Puisi Zikri Amanda Hidayat
Pulang Kerja
Di ambang pintu, aku menggugurkan daun-daun letih
Merapikan pilu di permukaan kusut baju dan hati
Di balik pintu, aku menugasi ekor mata mendikte cahaya
Seraya suara panggilanku membangunkan jam sepi
Ibu dengan segala mantra bahan masakannya
Menyulap dapur itu menjadi laboratorium sihir
Mengubah cinta menjadi sekolam wajan gulai
Mengubah sayang menjadi beberapa piring sambal
Ayah di ujung pintu, membawa nafkah pada detak jantungnya
la meramu mimpi-mimpi yang terserai sepanjang pagi
Di tudung nasib, rahasia tercipta di antara aroma doa
Sepiring kehidupan siap masuk ke rumah perut yang rindu
Pesisir Selatan, 2022
Kerangkeng Nelangsa
Andai-andai adalah kunang-kunang
Semacam harapan awanama menjala indah cahaya kasih
Halimun tipis berwajah kenangan menyisakan embun rindu di mata daun
Melerai deru sungai akan angan-angan yang tak bertuan
Rimba tilas bagai labirin tanpa pintu
Musim berganti menggelar pesta renjana di lembah dada
Rusuk curam tersimpan kepingan-kepingan bulan
Berkecambah dengan sepi yang rindang
Padang, 2024
Demikianlah Cinta
Secawan anggur tumpah di meja waktu,
mengalir pelan merambak luas takdir.
Di sembarang arah entah, semut menemukan genangannya
tanpa mencari tahu apa yang akan ia cicipi.
Celakalah, semut meneguk anggur dan mabuk setelahnya.
Padang, 2024
Buana Wajahmu
Dari hamparan waktu yang luas
Di hulunya aku bertandang pada laut sepasang matamu
Beratap cakrawala awan-awan senyuman;
Berbinar gincu merah saga
Nyiur-nyiur melambai bagai bulu matamu lentik penantang badai
Lalu, terdampar di hutan alismu yang baru selesai disulam malam
Tersesat aku bersama rindu
yang tak tahu jalan pulang selain suaramu
Padang, 2024
Menunggu Pulang
Tiang lampu itu bermata temaram
Meneguk secawan sepi
dan berselimut gelap malam
Di bawahnya, ada hati perindu
duduk di ambang nestapa
Tak henti menjatuhkan
sungai harapan dari matanya
Sepanjang detak waktu
hingga cahaya sekitar raib
Tetap seorang kekasih
tak kunjung pulang
menemui pelukannya
Padang, 2024
Memori Memar
Merpati melihat sangkar sebagai penjara
Sangkar menganggap merpati adalah jantungnya
Mawar tak mengenali warna dirinya ketika merah gugur di tanah sengketa
Kuburan tanpa batu nisan itu menelan hati yang pernah merawat kupu-kupu
O, jiwa yang bermuram durja
Badai telah dijinakkan dari segala mata angin
Gemuruh petir telah raib dari langit mendung
Tiada lagi suaka untuk pecahan-pecahan hayat
Ia dibiarkan larut dan tenggelam ke dasar sungai
Padang, 2024
Sebelum Berakhir
Burung gagak telah imigrasi ke kota sepi
Hinggap ke tengkuk ranting kepala kami
Pada jantung waktu yang kemarau,
perayaan mimpi-mimpi digelar
Mendendangkan usia di panggung rahasia
Hingga nasib menemukan senja ayah ibu
Apakah kebahagiaan itu bersembunyi?
Apakah keberhasilan itu begitu jauh?
Doa-doa jiwa yang tenggelam di antara tanda tanya dan derita
Hendaknya sepasang mata ayah ibu tak perlu lekas menutup
bagai gerhana
Bisa-bisa hidup kehilangan hakikatnya
Padang, 2024
________
Penulis
Zikri Amanda Hidayat dapat dipanggil secara akrab Izik. Lahir di Koto Rawang, Pesisir Selatan pada tanggal 02 Agustus 1999. Punya hobi menulis, membaca dan bulu tangkis. Buku yang telah terbit Sehimpun Rasa (Gupedia, 2021), Rentetan Tulisan Tentang Konsekuensi Cinta (Guepedia, 2021) dan Tak Benar-benar Utuh (An-Nur Media, 2022). Instagram : @bhang_izhik
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com