Puisi Budhi Setyawan
Kabut Asap di Rimba Pascamodern
apakah kematian narasi besar itu cuma dongeng,
karena ia tetap pagutkan hegemoni di kalender prosa
keseharian yang tak memberi kesetaraan kata kata.
orang orang berbisik bisik di luar podium dan tanpa
mikrofon, ada semacam keterlepasan tonggak ideologi,
seperti halaman buku yang jatuh ke lantai di bawah
tempias hujan kritikan. entah mesti memakai
metabahasa apalagi untuk mengirimkan isyarat bagi
pergolakan pemikiran, ledakan ledakan kamuflase
bergerak menuju jantung budaya di antara hari hari
abai. kebangkitan semu menjadi menu yang
ditawarkan, serupa iklan di video lagu populer, biar
meruah gelembung gelembung takjub. ada mata
rantai yang memanjang dari kehancuran tak tampak
di dada tahun tahun, seperti hendak mengatakan
kembali, amat banyak peristiwa telah kehilangan
impuls dan momentum.
uluran dekonstruksi dialog tak lagi berupa percakapan,
telah berubah jadi monolog lengang, di lorong panjang
tanpa telinga orang orang. mereka telah mengambil
belokan jalan ke wilayah fabel kekinian, ironi yang
susupkan simtom simtom tawa dan kesenangan.
pemeluk hedonisme ikut kursus filsafat dan melahap
buku kiat kiat instan menjadi sufi. alur entropi
percikkan reaksi reaksi kimia yang menyusur pada
jalan panjang antropik, jarak ketidaktahuan dan gagap
mengeja gejala gejala. mereka berlarian berhamburan
di dalam mesin pembelajar memburu repih repih dari
konsep perenial. etika telah melompat keluar dari
tema, serupa air akuarium yang menguap di udara.
ikan ikan pun megap megap di balik selubung kaca.
seperti kecemasan kronis dari masyarakat tontonan,
yang amat memberat di punggung zaman.
tak usah bersikeras pada penyimpulan dari
segerombolan pertanyaan, apalagi hendak
memaksakan adanya jawaban. karena yang tersisa
hanya keumuman dan kerumunan, yang tak
mengatakan hal baru apa apa, apalagi mengenai
keberadaan. perpindahan cara pandang adalah bagian
dari parodi era dan penghiburan yang banal. siap
siaplah putus asa, karena segala kecamuk kepusingan
dari kesangsian awal, barangkali memang tak ada
ujung: memusar pada kelam, sembari bertaruh itu
bukan bagian dari labirin sial.
Bekasi, 16 November 2024
Aporia
telepon genggam itu tiba tiba berbicara sendiri. ia
menyampaikan pesan dari mereka yang di seberang
ruang kepada kita. seperti sinyal sinyal kecemasan
yang akut dan barangkali akan menjelma gerombolan
skizofrenia. kita hanyalah awam yang kerap
menyerahkan hari pada laju perubahan yang tak kita
ketahui di mana sarangnya.
kecamuk kata di dalam kepala kita, mungkin sebagai
cuaca tiba tiba, terkirim lewat telepon genggam
kepada mereka. entah semacam doa atau mantra di
kegaringan digital yang makin gaduh saja. akankah
ada respon atau hanya kosong yang mengisyaratkan
bahwa pengabaian di era kini adalah bagian dari
perayaan keimanan.
kita mempertanyakan realitas kepada telepon
genggam. ia pun seperti bingung, apa yang mesti
disampaikan. deret penandaan dan algoritma
membuat hipotesis bagi peramalan nasib kita, dalam
himpunan pola yang amat gegas memberikan
simpulan sementara. kita pun gamang memberikan
retorika: siapa kita?
Bekasi, 12 November 2024
Yang Sedang Terjadi
apakah ada yang mencatat, atau sekadar menandai
sebagai isyarat. gaduh kota terus merangsek, menuju
ceruk paling dalam di tubuh kita. mereka begitu
beringas seperti hendak mengambil sisa kesunyian
yang tak seberapa. kita pun masih terus mencoba
pertahankan, yang kita yakini sebagai bagian dari
keberadaan.
nasib yang telanjur asin dengan bulir keasingan, terus
merilis serbuk kesangsian, entah sampai kapan.
meruap ke udara bersama bau got dan aroma busuk
intrik, tengkulak kuasa yang terus berbiak. menjadi
hujan salah musim, atau curah pancaroba berwarna
keruh, mengguyur urban yang habiskan kalender di
jalanan.
dada kita, keranjang usang yang menampung segala
kesah dan sampah bualan kota. hingga bertumpuk,
membusung menggunung, seperti hendak meledak.
sementara suara kita hanya sayup sayup seperti nyala
lampu yang redup, tak sanggup membagi terang ke
segala sudut. di nadir hari, berharap bisik bisik nanti
bisa menjadi nyaring berontak, bagai puisi paling
ironi di palung benak.
Bekasi, 4 September 2024
Variasi Nada Kibor pada Lagu Jump
amsal alarm atau sirene ke jantung malam
bilah bilah hujan membelah metropolitan
kota dengan pertalian kanal kanal
yang menjaga keterikatan pada musim basah
sementara sepeda berseliweran seperti lari anak kelinci
menjadi pergerakan seperti irama lagu
yang dimainkan berulang ulang
demikian lincah melaju di jalurnya
orang orang membayangkan kebun tulip
sebagai kasur empuk yang enak buat tiduran
di sore yang sedikit berangin
sambil sesekali menatap pada bunga matahari
di dalam ruangan museum
yang ditunggui oleh para pemakan kentang
di bawah naungan langit berbintang
semua hanya permainan untuk melarikan
pikiran dari perangkap gerak monoton
perulangan propaganda modernitas
meski kadang tak tersedia pintu keluar
tak ada kuda tak ada pelana
hari hari seperti labirin
masih saja menggema percakapan
hari kemarin yang terus terputar perlahan
seperti kincir angin
ada teriakan yang nyaring
melompatlah, melompatlah
imajinasi ke pelosok langit malam
bersama alir kehangatan rempah pala
dan ragam bauran yang cetuskan laju perburuan
ke kepul pukau kepulauan
di belahan timur, di lingkar umur
Bekasi, 16 September 2024
Buku Besar
terlalu banyak peristiwa yang mesti dicatat dari
perniagaan nasib. harga tak pernah impas dalam
pertukaran meski telah ada kesepakatan, yang juga
mengandung keterpaksaan. akan tetapi ada yang diam
diam menggeser titik ekuilibrium, dan orang orang tak
bisa meneropong anasir di belakang faktur faktur yang
diterima. pasar yang ingar bukanlah kegembiraan,
karena lewat senyap ia ulurkan pertarungan kejam. tak
ada yang berani lantang bersuara meski seperti ada
yang terus tergerus mengikuti arus putaran pekan pekan
dalam kalender muram.
ikhtisar dari catatan peristiwa tak pernah menemu
pada simpulan, karena tak ada pengikat yang benar
benar kuat. masing masing peristiwa bergerak ke arah
kesukaan sendiri dan menampilkan sinyal keberadaan
dalam sangsi. seperti ada yang belum terbayarkan, dan
perih perih tak tertanggungkan. segala perhitungan tak
mengatakan tentang nilai bersih dari harapan. masih
ada residu kecemasan, melekat seperti kena lem panas
percetakan. hanya ada saldo kepasrahan yang terbaca,
entah sebagai kebaikan atau bagian dari kekalahan.
Bekasi, 4 November 2024
Di Mana Keberadaan Puisi
saat kau baca tulisan ini, kau berjalan melangkah satu
satu dari sebuah kata ke kata berikutnya. mungkin
dengan perlahan atau sedikit tertahan, sambil menduga
ke sebuah arah kalimat ini akan memanjang. kau pun
mencoba menurut saja ke mana muaranya, berharap
kejutan yang sanggup membikin gema. sesuatu yang
baru tentu menjanjikan suasana seru, meski tak jarang
juga bisa menyusupkan rasa haru.
kata kata yang kau eja bisa jadi kumpulan fenomena
atau lubang jalan meloloskan diri ke sebuah dunia
yang bisa jadi muncul tanpa rencana. bahkan kau
terlalu menikmati kebebasan yang tak pernah kau
dapati selama ini. kau berada di tempat baru, tetapi
kau merasa seperti teramat akrab seperti teman lama
dahulu. kau pun nyaris selalu mengiyakan pada segala
pertanyaan yang meminta persetujuan.
menjelang akhir dari tulisan ini, kau pun tetap mencari
sesuatu yang masih memanggil manggil nama dan
seperti bersembunyi di sebuah ruang berbeda. tetapi
mengapa terasa amat dekat dan kerap sekali ulurkan
dekap. angin bertiup dengan kecepatan sedang,
kirimkan sejuk sore yang dinaungi langit sedikit terang.
kau bergumam ini bagian dari sehimpunan tafsir, tetapi
kau yakin ini benar benar hadir.
Bekasi, 9 November 2024
Sepasang Pundak
sepasang pundakmu adalah taman
bagi sekumpulan kupu kupu hijau biru
beterbangam rendah di antara ayunan
ranting dan dahan melengkung menjulur
yang terbuat dari tapisan mimpi
dengan panorama kuntum kuntum pagi
mekar membasah dalam bait bait puisi
apakah kupu kupu itu
para malaikat yang tengah menyamar
di kerumunan bilangan tahun
terus saja hadir berduyun duyun
melafalkan ucapan atau penyebutan
meresonansi dari beragam permohonan
yang tak pernah kau katakan
barangkali para malaikat itu tetap berjaga
saat lelapmu di bawah perdu waktu
dengan getaran sayapnya yang sunyi
seperti kirimkan teduh cinta ke celah tatapan
para pejalan jauh di musim panas
untuk menyandarkan bilah hari yang letih
dan mungkin mengangkut residu perih
Bekasi, 4 September 2024