang baru selesai disulam malam

Tersesat aku bersama rindu

yang tak tahu jalan pulang selain suaramu


Padang, 2024



Menunggu Pulang


Tiang lampu itu bermata temaram

Meneguk secawan sepi

dan berselimut gelap malam


Di bawahnya, ada hati perindu

duduk di ambang nestapa

Tak henti menjatuhkan

sungai harapan dari matanya


Sepanjang detak waktu

hingga cahaya sekitar raib

Tetap seorang kekasih

tak kunjung pulang

menemui pelukannya


Padang, 2024



Memori Memar


Merpati melihat sangkar sebagai penjara

Sangkar menganggap merpati adalah jantungnya

Mawar tak mengenali warna dirinya ketika merah gugur di tanah sengketa

Kuburan tanpa batu nisan itu menelan hati yang pernah merawat kupu-kupu


O, jiwa yang bermuram durja

Badai telah dijinakkan dari segala mata angin

Gemuruh petir telah raib dari langit mendung

Tiada lagi suaka untuk pecahan-pecahan hayat

Ia dibiarkan larut dan tenggelam ke dasar sungai


Padang, 2024



Sebelum Berakhir


Burung gagak telah imigrasi ke kota sepi

Hinggap ke tengkuk ranting kepala kami

Pada jantung waktu yang kemarau,

perayaan mimpi-mimpi digelar

Mendendangkan usia di panggung rahasia

Hingga nasib menemukan senja ayah ibu


Apakah kebahagiaan itu bersembunyi?

Apakah keberhasilan itu begitu jauh?


Doa-doa jiwa yang tenggelam di antara tanda tanya dan derita

Hendaknya sepasang mata ayah ibu tak perlu lekas menutup

bagai gerhana

Bisa-bisa hidup kehilangan hakikatnya


Padang, 2024


________


Penulis


Zikri Amanda Hidayat dapat dipanggil secara akrab Izik. Lahir di Koto Rawang, Pesisir Selatan pada tanggal 02 Agustus 1999. Punya hobi menulis, membaca dan bulu tangkis. Buku yang telah terbit Sehimpun Rasa (Gupedia, 2021), Rentetan Tulisan Tentang Konsekuensi Cinta (Guepedia, 2021) dan Tak Benar-benar Utuh (An-Nur Media, 2022). Instagram : @bhang_izhik



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com