Friday, April 4, 2025

Puisi-Puisi Budhi Setyawan

Puisi Budhi Setyawan



Kabut Asap di Rimba Pascamodern


apakah kematian narasi besar itu cuma dongeng,

karena ia tetap pagutkan hegemoni di kalender prosa

keseharian yang tak memberi kesetaraan kata kata.

orang orang berbisik bisik di luar podium dan tanpa

mikrofon, ada semacam keterlepasan tonggak ideologi, 

seperti halaman buku yang jatuh ke lantai di bawah

tempias hujan kritikan. entah mesti memakai

metabahasa apalagi untuk mengirimkan isyarat bagi

pergolakan pemikiran, ledakan ledakan kamuflase

bergerak menuju jantung budaya di antara hari hari

abai. kebangkitan semu menjadi menu yang

ditawarkan, serupa iklan di video lagu populer, biar

meruah gelembung gelembung takjub. ada mata

rantai yang memanjang dari kehancuran tak tampak

di dada tahun tahun, seperti hendak mengatakan

kembali, amat banyak peristiwa telah kehilangan

impuls dan momentum.


uluran dekonstruksi dialog tak lagi berupa percakapan,

telah berubah jadi monolog lengang, di lorong panjang

tanpa telinga orang orang. mereka telah mengambil

belokan jalan ke wilayah fabel kekinian, ironi yang

susupkan simtom simtom tawa dan kesenangan.

pemeluk hedonisme ikut kursus filsafat dan melahap

buku kiat kiat instan menjadi sufi. alur entropi

percikkan reaksi reaksi kimia yang menyusur pada

jalan panjang antropik, jarak ketidaktahuan dan gagap

mengeja gejala gejala. mereka berlarian berhamburan

di dalam mesin pembelajar memburu repih repih dari

konsep perenial. etika telah melompat keluar dari

tema, serupa air akuarium yang menguap di udara.

ikan ikan pun megap megap di balik selubung kaca.

seperti kecemasan kronis dari masyarakat tontonan,

yang amat memberat di punggung zaman.


tak usah bersikeras pada penyimpulan dari

segerombolan pertanyaan, apalagi hendak

memaksakan adanya jawaban. karena yang tersisa

hanya keumuman dan kerumunan, yang tak

mengatakan hal baru apa apa, apalagi mengenai

keberadaan. perpindahan cara pandang adalah bagian

dari parodi era dan penghiburan yang banal. siap

siaplah putus asa, karena segala kecamuk kepusingan

dari kesangsian awal, barangkali memang tak ada

ujung: memusar pada kelam, sembari bertaruh itu

bukan bagian dari labirin sial.


Bekasi, 16 November 2024 



Aporia


telepon genggam itu tiba tiba berbicara sendiri. ia

menyampaikan pesan dari mereka yang di seberang

ruang kepada kita. seperti sinyal sinyal kecemasan

yang akut dan barangkali akan menjelma gerombolan

skizofrenia. kita hanyalah awam yang kerap

menyerahkan hari pada laju perubahan yang tak kita

ketahui di mana sarangnya.


kecamuk kata di dalam kepala kita, mungkin sebagai

cuaca tiba tiba, terkirim lewat telepon genggam

kepada mereka. entah semacam doa atau mantra di

kegaringan digital yang makin gaduh saja. akankah

ada respon atau hanya kosong yang mengisyaratkan

bahwa pengabaian di era kini adalah bagian dari

perayaan keimanan.


kita mempertanyakan realitas kepada telepon

genggam. ia pun seperti bingung, apa yang mesti

disampaikan. deret penandaan dan algoritma

membuat hipotesis bagi peramalan nasib kita, dalam

himpunan pola yang amat gegas memberikan

simpulan sementara. kita pun gamang memberikan

retorika: siapa kita?


Bekasi, 12 November 2024 



Yang Sedang Terjadi


apakah ada yang mencatat, atau sekadar menandai

sebagai isyarat. gaduh kota terus merangsek, menuju

ceruk paling dalam di tubuh kita. mereka begitu

beringas seperti hendak mengambil sisa kesunyian

yang tak seberapa. kita pun masih terus mencoba

pertahankan, yang kita yakini sebagai bagian dari

keberadaan.


nasib yang telanjur asin dengan bulir keasingan, terus

merilis serbuk kesangsian, entah sampai kapan.

meruap ke udara bersama bau got dan aroma busuk

intrik, tengkulak kuasa yang terus berbiak. menjadi

hujan salah musim, atau curah pancaroba berwarna

keruh, mengguyur urban yang habiskan kalender di

jalanan.


dada kita, keranjang usang yang menampung segala

kesah dan sampah bualan kota. hingga bertumpuk,

membusung menggunung, seperti hendak meledak.

sementara suara kita hanya sayup sayup seperti nyala

lampu yang redup, tak sanggup membagi terang ke

segala sudut. di nadir hari, berharap bisik bisik nanti

bisa menjadi nyaring berontak, bagai puisi paling

ironi di palung benak.


Bekasi, 4 September 2024 



Variasi Nada Kibor pada Lagu Jump


amsal alarm atau sirene ke jantung malam

bilah bilah hujan membelah metropolitan

kota dengan pertalian kanal kanal

yang menjaga keterikatan pada musim basah

sementara sepeda berseliweran seperti lari anak kelinci

menjadi pergerakan seperti irama lagu

yang dimainkan berulang ulang

demikian lincah melaju di jalurnya


orang orang membayangkan kebun tulip

sebagai kasur empuk yang enak buat tiduran

di sore yang sedikit berangin

sambil sesekali menatap pada bunga matahari

di dalam ruangan museum

yang ditunggui oleh para pemakan kentang

di bawah naungan langit berbintang


semua hanya permainan untuk melarikan

pikiran dari perangkap gerak monoton

perulangan propaganda modernitas

meski kadang tak tersedia pintu keluar

tak ada kuda tak ada pelana

hari hari seperti labirin

masih saja menggema percakapan

hari kemarin yang terus terputar perlahan

seperti kincir angin


ada teriakan yang nyaring

melompatlah, melompatlah

imajinasi ke pelosok langit malam

bersama alir kehangatan rempah pala

dan ragam bauran yang cetuskan laju perburuan

ke kepul pukau kepulauan

di belahan timur, di lingkar umur


Bekasi, 16 September 2024 



Buku Besar


terlalu banyak peristiwa yang mesti dicatat dari

perniagaan nasib. harga tak pernah impas dalam

pertukaran meski telah ada kesepakatan, yang juga

mengandung keterpaksaan. akan tetapi ada yang diam

diam menggeser titik ekuilibrium, dan orang orang tak

bisa meneropong anasir di belakang faktur faktur yang

diterima. pasar yang ingar bukanlah kegembiraan,

karena lewat senyap ia ulurkan pertarungan kejam. tak

ada yang berani lantang bersuara meski seperti ada

yang terus tergerus mengikuti arus putaran pekan pekan

dalam kalender muram.


ikhtisar dari catatan peristiwa tak pernah menemu

pada simpulan, karena tak ada pengikat yang benar

benar kuat. masing masing peristiwa bergerak ke arah

kesukaan sendiri dan menampilkan sinyal keberadaan

dalam sangsi. seperti ada yang belum terbayarkan, dan

perih perih tak tertanggungkan. segala perhitungan tak

mengatakan tentang nilai bersih dari harapan. masih

ada residu kecemasan, melekat seperti kena lem panas

percetakan. hanya ada saldo kepasrahan yang terbaca,

entah sebagai kebaikan atau bagian dari kekalahan.


Bekasi, 4 November 2024 



Di Mana Keberadaan Puisi


saat kau baca tulisan ini, kau berjalan melangkah satu

satu dari sebuah kata ke kata berikutnya. mungkin

dengan perlahan atau sedikit tertahan, sambil menduga

ke sebuah arah kalimat ini akan memanjang. kau pun

mencoba menurut saja  ke mana muaranya, berharap

kejutan yang sanggup membikin gema. sesuatu yang

baru tentu menjanjikan suasana seru, meski tak jarang

juga bisa menyusupkan rasa haru.


kata kata yang kau eja bisa jadi kumpulan fenomena

atau lubang jalan meloloskan diri ke sebuah dunia

yang bisa jadi muncul tanpa rencana. bahkan kau

terlalu menikmati kebebasan yang tak pernah kau

dapati selama ini. kau berada di tempat baru, tetapi

kau merasa seperti teramat akrab seperti teman lama

dahulu. kau pun nyaris selalu mengiyakan pada segala

pertanyaan yang meminta persetujuan.


menjelang akhir dari tulisan ini, kau pun tetap mencari

sesuatu yang masih memanggil manggil nama dan

seperti bersembunyi di sebuah ruang berbeda. tetapi

mengapa terasa amat dekat dan kerap sekali ulurkan

dekap. angin bertiup dengan kecepatan sedang,

kirimkan sejuk sore yang dinaungi langit sedikit terang.

kau bergumam ini bagian dari sehimpunan tafsir, tetapi 

kau yakin ini benar benar hadir.


Bekasi, 9 November 2024 



Sepasang Pundak


sepasang pundakmu adalah taman

bagi sekumpulan kupu kupu hijau biru

beterbangam rendah di antara ayunan

ranting dan dahan melengkung menjulur

yang terbuat dari tapisan mimpi

dengan panorama kuntum kuntum pagi

mekar membasah dalam bait bait puisi


apakah kupu kupu itu

para malaikat yang tengah menyamar

di kerumunan bilangan tahun

terus saja hadir berduyun duyun

melafalkan ucapan atau penyebutan

meresonansi dari beragam permohonan

yang tak pernah kau katakan


barangkali para malaikat itu tetap berjaga

saat lelapmu di bawah perdu waktu

dengan getaran sayapnya yang sunyi

seperti kirimkan teduh cinta ke celah tatapan

para pejalan jauh di musim panas

untuk menyandarkan bilah hari yang letih

dan mungkin mengangkut residu perih


Bekasi, 4 September 2024